White Lily: A Final Adieu

“Hai Dek, gimana game lu udah tamat belum?” kalimat itu yang sering dilontarkan kalau kita berpapasan di koridor Sipil. Beliau adalah salah satu dosen favorit gue, dosen struktur, spesialisasinya di struktur kayu.

Gue bertemu pertama kali dengan beliau ketika TPB. Saat itu gue belum masuk Sipil, masih di FTSL, sekitar tahun 2012 awal kalau tidak salah. Gue ingat betul beliau hari itu menggantikan salah satu dosen Sipil yang nggak bisa hadir untuk mengajar. Begitu beliau masuk, gue langsung tertarik dengan cara mengajarnya yang menyenangkan. Sangat friendly sekali dengan mahasiswanya dengan gaya berbicaranya yang asik. Tapi tetap saja, gue selalu mudah terdistrak dan waktu itu gue agak berisik di kelas sepertinya, jadi beliau melemparkan pertanyaan ke gue secara mendadak. Karena gue nggak mempersiapkan apapun sebelumnya, gue menjawab sekenanya sambil sedikit bercanda. Itu pertama kalinya gue berinteraksi dengan beliau.

Lalu di semester berikutnya ternyata gue masuk Sipil dan kebetulan beliau mengajar salah satu mata kuliah yang gue ambil. Ternyata beliau masih ingat betul dengan gue yang sedikit nggak serius ini. Karena gaya mengajarnya yang santai dan asik namun sangat mengena, singkat aja beliau langsung menjadi dosen favorit gue, sangat favorit.

Beliau menjadi pengajar di beberapa mata kuliah yang gue ambil dan di akhir masa perkuliahan gue dulu, gue mengambil mata kuliah spesialisasi beliau: struktur kayu. Beliau juga lah yang dulu sempat membuat gue gamang ingin mengambil sub jurusan struktur atau geotek. Walau pada akhirnya gue memilih geotek.

Lalu sore tadi, sehabis meeting gue mendapat kabar mengejutkan di grup angkatan. Sejenak gue pengen kabur dari segala hiruk pikuk proyek, memori gue kembali berputar pada tahun-tahun gue kuliah kemarin, lorong-lorong Sipil yang hangat diterpa matahari di pagi dan sore hari. Berpapasan dengan beliau di koridor sembari bertegur sapa. Duduk di bangku kayu panjang memperhatikan beliau mengajar dengan gaya khasnya. Mendengar beliau bercerita dan bercanda tentang kondisi bangunan Prodi Sipil yang dipertahankan ke-heritage-annya.

Satu hal yang agak gue sesalkan adalah gue belum sempat menemui beliau lagi sejak gue pergi meninggalkan Bandung.

 

Selamat jalan Pak Dr. Ir. Saptahari Sugiri. Terimakasih atas segala ilmu-ilmu yang telah Bapak ajarkan pada kami semua. Semoga segala ilmu yang telah bapak ajarkan dapat menjadi amalan jariyah bagi Bapak. Aamiin.

ps. Just don’t ever forget that you’ll always be embossed in our memory Pak.

Leave a comment