Unknown's avatar

About Nabila Satwikawati

A full time civil engineer, a newbie writer, a book juggler and a lifelong learner.

Pencakar Langit Hari Ini

Beberapa tahun yang lalu, ketika gue masih di bangku SMA gue pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti, gue akan bikin pencakar langit tertinggi di Asia. Tapi apa kabar mimpi gue hari ini? Well, Dari jaman SMA sampe sekarang perkembangan pencakar langit di dunia juga terus berkembang. Di jaman SMA gue pernah bikin web tentang konstruksi-konstruksi di dunia, well isinya cuma artikel-artikel gitu aja, namanya Constructio. Gue bikin sekitar tahun 2010 pertengahan, di tahun itu juga Burj Khalifa baru selesai dibangun.

Burj Khalifa

Burj Khalifa

(sumber :burjkhalifa.ae)

Burj Khalifa sendiri merupakan pencakar langit tertinggi di dunia saat itu dan juga masih menjadi menjadi pencakar langit tertinggi di dunia hari ini, terletak di Dubai, Uni Emirat Arab. Selain sebagai pencakar langit tertinggi, Burj Khalifa juga memiliki desain arsitektural yang menarik. Tapak Burj Khalifa ini terbentuk dari tiga lobus yang menyerupai bunga bakung (Hymenocallis). Secara struktural bentuk yang menerupai hufuf ‘Y’ ini juga membantu mengurangi beban dari angin yang mengenainya. Selain itu pencakar langit ini juga menerapkan sistem struktur outrigger yang menghubungkan kolom perimeter dengan struktur dinding bagian dalam. Dengan begitu, kolom perimeter dapat berkontribusi dalam menahan beban lateral yang mengenai struktur.

Dulu, jaman 2010 pencakar langit tertinggi kedua adalah Taipei 101. Taipei 101 merupakan landmark dari Taipei, Taiwan. Secara arsitektural gedung ini memiliki struktur yang berundak-undak menyerupai bentuk pagoda dan juga batang bambu sekaligus. Yang menarik dari sistem struktur pada pencakar langit ini adalah damper yang berupa pendulum baja besar yang tergantung di lantai 92 sampai 87. Damper ini berfungsi untuk melawan goyangan angin yang mengenai gedung dan menjaga stabilitasnya. Selain itu Taipei 101 juga memiliki elevator tercepat di dunia.

taipei 101

Taipei 101

(sumber : Taipei-101.com)

Saat ini posisi runner up udah nggak ditempatin lagi sama Taipei 101 men, setelah Abraj Al-Bait (2012, Saudi Arabia) dan One World Trade Center (2014, USA) selesai dibangun. Lalu ada lagi Shanghai Tower yang rencananya akan menjadi pencakar langit tertinggi kedua di dunia. Konstruksi ini direncanakan selesai dibangun pada tahun 2015.

Well, dalam kurun waktu yang terbilang sebentar, perkembangan gedung tinggi emang pesat banget. Uni Emirat Arab udah nggak terbantahkan lagi punya banyak pencakar langit di negaranya, seperti Burj Khalifa dan juga Burj Al-Arab. Lalu Amerika punya One WTC, lalu ada Willis Tower (ex Sears Tower) dan juga Empire State Building yang melegenda. Taiwan punya Taipei 101 dengan lift tercepatnya. Bahkan Malaysia tetangga terdekat kita punya Petronas. Nah terus bagaimana dengan Indonesia? Apa kabar pencakar langit di Indonesia hari ini?

Well, perkembangan gedung tinggi di Indonesia juga semakin menghangat nampaknya. Tahun ini Indonesia mulai membangun Pertamina Energi Tower. Pencakar langit yang terletak di Jakarta Selatan ini rencananya akan menjadi pencakar langit tertinggi di Indonesia. Gedung ini direncanakan memiliki 99 lantai dengan ketinggian sekitar 400 meter. Dan yang nggak main-main nih, SOM (Skidmore, Owings, & Merril) terlibat dalam proyek ini. SOM ini juga yang terlibat dalam pembangunan Sears Tower dan Burj Khalifa, jadi yaaah kayaknya bakal keren banget sih ini.

Oke sekian, temen gue udah nelfon.

Memantaskan Diri

Tersisa 1 dari 3 UAS lagi, yah walau masih ada presentasi tugas yang lain. Rektor terbaru telah terpilih beberapa hari lalu. Entahlah apakah akan memberikan pengaruh yang signifikan pada kehidupan kampus gue yang kira-kira tersisa 1 semester lagi atau nggak. Tapi yang jelas semoga membawa pengaruh yang baik buat ITB secara keseluruhan.

Kehidupan kampus gue udah mau berakhir. Sejauh ini gue memutuskan hanya menjadi pengamat untuk segala hiruk pikuk yang tejadi di kampus ini. Entah kenapa. Hanya mengambil sedikit bagian saja. Mungkin gue emang orang yang banyak pertimbangan. Kampus ini seolah-olah menawarkan 1 loyang kue, tapi gue hanya mengambil sebagian kecilnya saja. Karena potongan kue-kue ini nantinya harus dipertanggung jawabkan. Gue kira banyak yang mendorong para mahasiswa untuk bergerak, cari pengalaman lah, belajar, membela hak rakyat atau sekedar menunjukan eksistensi. dan gue harap nggak ada yang didorong alasan terakhir. Kampus ini emang tempat belajar, lu bisa jadi apa aja yang lu mau, lu bisa mengembangkan diri lu disini. Tapi lagi-lagi harus ada harga yang dibayar di atas setiap pilihan yang diambil,

Gue selama nyaris 3.5 tahun disini masih mencoba untuk mempertahankan prinsip yang gue yakini, bahwa integritas di atas segalanya. Gue bahkan dulu hanya memandang manusia hitam dan putih, kalau nggak ada integritas pada dirinya maka dia hitam dan sebaliknya putih. Namun, gue sadar kalau itu salah, karena dunia ini bukan dunia utopia dimana segalanya ideal. Masalah yang paling pelik buat gue sebenernya adalah integritas dari masing-masing diri kita, Integritas mahasiswa khususnya. Seorang mahasiswa yang membela rakyat dan mengutuk mereka yang di Senayan sudah seharusnya nggak mencontek ketika ujian atau titip absen ketika mereka nggak bisa masuk kelas. Bukankah seharusnya begitu?

Gue rasa, kebiasaan seperti ini harus dipupuk sejak dini. Kita harus berani menghadapi resiko apapun dari konsekuensi setiap perbuatan kita. Bagaimana pun hasilnya. Nilai-nilai yang dikejar dengan menggadaikan integritas tak seberharga itu kawan. Buat temen-temen mahasiswa dimanapun, realitas yang kita lihat sekarang adalah banyak koruptor berkeliaran di luar sana, banyak dari mereka yang duduk manis menjadi perwakilan kita dan hidup mewah. Integritas mereka gadaikan untuk kesenangan pribadi. Sementara masih banyak masyarakat di luar sana merintih kelaparan. Gue rasa suatu hari nanti sebagian dari kita yang akan membereskan generasi yang mengacau ini, menggantikan posisi mereka menjadi anggota dewan. Maka gue rasa integritas adalah sesuatu yang mutlak untuk dipertahankan dan dibiasakan sejak dini.

Sejauh ini juga gue belum berbuat apa-apa buat rakyat. Padahal sebagian biaya pendidikan di PT juga hasil pajak rakyat. Bukannya sudah sepantasnya kita mengembalikannya pada rakyat. Sebenernya gue jadi miris juga kalau inget itu pas lagi gue males-malesan belajar atau malah main-main. Kita yang di PTN menurut gue adalah investasi jangka panjang negara. Entah dengan cara apa suatu hari nanti diharapkan dapat membawa manfaat pada negara, membawa percepatan ekonomi atau kemajuan teknologi. Oleh karena itu sudah seharusnya kita sungguh-sungguh menuntut ilmu ketika kita kuliah.

Maka saat ini adalah masa-masa kita untuk memantaskan diri, entah akan jadi apa nantinya. Suatu hari nanti gue harap generasi ini benar-benar akan menghabiskan mereka-mereka yang mengacau di Senayan. Dan segala hal yang telah diperjuangkan bukan sekedar pembuktian eksistensi diri. Selamat Pagi.

We Can Learn Anything

Tadi siang pas lagi jenuh ngerjain tugas rekstruk gue iseng-iseng buka web nya Khan Academy. Gue buka salah satu video di homepagenya judulnya You Can Learn Anything disitu secara singkat nyeritain kalau semua orang bisa belajar apapun. Apapun. Yep, bahkan dulu Einstein juga harus belajar berhitung dan Shakespeare juga belajar mengeja. Semuanya mulai dari nol. Setelah nonton video super singkat ini gue makin yakin bahwa semuanya itu bisa dipelajarin.

Khan Academy

Secara random juga tadi siang gue ngesearch tentang kopi. Alih-alih ngitung kebutuhan tulangan geser di balok yang gue desain gue malah sibuk nyari informasi tentang kopi luwak. Well, sebenernya salah satu keinginan gue adalah: Punya Coffee Shop dan jadi barista disana setiap weekend. Hahaha. Asik nggak sih? Ketika weekdays kita kerja kantoran dan ketika weekend tiba kita berubah jadi barista di coffee shop milik sendiri.

Menjalani satu jalan kehidupan aja terkadang terlalu monoton nggak sih? Maksud gue gini, ketika gue resmi jadi seorang civil engineer nantinya dan gue  harus mengerjakan hal-hal seputar itu-itu saja bukankah pada batasnya kita akan mencapai titik jenuh? Gue memang orang yang mudah bosan dan dalam waktu bersamaan seringkali gue menginginkan 2 macam kehidupan yang berbeda. Gue selalu membayangkan betapa kerennya orang yang menjalankan banyak peran sekaligus. Seorang civil engineer yang merangkap seorang barista di coffee shop entah kenapa terlihat keren di mata gue, yaah kira-kira sama kerennya kayak freelance photographer yang merangkap jadi Spiderman atau journalist yang merangkap jadi Superman.

Jadi yaa pokoknya setelah gue nonton video itu gue semakin percaya kalau semuanya bisa dipelajarin. Semua yang belajar memulainya dari nol dan proses pembelajaran itu nggak selalu mulus. Pasti kita akan mengalami banyak hambatan, kebuntuan, halangan atau mungkin kegagalan. Tapi ketika kita jatuh men, saat itu juga waktunya kita untuk bangkit dan kembali belajar. Well, mungkin gue bisa belajar untuk menjadi seorang barista yang handal. Belajar tentang dunia perkopian dan juga latte art. Lalu di saat itu juga, dalam waktu yang bersamaan gue adalah seorang civil engineer di suatu kontraktor.

,

Melarikan Diri Sejenak

Hari ini gue memutuskan untuk pergi meninggalkan Bandung sebentar dan pulang ke kampung halaman. Bogor men!! Gue mau ganti suasana bentar sebelum UAS.

Kemarin malem gue begadang di kosan Fitri buat ngerjain tugas rekstruk yang nggak kunjung kelar. Jam 3 pagi tadi gue baru tidur dan harus bangun jam setengah 6 buat balik ke kosan gue terus gue harus ngawas ujian mektan jam setengah 8. Karena Pak Bigman super duper ontime, gue nggak boleh telat nyampe kampus. Gue buru-buru sarapan, nyiapin barang yang mau dibawa dan mandi. Kelar mandi gue siap-siap dan nggak lupa ngelap kacamata gue, sampai akhirnya terdengar bunyi “krek” dan kacamata gue terbelah.

KacamataMiris banget rasanya bro. Semua terjadi begitu saja dan kini kacamata gue udah kebelah jadi dua. Apa daya, akhirnya gue cabut ke kampus tanpa kacamata dan gue harus memicingkan mata buat ngeliat sesuatu biar jelas.

Nyampe di kelas kira-kira jam setengah 8 kurang 5 dan Pak Bigman udah ngebagiin soal. Buru-buru gue ikutan bantuin beliau bagiin soal dan muterin absen. Sampe akhirnya sekitar seperempat jam kemudian Latin dateng. Setelah ngawas kurang lebih 3 jam yang penuh dengan tanya, Latin siap-siap buat sidang KP dan gue siap-siap buat balik. Gue nemenin si Latin latihan presentasi dan sekitar pukul setengah 12 gue memutuskan buat balik.

Gue naik Damri dari Dipati Ukur, lu harus cobain deh bus Damrinya. Sangat klasik bro. Lu pernah nonton film Gie kan? Di sana ada beberapa scene yang nunjukin Gie lagi di dalem bus. Nah kondisi Damri yang sering gue naikin kurang lebih begitu. Setelah tiba di Terminal Leuwi Panjang. Gue nyari Bus yang menuju ke Bogor.

Nah, di sepanjang perjalanan Bandung-Bogor gue punya cukup banyak waktu untuk merenung dan berpikir. Gue selalu suka pemandangan yang disuguhkan oleh tol Cipularang. Tebing-tebing gunung kapur yang menjulang, jurang-jurang yang dalam, serta sawah dan ladang di samping kanan kiri. Terus kayaknya gue ketiduran, nggak lama setelah masuk tol Cipularang dan tiba-tiba gue udah dijemput Nyokap tercinta di depan terminal.

***

Pulang ke rumah seolah menjadi penawar di tengah riuh rendahnya kehidupan kuliah. Duduk bersama nyokap buat sekedar ngobrol santai benar-benar membuat gue rindu akan masa-masa gue SMA dulu. Tapi UAS udah di depan mata bro! Nge-throwback  kenangan masa lalunya nanti aja. Malem ini belajar dulu lah, hahahaha. Oh iya, nggak lupa gue ucapkan terimakasih sebesar-besarnya buat si merah (a.k.a kacamata) yang udah nemenin gue nyaris 6 tahun. Tanpa lu, mungkin gue nggak ada disini sekarang. Tengkyu buat kerjasamanya bro, sampai berjumpa di alam dengan dimensi yang berbeda

See yaa..

120 Dollar per Jam

Tugas yang menumpuk dan UAS yang udah di depan mata emang meningkatkan kadar kejenuhan dengan drastis. Tadi pagi gue memutuskan untuk cabut dari kosan dan nongkrong di tempat makan. Gue orangnya gampang bosen dengan suasana yang monoton walau kamar gue udah nggak kaya kamar karena banyak poster disana-sini. Akhirnya gue ngepak barang-barang gue, buku, laptop dan segala macem buat migrasi ke tempat makan.

Begitu sampai destinasi, gue langsung memastikan meja yang deket sama steker listrik kosong. Lalu gue pesen sarapan dan kopi, lalu membuka laptop gue, buat ngerjain tugas. Gue nggak jarang kayak gini, gue terkadang butuh “me time” buat ngecharge energi gue. Kayak kata tante Marti Olsen Laney “…like a rechargeable battery; they need to stop expending energy and rest in order to recharge.”

Gue sering bosen aja kalau harus berada di tempat yang sama terus-menerus. Akhirnya mood gue jadi nggak oke dan produktivitas menurun. Dengan ganti suasana seenggaknya mood akan membaik dan dengan ngabisin waktu sendiri terkadang gue bisa jadi lebih menikmati dan merefleksi diri.

Kira-kira setelah jam makan siang, gue dapet sms dari temen gue yang ngajak ke rumah dosen. Jadi ceritanya tadi sore kita mau ngasih asistensi ke junior. Tapi ada materi yang belum kita kuasain banget (tentang geotextile dsb) akhirnya kita memerlukan bimbingan dari dosen secara langsung.

Rumah Dosen gue yang mau didatengin letaknya di Dalem Wangi, daerah Dago Atas gitu. Rumahnya asik banget. Ketika masuk gerbang rumahnya, kita harus ngelewatin semacam jembatan kayu gitu buat bisa mengakses pintu utama. Sangat menarik. Nggak berhenti di situ aja, ketika masuk ke dalem rumahnya dan ke bagian tengah rumahnya. Men! Ada opening yang cukup besar di bagian belakang rumah dan lu bisa liat pemandangan yang super duper keren. Hutan pinus men!! Ini udah kayak villa gitu aja. Gue mungkin nggak akan pergi kemana-mana kalau punya pemandangan sebagus ini di rumah.

Well, gue ke rumah beliau bukan untuk tour keliling-keliling rumah sih. Gue disana buat dapet short course soal geotextile. Yang paling luar biasanya adalah: Beliau mau nerangin gue dan temen gue, latin, soal materi perhitungan dan analisis geotextile yang baru dimunculin tahun ini. Bahkan nyiapin infocus segala macem buat nerangin kita, padahal Beliau lagi sibuk ngerjain proyek. Setelah nyaris satu jam dapet short course dari beliau, kita izin balik ke kampus. Men, ini lumayan banget kita dapet short course dari beliau selama 1 jam. Kalau profesional dapet course gini biasanya per jam nya 120 dollar!! 

Nah pulang dari sana pas di motor dan kehujanan gue baru nyadar kalau jadi mahasiswa itu enak. Kenapa? Kita bisa dapet kuliah dari orang-orang keren dan profesional dari Pak Bigman gini. Kita bisa nanyain apapun yang kita mau. Harusnya kita manfaatin ini baik-baik, selama masih ada kesempatan. Karena kalau lulus nanti, nggak gampang deh bisa ketemu mereka buat dapet sekedar short coursenya dan lain sebagainya

Pelajaran yang gue dapet hari ini adalah:Selama kita masih di kampus, ini lah saatnya kita mendulang ilmu sebanyak-banyaknya

Men dan di kampus gue, ada semacam tugu atau prasasti yang namanya Plaza Widya disana tertulis serangkaian kata yang sangat menyentuh. Ini tulisan di tugunya:

Tempat ini diberi nama

PLAZA WIDYA NUSANTARA

supaya kampus ini menjadi tempat anak bangsa menimba ilmu, belajar tentang sains,seni,dan teknologi;

supaya kampus ini menjadi tempat bertanya ,dan harus ada jawabnya;

supaya kehidupan di kampus ini membentuk watak dan kepribadian;

supaya lulusannya bukan saja menjadi pelopor pembangunan,tetapi juga pelopor persatuan dan kesatuan bangsa.

Stanford University, Cita-Cita Masa Lalu

Dulu pas SMA, gue pengen banget bisa lanjut S2 di Stanford, Yep Stanford University men yang ada di jantungnya Silicon Valley, San Francisco.

stanford

Tapi nggak tau kenapa, karena berbagai alasan dan asumsi. Akhirnya cita-cita gue buat lanjut ke sini udah nggak sekuat dulu. Nggak tau kenapa gue pengen lanjut ke Belanda atau Jepang akhir-akhir ini. Tapi gue masih seneng aja kalau liat huruf S merah dan pohon pinus ini. Gue juga masih seneng banget liat Commencement Speechnya Steve Jobs di Stanford kalau lagi nggak semangat. (Commencement Speechnya super duper recommended untuk didengerin lah https://www.youtube.com/watch?v=UF8uR6Z6KLc )

Dulu sebelum masuk Sipil, pas gue TPB, gue nggak sengaja baca brosur Sipil ITB yang ada nama dosen-dosen serta almamater mereka. Waktu itu gue baca kalau ada salah satu dosen Sipil yang lulusan Stanford University. Waktu itu gue seneng banget, seolah-olah Stanford udah beberapa milimeter lebih dekat dari gue. Dan hari ini gue foto bareng sama salah satu alumni Stanford University, Pak Made Suarjana, dosen Rekayasa Struktur gue.

Kelas 1

Well, foto sama alumni nggak akan ngerubah apapun sih. Kalau mau ke Stanford ya harus mati-matian hahaha. Kalau ke Amerika ada GRE juga yang gue masih buta banget kayak apa. Tapi siapa tau sih, suatu hari nanti. Sebagai penutup ada quote lain dari Steve Jobs yang dikutip dari Commencement Speechnya di Stanford

“You can’t connect the dots looking forward you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future. You have to trust in something: your gut, destiny, life, karma, whatever. Because believing that the dots will connect down the road will give you the confidence to follow your heart, even when it leads you off the well worn path.”

-Steve Jobs, Stanford Commencement Speech 2005-

Kangen Berat sama Rumah

Gue kangen banget sama rumah men, udah lama gue nggak pulang. Entah kapan gue bisa balik, semoga minggu depan bisa pulang deh. Keluarga itu emang segalanya banget deh. Mereka selalu ada buat lu dalam keadaan apapun. Nyokap, Bokap, Kakak

Mereka orang yang pertama kali nerima gue apa adanya, sejak gue dilahirkan. Mereka orang-orang yang meluruskan gue ketika gue agak melenceng. Intinya keluarga itu selalu ada buat kita. Keluarga itu juga mood booster paling ampuh. Ketika lagi males-malesan belajar dan malah streaming film  coba deh liat foto nyokap atau bokap lu. Kita pasti bakal ngerasa tertampar dan tersadarkan. Seolah-olah foto itu berkata dengan lirih dan dramatis

“Nak, kamu udah di sekolahin jauh-jauh di kota tetangga, kok malah main-main gitu. Sejujurnya mama agak kecewa”

Yah kurang lebih kira-kira begitulah.Nyokap Bokap buat gue adalah orang yang paling nggak mau gue buat kecewa. Mereka nggak nuntut banyak dari kita tapi udah sepantasnya kita mempersembahkan yang terbaik yang kita bisa. Sekali lagi, yang kita bisa. Sedangkan kakak, buat gue adalah ukuran keberhasilan gue. Gue harus bisa kayak kakak gue. Paling nggak begitu.

Sayangnya gue nggak bisa menghentikan waktu. Waktu terus berjalan tanpa ampun dan mengubah momen-momen berharga kita jadi kenangan manis. Kenangan yang bikin kita senyum-senyum sendiri kalau mengingatnya, Kalau diingat-ingat masa kecil dulu. Gue dan kakak gue seneng banget rebutan nonton TV, main Sega, PC atau PS. Itu terjadi sejak gue SD sampai gue SMP. Bagian terasik dari semuanya ketika gue memenangkan remote TV, dapetin stick PS atau kursi komputer. Kalau jaman gue main Sega dulu, gue masih gaptek jadi butuh bantuan kakak gue. Jadinya gue nggak bisa rebutan-rebutan banget.

Buat yang nggak tau Sega, Sega itu konsol game sebelum zaman PS lah kira-kira. Kasetnya nggak pake CD gitu tapi bentuknya balok pipih gitu. Konsolnya kayak gini bentuknya

Sega Console

Konsol Sega

(Sumber : hardwarezone.com)

Dan salah satu game legendarisnya, karena gue sekeluarga main (termasuk Nyokap Bokap), adalah Kura-Kura Ninja alias Teenage Mutant Ninja Turtles. Dulu gue bahkan sama kakak gue sering rebutan pizza buat nambahin darah si jagoan yang kita mainin. Ini penampakan gamenya

Turtle Ninja

Turtle Ninja 1Game Teenage Mutant Ninja Turtles

(Sumber : taringa.net)

Wetsah, jadi salah fokus gini, malah ngomongin Sega gini. Yah intinya ini merupakan memori-memori indah masa kecil gue. Ketika gue main Sega dengan kakak gue sambil ditemani Nyokap Bokap yang sesekali ikutan main. Sekarang udah nggak ada lagi kayak gini. Kakak gue udah kerja di Bontang. Gue udah kuliah. Kalau lagi liburan, kita juga udah jarang banget main game. Playstation gue bahkan lupa disimpen dimana, apalagi Sega super jadul dan legendaris ini. Palingan kalau nggak ada kerjaan gue main game di PC yang udah nggak seasik dulu, karena nggak ada acara rebutan. Sesekali kakak gue mainin PC juga tanpa rebutan. Atau kita mainin laptop masing-masing di kamar.

Waktu emang ngerubah segalanya men. Sekarang kalau liburan gue bisa guling-guling di kamar bareng Nyokap aja udah seneng. Yang paling bikin gue pengen pulang ke rumah adalah guling-guling bareng Nyokap dan nungguin Bokap gue pulang buat makan malem. Dan yang paling gue kangenin dari kakak gue adalah ketika kita ngomongin mainan, browsing soal mainan dan cuci mata di toko mainan. Hahaha. Gue lagi super duper kangen rumah malem ini.

Semoga UAS cepet berakhir dengan memuaskan lalu gue bisa pulang dengan tenang dan penuh sukacita

fam“Keluarga adalah Semangat Gue untuk Terus Maju”

Sekilas tentang Kayu Glulam

Seperti yang udah gue bilang di beberapa post sebelumnya, gue pengen bahas tentang kayu glulam.

“Jadi apa sih kayu glulam itu?”

Glulam itu kepanjangan dari Glued Laminated. Intinya kayu glulam adalah material komposit antara kayu dan zat adhesive (lem). Kira-kira gambaran sederhananya kayak gini

Kayu Glulam

(Sumber : Slide Kuliah Dr. Ir. Saptahari M. Soegiri P.)

Well, kayu sebagai material konstruksi memiliki banyak kelebihan. Diantaranya kayu merupakan renewable material, ramah lingkungan, ringan, punya nilai estetika yang tinggi dan lagi energi yang dipake buat memproduksi kayu nggak sebesar material-material lain (baja dan beton). Gue pribadi sih suka banget sama material kayu, karena nilai estetikanya. Salah satu dosen favorit gue di Sipil, Pak Saptahari, kebetulan ngajar Struktur Kayu, beliau satu-satunya dosen yang ngajar kuliah itu saat ini. Beliau bilang kalau kayu itu menimbulkan kesan “hangat” dan gue setuju banget sama pendapatnya. Penggunaan material kayu untuk bangunan itu emang bikin lebih homie gitu men. Selain itu kayu juga ringan jadi cocok banget kalau dijadiin struktur tahan gempa.

Nah oke, jadi cukup banyak kan kelebihan dari material kayu. Tapi kayu ini punya keterbatasan sebagai material konstruksi. Dimensi kayu ini nggak sefleksibel beton atau baja. Kayu punya keterbatasan di dimensinya. Buat dapetin ukuran kayu solid yang bentangnya besar itu nggak mudah. Selain jarang banget, harganya juga semakin nggak ekonomis. Oleh karena itu munculah kayu glulam. Kayu glulam ini seolah menjadi jawaban atas segala tanya tentang dimensi-dimensi ini.

Dengan kayu glulam, kita bisa mengatur sebera pun dimensi yang mau kita gunakan tanpa perlu khawatir ketersediaannya. Karena kayu glulam ini juga kita nggak perlu nunggu waktu tebang pohon yang ratusan tahun untuk mendapatkan dimensi yang besar. Oh iya, kayu glulam juga digunakan di Aula Barat dan Aula Timur ITB lhooo. Ini ada beberapa fotonya, ini foto Aula Barat

Aula Barat ITB CAM02067

Aula Barat ITB

(Dokumentasi Pribadi)

Nah, elemen-elemen yang melengkung itu menggunakan kayu glulam. Seriusan deh, kalau lu lagi di dalem Aula Barat, lu nggak akan bosen liat strukturnya yang sangat indah. Aula Barat ini merupakan bangunan tertua di ITB (dibangun sekitar tahun 1920) dan udah memanfaatkan penggunaan kayu glulam untuk strukturnya.

Penggunaan kayu glulam sebenernya emang udah banyak di negara-negara lain khususnya Amerika dan Eropa. Kayu glulam sendiri udah dikenal sejak tahun 1850an di Inggris. Hanya saja penggunaan kayu glulam di Indonesia masih kurang terdengar. Padahal gue rasa, industri kayu glulam sebenernya cukup prospektif dan lagi Indonesia juga salah satu penghasil kayu dengan kualitas yang sangat baik. Dengan adanya kayu glulam ini kita juga bisa memanfaatkan hutan-hutan kayu industri yang umur tebangnya relatif singkat.

Secara kekuatan, kayu glulam juga nggak kalah dengan kayu solid. Bahkan kayu glulam cenderung lebih kuat dibandingkan dengan kayu solid untuk parameter-parameter tertentu (kuat lentur, tarik serta tekan sejajar serat). Hal ini dikarenakan penggunaan kayu glulam dapat memperkecil/menghilangkan adanya cacat kayu pada kayu yang akan digunakan. Berbeda dengan penggunaan kayu solid yang tidak dapat atau agak sulit untuk menghindari adanya cacat pada kayu.

Well, gue rasa segitu dulu tentang kayu glulam. Mungkin untuk perhitungan dan perbandingannya secara mendetail dengan kayu solid akan disampaikan lain kali. See yaa.

Petrea Volubilis

Nggak kerasa UAS udah mau dateng minggu depan. Kayaknya dari kemarin-kemarin gue ngomong nggak kerasa melulu. Tapi emang sih, semua terus berjalan, waktu terus berjalan. Tiba-tiba aja udah mau kelar semester tujuh.

Men, udah semester tujuh. Kayaknya belum lama gue menginjakkan kaki di kampus ini dan kebingungan nyari kelas matrikulasi. Untung waktu itu gue selalu bareng temen gue, satu fakultas dan sekosan pula. Kalau nggak kayaknya gue bakal give up di minggu kedua karena nggak kunjung hapal kelasnya dimana.

Dan kalau gue flashback beberapa tahun ke belakang. Kira-kira pas gue SMA kelas tiga. Waktu itu lagi semangat-semangatnya belajar buat dapet PTN idaman. Waktu itu gue emang pengen banget masuk sini. Yep, dari kelas 2 SMA gue udah pengen kuliah di kampus gajah duduk ini. Suatu hari, entah lagi ada momen apa, temen gue sebangku, Disti, bawa bunga ke sekolah. Gue waktu itu nggak tau bunga apa itu yang dia bawa. Bunganya kecil-kecil gitu. Dia bawa beberapa tangkai bunga dan di setiap tangkai itu bunganya bergerombol banyak.

Terus dia petik satu buah bunga dari tangkai dan dijatuhin ke bawah. Awalnya gue bingung temen gue ini mau ngapain. Dan ternyata ketika bunga itu jatuh kebawah, bunganya berputar dramatis kayak kincir gitu, pelan..pelan.. sampai dia jatuh. Waktu itu gue takjubnya setengah mati. Well, gue emang suka takjub sama hal-hal trivial kayak gini.

“Gila, keren banget Dis”

Gue lupa, tapi kurang lebih itu yang gue ucapkan. Dia bilang kalau dia bawa bunga itu dari rumahnya, Yah terus? Terus dia bilang lagi kalau kita bisa nemuin bunga yang sama di Gerbang ITB. Waktu itu gue nggak tau Gerbang ITB ada bunganya di sebelah mana. Tapi nggak tau kenapa seneng aja dan berharap gue bisa cepet-cepet ketemu bunga itu lagi ITB. Mungkin karena muka gue yang keliatan terobsesi banget sama bunga itu atau gimana. Disti bilang gue boleh ambil semua bunga yang dia bawa. Karena tingkat keluguan gue masih tinggi, gue percaya kalau gue nyimpen bunga itu kesempatan gue buat ketemu sodara-sodara bunga itu di ITB akan meningkat. Sangat naif dan nggak masuk akal, hahahaha, tapi nggak papa. Akhirnya gue simpen bunga itu di loker gue, di kelas. Gue rasa bunga itu bersemayam disana berbulan-bulan. Sampai jadi kering.

Sampai waktu gue keterima di ITB, gue masih nggak tau itu bunga namanya apa. Dan saat gue ngeh pertama kali akan kehadiran bunga itu di gerbang kampus. Gue jadi terharu. Men, gue beneran terharu waktu itu. Akhirnya gue bisa ngeliat bunga itu lagi. Bertahun-tahun berlalu, gue nggak kunjung tau itu bunga namanya apa. Tapi bunga itu punya kenangan tersendiri buat gue.

Gerbang ITB

Gerbang Depan ITB

(Sumber : http://www.sp.itb.ac.id)

Sampai akhirnya malam ini, misteri yang berlangsung selama bertahun-tahun ini terungkap juga!! Nama bunga itu Petrea Volubilis men!! Nih, bunganya kalau dizoom

Petrea Volubilis

Petrea Volubilis

(Sumber : Hafiz Isaadeen)

Suatu hari, gue pengen ngajak temen gue itu liat bunga ini di depan gerbang Ganesha dan bilang

“Dis, ini bunga yang lu bilang waktu itu. Ternyata beneran ada dan bisa muter

Wahahaha tapi nggak bisa sih gue, jadi sok dramatis gitu di depan temen gue. Tapi yang jelas, ini buat refleksi gue malem ini aja. Kalau gue udah dikasih kesempatan ketemu bunga ini di kampus gajah duduk. Kalau gue buang-buang waktu percuma sayang aja. Oleh karena itu, gue harus semangat UAS besok.

Kadang sekedar duduk dan mengingat tahun-tahun kebelakang bisa bikin kita semangat lagi. Seenggak mengingatkan kita kalau kita pernah punya semangat itu. Kita yang dulu penuh semangat, nggak ada bedanya dengan diri kita yang sekarang. Kita masih tetap orang yang sama dan juga masih menginjak bumi yang sama. Lalu kenapa semangat itu kendur?

Hidup emang nggak selamanya berlari, kadang kita butuh waktu untuk duduk dan merefleksi diri. Tapi setelahnya kita harus bangkit dan lari kembali. Atau mungkin terbang, bebas, seperti elang. Selamat malam buat jiwa-jiwa yang terjaga.

Jadi Diri Sendiri Biar Lebih Asik

Men, banyak buku menarik bertebaran di muka bumi yang bisa lu manfaatkan. Salah satunya buku-buku mengenai self improvement atau apapun itu. Yang kalau lu baca, lu jadi lebih menghargai hidup lu dan senang jadi diri lu sendiri. Dari sekiaan banyak buku soal self improvement, ada buku-buku yang cukup mudah dicerna dan enteng buat dibaca. Diantaranya ada bukunya Yoris Sebastian, “101 Creative Notes” yang isinya cara asik ngejalanin hidup versi doi.

101 Creative Notes

101 Creative Notes – Yoris Sebastian

(Sumber : gramediapustakautama.com)

Isinya terbilang personal tapi banyak tips-tips yang berguna sih kalau mau menjalani hidup lebih kreatif dan nggak monoton. Intinya kreativitas itu harus terus diasah. Selain gaya penulisannya yang ringan buku ini juga nggak berisi tulisan doang, banyak coretan-coretan gambar nyaris di semua halamannya. Kalau lu lagi males baca buku yang berat-berat kayak punya Dale Carnegie, buku ini bisa jadi solusi tepat.

Selanjutnya, di tengah kegamangan gue menunggu temen gue kemarin malem. Gue akhirnya memutuskan buku yang sebenernya udah lama gue lirik. Judulnya “How To Be Interesting” karangannya Jessica Hagy, salah seorang kartunis di New York Times. Isinya cenderung mirip-mirip dengan bukunya Yoris Sebastian. Menggunakan sedikit tulisan dan banyak chart di sana-sini. Buku Tante Jessica ini isinya lebih ngedorong kita untuk jadi menarik dengan jadi diri sendiri. Ini juga asik banget dibaca kalau lagi iseng-iseng karena tulisannya dikit dan nggak membosankan. Tapi gue sarankan buat beli versi Inggrisnya, karena beberapa kata yang diterjemahkan ada yang gue rasa kurang pas entah gimana. Well, ini cover versi Indonesianya

How To Be Interesting

How To Be Interesting – Jessica Hagy

(Sumber : gramediapustakautama.com)

Gue rasa kita semua juga tahu sih, kita itu nggak perlu jadi orang lain untuk jadi menarik. Atau kita nggak perlu mencoba untuk menjalankan jalan hidup yang sama dengan orang lain. Memiliki mimpi yang sama dengan orang lain atau apapun itu. Maksud gue, semua orang itu unik, punya kesenangannya masing-masing, punya tujuannya masing-masing dan punya apa yang mereka yakini.

Bayangin aja kalau di dunia ini cuma ada satu tipe manusia, betapa monoton dan membosankannya. Tapi bukan berarti diri kita yang sekarang ini udah sempurna. Banyak hal yang mesti diperbaiki. Tapi secara sederhananya gue nggak mau ngejalanin hidup yang monoton dan membosankan. Banyak hal yang bisa dieksplor di dunia ini. mulai dari yang sederhana. Kecepatan daun jatuh barang kali, melalui rute jalan yang berbeda setiap harinya, menghirup bau rumput baru dipotong yang entah kenapa selalu sama, menghitung jumlah semak-semak yang gue nggak tau namanya di lapangan sipil, memikirkan kapan langit-langit di 3201 dibersihkan, atau sekedar melihat struktur Aula Barat yang dibuat dari kayu glulam.

*Eh kayu glulam! tulisan gue berikutnya kayaknya mau ngebahas tentang kayu glulam deh.