Sore tadi gue disambut oleh rintik-rintik hujan ketika tiba di Halim. Ada yang beda dengan perjalanan Padang-Jakarta sore tadi karena gue ditemani Nyokap dan Bokap gue.
Seperti yang udah pernah gue bilang, gue belum sempat mengeksplorasi Padang semenjak gue dapet penempatan di kota ini April tahun lalu. Karena sampai akhir tahun lalu, gue lebih sering menghabiskan waktu gue di Jakarta karena meeting dengan owner dan beberapa urusan kontrak lainnya dilakukan di Jakarta. Gue baru mulai menetap di Padang awal Januari kemarin dan saat ini proyek gue sedang sangat hectic, sehingga gue belum sempat mengeksplorasi daerah-daerah di Padang dan sekitarnya. Lalu minggu kemarin Nyokap dan Bokap gue menyempatkan diri buat nengok gue, anak bungsunya, di Padang. Kebetulan Sabtu kemarin sedang Imlek juga dan gue meminta izin dari proyek. Well, dan akhirnya gue mengeksplorasi daerah di sekitar Padang bersama Nyokap Bokap gue.
Ketika gue dateng di Padang untuk pertama kalinya di tahun lalu, gue cukup kesulitan karena nggak menemukan Indomaret, Alfamart, 7 Eleven atau minimarket apapun yang biasa kita temui. Yang akhirnya gue tau kalau emang Indomaret atau minimarket chain yang umumnya ditemui itu nggak boleh masuk disini. Awalnya agak repot juga, karena kalau mau cari kebutuhan kecil-kecilan di tengah malam gue harus pergi ke minimarket yang cukup jauh dari proyek dan kos-kosan gue. Well, sampai sekarang cuma itu aja minimarket yang gue tau buka 24 jam. Tapi perjalanan gue sama Nyokap Bokap gue kemarin benar-benar membuka mata gue. Betapa Padang sangat menghargai usaha-usaha milik masyarakat lokalnya. Nyaris semua supermarket atau minimarket yang ada di Padang adalah milik lokal.
Kemarin kami memutuskan buat pergi ke Bukittinggi. Perjalanan kemarin menyenangkan juga karena kita dipandu oleh seorang lokal yang luar biasa, Pak Hendri. Si bapak bercerita mulai dari kisah adu kerbau antara Kerajaan Pagaruyung dan Kerajaan Majapahit yang akhirnya melahirkan nama Minangkabau dan juga minginspirasi arsitektur pada atap rumah gadang. Kita juga ngelewatin salah satu kecamatan dengan nama yang unik ‘2 x 11 Enam Lingkung’ dan Bokap gue meyakini bahwa nama itu pasti ada filosofinya. Sepanjang perjalanan si Bapak bercerita tentang hal-hal unik yang ada di Padang ini dan beberapa rekomendasi tempat untuk dikunjungi.
Destinasi pertama kita kemarin adalah Lembah Anai, disana lu bisa menemukan air terjun tepat disamping jalan Padang-Bukit Tinggi. Air terjun ini dikelilingi dengan hutan-hutan yang masih asri dan airnya jernih tentunya. Lalu di sepanjang Lembah Anai kita dikelilingi oleh kawasan cagar alam yang luar biasa dan disana kita bisa menemui rangkaian rel kereta yang dibangun dari masa Belanda. Namun rel kereta ini udah nggak digunakan lagi sekarang. Padahal menurut gue kalau rel kereta ini diaktifkan kembali, kita bakal disuguhi pemandangan yang luar biasa dari dalam kereta. Karena rel kereta ini menembus kawasan cagar alam. Sayang karena terlalu takjub sama kekerenan kawasan ini gue nggak sempet ngambil banyak foto disini.
Setelah Lembah Anai destinasi selanjutnya adalah Ngarai Sianok, kalau Ngarai Sianok ini letaknya di Bukittinggi. Yep Bukittinggi, kota kelahiran salah satu tokoh favorit gue: Bung Hatta. Ngarai Sianok ini semacam lembah dengan tebing-tebing yang sangat curam, luar biasa indah nyaris seperti pahatan. Di dekat Ngarai Sianok ini ada sebuah Lubang Jepang dan gue memutuskan untuk nggak turun ke dalamnya karena ratusan anak tangga yang harus ditempuh untuk sampai di bawah. Sebenernya nggak masalah untuk menuruni ratusan anak tangga, tapi masalahnya lu harus mendaki ratusan anak tangga juga kalau lu mau keluar dari sana. Well, di kawasan ini kita juga bisa menemui monyet-monyet yang udah jinak.
Destinasi terakhir kemarin adalah Jam Gadang dan yah sayangnya alun-alun Jam Gadang kemarin sangat ramai. Di luar ekspektasi gue yang membayangkan suasana alun-alun Jam Gadang yang sangat lengang. Di belakang Jam Gadang lu bisa menemui Pasar Atas dan tepat di seberangnya merupakan Istana Bung Hatta, bekas kediaman Bung Hatta dahulu.
Well, kalau soal kuliner di sana sih tenang aja. Di Bukittinggi lu bisa menemui Restoran Simpang Raya yang pertama dan juga Restoran Sederhana. Lalu di perjalanan Bukittinggi-Padang lu bisa menemui Sate Mak Syukur dan juga penjaja-penjaja bika yang dimasak pake kayu bakar.
Yah Padang emang berbeda dari Jakarta, mungkin agak susah untuk nemuin minimarket 24 jam dan nggak ada satupun Indomaret, Alfamart dkk karena disini mereka khawatir akan mematikan usaha-usaha para pedagang lokal. Di Padang juga nggak ada transportasi online tapi lu nggak nemuin kemacetan parah kayak di Jakarta di sini. Di Padang dan sekitarnya juga nggak banyak mall-mall bertebaran tapi Padang dianugerahi oleh kondisi geografis yang luar biasa. Yah gue rasa setiap daerah tentu punya kelebihannya masing-masing. Dan gue belum mengeksplor daerah ini seluruhnya, masih banyak tempat-tempat keren menanti. Well, nuhun Bukittinggi.