Coffee: A Sip from Colonialism

Kopi adalah salah satu bagian yang tak terpisahkan dari kultur Indonesia. Dari bagian barat hingga timur Indonesia masyarakat kita sudah sangat akrab dengan minuman hitam ini. Indonesia juga salah satu produsen kopi terbesar di dunia, setelah Brazil, Vietnam dan Kolombia. Tapi sebenarnya kopi ini bukan tanaman native Indonesia.

Well, kopi sendiri masuk di Indonesia pada zaman pendudukan Belanda. Saat itu VOC, yang merupakan serikat dagang milik Belanda, mendatangkan biji biji kopi arabika ke Indonesia. Belanda bermaksud untuk menghentikan monopoli perdagangan kopi yang dikuasai oleh Arab pada saat itu. Pada mulanya tanaman kopi dikembangkan di daerah sekitar Jakarta, seperti Sukabumi dan Bogor. Lalu selanjutnya tanaman kopi semakin banyak berkembang di daerah Jawa, sebagian Sumatera dan Sulawesi.

Pada saat yang nyaris bersamaan, di daerah timur Indonesia yang saat itu masih dibawah pendudukan Portugal, di datangkan pula biji-biji kopi arabika. Namun kabarnya sumber biji yang mereka datangkan berbeda dengan yang dibawa oleh VOC. Sehingga pada awal abad 19 ketika sebagian besar tanaman kopi di Asia Tenggara terkena wabah coffee rust, termasuk di wilayah barat Indonesia yang saat itu memusnahkan nyaris seluruh tanaman kopi mereka, di wilayah timur Indonesia tidak mengalami kerusakan yang signifikan.

Nah setelah terjadi wabah coffee rust yang menyebar dengan sangat cepat, nyaris seluruh perkebunan kopi di wilayah barat Indonesia hancur. Banyak petani yang akhir beralih ke komoditas lain. Saat itu pihak VOC sempat mendatangkan biji kopi Liberica, yang ternyata juga tidak resistent terhadap wabah dan tidak bertahan lama. Akhirnya didatangkan biji kopi robusta yang memiliki tingkat ketahanan lebih tinggi. Walau biji kopi robusta memiliki resistensi yang lebih baik dibandingkan dengan arabica, biji kopi robusta cenderung memiliki kualitas yang lebih rendah. Namun sampai saat ini robusta masih merupakan biji kopi terbanyak yang diproduksi di Indonesia. Well kira-kira sekitar 90% dari produksi biji kopi kita merupaka tipe robusta, sedangkan arabica hanya sekitar 10%. Tapi di dalam 10% ini termasuk diantaranya biji-biji kopi yang termasuk kualitas terbaik di dunia.

Well, pasca pendudukan Belanda dan kemerdekaan, mayoritas perkebunan kopi di Indonesia yang awalnya dikuasai kolonial belanda dikelola oleh pemerintah yang baru ataupun dibiarkan mangkrak begitu saja. Para pemilik perkebunan yang mulanya kaum kolonial, meninggalkan kebun-kebunnya begitu saja agar terhindar dari penangkapan. Hingga hari ini perkebunan kopi terus berkembang di Indonesia, ada yang dikelola oleh petani-petani lokal ataupun korporasi-korporasi besar. Tiga pulau penghasil kopi terbesar di Indonesia yakni Jawa, Sumatera dan Sulawesi. Tiap-tiap daerah memiliki keunikannya sendiri. Sumatera terkenal akan Sumatera Mandheling dan Sumatera Lintongnya. Sedangkan Jawa terkenal dengan Java Arabica dan Mocha Java. Untuk Sulawesi, siapa yang kenal dengan Sulawesi Toraja?

Beruntung juga berada di Indonesia, salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia ini. Nggak cukup sulit buat menemukan dan menikmati kopi disini. Kita bisa menemukan kopi tubruk nyaris diseluruh Indonesia, kopi tarik di kedai-kedai khas Aceh atau kopi joss di angkringan-angkringan Jogja. Nggak hanya kopi dengan manual brew aja, sekarang semakin mudah juga untuk menikmati kopi-kopi dengan espresso based. Nampaknya bisnis kopi di negara ini mulai menggeliat lagi.

-cup of macchiato eh?

Apalagi yang lebih nikmat dari kabur sejenak dari hiruk pikuk proyek dan menyeruput secangkir kopi, menikmati efek dari kafeinnya pelan-pelan. Sore dan kopi adalah dua hal favorit gue selama di proyek. Ketika sore datang lu bisa melihat semburat-semburat oranye di langit, tiga perempat hari telah berlalu, saat yang tepat untuk rehat sejenak. Ditemani oleh secangkir kopi, yang perlahan menstimulasi terproduksinya dopamine dalam otak gue dan merasakan efek dari kafeinnya yang membuat gue bertahan sampai tengah malam nanti. Sore dan kopi adalah hal yang tak terpisahkan belakangan ini.

Tapi walau bagaimanapun juga belakangan gue mencoba mengontrol konsumsi kopi gue. Segala yang berlebihan toh nggak baik juga. Kopi gue jadikan sebagai suatu reward dan juga remedy buat diri gue.

Bekerja di proyek konstruksi dengan durasi singkat kayak sekarang gini mau nggak mau memaksa gue untuk memastikan kalau cafein intake gue terpenuhi setiap hari. Gimana nggak, dengan banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan dan durasi yang super singkat, seringkali membuat kita harus terjaga sampai tengah malam. Nah dan itu terjadi nyaris setiap hari.

Well sekian dulu dan selamat Pagi dari Kota Minangkabau. Selamat berakhir pekan. Hari ini salah seorang kawan gue menikah. Sayang sekali karena ada beberapa hal yang harus diselesaikan disini, gue tidak bisa pergi ke Kota Kembang. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah Fier. Semoga bisa segera mengunjungi Bandung kembali .

Dancing Goat: The Coffee Origin

Well, it’s been awhile since my last post wkwkwk. Sekarang udah tinggal 1.5 bulan lagi sampai proyek gue selesai. Sabtu kemarin gue balik ke Padang, setelah beberapa waktu di Jakarta.

Terus tadi pagi rencananya gue mau jalan ke salah satu kota tuanya Padang dan juga pecinannnya, Pondok. Tapi tiba-tiba Manager gue ngajak ke site. Jadi akhirnya gue pergi ke site, yang emang lagi super hectic. Karena agak jenuh juga weekend gini di site, akhirnya sore ini gue mencari tempat pelarian sekaligus tempat ngecharge kebutuhan kafein gue.

Awalnya gue mau pergi ke salah satu kedai lokal yang cukup rekomended based on google review dan juga menurut temen gue disini. Tapi sayangnya gue nggak berhasil menemukan si kedai kopi itu dengan bantun Gmaps. Next time gue kayaknya emang harus ngajak temen gue itu, nggak kabur sendiri kayak gini wkwkwk. Yaah kadang I need a me time lah. Akhirnya gue kabur ke salah satu kedai kopi yang ada di jantungnya Kota Padang. Menikmati secangkir kopi Sumatera Mandheling dan melupakan segala kepelikan proyek. Tapi kopi ini emang salah satu remedy paling baik sih buat melupakan segala kejenuhan, sejenak.

Ngomong-ngomong soal kopi, jadi diperkirakan awalnya kopi ini berasal dari daerah Abyssinia yang sekarang disebut Ethiopia. Nah salah satu legenda yang menarik mengenai asal mula kopi ini involves dancing goats and their goatherd.

Well, jadi ada seorang gembala yang bernama Kaldi, which is also a poet by nature, nah biasanya dia suka ngikutin pathway yang dibuat oleh kambing-kambingnya kalau mereka lagi menyusuri lereng-lereng gunung buat cari makan. Ketika lagi ngembalain kambing-kambingnya ini dia suka mainin sulingnya dan membuat lagu-lagu. Ketika udah menjelang senja, dia bakal mainin special notes gitu buat manggil kambing-kambingnya pulang.

Nah one afternoon, however, his goats didn’t come. Kaldi blew his pipe again, fiercely, but still no goats. Akhirnya ia mendaki ke daerah yang lebih tinggi buat mencari kambing-kambingnya itu. Finally, he heard something in the distance. Ia pun berlari ke arah suara itu dan akhirnya dia menemukan kambing-kambingnya lagi semacam menari-menari gitu di bawah kanopi kanopi hutan tropis yang lebat. At first he thought that they must be bewitched.

Tapi akhirnya dia ngeliat kalau salah seekor kambingnya ada yang lagi mengunyah semacam glossy green leaves and red berries gitu dari sebuat pohon. Dia akhirnya berasumsi kalau pohon itu yang bikin gila kambing-kambingnya dan dia udah panik kalau-kalau kambingnya bakal keracunan. Kambingnya juga menolak buat diajak pulang.

Akhirnya beberapa waktu kemudian kambingnya bisa diajak pulang and they didn’t die. In the following day, they ran directky back to that place and repeat the performance. Kali ini Kaldi ngerasa kalau cukup safe buat bergabung dengan kambing-kambingnya. First he chewed on a few leaves, the berries and finally the seeds. The leaves tasted bitter while berries was mildly sweet.

Mark Pendergrast – Uncommon Grounds


Well, according to the legend, soon Kaldi was frisking with his goats. Song and poetry spilled out of him. Dia juga merasa nggak akan lelah lagi. Then, Kaldi told his father about this magical trees, akhirnya ceritanya menyebar, dan akhirnya kopi jadi salah satu bagian kultur di Ethiopia.

Nah itu sih salah satu legend asal muasalnya kopi yang banyak menyebar. Kayaknya waktu pelarian gue udah berakhir dan gue harus balik ke site lagi. Happy weekend all!