Hunt Down The Artspace: Matter’s Matter and Self Explanatory Exhibition

Wah nggak terasa November sudah mau berakhir, cepet banget, tiba-tiba udah mau di penghujung tahun aja. Cuma perasaan gue aja atau emang waktu kayaknya semakin cepet berlalu ya.

Beberapa minggu terakhir ini pekerjaan gue memang lagi sangat padat. Gue masih belum sempat juga mereview buku-buku yang udah selesai gue baca. Semoga setelah dari Pontianak besok gue bisa mulai ngereview buku lagi. Biasanya gue kalau lagi travelling selalu bawa buku, in case gue bosen ketika perjalanan. Tapi besok gue nggak akan bawa buku, family time lah dan ini pertama kalinya gue akan terbang ke Borneo.

Anyway, beberapa minggu lalu, akhirnya gue berhasil menyambangi exhibitionnya Radhinal Indra; Matter’s Matter, yang udah gue tunggu-tunggu sebelumnya. Matter’s Matter ini cukup menarik karena latar belakang sang artist yang sangat dekat dengan dunia science. Radhinal Indra mengkombinasikan antara celestial dan anatomy object di dalam artworknya ini. Di exhibition kali ini dia mencoba untuk menginterpretasikan koneksi antara cosmos yang besar dengan bagian terkecil dari manusia. Media yang digunakan juga cukup beragam, mulai dari painting, art installation hingga loop video. Sayangnnya gue nggak begitu lama menghabiskan waktu disini, karena jam buka Ruci Artspace yang hanya sampai pukul 7 malam. Kurator dari pameran ini, Roy Voyagen, juga menata exhibition ini dengan sangat baik.

Beberapa hari kemudian gue pergi ke Self Explanatory Exhibition yang diadain di Dia.Lo.Gue. Self Explanatory ini menampilkan artwork dari 3 artist: Ines Katamso, Natisa Jones dan Ykha Amelz. Well, disana gue juga menemukan karakter bernama Babbot dalam artwork yang diciptakan oleh satu artist di exhibition ini, Ykha Amelz. Apa yang dialami karakter bernama Babbot ini cukup merefleksikan apa-apa yang sebagian besar dari kita alami,seperti Deadline yang menghantui, Revisi-revisi, serta hari Senin yang tak diharapkan.

Well, buat gue, one of the perks living in Jakarta adalah tersebarnya artspace disini. Beberapa artspace juga cukup rutin ngadain exhibition. Selain bisa nikmatin karya seni yang dipamerkan, di artspace-artspace ini kita juga bisa menemukan local artist. Beberapa artspace juga dilengkapi coffee shop yang bisa kita jadikan tempat untuk melarikan diri, kongkow bareng teman, ketemu dengan klien atau coworkers.

Oh iya, akhir tahun ini gue ikut dalam jakarta coffee manual 2017 challenge. Ini jadi ajang yang menarik buat para penikmat kopi untuk berburu kedai kopi di Jakarta. Well dan tahun ini adalah kali pertamanya gue ikut, so wish me luck then.

Pasar Seni ITB 2014

Yohoooooo akhirnya Pasar Seni dateng juga, kemarin, Minggu 23 November 2014 KMSR ITB dan seluruh Jajaran Pasar Seni berhasil mengadakan event yang supeeeeer buanget. Acaranya dimulai sekitar pukul 8 pagi dan sukses membuat Jalan Tamansari dan Sekitar Kampus ITB macet banget. Untung gue ngekosnya deket kampus, jadi tinggal jalan.

Jalan Ganeca di depan kampus ditutup dan ditata dengan dekorasi yang nyeni abis. Begitu gue nyampe di sebelah barat Jalan Ganeca, tepatnya di depan Parkir Sipil gue dan temen gue disambut dengan tiga pilar-pilar kerucut yang tersusun dari potongan kayu.

Pasar Seni ITB 2014

Di bagian gapura ini aja udah rame banget pengunjung foto-foto. Terus setelah minta difotoin temen gue disana, kita jalan ke arah timur. Nggak lama kita jalan, kita nemu lagi yang menarik. Apaan tuuuh? Lukisan yang dibandrol 1 milyar men. Nih lukisannya

Pasar Seni ITB 2014

Lukisan ini dijual 1 milyar bro. Gile-gile gue nggak ngerti lagi dan lu harus liat bagian paling menariknya nih..

CAM02127

Karena gue jam 1an udah balik ke kosan dan baru ke kampus lagi jam 6 buat ketemu bentar sama temen, gue nggak tau bagaimana akhirnya nasib lukisan ini. Apakah Pak Asep Berlian pulang membawa uang 1 milyar atau harus membakar lukisannya.

Selanjutnya kita jalan terus ke arah timur, di sepanjang Jalan Ganeca lu bisa nemu orang-orang yang lagi ngelukis. Terus ada 1 lukisan yang mencuri perhatian gue, gue tapi nggak tau judulnya apa dan yang ngelukis siapa karena terlalu ramai buat mendekat. Ini lukisannya.

Pasar Seni 2014

Agak ngeblur deh sayangnya. Well, yg menonjol dari l;ukisan itu tuh adanya bentuk tangan yang ngebentuk jembatan yang melintasi sungai. Maknanya mungkin tergantung persepsi orang masing-masing ya dan lagi gue juga nggak sempet ketemu pelukisnya. Hmmmm

Terus kita jalan terus ke timur dan masuk lewat parkiran SR, karena gerbang utama penuh banget. Parkiran SR berubah jadi stand-stand unik, mulai dari seni menempa sampai (gue nggak ngerti kenapa) perkumpulan bikers-bikers gitu. Nuansa di sisi Timur bagian dalam ini bener-bener “keras” lah pokoknya. Nah ini salah satu stand seni menempa yang gue jumpai

CAM02136

Nah, habis dari area timur tepatnya di area parkir SR (Seni Rupa) gue sama temen gue, Fitri, jalan ke arah boulevard. Kita harus berdesak-desakan sekitar 15 menit buat bisa mencapai boulevard yang biasanya bisa ditempuh sekitar 3 menit dari gerbang SR. Terus kita ngelewatin patung Tyrex yang terbuat dari seng-seng persegi gitu, sayangnya karena terlalu penuh gue nggak sempat ambil gambarnya. Boulevard padet banget men, apalagi dideket si tyrex ini. Gue sempet ngambil gambar suasana boulevard waktu itu nih

Nah namun sekitar pukul 12.00 hujan tiba-tiba turun deras dan gue nggak tau harus kemana, lanjut muter-muter atau balik karena sepatu gue kebasahan. Akhirnya gue putuskan untuk terus di kampus karena kita belum liat seluruh areanya. Akhirnya karena kita udah terlanjur ke arah perpustakaan dan nggak menemukan apa-apa lagi di sana, kita puter balik ke arah Sipil dan memutuskan buat makan siang. Setelah gue menghabiskan sepiring Batagor di area makanan, gue mencari pencuci mulut yang gue nggak nyesel banget beli, yakni es krim combo antara ogura dan matcha yang rasanya nyuuuus banget. Sayangnya gue nggak nanya si cici’ itu biasa jualan dimana. Sekedar informasi aja, jadi es krim ogura itu merupakan es krim yang pake kacang merah gitu. Nah, perpaduan antara es krim kacang merah dan es krim matcha itu sabi banget deh pokoknya.

Yah, pasar seni ini emang seru banget sih, cuma terlalu crowded aja jadi kadang nggak jenak gitu kalau menikmati keindahan-keindahan dekorasinya atau pameran-pameran di stand-stand yang ada disana. Disamping itu, sinyalnya entah kenapa super jelek. Gue waktu itu mau komunikasi sama temen SMA gue yang kebetulan dateng di sana juga susah banget dan akhirnya kita nggak bisa ketemu. Tapi secara keseluruhan, keren banget, tapi saran dari gue sih ya, sebaiknya acara sebesar ini diadakan dua hari. Biar pengunjungnya nggak begitu crowded dan gue bisa menikmati es krim ogura matcha pasar seni itu lebih lama.

Oh iya, ada gambar penutup nih yang gue ambil di area seberang parkiran sipil

Pasar Seni ITB 2014Gue nggak tau deh, tapi gue penasaran kalau balonnya gue ambil, dia bakalan gerak atau nggak hahaha.