Jadi jalan di deket rumah gue lagi dicor di beberapa segmen dan mengakibatkan kemacetan yang luar biasa di jam-jam sibuk, jadinya gue harus berangkat pagi-pagi banget ke stasiun. Akhirnya gue harus nunggu dulu karena kepagian, sambil minum kopi dan ditemani lantunan musik dari White Lion
Well, setelah wisuda kemarin gue kira gue bakalan lebih rajin nulis tapi ternyata nggak hahaha. Kegiatan gue pasca wisuda di seminggu pertama terbilang sangat tidak produktif. Tapi setelah itu gue mulai bisa menyesuaikan irama hidup baru gue yang lebih santai dari jaman kuliah dulu. Seenggaknya selama masa rehat ini gue bisa menjalin lagi silaturahmi sama keluarga dan temen-temen sekolah gue dulu. Nemenin nyokap gue kemana-kemana, belanja, ke pasar, ke acara keluarga sampe bantuin arisan di rumah. Ketemu temen-temen sekolah yang beragam banget bahasannya. Lalu beberapa kali lari pagi di Sempur. Lalu yang paling epik adalah ketika gue janjian lari pagi sama temen gue di Sempur, tapi ternyata lapangannya dipake Sholat Ied Muhammadiyah. Akhirnya kita ninggalin lapangan dan muterin kebun raya.
Awal-awal masa rehat kemarin gue cuma santai-santai aja. Kegiatan gue didominasi sama nonton dan main game. Belakangan gue mulai merasa kalau ada yang salah dengan produktivitas gue. Akhirnya gue pergi ke toko buku dan berburu beberapa buku yang gue anggap menarik. Selagi masa rehat ini gue sadar bahwa gue bisa baca buku sebanyak-banyaknya, sebelum gue nanti disibukkan dengan pekerjaan.
Well jadi setiap gue janjian sama temen gue buat main, gue selalu menyempatkan untuk kabur sejenak ke Gramed. Beberapa bulan lalu gue suka banget baca buku self improvement atau buku-buku yang mengasah kreativitas gitu. Tapi belakangan gue ngerasa agak jenuh dengan buku-buku kayak gitu hahaha. Akhirnya gue lari ke rak buku-buku politik, yang sebenernya sebagian besar isinya biografi sih. Dari jaman SD dulu gue udah suka biografi, dulu gue bacanya seri tokoh dunia yang penyajiannya mirip2 komik. Gue masih bisa ingat dengan baik beberapa penggalan ceritanya kayaknya Walt Disney yang suka naik kereta-keretaan pas udah tua atau Hans Christian Andersen yang suka tiduran diatap rumahnya sambil berimajinasi. Lalu ketika gue SMA gue mulai suka nyari-nyari biografi kayak Che Guevara, Hellen Keller sampai Charlie Chaplin di perpustakaan sekolah. Bokap sama Nyokap gue sejak gue SMA emang mulai suka nyuruh untuk banyak baca buku. Yah mungkin mereka miris karena bacaan gue dari SD sampe SMA kebanyakan komik sama novel fantasy. Ketika gue kuliah gue mulai suka bacaan yang lebih variatif dan emang gue sadar kalau emang banyak manfaatnya.
Balik lagi, jadi waktu gue ke Gramed, gue nemu beberapa beberapa buku yang emang gue cari beberapa waktu lalu, yaitu bukunya Sjahrir sama Hatta yang diterbitin Tempo. Tempo sebenernya nerbitin 4 tokoh di series itu: Soekarno, Hatta, Sjahrir dan Tan Malaka. Secara pribadi gue suka dengan Hatta dan Sjahrir karena berbagai alasan, jadi 2 buku itu yang gue pilih dulu. Lalu gue juga tertarik dengan kisah hidup Tan Malaka yang suka menyamar disana-sini dan sifatnya yang lebih keras dibanding ketiga tokoh lainnya. Dan terakhir gue akan membaca Soekarno dan beraharap mendapat gambaran beliau dari sudut pandang yang berbeda. Jadi nampaknya buku Tan Malaka dan Soekarno akan gue baca nanti. Seri yang diterbitin Tempo ini karena penyampaian dan pemilihan kata per katanya menarik, setiap buku itu gue habiskan dalam sehari. Setelah selesai membaca, gue semakin mengagumi dua tokoh itu, Hatta dan Sjahrir. Gue juga merasa semakin tertampar. Di usia yang belia mereka sudah melakukan banyak hal-hal yang berarti untuk pergerakan bangsa ini dan pandangan mereka saat itu benar-benar jauh kedepan. Tujuan mereka nggak hanya untuk memerdekaan bangsa ini dari pemerintahan kolonial, tapi yang mereka inginkan adalah kesejahteraan rakyat kita secara merata. Seriusan banyak hal yang menarik yang dapat digali dari buku ini. Mulai dari ideologi sosialisme yang mendorong perjuangan mereka sampai hubungan antara para tokoh di dalamnya yang terkadang rumit.
Selain dua buku itu, sebelumnya gue sempat membeli buku Noam Chomsky yang berjudul “How the World Works”. Buku ini belum sempat gue selesaikan karena diselingi buku Sjahrir dan Hatta. Buku Noam Chomsky ini merupakan gabungan dari 4 tulisannya terdahulu. Di chapter pertama diceritakan berbagai hal tentang dominasi Amerika terhadap dunia, rencana Amerika untuk mencipatakan dunia pasca perang dunia, dan intervensi Amerika terhadap beberpa negara di Amerika Selatan dan Dunia Ketiga. Buku Noam Chomsky ini memang sangat kompleks karena melibatkan banyak pihak di dunia Dan buku ini berhasil membuat gue berniat untuk menyelesaikan membaca kembali Mein Kampft milik Hitler yang sampai sekarang belum selesai.
Setelah selesai dengan buku Hatta dan Sjahrir, gue menjadi semakin tertarik untuk membaca lagi banyak-banyak buku yang berhubungan dengan sejarah Indonesia. Dan akhirnya gue mempostpone lagi buku Noam Chomsky. Gue memutuskan untuk membeli buku lain dan kali ini gue tertarik dengan buku Raffles and the British Invation of Java yang ditulis Tim Hannigan. Alasan awal gue membeli buku ini karena gue tertarik dengan sejarah pendudukan Inggris yang singkat atas Indonesia di masa kolonialisme Belanda dulu dan alasan kedua gue adalah kisah pribadi Raffles sendiri. Dari gue kecil dulu, setiap ke Kebun Raya, Bokap gue suka banget ngebaca puisi yang ada di monumen Olivia Raffles di Kebun Raya. Yah gue jadi penasaran aja seperti apa pribadi Raffles itu. Well, jadi setelah gue baca intro yang disampaikan Tim Hannigan, yang seorang Inggris, gue benar-benar tersadarkan untuk lebih memperdalam ilmu sejarah bangsa ini. Tim Hannigan sendiri adalah salah satu dari banyak jurnalis asing yang melakukan riset tentang sejarah Indonesia, sebagai orang Indonesia tentunya kita juga harus tergerak untuk mempelajari sejarah kita sendiri. Menurut hemat gue banyak hal yang bisa didapatkan dari sejarah, pelajaran-pelajaran berharga dan kita juga harus memahmi bagaimana perjuangan pendahulu kita.
Sebagai penerus bangsa, kita memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan mereka. Harapan-harapan mulia Hatta, Sjahrir, dan tokoh-tokoh lainnya untuk mewujudkan bangsa mandiri dan sejahtera akan menjadi tanggung jawab kita bersama. Gue juga semakin sadar bahwa kita hidup di dunia ini bukan hanya untuk diri kita saja. Bahwa ego diri harus dikesampingkan dan harus memegang teguh prinsip yang kita miliki.
Woooh nampaknya gue akan mulai mengantri di Peron dan naik kereta berikutnya. Gue udah lebih dari satu jam duduk disini. Nggak berapa lama lagi insyaAllah gue akan mulai kerja, mungkin setelah menyelesaikan membaca buku Tim Hannigan dan Noam Chomsky gue akan kembali lagi membaca buku-buku teknik sipil yang sudah lama tersimpan di dalam lemari-lemari gue hahaha.