Sejenak Waktu Untuk Menjadi Kepompong

Malam, ini agak melankolis rasanya. Karena ada yang gersang

kita semua sama, terpenjara dalam kesendirian

hanya saja,

ada yang terkurung dalam ruang gelap tanpa cahaya

sementara yang lain menghuni kamar berjendela.

-Kalil Gibran

ya, kubaca lagi firmanNya, “sungguh tiap mukmin bersaudara”

aku makin tahu, persaudaraan tak perlu dirisaukan

karena saat ikatan melemah, saat keakraban kita merapuh

saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan serasa siksaan

saat pemberian bagai bara api, saat kebaikan justru melukai

aku tahu, yang rombeng bukanlah ukhuwah kita

hanya iman-iman kita yang sering sedang sakit, atau mengerdil

mungkin dua-duanya, mungkin kau saja

tentu terlebih sering, imankulah yang compang-camping

-Salim A . Fillah

Kedua untaian kata-kata indah itu gue dapet dari bukunya Ust. Salim A Fillah. Gue kembali lagi membaca bukunya beberapa hari yang lalu. Buku lama sebenernya, hanya saja gue rasa diri ini butuh ‘asupan’ itu lagi.

Ukhuwah adalah akibat dari keimanan manusia, itu yang gue coba pahami sekarang. Atau yang sebenarnya telah gue coba pahami bertahun-tahun lalu. Beberapa tahun yang lalu, kayaknya ketika gue masih SMA, gue pernah menerima pesan dari seorang sahabat gue, di akhir pesannya tertulis sebuah kalimat dengan Bahasa Arab. Saat itu gue nggak ngerti isinya apa, lalu gue bertanya

“err sorry itu artinya apa ya?”

“aku mencintaimu karena Allah”

Well, saat itu gue nggak paham juga maksudnya gimana. Gue bener-bener nggak bisa mencari korelasi di antara keduanya. Cinta seorang sahabat yang dikarenakan Allah. Gue mengerti secara harfiah tapi tak memahami seperti apa rasanya “mencintai karena Allah” itu. Akhirnya gue nggak memikirkannya lebih jauh.

Lalu akhir-akhir ini entah kenapa gue merasa ada yang rombeng dalam hubungan gue dan seorang sahabat yang lain. Entahlah, gue sendiri nggak mengerti. Lalu gue ingin memberi jeda, untuk memperbaiki diri, karena mungkin “…imankulah yang compang-camping..”. Awalnya gue nggak berpikir sejauh ini, bahwa ukhuwah adalah akibat dari iman.

Awalnya gue hanya berpikir, bahwa kita sudah terlalu jenuh pada diri masing-masing. Lalu kita menjadi bosan. Gue juga nggak mengerti, apakah sahabat gue ini berpikir hal yang sama dengan gue. Ini semua hanya asumsi yang gue simpan dalam kepala gue. Awalnya gue berpikir untuk agak menarik diri. Karena terkadang, layaknya mata, kita perlu memberikan jarak yang cukup untuk dapat melihat dengan jelas. Meninggalkan sahabat gue tentu bukan solusi yang tepat, karena tali persahabatan itu nggak boleh putus. Tapi tetap dalam keadaan begini juga adalah sesuatu hal yang nggak mengenakkan. Walau secara jelas nggak ada pertikaian yang terjadi diantara kita, tapi rasanya ada yang berbeda, tak lagi hangat gue kira.

Talk about your own mistakes before critisizing the other person

-Dale Carnegie-

Gue rasa memang, semuanya kembali lagi pada diri kita. Diri gue lebih tepatnya untuk kasus ini. Alih-alih meminta orang lain untuk berubah, gue rasa lebih baik diri gue lah yang introspeksi diri terlebih dahulu. Seringkali gue bertingkah seperti anak-anak dan mengedepankan ego gue. Padahal sudah jelas ego adalah sesuatu hal yang harus gue kesampingkan. Lalu setelah membaca buku Ust. Salim A. Fillah lagi, gue mencoba lagi memahami hubungan iman dan ukhuwah ini. Mungkin memang benar, akhir-akhir ini iman gue lah yang terlalu compang-camping sampai-sampai persahabatan ini terasa gersang. Gue sendiri cukup penasaran, bagaimanakah rasanya mencintai karena Allah itu. Mencintai seorang sahabat karena Allah, bukankah itu sesuatu hal yang indah?

Tapi sampai saat ini gue nggak memahaminya, seperti apa rasanya? Bagaimana kita tahu bahwa kita telah mencintai karena Allah? Belum cukupkah iman saya untuk dapat mengerti ini?

mungkin lebih baik kita berpisah sementara, sejenak saja

menjadi kepompong dan menyendiri

berdiri malam-malam, bersujud dalam-dalam

bertafakur bersama iman yang menerangi hati

hingga tiba waktunya menjadi kupu-kupu yang terbang menari

melantun kebaikan di antara bunga, menebar keindahan pada dunia

lalu dengan rindu kita kembali ke dalam dekapan ukhuwah

mengambil cinta dari langit dan menebarkannya di bumi

dengan persaudaraan suci; sebening prasangka, selembut nurani

sehangat semangat, senikmat berbagi dan sekokoh janji

-Salim A Fillah-

Gue nggak sepandai Ust. Salim A Fillah ataupun Kalil Gibran dalam memilih dan menyusun kata. Gue juga nggak sepandai Dale Carnegie dalam membaca perilaku seseorang. Oleh karena itu gue hanya mengutip dari tulisan-tulisan mereka dan menambah beberapa kalimat sederhana dalam tulisan ini. Tapi, malam ini gue menulis bukan untuk kepuasan pribadi seperti biasanya, tulisan ini gue persembahkan buat sahabat gue yang mungkin membacanya. Maafkanlah sahabat mu ini yang imannya sedang compang-camping, berikan waktu sejenak untuk saya memperbaiki diri, lalu kita kembali dalam dekapan ukhuwah.

Leave a comment