Unknown's avatar

About Nabila Satwikawati

A full time civil engineer, a newbie writer, a book juggler and a lifelong learner.

Kangen Berat sama Rumah

Gue kangen banget sama rumah men, udah lama gue nggak pulang. Entah kapan gue bisa balik, semoga minggu depan bisa pulang deh. Keluarga itu emang segalanya banget deh. Mereka selalu ada buat lu dalam keadaan apapun. Nyokap, Bokap, Kakak

Mereka orang yang pertama kali nerima gue apa adanya, sejak gue dilahirkan. Mereka orang-orang yang meluruskan gue ketika gue agak melenceng. Intinya keluarga itu selalu ada buat kita. Keluarga itu juga mood booster paling ampuh. Ketika lagi males-malesan belajar dan malah streaming film  coba deh liat foto nyokap atau bokap lu. Kita pasti bakal ngerasa tertampar dan tersadarkan. Seolah-olah foto itu berkata dengan lirih dan dramatis

“Nak, kamu udah di sekolahin jauh-jauh di kota tetangga, kok malah main-main gitu. Sejujurnya mama agak kecewa”

Yah kurang lebih kira-kira begitulah.Nyokap Bokap buat gue adalah orang yang paling nggak mau gue buat kecewa. Mereka nggak nuntut banyak dari kita tapi udah sepantasnya kita mempersembahkan yang terbaik yang kita bisa. Sekali lagi, yang kita bisa. Sedangkan kakak, buat gue adalah ukuran keberhasilan gue. Gue harus bisa kayak kakak gue. Paling nggak begitu.

Sayangnya gue nggak bisa menghentikan waktu. Waktu terus berjalan tanpa ampun dan mengubah momen-momen berharga kita jadi kenangan manis. Kenangan yang bikin kita senyum-senyum sendiri kalau mengingatnya, Kalau diingat-ingat masa kecil dulu. Gue dan kakak gue seneng banget rebutan nonton TV, main Sega, PC atau PS. Itu terjadi sejak gue SD sampai gue SMP. Bagian terasik dari semuanya ketika gue memenangkan remote TV, dapetin stick PS atau kursi komputer. Kalau jaman gue main Sega dulu, gue masih gaptek jadi butuh bantuan kakak gue. Jadinya gue nggak bisa rebutan-rebutan banget.

Buat yang nggak tau Sega, Sega itu konsol game sebelum zaman PS lah kira-kira. Kasetnya nggak pake CD gitu tapi bentuknya balok pipih gitu. Konsolnya kayak gini bentuknya

Sega Console

Konsol Sega

(Sumber : hardwarezone.com)

Dan salah satu game legendarisnya, karena gue sekeluarga main (termasuk Nyokap Bokap), adalah Kura-Kura Ninja alias Teenage Mutant Ninja Turtles. Dulu gue bahkan sama kakak gue sering rebutan pizza buat nambahin darah si jagoan yang kita mainin. Ini penampakan gamenya

Turtle Ninja

Turtle Ninja 1Game Teenage Mutant Ninja Turtles

(Sumber : taringa.net)

Wetsah, jadi salah fokus gini, malah ngomongin Sega gini. Yah intinya ini merupakan memori-memori indah masa kecil gue. Ketika gue main Sega dengan kakak gue sambil ditemani Nyokap Bokap yang sesekali ikutan main. Sekarang udah nggak ada lagi kayak gini. Kakak gue udah kerja di Bontang. Gue udah kuliah. Kalau lagi liburan, kita juga udah jarang banget main game. Playstation gue bahkan lupa disimpen dimana, apalagi Sega super jadul dan legendaris ini. Palingan kalau nggak ada kerjaan gue main game di PC yang udah nggak seasik dulu, karena nggak ada acara rebutan. Sesekali kakak gue mainin PC juga tanpa rebutan. Atau kita mainin laptop masing-masing di kamar.

Waktu emang ngerubah segalanya men. Sekarang kalau liburan gue bisa guling-guling di kamar bareng Nyokap aja udah seneng. Yang paling bikin gue pengen pulang ke rumah adalah guling-guling bareng Nyokap dan nungguin Bokap gue pulang buat makan malem. Dan yang paling gue kangenin dari kakak gue adalah ketika kita ngomongin mainan, browsing soal mainan dan cuci mata di toko mainan. Hahaha. Gue lagi super duper kangen rumah malem ini.

Semoga UAS cepet berakhir dengan memuaskan lalu gue bisa pulang dengan tenang dan penuh sukacita

fam“Keluarga adalah Semangat Gue untuk Terus Maju”

Sekilas tentang Kayu Glulam

Seperti yang udah gue bilang di beberapa post sebelumnya, gue pengen bahas tentang kayu glulam.

“Jadi apa sih kayu glulam itu?”

Glulam itu kepanjangan dari Glued Laminated. Intinya kayu glulam adalah material komposit antara kayu dan zat adhesive (lem). Kira-kira gambaran sederhananya kayak gini

Kayu Glulam

(Sumber : Slide Kuliah Dr. Ir. Saptahari M. Soegiri P.)

Well, kayu sebagai material konstruksi memiliki banyak kelebihan. Diantaranya kayu merupakan renewable material, ramah lingkungan, ringan, punya nilai estetika yang tinggi dan lagi energi yang dipake buat memproduksi kayu nggak sebesar material-material lain (baja dan beton). Gue pribadi sih suka banget sama material kayu, karena nilai estetikanya. Salah satu dosen favorit gue di Sipil, Pak Saptahari, kebetulan ngajar Struktur Kayu, beliau satu-satunya dosen yang ngajar kuliah itu saat ini. Beliau bilang kalau kayu itu menimbulkan kesan “hangat” dan gue setuju banget sama pendapatnya. Penggunaan material kayu untuk bangunan itu emang bikin lebih homie gitu men. Selain itu kayu juga ringan jadi cocok banget kalau dijadiin struktur tahan gempa.

Nah oke, jadi cukup banyak kan kelebihan dari material kayu. Tapi kayu ini punya keterbatasan sebagai material konstruksi. Dimensi kayu ini nggak sefleksibel beton atau baja. Kayu punya keterbatasan di dimensinya. Buat dapetin ukuran kayu solid yang bentangnya besar itu nggak mudah. Selain jarang banget, harganya juga semakin nggak ekonomis. Oleh karena itu munculah kayu glulam. Kayu glulam ini seolah menjadi jawaban atas segala tanya tentang dimensi-dimensi ini.

Dengan kayu glulam, kita bisa mengatur sebera pun dimensi yang mau kita gunakan tanpa perlu khawatir ketersediaannya. Karena kayu glulam ini juga kita nggak perlu nunggu waktu tebang pohon yang ratusan tahun untuk mendapatkan dimensi yang besar. Oh iya, kayu glulam juga digunakan di Aula Barat dan Aula Timur ITB lhooo. Ini ada beberapa fotonya, ini foto Aula Barat

Aula Barat ITB CAM02067

Aula Barat ITB

(Dokumentasi Pribadi)

Nah, elemen-elemen yang melengkung itu menggunakan kayu glulam. Seriusan deh, kalau lu lagi di dalem Aula Barat, lu nggak akan bosen liat strukturnya yang sangat indah. Aula Barat ini merupakan bangunan tertua di ITB (dibangun sekitar tahun 1920) dan udah memanfaatkan penggunaan kayu glulam untuk strukturnya.

Penggunaan kayu glulam sebenernya emang udah banyak di negara-negara lain khususnya Amerika dan Eropa. Kayu glulam sendiri udah dikenal sejak tahun 1850an di Inggris. Hanya saja penggunaan kayu glulam di Indonesia masih kurang terdengar. Padahal gue rasa, industri kayu glulam sebenernya cukup prospektif dan lagi Indonesia juga salah satu penghasil kayu dengan kualitas yang sangat baik. Dengan adanya kayu glulam ini kita juga bisa memanfaatkan hutan-hutan kayu industri yang umur tebangnya relatif singkat.

Secara kekuatan, kayu glulam juga nggak kalah dengan kayu solid. Bahkan kayu glulam cenderung lebih kuat dibandingkan dengan kayu solid untuk parameter-parameter tertentu (kuat lentur, tarik serta tekan sejajar serat). Hal ini dikarenakan penggunaan kayu glulam dapat memperkecil/menghilangkan adanya cacat kayu pada kayu yang akan digunakan. Berbeda dengan penggunaan kayu solid yang tidak dapat atau agak sulit untuk menghindari adanya cacat pada kayu.

Well, gue rasa segitu dulu tentang kayu glulam. Mungkin untuk perhitungan dan perbandingannya secara mendetail dengan kayu solid akan disampaikan lain kali. See yaa.

Petrea Volubilis

Nggak kerasa UAS udah mau dateng minggu depan. Kayaknya dari kemarin-kemarin gue ngomong nggak kerasa melulu. Tapi emang sih, semua terus berjalan, waktu terus berjalan. Tiba-tiba aja udah mau kelar semester tujuh.

Men, udah semester tujuh. Kayaknya belum lama gue menginjakkan kaki di kampus ini dan kebingungan nyari kelas matrikulasi. Untung waktu itu gue selalu bareng temen gue, satu fakultas dan sekosan pula. Kalau nggak kayaknya gue bakal give up di minggu kedua karena nggak kunjung hapal kelasnya dimana.

Dan kalau gue flashback beberapa tahun ke belakang. Kira-kira pas gue SMA kelas tiga. Waktu itu lagi semangat-semangatnya belajar buat dapet PTN idaman. Waktu itu gue emang pengen banget masuk sini. Yep, dari kelas 2 SMA gue udah pengen kuliah di kampus gajah duduk ini. Suatu hari, entah lagi ada momen apa, temen gue sebangku, Disti, bawa bunga ke sekolah. Gue waktu itu nggak tau bunga apa itu yang dia bawa. Bunganya kecil-kecil gitu. Dia bawa beberapa tangkai bunga dan di setiap tangkai itu bunganya bergerombol banyak.

Terus dia petik satu buah bunga dari tangkai dan dijatuhin ke bawah. Awalnya gue bingung temen gue ini mau ngapain. Dan ternyata ketika bunga itu jatuh kebawah, bunganya berputar dramatis kayak kincir gitu, pelan..pelan.. sampai dia jatuh. Waktu itu gue takjubnya setengah mati. Well, gue emang suka takjub sama hal-hal trivial kayak gini.

“Gila, keren banget Dis”

Gue lupa, tapi kurang lebih itu yang gue ucapkan. Dia bilang kalau dia bawa bunga itu dari rumahnya, Yah terus? Terus dia bilang lagi kalau kita bisa nemuin bunga yang sama di Gerbang ITB. Waktu itu gue nggak tau Gerbang ITB ada bunganya di sebelah mana. Tapi nggak tau kenapa seneng aja dan berharap gue bisa cepet-cepet ketemu bunga itu lagi ITB. Mungkin karena muka gue yang keliatan terobsesi banget sama bunga itu atau gimana. Disti bilang gue boleh ambil semua bunga yang dia bawa. Karena tingkat keluguan gue masih tinggi, gue percaya kalau gue nyimpen bunga itu kesempatan gue buat ketemu sodara-sodara bunga itu di ITB akan meningkat. Sangat naif dan nggak masuk akal, hahahaha, tapi nggak papa. Akhirnya gue simpen bunga itu di loker gue, di kelas. Gue rasa bunga itu bersemayam disana berbulan-bulan. Sampai jadi kering.

Sampai waktu gue keterima di ITB, gue masih nggak tau itu bunga namanya apa. Dan saat gue ngeh pertama kali akan kehadiran bunga itu di gerbang kampus. Gue jadi terharu. Men, gue beneran terharu waktu itu. Akhirnya gue bisa ngeliat bunga itu lagi. Bertahun-tahun berlalu, gue nggak kunjung tau itu bunga namanya apa. Tapi bunga itu punya kenangan tersendiri buat gue.

Gerbang ITB

Gerbang Depan ITB

(Sumber : http://www.sp.itb.ac.id)

Sampai akhirnya malam ini, misteri yang berlangsung selama bertahun-tahun ini terungkap juga!! Nama bunga itu Petrea Volubilis men!! Nih, bunganya kalau dizoom

Petrea Volubilis

Petrea Volubilis

(Sumber : Hafiz Isaadeen)

Suatu hari, gue pengen ngajak temen gue itu liat bunga ini di depan gerbang Ganesha dan bilang

“Dis, ini bunga yang lu bilang waktu itu. Ternyata beneran ada dan bisa muter

Wahahaha tapi nggak bisa sih gue, jadi sok dramatis gitu di depan temen gue. Tapi yang jelas, ini buat refleksi gue malem ini aja. Kalau gue udah dikasih kesempatan ketemu bunga ini di kampus gajah duduk. Kalau gue buang-buang waktu percuma sayang aja. Oleh karena itu, gue harus semangat UAS besok.

Kadang sekedar duduk dan mengingat tahun-tahun kebelakang bisa bikin kita semangat lagi. Seenggak mengingatkan kita kalau kita pernah punya semangat itu. Kita yang dulu penuh semangat, nggak ada bedanya dengan diri kita yang sekarang. Kita masih tetap orang yang sama dan juga masih menginjak bumi yang sama. Lalu kenapa semangat itu kendur?

Hidup emang nggak selamanya berlari, kadang kita butuh waktu untuk duduk dan merefleksi diri. Tapi setelahnya kita harus bangkit dan lari kembali. Atau mungkin terbang, bebas, seperti elang. Selamat malam buat jiwa-jiwa yang terjaga.

Jadi Diri Sendiri Biar Lebih Asik

Men, banyak buku menarik bertebaran di muka bumi yang bisa lu manfaatkan. Salah satunya buku-buku mengenai self improvement atau apapun itu. Yang kalau lu baca, lu jadi lebih menghargai hidup lu dan senang jadi diri lu sendiri. Dari sekiaan banyak buku soal self improvement, ada buku-buku yang cukup mudah dicerna dan enteng buat dibaca. Diantaranya ada bukunya Yoris Sebastian, “101 Creative Notes” yang isinya cara asik ngejalanin hidup versi doi.

101 Creative Notes

101 Creative Notes – Yoris Sebastian

(Sumber : gramediapustakautama.com)

Isinya terbilang personal tapi banyak tips-tips yang berguna sih kalau mau menjalani hidup lebih kreatif dan nggak monoton. Intinya kreativitas itu harus terus diasah. Selain gaya penulisannya yang ringan buku ini juga nggak berisi tulisan doang, banyak coretan-coretan gambar nyaris di semua halamannya. Kalau lu lagi males baca buku yang berat-berat kayak punya Dale Carnegie, buku ini bisa jadi solusi tepat.

Selanjutnya, di tengah kegamangan gue menunggu temen gue kemarin malem. Gue akhirnya memutuskan buku yang sebenernya udah lama gue lirik. Judulnya “How To Be Interesting” karangannya Jessica Hagy, salah seorang kartunis di New York Times. Isinya cenderung mirip-mirip dengan bukunya Yoris Sebastian. Menggunakan sedikit tulisan dan banyak chart di sana-sini. Buku Tante Jessica ini isinya lebih ngedorong kita untuk jadi menarik dengan jadi diri sendiri. Ini juga asik banget dibaca kalau lagi iseng-iseng karena tulisannya dikit dan nggak membosankan. Tapi gue sarankan buat beli versi Inggrisnya, karena beberapa kata yang diterjemahkan ada yang gue rasa kurang pas entah gimana. Well, ini cover versi Indonesianya

How To Be Interesting

How To Be Interesting – Jessica Hagy

(Sumber : gramediapustakautama.com)

Gue rasa kita semua juga tahu sih, kita itu nggak perlu jadi orang lain untuk jadi menarik. Atau kita nggak perlu mencoba untuk menjalankan jalan hidup yang sama dengan orang lain. Memiliki mimpi yang sama dengan orang lain atau apapun itu. Maksud gue, semua orang itu unik, punya kesenangannya masing-masing, punya tujuannya masing-masing dan punya apa yang mereka yakini.

Bayangin aja kalau di dunia ini cuma ada satu tipe manusia, betapa monoton dan membosankannya. Tapi bukan berarti diri kita yang sekarang ini udah sempurna. Banyak hal yang mesti diperbaiki. Tapi secara sederhananya gue nggak mau ngejalanin hidup yang monoton dan membosankan. Banyak hal yang bisa dieksplor di dunia ini. mulai dari yang sederhana. Kecepatan daun jatuh barang kali, melalui rute jalan yang berbeda setiap harinya, menghirup bau rumput baru dipotong yang entah kenapa selalu sama, menghitung jumlah semak-semak yang gue nggak tau namanya di lapangan sipil, memikirkan kapan langit-langit di 3201 dibersihkan, atau sekedar melihat struktur Aula Barat yang dibuat dari kayu glulam.

*Eh kayu glulam! tulisan gue berikutnya kayaknya mau ngebahas tentang kayu glulam deh.

Waktunya Berlari

Gue rasa ini waktunya berlari

Yep, teman-teman di sekeliling gue sudah berlari sekencang-kencangnya

Mengejar apa yang mereka percayai

Lalu, kenapa gue masih berdiri di sini dan sangsi

Sangsi akan apa yang akan terjadi di depan

Pernah di suatu kelas, entah di semester berapa, gue bertanya dalam hati:

“Apa yang gue lakukan disini?”

Memandangi papan tulis penuh dengan coretan dosen yang setengahnya gue tak mengerti

“Matematika Rekayasa”

Yang gue tahu : Gue harus bertahan disini

Memastikan bahwa semuanya baik-baik saja untuk dipersembahkan buat nyokap bokap gue nanti ketika lulus

Bukannya ini yang gue mau? Bukannya dulu pas gue SMA gue dengan yakinnya pengen bikin gedung pencakar langit tertinggi di Asia?

 Lalu apa yang membuat gue ragu?

Di tengah kegamangan bodoh gue beberapa semester lalu,

teman-teman gue terus berlari

Berlari mengejar apa yang mereka yakini

Saat ini gue seolah tersadarkan dari lamunan di siang hari

Ketika gue melihat sekeliling

Gue melihat senyuman teman-teman gue menggenggam apa-apa yang mereka yakini

Senyuman itu seolah berkata:

“Lu juga harus lari, mengejar apa yang lu mau”

dan gue rasa ini waktunya untuk berlari

mengejar apa yang gue mau

mengejar mimpi yang tertangguhkan

“Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life. Don’t be trapped by dogma – which is living with the results of other people’s thinking. Don’t let the noise of other’s opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition. They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary.”

– Steve Jobs –

Tetap pada Jalur

Minggu kemarin gue rasa adalah minggu terhectic di bulan ini. Dari presentasi KP sampai presentasi tugas besar kayu. Irama hidup gue benar-benar kacau semingu kemarin.

Beberapa minggu ini emang gue ngerasa tersibukkan banget. Bahkan gue cabut mentoring selama 2 minggu. Alasannya? ada tugas yang harus dikerjakan. Gue memutuskan untuk ikut mentoring karena gue harus menjaga diri gue tetap pada jalurnya. Gue hanya mau belajar. Nggak tau kenapa gue seneng aja ngeliat anak-anak di Salman yang ngumpul di selasar, mendiskusikan sesuatu yang entah apa. Berbahagia lah mereka yang sudah jelas mau dibawa kemana hidupnya. Gue terbiasa dengan lingkungan yang heterogen, dari yang sudah sangat amat yakin dengan apa yang dianutnya sampai yang masih bertanya-tanya hingga hari ini. Sedangkan gue, gue masih belajar.

Intinya tadi gue telat dateng mentoring karena gue cukup bodoh untuk memilih makan seblak dulu sebelum mentoring. Akhirnya karena antrean seblak yang begitu panjang gue telat mentoring nyaris satu jam. Dan gue menyesal. Mentoring kali ini ngebahas tentang maksiat. Bahwa maksiat dapat membawa dampak buruk nggak cuma ke orang-orang di sekitar pelaku tapi juga terhadap dirinya sendiri. Cukup banyak dan cukup menampar gue. Bahwa gue harus memperbaiki diri secepatnya. Mentoring itu mungkin bisa diibaratkan sebagai pelepas dahaga di keramaian. Setelah seminggu penuh disibukkan oleh urusan duniawi, mentoring itu seolah mengingatkan gue “kalau ada urusan yang lebih besar lagi”. Gue rasa gue harus nyempatin untuk baca buku-buku bagus lagi. Hal duniawi terkadang membuat kita tersibukkan dan justru lupa tujuan utama hidup ini apa. Dunia memang mengerikan.

” Dunia ini ibarat bayangan, kejar dia dan engkau tak akan pernah bisa menangkapnya. Balikkan badanmu darinya dan dia tak punya pilihan lain kecuali mengikutimu. “

– Ibnu al-Qayyim –

Oh iya suatu hari di tengah liburan gue menemukan buku ini dan kebetulan salah seorang temen gue menjual buku ini. Waktu itu seorang kakak kelas gue juga ngepost kalau buku ini bagus.

lapis lapis keberkahan

Akhirnya gue memutuskan untuk beli karena penasaran isinya kayak gimana. Hari itu juga, temen gue maketin buku ini ke rumah gue. Dan gue sangat suka gaya penulisannya Ust, Salim A. Fillah. Kata perkata yang dipilihnya. Nggak membuat bosan dan terus penasaan apa isinya secara keseluruhannya. Banyak pelajaran soal kehidupan yang dapat dipetik dari buku ini. Percayalah bahwa buku ini sangat rekomended. Pada bagian awal buku ini terdapat kata-kata yang membangkitkan semangat

 ” Memburu berkah amatlah berat, tapi justru dalamnyalah ada banyak rasa nikmat “

Ya, selamat memburu berkah di bumi Allah yang luas ini. Semoga kita bisa terus belajar dan mengambil makna.

Lewat Jenuh

Kalau dari yang gue pelajarin pas SMA, larutan yang kelewat jenuh lama-kelamaan bakal mengendap. Lalu apakah otak yang jenuh juga akan mengendap?

Akhir semester emang parah. Tugas dateng, silih berganti, mengalir tanpa ampun dari yang berwajib. Bayangin aja, kemarin lusa baru kelar sidang KP dan pagi tadi kita udah harus presentasi tugas besar kayu. Semalem gue jenuuuuuh buanget. Akhirnya selesai les gue memutuskan “kabur” bentar dari kenyataan dan pergi ke kedai teh buat minum green tea latte favorit gue

Tadi malem bahkan gue nggak bisa tidur tapi kalau bangun nggak bisa mikir. Rumah kayu yang sebenernya udah kita rencanakan dengan cukup sederhana masih aja nemuin banyak kesulitan-kesulitan di bagian sambungan. Semalem gue jenuuuuuh buanget. Akhirnya selesai les gue memutuskan “kabur” bentar dari kenyataan dan pergi ke kedai teh buat minum green tea latte favorit gue.

Sekitar pukul 3 gue bangun dan nyelesain gambar sambungan sampe jam 7. Dalam waktu singkat gue seolah dipaksa untuk belajar AutoCAD 3D. Sambungan yang kita rencanakan emang agak nyentrik, entah gimana jumlah baut yang dibutuhkan banyak banget. Jadi sambungan kuda-kuda yang kita rencanakan kombinasi antara sambungan gigi dengan pelat buhul. Saking bingungnya dan pengetahuan gue mengenai sambungan juga masih cupu banget, bahkan ada satu sambungan yang gue kira bentuknya kayak bajunya pharaoh gitu haha. Oke, ini beberapa sambungan yang berhasil gue gambar.

Sambungan 1 Sambungan 2 Sambungan

(Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Dan yang paling miris adalah.. ketika presentasi Pak Saptahari (Dosen Kayu gue) ngeskip bagian ini.

***

Kadang ketika lagi jenuh di suatu titik gue meyakinkan diri gue bahwa ini hanya sebagain kecil dari kehidupan. Lalu masih banyak kejaran yang harus dilakukan. Maksud gue, hidup seharusnya nggak hanya dibiarkan mengalir gitu aja. Nggak tau juga sih, tapi gue rasa orang yang punya mimpi itu keren.

“If you can dream it, you can do it.”

-Walt Disney-

Sidang KP : Done!!

Yep! Akhirnya gue selesai juga sidang KP. Setelah gue nyaris sebulan penuh KP di Solo bersama temen-temen gue yang super, Fitri, Irul dan Arthur. Akhirnya selesai juga segala urusan per-KPan ini. Irul sama Arthur udah sidang duluan, beberapa bulan lalu, karena Arthur harus pergi ke Porto buat exchange. Nah ini gambar yang di ambil pas kita lagi KP, di Hotel Saripetojo Solo

10730785_10203142808666363_4783766144454586091_n

(Kiri-Kanan) Gue, Bapak Tukang 1, Bapak Tukang 2, Bapak Tukang 3, Irul

(Sumber : Fitri Pratiwi)

Nah terus intinya tadi Sore, jam 15.00 gue sama partner gue, Fitri, sidang KP. Dosen pembimbing kita adalah Pak Indra Djati dan Dosen pengujinya adalah Pak Sigit Darmawan. Awalnya gue agak grogi juga pas mau sidang. Partner gue rapi banget, pake rok, sama blazer sedangkan gue santai banget. Yaaa kayak pakaian gue sehari-hari aja, kemeja yang dimasukin, sneakers, jeans biru plus blazer biar agak formal dikit. Tiap ketemu temen-temen gue dan tau kalau gue mau sidang dengan pakaian kayak gitu gue langsung dikomentarin kalau pakaian gue nggak formal. Hahahaha gue sih nggak begitu peduli, yang penting gue nyaman dan bisa menjelaskan dengan baik di depan.

Awalnya gue kira kita berdua bakal dihabisin ternyata salah banget. Kita berdua dituntun untuk menemukan jawaban yang benar. Terus sesi pertanyaan yang gue takutkan akan jadi sesi pembantaian berubah jadi sesi diskusi. Banyak banget pembelajaran yang didapet, diantaranya mengenai penggunaan tiang pancang dan tiang bor yang sebaiknya nggak digabungkan, optimasi penggunaan tiang pancang, pola keruntuhan strong column weak beam, perubahan kurva S akibat adanya pekerjaan tambahan, pertimbangan pemilihan subkontraktor dari owner dan kontraktor dan lain sebagainya.

Alhamdulillah gue bisa melalui sidang KP dengan lancar dan nyaman (karena gue nggak terpaksa menggunakan rok dsb). Selang beberapa saat kami berdua dipanggil masuk ke dalam ruang sidang dan dinyatakan lulus. Rasanya itu super duper lega. Akhirnya satu kewajiban telah selesai. Yak, setelah selesai sidang, gue, fitri serta partner sidang kita kave, bryan sempat ngambil foto dulu sama dosen penguji dan pembimbing kita.

Habis itu kita juga foto bareng temen-temen gue tercinta, yang selalu ada sejak gue tingkat 2, ceritanya kayak kelar sidang TA gitu, fotonya di taman wkwkwk

Nah, dan nggak lupa gue ucapkan terimakasih sebesar-besarnya buat temen-temen super gue ini. Fitri, Arthur, dan Irul. Well, tanpa kalian mungkin 1 bulan di Solo akan terasa angat hampa. Thanks buat keceriaan yang selalu kalian berikan ketika gue jenuh.

Laskar Solo

IRUL, ARTHUR, GUE, FITRI

-LASKAR SOLO ’14-

Pasar Seni ITB 2014

Yohoooooo akhirnya Pasar Seni dateng juga, kemarin, Minggu 23 November 2014 KMSR ITB dan seluruh Jajaran Pasar Seni berhasil mengadakan event yang supeeeeer buanget. Acaranya dimulai sekitar pukul 8 pagi dan sukses membuat Jalan Tamansari dan Sekitar Kampus ITB macet banget. Untung gue ngekosnya deket kampus, jadi tinggal jalan.

Jalan Ganeca di depan kampus ditutup dan ditata dengan dekorasi yang nyeni abis. Begitu gue nyampe di sebelah barat Jalan Ganeca, tepatnya di depan Parkir Sipil gue dan temen gue disambut dengan tiga pilar-pilar kerucut yang tersusun dari potongan kayu.

Pasar Seni ITB 2014

Di bagian gapura ini aja udah rame banget pengunjung foto-foto. Terus setelah minta difotoin temen gue disana, kita jalan ke arah timur. Nggak lama kita jalan, kita nemu lagi yang menarik. Apaan tuuuh? Lukisan yang dibandrol 1 milyar men. Nih lukisannya

Pasar Seni ITB 2014

Lukisan ini dijual 1 milyar bro. Gile-gile gue nggak ngerti lagi dan lu harus liat bagian paling menariknya nih..

CAM02127

Karena gue jam 1an udah balik ke kosan dan baru ke kampus lagi jam 6 buat ketemu bentar sama temen, gue nggak tau bagaimana akhirnya nasib lukisan ini. Apakah Pak Asep Berlian pulang membawa uang 1 milyar atau harus membakar lukisannya.

Selanjutnya kita jalan terus ke arah timur, di sepanjang Jalan Ganeca lu bisa nemu orang-orang yang lagi ngelukis. Terus ada 1 lukisan yang mencuri perhatian gue, gue tapi nggak tau judulnya apa dan yang ngelukis siapa karena terlalu ramai buat mendekat. Ini lukisannya.

Pasar Seni 2014

Agak ngeblur deh sayangnya. Well, yg menonjol dari l;ukisan itu tuh adanya bentuk tangan yang ngebentuk jembatan yang melintasi sungai. Maknanya mungkin tergantung persepsi orang masing-masing ya dan lagi gue juga nggak sempet ketemu pelukisnya. Hmmmm

Terus kita jalan terus ke timur dan masuk lewat parkiran SR, karena gerbang utama penuh banget. Parkiran SR berubah jadi stand-stand unik, mulai dari seni menempa sampai (gue nggak ngerti kenapa) perkumpulan bikers-bikers gitu. Nuansa di sisi Timur bagian dalam ini bener-bener “keras” lah pokoknya. Nah ini salah satu stand seni menempa yang gue jumpai

CAM02136

Nah, habis dari area timur tepatnya di area parkir SR (Seni Rupa) gue sama temen gue, Fitri, jalan ke arah boulevard. Kita harus berdesak-desakan sekitar 15 menit buat bisa mencapai boulevard yang biasanya bisa ditempuh sekitar 3 menit dari gerbang SR. Terus kita ngelewatin patung Tyrex yang terbuat dari seng-seng persegi gitu, sayangnya karena terlalu penuh gue nggak sempat ambil gambarnya. Boulevard padet banget men, apalagi dideket si tyrex ini. Gue sempet ngambil gambar suasana boulevard waktu itu nih

Nah namun sekitar pukul 12.00 hujan tiba-tiba turun deras dan gue nggak tau harus kemana, lanjut muter-muter atau balik karena sepatu gue kebasahan. Akhirnya gue putuskan untuk terus di kampus karena kita belum liat seluruh areanya. Akhirnya karena kita udah terlanjur ke arah perpustakaan dan nggak menemukan apa-apa lagi di sana, kita puter balik ke arah Sipil dan memutuskan buat makan siang. Setelah gue menghabiskan sepiring Batagor di area makanan, gue mencari pencuci mulut yang gue nggak nyesel banget beli, yakni es krim combo antara ogura dan matcha yang rasanya nyuuuus banget. Sayangnya gue nggak nanya si cici’ itu biasa jualan dimana. Sekedar informasi aja, jadi es krim ogura itu merupakan es krim yang pake kacang merah gitu. Nah, perpaduan antara es krim kacang merah dan es krim matcha itu sabi banget deh pokoknya.

Yah, pasar seni ini emang seru banget sih, cuma terlalu crowded aja jadi kadang nggak jenak gitu kalau menikmati keindahan-keindahan dekorasinya atau pameran-pameran di stand-stand yang ada disana. Disamping itu, sinyalnya entah kenapa super jelek. Gue waktu itu mau komunikasi sama temen SMA gue yang kebetulan dateng di sana juga susah banget dan akhirnya kita nggak bisa ketemu. Tapi secara keseluruhan, keren banget, tapi saran dari gue sih ya, sebaiknya acara sebesar ini diadakan dua hari. Biar pengunjungnya nggak begitu crowded dan gue bisa menikmati es krim ogura matcha pasar seni itu lebih lama.

Oh iya, ada gambar penutup nih yang gue ambil di area seberang parkiran sipil

Pasar Seni ITB 2014Gue nggak tau deh, tapi gue penasaran kalau balonnya gue ambil, dia bakalan gerak atau nggak hahaha.

Akhir Semester yang Penuh Dengan Tubes

Ini random banget gue nulis di CC Timur, soalnya lagi nungguin temen gue, Adit, nyelesain kerjaan ETABSnya, terus nanti kita ngerjain bareng-bareng lagi. Disini lagi hujan terus gitu. Bikin suasana jadi melankolis gitu. Terus dari CC Timur juga udah mulai keliatan persiapan buat Pasar Seni yang bakal heboh banget gitu kayaknya.

CADL

Gedung CADL yang lagi Gue sama Adit kerjain di ETABS

Hmmm tiba-tiba, gue buka line kan. Terus liat temen gue, Ekong, ganti PP, terus kangen terus gue ngeline dia. Dia baik-baik aja di Korea katanya. Nggak tau kenapa kalau liat temen gue satu itu, gue jadi semangat lagi. Dia persistent ngejar mimpi-mimpinya, salah satunya buat dapetin exchange ke luar. Dan akhirnya pertengahan taun lalu dia pergi ke KAIST buat exchange. Gue ikutan seneng pas tau kabar itu. Gue dulu juga suka ngobrol-ngobrol ke dia tentang rencana gue buat sekolah di luar. Tapi pasca Carer Days kemarin, gue berubah pikiran, dan kayaknya gue mendingan kerja dulu daripada kuliah.

Tapi, barusan gue dapet kabar dari temen gue, Fitri, kalau Kyoto University buka summer school buat taun depan. Men, gue jadi semangat lagi, buat ngejar itu exchange. Ditambah gue habis ketemu Professor Susumu Iai yang dari Kyoto, beberapa minggu lalu. Apakah ini takdir? wkwkwkwk. Yah, exchange bisa jadi pilihan yang tepat karena gue nggak mau lanjut kuliah tapi mau langsung kerja kelar S1 nanti. Jadi kalau sekedar cari-cari pengalaman kenapa nggak? Summer schoolnya mulai bulan Juli, sekitar summer gitu selama 1 bulan. Hmmmmph Bismillah deh, Fighting!!

Oh iya balik lagi ke “Akhir Semester yang Penuh dengan Tubes”, emang tiap semester juga begini, udah nyaris 7 semester gue lalui, gue jadi hapal betul atmosfer kuliah di akhir semester, mulai intensitas tidur yang kurang tapi dibarengi dengan hasrat buat tidur yang meningkat, kamar yang semakin berantakan, pola makan yang udah nggak jelas dan tubes (tugas besar) yang menyerang silih berganti. Yah tapi emang begini kan? DIjalanin aja. Bentar lagi InsyaAllah lulus. Aamiin.

Oh iya, weekend besok bakalan ada Pasar Seni, WOW!!!! Kayaknya bakal fantastis. Gue nggak tau nanti mau beli atau sekedar liat-liat aja disana, tapi gue menahan diri buat beli die cast demi pasar seni broh.