Achievement Unlocked: Gasibu

Gue udah di Bandung nyaris 4 tahun, dan tadi pagi adalah pertama kalinya gue ke Gasibu di hari Minggu. Kalau lewat doang mah udah sering. Kayaknya hampir semua orang juga tau di Gasibu itu ada semacam pasar kagetnya gitu setiap hari Minggu. Dulu pas pertama kali gue menginjakkan kaki di Bandung, kakak gue pernah bilang kalau di Gasibu itu banyak pencopet, jadinya gue nggak berani kesana. Kurang lebih percakapannya kayak gini

“Mas Gasibu itu isinya apa aja mas?”

“Yaah gitu aja dek, banyak pencopetnya lagi, udah nggak usah kesana”

“Hmmmm gitu”

Tapi ya keles 4 tahun kuliah di sini nggak pernah ke Gasibu sama sekali. Tetep aja gue penasaran, makin dilarang, makin penasaran wkwkwk. Jadi akhirnya gue minta ditemenin temen-temen gue kesana tadi pagi. Terimakasih Fitri dan Latin 😀

Achievement unlocke

Ternyata emang penuh banget men, kayak pas Pasar Seni gitu, lu jalan sambil nyenggol orang di kanan kiri lu. Tapi sekarang pasar kagetnya udah nggak di Gasibu nya banget. Sekarang semuanya terpusat dari depan Telkom sampe Monumen Perjuangan. Kata temen gue, dulunya di tengah-tengah Gasibu nya juga ada yang jualan, bahkan di depan Gedung Sate. Nah kalau sekarang semuanya dikumpulin di depan Telkom sampe Monumen itu. Di Gasibu nya sendiri sekarang bersih dari penjual dan bisa dipake olahraga.

Di Gasibu itu kita bisa nemuin macem-macem banget. Kayaknya lu nyari apa aja ada. Dari perabotan, peralatan rumah, baju sampe sayuran, Harganya juga terjangkau banget buat mahasiswa. Bayangin aja men, masa lu bisa beli kaos kaki 3 pasang cuma 5 ribu rupiah. Kalau gue dikasih uang 5 ribu dan disuruh bikin kaos kaki, kayaknya jadi sebelah aja nggak. Terus tadi ada yang kocak banget, sayang gue nggak bawa kamera. Jadi ada tukang jualan jaket gitu dan untuk nunjukin kalau kainnya bener-bener waterproof dia naruh air yang ada ikannya di atas jaketnya itu. Hahaha ada ikannya loh. Errr biasa aja ya? lu harus liat langsung sih sebenernya.

Tapi bagus juga sih ide buat mengumpulkan si penjual-penjual ini di tempat yang baru sekarang. Di akses masuknya si pasar kaget itu, di depan Telkom, ada tulisannya “Pasar Minggu Monju”. Monju ini maksudnya Monumen Perjuangan men. Menurut info yang baru aja gue dapet, ternyata Pasar Minggu Monju ini baru diresmiin sama Ridwan Kamil pertengahan November tahun lalu. Karena penjual-penjualnya dipindahin ke tempat yang baru, Gasibu jadi bebas dari penjual dan begitu juga Gedung Sate. Jadinya bersih gitu deh, apalagi trotoar di depan gedung sate juga makin oke karena taman-tamannya diperbaiki.

Sejak rezimnya Kang Emil ini banyak taman-taman yang diperbaiki atau bahkan bikin taman-taman baru. Taman Lansia yang di deket Cisangkuy juga sekarang ada kolam retensinya. Wah ketce lah, tapi kenapa ya namanya Taman Lansia? gue juga nggak tau sih itu. Kapan-kapan deh kalau kesana lagi gue tanyain ke Bapak-bapak yang jaganya.Okeee, sekian. Selamat hari Minggu.

Let’s Build a Town!!

Beberapa bulan lalu, sekitar 6 bulan yang lalu kayaknya, gue penasaran pengen nyari alat berat errr lebih tepatnya miniatur alat berat. Sebagai mahasiswa yang belum bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tentu gue nyari yang harganya terjangkau. Tadinya gue sempet buka-buka ebay buat nyari die castnya Cat (Caterpillar) dan pas liat harganya, ternyata kurang asik. Sekitar 700 ribuan sampe 1.5 jutaan. Tadinya gue udah agak males gitu deh. Sampe suatu ketika gue lagi window shopping dan ketemu sama yang namanya Tomica. Tomica ini keluarannya Takara Tomy dan harganya cukup affordable buat kantong mahasiswa.

Tomica ini punya banyak series, beberapa diantaranya Tomica Reguler, Tomica Limited, Tomica Long dan juga  Dream Tomica. Tomica Reguler bisa dibilang common seriesnya Tomica. Seri ini yang paling banyak dijumpai di toko-toko mainan dan harganya juga yang paling bersahabat. Di Tomica Reguler ini kita bisa nemuin macem-macem banget dari SUV, Bus, Truck sampai Heavy Equipment. Kalau Tomica Limited bisa dibilang versi yang lebih detail dari Tomica Reguler (tapi nggak semua Tomica Reguler ada di Tomica Limited dan begitu juga sebaliknya). Perbedaan yang mencolok biasanya di bagian velg sama rodanya. Sedangkan Tomica Long sederhananya adalah Tomica Reguler buat kendaraan yang punya dimensi lebih panjang kayak trailer ataupun lokomotif. Terakhir, Dream Tomica adalah series yang bentuknya mengadopsi dari karakter-karakter tertentu kayak Transformers, Batmobile, Thomas bahkan sampai Pokemon.

Well, awalnya niat gue cuma ngumpulin heavy equipmentnya Tomica. Sampe suatu ketika gue web surfing dan buka webnya Tomica lalu nemuin yang namanya Tomica Town men. Nah, Tomica Town ini isinya macem-macem banget, ada road set, pom bensin, minimarket, kantor polisi sampai site konstruksi. Intinya lu bisa ngebangun kota gitu. Keren banget lah pokoknya.

Dari Kecil, mimpi gue salah satunya itu punya diorama sendiri dan akhirnya gue menemukan Tomica Town ini. Awalnya cuma berburu alat berat doang, lama-lama merambah yang lainnya. Meja belajar gue akhirnya beralih fungsi jadi tempat nyimpen kota liliput ini. Yaah tapi gue masih newbie, jadi kota gue masih sepi.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

TOMICA TOWN

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

TOMICA TOWN

(Dokumentasi Pribadi)

Nggak tau kenapa gue suka aja ngumpulin ini. Terus karena nyari  Plakids agak susah, sebagai penggantinya gue pake Mighty Beanz dari koleksi gue. Kayaknya kalau ditambahin Plarail bakal makin asik. So, lets build the Town!!

Tugas Akhir

Berbahagialah buat kita-kita yang udah mulai liburan. Dengan dikumpulkannya tugas-tugas besar kemarin liburan resmi dimulai. Yes!!

Awalnya gue memutuskan buat balik kemarin lusa, cuma gara-gara Bandung dilanda hujan yang super deras pas siang-siang dan Dosen pembimbing gue mendadak minta ketemu di kantornya akhirnya gue mundurin jadwal kepulangan gue. Alhasil gue baru pulang kemarin siang.

Jadi, ceritanya kemarin lusa Dosen pembimbing gue minta ketemu. Yep Dosen pembimbing TA errrr. TA atau Tugas Akhir adalah salah satu hal yang sangat dinanti-nanti kedatangannya kepergiannya. Intinya nyaris semua orang yang ketemu sama TA ini pengen cepet-cepet berpisah dengan dia. Termasuk gue yang akan bertemu dia semester depan. Jadi, beberapa bulan lalu Pak Endra Susila, Dosbing gue udah mengintruksikan ke anak-anaknya ini buat nyari tema TA.

Gue dan temen-temen sebimbingan gue udah nyari tema apa aja yang asik selama semester kemarin dan gue nemu topik tentang MSE Wall. Sayangnya gue belum dapet judulnya apa. Nah, terus kemarin gue dan Shahnaz dengan polosnya datengin Pak Endra dan berharap kalau kita bakal dikasih instruksi lanjutan. Misalnya kayak gini..

“Bil, jadi kamu temanya MSE Wall ya?”

“Err iya Pak, jadi apa yang harus saya lakukan Pak?”

“Hmmm baiknya kamu coba analisis di bagian bla…bla…bla..”

“Siap Pak! Perintah diterima. Laksanakan”

Sayangnya, percakapannya nggak sesuai dengan ekspektasi dan berubah jadi kayak gini..

“Yak, jadi gimana Bil?”

“He? Err saya jadinya Topiknya tentang MSE Wall itu Pak”

“Oooh begitu”

“Jadi, apa yang harus saya lakukan ya Pak?”

“Wah ya tergantung kamu”

“errrr…… jadi kami sendiri Pak yang menentukan judul kami nantinya? dan apa-apa saja yang harus kami analisis?”

“Ya. Kalian sudah cukup dewasa untuk melakukan self-study. Jadi, nanti kalian cari sendiri masalahnya, kalian cari bagaimana cara memecahkannya dan kalian sendiri yang akan menemukan solusinya. Memang jika saya langsung memberikan kalian instruksi secara langsung, pengerjaannya akan cepat. Namun, pembelajaran yang didapat akan lebih terasa dan banyak jika kalian melakukan self-study”

“Baik Pak”

Sekian percakapan gue dan Pak Endra. Intinya TA itu emang beda banget sama Tugas Besar yang selalu dikasih tuntunan. TA ini lebih abstrak, karena kita harus nyari sendiri apa yang mau kita cari. Errr bingung kan? gue juga hahahaha.

Yasudahlah, yang penting semoga segala perTA-an ini cepat berakhir dan gue bisa liburan ke tempat yang asik-asik bareng temen-temen gue. Semoga di akhir liburan ini gue juga mendapatkan inspirasi buat judul TA gue. Oke, sekian, katanya sepupu-sepupu gue mau dateng ke rumah. Jadi, sepertinya gue akan hiatus beberapa hari ini. Daaaaaaaah

Memantaskan Diri

Tersisa 1 dari 3 UAS lagi, yah walau masih ada presentasi tugas yang lain. Rektor terbaru telah terpilih beberapa hari lalu. Entahlah apakah akan memberikan pengaruh yang signifikan pada kehidupan kampus gue yang kira-kira tersisa 1 semester lagi atau nggak. Tapi yang jelas semoga membawa pengaruh yang baik buat ITB secara keseluruhan.

Kehidupan kampus gue udah mau berakhir. Sejauh ini gue memutuskan hanya menjadi pengamat untuk segala hiruk pikuk yang tejadi di kampus ini. Entah kenapa. Hanya mengambil sedikit bagian saja. Mungkin gue emang orang yang banyak pertimbangan. Kampus ini seolah-olah menawarkan 1 loyang kue, tapi gue hanya mengambil sebagian kecilnya saja. Karena potongan kue-kue ini nantinya harus dipertanggung jawabkan. Gue kira banyak yang mendorong para mahasiswa untuk bergerak, cari pengalaman lah, belajar, membela hak rakyat atau sekedar menunjukan eksistensi. dan gue harap nggak ada yang didorong alasan terakhir. Kampus ini emang tempat belajar, lu bisa jadi apa aja yang lu mau, lu bisa mengembangkan diri lu disini. Tapi lagi-lagi harus ada harga yang dibayar di atas setiap pilihan yang diambil,

Gue selama nyaris 3.5 tahun disini masih mencoba untuk mempertahankan prinsip yang gue yakini, bahwa integritas di atas segalanya. Gue bahkan dulu hanya memandang manusia hitam dan putih, kalau nggak ada integritas pada dirinya maka dia hitam dan sebaliknya putih. Namun, gue sadar kalau itu salah, karena dunia ini bukan dunia utopia dimana segalanya ideal. Masalah yang paling pelik buat gue sebenernya adalah integritas dari masing-masing diri kita, Integritas mahasiswa khususnya. Seorang mahasiswa yang membela rakyat dan mengutuk mereka yang di Senayan sudah seharusnya nggak mencontek ketika ujian atau titip absen ketika mereka nggak bisa masuk kelas. Bukankah seharusnya begitu?

Gue rasa, kebiasaan seperti ini harus dipupuk sejak dini. Kita harus berani menghadapi resiko apapun dari konsekuensi setiap perbuatan kita. Bagaimana pun hasilnya. Nilai-nilai yang dikejar dengan menggadaikan integritas tak seberharga itu kawan. Buat temen-temen mahasiswa dimanapun, realitas yang kita lihat sekarang adalah banyak koruptor berkeliaran di luar sana, banyak dari mereka yang duduk manis menjadi perwakilan kita dan hidup mewah. Integritas mereka gadaikan untuk kesenangan pribadi. Sementara masih banyak masyarakat di luar sana merintih kelaparan. Gue rasa suatu hari nanti sebagian dari kita yang akan membereskan generasi yang mengacau ini, menggantikan posisi mereka menjadi anggota dewan. Maka gue rasa integritas adalah sesuatu yang mutlak untuk dipertahankan dan dibiasakan sejak dini.

Sejauh ini juga gue belum berbuat apa-apa buat rakyat. Padahal sebagian biaya pendidikan di PT juga hasil pajak rakyat. Bukannya sudah sepantasnya kita mengembalikannya pada rakyat. Sebenernya gue jadi miris juga kalau inget itu pas lagi gue males-malesan belajar atau malah main-main. Kita yang di PTN menurut gue adalah investasi jangka panjang negara. Entah dengan cara apa suatu hari nanti diharapkan dapat membawa manfaat pada negara, membawa percepatan ekonomi atau kemajuan teknologi. Oleh karena itu sudah seharusnya kita sungguh-sungguh menuntut ilmu ketika kita kuliah.

Maka saat ini adalah masa-masa kita untuk memantaskan diri, entah akan jadi apa nantinya. Suatu hari nanti gue harap generasi ini benar-benar akan menghabiskan mereka-mereka yang mengacau di Senayan. Dan segala hal yang telah diperjuangkan bukan sekedar pembuktian eksistensi diri. Selamat Pagi.

We Can Learn Anything

Tadi siang pas lagi jenuh ngerjain tugas rekstruk gue iseng-iseng buka web nya Khan Academy. Gue buka salah satu video di homepagenya judulnya You Can Learn Anything disitu secara singkat nyeritain kalau semua orang bisa belajar apapun. Apapun. Yep, bahkan dulu Einstein juga harus belajar berhitung dan Shakespeare juga belajar mengeja. Semuanya mulai dari nol. Setelah nonton video super singkat ini gue makin yakin bahwa semuanya itu bisa dipelajarin.

Khan Academy

Secara random juga tadi siang gue ngesearch tentang kopi. Alih-alih ngitung kebutuhan tulangan geser di balok yang gue desain gue malah sibuk nyari informasi tentang kopi luwak. Well, sebenernya salah satu keinginan gue adalah: Punya Coffee Shop dan jadi barista disana setiap weekend. Hahaha. Asik nggak sih? Ketika weekdays kita kerja kantoran dan ketika weekend tiba kita berubah jadi barista di coffee shop milik sendiri.

Menjalani satu jalan kehidupan aja terkadang terlalu monoton nggak sih? Maksud gue gini, ketika gue resmi jadi seorang civil engineer nantinya dan gue  harus mengerjakan hal-hal seputar itu-itu saja bukankah pada batasnya kita akan mencapai titik jenuh? Gue memang orang yang mudah bosan dan dalam waktu bersamaan seringkali gue menginginkan 2 macam kehidupan yang berbeda. Gue selalu membayangkan betapa kerennya orang yang menjalankan banyak peran sekaligus. Seorang civil engineer yang merangkap seorang barista di coffee shop entah kenapa terlihat keren di mata gue, yaah kira-kira sama kerennya kayak freelance photographer yang merangkap jadi Spiderman atau journalist yang merangkap jadi Superman.

Jadi yaa pokoknya setelah gue nonton video itu gue semakin percaya kalau semuanya bisa dipelajarin. Semua yang belajar memulainya dari nol dan proses pembelajaran itu nggak selalu mulus. Pasti kita akan mengalami banyak hambatan, kebuntuan, halangan atau mungkin kegagalan. Tapi ketika kita jatuh men, saat itu juga waktunya kita untuk bangkit dan kembali belajar. Well, mungkin gue bisa belajar untuk menjadi seorang barista yang handal. Belajar tentang dunia perkopian dan juga latte art. Lalu di saat itu juga, dalam waktu yang bersamaan gue adalah seorang civil engineer di suatu kontraktor.

,

Melarikan Diri Sejenak

Hari ini gue memutuskan untuk pergi meninggalkan Bandung sebentar dan pulang ke kampung halaman. Bogor men!! Gue mau ganti suasana bentar sebelum UAS.

Kemarin malem gue begadang di kosan Fitri buat ngerjain tugas rekstruk yang nggak kunjung kelar. Jam 3 pagi tadi gue baru tidur dan harus bangun jam setengah 6 buat balik ke kosan gue terus gue harus ngawas ujian mektan jam setengah 8. Karena Pak Bigman super duper ontime, gue nggak boleh telat nyampe kampus. Gue buru-buru sarapan, nyiapin barang yang mau dibawa dan mandi. Kelar mandi gue siap-siap dan nggak lupa ngelap kacamata gue, sampai akhirnya terdengar bunyi “krek” dan kacamata gue terbelah.

KacamataMiris banget rasanya bro. Semua terjadi begitu saja dan kini kacamata gue udah kebelah jadi dua. Apa daya, akhirnya gue cabut ke kampus tanpa kacamata dan gue harus memicingkan mata buat ngeliat sesuatu biar jelas.

Nyampe di kelas kira-kira jam setengah 8 kurang 5 dan Pak Bigman udah ngebagiin soal. Buru-buru gue ikutan bantuin beliau bagiin soal dan muterin absen. Sampe akhirnya sekitar seperempat jam kemudian Latin dateng. Setelah ngawas kurang lebih 3 jam yang penuh dengan tanya, Latin siap-siap buat sidang KP dan gue siap-siap buat balik. Gue nemenin si Latin latihan presentasi dan sekitar pukul setengah 12 gue memutuskan buat balik.

Gue naik Damri dari Dipati Ukur, lu harus cobain deh bus Damrinya. Sangat klasik bro. Lu pernah nonton film Gie kan? Di sana ada beberapa scene yang nunjukin Gie lagi di dalem bus. Nah kondisi Damri yang sering gue naikin kurang lebih begitu. Setelah tiba di Terminal Leuwi Panjang. Gue nyari Bus yang menuju ke Bogor.

Nah, di sepanjang perjalanan Bandung-Bogor gue punya cukup banyak waktu untuk merenung dan berpikir. Gue selalu suka pemandangan yang disuguhkan oleh tol Cipularang. Tebing-tebing gunung kapur yang menjulang, jurang-jurang yang dalam, serta sawah dan ladang di samping kanan kiri. Terus kayaknya gue ketiduran, nggak lama setelah masuk tol Cipularang dan tiba-tiba gue udah dijemput Nyokap tercinta di depan terminal.

***

Pulang ke rumah seolah menjadi penawar di tengah riuh rendahnya kehidupan kuliah. Duduk bersama nyokap buat sekedar ngobrol santai benar-benar membuat gue rindu akan masa-masa gue SMA dulu. Tapi UAS udah di depan mata bro! Nge-throwback  kenangan masa lalunya nanti aja. Malem ini belajar dulu lah, hahahaha. Oh iya, nggak lupa gue ucapkan terimakasih sebesar-besarnya buat si merah (a.k.a kacamata) yang udah nemenin gue nyaris 6 tahun. Tanpa lu, mungkin gue nggak ada disini sekarang. Tengkyu buat kerjasamanya bro, sampai berjumpa di alam dengan dimensi yang berbeda

See yaa..

120 Dollar per Jam

Tugas yang menumpuk dan UAS yang udah di depan mata emang meningkatkan kadar kejenuhan dengan drastis. Tadi pagi gue memutuskan untuk cabut dari kosan dan nongkrong di tempat makan. Gue orangnya gampang bosen dengan suasana yang monoton walau kamar gue udah nggak kaya kamar karena banyak poster disana-sini. Akhirnya gue ngepak barang-barang gue, buku, laptop dan segala macem buat migrasi ke tempat makan.

Begitu sampai destinasi, gue langsung memastikan meja yang deket sama steker listrik kosong. Lalu gue pesen sarapan dan kopi, lalu membuka laptop gue, buat ngerjain tugas. Gue nggak jarang kayak gini, gue terkadang butuh “me time” buat ngecharge energi gue. Kayak kata tante Marti Olsen Laney “…like a rechargeable battery; they need to stop expending energy and rest in order to recharge.”

Gue sering bosen aja kalau harus berada di tempat yang sama terus-menerus. Akhirnya mood gue jadi nggak oke dan produktivitas menurun. Dengan ganti suasana seenggaknya mood akan membaik dan dengan ngabisin waktu sendiri terkadang gue bisa jadi lebih menikmati dan merefleksi diri.

Kira-kira setelah jam makan siang, gue dapet sms dari temen gue yang ngajak ke rumah dosen. Jadi ceritanya tadi sore kita mau ngasih asistensi ke junior. Tapi ada materi yang belum kita kuasain banget (tentang geotextile dsb) akhirnya kita memerlukan bimbingan dari dosen secara langsung.

Rumah Dosen gue yang mau didatengin letaknya di Dalem Wangi, daerah Dago Atas gitu. Rumahnya asik banget. Ketika masuk gerbang rumahnya, kita harus ngelewatin semacam jembatan kayu gitu buat bisa mengakses pintu utama. Sangat menarik. Nggak berhenti di situ aja, ketika masuk ke dalem rumahnya dan ke bagian tengah rumahnya. Men! Ada opening yang cukup besar di bagian belakang rumah dan lu bisa liat pemandangan yang super duper keren. Hutan pinus men!! Ini udah kayak villa gitu aja. Gue mungkin nggak akan pergi kemana-mana kalau punya pemandangan sebagus ini di rumah.

Well, gue ke rumah beliau bukan untuk tour keliling-keliling rumah sih. Gue disana buat dapet short course soal geotextile. Yang paling luar biasanya adalah: Beliau mau nerangin gue dan temen gue, latin, soal materi perhitungan dan analisis geotextile yang baru dimunculin tahun ini. Bahkan nyiapin infocus segala macem buat nerangin kita, padahal Beliau lagi sibuk ngerjain proyek. Setelah nyaris satu jam dapet short course dari beliau, kita izin balik ke kampus. Men, ini lumayan banget kita dapet short course dari beliau selama 1 jam. Kalau profesional dapet course gini biasanya per jam nya 120 dollar!! 

Nah pulang dari sana pas di motor dan kehujanan gue baru nyadar kalau jadi mahasiswa itu enak. Kenapa? Kita bisa dapet kuliah dari orang-orang keren dan profesional dari Pak Bigman gini. Kita bisa nanyain apapun yang kita mau. Harusnya kita manfaatin ini baik-baik, selama masih ada kesempatan. Karena kalau lulus nanti, nggak gampang deh bisa ketemu mereka buat dapet sekedar short coursenya dan lain sebagainya

Pelajaran yang gue dapet hari ini adalah:Selama kita masih di kampus, ini lah saatnya kita mendulang ilmu sebanyak-banyaknya

Men dan di kampus gue, ada semacam tugu atau prasasti yang namanya Plaza Widya disana tertulis serangkaian kata yang sangat menyentuh. Ini tulisan di tugunya:

Tempat ini diberi nama

PLAZA WIDYA NUSANTARA

supaya kampus ini menjadi tempat anak bangsa menimba ilmu, belajar tentang sains,seni,dan teknologi;

supaya kampus ini menjadi tempat bertanya ,dan harus ada jawabnya;

supaya kehidupan di kampus ini membentuk watak dan kepribadian;

supaya lulusannya bukan saja menjadi pelopor pembangunan,tetapi juga pelopor persatuan dan kesatuan bangsa.

Stanford University, Cita-Cita Masa Lalu

Dulu pas SMA, gue pengen banget bisa lanjut S2 di Stanford, Yep Stanford University men yang ada di jantungnya Silicon Valley, San Francisco.

stanford

Tapi nggak tau kenapa, karena berbagai alasan dan asumsi. Akhirnya cita-cita gue buat lanjut ke sini udah nggak sekuat dulu. Nggak tau kenapa gue pengen lanjut ke Belanda atau Jepang akhir-akhir ini. Tapi gue masih seneng aja kalau liat huruf S merah dan pohon pinus ini. Gue juga masih seneng banget liat Commencement Speechnya Steve Jobs di Stanford kalau lagi nggak semangat. (Commencement Speechnya super duper recommended untuk didengerin lah https://www.youtube.com/watch?v=UF8uR6Z6KLc )

Dulu sebelum masuk Sipil, pas gue TPB, gue nggak sengaja baca brosur Sipil ITB yang ada nama dosen-dosen serta almamater mereka. Waktu itu gue baca kalau ada salah satu dosen Sipil yang lulusan Stanford University. Waktu itu gue seneng banget, seolah-olah Stanford udah beberapa milimeter lebih dekat dari gue. Dan hari ini gue foto bareng sama salah satu alumni Stanford University, Pak Made Suarjana, dosen Rekayasa Struktur gue.

Kelas 1

Well, foto sama alumni nggak akan ngerubah apapun sih. Kalau mau ke Stanford ya harus mati-matian hahaha. Kalau ke Amerika ada GRE juga yang gue masih buta banget kayak apa. Tapi siapa tau sih, suatu hari nanti. Sebagai penutup ada quote lain dari Steve Jobs yang dikutip dari Commencement Speechnya di Stanford

“You can’t connect the dots looking forward you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future. You have to trust in something: your gut, destiny, life, karma, whatever. Because believing that the dots will connect down the road will give you the confidence to follow your heart, even when it leads you off the well worn path.”

-Steve Jobs, Stanford Commencement Speech 2005-

Kangen Berat sama Rumah

Gue kangen banget sama rumah men, udah lama gue nggak pulang. Entah kapan gue bisa balik, semoga minggu depan bisa pulang deh. Keluarga itu emang segalanya banget deh. Mereka selalu ada buat lu dalam keadaan apapun. Nyokap, Bokap, Kakak

Mereka orang yang pertama kali nerima gue apa adanya, sejak gue dilahirkan. Mereka orang-orang yang meluruskan gue ketika gue agak melenceng. Intinya keluarga itu selalu ada buat kita. Keluarga itu juga mood booster paling ampuh. Ketika lagi males-malesan belajar dan malah streaming film  coba deh liat foto nyokap atau bokap lu. Kita pasti bakal ngerasa tertampar dan tersadarkan. Seolah-olah foto itu berkata dengan lirih dan dramatis

“Nak, kamu udah di sekolahin jauh-jauh di kota tetangga, kok malah main-main gitu. Sejujurnya mama agak kecewa”

Yah kurang lebih kira-kira begitulah.Nyokap Bokap buat gue adalah orang yang paling nggak mau gue buat kecewa. Mereka nggak nuntut banyak dari kita tapi udah sepantasnya kita mempersembahkan yang terbaik yang kita bisa. Sekali lagi, yang kita bisa. Sedangkan kakak, buat gue adalah ukuran keberhasilan gue. Gue harus bisa kayak kakak gue. Paling nggak begitu.

Sayangnya gue nggak bisa menghentikan waktu. Waktu terus berjalan tanpa ampun dan mengubah momen-momen berharga kita jadi kenangan manis. Kenangan yang bikin kita senyum-senyum sendiri kalau mengingatnya, Kalau diingat-ingat masa kecil dulu. Gue dan kakak gue seneng banget rebutan nonton TV, main Sega, PC atau PS. Itu terjadi sejak gue SD sampai gue SMP. Bagian terasik dari semuanya ketika gue memenangkan remote TV, dapetin stick PS atau kursi komputer. Kalau jaman gue main Sega dulu, gue masih gaptek jadi butuh bantuan kakak gue. Jadinya gue nggak bisa rebutan-rebutan banget.

Buat yang nggak tau Sega, Sega itu konsol game sebelum zaman PS lah kira-kira. Kasetnya nggak pake CD gitu tapi bentuknya balok pipih gitu. Konsolnya kayak gini bentuknya

Sega Console

Konsol Sega

(Sumber : hardwarezone.com)

Dan salah satu game legendarisnya, karena gue sekeluarga main (termasuk Nyokap Bokap), adalah Kura-Kura Ninja alias Teenage Mutant Ninja Turtles. Dulu gue bahkan sama kakak gue sering rebutan pizza buat nambahin darah si jagoan yang kita mainin. Ini penampakan gamenya

Turtle Ninja

Turtle Ninja 1Game Teenage Mutant Ninja Turtles

(Sumber : taringa.net)

Wetsah, jadi salah fokus gini, malah ngomongin Sega gini. Yah intinya ini merupakan memori-memori indah masa kecil gue. Ketika gue main Sega dengan kakak gue sambil ditemani Nyokap Bokap yang sesekali ikutan main. Sekarang udah nggak ada lagi kayak gini. Kakak gue udah kerja di Bontang. Gue udah kuliah. Kalau lagi liburan, kita juga udah jarang banget main game. Playstation gue bahkan lupa disimpen dimana, apalagi Sega super jadul dan legendaris ini. Palingan kalau nggak ada kerjaan gue main game di PC yang udah nggak seasik dulu, karena nggak ada acara rebutan. Sesekali kakak gue mainin PC juga tanpa rebutan. Atau kita mainin laptop masing-masing di kamar.

Waktu emang ngerubah segalanya men. Sekarang kalau liburan gue bisa guling-guling di kamar bareng Nyokap aja udah seneng. Yang paling bikin gue pengen pulang ke rumah adalah guling-guling bareng Nyokap dan nungguin Bokap gue pulang buat makan malem. Dan yang paling gue kangenin dari kakak gue adalah ketika kita ngomongin mainan, browsing soal mainan dan cuci mata di toko mainan. Hahaha. Gue lagi super duper kangen rumah malem ini.

Semoga UAS cepet berakhir dengan memuaskan lalu gue bisa pulang dengan tenang dan penuh sukacita

fam“Keluarga adalah Semangat Gue untuk Terus Maju”

Petrea Volubilis

Nggak kerasa UAS udah mau dateng minggu depan. Kayaknya dari kemarin-kemarin gue ngomong nggak kerasa melulu. Tapi emang sih, semua terus berjalan, waktu terus berjalan. Tiba-tiba aja udah mau kelar semester tujuh.

Men, udah semester tujuh. Kayaknya belum lama gue menginjakkan kaki di kampus ini dan kebingungan nyari kelas matrikulasi. Untung waktu itu gue selalu bareng temen gue, satu fakultas dan sekosan pula. Kalau nggak kayaknya gue bakal give up di minggu kedua karena nggak kunjung hapal kelasnya dimana.

Dan kalau gue flashback beberapa tahun ke belakang. Kira-kira pas gue SMA kelas tiga. Waktu itu lagi semangat-semangatnya belajar buat dapet PTN idaman. Waktu itu gue emang pengen banget masuk sini. Yep, dari kelas 2 SMA gue udah pengen kuliah di kampus gajah duduk ini. Suatu hari, entah lagi ada momen apa, temen gue sebangku, Disti, bawa bunga ke sekolah. Gue waktu itu nggak tau bunga apa itu yang dia bawa. Bunganya kecil-kecil gitu. Dia bawa beberapa tangkai bunga dan di setiap tangkai itu bunganya bergerombol banyak.

Terus dia petik satu buah bunga dari tangkai dan dijatuhin ke bawah. Awalnya gue bingung temen gue ini mau ngapain. Dan ternyata ketika bunga itu jatuh kebawah, bunganya berputar dramatis kayak kincir gitu, pelan..pelan.. sampai dia jatuh. Waktu itu gue takjubnya setengah mati. Well, gue emang suka takjub sama hal-hal trivial kayak gini.

“Gila, keren banget Dis”

Gue lupa, tapi kurang lebih itu yang gue ucapkan. Dia bilang kalau dia bawa bunga itu dari rumahnya, Yah terus? Terus dia bilang lagi kalau kita bisa nemuin bunga yang sama di Gerbang ITB. Waktu itu gue nggak tau Gerbang ITB ada bunganya di sebelah mana. Tapi nggak tau kenapa seneng aja dan berharap gue bisa cepet-cepet ketemu bunga itu lagi ITB. Mungkin karena muka gue yang keliatan terobsesi banget sama bunga itu atau gimana. Disti bilang gue boleh ambil semua bunga yang dia bawa. Karena tingkat keluguan gue masih tinggi, gue percaya kalau gue nyimpen bunga itu kesempatan gue buat ketemu sodara-sodara bunga itu di ITB akan meningkat. Sangat naif dan nggak masuk akal, hahahaha, tapi nggak papa. Akhirnya gue simpen bunga itu di loker gue, di kelas. Gue rasa bunga itu bersemayam disana berbulan-bulan. Sampai jadi kering.

Sampai waktu gue keterima di ITB, gue masih nggak tau itu bunga namanya apa. Dan saat gue ngeh pertama kali akan kehadiran bunga itu di gerbang kampus. Gue jadi terharu. Men, gue beneran terharu waktu itu. Akhirnya gue bisa ngeliat bunga itu lagi. Bertahun-tahun berlalu, gue nggak kunjung tau itu bunga namanya apa. Tapi bunga itu punya kenangan tersendiri buat gue.

Gerbang ITB

Gerbang Depan ITB

(Sumber : http://www.sp.itb.ac.id)

Sampai akhirnya malam ini, misteri yang berlangsung selama bertahun-tahun ini terungkap juga!! Nama bunga itu Petrea Volubilis men!! Nih, bunganya kalau dizoom

Petrea Volubilis

Petrea Volubilis

(Sumber : Hafiz Isaadeen)

Suatu hari, gue pengen ngajak temen gue itu liat bunga ini di depan gerbang Ganesha dan bilang

“Dis, ini bunga yang lu bilang waktu itu. Ternyata beneran ada dan bisa muter

Wahahaha tapi nggak bisa sih gue, jadi sok dramatis gitu di depan temen gue. Tapi yang jelas, ini buat refleksi gue malem ini aja. Kalau gue udah dikasih kesempatan ketemu bunga ini di kampus gajah duduk. Kalau gue buang-buang waktu percuma sayang aja. Oleh karena itu, gue harus semangat UAS besok.

Kadang sekedar duduk dan mengingat tahun-tahun kebelakang bisa bikin kita semangat lagi. Seenggak mengingatkan kita kalau kita pernah punya semangat itu. Kita yang dulu penuh semangat, nggak ada bedanya dengan diri kita yang sekarang. Kita masih tetap orang yang sama dan juga masih menginjak bumi yang sama. Lalu kenapa semangat itu kendur?

Hidup emang nggak selamanya berlari, kadang kita butuh waktu untuk duduk dan merefleksi diri. Tapi setelahnya kita harus bangkit dan lari kembali. Atau mungkin terbang, bebas, seperti elang. Selamat malam buat jiwa-jiwa yang terjaga.