Unknown's avatar

About Nabila Satwikawati

A full time civil engineer, a newbie writer, a book juggler and a lifelong learner.

Interlude #3

Pada akhirnya hanya interlude yang lain. Malam ini, setelah sekian lama, akhirnya gue mengunjungi salah satu kedai kopi favorit gue. Sudah lama sejak gue nggak kesini, dan tempat ini rasanya makin ramai. Padahal salah satu alasan gue menjadikan kedai kopi ini jadi tempat favorit gue, karena tempat ini tadinya nggak begitu ramai. Kadang gue memang butuh me time untuk ngecharge diri gue wkwkwk. Ngomong-ngomong soal kopi, sebetulnya Januari lalu gue sudah berhasil menyetop caffeine intake gue. Tapi bulan ini, gue sudah tiga kali menyerah. Caffeine benar-benar bekerja dengan sangat baik di otak gue.

Belakangan waktu berjalan sangat cepat rasanya. Tahun 2017 berlalu dengan cepat, akhir tahun kemarin gue menghabiskan waktu dengan keluarga besar nyokap gue di Solo. Menghabiskan beberapa hari di dataran tinggi Sukuh. Lalu gue kembali ke Bogor sampai tahun baru. Menangkap beberapa ikan nila yang dibesarkan Bokap gue di kolamnya. Benar-benar melepas penat rasanya.

Di awal tahun 2017 lalu gue masih di Padang, dengan kondisi proyek yang begitu hectic. Lari ke kedai kopi lokal disana atau menyusuri taplau ketika jenuh. Sampai pada bulan Februarinya, gue mendapat surat untuk kembali ke pusat. Dan baru benar-benar kembali ke Jakarta di pertengahan Tahun. Padang adalah tempat perantauan kedua gue setelah Bandung. Rasanya jadi rindu juga, terpaan angin laut di taplau. Malam terakhir gue disana, gue berkeliling kota dengan singkat.

Gue nggak tau apa yang akan terjadi di tahun ini dan tahun-tahun berikutnya. Tapi gue akan berusaha menikmati setiap prosesnya. Belakangan, semakin banyak hal yang gue pikirkan dengan semakin bertambahnya umur gue. Belakangan juga gue merasa kalau gue mulai fleksibel dengan rencana-rencana gue. Apapun bisa terjadi. Well, Pohon Maple tampaknya jadi semenarik Silver Birch belakangan ini.

Yah sebetulnya ada beberapa topik yang mau gue bahas in brief. Kayak tunneling method dan teman-temannya. Tapi draftnya nggak berhasil tersentuh sama sekali beberapa bulan ini. Jadi, mungkin, setelah ini.

Gue tinggal menyeruput kafein terakhir gue, lalu gue akan kembali.

Interlude #2

Pagi, well sudah 2 minggu berlalu sejak post terakhir. I’ve already given up my caffeine intake now, so, good bye my sweet caffeine. Terakhir gue ngopi, pas di Pontianak, kopi susu nya Kopi Aming yang udah melegenda disana. Rekomended abis! pokoknya kalau lu ke Pontianak, harus coba. Kafeinnya super strong dan rasanya mantap. Oh iya alasan gue mengurangi kafein intake gue banget karena belakangan gue sering sakit kepala kalau habis ngopi, yah kayaknya gue aja sih yang over kafein wkwkwk. Selain itu kopi favorit gue juga semacam latte dan saudara-saudaranya, yang mengandung susu dan gula, jadi ya nggak baik juga kalau dikonsumsi terlalu sering. Karena itu juga akhirnya gue memilih untuk mengurangi caffeine intake gue secara drastis dan gue menyerah untuk JCM tahun ini hahaha. Untuk sementara ini gue mah mengkonsumsi minuman yg lebih sehat lah.

Terus minggu ini, selama beberapa hari kemarin, gue diminta kantor gue untuk ikut pelatihan di Bandung. Yah happy lah, karena seminggu full gue di bandung, sedikit nostalgia di kota kembang, walau nggak semua tempat bisa disambangi. Tapi, harus diakui juga walau tetep ngangenin, Bandung rasanya mulai berubah, karena orang yang gue kenal satu persatu udah merantau dari kota kembang ini. Disana gue ketemu beberapa temen juga, dari yang ngomongin hal receh, kerjaan sampai yang nyemangatin gue buat lanjut sekolah lagi (?). Yah, iya sih, gue kayaknya belakangan terlalu terdistrak sama kerjaan gue, sampai gue lupa akan hal-hal kayak gitu. Walau dulu sempat gamang apakah gue akan lanjut sekolah lagi atau langsung kerja ketika gue lulus, tapi menurut gue pilihan gue buat cari pengalaman dulu adalah pilihan yang terbaik. Well, tentu tiap orang punya tolok ukur dan rencana yang berbeda.

Gue balik dari Bandung kemarin siang, lalu langsung disambut hujan ketika sampai di Jaksel. Malamnya gue pergi ke rumah seorang teman yang akan melanjutkan studinya ke luar, bertemu beberapa teman seangkatan juga. Lalu mulai mengobrol-ngobrol lagi tentang rencana mengambil master. Salah satu hal yang membuat gue termotivasi lagi untuk ngejar master, ya kalau ketemu temen-temen gini. Nggak terasa ini udah tahun kedua sejak gue wisuda, dan sebagian temen-temen gue udah tersebar di berbagai benua.

Kalau sesuai dengan rencana awal, harusnya nggak lama lagi gue udah harus persiapan, yah mulai menentukan akan mengambil apa dan dimana. Kemarin gue sempat diledekin nyokap gue, ketika lagi pelatihan geotek di Bandung dan gue ngeluh kalau gue pusing liat rumus-rumusnya yang terlalu advance. Hahaha, gue sendiri belum tau sih apakah gue akan ngambil geotek lagi kayak S1 dulu atau malah ambil manajemen proyek yang lebih general.

Yah kalau untuk saat ini, gue malah lagi terjebak di BIM. Walaupun agak berbeda sama yang gue dalemin pas kuliah, gue lagi mencoba untuk menyesuaikan diri sih, belajar lagi. Belakangan ini gue juga jadi terinspirasi banget sama Elon Musk, dia adalah salah satu contoh sukses expert generalist, jack all trades and master of some. Dia membuktikan bahwa dia adalah seorang jack all trades yang berhasil.

Yah balik lagi, ke kafein yang manis. Sejak gue nyetop caffeine intake gue, gue rasanya jadi unproduktif abis. Entah ada kerelasinya atau nggak. Tapi belakangan gue males banget buka-buka buku untuk sekedar baca iseng aja. Masih ada dua buku yang belum gue sentuh sama sekali. Menurut gue menjadi unproductive adalah salah satu cara untuk jadi productive. Gue mencoba untuk menjalani hari-hari yang unproductive sampai titik dimana gue bosen jadi unproductive. Well, sebetulnya nggak unproductive juga sih, cuma gue lagi nggak melakukan apa yang biasanya gue lakukan aja kayak pergi ke kedai kopi dan baca buku. Tapi belakangan ini gue mulai rutin olahraga lagi, gue mulai sadar kalau hidup emang harus balance.

 

Yah sekian interlude pagi ini, gue masih berhutang untuk ngereview buku sebetulnya. Tapi gue lagi malas sekali untuk baca buku atau sekedar review buku sementara ini. Selamat berakhir pekan.

Hunt Down The Artspace: Matter’s Matter and Self Explanatory Exhibition

Wah nggak terasa November sudah mau berakhir, cepet banget, tiba-tiba udah mau di penghujung tahun aja. Cuma perasaan gue aja atau emang waktu kayaknya semakin cepet berlalu ya.

Beberapa minggu terakhir ini pekerjaan gue memang lagi sangat padat. Gue masih belum sempat juga mereview buku-buku yang udah selesai gue baca. Semoga setelah dari Pontianak besok gue bisa mulai ngereview buku lagi. Biasanya gue kalau lagi travelling selalu bawa buku, in case gue bosen ketika perjalanan. Tapi besok gue nggak akan bawa buku, family time lah dan ini pertama kalinya gue akan terbang ke Borneo.

Anyway, beberapa minggu lalu, akhirnya gue berhasil menyambangi exhibitionnya Radhinal Indra; Matter’s Matter, yang udah gue tunggu-tunggu sebelumnya. Matter’s Matter ini cukup menarik karena latar belakang sang artist yang sangat dekat dengan dunia science. Radhinal Indra mengkombinasikan antara celestial dan anatomy object di dalam artworknya ini. Di exhibition kali ini dia mencoba untuk menginterpretasikan koneksi antara cosmos yang besar dengan bagian terkecil dari manusia. Media yang digunakan juga cukup beragam, mulai dari painting, art installation hingga loop video. Sayangnnya gue nggak begitu lama menghabiskan waktu disini, karena jam buka Ruci Artspace yang hanya sampai pukul 7 malam. Kurator dari pameran ini, Roy Voyagen, juga menata exhibition ini dengan sangat baik.

Beberapa hari kemudian gue pergi ke Self Explanatory Exhibition yang diadain di Dia.Lo.Gue. Self Explanatory ini menampilkan artwork dari 3 artist: Ines Katamso, Natisa Jones dan Ykha Amelz. Well, disana gue juga menemukan karakter bernama Babbot dalam artwork yang diciptakan oleh satu artist di exhibition ini, Ykha Amelz. Apa yang dialami karakter bernama Babbot ini cukup merefleksikan apa-apa yang sebagian besar dari kita alami,seperti Deadline yang menghantui, Revisi-revisi, serta hari Senin yang tak diharapkan.

Well, buat gue, one of the perks living in Jakarta adalah tersebarnya artspace disini. Beberapa artspace juga cukup rutin ngadain exhibition. Selain bisa nikmatin karya seni yang dipamerkan, di artspace-artspace ini kita juga bisa menemukan local artist. Beberapa artspace juga dilengkapi coffee shop yang bisa kita jadikan tempat untuk melarikan diri, kongkow bareng teman, ketemu dengan klien atau coworkers.

Oh iya, akhir tahun ini gue ikut dalam jakarta coffee manual 2017 challenge. Ini jadi ajang yang menarik buat para penikmat kopi untuk berburu kedai kopi di Jakarta. Well dan tahun ini adalah kali pertamanya gue ikut, so wish me luck then.

Interlude #1

Kok rasanya dapetin mood untuk kerja malem ini agak susah ya, udah nyaris sejam ini gue masih mengotak-atik playlist Spotify gue nyari musik yang tepat buat dapetin mood. Yah, beberapa minggu ini gue skip banget nulis, kerjaan gue lagi agak hectic soalnya. Semoga pertengahan minggu ini bisa selesai sesuai target. Ada buku yang mau gue review lagi soalnya, yang ini rekomendasi dari temen gue.

Weekend ini gue menyempatkan short family outing sama nyokap bokap gue, nggak jauh-jauh kok, cuma ke Sukabumi, kota tetangga haha. Kita mau chillaxing aja sebentar, setelah weekend sebelumnya gue dan bokap gue mendadak diminta lembur di kantor. Sukabumi kemarin cukup dingin dan sore harinya kota sejuta mochi itu diguyur hujan.

IMG-20171029-WA0000

Sebetulnya ada beberapa hal yang mau gue tulis disini, tapi gue punya perasaan mengganjal kalau gue blogging dikala kerjaan gue belum kelar. Gue dapet beberapa inspirasi di tengah perjalanan gue ke Bandung dua minggu lalu. Oh iya kereta sekarang jadi moda favorit gue kalau ke Bandung, alasannya dua, yang pertama karena rute Jakarta-Bandung sekarang macetnya nggak ketulungan terutama di Bekasi, Cikarang sama Pasteur lalu yang kedua  karena pemandangan yang super stunning dari Jembatan Cisomang keliatan jelas banget kalau naik kereta.

Minggu ini semoga aja kerjaan gue segera kelar, dan bisa ke exhibitionnya Radhinal Indra. Ini salah satu exhibition yang udah gue tunggu dari bulan lalu. Dari beberapa review yang gue baca, seni yang dihasilkan Radhinal selama ini cukup dipengaruhi dari latar belakang keluarganya yang lekat dengan sains. Seru sih, gue liat sekilas mostly intallasinya berkaitan sama celestial objects, ini membuat gue teringat sama cita-cita ketika gue masih bocah yang pengen jadi astronom. Dan ini juga salah satu alasan yang membuat gue excited sama exhibition ini.

Anyway, next post gue akan mencoba membahas dengan singkat buku The Subtle Art of Not Giving a F*ck dari Mark Manson dan barangkali satu lagi posting singkat tentang Fa Mulan, salah satu tokoh Disney favorit gue hahaha, well, she’s a not a typical Disney princess.

Sekian Interlude malam ini. Selamat bertemu dengan hari Senin.

 

Dunia Konstruksi di Era Disrupsi dan Sekilas tentang BIM

Nah seperti yang telah gue sampaikan di post sebelumnya, kali ini gue mau membahas tentang disruption era yang terjadi saat ini. Disini gue mau membahas sedikit tentang dunia konstruksi di tengah era disrupsi dan sekilas tentang BIM. Gue sendiri masih masih sangat newbie sekali di bidang konstruksi, baru beberapa tahun sejak gue lulus dan bergabung di bidang ini. Belum lama sejak gue bergabung, gue menyadari bahwa bidang yang gue tekuni saat ini juga turut terdisrupsi.

Disruption era memang datang bagai ombak, true disruption can hit an industry like tsunami, washing over incumbents and forcing industry to change or risk getting drowned out. Hugh MacLeod mengilustrasikan disruption ini dengan sangat apik. Thanks Hugh! I always love your cartoon, it’s so on point!

Disruption is a wave by Hugh

Disruption is a Wave by Hugh MacLeod

Istilah disrupsi sebetulnya sudah diperkenalkan sejak tahun 1995, namun belakangan istilah ini menjadi marak kembali. Di dunia disrupsi sudah menyerang banyak lini industri, ada yang survive karena mampu beradaptasi, ada pula yang harus tergilas dengan disruption wave ini. Salah satu perusahaan raksasa yang harus tergilas oleh disruption wave ini adalah Kodak, perusahaan yang sudah bergerak di bidang kamera dari tahun 1888. Kejatuhan Kodak bukan disebabkan karena teknologi,  prototype kamera digital bahkan ditemukan oleh seorang engineer di kodak. Kodak menemukan teknologinya, tapi nggak menginvestasikan untuk teknologi tersebut. Sebagai referensi barangkali bisa dibuka bahasan HBR yang cukup komprehensif disini

Di Indonesia sendiri kita bisa melihatnya langsung bagaimana model bisnis berubah, betapa banyak start up yang bermunculan. Gojek misalnya yang diklaim sebagai unicorn pertama Indonesia, merubah model industri transportasi umum kita. Pergeseran model bisnis bisa kita lihat juga dengan banyaknya start up jual beli yang bermunculan, Bukalapak, Tokopedia, you name it lah. Beberapa yang menyadari adanya disrupsi di industri mereka buru-buru beradaptasi dengan menyediakan platform online, seperti Matahari atau Periplus misalnya. Yep, here comes the disruption era.

Lalu apa kabar dengan dunia konstruksi? Apakah disruption wave yang ramai dikabarkan menghantam berbagai lini industri juga menghantam industri konstruksi ini? Yes, gue rasa cepat atau lambat industri ini juga akan terdisrupt. Perkembangan IOT (Internet of Things) dan teknologi ini benar-benar mengahantam semua lini. Dalam suatu paparan yang gue dapatkan minggu lalu, industri konstruksi dan pertanian memang termasuk industri yang agak lamban mengalami perubahan dibandingkan industri lainnya beberapa tahun belakangan ini, tapi ini nggak berarti industri ini tidak akan berubah. Ketika disruption wave nantinya datang dan mengacaukan semuanya, kita harus aware apakah safety zone kita berubah. 

Dalam suatu konferensi yang sama di minggu lalu, gue melihat beberapa perkembangan teknologi konstruksi asing yang sangat maju. Hanhwa misalnya, kontraktor asal Korea Selatan ini saat ini sedang mengembangkan Bismayah New City di Baghdad, dengan total 100.000 unit residential di lahan seluas 1.800 hektar dalam waktu 6 tahun. Mereka membangun kota baru ini dengan teknologi BIM untuk memastikan semuanya terintegrasi dengan baik. Yah BIM barangkali yang akan menjadi salah satu pendisrupsi bagi industri konstruksi. Gaung BIM sendiri sudah mulai terdengar di dalam negeri. Beberapa pioneer BIM sudah mulai bergerak dan mencoba mengedukasi mengenai sistem ini, sistem yang sudah masuk ke dalam regulasi beberapa negara.


Sekilas tentang BIM

BIM sendiri merupakan abreviasi dari Building Information Modeling. Sederhananya BIM ini merupakan suatu sistem, bukan software yang berdiri sendiri. BIM ini bekerja dengan mengintegrasikan dan mengcompile hasil beberapa pemodelan menjadi satu, sehingga nantinya semakin banyak informasi yang bisa digenerate dari dalam model tersebut. 

Autodesk mendefinisikan BIM sebagai intelligent 3D model-based process that gives architecture, engineering, and construction (AEC) professionals the insight and tools to more efficiently plan, design, construct and manage buildings and infrastructure.

Well, kalau biasanya kita mengenal sampai dengan model 3D di bidang konstruksi ini. Di dalam BIM ini kita akan mengenal sampai dengan model 7D. Semakin meningkat level dimensinya, maka akan semakin banyak informasi yang bisa digenerate. Karena BIM ini merupakan suatu sistem, tentunya BIM ini berkaitan dengan banyak software. Beberapa pengembang software besar diantaranya AutoDesk, Bentley, Trimble dan CSI. Hasil pemodelan setiap software ini nantinya dapat terintegrasi satu sama lain.

Dengan BIM ini harapannya proses pelaksanaan konstruksi dapat menjadi lebih efektif dan efisien, karena model telah dikembangkan sebelum masa konstruksi dimulai. Disini, nantinya juga dapat dilakukan mitigasi resiko dan proses pengontrolan sumber daya yang lebih terarah. Tidak hanya sampai di masa konstruksi saja, melainkan sampai dengan masa maintenance, diharapkan model BIM ini nantinya juga akan mempermudah proses controlling oleh facility engineer.

Satu hal yang harus menjadi perhatian disini adalah  untuk mengembangkan model BIM ini diperlukan data yang sangat lengkap. Trash in = Trash Out. BIM hanyalah sistem yang bisa mengintegrasikan beberapa pemodelan menjadi satu. Dan setiap pemodelan tersebut tentunya memerlukan informasi yang lengkap bila ingin dimodelkan secara baik. Keakuratan informasi yang bisa digenerate dari model tersebut tentu dipengaruhi oleh kelengkapan informasi yang dijadikan sebagai input.

Yah welcome to the disruption era, where technology also transforming the way that buildings and infrastructure designed, constructed and operated.

Sekian untuk post pagi ini, gue masih menunggu di sudut kedai kopi sambil menunggu kereta yang akan berangkat setengah sebelas nanti. Mendapat sedikit alasan untuk pelarian kecil ke Bandung minggu ini. Selamat berakhir pekan.

Brief Review: Icarus Deception

Gue membenarkan headset di telinga gue, mengeraskan volumenya sedikit sambil menghirup nafas dalam-dalam. Gue membiarkan jendela kamar gue terbuka, membiarkan angin semilir masuk ke dalam kamar gue. Sisa-sisa hujan semalam masih tampak. Ya, sudah masuk musim hujan sepertinya.

Setelah buku Daron Acemoglu dan James A Robinson minggu lalu, gue melanjutkannya dengan Icarus Deception yang ditulis oleh Seth Godin. Gue tertarik dengan buku ini karena Icarus. Ketika SMA gue pernah baca tentang kisah Icarus dengan sayapnya, suatu hari Icarus terbang terlalu dekat dengan matahari dan pada akhirnya ia jatuh. Entah kenapa cerita tentang Icarus ini meninggalkan impresi yang mendalam buat gue.

Well, Icarus ini merupakan salah satu mitologi Yunani. Jadi Icarus ini adalah anak dari Daedalus seorang seniman yang ditahan di Crete. Suatu hari Daedalus membuatkan sayap dengan wax untuk dirinya dan Icarus, agar mereka dapat melarikan diri dari Crete. Tapi Icarus mengabaikan nasihat Ayahnya untuk terbang nggak terlalu dekat dengan matahari, ia terlalu bahagia dan terbang begitu begitu tinggi hingga pada akhirnya sayapnya meleleh. Lalu ia terjatuh ke laut. Laut tempatnya terjatuh kini dinamai Icarian Sea, yang berada di barat daya Pulau Samos.

Dari kisah Icarus ini yang seringkali diambil pelajaran adalah don’t fly too close  to the sun and keep your head down. It looks the society create a conclusion that told us about the dangers of standing up and standing out. Mereka lupa atau melewatkan bagian dimana Daedalus juga menasihati Icarus untuk nggak terbang terlalu rendah, terlalu dekat dengan dengan laut, karena air juga bisa menghambat daya angkat sayapnya. Dan justru ini lah yang lebih berbahaya, because it feels safe to fly low. Ide ini lah yang dibawa Seth Godin di dalam bukunya, The Icarus Deception: How High Will You Fly?

DSC_1106.JPG

The Icarus Deception: How High Will You Fly?

Sebagai pembuka kita mendapati Godin membicarakan mengenai comfort zone vs safety zone. Selama ini, sejak waktu yang lama kita memahami keduanya merupakan hal yang sama, kita terus berasumsi kalau apa yang membuat kita nyaman, pasti membuat kita aman juga. Then Godin told us that now the safety zone has changed but our comfort zone has not. Safety zone yang baru ini adalah tempat dimana art, innovations, destruction and rebirth happen. Menyadari kalau safety zone kita sudah berubah, bisa menjadi pertimbangan untuk mengevaluasi lagi comfort zone kita. Gue rasa ini ada kaitannya dengan disrupsi, yang menarik untuk jadi pembahasan di post berikutnya.

Well, what we need now is creating ideas and connecting the disconnect, those are the two pillars of our new society. Both of them require the posture of an artist and that’s where the new safety zone lies. Here, Godin explain that art isn’t a specific talent. Art is an attitude, culturally driven, and available to anyone who chooses to adopt. It’s the unique work of human being, work that touches another.

Lalu ada bahasan tentang bagaimana kapitalisme awalnya membuat para pekerja menciptakan value, sampai akhirnya industrialisasi datang melengkapi model kapitalisme yang ada. Menghancurkam kultur yang sudah terbentuk dan menggantikannya dengan sesuatu yang begitu berbeda. Industrial age is the age of stardardization. Para industrialis beranggapan bahwa keamanan adalah kunci produktifitas dan keuntungan. Mereka memegang prinsip Keep it moving. Keep it efficient. Keep it reliable.
But now, the industrial world is disappearing. The standardized things and guaranteed job won’t be there for much longer. Setiap orang dituntut untuk menjadi kreatif untuk bisa survive di masa depan. Godin ask us to be an artist, whether you’re an engineer, middle manager, doctor or teacher. In this book, he ask us that we need to fly higher than ever.

Menurut gue buku ini cukup asik buat menjadi bacaan di pagi hari atau di sela-sela waktu kosong lu. Gue cukup suka dengan gaya penulisan Seth Godin. Kebetulan juga ia salah satu sahabat penulis dan cartoonist favorit gue, Hugh MacLeod. Jadi gue rasa keduanya mempunyai gaya penulisan yang agak mirip, walau MacLeod menyisipkan lebih banyak ilustrasi dalam bukunya.

Well, gue rasa sekian dulu untuk post di pagi ini. Selanjutnya pembahasan tentang era disrupsi kayaknya cukup menarik juga untuk dibahas disini. Selamat berakhir pekan.

Brief Review: Why Nations Fail

Gue sedang menghabiskan sisa kopi gue tadi siang, 15 menit lagi gue akan pulang Sebentar lagi sudah akhir pekan, cepat sekali rasanya. Sudah lama juga tidak menulis, semoga setelah ini bisa agak lebih konsisten lagi menulis disini. Rencananya kedepannya gue akan mencoba meresume buku-buku yang gue baca, sebagai reminder gue secara personal aja, karena biasanya setelah baca buku kalau tidak ditulis, sebagian besar isinya seolah ‘poff’ menguap begitu saja. ( Jakarta, Sep 28th 2017 – 6.44 pm)

 

Well, minggu lalu gue (nyaris) berhasil menghabiskan buku yang ditulis oleh Daron Acemoglu dan James A Robinson. Gue menemukan buku ini ketika lagi web surfing di Gates Notes, judulnya menarik, Why Nations Fail. Belakangan gue memang tertarik dengan topik ini, bagaimana suatu negara bertransformasi hingga nantinya ada yang menjadi negara kaya ataupun negara miskin.

 

Why Nations Fail

Why Nations Fail : The Origins of Power, Prosperity and Poverty

 

Buku ini ditulis oleh duo professor dari MIT dan University of Chicago, mereka menyampaikan idenya dengan apik dan runut. Banyak sekali cerita sejarah disini, mulai dari kemajuan Mayans, Incas, sejarah kemahsyuran Venesia, revolusi industri di Inggris, lalu tentang dua negara di semenanjung Korea, Uni Soviet, Amerika termasuk Indonesia pada masa kolonial. Disini terlihat betul bahwa kedua professor ini melakukan studi yang cukup mendalam buat menulis buku ini. Mereka juga coba mencounter hipotesis-hipotesis terdahulu yang berkaitan dengan world inequality. Nantinya semuanya berujung pada suatu konklusi yang bahwa yang mnejadi penyebab world inequality berkenaan dengan sistem institusi yang dianut oleh masing-masing negara.

 

Mereka mengawali buku ini dengan kisah suatu kota yang terbagi, Kota Nogales. Kota ini dipisahkan oleh suatu pagar, menjadi sisi utara dan sisi selatan.  Sisi utara kota ini masuk ke wilayah Arizona, Amerika dan sisi selatannya masuk ke wilayah Sonora, Meksiko, yep mereka berada tepat di perbatasan. Kota yang hanya dipisahkan oleh pagar pembatas ini memilki perekonomian yang sangat berbeda. Dalam bukunya, Acemoglu mendeskripsikan ketimpangan ekonomi tersebut terjadi di banyak sisi dari segi pendapatan, pendidikan dan juga kesehatan. So close, yet so different.. mereka begitu dekat, tapi sangat jauh berbeda.

 

Selanjutnya dari studinya ini Daron dan James mencoba untuk mencounter beberapa hipotesis populer yang berkaitan dengan world inequality.

 

The Geography Hypothesis. Teori pertama yang coba mereka counter adalah The Geography Hypothesis, salah satu teori yang paling banyak diterima. Teori ini mengklaim bahwa perbedaan antara negara miskin dan kaya diakibatkan oleh adanya perbedaan geografis. Salah satu idenya adalah letak geografis berpengaruh langsung pada iklim dan iklim ini nantinya mempunyai direct effect terhadap work effort masyarakatnya. Salah satu konklusi dari teori ini areas with temperate climate have a relative advantage over tropical and semitropical areas. Teori ini coba dicounter dengan case kota Sonora yang jelas-jelas memiliki letak geografis sama. Contoh lain yang diambil buat mencounter teori ini adalah Korea Utara dan Korea Selatan.

 

The Culture Hypothesis. Teori populer kedua setelah geography hypothesis. Menurut kebanyakan orang, definisi culture saat ini punya artian yang luas, not only religions, but also beliefs, values, and ethics. Penulis lagi-lagi mencoba mencounter kalau teori ini nggak bisa membantu menjelaskan kenapa ketimpangan ekonomi di beberapa negara terjadi. Seperti yang terjadi pada Korea Utara dan Korea Selatan. Standar hidup rakyat Korea Utara kira-kira hanya sepersepuluh satandar hidup saudara-saudaranya di Korea Selatan. Padahal jauh sebelum perang Korea terjadi, keudanya memiliki kesamaan kultur dan sejarah yang sangat panjang.

 

The Ignorance Hypothesis. Ini merupakan teori populer terakhir yang mencoba untuk menjelaskan terjadinya world inequality. Teori ini menganggap kalau penyebab ketimpangan ekonomi adalah sikap ignorance dari penguasanya. Para penguasa ini seolah tidak mengerti bagaimana mentransformasi suatu negara yang miskin menjadi kaya. Teori ini seolah muncul dengan solusi pemecahan masalah: bila ignorance lah yang mengakibatkan kemiskinan terjadi, maka berikan masukan dan pencerdasan kepada para pemangku dan pembuat keputusan negara. Sehingga nantinya mereka bisa membuat masyarakat terbebas dari kemiskinan. Namun menurut penulis, masalahnya tidak sesederhana itu, pemangku-pemangku kekuasaan bisa jadi memiliki tujuan-tujuan tertentu alih-alih memang bersikap ignorance.

 

Beberapa hipotesis ini lah yang coba dicounter oleh Acemoglu dan Robinson. Selanjutnya kedua professor ini memberikan banyak historical evidence all around the world untuk mendukung teorinya, bahwa sistem institusi negara lah yang mempengaruhi bagaimana suatu negara itu berkembang, apakah sistem ekstraktif atau inklusif kah yang mereka anut. Berikut ini ada beberapa historical evidence yang menurut gue personal cukup menarik.

 

The Black Death and Start of Major Divergence in Europe
Secara singkatnya ini membahas tentang Black Death, yakni suatu pandemi besar yang menyerang Eropa dan memakan banyak korban. Black Death ini nantinya menjadi titik mula perubahan-perubahan di Eropa. Disini gue mau ambil case tentang Inggris. Di Inggris, Black Death terjadi sekitar tahun 1348 dan menewaskan nyaris separuh populasi Inggris saat itu, korban terbanyak saat itu adalah para buruh tani. Saat itu Inggris masih menganut sistem feudal, dengan hirarki tertinggi berada pada Raja diikuti Lord (tuan) dan yang paling bawah adalah buruh tani. Tuan disini tidak hanya tuan tanah, tetapi juga jaksa, hakim, dan polisi. Para buruh tani harus melakukan unpaid labor, semacam kerja paksa untuk tuannya dan juga tunduk pada berbagai macam pajak.
Secara singkatnya saat itu berlaku sistem yang sangat ekstraktif, kekayaan diperas dari bawah ke atas. Bisa dikatakan serupa dengan konfigurasi piramida, dimana pada bagian bawah terdapat banyak buruh tani, lalu mengerucut ke atas dengan beberapa gelintir tuan. Peristiwa Black Death yang banyak memakan korban buruh tani ini seolah mengguncang pondasi sistem piramida tersebut. Hal ini lah yang dimanfaatkan para buruh tani untuk menuntut perubahan.

 

Demonstrasi terjadi secara besar-besaran menuntut agar mereka dibebaskan dari sistem unpaid labor dan banyaknya pajak yang dikenakan pada mereka. Pemerintah berusaha menghentikannya dan pada 1351 dikeluarkan dekrit mengenai peningkatan upah bagi para buruh. Namun usaha pemerintah ini tidak berjalan mulus, pada tahun 1381 meletus demonstrasi yang lebih besar lagi. Sebagian besar kota London dikuasai oleh demonstran. Pada akhirnya pemberontakan berhasil diatasi dan pemimpin pemberontakan ditangkap. Namun setelah peristiwa itu tuntutan para buruh tani dikabulkan, sistem feudal dihapuskan. Sistem ekstraktif dihapuskan dan perlahan-lahan bangkit sistem inklusif. Upah-upah pekerja pun naik.

 

Black Death menyerang nyaris seluruh Eropa, setelah pandemi ini terjadi, di Inggris yang pada akhirnya menganut sistem inklusif logika yang bermain adalah semakin sedikit pekerja, maka semakin tinggi upah. Tapi hal ini nggak berlaku untuk sebagian besar negara-negara di Eropa Timur, Black Death justru dimanfaatkan para tuan tanah untuk mengekspansi kekuasaan mereka. Kota-kota semakin lemah dan semakin sedikit penduduknya. Setelah tahun 1500an hal ini semakin jelas terlihat, ketika negara-negara Eropa Barat meningkatkan permintaan pasokan hasil-hasil pertanian dari negara-negara Eropa Timur meningkat, para tuan tanah di negara-negara tersebut semakin menekan buruh tani mereka. Di Polandia misalnya sebelumnya semua pekerjaan yang dilakukan oleh buruh dibayar namun pada tahun 1600 nyaris setengah hasil pekerjaan mereka tidak dibayar. Black Death ini seolah sebagai penyebab second serfdom bagi negara-negara di Eropa Timur

 

Selanjutnya di Inggris di antara abad ke 16 dan ke 17 terjadi 2 peristiwa besar, Civil war di 1642-1652 dan Glorious Revolution di 1688. Hal ini berimplikasi pada pembatasan kekuasaan oleh raja dan eksekutif, serta penyerahan kekuasaan ekonomi pada parlemen. Sebagai konsekuensinya sistem ekonomi turut berubah menjadi lebih inklusif. Hal ini mendorong investasi, perdagangan serta munculnya inovasi-inovasi. Ini yang mendorong terjadinya peningkatan kesejahteraan dan menjadi jalan menuju Revolusi Industri. Karena selanjutnya inventor-inventor seperti James Watt, Richard Trevithick dan Arkwright bermunculan.

 

Soviet Union, Generating Rapid Growth Under Extractive Institution
Well, sebelumnya gue coba untuk ambil soal perbedaan antara Eropa Barat, lebih tepatnya Inggris yang menerapkan ekonomi inklusif dan Eropa Timur yang menerapakan sistem ekstraktif sampai abad 17. Selanjutnya gue mau lompat ke bahasan Acemoglu dan Robinson soal Soviet Union yang menganut institusi ekstraktif.

 

Sebelum tahun 1928 most Russians tinggal di daerah pinggiran. Saat itu teknologi yang digunakan para petani cenderung masih primitif dan tradisional. Untuk menggerakan potensi ekonomi negaranya Stalin memindahkan para petani ini sebagai  pekerja industri, dengan harapan mereka bisa lebih produktif. Benar saja, walau saat itu industri sendiri belum diorgnisir dengan baik,  pertumbuhan ekonomi Rusia menjadi yang tertinggi di dalam sejarah, dari 1928 sampai 1960, pertumbuhannya mencapai sekitar 6% per tahunnya. Sayangnya pertumbuhan ini tidak dibarengi oleh perubahan teknologi, yang terjadi hanyalah pemindahan sumber daya manusia dan pembuatan pabrik-pabrik baru. Dengan menganut sistem institusi ekstraktif, pertumbuhan Rusia saat itu tergolong sangat cepat dibawah kebijakan Stalin dan para elit. Meskipun demikian negara ini belum bisa mepertahankan keberlangsungan ekonomi tersebut.

 

Tidak adanya insentif ekonomi dan resistensi para elit terhadap inovasi, mengakibatkan pertumbuhan ekonomi Rusia pada 1970 mandek dan mengalami stagnansi. Dua hal yang bisa menjadi pelajaran bahwa sistem ekonomi ekstraktif tidak bisa mengenerate perubahan teknologi karena 1) tidak adanya insentif ekonomi 2) resistensi terhadap inovasi oleh kaum elit. Dua hal ini lah yang dapat menyebabkan stagnansi pada perkembangan Rusia. Beberapa area yang terus didalami oleh Rusia saat itu hanya lah militer dan aerospace technology.

 

The Contrast of South and North Korea
Kedua negara yang terletak di semenanjung Korea ini memiliki kesamaan sejarah yang panjang dan kesamaan geografis. Kontras yang terjadi hari ini bermula ketika berakhirnya Perang Dunia Kedua, di musim panas 1945, ketika koloni Jepang di semenanjung Korea runtuh, Korea terbagi menjadi dua wilayah kekuasaan. Di bagian selatan dipegang oleh Amerika dan di wilayah utara dikuasai oleh Rusia. Perang dingin antara kedua wilayah tersebut dimulai ketika tentara Korea Utara menginvasi Korea Selatan pada 1950.

 

Hari ini kedua negara tersebut tampak kontras berbeda, dalam suatu data plotting terhadap intensitas cahaya dengan sattelite, Korea Utara terlihat nyaris gelap gulita sedangkan Korea Selatan tampak terang benderang. Living standards keduanya juga sangat berbeda, living standards Korea Utara kira-kira hanya sepersepuluh living standards Korea Selatan. Kedua negara ini, masing-masing berkembang dengan mengadopsi isistem ekonomi  dan politik yang berbeda.

 

Sistem ekonomi di Korea Selatan mendorong untuk berkembangnya investasi dan perdagangan. Mereka juga melakukan investasi yang tinggi untuk pendidikan, hingga mencapai angka literasi dan pendidikan yang tinggi. Perusahaan-perusahaannya pun dengan cepat memanfaatkan sumber daya manusia terdidik mereka untuk mengembangakan industri dan investasinya. Korea Selatan dengan cepat bertransformasi menjadi salah satu keajaiban ekonomi Asia dan menjadi salah satu negara dengan perkembangan tercepat di dunia. Sedangkan di Korea utara, pemerintahan komunis yang represif sangat anti terhadap inovasi dan pengadopsian teknologi-teknologi baru.

 

Hanya dalam setengah abad, pertumbuhan Korea Selatan dan stagnansi Korea Utara menimbulkan gap yang besar pada negara yang mulanya pernah bersatu ini. Menurut Acemoglu, bencana ekonomi yang terjadi di Korea Utara dan suksesnya perekonomian Korea Selatan, sangat kontras sekali, hal ini tidak bisa dijelaskan dengan geography, culture ataupun ignorance hypothesis. Kita harus melihat pada sistem institusi yang membentuknya.

 

Well, gue rasa beberapa case ini cukup menggambarkan evidence yang disampaikan Daron Acemoglu dan James Robinson di dalam bukunya. Sebetulnya masih banyak lagi kisah menarik yang diceritakan di dalamnya, bagaimana bangsa Maya yang besar pada akhirnya collapse, atau tentang penduduk Venesia yang saat ini mengagumi kejayaan masa lalunya. Oh iya perdagangan Indonesia pada masa kolonial juga diceritakan in brief di buku ini.

 

Ide yang gue tangkap dalam buku ini adalah inequality yang terjadi di dunia ini disebabkan sistem institusi yang dianut oleh suatu negara, baik institusi politik maupun ekonominya. Apakah yang dianut sistem inklusif atau ekstraktif. Mostly negara-negara yang bisa sejahtera dan sustain adalah negara yang menganut paham inklusif. Karena negara yang menganut sistem inklusif mendorong para penduduknya untuk berkembang juga, they provide incentives for economic and protect property rights. Hal ini tentu mendorong penduduknya untuk mau maju, improving their skills, generating inovation, inventing etc yang akhirnya akan membawa kemajuan juga buat negaranya. Di sisi lain,negara yang menganut institusi ekstraktif juga nggak berarti nggak bisa berkembang sama sekali, Rusia misalnya. Tapi ketidak terbukaan mereka dalam menerima inovasi dan teknologi serta nggak adanya insentif ekonomi pada akhirnya bisa menyebabkan stagnansi. Intinya perkebangan ekonominya akhirnya nggak sustain.

 

Gue rasa sekian dulu review malam ini, awalnya gue mau review in brief tapi agak sulit juga. Karena banyaknya historical evidence yang disampaikan penulis, jadi agak sayang juga kalau dilewatkan. Selamat Malam,

Daily Dose

Gue menyeruput asupan kafein kedua gue hari ini, kali ini dengan rasa lebih sedikit lebih pekat dibandingkan yang tadi siang gue dapatkan di ruang HCM. Setelah bertemu dengan beberapa fresh grad tadi siang, selain sedikit refreshing dengan mereka, gue jadi merasa lebih muda beberapa hari. Walau setelah itu kembali tersadar dengan pekerjaan yang agak menumpuk di meja gue. Gue pulang lewat senja, lalu kabur ke salah satu kedai kopi favorit gue, yang tak begitu ramai.

Belakangan gue mendapatkan banyak kabar bahagia, dua sahabat gue menikah bulan ini. Yang satu menikah minggu lalu di Garut, setelahnya gue mampir ke Bandung. Sedikit bernostalgia bersama beberapa teman kosan, makan di kaki lima tempat gue biasa makan bila pulang larut malam dari kampus. Tepat di dekat pertigaan menuju kampus, dengan udara malam bandung yang dingin sembari mengamati lampu-lampu kendaraan. Memang benar, bahagia itu sederhana. Keesokan paginya gue pergi lagi ke salah satu kedai makan di Sekeloa, yang nyaris semua teman sejurusan gue tau. Gue pergi dengan mantan teman-teman kosan gue, bersenda gurau mengenai hal-hal yang sangat receh. Rasanya gue nggak ingin hari berganti.

Minggu depan seorang sahabat gue yang lain akan menikah. Di Solo, tempat kita kerja praktik dulu. Gue dan dua orang teman gue akan pergi dengan kereta kesana. Salah satu sahabat diskusi paling mantap, yang banyak membaca dan menulis.

Lalu dua orang sahabat gue yang lain akan pergi ke Jerman beberapa bulan lagi. Gue merencanakan untuk bertemu mereka dalam waktu dekat. Keduanya orang hebat, satunya adalah kawan SMA sekaligus teman sekampus dan satunya teman sejurusan gue. Senang rasanya mendengar kabar akhirnya mereka bisa mendapatkan apa yang direncanakan selama ini.

Lalu tadi siang, gue pergi makan bersama kawan-kawan dari HCM yang secara random mereka menanyakan rencana gue kedepan. Yang jelas gue masih menunggu 2 tahun lagi dan saat ini gue masih mau menekuni apa yang gue kerjakan. Yah beberapa bulan ini gue sudah kembali menjadi pekerja kantoran, berangkat pagi dan pulang lewat senja. Tapi setidaknya saat ini gue bisa mengikuti kelas olahraga, lalu mencoba membaca-baca buku yang sempat terabaikan dan menyempatkan bertemu kawan-kawan yang sedang di Jakarta untuk mendapatkan kehidupan yang lebih seimbang.

Koto Padang: An Epilogue

Gue lagi menikmati libur di rumah siang ini. Oh iya gue sudah kembali ke ibukota sekarang. Jumat 19 Mei kemarin merupakan grand opening proyek gue. Setelah grand opening proyek, sesuai dengan kesepakatan yang udah ada, gue akan kembali bekerja di head office. So, it’s time to say good bye to Padang. 

Beberapa minggu terakhir di kota yang terletak di pantai barat Sumatera ini rasanya jadi sedikit melankolis juga. Ketika terakhir kali tiba di Padang beberapa minggu lalu, gue diajak keliling kota sama co workers gue. Kita keluar memang udah agak maleman sih, sekitar jam 9an kita baru keluar. Habis makan malem di Safari Garden yang cukup cozy di daerah Nipah (Anyway you should try their Rendang Pizza) kita memutuskan buat keliling-keliling kota Padang. 

Kita menyusuri chinatown-nya Padang di daerah Pondok, dengan banyak klenteng-klenteng dan bangunan-bangunan yang didominasi warna merah. Daerah ini termasuk salah satu hot spotnya Padang juga lho. Lu bisa nemuin banyak coffee shop dan cafe di sini, selain itu ada dua tempat legendary yang menjajakan es durian. 

Setelah selesai menyusuri chinatown kita bergerak ke arah pantai barat. Begitu kita keluar dari daerah Pondok menuju ke arah pantainya, kita langsung disambut sama gemerlap lampu-lampu kapal yang lagi bersandar di Muara Batang Arau. Sangat melankolis, perpaduan antara bangunan-bangunan tua di sekitarnya, tepi laut dan gemerlap lampu-lampu kapal. Daerah ini juga merupakan salah satu tempat favorit untuk berkumpul. Selain ada taman kecil yang berbatasan langsung dengan tepi laut, pedestriannya juga lebar dan tertata cukup rapi. Biasanya kita bisa mendapati remaja-remaja bermain roller blade disana.

Lalu kita melintasi jembatan Siti Nurbaya, jembatan legendaris yang cukup ramai dengan penjaja makanan di sepanjang sisi kanan kirinya. Kursi-kursi yang ditata berjajar menghadap arah laut juga mereka sediakan bagi para pembeli. Jembatan ini menghubungkan Kota Padang dengan Gunung Padang yang menjadi latar belakang novel yang ditulis oleh Marah Rusli. Sampai diujung jembatan tadi, kita memutuskan untuk berputar balik dan kembali menyusuri pantai barat Padang.

“Gue membuka jendela mobil dengan agak rendah, membiarkan angin laut menerpa muka gue. Kapan lagi, keluar jam 11 malam dan diterpa langsung oleh angin laut”

Kita terus menyusuri pantai barat hingga mencapai Taplau. Taplau malam itu terbilang cukup ramai. Gue mendapati beberapa pemuda yang menggunakan pakaian Persib. Rupanya baru saja ada pertandingan antara Persib dan Semen Padang. Well, Taplau ini selalu ramai di akhir pekan. Baik dari warga lokal maupun pelancong dari kota tetangga. Oh iya kalau kita kesini pagi-pagi kita bisa mendapati kapal-kapal penangkap ikan yang baru berlabuh.

In brief, malam itu gue cukup senang bisa mengelilingi kota Padang lagi sebelum balik ke Jakarta. 

Grand Opening proyek gue juga berjalan lancar. Feels like our effort had been paid off lah. 14 bulan yang lalu kita baru mulai land clearing. Lalu masuk ke tahap pemancangan dan bored pile yang penuh tantangan karena kondisi tanah yang didominasi pasir lepas. Lalu overlaping dengan pekerjaan galian yang sangat dipengaruhi oleh keadaan muka air tanah. Ketika masuk ke tahap pengerjaan struktur atas, kita mulai dihadapkan pada pasokan material dan cuaca. Pada fase pengerjaan atap kita dihadapkan pada keterbatasan lahan yang ada dan lagi-lagi cuaca. Hingga akhirnya masuk ke tahapan finishing.

Berada di proyek yang tergolong crash program seperti ini memang cukup menantang. Dan gue sangat berterimakasih kepada para manager dan co-workers yang sudah membimbing dan bekerja sama selama ini. Banyak pembelajaran yang gue dapatkan disini. 

Well, ini muka-muka bahagia pasca grand opening kemarin.

Thanks squad!! See you again

Terus kemarin juga accidently ketemu Pak Ishadi, dirut Trans Media pas gue lagi strolling around di GF. Sempat ngobrol sekilas dengan beliau, dia beliau tertarik mendengarkan bagaimana kita menyelesaikannya kurang dari 15 bulan. Walau udah senior beliau sangat antusias mendengar cerita kita-kita yang masih muda ini. Lalu, ketemu Pak M. Nuh juga, dulu gue inget banget beliau pas jadi menteri pernah sidak ke SMA gue di tahun 2011 ketika lagi UN. Time flies banget, kayak baru kemarin SMA wkwkwk.
Setelah grand opening kemarin beberapa hari kemudian gue meninggalkan Padang untuk kembali ke ibukota. Well, semoga bisa berkunjung ke Padang lagi.

Koto Padang di malam hari, mid April 2017

Koto Padang: A One-Year Memory

“Gue menyeruput asupan kafein ketiga gue hari ini sambil menunggu hujan. Nggak tau pukul berapa nantinya hujan akan reda. Pekatnya piccolo menemani malam gue di Jakarta. ya gue menghabiskan malam di Jakarta hari ini. Lalu besok, setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan, gue akan kembali ke Bogor. Akhir pekan lalu gue habiskan di Bogor, melepas penat sekaligus mendapat kunjungan seorang sahabat. Entah akhir pekan ini akan dihabiskan di Bogor atau di Padang. Baterai laptop gue sudah nyaris mencapai limitnya dan hujan di luar nggak kunjung reda.”

Kemang,  27 April 2017, malam hujan


“Cuaca sangat cerah hari ini, gugusan pulau-pulau terlihat dengan sangat jelas dari ketinggian 3000 meter. Menjadi penghibur gue yang tetap harus bekerja di akhir pekan. Lagipula, nampaknya nggak akan lama lagi gue bisa menikmati gugusan pulau di pantai barat Sumatera yang indah  ini dari ketinggian.  Proyek gue nggak lama lagi akan selesai dan beberapa bulan yang lalu sebetulnya gue juga udah diminta balik ke Jakarta. Padang pastinya akan menyisakan memori tersendiri buat gue. Sambil menyeruput kopi dingin gue terus menatap ke luar jendela, di sebelah gue ada seorang nenek dan cucunya. Si cucu bercerita asik tentang rencana liburannya. Mengingatkan gue akan eyang gue di Solo.”

Di atas Pantai Barat Sumatera, 29 April 2017, menjelang senja.

“Tak ada cafein intake hari ini, tapi gue masih juga terjaga. Tinggal beberapa menit lagi hari akan berganti. Besok sore gue akan kembali ke Jakarta lagi.”

Padang Utara, 30 April 2017, nyaris berganti hari.

***
Waktu berlalu dengan sangat cepat, tinggal menghitung hari sampai proyek ini berakhir. Sudah satu tahun lebih kami berjuang untuk proyek ini. Sudah satu tahun juga gue bolak-balik Padang-Jakarta. Ya, Padang. Kota yang awalnya asing buat gue, kecuali rasa sate padangnya yang merupakan salah satu makanan favorit gue. Sebagai pendatang yang ngehe mulanya gue masih membanding-bandingkan kota ini dengan Jakarta atau Bandung atau Bogor. Padahal kota ini cukup asik lho

1. Although there’s no common minimarket chains like ind**maret, alf**art, sev** ***ven Padang punya minimarket-minimarket lokalnya sendiri. Nah salah satu masalah gue ketika dateng ke Padang adalah gue nggak menemukan minimarket kayak alfamart ataupun indomaret di kota ini. Well ternyata pemerintah kota setempat emang ngelindungin banget usaha warganya dari gempuran minimarket chain. Tapi tenang aja di Padang cukup banyak tersebar kok minimarket-minimarket lokal dan beberapa di antaranya ada yang buka 24 jam. Yah walaupun masih sedikit sih yang buka 24 jam.

2. Padang salah satu surganya kuliner. Beberapa pesan temen-temen gue ketika tau gue penempatan di Padang adalah: “makannya dijaga ya Bil” atau “Jangan makan santen-santenan terus ya Bil”. Well, masakan padang adalah salah satu masakan yang gue kira bisa diterima secara universal buat lidah orang indonesia. Sate Padang, Rendang dan aneka gulai-gulaian, ikan bakar padang, lontong pical, soto padang adalah beberapa favorit gue. Jadi kalau soal makanan di Padang sih bukan masalah, tapi tetep harus diperhatiin juga sih kolesterol kita. Gue sih berusaha banget membatasi asupan santen-santenan disini.

3. Padang udah punya XXI pertamanya, dan rencananya tahun ini akan dibuka XXI yang kedua. Ketika gue akan menginjakkan kaki di Koto Padang ini seorang temen kuliah gue pernah bilang ‘Semangat ya Bil! Nggak ada Bioskop disana’. Dan emang bener, ketika gue tiba di Padang April tahun lalu, Padang belum punya bioskop. Seorang rekan gue di proyek lain, yang hobi nonton, bahkan sampe pulang ke Jakarta setiap ada film bagus. Tapi tenang aja, akhir tahun lalu Padang udah ngebuka XXI pertamanya dan rencananya tahun ini akan di buka XXI yang kedua.

4. Public Transportation yang memadai dan era transportasi online sudah dimulai. Padang punya Trans Padang, yang rutenya disepanjang jalan protokolnya. Taksi-taksi kayak blue bird, express, kosti dkk juga banyak berseliweran di jalan-jalan. Ada juga angkot-angkot yang gue kira drivernya terilhami sama fast and furious atau suka main need for speed karena super ngebut. Dan yang paling membahagiakan gue yang seorang pendatang ini adalah: Gojek udah ada di Padang men! Seenggaknya gue jadi nggak tergantung sama orang lain kalau mau kemana-mana. Atau kalau gue lagi buru-buru. Atau kalau gue mau melarikan diri sejenak errr

5. Tempat ngopi-ngopi dan tempat melarikan diri? Ada dong! Tenang, kalau lagi jenuh dan butuh tempat melarikan diri Padang punya kok kedai-kedai kopi lokal yang bisa dijadikan tempat nongki berlama-lama atau kalau mau kerja tapi dengan suasana yang berbeda. Disini ada coffee shop chain local kayak excelso dan coffee toffee, dan beberapa local coffee shop yang recommended. Mereka adalah tempat pelarian gue kalau wifi di proyek lagi mati, karena berbagai hal gue harus terus online #alasan

6. Food Delivery Available. Kalau lagi di kosan mager kemana-mana, nggak ada yang ngajakin makan err atau tengah malem tiba-tiba butuh asupan nutrisi for our cute belly? Fast food chain juga ada kok disini dan bisa delivery 24 jam. Berita bahagianya lagi, GoFood juga udah ada di Padang berbarengan sama masuknya GoJek di sini. Jadi kalau mau delivery nggak melulu fast food, kita bisa menikmati local food padang cukup dengan sentuhan jari kita wkwk.

7. Stunning scenery. Sumatera barat terkenal dengan kondisi alamnya yang stunning abis. Kalau kita liat dari atas pesawat kita bisa ngeliat betapa luar biasanya bukit barisan yang membentang dari selatan sampai utara Sumatera. Well kalau mau menikmati keindahan alam Sumbar kita perlu agak melipir keluar kota Padang, jalan ke arah Bukit Tinggi misalnya. Kita bisa ngelewatin Lembah Anai dengan hutan tropisnya yang kece atau kelok 44 yang super keren. Kalau pengen muter-muter di Padang? Padang punya Taplau dan daerah Muara Batang Arau yang rame banget kalau weekend. Pantai Padang deket banget dengan pusat kota, tiap weekend Pantai Padang ini selalu dipenuhi oleh wisatawan. Terus kalau kita jalan terus ke arah selatan kita bakal ketemu sama Muara Batang Arau. Disini kita bisa melihat banyak kapal-kapal yang lagi bersandar. Di dekatnya juga membentang Jembatan Siti Nurbaya yang ramai kalau malem.

Ketika menulis ini gue sedang menunggu di salah satu kedai kopi di Kota Padang sambil menyeruput secangkir espresso con panna. Tinggal beberapa menit lagi sampai gue diantar ke bandara.