The People Behind the Scene

Kita hidup dengan infrastruktur-infrastruktur mengagumkan di sekeliling kita, namun beberapa nggak menyadari peran civil engineer di dalamnnya. They are the people behind the scenes of today’s society infrastructure. Lalu karena berperan sebagai people behind the scene, apakah lantas civil engineer hanya perlu mengasah skill teknikal saja?

“Tell me and I forget, teach me and I may remember, involve me and I learn.”

-Benjamin Franklin-

Setelah melalui masa OJT lalu dan melewati assessment minggu kemarin dengan sedikit keberuntungan, gue yang masih newbie ini memutuskan untuk melanjutkan hidup gue di dunia konstruksi. Itu artinya selama beberapa tahun kedepan gue akan berkutat di bidang ini, sebagai seorang civil engineer. Dan kayak post gue sebelumnya, gue berusaha untuk love what I do and be good at it”. Well yeah, harusnya emang begitu.

Ngomong-ngomong soal civil engineer. Menurut data dari U.S. Bureau of Labor Statistic, kebutuhan tenaga kerja civil engineer diproyeksikan bakal naik sekitar 20% dari tahun 2012 sampe 2022, lebih pesat dibandingkan rata-rata bidang pekerjaan lainnya. Peningkatan akan kebutuhan civil engineer ini selain diperlukan untuk pembangunan-pembangunan infrastruktur baru dan juga diperlukan untuk melakukan perbaikan dan maintenance terhadap infrastruktur yang sudah semakin berumur. Di Indonesia sendiri menurut PU setidaknya kita membutuhkan 175,000 sarjana teknik setiap tahunnya sedangkan Indonesia hanya meluluskan sekitar 42,000 sarjana setiap tahunnya. Yang artinya kita masih memerlukan banyak sarjana teknik. Tentunya kita sebagai sarjana teknik dapat melihat hal ini sebagai peluang yang baik. Adanya AEC (Asean Economic Community) di tahun 2016 juga menjadi tantangan yang menarik bagi kita.

Dengan adanya peluang yang cukup baik dan juga tantangan soal AEC ini, tentu para insinyur-insinyur ini harus memiliki kompetensi yang kompetitif agar tidak kalah bersaing. Well, lalu kompetensi apa aja sih yang sebenernya diharapkan dari sarjana teknik sipil kayak kita gini?

Seorang civil engineer diharapkan kompeten baik secara teknikal maupun secara softskill. Menurut Anthony Fasano, penulis “Engineer Your Own Success”, dalam diskusi singkatnya dengan Roxann Henze ada beberapa core skill yang sebenernya dibutuhin seorang civil engineer dalam berkarir, diantaranya

1. Communication

2. Networking

3. Leadership

4. Presenting

Dengan memiliki skill-skill ini diharapkan seorang civil engineer nggak hanya mumpuni dalam menghitung dan mendesain di balik layar saja. Namun juga harus dapat menyampaikan maksudnya dengan baik kepada client. Empat skill yang disebutkan oleh Fasano tadi menurut gue saling berhubungan. Lalu communication skill diperlukan banget buat 3 skill lainnya. Yah gue sendiri juga masih newbie sih, jadi nggak bisa bicara banyak soal communication skill ini, kalau gue ya begini lah, mungkin gue termasuk orang yang kelewat santai kalau ngehadapin orang. Oh iya, soal buku Fasano yang berjudul “Engineer Your Own Success” itu juga kayaknya cukup recommended buat dibaca.

Well, minggu lalu gue ke Bandung dan ketemu dosen pembimbing gue, Pak Endra Susila bareng temen-temen seperjuangan TA. Diakhir pertemuan beliau ngasi kita wejangan yang intinya performance kita di 3 tahun awal bekerja lah yang akan menentukan bagaimana kita kedepannya. Yah entah kenapa 3 tahun ini pas banget sama kontrak gue di tempat gue sekarang. Jadi ya gue rencananya akan belajar dulu di tempat gue sekarang sebelum ngelanjutin sekolah lagi, dan akan terus mengingat wejangan dosbing gue itu.

Gue dapet SPT minggu lalu buat ke berangkat ke Padang. Setelah ada sedikit drama karena gue harus balik cepet-cepet dari Bandung ke Bogor dan mindahin barang gue dari Sudirman ke Bogor, ternyata gue bakalan masih stay dulu di Condet beberapa minggu ini. Indak apo-apo lah, seenggaknya gue bisa pamitan dulu sama keluarga dan temen-temen gue dulu dengan santai.

Ini bakal jadi rantauan terjauh gue sampai saat ini, karena kemarin gue cuma ngerantau ke kota sebelah pas kuliah. Yang bisa balik sewaktu-waktu kalau lagi bosen atau kangen sama nyokap. Seenggaknya sebulan ini gue masih di Condet dulu buat ngurusin dokumen-dokumen legalnya, jadi masih bisa lah buat balik ke rumah.

Yah pada akhirnya emang kita harus keluar dari comfort zone kita kan untuk bisa berkembang. Gue berusaha menenangkan diri gue sendiri sih sebenernya wkwkwk. Dan yang jelas kita bisa belajar dari mana saja. Gue juga mulai memikirkan lagi planning gue ke depan, mulai dari melanjutkan sekolah dan melanjutkan ‘hidup’. Yang jelas setiap langkah yang diambil emang harus jelas tujuan akhir yang mau dicapainya apa dan jangan setengah-setengah, cuz there’s no turning back.

Ketika gue nulis ini gue berada di tengah kegamangan apakah akan tinggal di mess malam ini atau balik ke rumah. Well, di proyek sebelumnya selama 3 bulan lalu gue masih agak sulit bagi waktu dan nggak sempat nulis sama sekali. Time management emang penting banget sih, karena hidup toh nggak cuma kerja aja. You have no life sih kalau kerja doang. Di rantau emang pasti bakalan beda, karena lu nggak bisa ketemu temen lu tiap weekend. Tapi insyaAllah bakal ada hal baru yang menarik lah disana.

Condet, 6 April 2016

Pertamina Energy Tower : The Zero Net Energy Building

Setelah gue nulis tentang pencakar langit kemarin, gue jadi pengen nulis tentang Pertamina Energy Tower lebih jauh. Pertamina Energy Tower yang terletak di kawasan Kuningan, Jaksel ini bakalan jadi HQ (headquaters) Pertamina yang baru. Pencakar langit dengan 99 lantai ini direncanakan selesai pada 2020 dan pembangunannya sendiri sudah dimulai tahun ini. Gedung ini nantinya akan menjadi pencakar langit tertinggi di Indonesia

Pertamina Energy Tower

Pertamina Energy Tower

(Sumber : SOM.com)

Gue rasa Indonesia bisa sedikit berbangga dengan proyek yang terbilang cukup prestisius ini. Selain melibatkan architecture firm ternama kayak SOM (Skidmore, Owings & Merril) dan PT Wiratman Associates sebagai konsultan struktural ada banyak hal menarik dari Pertamina Energy Tower ini. Diantaranya supertall building ini memproduksi sendiri energi yang digunakannya dan diprediksi akan menjadi the first supertall tower in the world that generate its own power. Men, kurang keren apalagi coba?

Jadi PET (Pertamina Energy Tower) ini akan memanfaatkan tenaga angin dan matahari. SOM juga memperkirakan kemungkinan digunakannya energi geotermal nantinya. Selain memanfaatkan energi ramah lingkungan, bangunan ini juga didesain sedemikian rupa buat ngurangin penggunaan lampu atau penerangan tambahan. Lalu alih-alih menggunakan AC yang memakan banyak energi, sebagai sistem pendinginnya digunakan radiant water based cooling system. Intinya keseluruhan desain bangunan ini direncanakan untuk mendapatkan hasil yang zero net energy.

Well, emang zaman udah berubah. Awalnya fokus dari supertall building adalah masalah strukturalnya : bagaimana menahan beban gravitasi serta lateral dari angin dan gempa. Namun seiring berjalannya waktu, masalah energi juga menjadi perhatian. Karena jumlah energi tebarukan yang semakin menipis tapi di lain sisi demand semakin meningkat. Sehingga energi akhirnya menjadi masalah yang serius dan manusia mulai berlomba-lomba untuk menciptakan produk yang tidak memakan banyak energi. Salah satunya adalah zero net energy building ini.

Gue sendiri udah nggak sabar sih pengen nunggu proyek ini selesai dibangun dan Indonesia bakal punya icon baru yang prestisius. Well, semoga proyek ini bisa berjalan dengan baik. Sekian, Selamat Sore dan Selamat Liburaaaaaaaan

Pencakar Langit Hari Ini

Beberapa tahun yang lalu, ketika gue masih di bangku SMA gue pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti, gue akan bikin pencakar langit tertinggi di Asia. Tapi apa kabar mimpi gue hari ini? Well, Dari jaman SMA sampe sekarang perkembangan pencakar langit di dunia juga terus berkembang. Di jaman SMA gue pernah bikin web tentang konstruksi-konstruksi di dunia, well isinya cuma artikel-artikel gitu aja, namanya Constructio. Gue bikin sekitar tahun 2010 pertengahan, di tahun itu juga Burj Khalifa baru selesai dibangun.

Burj Khalifa

Burj Khalifa

(sumber :burjkhalifa.ae)

Burj Khalifa sendiri merupakan pencakar langit tertinggi di dunia saat itu dan juga masih menjadi menjadi pencakar langit tertinggi di dunia hari ini, terletak di Dubai, Uni Emirat Arab. Selain sebagai pencakar langit tertinggi, Burj Khalifa juga memiliki desain arsitektural yang menarik. Tapak Burj Khalifa ini terbentuk dari tiga lobus yang menyerupai bunga bakung (Hymenocallis). Secara struktural bentuk yang menerupai hufuf ‘Y’ ini juga membantu mengurangi beban dari angin yang mengenainya. Selain itu pencakar langit ini juga menerapkan sistem struktur outrigger yang menghubungkan kolom perimeter dengan struktur dinding bagian dalam. Dengan begitu, kolom perimeter dapat berkontribusi dalam menahan beban lateral yang mengenai struktur.

Dulu, jaman 2010 pencakar langit tertinggi kedua adalah Taipei 101. Taipei 101 merupakan landmark dari Taipei, Taiwan. Secara arsitektural gedung ini memiliki struktur yang berundak-undak menyerupai bentuk pagoda dan juga batang bambu sekaligus. Yang menarik dari sistem struktur pada pencakar langit ini adalah damper yang berupa pendulum baja besar yang tergantung di lantai 92 sampai 87. Damper ini berfungsi untuk melawan goyangan angin yang mengenai gedung dan menjaga stabilitasnya. Selain itu Taipei 101 juga memiliki elevator tercepat di dunia.

taipei 101

Taipei 101

(sumber : Taipei-101.com)

Saat ini posisi runner up udah nggak ditempatin lagi sama Taipei 101 men, setelah Abraj Al-Bait (2012, Saudi Arabia) dan One World Trade Center (2014, USA) selesai dibangun. Lalu ada lagi Shanghai Tower yang rencananya akan menjadi pencakar langit tertinggi kedua di dunia. Konstruksi ini direncanakan selesai dibangun pada tahun 2015.

Well, dalam kurun waktu yang terbilang sebentar, perkembangan gedung tinggi emang pesat banget. Uni Emirat Arab udah nggak terbantahkan lagi punya banyak pencakar langit di negaranya, seperti Burj Khalifa dan juga Burj Al-Arab. Lalu Amerika punya One WTC, lalu ada Willis Tower (ex Sears Tower) dan juga Empire State Building yang melegenda. Taiwan punya Taipei 101 dengan lift tercepatnya. Bahkan Malaysia tetangga terdekat kita punya Petronas. Nah terus bagaimana dengan Indonesia? Apa kabar pencakar langit di Indonesia hari ini?

Well, perkembangan gedung tinggi di Indonesia juga semakin menghangat nampaknya. Tahun ini Indonesia mulai membangun Pertamina Energi Tower. Pencakar langit yang terletak di Jakarta Selatan ini rencananya akan menjadi pencakar langit tertinggi di Indonesia. Gedung ini direncanakan memiliki 99 lantai dengan ketinggian sekitar 400 meter. Dan yang nggak main-main nih, SOM (Skidmore, Owings, & Merril) terlibat dalam proyek ini. SOM ini juga yang terlibat dalam pembangunan Sears Tower dan Burj Khalifa, jadi yaaah kayaknya bakal keren banget sih ini.

Oke sekian, temen gue udah nelfon.

Sekilas tentang Kayu Glulam

Seperti yang udah gue bilang di beberapa post sebelumnya, gue pengen bahas tentang kayu glulam.

“Jadi apa sih kayu glulam itu?”

Glulam itu kepanjangan dari Glued Laminated. Intinya kayu glulam adalah material komposit antara kayu dan zat adhesive (lem). Kira-kira gambaran sederhananya kayak gini

Kayu Glulam

(Sumber : Slide Kuliah Dr. Ir. Saptahari M. Soegiri P.)

Well, kayu sebagai material konstruksi memiliki banyak kelebihan. Diantaranya kayu merupakan renewable material, ramah lingkungan, ringan, punya nilai estetika yang tinggi dan lagi energi yang dipake buat memproduksi kayu nggak sebesar material-material lain (baja dan beton). Gue pribadi sih suka banget sama material kayu, karena nilai estetikanya. Salah satu dosen favorit gue di Sipil, Pak Saptahari, kebetulan ngajar Struktur Kayu, beliau satu-satunya dosen yang ngajar kuliah itu saat ini. Beliau bilang kalau kayu itu menimbulkan kesan “hangat” dan gue setuju banget sama pendapatnya. Penggunaan material kayu untuk bangunan itu emang bikin lebih homie gitu men. Selain itu kayu juga ringan jadi cocok banget kalau dijadiin struktur tahan gempa.

Nah oke, jadi cukup banyak kan kelebihan dari material kayu. Tapi kayu ini punya keterbatasan sebagai material konstruksi. Dimensi kayu ini nggak sefleksibel beton atau baja. Kayu punya keterbatasan di dimensinya. Buat dapetin ukuran kayu solid yang bentangnya besar itu nggak mudah. Selain jarang banget, harganya juga semakin nggak ekonomis. Oleh karena itu munculah kayu glulam. Kayu glulam ini seolah menjadi jawaban atas segala tanya tentang dimensi-dimensi ini.

Dengan kayu glulam, kita bisa mengatur sebera pun dimensi yang mau kita gunakan tanpa perlu khawatir ketersediaannya. Karena kayu glulam ini juga kita nggak perlu nunggu waktu tebang pohon yang ratusan tahun untuk mendapatkan dimensi yang besar. Oh iya, kayu glulam juga digunakan di Aula Barat dan Aula Timur ITB lhooo. Ini ada beberapa fotonya, ini foto Aula Barat

Aula Barat ITB CAM02067

Aula Barat ITB

(Dokumentasi Pribadi)

Nah, elemen-elemen yang melengkung itu menggunakan kayu glulam. Seriusan deh, kalau lu lagi di dalem Aula Barat, lu nggak akan bosen liat strukturnya yang sangat indah. Aula Barat ini merupakan bangunan tertua di ITB (dibangun sekitar tahun 1920) dan udah memanfaatkan penggunaan kayu glulam untuk strukturnya.

Penggunaan kayu glulam sebenernya emang udah banyak di negara-negara lain khususnya Amerika dan Eropa. Kayu glulam sendiri udah dikenal sejak tahun 1850an di Inggris. Hanya saja penggunaan kayu glulam di Indonesia masih kurang terdengar. Padahal gue rasa, industri kayu glulam sebenernya cukup prospektif dan lagi Indonesia juga salah satu penghasil kayu dengan kualitas yang sangat baik. Dengan adanya kayu glulam ini kita juga bisa memanfaatkan hutan-hutan kayu industri yang umur tebangnya relatif singkat.

Secara kekuatan, kayu glulam juga nggak kalah dengan kayu solid. Bahkan kayu glulam cenderung lebih kuat dibandingkan dengan kayu solid untuk parameter-parameter tertentu (kuat lentur, tarik serta tekan sejajar serat). Hal ini dikarenakan penggunaan kayu glulam dapat memperkecil/menghilangkan adanya cacat kayu pada kayu yang akan digunakan. Berbeda dengan penggunaan kayu solid yang tidak dapat atau agak sulit untuk menghindari adanya cacat pada kayu.

Well, gue rasa segitu dulu tentang kayu glulam. Mungkin untuk perhitungan dan perbandingannya secara mendetail dengan kayu solid akan disampaikan lain kali. See yaa.

Aerotropolis dan Pengembangan Bandara Kertajati

Kali ini gue mau bahas tentang topik yang lagi cukup hangat, yakni Aerotropolis. Nah, jadi sebenernya apa sih Aerotropolis?

Aerotropolis merupakan suatu konsep pengembangan kota bandara atau “Airport City”. Menurut John. D. Kasarda, University of North Carolina, pengembangan bandara internasional dapat menjadi pemicu pengembangan bisnis serta kawasan urban di sekitarnya. Fenomena ini terjadi sekarang, di abad 21 ini. Fenomena ini serupa dengan yang terjadi pada abad-abad sebelumnya. Misalnya saat pengembangan jalan bebas hambatan pada abad 20, pengembangan kereta api pada abad 19 dan pengembangan pelabuhan laut pada abad 18 yang mempengaruhi kemajuan pada zamannya.

Aerotropolis ini merubah konsep bandara yang biasanya direncanakan secara terpisah dengan pengembangan kota menjadi satu kesatuan dalam paket perencanaannya. Pengembangan bandara serta kawasan di sekitarnya nantinya akan menjadi satu perencanaan pengembangan kota bandara. Dengan pengembangan kawasan di sekitar bandara ini nantinya diharapkan dapat memicu pertumbuhan klaster-klaster industri. Aerotropolis sering juga disebut sebagai kawasan cepat tumbuh berbasis bandara atau “Airport-Centric Commercial Development“. Kawasan ini diharapkan dapat menjadi daya tarik masyarakat global dan juga lokal, sehingga harus dapat menyediakan hal-hal di bawah ini secara mandiri:

  1. lapangan pekerjaan
  2. kawasan perbelanjaan/perdagangan
  3. pertemuan bisnis
  4. hiburan serta destinasi pariwisata lainnya

Aerotropolis

(sumber : aerotropolis.com)

John. D. Kasarda mengungkapkan bahwa ada beberapa triger yang mendorong pola perubahan Bandara Kota (City Airport) menjadi Kota Bandara (Airport City), yang disebut sebagai “Airport City Driver”.

  1. untuk memberikan pelayanan yang lebih baik serta dapat bersaing, bandara perlu menciptakan sumber daya dari kegiatan yang tidak berkaitan dengan penerbangan
  2. usaha-usaha komersial perlu mendapatkan kawasan yang aksesibel
  3. bandara harus mampu meningkatkan jumlah penumpang dan barang
  4. bandara dapat menjadi katalis dan magnet untuk pengembangan kegiatan bisnis

Beberapa Aerotropolis yang saat ini sedang dikembangakn diantaranya Incheon International Airport, Dubai International Airport serta Schipol. Indonesia sendiri saat ini sedang merencanakan pengembangan aerotropolis di Kertajati, Majalengka, Jawa Barat.

Bandara Kertajati

Bandara yang terletak di Kertajati, Majalengka ini nantinya diharapkan dapat dikembangakan menjadi suatu kawasan aerotropolis. Menurut seorang staf ahli PU, Taufik Widjoyono, Bandara Kertajati akan menjadi suatu katalis perekonomian baru di Jawa Barat. Pengembangan bandara ini memiliki potensi yang tergolong besar karena jumlah penduduk Jawa Barat yang sangat tinggi. Namun begitu, menurut Tri S. Sunoko, Dirut PT Angkasa Pura II, untuk mendukung proyek ini Pemprov Jabar juga harus mempercepat pembangunan akses infrastruktur yang menuju bandara. Proyek tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan diharapkan dapat rampung sebelum bandara ini resmi beroperasi.

Kertajati

Perataan Tanah Proyek Bandara Kertajati

(sumber : skyscrapercity.com)

Walaupun PT Angkasa Pura II saat ini sedang berkonsentrasi dalam pengembangan Bandara Kertajati, bukan berarti Bandara Husein Sastranegara di Bandung ditinggalkan begitu saja. Menurut mereka keduanya memilik area tangkapan yang berbeda.  Sehingga keberadaan dua bandara ini dapat saling mendukung satu sama lain. Bandara ini diharapkan dapat selesai pada tahun 2017 mendatang.