Passion adalah sesuatu yang abstrak yang belakangan ini gue seringkali mempertanyakan. Apakah yang gue kerjakan sejauh ini benar-benar passion gue? Tapi pada akhirnya pertanyaan itu seolah cuma jadi pertanyaan yang tak berujung.
Sampai gue kelas 2 SMA, cita-cita gue itu jadi Arsitek. Well, dulu banget pas gue masih SD, gue punya temen deket yang kebetulan hobi kita sama: Ngegambar. Suatu hari wali kelas gue nanyain cita-cita kita apa dan nyaris sebagian besar temen sekelas gue jawab ‘pengen jadi dokter’. Yah saat itu gue jawab pengen jadi astronom sih. Lalu sahabat gue itu jawab kalau dia pengen jadi arsitek. Setelah gue tau kerjaan arsitek itu ngapain aja dari penjelasan singkatnya dia. Yah intinya kata doi kita bakal banyak nggambar kalau kita jadi arsitek. Sejak saat itu gue memutuskan untuk punya cita-cita jadi arsitek juga. Yap, kita akhirnya punya cita-cita yang sama hingga kita SMA dan kita juga berencana buat masuk SAPPK.
Terus pas liburan semester, kayak biasanya, gue ke tempat Eyang gue di Solo. Disana gue ketemu Om gue, beliau seorang dosen teknik sipil. Awalnya kita ngobrol soal rencana kedepan gue, mau ambil kuliah jurusan apa dan lain sebagainya. Lalu secara perlahan Om gue mulai mengarahkan gue untuk ke teknik sipil, dengan segala macam diskusi dan beliau juga menjejali harddisk gue dengan berbagai film-film civil engineering. Lalu gue mulai tertarik dengan teknik sipil. Yah setidaknya bidang ini juga masih bersinggungan dengan arsitektur. Di kampus gue sendiri, awalnya SAPPK dan FTSL itu menyatu sebagai satu fakultas yakni FTSP. Pada akhirnya di akhir kelas 3 SMA gue memutuskan untuk masuk ke teknik sipil sedangkan sahabat gue itu masih tetap memegang cita-citanya untuk menjadi arsitek.
Lalu saat ini gue udah jadi seorang civil engineer setelah menyelesaikan berbagai huru-hara perkuliahan hingga tugas akhirnya.
Hingga gue mengenakan toga beberapa waktu lalu, gue meyakini bahwa apa yang yang gue jalani selama ini adalah passion gue. Namun setelah masuk dunia kerja dengan berbagai huru-haranya, pertanyaan mengenai passion dan semacamnya benar-benar mengusik gue. Pada akhirnya gue menganggap bahwa passion adalah hal yang benar-benar abstrak. Apakah yang gue lakukan ini adalah passion gue? apakah passion gue memang disini? Karena seolah pertanyaan itu menjadi nggak berujung, pada akhirnya gue mencoba untuk mencintai apa yang gue kerjakan saat ini. Just be good at it dan kayak kata Steve Martin “Be so good, they can’t ignore you”.
Well, quotes dari Steve Martin itu menginspirasi salah satu judul buku Cal Newport “So Good They Can’t Ignore You”. Menurut gue buku ini adalah buku yang pantas dibaca buat orang-orang seusia gue, early 20s lah. Ketika kita lepas dari kehidupan kampus dan menghadapi dunia kerja. Di buku ini Newport juga ngebahas commencement speech Steve Jobs di Stanford tahun 2005, yang merupakan salah satu speech favorit gue. Menurut gue orang yang denger speech Jobs ini bisa punya interpretasi yang beda-beda. Kalau untuk gue pribadi, setelah gue denger commencement speech ini biasanya gue seolah jadi diingetin untuk mengejar passion gue. Gue kayaknya udah beberapa kali ngutip speech beliau di beberapa post gue sebelumnya
“You’ve got to find what you love. And that is as true for your work as it is for your lovers. Your work is going to fill a large part of your life, and the only way to be truly satisfied is to do what you believe is great work. And the only way to do great work is to love what you do. If you haven’t found it yet, keep looking. Don’t settle. As with all matters of the heart, you’ll know when you find it. And, like any great relationship, it just gets better and better as the years roll on. So keep looking until you find it. Don’t settle”
Setelah gue sadari selama ini gue menginterpretasikan speech dari Jobs ini sekenannya banget dan nggak utuh. Interpretasi gue selama ini adalah “You should find what you love. If you haven’t found it yet, keep looking and don’t settle”. Speech Jobs yang luar biasa memotivasi dan interpretasi sekenanya dari gue terhadap speech beliau secara nggak langsung mempengaruhi gue. Setiap gue menghadapi apa-apa yang gue rasa nggak pas, gue mulai mempertanyakan apakah apa yang ada di hadapan gue ini emang sesuai dengan gue, atau apakah yang gue jalani ini memang benar passion gue. Sampai akhirnya gue terus mempertanyakan sebenarnya passion gue itu apa.
Pada suatu titik gue menyadari kalau sebaiknya “just love what we do, instead of find what we love”. Dan setelah baca tulisan Newport di bukunya itu, gue jadi nggak begitu ambil pusing lagi soal passion. Just be good at it, then you will love it. Skill adalah suatu hal yang bisa diasah dan secara rasional menurut gue kita biasanya cenderung akan mencintai apa yang kita kuasai. Jobs sendiri bilang kalau “the only way to do great work is to love what you do”. Well yeah untuk sebagian orang yang masih bingung passionnya dimana atau passion itu sebenernya apa, gue rasa kita harus mencintai terlebih dahulu apa yang saat ini kita kerjakan. Seenggaknya dengan begitu kita bisa jadi fokus dengan apa yang ada di depan kita, instead of stuck in confusion about these passion things.
Oh iya ada beberapa buku yang menurut gue recommended untuk dibaca, yah walaupun gue juga belum kelar baca.
1. So Good They Can’t Ignore You – Cal Newport
2. Tribal Leadership – Dave Logan
3. All The Light We Cannot see – Anthony Doerr
Bogor, 4 April 2016