Interlude #1

Kok rasanya dapetin mood untuk kerja malem ini agak susah ya, udah nyaris sejam ini gue masih mengotak-atik playlist Spotify gue nyari musik yang tepat buat dapetin mood. Yah, beberapa minggu ini gue skip banget nulis, kerjaan gue lagi agak hectic soalnya. Semoga pertengahan minggu ini bisa selesai sesuai target. Ada buku yang mau gue review lagi soalnya, yang ini rekomendasi dari temen gue.

Weekend ini gue menyempatkan short family outing sama nyokap bokap gue, nggak jauh-jauh kok, cuma ke Sukabumi, kota tetangga haha. Kita mau chillaxing aja sebentar, setelah weekend sebelumnya gue dan bokap gue mendadak diminta lembur di kantor. Sukabumi kemarin cukup dingin dan sore harinya kota sejuta mochi itu diguyur hujan.

IMG-20171029-WA0000

Sebetulnya ada beberapa hal yang mau gue tulis disini, tapi gue punya perasaan mengganjal kalau gue blogging dikala kerjaan gue belum kelar. Gue dapet beberapa inspirasi di tengah perjalanan gue ke Bandung dua minggu lalu. Oh iya kereta sekarang jadi moda favorit gue kalau ke Bandung, alasannya dua, yang pertama karena rute Jakarta-Bandung sekarang macetnya nggak ketulungan terutama di Bekasi, Cikarang sama Pasteur lalu yang kedua  karena pemandangan yang super stunning dari Jembatan Cisomang keliatan jelas banget kalau naik kereta.

Minggu ini semoga aja kerjaan gue segera kelar, dan bisa ke exhibitionnya Radhinal Indra. Ini salah satu exhibition yang udah gue tunggu dari bulan lalu. Dari beberapa review yang gue baca, seni yang dihasilkan Radhinal selama ini cukup dipengaruhi dari latar belakang keluarganya yang lekat dengan sains. Seru sih, gue liat sekilas mostly intallasinya berkaitan sama celestial objects, ini membuat gue teringat sama cita-cita ketika gue masih bocah yang pengen jadi astronom. Dan ini juga salah satu alasan yang membuat gue excited sama exhibition ini.

Anyway, next post gue akan mencoba membahas dengan singkat buku The Subtle Art of Not Giving a F*ck dari Mark Manson dan barangkali satu lagi posting singkat tentang Fa Mulan, salah satu tokoh Disney favorit gue hahaha, well, she’s a not a typical Disney princess.

Sekian Interlude malam ini. Selamat bertemu dengan hari Senin.

 

Dunia Konstruksi di Era Disrupsi dan Sekilas tentang BIM

Nah seperti yang telah gue sampaikan di post sebelumnya, kali ini gue mau membahas tentang disruption era yang terjadi saat ini. Disini gue mau membahas sedikit tentang dunia konstruksi di tengah era disrupsi dan sekilas tentang BIM. Gue sendiri masih masih sangat newbie sekali di bidang konstruksi, baru beberapa tahun sejak gue lulus dan bergabung di bidang ini. Belum lama sejak gue bergabung, gue menyadari bahwa bidang yang gue tekuni saat ini juga turut terdisrupsi.

Disruption era memang datang bagai ombak, true disruption can hit an industry like tsunami, washing over incumbents and forcing industry to change or risk getting drowned out. Hugh MacLeod mengilustrasikan disruption ini dengan sangat apik. Thanks Hugh! I always love your cartoon, it’s so on point!

Disruption is a wave by Hugh

Disruption is a Wave by Hugh MacLeod

Istilah disrupsi sebetulnya sudah diperkenalkan sejak tahun 1995, namun belakangan istilah ini menjadi marak kembali. Di dunia disrupsi sudah menyerang banyak lini industri, ada yang survive karena mampu beradaptasi, ada pula yang harus tergilas dengan disruption wave ini. Salah satu perusahaan raksasa yang harus tergilas oleh disruption wave ini adalah Kodak, perusahaan yang sudah bergerak di bidang kamera dari tahun 1888. Kejatuhan Kodak bukan disebabkan karena teknologi,  prototype kamera digital bahkan ditemukan oleh seorang engineer di kodak. Kodak menemukan teknologinya, tapi nggak menginvestasikan untuk teknologi tersebut. Sebagai referensi barangkali bisa dibuka bahasan HBR yang cukup komprehensif disini

Di Indonesia sendiri kita bisa melihatnya langsung bagaimana model bisnis berubah, betapa banyak start up yang bermunculan. Gojek misalnya yang diklaim sebagai unicorn pertama Indonesia, merubah model industri transportasi umum kita. Pergeseran model bisnis bisa kita lihat juga dengan banyaknya start up jual beli yang bermunculan, Bukalapak, Tokopedia, you name it lah. Beberapa yang menyadari adanya disrupsi di industri mereka buru-buru beradaptasi dengan menyediakan platform online, seperti Matahari atau Periplus misalnya. Yep, here comes the disruption era.

Lalu apa kabar dengan dunia konstruksi? Apakah disruption wave yang ramai dikabarkan menghantam berbagai lini industri juga menghantam industri konstruksi ini? Yes, gue rasa cepat atau lambat industri ini juga akan terdisrupt. Perkembangan IOT (Internet of Things) dan teknologi ini benar-benar mengahantam semua lini. Dalam suatu paparan yang gue dapatkan minggu lalu, industri konstruksi dan pertanian memang termasuk industri yang agak lamban mengalami perubahan dibandingkan industri lainnya beberapa tahun belakangan ini, tapi ini nggak berarti industri ini tidak akan berubah. Ketika disruption wave nantinya datang dan mengacaukan semuanya, kita harus aware apakah safety zone kita berubah. 

Dalam suatu konferensi yang sama di minggu lalu, gue melihat beberapa perkembangan teknologi konstruksi asing yang sangat maju. Hanhwa misalnya, kontraktor asal Korea Selatan ini saat ini sedang mengembangkan Bismayah New City di Baghdad, dengan total 100.000 unit residential di lahan seluas 1.800 hektar dalam waktu 6 tahun. Mereka membangun kota baru ini dengan teknologi BIM untuk memastikan semuanya terintegrasi dengan baik. Yah BIM barangkali yang akan menjadi salah satu pendisrupsi bagi industri konstruksi. Gaung BIM sendiri sudah mulai terdengar di dalam negeri. Beberapa pioneer BIM sudah mulai bergerak dan mencoba mengedukasi mengenai sistem ini, sistem yang sudah masuk ke dalam regulasi beberapa negara.


Sekilas tentang BIM

BIM sendiri merupakan abreviasi dari Building Information Modeling. Sederhananya BIM ini merupakan suatu sistem, bukan software yang berdiri sendiri. BIM ini bekerja dengan mengintegrasikan dan mengcompile hasil beberapa pemodelan menjadi satu, sehingga nantinya semakin banyak informasi yang bisa digenerate dari dalam model tersebut. 

Autodesk mendefinisikan BIM sebagai intelligent 3D model-based process that gives architecture, engineering, and construction (AEC) professionals the insight and tools to more efficiently plan, design, construct and manage buildings and infrastructure.

Well, kalau biasanya kita mengenal sampai dengan model 3D di bidang konstruksi ini. Di dalam BIM ini kita akan mengenal sampai dengan model 7D. Semakin meningkat level dimensinya, maka akan semakin banyak informasi yang bisa digenerate. Karena BIM ini merupakan suatu sistem, tentunya BIM ini berkaitan dengan banyak software. Beberapa pengembang software besar diantaranya AutoDesk, Bentley, Trimble dan CSI. Hasil pemodelan setiap software ini nantinya dapat terintegrasi satu sama lain.

Dengan BIM ini harapannya proses pelaksanaan konstruksi dapat menjadi lebih efektif dan efisien, karena model telah dikembangkan sebelum masa konstruksi dimulai. Disini, nantinya juga dapat dilakukan mitigasi resiko dan proses pengontrolan sumber daya yang lebih terarah. Tidak hanya sampai di masa konstruksi saja, melainkan sampai dengan masa maintenance, diharapkan model BIM ini nantinya juga akan mempermudah proses controlling oleh facility engineer.

Satu hal yang harus menjadi perhatian disini adalah  untuk mengembangkan model BIM ini diperlukan data yang sangat lengkap. Trash in = Trash Out. BIM hanyalah sistem yang bisa mengintegrasikan beberapa pemodelan menjadi satu. Dan setiap pemodelan tersebut tentunya memerlukan informasi yang lengkap bila ingin dimodelkan secara baik. Keakuratan informasi yang bisa digenerate dari model tersebut tentu dipengaruhi oleh kelengkapan informasi yang dijadikan sebagai input.

Yah welcome to the disruption era, where technology also transforming the way that buildings and infrastructure designed, constructed and operated.

Sekian untuk post pagi ini, gue masih menunggu di sudut kedai kopi sambil menunggu kereta yang akan berangkat setengah sebelas nanti. Mendapat sedikit alasan untuk pelarian kecil ke Bandung minggu ini. Selamat berakhir pekan.

Brief Review: Icarus Deception

Gue membenarkan headset di telinga gue, mengeraskan volumenya sedikit sambil menghirup nafas dalam-dalam. Gue membiarkan jendela kamar gue terbuka, membiarkan angin semilir masuk ke dalam kamar gue. Sisa-sisa hujan semalam masih tampak. Ya, sudah masuk musim hujan sepertinya.

Setelah buku Daron Acemoglu dan James A Robinson minggu lalu, gue melanjutkannya dengan Icarus Deception yang ditulis oleh Seth Godin. Gue tertarik dengan buku ini karena Icarus. Ketika SMA gue pernah baca tentang kisah Icarus dengan sayapnya, suatu hari Icarus terbang terlalu dekat dengan matahari dan pada akhirnya ia jatuh. Entah kenapa cerita tentang Icarus ini meninggalkan impresi yang mendalam buat gue.

Well, Icarus ini merupakan salah satu mitologi Yunani. Jadi Icarus ini adalah anak dari Daedalus seorang seniman yang ditahan di Crete. Suatu hari Daedalus membuatkan sayap dengan wax untuk dirinya dan Icarus, agar mereka dapat melarikan diri dari Crete. Tapi Icarus mengabaikan nasihat Ayahnya untuk terbang nggak terlalu dekat dengan matahari, ia terlalu bahagia dan terbang begitu begitu tinggi hingga pada akhirnya sayapnya meleleh. Lalu ia terjatuh ke laut. Laut tempatnya terjatuh kini dinamai Icarian Sea, yang berada di barat daya Pulau Samos.

Dari kisah Icarus ini yang seringkali diambil pelajaran adalah don’t fly too close  to the sun and keep your head down. It looks the society create a conclusion that told us about the dangers of standing up and standing out. Mereka lupa atau melewatkan bagian dimana Daedalus juga menasihati Icarus untuk nggak terbang terlalu rendah, terlalu dekat dengan dengan laut, karena air juga bisa menghambat daya angkat sayapnya. Dan justru ini lah yang lebih berbahaya, because it feels safe to fly low. Ide ini lah yang dibawa Seth Godin di dalam bukunya, The Icarus Deception: How High Will You Fly?

DSC_1106.JPG

The Icarus Deception: How High Will You Fly?

Sebagai pembuka kita mendapati Godin membicarakan mengenai comfort zone vs safety zone. Selama ini, sejak waktu yang lama kita memahami keduanya merupakan hal yang sama, kita terus berasumsi kalau apa yang membuat kita nyaman, pasti membuat kita aman juga. Then Godin told us that now the safety zone has changed but our comfort zone has not. Safety zone yang baru ini adalah tempat dimana art, innovations, destruction and rebirth happen. Menyadari kalau safety zone kita sudah berubah, bisa menjadi pertimbangan untuk mengevaluasi lagi comfort zone kita. Gue rasa ini ada kaitannya dengan disrupsi, yang menarik untuk jadi pembahasan di post berikutnya.

Well, what we need now is creating ideas and connecting the disconnect, those are the two pillars of our new society. Both of them require the posture of an artist and that’s where the new safety zone lies. Here, Godin explain that art isn’t a specific talent. Art is an attitude, culturally driven, and available to anyone who chooses to adopt. It’s the unique work of human being, work that touches another.

Lalu ada bahasan tentang bagaimana kapitalisme awalnya membuat para pekerja menciptakan value, sampai akhirnya industrialisasi datang melengkapi model kapitalisme yang ada. Menghancurkam kultur yang sudah terbentuk dan menggantikannya dengan sesuatu yang begitu berbeda. Industrial age is the age of stardardization. Para industrialis beranggapan bahwa keamanan adalah kunci produktifitas dan keuntungan. Mereka memegang prinsip Keep it moving. Keep it efficient. Keep it reliable.
But now, the industrial world is disappearing. The standardized things and guaranteed job won’t be there for much longer. Setiap orang dituntut untuk menjadi kreatif untuk bisa survive di masa depan. Godin ask us to be an artist, whether you’re an engineer, middle manager, doctor or teacher. In this book, he ask us that we need to fly higher than ever.

Menurut gue buku ini cukup asik buat menjadi bacaan di pagi hari atau di sela-sela waktu kosong lu. Gue cukup suka dengan gaya penulisan Seth Godin. Kebetulan juga ia salah satu sahabat penulis dan cartoonist favorit gue, Hugh MacLeod. Jadi gue rasa keduanya mempunyai gaya penulisan yang agak mirip, walau MacLeod menyisipkan lebih banyak ilustrasi dalam bukunya.

Well, gue rasa sekian dulu untuk post di pagi ini. Selanjutnya pembahasan tentang era disrupsi kayaknya cukup menarik juga untuk dibahas disini. Selamat berakhir pekan.