Jeda

Gue rasa kadang manusia butuh jeda. Hidup nggak selamanya terus berlari kan ya, nggak selamanya juga terus berjalan. Kadang kita butuh berhenti sebentar to figure out everything.

Tapi kadang kalau terlalu lama berhenti, gue jadi berpikir dalam-dalam tentang banyak hal. Semacam mengkhawatirkan masa depan. Katanya manusia emang punya kecenderungan buat mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi. Yang gue tau ini nggak baik.

Entahlah, sepertinya gue sekarang ada di zona nyaman gue. Gue nggak tau juga akan ada di zona ini berapa lama. Katanya berada di zona nyaman terlalu lama itu berbahaya. Entahlah. Tapi yang jelas kalau mau melangkah keluar dari zona itu harus hati-hati juga kan.

Belakangan gue sering bosan dengan playlist-playlist di Spo**fy gue. Ketika gue jenuh, gue lebih suka dengerin Podcast. Entah itu di kantor atau di perjalanan pergi dan pulang kantor. Selera musik gue juga mengalami pergeseran, belakangan gue entah kenapa gue jadi suka dengan musik jazz.

Seperti kebanyakan mereka yang berada di pertengahan usia 20, banyak hal yang gue pikirkan sekarang. Tapi gue percaya kalau semua akan terjadi sesuai takdirnya. Kita manusia toh hanya bisa merencanakan dan mengusahakan.

Gue juga percaya bahwa entah dimana pun dia sekarang. Gue yakin kalau kita bakal ketemu orang yang tepat di waktu yang tepat. Siapapun dia. Yang jelas saat ini gue perlu mempersiapkan diri. Karena kedepannya tanggung jawab pasti akan semakin berat. Jadi banyak yang harus dipersiapkan.

Well, belakangan gue suka banget liat senja. Indah banget komposisi warnanya dan apapun di sekitarnya jadi keliatan cantik. Entah kenapa kalau ngeliat matahari terbenam gue jadi ngerasa tenang dan damai. Senja menunjukan kalau waktu berganti dan apapun yang ada itu akan berubah. Gue, lu, dia dan mereka semua akan berubah. Tapi yang jelas senja menunjukan kalau siang akan berganti malam. Dan malam adalah waktu untuk beristirahat sejenak dari apa yang sudah kita upayakan di siang hari.

“And it is He who has made the night for you as clothing and sleep [a means for] rest and has made the day a resurrection.” Quran 25:47

Jakarta, beberapa menit setelah senja.

Adios Geotechnical Engineering

Menikmati senja di Seminyak adalah hal yang nggak bisa gue lewatkan ketika gue berkunjung ke Bali. Sejak beberapa tahun yang lalu, tempat ini jadi salah satu favorit spot gue buat hunting sunset.

Beberapa waktu yang lalu gue dan 2 orang temen gue baru aja menyelesaikan paper kita. Well, 2 orang temen gue ini, Fitri dan Latin sama-sama anak Geotek ketika kita kuliah dulu. Kebetulan beberapa waktu yang lalu ketika kita ngobrol bareng kita nemu informasi tentang konferensi geoteknik gitu. Akhirnya kita mutusin buat ngejajal konferensi ini dengan bikin paper. Buat gue ini paper perdana gue dan (kayaknya) bakal jadi paper terakhir gue di bidang geoteknik. Kita bertiga saat ini sama-sama kerja di kontraktor, walau di perusahaan yang berbeda. Well, beruntungnya Latin punya kenalan dosen ketika S2 dulu dan akhirnya paper kita dibimbing oleh beliau. Pak Hendra Jitno yang saat ini berdomisili di Brisbane. Jadi kita memyempatkan bertemu beliau sebulan sekali ketika beliau lagi di Jakarta. Alhamdulillah, akhirnya paper kita lolos screening dan diinvite untuk presentasi di Bali minggu lalu.

Di conference kemarin kita ketemu banyak expert geotek, baik dalam maupun luar negeri. Mereka ini sangat humble sekali untuk sekedar berdiskusi dengan remahan doritos kayak gue. Sebagian besar akademisi dan sisanya adalah praktisi-praktisi. Udah lama gue nggak merasakan vibes pergeoteknikan ini, karena saat ini sebenernya gue udah nggak fokus di spesialisasi ini lagi. Hanya karena dua orang temen gue itu (yg keduanya masih fokus di geoteknik) akhirnya gue diajak bikin paper bareng. Gue rasa sense of geotechnical engineering gue juga udah agak luntur dan nggak setajam dulu. Sepertinya setelah ini gue juga akan menyebrang spesialisasi, sebenernya nggak menyebrang sih, cuma pindah fokus spesialisasi aja.

Seperti tulisan gue dulu Between a Jack or a King, gue tetep mau jadi seorang specializing generalist. Alasan gue pindah fokus spesialisasi sebenernya karena saat kerja ini gue lebih banyak berkecimpung di construction management. Dan sekitar 2 tahun ini gue lebih fokus di BIM. BIM ini menurut gue juga menarik untuk didalami karena memiliki bahasan yang sangat luas. Implementasi BIM di Indonesia sendiri juga terbilang masih dirintis sehingga masih banyak hal yang bisa dipelajari dan dikembangkan.

Sebagai penutup, gue mau menyisipkan quote yang sering disampaikan oleh para geotechnical engineers dan structural engineers

“Earthquakes don’t kill people, buildings do”

Well, jadi sebenernya yang mendatangkan bahaya adalah inadequate designed and poorly constructed building. Both the designer and contractor have important role here. Gue rasa ini yang harus selalu diingat oleh kedua belah pihak.

Selamat Malam dari Jakarta Selatan

Interlude #4

Whoooooah, it’s been a while. Post terakhir gue di Maret 2018, kira-kira setahun yang lalu. Udah lama juga ya. Setelah setahun hiatus, gue cuma mau nulis interlude yang lain hari ini. Sebetulnya gue selalu berharap gue rajin nulis disini, tapi belakangan gue lebih memilih bullet journal gue untuk menulis hal-hal yang kelewat personal.

Banyak hal yang terjadi setahun ini,

Alhamdulillah bisa ke Mekkah dan Madinah bareng nyokap bokap, salah satu point yang ada di bucket list gue tercentang. Baru selang beberapa bulan berlalu gue sudah merindukannya. Suasana menunggu waktu sholat tiba sambil mendengarkan suara adzan yang sangat syahdu. Bertemu dengan saudara2 muslim dari belahan bumi lain yang dengan ramah menawarkan menu berbuka puasa mereka kepada kami.

Salah satu kedai kopi favorit gue tutup beberapa bulan lalu. Sedih juga, padahal tempat ini selalu jadi tempat pelarian gue sejak tahun 2016. Tempatnya sepi dan comfy, bikin gue betah berlama-lama disana buat nulis atau baca. Setelah kedai kopi ini tutup gue mencari lagi kedai kopi yang serupa, namun sampai sekarang gue belum menemukannya.

Beberapa bulan ini gue mulai rutin olahraga, sejak sempat off sejak masuk kuliah dulu. Gue coba untuk rutin renang, jogging dan sepedaan. Sepertinya triathlon menarik juga. Tapi gue belum seserius itu sih, untuk saat ini gue olahraga cuma untuk jaga kesehatan tubuh gue dulu aja. Dan lagi untuk triathlon cukup banyak gear yang harus disiapkan wkwkwk.

Gue tinggal 3 hari 2 malam di atas boat, yep mengapung-apung di lautan ketika gue ngetrip ke Labuan Bajo beberapa minggu lalu. Pengalaman ini cukup menarik buat gue yang kurang adventurous ini. Kita island hopping dari satu pulau ke pulau lainnya, snorkeling, ngejar sunset dan lari dari hiu (gue aja sih, temen gue yang lain santai). Keren abis memang Indonesia ini.

Mulai mempersiapkan rencana gue untuk ambil S2, gue lagi mempersiapkan hal yang paling dasar sih: IELTS preparation. Setelah bekerja kurang lebih 3.5 tahun ini, gue mulai mendapatkan sedikit gambaran tentang fokus studi yang akan gue ambil. Gue belum berencana untuk ambil tahun ini sih karena gue belum persiapan sama sekali. Dan rencana gue sementara ini masih akan tetap jadi praktisi dulu pasca S2 nanti.

Kedepannya sepertinya gue akan mulai rutin menulis lagi. Sebulan sekali barangkali. Yang jelas gue masih akan merawat blog ini.

Interlude #2

Pagi, well sudah 2 minggu berlalu sejak post terakhir. I’ve already given up my caffeine intake now, so, good bye my sweet caffeine. Terakhir gue ngopi, pas di Pontianak, kopi susu nya Kopi Aming yang udah melegenda disana. Rekomended abis! pokoknya kalau lu ke Pontianak, harus coba. Kafeinnya super strong dan rasanya mantap. Oh iya alasan gue mengurangi kafein intake gue banget karena belakangan gue sering sakit kepala kalau habis ngopi, yah kayaknya gue aja sih yang over kafein wkwkwk. Selain itu kopi favorit gue juga semacam latte dan saudara-saudaranya, yang mengandung susu dan gula, jadi ya nggak baik juga kalau dikonsumsi terlalu sering. Karena itu juga akhirnya gue memilih untuk mengurangi caffeine intake gue secara drastis dan gue menyerah untuk JCM tahun ini hahaha. Untuk sementara ini gue mah mengkonsumsi minuman yg lebih sehat lah.

Terus minggu ini, selama beberapa hari kemarin, gue diminta kantor gue untuk ikut pelatihan di Bandung. Yah happy lah, karena seminggu full gue di bandung, sedikit nostalgia di kota kembang, walau nggak semua tempat bisa disambangi. Tapi, harus diakui juga walau tetep ngangenin, Bandung rasanya mulai berubah, karena orang yang gue kenal satu persatu udah merantau dari kota kembang ini. Disana gue ketemu beberapa temen juga, dari yang ngomongin hal receh, kerjaan sampai yang nyemangatin gue buat lanjut sekolah lagi (?). Yah, iya sih, gue kayaknya belakangan terlalu terdistrak sama kerjaan gue, sampai gue lupa akan hal-hal kayak gitu. Walau dulu sempat gamang apakah gue akan lanjut sekolah lagi atau langsung kerja ketika gue lulus, tapi menurut gue pilihan gue buat cari pengalaman dulu adalah pilihan yang terbaik. Well, tentu tiap orang punya tolok ukur dan rencana yang berbeda.

Gue balik dari Bandung kemarin siang, lalu langsung disambut hujan ketika sampai di Jaksel. Malamnya gue pergi ke rumah seorang teman yang akan melanjutkan studinya ke luar, bertemu beberapa teman seangkatan juga. Lalu mulai mengobrol-ngobrol lagi tentang rencana mengambil master. Salah satu hal yang membuat gue termotivasi lagi untuk ngejar master, ya kalau ketemu temen-temen gini. Nggak terasa ini udah tahun kedua sejak gue wisuda, dan sebagian temen-temen gue udah tersebar di berbagai benua.

Kalau sesuai dengan rencana awal, harusnya nggak lama lagi gue udah harus persiapan, yah mulai menentukan akan mengambil apa dan dimana. Kemarin gue sempat diledekin nyokap gue, ketika lagi pelatihan geotek di Bandung dan gue ngeluh kalau gue pusing liat rumus-rumusnya yang terlalu advance. Hahaha, gue sendiri belum tau sih apakah gue akan ngambil geotek lagi kayak S1 dulu atau malah ambil manajemen proyek yang lebih general.

Yah kalau untuk saat ini, gue malah lagi terjebak di BIM. Walaupun agak berbeda sama yang gue dalemin pas kuliah, gue lagi mencoba untuk menyesuaikan diri sih, belajar lagi. Belakangan ini gue juga jadi terinspirasi banget sama Elon Musk, dia adalah salah satu contoh sukses expert generalist, jack all trades and master of some. Dia membuktikan bahwa dia adalah seorang jack all trades yang berhasil.

Yah balik lagi, ke kafein yang manis. Sejak gue nyetop caffeine intake gue, gue rasanya jadi unproduktif abis. Entah ada kerelasinya atau nggak. Tapi belakangan gue males banget buka-buka buku untuk sekedar baca iseng aja. Masih ada dua buku yang belum gue sentuh sama sekali. Menurut gue menjadi unproductive adalah salah satu cara untuk jadi productive. Gue mencoba untuk menjalani hari-hari yang unproductive sampai titik dimana gue bosen jadi unproductive. Well, sebetulnya nggak unproductive juga sih, cuma gue lagi nggak melakukan apa yang biasanya gue lakukan aja kayak pergi ke kedai kopi dan baca buku. Tapi belakangan ini gue mulai rutin olahraga lagi, gue mulai sadar kalau hidup emang harus balance.

 

Yah sekian interlude pagi ini, gue masih berhutang untuk ngereview buku sebetulnya. Tapi gue lagi malas sekali untuk baca buku atau sekedar review buku sementara ini. Selamat berakhir pekan.

Interlude #1

Kok rasanya dapetin mood untuk kerja malem ini agak susah ya, udah nyaris sejam ini gue masih mengotak-atik playlist Spotify gue nyari musik yang tepat buat dapetin mood. Yah, beberapa minggu ini gue skip banget nulis, kerjaan gue lagi agak hectic soalnya. Semoga pertengahan minggu ini bisa selesai sesuai target. Ada buku yang mau gue review lagi soalnya, yang ini rekomendasi dari temen gue.

Weekend ini gue menyempatkan short family outing sama nyokap bokap gue, nggak jauh-jauh kok, cuma ke Sukabumi, kota tetangga haha. Kita mau chillaxing aja sebentar, setelah weekend sebelumnya gue dan bokap gue mendadak diminta lembur di kantor. Sukabumi kemarin cukup dingin dan sore harinya kota sejuta mochi itu diguyur hujan.

IMG-20171029-WA0000

Sebetulnya ada beberapa hal yang mau gue tulis disini, tapi gue punya perasaan mengganjal kalau gue blogging dikala kerjaan gue belum kelar. Gue dapet beberapa inspirasi di tengah perjalanan gue ke Bandung dua minggu lalu. Oh iya kereta sekarang jadi moda favorit gue kalau ke Bandung, alasannya dua, yang pertama karena rute Jakarta-Bandung sekarang macetnya nggak ketulungan terutama di Bekasi, Cikarang sama Pasteur lalu yang kedua  karena pemandangan yang super stunning dari Jembatan Cisomang keliatan jelas banget kalau naik kereta.

Minggu ini semoga aja kerjaan gue segera kelar, dan bisa ke exhibitionnya Radhinal Indra. Ini salah satu exhibition yang udah gue tunggu dari bulan lalu. Dari beberapa review yang gue baca, seni yang dihasilkan Radhinal selama ini cukup dipengaruhi dari latar belakang keluarganya yang lekat dengan sains. Seru sih, gue liat sekilas mostly intallasinya berkaitan sama celestial objects, ini membuat gue teringat sama cita-cita ketika gue masih bocah yang pengen jadi astronom. Dan ini juga salah satu alasan yang membuat gue excited sama exhibition ini.

Anyway, next post gue akan mencoba membahas dengan singkat buku The Subtle Art of Not Giving a F*ck dari Mark Manson dan barangkali satu lagi posting singkat tentang Fa Mulan, salah satu tokoh Disney favorit gue hahaha, well, she’s a not a typical Disney princess.

Sekian Interlude malam ini. Selamat bertemu dengan hari Senin.

 

Daily Dose

Gue menyeruput asupan kafein kedua gue hari ini, kali ini dengan rasa lebih sedikit lebih pekat dibandingkan yang tadi siang gue dapatkan di ruang HCM. Setelah bertemu dengan beberapa fresh grad tadi siang, selain sedikit refreshing dengan mereka, gue jadi merasa lebih muda beberapa hari. Walau setelah itu kembali tersadar dengan pekerjaan yang agak menumpuk di meja gue. Gue pulang lewat senja, lalu kabur ke salah satu kedai kopi favorit gue, yang tak begitu ramai.

Belakangan gue mendapatkan banyak kabar bahagia, dua sahabat gue menikah bulan ini. Yang satu menikah minggu lalu di Garut, setelahnya gue mampir ke Bandung. Sedikit bernostalgia bersama beberapa teman kosan, makan di kaki lima tempat gue biasa makan bila pulang larut malam dari kampus. Tepat di dekat pertigaan menuju kampus, dengan udara malam bandung yang dingin sembari mengamati lampu-lampu kendaraan. Memang benar, bahagia itu sederhana. Keesokan paginya gue pergi lagi ke salah satu kedai makan di Sekeloa, yang nyaris semua teman sejurusan gue tau. Gue pergi dengan mantan teman-teman kosan gue, bersenda gurau mengenai hal-hal yang sangat receh. Rasanya gue nggak ingin hari berganti.

Minggu depan seorang sahabat gue yang lain akan menikah. Di Solo, tempat kita kerja praktik dulu. Gue dan dua orang teman gue akan pergi dengan kereta kesana. Salah satu sahabat diskusi paling mantap, yang banyak membaca dan menulis.

Lalu dua orang sahabat gue yang lain akan pergi ke Jerman beberapa bulan lagi. Gue merencanakan untuk bertemu mereka dalam waktu dekat. Keduanya orang hebat, satunya adalah kawan SMA sekaligus teman sekampus dan satunya teman sejurusan gue. Senang rasanya mendengar kabar akhirnya mereka bisa mendapatkan apa yang direncanakan selama ini.

Lalu tadi siang, gue pergi makan bersama kawan-kawan dari HCM yang secara random mereka menanyakan rencana gue kedepan. Yang jelas gue masih menunggu 2 tahun lagi dan saat ini gue masih mau menekuni apa yang gue kerjakan. Yah beberapa bulan ini gue sudah kembali menjadi pekerja kantoran, berangkat pagi dan pulang lewat senja. Tapi setidaknya saat ini gue bisa mengikuti kelas olahraga, lalu mencoba membaca-baca buku yang sempat terabaikan dan menyempatkan bertemu kawan-kawan yang sedang di Jakarta untuk mendapatkan kehidupan yang lebih seimbang.

Koto Padang: An Epilogue

Gue lagi menikmati libur di rumah siang ini. Oh iya gue sudah kembali ke ibukota sekarang. Jumat 19 Mei kemarin merupakan grand opening proyek gue. Setelah grand opening proyek, sesuai dengan kesepakatan yang udah ada, gue akan kembali bekerja di head office. So, it’s time to say good bye to Padang. 

Beberapa minggu terakhir di kota yang terletak di pantai barat Sumatera ini rasanya jadi sedikit melankolis juga. Ketika terakhir kali tiba di Padang beberapa minggu lalu, gue diajak keliling kota sama co workers gue. Kita keluar memang udah agak maleman sih, sekitar jam 9an kita baru keluar. Habis makan malem di Safari Garden yang cukup cozy di daerah Nipah (Anyway you should try their Rendang Pizza) kita memutuskan buat keliling-keliling kota Padang. 

Kita menyusuri chinatown-nya Padang di daerah Pondok, dengan banyak klenteng-klenteng dan bangunan-bangunan yang didominasi warna merah. Daerah ini termasuk salah satu hot spotnya Padang juga lho. Lu bisa nemuin banyak coffee shop dan cafe di sini, selain itu ada dua tempat legendary yang menjajakan es durian. 

Setelah selesai menyusuri chinatown kita bergerak ke arah pantai barat. Begitu kita keluar dari daerah Pondok menuju ke arah pantainya, kita langsung disambut sama gemerlap lampu-lampu kapal yang lagi bersandar di Muara Batang Arau. Sangat melankolis, perpaduan antara bangunan-bangunan tua di sekitarnya, tepi laut dan gemerlap lampu-lampu kapal. Daerah ini juga merupakan salah satu tempat favorit untuk berkumpul. Selain ada taman kecil yang berbatasan langsung dengan tepi laut, pedestriannya juga lebar dan tertata cukup rapi. Biasanya kita bisa mendapati remaja-remaja bermain roller blade disana.

Lalu kita melintasi jembatan Siti Nurbaya, jembatan legendaris yang cukup ramai dengan penjaja makanan di sepanjang sisi kanan kirinya. Kursi-kursi yang ditata berjajar menghadap arah laut juga mereka sediakan bagi para pembeli. Jembatan ini menghubungkan Kota Padang dengan Gunung Padang yang menjadi latar belakang novel yang ditulis oleh Marah Rusli. Sampai diujung jembatan tadi, kita memutuskan untuk berputar balik dan kembali menyusuri pantai barat Padang.

“Gue membuka jendela mobil dengan agak rendah, membiarkan angin laut menerpa muka gue. Kapan lagi, keluar jam 11 malam dan diterpa langsung oleh angin laut”

Kita terus menyusuri pantai barat hingga mencapai Taplau. Taplau malam itu terbilang cukup ramai. Gue mendapati beberapa pemuda yang menggunakan pakaian Persib. Rupanya baru saja ada pertandingan antara Persib dan Semen Padang. Well, Taplau ini selalu ramai di akhir pekan. Baik dari warga lokal maupun pelancong dari kota tetangga. Oh iya kalau kita kesini pagi-pagi kita bisa mendapati kapal-kapal penangkap ikan yang baru berlabuh.

In brief, malam itu gue cukup senang bisa mengelilingi kota Padang lagi sebelum balik ke Jakarta. 

Grand Opening proyek gue juga berjalan lancar. Feels like our effort had been paid off lah. 14 bulan yang lalu kita baru mulai land clearing. Lalu masuk ke tahap pemancangan dan bored pile yang penuh tantangan karena kondisi tanah yang didominasi pasir lepas. Lalu overlaping dengan pekerjaan galian yang sangat dipengaruhi oleh keadaan muka air tanah. Ketika masuk ke tahap pengerjaan struktur atas, kita mulai dihadapkan pada pasokan material dan cuaca. Pada fase pengerjaan atap kita dihadapkan pada keterbatasan lahan yang ada dan lagi-lagi cuaca. Hingga akhirnya masuk ke tahapan finishing.

Berada di proyek yang tergolong crash program seperti ini memang cukup menantang. Dan gue sangat berterimakasih kepada para manager dan co-workers yang sudah membimbing dan bekerja sama selama ini. Banyak pembelajaran yang gue dapatkan disini. 

Well, ini muka-muka bahagia pasca grand opening kemarin.

Thanks squad!! See you again

Terus kemarin juga accidently ketemu Pak Ishadi, dirut Trans Media pas gue lagi strolling around di GF. Sempat ngobrol sekilas dengan beliau, dia beliau tertarik mendengarkan bagaimana kita menyelesaikannya kurang dari 15 bulan. Walau udah senior beliau sangat antusias mendengar cerita kita-kita yang masih muda ini. Lalu, ketemu Pak M. Nuh juga, dulu gue inget banget beliau pas jadi menteri pernah sidak ke SMA gue di tahun 2011 ketika lagi UN. Time flies banget, kayak baru kemarin SMA wkwkwk.
Setelah grand opening kemarin beberapa hari kemudian gue meninggalkan Padang untuk kembali ke ibukota. Well, semoga bisa berkunjung ke Padang lagi.

Koto Padang di malam hari, mid April 2017

Koto Padang: A One-Year Memory

“Gue menyeruput asupan kafein ketiga gue hari ini sambil menunggu hujan. Nggak tau pukul berapa nantinya hujan akan reda. Pekatnya piccolo menemani malam gue di Jakarta. ya gue menghabiskan malam di Jakarta hari ini. Lalu besok, setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan, gue akan kembali ke Bogor. Akhir pekan lalu gue habiskan di Bogor, melepas penat sekaligus mendapat kunjungan seorang sahabat. Entah akhir pekan ini akan dihabiskan di Bogor atau di Padang. Baterai laptop gue sudah nyaris mencapai limitnya dan hujan di luar nggak kunjung reda.”

Kemang,  27 April 2017, malam hujan


“Cuaca sangat cerah hari ini, gugusan pulau-pulau terlihat dengan sangat jelas dari ketinggian 3000 meter. Menjadi penghibur gue yang tetap harus bekerja di akhir pekan. Lagipula, nampaknya nggak akan lama lagi gue bisa menikmati gugusan pulau di pantai barat Sumatera yang indah  ini dari ketinggian.  Proyek gue nggak lama lagi akan selesai dan beberapa bulan yang lalu sebetulnya gue juga udah diminta balik ke Jakarta. Padang pastinya akan menyisakan memori tersendiri buat gue. Sambil menyeruput kopi dingin gue terus menatap ke luar jendela, di sebelah gue ada seorang nenek dan cucunya. Si cucu bercerita asik tentang rencana liburannya. Mengingatkan gue akan eyang gue di Solo.”

Di atas Pantai Barat Sumatera, 29 April 2017, menjelang senja.

“Tak ada cafein intake hari ini, tapi gue masih juga terjaga. Tinggal beberapa menit lagi hari akan berganti. Besok sore gue akan kembali ke Jakarta lagi.”

Padang Utara, 30 April 2017, nyaris berganti hari.

***
Waktu berlalu dengan sangat cepat, tinggal menghitung hari sampai proyek ini berakhir. Sudah satu tahun lebih kami berjuang untuk proyek ini. Sudah satu tahun juga gue bolak-balik Padang-Jakarta. Ya, Padang. Kota yang awalnya asing buat gue, kecuali rasa sate padangnya yang merupakan salah satu makanan favorit gue. Sebagai pendatang yang ngehe mulanya gue masih membanding-bandingkan kota ini dengan Jakarta atau Bandung atau Bogor. Padahal kota ini cukup asik lho

1. Although there’s no common minimarket chains like ind**maret, alf**art, sev** ***ven Padang punya minimarket-minimarket lokalnya sendiri. Nah salah satu masalah gue ketika dateng ke Padang adalah gue nggak menemukan minimarket kayak alfamart ataupun indomaret di kota ini. Well ternyata pemerintah kota setempat emang ngelindungin banget usaha warganya dari gempuran minimarket chain. Tapi tenang aja di Padang cukup banyak tersebar kok minimarket-minimarket lokal dan beberapa di antaranya ada yang buka 24 jam. Yah walaupun masih sedikit sih yang buka 24 jam.

2. Padang salah satu surganya kuliner. Beberapa pesan temen-temen gue ketika tau gue penempatan di Padang adalah: “makannya dijaga ya Bil” atau “Jangan makan santen-santenan terus ya Bil”. Well, masakan padang adalah salah satu masakan yang gue kira bisa diterima secara universal buat lidah orang indonesia. Sate Padang, Rendang dan aneka gulai-gulaian, ikan bakar padang, lontong pical, soto padang adalah beberapa favorit gue. Jadi kalau soal makanan di Padang sih bukan masalah, tapi tetep harus diperhatiin juga sih kolesterol kita. Gue sih berusaha banget membatasi asupan santen-santenan disini.

3. Padang udah punya XXI pertamanya, dan rencananya tahun ini akan dibuka XXI yang kedua. Ketika gue akan menginjakkan kaki di Koto Padang ini seorang temen kuliah gue pernah bilang ‘Semangat ya Bil! Nggak ada Bioskop disana’. Dan emang bener, ketika gue tiba di Padang April tahun lalu, Padang belum punya bioskop. Seorang rekan gue di proyek lain, yang hobi nonton, bahkan sampe pulang ke Jakarta setiap ada film bagus. Tapi tenang aja, akhir tahun lalu Padang udah ngebuka XXI pertamanya dan rencananya tahun ini akan di buka XXI yang kedua.

4. Public Transportation yang memadai dan era transportasi online sudah dimulai. Padang punya Trans Padang, yang rutenya disepanjang jalan protokolnya. Taksi-taksi kayak blue bird, express, kosti dkk juga banyak berseliweran di jalan-jalan. Ada juga angkot-angkot yang gue kira drivernya terilhami sama fast and furious atau suka main need for speed karena super ngebut. Dan yang paling membahagiakan gue yang seorang pendatang ini adalah: Gojek udah ada di Padang men! Seenggaknya gue jadi nggak tergantung sama orang lain kalau mau kemana-mana. Atau kalau gue lagi buru-buru. Atau kalau gue mau melarikan diri sejenak errr

5. Tempat ngopi-ngopi dan tempat melarikan diri? Ada dong! Tenang, kalau lagi jenuh dan butuh tempat melarikan diri Padang punya kok kedai-kedai kopi lokal yang bisa dijadikan tempat nongki berlama-lama atau kalau mau kerja tapi dengan suasana yang berbeda. Disini ada coffee shop chain local kayak excelso dan coffee toffee, dan beberapa local coffee shop yang recommended. Mereka adalah tempat pelarian gue kalau wifi di proyek lagi mati, karena berbagai hal gue harus terus online #alasan

6. Food Delivery Available. Kalau lagi di kosan mager kemana-mana, nggak ada yang ngajakin makan err atau tengah malem tiba-tiba butuh asupan nutrisi for our cute belly? Fast food chain juga ada kok disini dan bisa delivery 24 jam. Berita bahagianya lagi, GoFood juga udah ada di Padang berbarengan sama masuknya GoJek di sini. Jadi kalau mau delivery nggak melulu fast food, kita bisa menikmati local food padang cukup dengan sentuhan jari kita wkwk.

7. Stunning scenery. Sumatera barat terkenal dengan kondisi alamnya yang stunning abis. Kalau kita liat dari atas pesawat kita bisa ngeliat betapa luar biasanya bukit barisan yang membentang dari selatan sampai utara Sumatera. Well kalau mau menikmati keindahan alam Sumbar kita perlu agak melipir keluar kota Padang, jalan ke arah Bukit Tinggi misalnya. Kita bisa ngelewatin Lembah Anai dengan hutan tropisnya yang kece atau kelok 44 yang super keren. Kalau pengen muter-muter di Padang? Padang punya Taplau dan daerah Muara Batang Arau yang rame banget kalau weekend. Pantai Padang deket banget dengan pusat kota, tiap weekend Pantai Padang ini selalu dipenuhi oleh wisatawan. Terus kalau kita jalan terus ke arah selatan kita bakal ketemu sama Muara Batang Arau. Disini kita bisa melihat banyak kapal-kapal yang lagi bersandar. Di dekatnya juga membentang Jembatan Siti Nurbaya yang ramai kalau malem.

Ketika menulis ini gue sedang menunggu di salah satu kedai kopi di Kota Padang sambil menyeruput secangkir espresso con panna. Tinggal beberapa menit lagi sampai gue diantar ke bandara.

Bukittinggi: A One Day Travel

Sore tadi gue disambut oleh rintik-rintik hujan ketika tiba di Halim. Ada yang beda dengan perjalanan Padang-Jakarta sore tadi karena gue ditemani Nyokap dan Bokap gue.

Seperti yang udah pernah gue bilang, gue belum sempat mengeksplorasi Padang semenjak gue dapet penempatan di kota ini April tahun lalu. Karena sampai akhir tahun lalu, gue lebih sering menghabiskan waktu gue di Jakarta karena meeting dengan owner dan beberapa urusan kontrak lainnya dilakukan di Jakarta. Gue baru mulai menetap di Padang awal Januari kemarin dan saat ini proyek gue sedang sangat hectic, sehingga gue belum sempat mengeksplorasi daerah-daerah di Padang dan sekitarnya. Lalu minggu kemarin Nyokap dan Bokap gue menyempatkan diri buat nengok gue, anak bungsunya, di Padang. Kebetulan Sabtu kemarin sedang Imlek juga dan gue meminta izin dari proyek. Well, dan akhirnya gue mengeksplorasi daerah di sekitar Padang bersama Nyokap Bokap gue.

Ketika gue dateng di Padang untuk pertama kalinya di tahun lalu, gue cukup kesulitan karena nggak menemukan Indomaret, Alfamart, 7 Eleven atau minimarket apapun yang biasa kita temui. Yang akhirnya gue tau kalau emang Indomaret atau minimarket chain yang umumnya ditemui itu nggak boleh masuk disini. Awalnya agak repot juga, karena kalau mau cari kebutuhan kecil-kecilan di tengah malam gue harus pergi ke minimarket yang cukup jauh dari proyek dan kos-kosan gue. Well, sampai sekarang cuma itu aja minimarket yang gue tau buka 24 jam. Tapi perjalanan gue sama Nyokap Bokap gue kemarin benar-benar membuka mata gue. Betapa Padang sangat menghargai usaha-usaha milik masyarakat lokalnya. Nyaris semua supermarket atau minimarket yang ada di Padang adalah milik lokal.

Kemarin kami memutuskan buat pergi ke Bukittinggi. Perjalanan kemarin menyenangkan juga karena kita dipandu oleh seorang lokal yang luar biasa, Pak Hendri. Si bapak bercerita mulai dari kisah adu kerbau antara Kerajaan Pagaruyung dan Kerajaan Majapahit yang akhirnya melahirkan nama Minangkabau dan juga minginspirasi arsitektur pada atap rumah gadang. Kita juga ngelewatin salah satu kecamatan dengan nama yang unik ‘2 x 11 Enam Lingkung’ dan Bokap gue meyakini bahwa nama itu pasti ada filosofinya. Sepanjang perjalanan si Bapak bercerita tentang hal-hal unik yang ada di Padang ini dan beberapa rekomendasi tempat untuk dikunjungi.

Destinasi pertama kita kemarin adalah Lembah Anai, disana lu bisa menemukan air terjun tepat disamping jalan Padang-Bukit Tinggi. Air terjun ini dikelilingi dengan hutan-hutan yang masih asri dan airnya jernih tentunya. Lalu di sepanjang Lembah Anai kita dikelilingi oleh kawasan cagar alam yang luar biasa dan disana kita bisa menemui rangkaian rel kereta yang dibangun dari masa Belanda. Namun rel kereta ini udah nggak digunakan lagi sekarang. Padahal menurut gue kalau rel kereta ini diaktifkan kembali, kita bakal disuguhi pemandangan yang luar biasa dari dalam kereta. Karena rel kereta ini menembus kawasan cagar alam. Sayang karena terlalu takjub sama kekerenan kawasan ini gue nggak sempet ngambil banyak foto disini.

Setelah Lembah Anai destinasi selanjutnya adalah Ngarai Sianok, kalau Ngarai Sianok ini letaknya di Bukittinggi. Yep Bukittinggi, kota kelahiran salah satu tokoh favorit gue: Bung Hatta. Ngarai Sianok ini semacam lembah dengan tebing-tebing yang sangat curam, luar biasa indah nyaris seperti pahatan. Di dekat Ngarai Sianok ini ada sebuah Lubang Jepang dan gue memutuskan untuk nggak turun ke dalamnya karena ratusan anak tangga yang harus ditempuh untuk sampai di bawah. Sebenernya nggak masalah untuk menuruni ratusan anak tangga, tapi masalahnya lu harus mendaki ratusan anak tangga juga kalau lu mau keluar dari sana. Well, di kawasan ini kita juga bisa menemui monyet-monyet yang udah jinak.

Destinasi terakhir kemarin adalah Jam Gadang dan yah sayangnya alun-alun Jam Gadang kemarin sangat ramai. Di luar ekspektasi gue yang membayangkan suasana alun-alun Jam Gadang yang sangat lengang. Di belakang Jam Gadang lu bisa menemui Pasar Atas dan tepat di seberangnya merupakan Istana Bung Hatta, bekas kediaman Bung Hatta dahulu.

 

 

Well, kalau soal kuliner di sana sih tenang aja. Di Bukittinggi lu bisa menemui Restoran Simpang Raya yang pertama dan juga Restoran Sederhana. Lalu di perjalanan Bukittinggi-Padang lu bisa menemui Sate Mak Syukur dan juga penjaja-penjaja bika yang dimasak pake kayu bakar.

Yah Padang emang berbeda dari Jakarta, mungkin agak susah untuk nemuin minimarket 24 jam dan nggak ada satupun Indomaret, Alfamart dkk karena disini mereka khawatir akan mematikan usaha-usaha para pedagang lokal. Di Padang juga nggak ada transportasi online tapi lu nggak nemuin kemacetan parah kayak di Jakarta di sini. Di Padang dan sekitarnya juga nggak banyak mall-mall bertebaran tapi Padang dianugerahi oleh kondisi geografis yang luar biasa. Yah gue rasa setiap daerah tentu punya kelebihannya masing-masing. Dan gue belum mengeksplor daerah ini seluruhnya, masih banyak tempat-tempat keren menanti. Well, nuhun Bukittinggi.

White Lily: A Final Adieu

“Hai Dek, gimana game lu udah tamat belum?” kalimat itu yang sering dilontarkan kalau kita berpapasan di koridor Sipil. Beliau adalah salah satu dosen favorit gue, dosen struktur, spesialisasinya di struktur kayu.

Gue bertemu pertama kali dengan beliau ketika TPB. Saat itu gue belum masuk Sipil, masih di FTSL, sekitar tahun 2012 awal kalau tidak salah. Gue ingat betul beliau hari itu menggantikan salah satu dosen Sipil yang nggak bisa hadir untuk mengajar. Begitu beliau masuk, gue langsung tertarik dengan cara mengajarnya yang menyenangkan. Sangat friendly sekali dengan mahasiswanya dengan gaya berbicaranya yang asik. Tapi tetap saja, gue selalu mudah terdistrak dan waktu itu gue agak berisik di kelas sepertinya, jadi beliau melemparkan pertanyaan ke gue secara mendadak. Karena gue nggak mempersiapkan apapun sebelumnya, gue menjawab sekenanya sambil sedikit bercanda. Itu pertama kalinya gue berinteraksi dengan beliau.

Lalu di semester berikutnya ternyata gue masuk Sipil dan kebetulan beliau mengajar salah satu mata kuliah yang gue ambil. Ternyata beliau masih ingat betul dengan gue yang sedikit nggak serius ini. Karena gaya mengajarnya yang santai dan asik namun sangat mengena, singkat aja beliau langsung menjadi dosen favorit gue, sangat favorit.

Beliau menjadi pengajar di beberapa mata kuliah yang gue ambil dan di akhir masa perkuliahan gue dulu, gue mengambil mata kuliah spesialisasi beliau: struktur kayu. Beliau juga lah yang dulu sempat membuat gue gamang ingin mengambil sub jurusan struktur atau geotek. Walau pada akhirnya gue memilih geotek.

Lalu sore tadi, sehabis meeting gue mendapat kabar mengejutkan di grup angkatan. Sejenak gue pengen kabur dari segala hiruk pikuk proyek, memori gue kembali berputar pada tahun-tahun gue kuliah kemarin, lorong-lorong Sipil yang hangat diterpa matahari di pagi dan sore hari. Berpapasan dengan beliau di koridor sembari bertegur sapa. Duduk di bangku kayu panjang memperhatikan beliau mengajar dengan gaya khasnya. Mendengar beliau bercerita dan bercanda tentang kondisi bangunan Prodi Sipil yang dipertahankan ke-heritage-annya.

Satu hal yang agak gue sesalkan adalah gue belum sempat menemui beliau lagi sejak gue pergi meninggalkan Bandung.

 

Selamat jalan Pak Dr. Ir. Saptahari Sugiri. Terimakasih atas segala ilmu-ilmu yang telah Bapak ajarkan pada kami semua. Semoga segala ilmu yang telah bapak ajarkan dapat menjadi amalan jariyah bagi Bapak. Aamiin.

ps. Just don’t ever forget that you’ll always be embossed in our memory Pak.