Dancing Goat: The Coffee Origin

Well, it’s been awhile since my last post wkwkwk. Sekarang udah tinggal 1.5 bulan lagi sampai proyek gue selesai. Sabtu kemarin gue balik ke Padang, setelah beberapa waktu di Jakarta.

Terus tadi pagi rencananya gue mau jalan ke salah satu kota tuanya Padang dan juga pecinannnya, Pondok. Tapi tiba-tiba Manager gue ngajak ke site. Jadi akhirnya gue pergi ke site, yang emang lagi super hectic. Karena agak jenuh juga weekend gini di site, akhirnya sore ini gue mencari tempat pelarian sekaligus tempat ngecharge kebutuhan kafein gue.

Awalnya gue mau pergi ke salah satu kedai lokal yang cukup rekomended based on google review dan juga menurut temen gue disini. Tapi sayangnya gue nggak berhasil menemukan si kedai kopi itu dengan bantun Gmaps. Next time gue kayaknya emang harus ngajak temen gue itu, nggak kabur sendiri kayak gini wkwkwk. Yaah kadang I need a me time lah. Akhirnya gue kabur ke salah satu kedai kopi yang ada di jantungnya Kota Padang. Menikmati secangkir kopi Sumatera Mandheling dan melupakan segala kepelikan proyek. Tapi kopi ini emang salah satu remedy paling baik sih buat melupakan segala kejenuhan, sejenak.

Ngomong-ngomong soal kopi, jadi diperkirakan awalnya kopi ini berasal dari daerah Abyssinia yang sekarang disebut Ethiopia. Nah salah satu legenda yang menarik mengenai asal mula kopi ini involves dancing goats and their goatherd.

Well, jadi ada seorang gembala yang bernama Kaldi, which is also a poet by nature, nah biasanya dia suka ngikutin pathway yang dibuat oleh kambing-kambingnya kalau mereka lagi menyusuri lereng-lereng gunung buat cari makan. Ketika lagi ngembalain kambing-kambingnya ini dia suka mainin sulingnya dan membuat lagu-lagu. Ketika udah menjelang senja, dia bakal mainin special notes gitu buat manggil kambing-kambingnya pulang.

Nah one afternoon, however, his goats didn’t come. Kaldi blew his pipe again, fiercely, but still no goats. Akhirnya ia mendaki ke daerah yang lebih tinggi buat mencari kambing-kambingnya itu. Finally, he heard something in the distance. Ia pun berlari ke arah suara itu dan akhirnya dia menemukan kambing-kambingnya lagi semacam menari-menari gitu di bawah kanopi kanopi hutan tropis yang lebat. At first he thought that they must be bewitched.

Tapi akhirnya dia ngeliat kalau salah seekor kambingnya ada yang lagi mengunyah semacam glossy green leaves and red berries gitu dari sebuat pohon. Dia akhirnya berasumsi kalau pohon itu yang bikin gila kambing-kambingnya dan dia udah panik kalau-kalau kambingnya bakal keracunan. Kambingnya juga menolak buat diajak pulang.

Akhirnya beberapa waktu kemudian kambingnya bisa diajak pulang and they didn’t die. In the following day, they ran directky back to that place and repeat the performance. Kali ini Kaldi ngerasa kalau cukup safe buat bergabung dengan kambing-kambingnya. First he chewed on a few leaves, the berries and finally the seeds. The leaves tasted bitter while berries was mildly sweet.

Mark Pendergrast – Uncommon Grounds


Well, according to the legend, soon Kaldi was frisking with his goats. Song and poetry spilled out of him. Dia juga merasa nggak akan lelah lagi. Then, Kaldi told his father about this magical trees, akhirnya ceritanya menyebar, dan akhirnya kopi jadi salah satu bagian kultur di Ethiopia.

Nah itu sih salah satu legend asal muasalnya kopi yang banyak menyebar. Kayaknya waktu pelarian gue udah berakhir dan gue harus balik ke site lagi. Happy weekend all!

Leave a comment