Unknown's avatar

About Nabila Satwikawati

A full time civil engineer, a newbie writer, a book juggler and a lifelong learner.

Sistem Ekonomi Liberal, Siapkah Kita?

Sejak 1 Januari 2015 kemarin harga premium yang awalnya Rp. 8500 /liter diturunkan menjadi Rp. 7600 /liter. Setelah sebelumnya pada 18 November 2014 lalu harga premium telah dinaikan dari Rp. 6500 /liter menjadi Rp. 8500 /liter. Turunnya harga premium ini dikarenakan harga minyak dunia yang terus turun. Pemerintah juga menyatakan telah mencabut sepenuhnya subsidi untuk premium ini, sedangkan untuk solar dan minyak tanah masih mendapat subsidi sebesar Rp. 1000 /liter. Semua harga bahan bakar ini nantinya akan mengikuti mekanisme pasar dan harganya dapat berubah-ubah. Harga bahan bakar yang dilemparkan sesuai mekanisme pasar ini agaknya menjurus ke sistem ekonomi liberal dimana ekonomi diatur oleh kekuatan pasar. Jadi semuanya tergantung supply and demand. Sehingga harga dapat naik turun dari waktu ke waktu. Bukankah ini artinya pemerintah telah melakukan liberalisasi sektor migas yang menyangkut hajat hidup orang banyak?

Well, dengan dicabutnya subsidi ini tentu berimplikasi luas terhadap rakyat. Premium sendiri adalah salah satu barang yang paling dibutuhkan oleh masyarakat dan jika harganya ditentukan oleh mekanisme pasar yang begitu dinamis, maka fluktuasi harga yang terjadi dapat mempengaruhi ketidakstabilan harga komoditas yang lain. Menurut gue Pemerintah tidak dapat sepenuhnya melemparkannya pada pasar dan diperlukan intervensi pemerintah di sini. Kebijakan pemerintah ini emang menumbuhkan berbagai opini di publik, apakah pemerintah mulai mengarah pada sistem ekonomi liberal dan lain sebagainya

Satya Yudha, anggota Komisi VII DPR RI fraksi Golkar, berpendapat bahwa Pemerintah telah melanggar Pasal 33 UUD  1945 yang berbunyi “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung dalam bumi adalah pokok-pokok kemakmuran rakyat. Sebab itu harus dikuasai Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat“. Sedangkan Sudirman Said, Menteri ESDM, berpendapat bahwa mereka tidak melanggar konstitusi karena nantinya harga dasar BBM akan ditentukan dan diumumkan setiap awal bulan. Sehingga Pemerintah tidak sepenuhnya menyerahkan pada mekanisme pasar. Tapi menurut gue pribadi tetap saja pasar punya andil yang besar dalam penentuan harga nantinya.

Lalu jika memang menganut sistem liberal apakah negara kita siap? Sebenernya negara kita pernah menganut sistem ini pada masa pemerintahan Soekarno tahun 1950 sampai 1957. Sistem perekonomian saat itu mengikuti mekanisme pasar sesuai dengan teori ekonomi klasik yang menyatakan laissez faire laissez passer. Frasa yang berarti biarkan terjadi, biarkan lewat  ini memiliki maksud bahwa segala kegiatan ekonomi diserahkan ke pasar dan intervensi pemerintah sangat minim. Padahal kondisi perekonomian Indonesia saat itu masih sangat buruk ditambah oleh adanya inflasi yang tinggi serta blokade ekonomi yang dilakukan oleh Belanda. Ketika kebijakan ekonomi liberal ini ditetapkan, pengusaha-pengusaha pribumi juga masih sangat lemah dan tidak dapat bersaing dengan pengusaha nonpribumi. Pada akhirnya sistem ini hanya memperburuk keadaan. Setelah itu sistem perekonomian Indonesia berubah total ketika negara kita menganut demokrasi terpimpin menjadi cenderung menganut sistem etatisme.

Saat ini ketika Indonesia telah nyaris berusia 70 tahun, rasa-rasanya negara kita dihadapkan lagi oleh hal yang sama: kecenderungan ke arah sistem ekonomi liberal. Jika tidak dilakukan dengan hati-hati dan pemerintah tidak mengintervensi sama sekali, kebijakan pemerintah ini akan menimbulkan banyak dampak negatif diantaranya timbulnya monopoli, gejolak ekonomi serta adanya persaingan yang tidak sehat di masyarakat. Jika ini terjadi maka akan timbul berbagai masalah lainnya dan yang paling serius adalah semakin meningkatnya kesenjangan ekonomi antar masyarakat.

Tahun Baru: Apakah Perlu Resolusi Baru?

Ternyata emang bener gue sempet hiatus beberapa hari ini karena ada sepupu-sepupu gue. Mereka masih kecil-kecil, jadi masih suka nempel-nempel gitu sama gue. Jadinya gue nggak sempet nulis hahaha. Tapi nggak papa, terimakasih buat mereka yang udah liburan di rumah gue, jadinya rumah gue nggak sepi-sepi banget. Yaaah, nyaris tiap liburan sekolah rumah gue emang sering dijadiin tempat liburan sepupu-sepupu gue, mungkin karena Nyokap gue anak tertua atau karena mereka ngefans berat sama kakak sepupunya.

Liburan kali ini bakal berlangsung singkat. Rencana gue ke Solo agaknya diundur karena minggu depan gue harus balik ke Bandung buat penataran Mektan. Jadi gue menghabiskan liburan ini di Bogor dan sekitarnya, kumpul sama keluarga dan bertemu kawan-kawan lama. Lucu juga kalau ketemu temen-temen SMP atau SMA, pembicaraan kita nggak jauh dari masa depan. Mulai dari nanyain kapan lulus, habis lulus mau ngapain, mau nikah kapan, mau jadi wanita karir atau nggak dan lain sebagainya. Waktu emang berlangsung cepat, padahal rasa-rasanya baru kemarin kita ketemu mereka di kelas, pergi ke kantin bareng atau saling ngeledekin kalau ada yang lagi ngecengin orang.

***

Well, dan sekarang udah tahun 2015. Tahun baru biasanya ditandai dengan resolusi baru. Gue sendiri, termasuk orang yang suka bikin resolusi, biasanya sih gue bikin resolusi itu setiap pergantian tahun sama pergantian semester. Jadi ada dua: Resolusi Awal Tahun dan Resolusi Tengah Tahun. Well, walaupun nggak semua resolusi bisa tercapai, seenggaknya dengan bikin resolusi ini, kita jadi semangat buat ngejar tujuan kita dan ngepush diri kita buat bisa mencapai itu. Gue pribadi sih, rasanya kayak ngecharge semangat kita lagi gitu dan mengingatkan kita akan tujuan-tujuan yang tertunda. Asik hahahaha. Perkara mau bikin resolusi atau nggak di awal tahun itu ya tergantung masing-masing orang. Tapi kalau gue sih biar  gampang aja evaluasinya. Jadi di penghujung tahun gue bisa tahu, apa-apa yang tercapai dan nggak.

Gue sendiri lebih suka menjalani hidup gue ketika gue punya tujuan yang pasti, kejaran yang harus dikejar. Gue juga suka sama orang-orang yang punya mimpi dan persistent ngejar mimpinya. Terkadang ketika gue lagi nggak semangat, cukup dengan mengetahui bahwa mereka masih bertahan dengan mimpinya aja udah bikin gue semangat lagi. Thanks to them 😀

Jadi, resolusi lu tahun ini apa Bil? Yang jelas, tahun ini gue HARUS LULUS (aamiin). Semoga TA gue baik-biak saja. Terus gue juga pengen belajar nulis. Rajin olahraga dan menjalani pola hidup yang sehat (malahan gue sempet kepikiran buat join karate lagi). Ngambil IELTS dan menyelesaikan persiapan lainnya. Yang terakhir memantapkan diri gue buat milih antara kerja dan kuliah lagi.

Nah, resolusi ini lah yang harus gue kejar tahun ini. Semoga semuanya berjalan dengan lancar

Tugas Akhir

Berbahagialah buat kita-kita yang udah mulai liburan. Dengan dikumpulkannya tugas-tugas besar kemarin liburan resmi dimulai. Yes!!

Awalnya gue memutuskan buat balik kemarin lusa, cuma gara-gara Bandung dilanda hujan yang super deras pas siang-siang dan Dosen pembimbing gue mendadak minta ketemu di kantornya akhirnya gue mundurin jadwal kepulangan gue. Alhasil gue baru pulang kemarin siang.

Jadi, ceritanya kemarin lusa Dosen pembimbing gue minta ketemu. Yep Dosen pembimbing TA errrr. TA atau Tugas Akhir adalah salah satu hal yang sangat dinanti-nanti kedatangannya kepergiannya. Intinya nyaris semua orang yang ketemu sama TA ini pengen cepet-cepet berpisah dengan dia. Termasuk gue yang akan bertemu dia semester depan. Jadi, beberapa bulan lalu Pak Endra Susila, Dosbing gue udah mengintruksikan ke anak-anaknya ini buat nyari tema TA.

Gue dan temen-temen sebimbingan gue udah nyari tema apa aja yang asik selama semester kemarin dan gue nemu topik tentang MSE Wall. Sayangnya gue belum dapet judulnya apa. Nah, terus kemarin gue dan Shahnaz dengan polosnya datengin Pak Endra dan berharap kalau kita bakal dikasih instruksi lanjutan. Misalnya kayak gini..

“Bil, jadi kamu temanya MSE Wall ya?”

“Err iya Pak, jadi apa yang harus saya lakukan Pak?”

“Hmmm baiknya kamu coba analisis di bagian bla…bla…bla..”

“Siap Pak! Perintah diterima. Laksanakan”

Sayangnya, percakapannya nggak sesuai dengan ekspektasi dan berubah jadi kayak gini..

“Yak, jadi gimana Bil?”

“He? Err saya jadinya Topiknya tentang MSE Wall itu Pak”

“Oooh begitu”

“Jadi, apa yang harus saya lakukan ya Pak?”

“Wah ya tergantung kamu”

“errrr…… jadi kami sendiri Pak yang menentukan judul kami nantinya? dan apa-apa saja yang harus kami analisis?”

“Ya. Kalian sudah cukup dewasa untuk melakukan self-study. Jadi, nanti kalian cari sendiri masalahnya, kalian cari bagaimana cara memecahkannya dan kalian sendiri yang akan menemukan solusinya. Memang jika saya langsung memberikan kalian instruksi secara langsung, pengerjaannya akan cepat. Namun, pembelajaran yang didapat akan lebih terasa dan banyak jika kalian melakukan self-study”

“Baik Pak”

Sekian percakapan gue dan Pak Endra. Intinya TA itu emang beda banget sama Tugas Besar yang selalu dikasih tuntunan. TA ini lebih abstrak, karena kita harus nyari sendiri apa yang mau kita cari. Errr bingung kan? gue juga hahahaha.

Yasudahlah, yang penting semoga segala perTA-an ini cepat berakhir dan gue bisa liburan ke tempat yang asik-asik bareng temen-temen gue. Semoga di akhir liburan ini gue juga mendapatkan inspirasi buat judul TA gue. Oke, sekian, katanya sepupu-sepupu gue mau dateng ke rumah. Jadi, sepertinya gue akan hiatus beberapa hari ini. Daaaaaaaah

Pertamina Energy Tower : The Zero Net Energy Building

Setelah gue nulis tentang pencakar langit kemarin, gue jadi pengen nulis tentang Pertamina Energy Tower lebih jauh. Pertamina Energy Tower yang terletak di kawasan Kuningan, Jaksel ini bakalan jadi HQ (headquaters) Pertamina yang baru. Pencakar langit dengan 99 lantai ini direncanakan selesai pada 2020 dan pembangunannya sendiri sudah dimulai tahun ini. Gedung ini nantinya akan menjadi pencakar langit tertinggi di Indonesia

Pertamina Energy Tower

Pertamina Energy Tower

(Sumber : SOM.com)

Gue rasa Indonesia bisa sedikit berbangga dengan proyek yang terbilang cukup prestisius ini. Selain melibatkan architecture firm ternama kayak SOM (Skidmore, Owings & Merril) dan PT Wiratman Associates sebagai konsultan struktural ada banyak hal menarik dari Pertamina Energy Tower ini. Diantaranya supertall building ini memproduksi sendiri energi yang digunakannya dan diprediksi akan menjadi the first supertall tower in the world that generate its own power. Men, kurang keren apalagi coba?

Jadi PET (Pertamina Energy Tower) ini akan memanfaatkan tenaga angin dan matahari. SOM juga memperkirakan kemungkinan digunakannya energi geotermal nantinya. Selain memanfaatkan energi ramah lingkungan, bangunan ini juga didesain sedemikian rupa buat ngurangin penggunaan lampu atau penerangan tambahan. Lalu alih-alih menggunakan AC yang memakan banyak energi, sebagai sistem pendinginnya digunakan radiant water based cooling system. Intinya keseluruhan desain bangunan ini direncanakan untuk mendapatkan hasil yang zero net energy.

Well, emang zaman udah berubah. Awalnya fokus dari supertall building adalah masalah strukturalnya : bagaimana menahan beban gravitasi serta lateral dari angin dan gempa. Namun seiring berjalannya waktu, masalah energi juga menjadi perhatian. Karena jumlah energi tebarukan yang semakin menipis tapi di lain sisi demand semakin meningkat. Sehingga energi akhirnya menjadi masalah yang serius dan manusia mulai berlomba-lomba untuk menciptakan produk yang tidak memakan banyak energi. Salah satunya adalah zero net energy building ini.

Gue sendiri udah nggak sabar sih pengen nunggu proyek ini selesai dibangun dan Indonesia bakal punya icon baru yang prestisius. Well, semoga proyek ini bisa berjalan dengan baik. Sekian, Selamat Sore dan Selamat Liburaaaaaaaan

Pencakar Langit Hari Ini

Beberapa tahun yang lalu, ketika gue masih di bangku SMA gue pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti, gue akan bikin pencakar langit tertinggi di Asia. Tapi apa kabar mimpi gue hari ini? Well, Dari jaman SMA sampe sekarang perkembangan pencakar langit di dunia juga terus berkembang. Di jaman SMA gue pernah bikin web tentang konstruksi-konstruksi di dunia, well isinya cuma artikel-artikel gitu aja, namanya Constructio. Gue bikin sekitar tahun 2010 pertengahan, di tahun itu juga Burj Khalifa baru selesai dibangun.

Burj Khalifa

Burj Khalifa

(sumber :burjkhalifa.ae)

Burj Khalifa sendiri merupakan pencakar langit tertinggi di dunia saat itu dan juga masih menjadi menjadi pencakar langit tertinggi di dunia hari ini, terletak di Dubai, Uni Emirat Arab. Selain sebagai pencakar langit tertinggi, Burj Khalifa juga memiliki desain arsitektural yang menarik. Tapak Burj Khalifa ini terbentuk dari tiga lobus yang menyerupai bunga bakung (Hymenocallis). Secara struktural bentuk yang menerupai hufuf ‘Y’ ini juga membantu mengurangi beban dari angin yang mengenainya. Selain itu pencakar langit ini juga menerapkan sistem struktur outrigger yang menghubungkan kolom perimeter dengan struktur dinding bagian dalam. Dengan begitu, kolom perimeter dapat berkontribusi dalam menahan beban lateral yang mengenai struktur.

Dulu, jaman 2010 pencakar langit tertinggi kedua adalah Taipei 101. Taipei 101 merupakan landmark dari Taipei, Taiwan. Secara arsitektural gedung ini memiliki struktur yang berundak-undak menyerupai bentuk pagoda dan juga batang bambu sekaligus. Yang menarik dari sistem struktur pada pencakar langit ini adalah damper yang berupa pendulum baja besar yang tergantung di lantai 92 sampai 87. Damper ini berfungsi untuk melawan goyangan angin yang mengenai gedung dan menjaga stabilitasnya. Selain itu Taipei 101 juga memiliki elevator tercepat di dunia.

taipei 101

Taipei 101

(sumber : Taipei-101.com)

Saat ini posisi runner up udah nggak ditempatin lagi sama Taipei 101 men, setelah Abraj Al-Bait (2012, Saudi Arabia) dan One World Trade Center (2014, USA) selesai dibangun. Lalu ada lagi Shanghai Tower yang rencananya akan menjadi pencakar langit tertinggi kedua di dunia. Konstruksi ini direncanakan selesai dibangun pada tahun 2015.

Well, dalam kurun waktu yang terbilang sebentar, perkembangan gedung tinggi emang pesat banget. Uni Emirat Arab udah nggak terbantahkan lagi punya banyak pencakar langit di negaranya, seperti Burj Khalifa dan juga Burj Al-Arab. Lalu Amerika punya One WTC, lalu ada Willis Tower (ex Sears Tower) dan juga Empire State Building yang melegenda. Taiwan punya Taipei 101 dengan lift tercepatnya. Bahkan Malaysia tetangga terdekat kita punya Petronas. Nah terus bagaimana dengan Indonesia? Apa kabar pencakar langit di Indonesia hari ini?

Well, perkembangan gedung tinggi di Indonesia juga semakin menghangat nampaknya. Tahun ini Indonesia mulai membangun Pertamina Energi Tower. Pencakar langit yang terletak di Jakarta Selatan ini rencananya akan menjadi pencakar langit tertinggi di Indonesia. Gedung ini direncanakan memiliki 99 lantai dengan ketinggian sekitar 400 meter. Dan yang nggak main-main nih, SOM (Skidmore, Owings, & Merril) terlibat dalam proyek ini. SOM ini juga yang terlibat dalam pembangunan Sears Tower dan Burj Khalifa, jadi yaaah kayaknya bakal keren banget sih ini.

Oke sekian, temen gue udah nelfon.

Memantaskan Diri

Tersisa 1 dari 3 UAS lagi, yah walau masih ada presentasi tugas yang lain. Rektor terbaru telah terpilih beberapa hari lalu. Entahlah apakah akan memberikan pengaruh yang signifikan pada kehidupan kampus gue yang kira-kira tersisa 1 semester lagi atau nggak. Tapi yang jelas semoga membawa pengaruh yang baik buat ITB secara keseluruhan.

Kehidupan kampus gue udah mau berakhir. Sejauh ini gue memutuskan hanya menjadi pengamat untuk segala hiruk pikuk yang tejadi di kampus ini. Entah kenapa. Hanya mengambil sedikit bagian saja. Mungkin gue emang orang yang banyak pertimbangan. Kampus ini seolah-olah menawarkan 1 loyang kue, tapi gue hanya mengambil sebagian kecilnya saja. Karena potongan kue-kue ini nantinya harus dipertanggung jawabkan. Gue kira banyak yang mendorong para mahasiswa untuk bergerak, cari pengalaman lah, belajar, membela hak rakyat atau sekedar menunjukan eksistensi. dan gue harap nggak ada yang didorong alasan terakhir. Kampus ini emang tempat belajar, lu bisa jadi apa aja yang lu mau, lu bisa mengembangkan diri lu disini. Tapi lagi-lagi harus ada harga yang dibayar di atas setiap pilihan yang diambil,

Gue selama nyaris 3.5 tahun disini masih mencoba untuk mempertahankan prinsip yang gue yakini, bahwa integritas di atas segalanya. Gue bahkan dulu hanya memandang manusia hitam dan putih, kalau nggak ada integritas pada dirinya maka dia hitam dan sebaliknya putih. Namun, gue sadar kalau itu salah, karena dunia ini bukan dunia utopia dimana segalanya ideal. Masalah yang paling pelik buat gue sebenernya adalah integritas dari masing-masing diri kita, Integritas mahasiswa khususnya. Seorang mahasiswa yang membela rakyat dan mengutuk mereka yang di Senayan sudah seharusnya nggak mencontek ketika ujian atau titip absen ketika mereka nggak bisa masuk kelas. Bukankah seharusnya begitu?

Gue rasa, kebiasaan seperti ini harus dipupuk sejak dini. Kita harus berani menghadapi resiko apapun dari konsekuensi setiap perbuatan kita. Bagaimana pun hasilnya. Nilai-nilai yang dikejar dengan menggadaikan integritas tak seberharga itu kawan. Buat temen-temen mahasiswa dimanapun, realitas yang kita lihat sekarang adalah banyak koruptor berkeliaran di luar sana, banyak dari mereka yang duduk manis menjadi perwakilan kita dan hidup mewah. Integritas mereka gadaikan untuk kesenangan pribadi. Sementara masih banyak masyarakat di luar sana merintih kelaparan. Gue rasa suatu hari nanti sebagian dari kita yang akan membereskan generasi yang mengacau ini, menggantikan posisi mereka menjadi anggota dewan. Maka gue rasa integritas adalah sesuatu yang mutlak untuk dipertahankan dan dibiasakan sejak dini.

Sejauh ini juga gue belum berbuat apa-apa buat rakyat. Padahal sebagian biaya pendidikan di PT juga hasil pajak rakyat. Bukannya sudah sepantasnya kita mengembalikannya pada rakyat. Sebenernya gue jadi miris juga kalau inget itu pas lagi gue males-malesan belajar atau malah main-main. Kita yang di PTN menurut gue adalah investasi jangka panjang negara. Entah dengan cara apa suatu hari nanti diharapkan dapat membawa manfaat pada negara, membawa percepatan ekonomi atau kemajuan teknologi. Oleh karena itu sudah seharusnya kita sungguh-sungguh menuntut ilmu ketika kita kuliah.

Maka saat ini adalah masa-masa kita untuk memantaskan diri, entah akan jadi apa nantinya. Suatu hari nanti gue harap generasi ini benar-benar akan menghabiskan mereka-mereka yang mengacau di Senayan. Dan segala hal yang telah diperjuangkan bukan sekedar pembuktian eksistensi diri. Selamat Pagi.

We Can Learn Anything

Tadi siang pas lagi jenuh ngerjain tugas rekstruk gue iseng-iseng buka web nya Khan Academy. Gue buka salah satu video di homepagenya judulnya You Can Learn Anything disitu secara singkat nyeritain kalau semua orang bisa belajar apapun. Apapun. Yep, bahkan dulu Einstein juga harus belajar berhitung dan Shakespeare juga belajar mengeja. Semuanya mulai dari nol. Setelah nonton video super singkat ini gue makin yakin bahwa semuanya itu bisa dipelajarin.

Khan Academy

Secara random juga tadi siang gue ngesearch tentang kopi. Alih-alih ngitung kebutuhan tulangan geser di balok yang gue desain gue malah sibuk nyari informasi tentang kopi luwak. Well, sebenernya salah satu keinginan gue adalah: Punya Coffee Shop dan jadi barista disana setiap weekend. Hahaha. Asik nggak sih? Ketika weekdays kita kerja kantoran dan ketika weekend tiba kita berubah jadi barista di coffee shop milik sendiri.

Menjalani satu jalan kehidupan aja terkadang terlalu monoton nggak sih? Maksud gue gini, ketika gue resmi jadi seorang civil engineer nantinya dan gue  harus mengerjakan hal-hal seputar itu-itu saja bukankah pada batasnya kita akan mencapai titik jenuh? Gue memang orang yang mudah bosan dan dalam waktu bersamaan seringkali gue menginginkan 2 macam kehidupan yang berbeda. Gue selalu membayangkan betapa kerennya orang yang menjalankan banyak peran sekaligus. Seorang civil engineer yang merangkap seorang barista di coffee shop entah kenapa terlihat keren di mata gue, yaah kira-kira sama kerennya kayak freelance photographer yang merangkap jadi Spiderman atau journalist yang merangkap jadi Superman.

Jadi yaa pokoknya setelah gue nonton video itu gue semakin percaya kalau semuanya bisa dipelajarin. Semua yang belajar memulainya dari nol dan proses pembelajaran itu nggak selalu mulus. Pasti kita akan mengalami banyak hambatan, kebuntuan, halangan atau mungkin kegagalan. Tapi ketika kita jatuh men, saat itu juga waktunya kita untuk bangkit dan kembali belajar. Well, mungkin gue bisa belajar untuk menjadi seorang barista yang handal. Belajar tentang dunia perkopian dan juga latte art. Lalu di saat itu juga, dalam waktu yang bersamaan gue adalah seorang civil engineer di suatu kontraktor.

,

Melarikan Diri Sejenak

Hari ini gue memutuskan untuk pergi meninggalkan Bandung sebentar dan pulang ke kampung halaman. Bogor men!! Gue mau ganti suasana bentar sebelum UAS.

Kemarin malem gue begadang di kosan Fitri buat ngerjain tugas rekstruk yang nggak kunjung kelar. Jam 3 pagi tadi gue baru tidur dan harus bangun jam setengah 6 buat balik ke kosan gue terus gue harus ngawas ujian mektan jam setengah 8. Karena Pak Bigman super duper ontime, gue nggak boleh telat nyampe kampus. Gue buru-buru sarapan, nyiapin barang yang mau dibawa dan mandi. Kelar mandi gue siap-siap dan nggak lupa ngelap kacamata gue, sampai akhirnya terdengar bunyi “krek” dan kacamata gue terbelah.

KacamataMiris banget rasanya bro. Semua terjadi begitu saja dan kini kacamata gue udah kebelah jadi dua. Apa daya, akhirnya gue cabut ke kampus tanpa kacamata dan gue harus memicingkan mata buat ngeliat sesuatu biar jelas.

Nyampe di kelas kira-kira jam setengah 8 kurang 5 dan Pak Bigman udah ngebagiin soal. Buru-buru gue ikutan bantuin beliau bagiin soal dan muterin absen. Sampe akhirnya sekitar seperempat jam kemudian Latin dateng. Setelah ngawas kurang lebih 3 jam yang penuh dengan tanya, Latin siap-siap buat sidang KP dan gue siap-siap buat balik. Gue nemenin si Latin latihan presentasi dan sekitar pukul setengah 12 gue memutuskan buat balik.

Gue naik Damri dari Dipati Ukur, lu harus cobain deh bus Damrinya. Sangat klasik bro. Lu pernah nonton film Gie kan? Di sana ada beberapa scene yang nunjukin Gie lagi di dalem bus. Nah kondisi Damri yang sering gue naikin kurang lebih begitu. Setelah tiba di Terminal Leuwi Panjang. Gue nyari Bus yang menuju ke Bogor.

Nah, di sepanjang perjalanan Bandung-Bogor gue punya cukup banyak waktu untuk merenung dan berpikir. Gue selalu suka pemandangan yang disuguhkan oleh tol Cipularang. Tebing-tebing gunung kapur yang menjulang, jurang-jurang yang dalam, serta sawah dan ladang di samping kanan kiri. Terus kayaknya gue ketiduran, nggak lama setelah masuk tol Cipularang dan tiba-tiba gue udah dijemput Nyokap tercinta di depan terminal.

***

Pulang ke rumah seolah menjadi penawar di tengah riuh rendahnya kehidupan kuliah. Duduk bersama nyokap buat sekedar ngobrol santai benar-benar membuat gue rindu akan masa-masa gue SMA dulu. Tapi UAS udah di depan mata bro! Nge-throwback  kenangan masa lalunya nanti aja. Malem ini belajar dulu lah, hahahaha. Oh iya, nggak lupa gue ucapkan terimakasih sebesar-besarnya buat si merah (a.k.a kacamata) yang udah nemenin gue nyaris 6 tahun. Tanpa lu, mungkin gue nggak ada disini sekarang. Tengkyu buat kerjasamanya bro, sampai berjumpa di alam dengan dimensi yang berbeda

See yaa..

120 Dollar per Jam

Tugas yang menumpuk dan UAS yang udah di depan mata emang meningkatkan kadar kejenuhan dengan drastis. Tadi pagi gue memutuskan untuk cabut dari kosan dan nongkrong di tempat makan. Gue orangnya gampang bosen dengan suasana yang monoton walau kamar gue udah nggak kaya kamar karena banyak poster disana-sini. Akhirnya gue ngepak barang-barang gue, buku, laptop dan segala macem buat migrasi ke tempat makan.

Begitu sampai destinasi, gue langsung memastikan meja yang deket sama steker listrik kosong. Lalu gue pesen sarapan dan kopi, lalu membuka laptop gue, buat ngerjain tugas. Gue nggak jarang kayak gini, gue terkadang butuh “me time” buat ngecharge energi gue. Kayak kata tante Marti Olsen Laney “…like a rechargeable battery; they need to stop expending energy and rest in order to recharge.”

Gue sering bosen aja kalau harus berada di tempat yang sama terus-menerus. Akhirnya mood gue jadi nggak oke dan produktivitas menurun. Dengan ganti suasana seenggaknya mood akan membaik dan dengan ngabisin waktu sendiri terkadang gue bisa jadi lebih menikmati dan merefleksi diri.

Kira-kira setelah jam makan siang, gue dapet sms dari temen gue yang ngajak ke rumah dosen. Jadi ceritanya tadi sore kita mau ngasih asistensi ke junior. Tapi ada materi yang belum kita kuasain banget (tentang geotextile dsb) akhirnya kita memerlukan bimbingan dari dosen secara langsung.

Rumah Dosen gue yang mau didatengin letaknya di Dalem Wangi, daerah Dago Atas gitu. Rumahnya asik banget. Ketika masuk gerbang rumahnya, kita harus ngelewatin semacam jembatan kayu gitu buat bisa mengakses pintu utama. Sangat menarik. Nggak berhenti di situ aja, ketika masuk ke dalem rumahnya dan ke bagian tengah rumahnya. Men! Ada opening yang cukup besar di bagian belakang rumah dan lu bisa liat pemandangan yang super duper keren. Hutan pinus men!! Ini udah kayak villa gitu aja. Gue mungkin nggak akan pergi kemana-mana kalau punya pemandangan sebagus ini di rumah.

Well, gue ke rumah beliau bukan untuk tour keliling-keliling rumah sih. Gue disana buat dapet short course soal geotextile. Yang paling luar biasanya adalah: Beliau mau nerangin gue dan temen gue, latin, soal materi perhitungan dan analisis geotextile yang baru dimunculin tahun ini. Bahkan nyiapin infocus segala macem buat nerangin kita, padahal Beliau lagi sibuk ngerjain proyek. Setelah nyaris satu jam dapet short course dari beliau, kita izin balik ke kampus. Men, ini lumayan banget kita dapet short course dari beliau selama 1 jam. Kalau profesional dapet course gini biasanya per jam nya 120 dollar!! 

Nah pulang dari sana pas di motor dan kehujanan gue baru nyadar kalau jadi mahasiswa itu enak. Kenapa? Kita bisa dapet kuliah dari orang-orang keren dan profesional dari Pak Bigman gini. Kita bisa nanyain apapun yang kita mau. Harusnya kita manfaatin ini baik-baik, selama masih ada kesempatan. Karena kalau lulus nanti, nggak gampang deh bisa ketemu mereka buat dapet sekedar short coursenya dan lain sebagainya

Pelajaran yang gue dapet hari ini adalah:Selama kita masih di kampus, ini lah saatnya kita mendulang ilmu sebanyak-banyaknya

Men dan di kampus gue, ada semacam tugu atau prasasti yang namanya Plaza Widya disana tertulis serangkaian kata yang sangat menyentuh. Ini tulisan di tugunya:

Tempat ini diberi nama

PLAZA WIDYA NUSANTARA

supaya kampus ini menjadi tempat anak bangsa menimba ilmu, belajar tentang sains,seni,dan teknologi;

supaya kampus ini menjadi tempat bertanya ,dan harus ada jawabnya;

supaya kehidupan di kampus ini membentuk watak dan kepribadian;

supaya lulusannya bukan saja menjadi pelopor pembangunan,tetapi juga pelopor persatuan dan kesatuan bangsa.

Stanford University, Cita-Cita Masa Lalu

Dulu pas SMA, gue pengen banget bisa lanjut S2 di Stanford, Yep Stanford University men yang ada di jantungnya Silicon Valley, San Francisco.

stanford

Tapi nggak tau kenapa, karena berbagai alasan dan asumsi. Akhirnya cita-cita gue buat lanjut ke sini udah nggak sekuat dulu. Nggak tau kenapa gue pengen lanjut ke Belanda atau Jepang akhir-akhir ini. Tapi gue masih seneng aja kalau liat huruf S merah dan pohon pinus ini. Gue juga masih seneng banget liat Commencement Speechnya Steve Jobs di Stanford kalau lagi nggak semangat. (Commencement Speechnya super duper recommended untuk didengerin lah https://www.youtube.com/watch?v=UF8uR6Z6KLc )

Dulu sebelum masuk Sipil, pas gue TPB, gue nggak sengaja baca brosur Sipil ITB yang ada nama dosen-dosen serta almamater mereka. Waktu itu gue baca kalau ada salah satu dosen Sipil yang lulusan Stanford University. Waktu itu gue seneng banget, seolah-olah Stanford udah beberapa milimeter lebih dekat dari gue. Dan hari ini gue foto bareng sama salah satu alumni Stanford University, Pak Made Suarjana, dosen Rekayasa Struktur gue.

Kelas 1

Well, foto sama alumni nggak akan ngerubah apapun sih. Kalau mau ke Stanford ya harus mati-matian hahaha. Kalau ke Amerika ada GRE juga yang gue masih buta banget kayak apa. Tapi siapa tau sih, suatu hari nanti. Sebagai penutup ada quote lain dari Steve Jobs yang dikutip dari Commencement Speechnya di Stanford

“You can’t connect the dots looking forward you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future. You have to trust in something: your gut, destiny, life, karma, whatever. Because believing that the dots will connect down the road will give you the confidence to follow your heart, even when it leads you off the well worn path.”

-Steve Jobs, Stanford Commencement Speech 2005-