“Gue menyeruput asupan kafein ketiga gue hari ini sambil menunggu hujan. Nggak tau pukul berapa nantinya hujan akan reda. Pekatnya piccolo menemani malam gue di Jakarta. ya gue menghabiskan malam di Jakarta hari ini. Lalu besok, setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan, gue akan kembali ke Bogor. Akhir pekan lalu gue habiskan di Bogor, melepas penat sekaligus mendapat kunjungan seorang sahabat. Entah akhir pekan ini akan dihabiskan di Bogor atau di Padang. Baterai laptop gue sudah nyaris mencapai limitnya dan hujan di luar nggak kunjung reda.”
Kemang, 27 April 2017, malam hujan
“Cuaca sangat cerah hari ini, gugusan pulau-pulau terlihat dengan sangat jelas dari ketinggian 3000 meter. Menjadi penghibur gue yang tetap harus bekerja di akhir pekan. Lagipula, nampaknya nggak akan lama lagi gue bisa menikmati gugusan pulau di pantai barat Sumatera yang indah ini dari ketinggian. Proyek gue nggak lama lagi akan selesai dan beberapa bulan yang lalu sebetulnya gue juga udah diminta balik ke Jakarta. Padang pastinya akan menyisakan memori tersendiri buat gue. Sambil menyeruput kopi dingin gue terus menatap ke luar jendela, di sebelah gue ada seorang nenek dan cucunya. Si cucu bercerita asik tentang rencana liburannya. Mengingatkan gue akan eyang gue di Solo.”
Di atas Pantai Barat Sumatera, 29 April 2017, menjelang senja.
“Tak ada cafein intake hari ini, tapi gue masih juga terjaga. Tinggal beberapa menit lagi hari akan berganti. Besok sore gue akan kembali ke Jakarta lagi.”
Padang Utara, 30 April 2017, nyaris berganti hari.
***
Waktu berlalu dengan sangat cepat, tinggal menghitung hari sampai proyek ini berakhir. Sudah satu tahun lebih kami berjuang untuk proyek ini. Sudah satu tahun juga gue bolak-balik Padang-Jakarta. Ya, Padang. Kota yang awalnya asing buat gue, kecuali rasa sate padangnya yang merupakan salah satu makanan favorit gue. Sebagai pendatang yang ngehe mulanya gue masih membanding-bandingkan kota ini dengan Jakarta atau Bandung atau Bogor. Padahal kota ini cukup asik lho
1. Although there’s no common minimarket chains like ind**maret, alf**art, sev** ***ven Padang punya minimarket-minimarket lokalnya sendiri. Nah salah satu masalah gue ketika dateng ke Padang adalah gue nggak menemukan minimarket kayak alfamart ataupun indomaret di kota ini. Well ternyata pemerintah kota setempat emang ngelindungin banget usaha warganya dari gempuran minimarket chain. Tapi tenang aja di Padang cukup banyak tersebar kok minimarket-minimarket lokal dan beberapa di antaranya ada yang buka 24 jam. Yah walaupun masih sedikit sih yang buka 24 jam.
2. Padang salah satu surganya kuliner. Beberapa pesan temen-temen gue ketika tau gue penempatan di Padang adalah: “makannya dijaga ya Bil” atau “Jangan makan santen-santenan terus ya Bil”. Well, masakan padang adalah salah satu masakan yang gue kira bisa diterima secara universal buat lidah orang indonesia. Sate Padang, Rendang dan aneka gulai-gulaian, ikan bakar padang, lontong pical, soto padang adalah beberapa favorit gue. Jadi kalau soal makanan di Padang sih bukan masalah, tapi tetep harus diperhatiin juga sih kolesterol kita. Gue sih berusaha banget membatasi asupan santen-santenan disini.
3. Padang udah punya XXI pertamanya, dan rencananya tahun ini akan dibuka XXI yang kedua. Ketika gue akan menginjakkan kaki di Koto Padang ini seorang temen kuliah gue pernah bilang ‘Semangat ya Bil! Nggak ada Bioskop disana’. Dan emang bener, ketika gue tiba di Padang April tahun lalu, Padang belum punya bioskop. Seorang rekan gue di proyek lain, yang hobi nonton, bahkan sampe pulang ke Jakarta setiap ada film bagus. Tapi tenang aja, akhir tahun lalu Padang udah ngebuka XXI pertamanya dan rencananya tahun ini akan di buka XXI yang kedua.
4. Public Transportation yang memadai dan era transportasi online sudah dimulai. Padang punya Trans Padang, yang rutenya disepanjang jalan protokolnya. Taksi-taksi kayak blue bird, express, kosti dkk juga banyak berseliweran di jalan-jalan. Ada juga angkot-angkot yang gue kira drivernya terilhami sama fast and furious atau suka main need for speed karena super ngebut. Dan yang paling membahagiakan gue yang seorang pendatang ini adalah: Gojek udah ada di Padang men! Seenggaknya gue jadi nggak tergantung sama orang lain kalau mau kemana-mana. Atau kalau gue lagi buru-buru. Atau kalau gue mau melarikan diri sejenak errr
5. Tempat ngopi-ngopi dan tempat melarikan diri? Ada dong! Tenang, kalau lagi jenuh dan butuh tempat melarikan diri Padang punya kok kedai-kedai kopi lokal yang bisa dijadikan tempat nongki berlama-lama atau kalau mau kerja tapi dengan suasana yang berbeda. Disini ada coffee shop chain local kayak excelso dan coffee toffee, dan beberapa local coffee shop yang recommended. Mereka adalah tempat pelarian gue kalau wifi di proyek lagi mati, karena berbagai hal gue harus terus online #alasan
6. Food Delivery Available. Kalau lagi di kosan mager kemana-mana, nggak ada yang ngajakin makan err atau tengah malem tiba-tiba butuh asupan nutrisi for our cute belly? Fast food chain juga ada kok disini dan bisa delivery 24 jam. Berita bahagianya lagi, GoFood juga udah ada di Padang berbarengan sama masuknya GoJek di sini. Jadi kalau mau delivery nggak melulu fast food, kita bisa menikmati local food padang cukup dengan sentuhan jari kita wkwk.
7. Stunning scenery. Sumatera barat terkenal dengan kondisi alamnya yang stunning abis. Kalau kita liat dari atas pesawat kita bisa ngeliat betapa luar biasanya bukit barisan yang membentang dari selatan sampai utara Sumatera. Well kalau mau menikmati keindahan alam Sumbar kita perlu agak melipir keluar kota Padang, jalan ke arah Bukit Tinggi misalnya. Kita bisa ngelewatin Lembah Anai dengan hutan tropisnya yang kece atau kelok 44 yang super keren. Kalau pengen muter-muter di Padang? Padang punya Taplau dan daerah Muara Batang Arau yang rame banget kalau weekend. Pantai Padang deket banget dengan pusat kota, tiap weekend Pantai Padang ini selalu dipenuhi oleh wisatawan. Terus kalau kita jalan terus ke arah selatan kita bakal ketemu sama Muara Batang Arau. Disini kita bisa melihat banyak kapal-kapal yang lagi bersandar. Di dekatnya juga membentang Jembatan Siti Nurbaya yang ramai kalau malem.
Ketika menulis ini gue sedang menunggu di salah satu kedai kopi di Kota Padang sambil menyeruput secangkir espresso con panna. Tinggal beberapa menit lagi sampai gue diantar ke bandara.