Ini adalah buku ketiga Cal Newport yang gue baca dan sebetulnya buku pertama Newport yang gue selesaikan. Gue nggak berhasil menyelesaikan dua buku lainnya (Deep Work dan So Good They Can’t Ignore You) karena gue beli yang versi hard cover jadi agak nggak fleksibel kalau dibawa-dibawa. Padahal bagus sih isinya, oke, kayaknya gue akan beresin dua buku itu tahun depan.
Sekilas dulu ya tentang Cal Newport ini, karena menurut gue secara personalnya emang agak unik dan menarik. Gue tau tentang penulis ini dari temen SMA gue sebetulnya, dulu ketika gue masih kuliah, dia pernah cerita tentang bukunya Cal Newport yang ngebahas kebiasaan para straight A students di kampus gitu. Terus beberapa tahun kemudian, gue nggak sengaja liat videonya Cal Newport di TED Talks dan akhirnya gue tau kalau dia udah nulis beberapa buku saat itu. Saat ini Cal Newport merupakan Associate Professor di Georgetown University, jurusan Computer Science. Nah menariknya Newport ini nggak pernah punya akun media sosial sama sekali, karena menurutnya media sosial nggak membawa banyak manfaat. Well, sebagai seorang full time professor, Newport juga terbilang cukup produktif dalam menulis buku.
Nah balik lagi ke Digital Minimalism, buku terakhirnya Newport. In his book, Newport define digital minimalism as a philosophy of technology use in which you focus on your online time on a small number of carefully selected and optimized activities that strongly support things you value, and then happily miss out everything else.
Pada pembukaannya, Newport menceritakan bahwa saat ini nggak bisa dipungkiri lagi kalau media sosial dan smartphones merubah bagaimana kita hidup di abad 21 ini. Tentang bagaimana engineer dan programmer di Silicon Valley nggak cuma memprogram aplikasi saja tapi juga memprogram manusia. They want we use their apps in particular ways and for long periods of time. Karena dengan cara itu lah mereka mendapatkan uang. Fenomena ini bisa dibilang mirip dengan para perusahaan tembakau yang sengaja membuat rokok mereka menjadi lebih adiktif. “While Philip Morris just wanted your lungs, the App Store wants your soul” said Tristan Harris, a former start-up founder
To achieve the effectiveness of digital minimalism, here Newport provides three core principle
Principle #1: Clutter is costly
Digital minimalist recognize that cluttering their time and attention with too many devices, apps and services creates an overall negative cost that can swamp the small benefits that each individual item provides in isolation
Principle #2: Optimization is important
Digital minimalist believe that deciding a particular technology supports something they value is only the first step. To truly extract its full potential benefit, it’s necessary to think carefully about how they’ll use the technology
Principle #3 : Intentionality is satisfying
Digital minimalist derive significant satisfaction from their general commitment to being more intentional about how they engage with new technologies.
Perkembangan smartphone dan media sosial yang sengaja dibuat untuk menjadi adiktif bagi usernya ini memang mempengaruhi pola hidup kita. Misalnya seperti sekarang dimana orang-orang menjadi nggak mudah bosan, kita dapat dengan mudah mengakses apapun dari smartphone kita. Berita, hiburan, media sosial dan lain sebagainya. Para programer sengaja memprogram social media menjadi lebih adiktif dengan memberikan slots machine effect. Efek yang dibuat serupa dengan slots machine, dimana kita perlu merelease news feed kita untuk merefresh informasinya. Nah biasanya akan ada slight delay ketika kita merefresh news feed kita ini dan ternyata ini memang dibuat sedemikian rupa. Selanjutnya otak akan bekerja merelease dopamine yang membuat kita excited ketika akhirnya news feed tersebut terupdate. Efek itulah yang akhirnya membuat kita terus menerus merefresh feed social media kita entah itu Instagram, Twitter ataupun Facebook.
Well, buku Cal Newport ini menurut gue cukup bagus dan relevan dengan kondisi kita sekarang. Gue sendiri pengguna media sosial dan menurut gue memang media sosial ini cukup adiktif, terkadang gue sendiri nggak sadar kalau waktu gue terbuang percuma disana. Untuk saat ini sih gue belum bisa seekstrim Cal Newport yang nggak menggunakan sosial media sama sekali tapi at least ngebatasin. Gue sengaja masang timer di instagram gue untuk ngereminder gue ketika gue udah melewati batas waktu yang gue tentukan perharinya misalnya.
Yang jelas kita harus aware sama waktu yang kita habiskan disana dan manfaat yang bener-bener bisa kita dapet. Dan menurut gue nggak semua berita dan informasi harus kita tau, di era digital yang terjadi banjir informasi ini menurut gue kita bener-bener harus selektif sama informasi yang kita cerna.
Oke, sekian dari gue yang baru aja menghabiskan secangkir kopi di sudut Kota Bandung.