Gue rasa ini waktunya berlari
Yep, teman-teman di sekeliling gue sudah berlari sekencang-kencangnya
Mengejar apa yang mereka percayai
Lalu, kenapa gue masih berdiri di sini dan sangsi
Sangsi akan apa yang akan terjadi di depan
Pernah di suatu kelas, entah di semester berapa, gue bertanya dalam hati:
“Apa yang gue lakukan disini?”
Memandangi papan tulis penuh dengan coretan dosen yang setengahnya gue tak mengerti
“Matematika Rekayasa”
Yang gue tahu : Gue harus bertahan disini
Memastikan bahwa semuanya baik-baik saja untuk dipersembahkan buat nyokap bokap gue nanti ketika lulus
Bukannya ini yang gue mau? Bukannya dulu pas gue SMA gue dengan yakinnya pengen bikin gedung pencakar langit tertinggi di Asia?
Lalu apa yang membuat gue ragu?
Di tengah kegamangan bodoh gue beberapa semester lalu,
teman-teman gue terus berlari
Berlari mengejar apa yang mereka yakini
Saat ini gue seolah tersadarkan dari lamunan di siang hari
Ketika gue melihat sekeliling
Gue melihat senyuman teman-teman gue menggenggam apa-apa yang mereka yakini
Senyuman itu seolah berkata:
“Lu juga harus lari, mengejar apa yang lu mau”
dan gue rasa ini waktunya untuk berlari
mengejar apa yang gue mau
mengejar mimpi yang tertangguhkan
“Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life. Don’t be trapped by dogma – which is living with the results of other people’s thinking. Don’t let the noise of other’s opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition. They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary.”
– Steve Jobs –