An Initial State

Udah nyaris sebulan nggak posting apapun disini. Sekarang gue udah stay di Padang. Finally, wkwkwk setelah proyek gue udah topping off, err persis kayak apa yang dibilang temen proyek gue 10 bulan yang lalu. Yah sebenernya baru seminggu sih gue disini. Baru sadar juga, ini postingan pertama gue di tahun 2017. Well, 2016 kemarin berlalu begitu saja. Tahun baru kemarin gue sekeluarga menghabiskan waktu di rumah, family time, tak ada agenda khusus di malam tahun baru. Rasanya pun nggak ada bedanya dengan malam-malam lainnya, kecuali letupan dan warna-warni kembang api yang terlihat jelas dari balkon rumah.

Satu hal kebiasaan gue yang kedengaran sangat klasik di malam tahun baru adalah bikin resolusi. Walau sangat klasik, buat gue tahun baru adalah suatu checkpoint. Resolusi gue nggak begitu banyak, nyaris masih sama dengan tahun-tahun kemarin.  Semoga tahun ini bisa stick to the plan, yah tahun 2016 kemarin gue anggap fase rehat lah setelah badai TA menghantam di tahun sebelumya wkwkwk.

Begitu tiba di Padang dan menyadari gue akan stay beberapa bulan disini, yang gue cari adalah kedai kopi yang bisa dijadikan tempat nongkrong berjam-jam kalau gue jenuh. Tapi sayangnya sampai seminggu disini gue belum nemu karena gue belum sempat ngeksplor kota ini, yah kecuali Excelso di The Axana err. Sebenernya gue udah dapet beberapa rekomendasi tempat ngopi dari Tripadvisor, tapi ya sekarang gue juga udah nggak sefleksibel di Jakarta kemarin. Habis meeting pagi, makan siang, terus kerja di kedai kopi sampai sore udah nggak memungkinkan banget untuk dilakukan disini. Karena proyek lagi hectic, gue baru bisa keluar dari proyek nyaris tengah malam. Sampai di kosan terkapar dan bahkan buku yang lagi gue coba selesaikan udah nggak sempet banget dibuka. Well, padahal salah satu resolusi gue tahun ini, memperbanyak asupan bacaan. Tahun lalu gue sempet beli beberapa buku yang sampai sekarang baru gue baca sebagian karena berbagai hal.

Karena nggak memungkinkan banget kabur dari proyek di weekdays, Minggu malam kemarin akhirnya gue mencoba kabur dari proyek dan mengeksplor sebagian kecil kota Padang. Thanks buat temen gue yang udah menetap duluan disini yang udah jadi tour guide yang baik. Yang menarik dari Padang adalah lu bisa liat deretan bukit sekaligus lautan. Di proyek gue sendiri, kalau lu naik ke Lantai tiganya, deretan bukit dan lautannya sangat jelas terlihat. Menghabiskan senja di lantai tiga juga kayaknya bakal meninggalkan rasa melankoli tersendiri. Dan ternyata naik motor malem-malem juga cukup asik disini apalagi kalau lewat Taplau alias Tapi Lauik (re : Tepi Laut) sambil diterpa angin laut gitu.

 

 

Nah salah satu tempat makan yang direkomendasikan temen gue di Padang adalah Karambia. Karambia sendiri artinya kelapa kalau dalam bahasa Minang. Tempatnya cukup besar dan yah lumayan juga lah interiornya. Salah satu menu yang unik disini adalah beberapa menu makanan yang disajikan pakai batok kelapa, kayak sup ikan, bakso dan beberapa makanan lainnya.

Sejauh ini gue belum sempat mengeksplor Padang karena kondisi proyek gue yang super duper hectic. Tapi gue cukup seneng sih lihat bangunan proyek gue yang udah keliatan bentuknya. Yah tinggal 5 bulan lagi, semoga semuanya berjalan lancar. Dan gue harap dua bulan lagi udah nggak sepadat ini jadwalnya. Tapi seenggaknya selama disini gue udah nemu beberapa tempat yang rekomended kalau mau menikmati kuliner. Kayak Lamun Ombak, Pauh Piaman, RM Rajawali dan beberapa tempat dengan nama yang ear catchy kayak Ganti Nan Lamo dan Iko Gantinyo.

Anyway, berada di rantau gini emang sering bikin kangen keluarga dan temen-temen lama. Beberapa waktu lalu geng KP gue juga habis meet-up-tanpa-gue karena satu orang temen gue baru aja pindah dari Bandung ke Jakarta. Dan yah gue harus mengikhlaskan mereka bersenang-senang. Yang gue kangenin kalau ngumpul dengan mereka adalah munculnya pikiran-pikiran radikal yang terkadang terjadi secara random.

 

 

 

After Reboot

When you said that you’re the ****est person ever, I just wanna say “Yes, you are”

Ah I just write that line randomly btw, don’t take it too serious.

Gue baru aja nyampe di Pejaten tadi pagi. Semalam gue balik dari Padang, tiba di Jakarta sekitar pukul 1 pagi. Ada beberapa pekerjaan yang harus dimonitoring di Jakarta. Lalu setelah ini gue akan kembali ke Padang, mungkin awal tahun depan.

Dan ini yang gue dapet hari ini, hasil “Jalan-jalan” ke workshop baja. Memastikan semua komponen terkirim dengan tepat ke site.

 

Proyek gue sedang hectic betul, beberapa hari kemarin ketika gue disana selalu pulang lewat pukul 12 malam. Pekerjaan struktur sudah nyaris selesai, hanya pekerjaan baja saja yang masih belum begitu signifikan. Padang masih dilanda musim hujan belakangan ini, tapi selain itu Padang dilanda musim durian juga. Ini yang paling gue tunggu-tunggu di Padang, yep datangnya musim durian. Sumatera terkenal akan duriannya yang mantap, beberapa waktu yang lalu gue sempat mencari durian di Bogor, sayangnya tak begitu bagus dan harganya masih cukup tinggi. Di Padang lu bisa menikmati durian sampai puas tanpa perlu merogoh kocek yang tinggi. Kalau lu mau menikmati durian di Padang, Desember-Januari adalah bulan yang tepat.

Gue belum bisa pulang ke Bogor malam ini, karena besok pagi masih harus memonitoring workshop di Cengkareng. Sayang sekali, padahal ingin cepat-cepat pulang, ketemu Nyokap yang dari kemarin udah nanyain terus. Semoga Nyokap gue nggak merasa kesepian di hari ibu kemarin, ketika dua orang anaknya terdampar di dua pulau yang berbeda. Happy mother’s day Mom! Please, don’t grow old.

Well, siang tadi selepas meeting di Lebak Bulus seorang sahabat gue, ngeWA gue soal Jembatan Cisomang di Cipularang. Setelah itu gue buka grup angkatan gue dan di grup itu udah ramai dibicarakan soal defleksi jembatan yang udah ngelebihin batas izinnya. Di grup OJT gue juga pembahasan om telolet om (errrr) kemarin sudah berubah jadi pembahasan Jembatan Cisomang. Tapi gue liat PU dan Jasamarga sudah langsung mengambil tindakan. Ah Jembatan Cisomang dan Cipularang padahal menjadi salah satu hal yang sangat gue rindukan. ketika lu melakukan perjalanan Jakarta-Bandung di pagi hari, lu bakal disuguhi pemandangan yang luar biasa disana. Super ngangenin. Well, kayaknya memang salah satu masalahnya adalah keadaan tanah disana yang sebagian didominasi oleh clay shale. Pak Masyhur pernah membahas beberapa kali tentang clay shale ini dalam kuliahnya dulu. Dan beberapa kali kejadian longsor di Tol Cipularang juga diakibatkan oleh tanah ini. Yah semoga bisa segera ditangani dengan baik.

Snap Back To Reality

Setelah bisa kabur sejenak dari proyek selama seminggu kemarin, akhirnya gue harus kembali ke realita.

Yah gue bakal merindukan menghabiskan senja hingga malam di Seminyak melupakan segala penat yang ada di Ibukota beberapa bulan ini

Btw, salah satu tempat yang cukup recommended di sana buat menikmati senja adalah La Plancha. Lu bisa menikmati senja sekaligus menikmati grilled seafood yang mereka sediakan apalagi ditambah saus chimicurrinya. Menjelang senja tempat ini super ramai banget. Kalau udah bosen diterpa angin laut, kita bisa pindah ke jantungnya seminyak di sekitar jalan Kayu Aya dan lu bisa nemuin apa aja disana. Dan kalau udah lelah jalan-jalan di sana, cukup mudah buat nemuin kedai-kedai yang menjajakan gelato.

Oke back to reality, jadi dari Senin kemarin gue diminta buat ke Site, di Padang. Cukup lelah juga karena pas balik ke Jakarta Jumat lalu, pesawat gue super delay. Sekitar jam 2 pagi gue baru tiba di Pejaten dan yah pagi-pagi sekitar pukul 8 gue berangkat lagi ke Bogor. Seorang sahabat gue nikah dan disana gue bertemu beberapa kawan lama gue. Minggu siang gue diminta Manager gue buat berangkat ke Padang hari Seninnya. Dan barusan Big Boss gue bilang supaya gue stay di Padang sampai selesai proyek. Errr tapi semoga masih bisa sering bolak balik Jakarta sih. Toh proyek gue juga tinggal sekitar 5 bulanan lagi.

Well, tapi selama keberjalan proyek ini gue juga belum sempat mengeksplorasi Padang sih, karena gue biasanya cuma stay paling lama 3 hari. Gue cuma tau beberapa tempat makan di Chinatownnya kayak Iko Gantinyo atau Ganti Nan Lamo. Namanya cukup catchy pas gue pertama kali denger dan lu bisa nemuin es durian disana. Yah semoga gue bisa survive dan menikmati Padang selama 5 bulan kedepan. Ada beberapa tempat-tempat yang pengen gue datengin juga kayak Pariaman ataupun Bukittinggi. Lalu beberapa bulan yang lalu XXI juga akhirnya udah masuk ke Padang, jadi nggak masalah lah wkwkwk. Yah walaupun beribu-ribu kilometer dari rumah gini sering bikin kangen Nyokap Bokap.

Ternyata 15 bulan itu rasanya cepet juga, nggak terasa proyek gue tinggal 5 bulan lagi. Nggak tau deh habis ini ditempatin dimana lagi, tapi 10 bulan ini memorable banget. Dapet project di luar Jakarta ternyata lebih complicated. Back and forth Padang Jakarta dan lain sebagainya.  Ini proyek pertama gue setelah OJT dan Big Boss gue sering banget ngasih wejangan. Well beliau super kebapakan, semoga sehat-sehat selalu Pak!

Awaken

Long weekend lalu semua berakhir dengan cepat, menembus kemacetan Jakarta di Jumat malam dan bertemu dengan teman-teman SMA di penghujung minggunya. Bernostalgia sejenak dan membicarakan rencana masing-masing. Satu di antara kami akan menikah Sabtu ini, satu sedang melanjutkan S2nya dan ingin menjadi guru, dan yang terakhir akan melanjutkan S2nya tahun depan. Terkadang gue merindukan masa-masa SMA tapi gue juga selalu penasaran dengan apa yang akan terjadi di depan.

Well, sementara saat ini gue sedang rehat sejenak dari Proyek, sudah nyaris seminggu ini sebenarnya. Beberapa waktu lalu seorang manager di divisi riset menghubungi gue, intinya meminta beberapa perwakilan untuk mengikuti training Plaxis. Mengetahui tempat pelatihan tersebut di Bali gue pun langsung mengiyakan dalam hitungan detik dan syukurnya proyek gue pun memberikan izin untuk gue selama seminggu.

Sejenak keluar dari hiruk pikuknya proyek. Dari perusahaan gue sendiri diberangkatkan 2 orang, gue dan kebetulan seorang senior gue 2009. Dan kebetulan lagi di tempat training gue bertemu dengan 2 orang HMS 2006 yang bekerja di IPC. Dan bersama tiga orang senior ini lah gue menghabiskan waktu selama di Bali.

Training Plaxis kali ini benar-benar merefresh ilmu geoteknik yang sudah gue biarkan hibernasi terlalu lama dan juga mengupdate informasi-informasi baru. Bahkan sudah lebih dari setengah tahun ini gue nggak pernah membuka Plaxis. Training ini sebenarnya adalah agenda tahunan yang digagas oleh PLAXIS, HATTI,  ITB, ITENAS dan TU Graz. Well pengajar-pengajar yang bersemangat dan materi-materi yang disampaikan di training ini cukup membuat gue termotivasi lagi untuk melanjutkan S2 gue di bidang geoteknik.

Karena padatnya jadwal pelatihan dari pagi hingga sore, kita cuma bisa mengeksplor Bali di malam hari. Yah walaupun kadang masih bisa mengejar sunset, karena pelatihan diadakan di Nusa Dua jadi agak memerlukan waktu juga kalau pengen pergi ke Kuta ataupun Seminyak. Di Seminyak sendiri ada beberapa beach bar sangat ramai menjelang sunset dan seafood yang disajikan juga cukup recommended. Well selain itu di sekitar Kuta ataupun Seminyak cukup mudah untuk menemukan kedai-kedai gelato kecil yang cukup menyegarkan di tengah panasnya Bali. Tapi pas kemarin disana sih Bali cukup sering diguyur hujan, walau nggak merata.

Lalu malam tadi gue kembali lagi ke Jakarta. Setelah satu minggu kemarin terlepas dari hiruk pikuk proyek, bertemu senior-senior sealmamater, mengupdate beberapa informasi geotek, dan mengeksplorasi Bali secara singkat. Menghabiskan malam di Seminyak sambil diterpa hembusan angin laut adalah salah satu hal yang akan gue rindukan. Well dan minggu depan gue akan mulai bekerja lagi.

Sekaranh sudah pukul 2 pagi dan gue masih dalam perjalanan ke Pejaten karena pesawat yang delay. Lalu besok pagi-pagi gue sudah harus pergi ke Bogor. Barusan saja gue melihat salah satu artikel yang dipost seorang teman gue, ada satu line yang menarik di pembuka artikel tersebut.

Most of us go through our days on autopilot, not really living, but merely existing”

Well, terkadang gue takut juga jika menjalankan hari-hari gue secara autopilot. Membiarkannya berjalan gitu aja atau membiarkannya terseret-seret angin. Dan pada satu titik gue mempertanyakan kenapa dan untuk apa gue disini. Tapi gue terlalu malas untuk berpikir malam ini. Gue sedang terlalu malas untuk berpikir dalam-dalam.

November Wind and A Time for Contemplation

“A cold November wind can cut right through your soul
Even leaves all hide away from the wind November blows
And after all the warmth of the summer and the fall
Cold November wind cuts the deepest of them all
Perhaps everything was swept away by a cold November wind” – Willie Nelson-

Well, udah nyaris quarter pertama bulan Desember,  November telah berakhir, badai tender sudah berakhir juga, sedikit sih, tapi proyek gue lagi kejar target banget. Tapi karena masih ada beberapa urusan disini gue masih stand by di Jakarta, errr di Pejaten lebih tepatnya, daerah dimana kita bisa tinggal lompat ke Kemang. Heil Kemang!! Kemang yang tidak nggak pernah tidur.

Belakangan gue lihat-lihat blog gue cukup kurang terorganisir juga, well tapi kayaknya agak butuh waktu kalau mau ngerapihin blog yang udah gue mulai dari tahun 2014 ini. Mau ganti tema juga sih kayaknya. Anyway, beberapa minggu lalu gue dihubungin salah satu manager riset di kantor gue. Well, kalau gue dapet izin dari project, gue mau ikutan pelatihan keluar kota minggu depan, for a week, hurray, lumayan sekalian liburan. Liburan berkedok pelatihan. Sorry, Sir. Melarikan diri sejenak dari kenyataan.

Semakin dekat dengan akhir tahun dan gue rasa gue dapat banyak pembelajaran banget tahun ini hahaha. Mungkin setelah ini gue bisa menjadi lebih dewasa seutuhnya. Bahwa terkadang semuanya tak sesuai dengan ekspektasi but life must go on dude. Gue nampaknya bakal belajar dari salah satu sohib gue sih, he said that he has no expectation in his life. Nggak gitu juga sih, berekspektasi sih boleh, tapi kalau kenyataannya yang terjadi nggak sesuai dengan ekspektasi yaudah, jalanin aja.

Tahun ini konsumsi kafein gue juga semakin meningkat, fakta bahwa keluarga gue penikmat atau lebih tepatnya menganggap kopi sebagai candu adalah salah satu pendorongnya. Gue udah kenal kopi dari anak-anak. Well waktu itu dibatasin, minum kopi cuma kalau weekend aja. Tapi serius, kopi bisa  bikin tenang. Dan tempat kabur paling asik adalah kedai kopi.

Tahun ini email-email dari gapingvoid di pagi hari masih jadi asupan inspirasi gue selain segelas kopi. Well, thanks Hugh! Hahaha gue bahkan jadi koneksinya doi di Linked.in. Yah gue suka banget sama cara dia menyampaikan pemikirannya, simpel, beda, dan mengena.

Tahun ini kerjaan gue ya masih kayak gini aja, setelah 1 tahun join di perusahaan ini, gue masih belajar menjadi insinyur yang baik, err still learning to be a better employee yang jelas. Entah karena doa apa yang dipanjatkan Eyang dan Nyokap gue, walau project gue di Padang, gue masih sering stand by di Jakarta. Alhamdulillah.

Tahun ini emang gue niatin buat istirahat sih, setelah berjuang untuk segala huru-hara TA di tahun sebelumnya. Tapi nyatanya dunia kerja nggak setenang yang gue bayangkan, apalagi di kontraktor. Tapi secara keseluruhan asik sih. Ketemu banyak orang, mendengarkan cerita banyak orang, dan dateng ke tempat-tempat baru. Berusaha membaur di daerah yang sebelumnya belum pernah gue datengin. Yah walau temen kuliah gue juga ada dari mana-mana, tapi tetep aja beda rasanya. Dulu inget banget gue super roaming pas pertama kali join tim proyek gue ini, kalau mereka ngomong satu sama lain. Tapi sekarang gue udah mulai biasa. Gue sekarang udah bisa pesen makanan padang pake bahasa minang.

Tahun ini anggota keluarga gue juga bertambah. Setelah hidup selama 23 tahun akhirnya gue punya kakak cewek. Well yah dan pasca kakak gue nikah, muncul banyak pertanyaaan yang dilontarkan ke gue. Errr agak lelah juga kadang.

Well, intinya

Gue rasa ini akhir yang cukup baik buat tahun ini. Semoga.

Selamat Sore, dari hari yang mendung di Ibu Kota

December Sky

” Well at the end I just feel relieved. Now, I can pretty much be me. I just wanna send my regards to December sky. Thanks for everything.” – Me, told myself, on Saturday morning in December.

Finally, seriusan tapi pada akhirnya gue malah ngerasa lega dengan semuanya hahaha. Good luck there.

Kemarin lusa ketika akhirnya gue agak kosong, gue sama temen gue menyempatkan diri nonton filmnya tante J.K Rowling yang baru. Fantastic Beast and Where to Find Them, setting ceritanya jauh sebelum jamannya Harry cs. Main characternya Newt Scamander, ceritanya cukup bagus. Jadi di film ini memang menceritakan sepenggal perjalanan Newt di New York dan kalau yang suka sama Harry Potter gue rasa udah tau juga kalau Newt ini merupakan penulis buku Fantastic Beast and Where to Find Them. Btw, buku yang dipakai sama Harry cs ini juga dipublish kok sama J.K Rowling. Penulis genius memang. Selain buku Fantastic Beast-nya Scamander, J.K Rowling juga mempublish buku Quidditch Trough the Ages dan The Tales of Beedle the Bard. Well, gue belum nemu buku yang terakhir sih. Oh iya Newt diperankan oleh Eddie Redmayne yang juga berperan sebagai Stephen Hawking di film The Theory of Everything.

Harusnya rencana awalnya pagi ini gue udah berada di commuter line menuju Bogor, dateng ke nikahan Temen SD gue. Tapi semalem co-worker gue ngabarin buat site visit ke cengkareng, atas request dari owner. Jadi ya sekarang gue masih berada di atas kasur gue yang empuk. Menikmati Sabtu pagi gue sebelum site visit ke cengkareng. Terkadang gue berharap banget bisa Kage Bunshin no Jutsu atau membelah diri kayak amoeba errr. Biar multitasking. Anyway, kemarin sore seorang co-worker gue di proyek sebelumnya tiba-tiba nanyain rencana S2 gue. Kenapa belakangan banyak yang nanyain itu deh, padahal gue belum persiapan apa-apa. Masih mencoba menjadi pegawai yang baik sampai detik ini, mencoba mempelajari hal-hal baru yang tak didapat sebelumnya. Terkadang terlalu banyak objektif malah bikin gagal fokus.

Well, dan sekarang gue masih menunggu kabar dari site di Cengkareng. Setelah ini kalau nggak kunjung ada kabar juga, gue bakal kabur ke kedai kopi dan nyelesain beberapa pekerjaan gue disana sebelum balik ke Bogor.

Ngomong-ngomong belakangan gue merasa agak terlalu apatis, apatis sama yang terjadi di sekitar gue sekarang. Walau gue condong ke satu sisi, tapi gue nggak pernah declare itu ke khalayak. People around my circle tau sih gue condong kemana, tapi gue nggak pernah secara terang-terangan nulis di social media gue. Gue sangat mengapresiasi mereka yang berani menulis dengan tajam dan berdasar. Yang jelas gue berpegang teguh sama agama gue dan berusaha untuk stay on the right track. Yang jelas masing-masing dari kita punya keyakinan dan pedoman hidup. Harusnya itu yang kita yakini dan selalu dengarkan hati kecil kita.  Aksi 411 dan 212 sangat luar biasa memang, betapa jutaan saudara-saudara seiman berkumpul di silang Monas dari berbagai daerah. Semua tumpah ruah di Jakarta, sangat tertib, sangat indah. Kemarin gue di Jakarta, tapi masih harus mengurus beberapa pekerjaan, support yang  bisa gue lakukan hanyalah berdoa, semoga semuanya berjalan lancar.

Yah gue heran aja sama media-media sekarang, kita bener-bener harus bisa memilah yang mana yang benar dan yang mana yang hoax. Dan gue rasa kita semua tahu bagaimana bebasnya tiap-tiap individu berpendapat di sosial media. Banyak diantaranya yang melampaui batas atau beberapa yang menanggapi masalah serius dengan gurauan. Terkadang logika pun diputar balikkan. Kita benar-benar hidup di era sosial media memiliki andil yang cukup besar. Well intinya kita semua hidup dengan keyakinan masing-masing dan kita memang hidup berdampingan antar keyakinan di segala sisi. Beberapa sahabat gue juga memiliki latar belakang yang berbeda dan gue sangat menghormati apa yang mereka yakini. Kita tentunya harus menghormati perbedaan itu dan gue rasa kita udah dapet pelajaran toleransi ini dari jaman SD. Lalu dari sana kita harus tahu ada batasan-batasan yang tidak boleh dilangkahi.

Cuma dari sejak peristiwa 411 lalu, pertanyaan Jaka ke Soe Hok Gie bener-bener sering mengisi kepala gue “Lu tuh ‘kanan‘ atau ‘kiri sih Gie?” Waktu itu Gie cukup kaget karena seolah-olah perjuangan itu harus berpihak pada salah satu kelompok ‘kiri’ atau ‘kanan’.  Well, memang kalau untuk arah perjuangan kita bisa saja netral dari kelompok ‘kiri’ atau ‘kanan’. Tapi kalau untuk iman, tentu tak ada iman yang netral, iman berarti kecondongan akan suatu keyakinan.

Selamat siang dari Jakarta, dari manusia yang masih jauh dari kata berilmu.

 

 

 

Coral Reefs

“So, let me dive in to the ocean, beyond the coral reefs. Please, I still need more time, to do normal” Me, 23 y.o, told myself on another rainy day.

Finally, setelah 2 hari berturut-turut di awal minggu ini lembur sampai pagi akhirnya badai tender dan negosiasi berakhir. Cheers to us. Dan dua hari yang lalu gue berhasil kabur ke kedai kopi sejenak sembari menunggu teman gue datang. Short getaway sebelum site visit ke pabrik baja keesokan harinya di Bekasi. Well, yeah Bekasi. Gue udah nyaris 3 jam menghabiskan waktu disana. Di kedai kopi, dua hari yang lalu. Di hari hujan.

Dua hari yang lalu juga salah seorang temen gue ada yang pergi ke Natuna, nope, bukan buat liburan, tapi ikut Indonesia Mengajar. Beberapa bulan yang lalu dia sempat nyaris jadi calon temen satu perusahaan gue, tapi dia memilih buat mengabdikan dulu dirinya selama setahun jadi pengajar muda dan terpaksa menolak tawarannya. Luar biasa memang doi. Sayangnya kita nggak sempat farewell kemarin, yah sebenernya sebulan yang lalu udah sih. Well hebat memang doi, salah satu teman gue yang selalu menginspirasi. Kalau masalah pengabdian kepada masyarakt, doi memang luar biasa banget jiwa sosialnya. Baik-baik di kepulauan Natuna sana Tin. Sehat-sehat ya.

Well, sedangkan gue saat ini masih di Jakarta, sering menghabiskan waktunya di kedai kopi. Tempat dimana wanginya kopi berterbangan di udara begitu lu masuk ke dalamnya, terkadang terasa sangat melankolis. Gue sering menyelesaikan beberapa pekerjaan gue disana. Sesekali gue mengamati suasana kedai kopi ini, kemarin seorang ibu muda meminta ijin buat duduk di depan gue, karena nyaris semua bangku sudah penuh. Sekedar mengobrol ringan, dia terlihat senang ketika menceritakan puteranya yang berusia 9 bulan kelahiran Indonesia. Entah mereka orang mana, tapi pasangan muda tersebut sangat ramah.

Dua hari yang lalu gue baru dapet kabar bahwa salah satu buku yang gue pesan baru aja dikirimkan dari publishernya, jadi baru akan tiba setidaknya 2 minggu lagi. Cukup lama juga, kali ini gue memesan buku tentang kopi, bukan tentang penyajian kopi, tapi lebih tentang bagaimana kopi bisa mempengaruhi berbagai aspek di dunia. Menarik sepertinya.

Di belahan Indonesia yang lain, saat ini salah seorang teman gue sedang mengabdikan dirinya buat pendidikan bangsanya. Lalu di belahan dunia yang lainnya teman-teman gue sedang melanjutkan studinya. Dan hari ini jutaan umat muslim berkumpul di silang Monas, memperjuangkan apa yang diyakininya. Memperjuangkan apa yang juga gue yakini. Semua bergerak sesuai apa yang diyakininya.

Selamat Sore, di hari hujan yang lain dari Jakarta, semoga kita tetap pada jalur yang benar,
 

Starry Night

“That day when the stars came falling. It’s almost as if a scene from a dream. Nothing more, nothing less than a beautiful view” Taki-Mitsuha, Kimi No Na Wa.

Gue baru aja kelar nonton Kimi No Na Wa kemarin malem, well, another great anime dari Makoto Shinkai. Artworknya Makoto Shinkai benar-benar nggak pernah mengecewakan. Story line anime tentang body swap romance ini juga cukup bagus, complicated dengan plot maju mundurnya. Endingnya kayak kebanyakan animenya Makoto Shinkai, menggantung. Tapi setidaknya tidak semenggantung 5 cm per second yang sering bikin jadi nelangsa kalau habis nonton itu. Anime ini recommended buat ditonton, visualnya sangat memanjakan mata.

Well, tadinya post ini mau gue buat two days in a row gitu sama post sebelumnya, tapi karena berbagai hal nggak jadi deh. Oke ini cuma short escape gue doang sih sebelum Monday meeting  pagi tadi sebenernya. Tapi baru sempat ngepost sekarang di tengah macetnya jalanan ibu kota. Weekend kemarin gue masih juga lembur sampai jam 1 malam. Yah bahkan kemarin lusa sebelum keluar makan malem sama Nyokap Bokap kemarin owner gue udah nanyain kerjaan aja. Emang sih there’s no weekend banget kalau lagi kerja di proyek gini, tapi at least ya gue nyisihin waktu buat Nyokap Bokap dulu lah. Tapi biasanya hari Minggu lebih tenang sih dibanding Sabtu.

Weekend kemarin ini gue balik ke Bogor, menghabiskan weekend bersama Nyokap Bokap. Sebenernya minggu kemarin tadinya gue mau kumpul sama sohib-sohib SMA, sayangnya schedulenya nggak pas dan nggak nemu hari yang cocok. Akhirnya hanya menguap jadi wacana begitu saja. 2 Minggu lagi salah seorang sahabat gue mau nikah, temen SMA gue yang beberapa menit setelah kenal gue pas MOS dulu langsung bilang gue jahil. Dulu pas SMA errr sampai kuliah gue emang terkenal iseng. Entah, kayaknya karena emang gue kurang kerjaan. Time goes too fast dude, really fast.

Nggak kerasa juga udah 1 tahun lebih sejak gue lulus dan meninggalkan Bandung. Pertanyaan lu udah ngapain aja dan kedepannya lu mau gimana masih aja seringkali hinggap di pikiran gue. Well, nggak seintens dulu sih. Tapi yah sejauh ini gue nggak pernah menyesali pilihan yang gue ambil ini. Menyelesaikan apa yang udah dimulai dan menikmati hidup. Semakin kesini gue makin sadar kalau semakin kita bertambah tua, maka pemikiran kita pun akan semakin rasional. Tapi tetep aja rasional dan pesimis itu seringkali beda tipis. Rasional menurut gue sih cara melihat dengan kaca mata yang lebih luas.

Well, tinggal 6 bulan lagi sebelum project gue yang di Padang selesai. Dulu 15 bulan seakan-akan terasa sangat lama, tapi waktu berlalu dengan sangat cepat. Entah setelah ini gue ditempatkan dimana. Sayangnya gue biasanya hanya di Padang beberapa hari saja, jadi gue belum bisa terlalu mengeksplorasi Padang. Kecuali errr makanannya. Beruntung sebagian besar tim project gue orang sana, jadi mereka tau tempat-tempat yang recommended. Kapan-kapan gue mau mencoba menghabiskan weekend gue di Padang.

Terkadang secara random sebelum tidur gue suka melakukan midnite contemplation. Banyak hal yang terjadi beberapa tahun terakhir ini, gue hanya mencoba berada pada jalur gue. Terkadang kejadian-kejadian yang datang secara mendadak itu justru mengingatkan kita untuk kembali pada jalur dan berpegang pada apa yang kita yakini.

“Do the people think that they will be left to say ‘We Believe’ and they will not be tried?” [Al-Ankabut (29:2)]

Billion Asteroids

“There are billion asteroids scattered in our galaxy. If one of the asteroids enters the Earth, survive its fiery passage through the atmosphere and lands on lithosphere, it become meteorite. Then, if the asteroid enters the atmosphere and vaporizes, it becomes meteor or more commonly known as a shooting star”

I still remember that lesson, especially the last part …enters the atmosphere and vaporized.. yeah vaporized..I just don’t understand myself, I have mixed feeling lately, it’s not really me. Come on back to your sense Bil.

Belakangan gue merasa lebih melankolis dari biasanya. Entah kenapa perasaan gue agak nggak jelas juga belakangan.

2016 udah mau berakhir dan gue juga udah semakin tua errrr. Rencana untuk lanjutin studi di tahun 2019 juga semakin dekat. Tapi yah belakangan gue agak sangsi sendiri dengan diri gue. Kalau gue gini-gini aja dan kayaknya belakangan malah mengalami sedikit degradasi ilmu ketekniksipilan gue. Apa gue yakin tahun 2019 nanti gue siap lanjut S2. Gue rasa emang gue butuh ngerefresh otak gue lagi. Walau nggak tau gimana.

Ketika bekerja, memang agak sulit buat nyisihin waktu buat sekedar buka-buku buku lagi. Apalagi buku kuliah lu dulu. Walaupun gue masih bekerja di bidang yang sama, cuma gue di assign di salah satu bagian yang agak jauh dengan apa yang gue dalamin selama kuliah dulu. Yang gue handle sekarang sifatnya sangat general. Di tim proyek yang sebelumnya, well ketika gue OJT sih, gue masih sering dikasi kerjaan yang sesuai dengan apa yang gue dalamin. Tapi sekarang, beda banget, tapi apapun yang terjadi, yang namanya tanggung jawab itu ya harus diterima dan dilaksanakeun.

Tentang rencana S2 gue sendiri, nantinya gue juga masih belum begitu tahu pasti akan mendalami bidang apa. Tentu teknik sipil secara general, namun secara khususnya gue masih perlu mempertimbangkan banyak hal.

Well, sebenernya karena suatu kejadian, gue jadi inget lagi akan rencana gue ini. Suatu kejadian kecil doang sih, walau waktu rasanya terhenti beberapa saat tapi toh langit tetap pada tempatnya dan bumi masih berputar seperti biasa. Dan karena hal kecil itu juga gue jadi inget, bukannya masih banyak hal yang ingin gue lakukan. Lanjutin S2, kursus barista, punya perpustakaan, berkeluarga, mengejar cita-cita bersama dan masih banyak lagi. You only live once Bil.

Karena memang kita cuma hidup sekali jadi kita sebaiknya harus memahami betapa singkatnya hidup di dunia yang sebenarnya temporer ini. Gue rasa, banyak hal yang memang sebenernya pengen kita lakukan di dunia ini tapi kita harus ingat bahwa pada akhirnya dunia ini hanya sebagai tempat transit saja. Tempat transit buat kehidupan manusia yang lebih kekal dan kita harusnya paham betul tentang hakikat kita sebagai manusia. Belakangan gue juga jadi kangen dengan lingkaran kecil di Jumat siang. Lingkaran dimana gue dapat wejangan-wejangan kecil nan berarti, dimana gue diingatkan dan diluruskan kembali.

Kini gue akui cukup sulit buat menemukan lingkaran yang sama. Gue hanya bisa terus berdoa untuk stay on the right track dan selalu inget hakikat hidup gue sendiri. Beberapa waktu yang lalu gue juga sempet chatting singkat dengan mentor gue jaman kuliah dan mendapat sedikit wejangan. Pas gue pulang ke Bogor kemarin, gue ambil buku Salim A Fillah dari lemari buku gue. Beliau adalah salah satu penulis favorit gue. Bagaimana beliau merangkai kata-katanya membuat kisah yang beliau ceritakan menjadi sangat menarik. Terakhir kali gue dengar beliau mau menerbitkan buku lagi.

Nampaknya memang blog ini pada akhirnya menjadi jurnal yang terlalu personal. Seringkali gue menulis disini emang cuma untuk refleksi diri gue. Sudah sejauh mana atau apakah gue masih berada di jalur yang benar err. Well, mungkin ada baiknya blog ini sekali-sekali gue isi dengan tulisan yang agak bermanfaat. Semoga saja.

“When the meteor vaporizes to eternity, it means the end of its long journey. I just wonder how lonely its journey in the middle of our cold dark space”

Cross Road

“At the end, when we reach the cross road, I realize that now we should take different path. Don’t wanna make assumption” Me, 23 y.o, yesterday, on a foggy morning in Solo.

This weekend, I’m visiting my Granny. Jumat kemarin, after done with my works, I went to Solo. Well, I’m spending my weekend at the hospital. Gue sampai di Solo jumat malem, Nyokap dan Tante gue udah tiba siang harinya. Kita nemenin Eyang Ti di RS. Rencananya gue balik ke Jakarta sore ini. Get well soon Granny.

Gue bawa buku buat ngabisin waktu gue di perjalanan dan di RS. Bukunya Daniel Goleman yang belum rampung gue baca. Buku Daniel Goleman ini cukup recommended, tentang Emotional Intelligence yang sempat gue bilang beberapa waktu lalu. Secara garis besarnya Goleman menyampaikan bahwa di workplace dibandingkan dengan IQ, degree ataupun technical skill yang paling dibutuhkan adalah emotional intelligence.

Di buku ini Goleman menyampaikan kisah dari Stenberg mengenai 2 orang mahasiswa Yale: Penn dan Matt. Penn merupakan mahasiswa exceptional: kreatif dan brillian, sayangnya Penn menjadi arogan karena menyadari kelebihannya itu. Di satu sisi Matt yang juga merupakan mahasiswa Yale, tidak sebrillian Penn dalam hal akademis. Namun Matt punya interpersonal skill yang baik.

Ketika lulus Penn yang terlihat sangat spektakuler di dalam resumenya, Menjadi incaran banyak organisasi top untuk mengikuti interview mereka. Sayangnya kearoganannya sangat terlihat dan ia hanya berakhir dengan 1 tawaran di sebuah perusahaan second-tier. Lalu tentang Matt, dia disukai oleh semua orang yang pernah bekerja dengannya. Matt akhirnya dihadapkan dengan lebih banyak tawaran pekerjaan untuknya dan ia berakhir sukses dengan karirnya. Sedangkan Penn, ia justru keluar dari pekerjaannya di tahun kedua.

Well, ini menunjukkan betapa pentingnya softskill. Bagaimana emotional intelligence mempengaruhi karir seseorang. Gue rasa sebagian besar dari kita udah tau betapa pentingnya softskill di dalam karir. Dari jaman gue SMA senior-senior gue udah sering banget ngasi wejangan tentang betapa pentingnya softskill ini.

Menurut gue buku Goleman ini cukup recommended dibaca setelah buku Dale Carnegie “How to Win Friends and Influence People”. Well, kedua buku ini juga masih serumpun.

Ya walaupun soft skill dianggap memiliki pengaruh yang lebih besar dibanding technical skill. Tapi hard skill tentunya komponen yang penting. Apa yang kita pelajari selama 16 tahun ini, mostly merupakan hard skill. Sedangkan soft skill biasanya didapatkan dengan praktek langsung, ketika di organisasi atau dunia kerja. Ketika masuk ke dunia kerja, lu bakal melihat realitasnya, bahwa orang-orang di sekitar lu seringkali  lebih menghargai interpersonal skill alih-alih technical skill lu. Tapi bagaimanapun juga technical skill, merupakan salah satu modal awal untuk dapat memulai karir. Well, tentunya kita emang diharapkan memiliki kedua komponen ini, both soft skill and hard skill.

Well untuk interpersonal skill atau emotional intelligence, pada dasarnya nggak hanya dibutuhkan buat di dunia karir saja. Basically we need this skill to deal with people.

Karena tamu-tamu yang berdatangan ke RS silih berganti, gue kayaknya nggak bakal bisa nyelesain buku Goleman selama disini. Tapi alhamdulillah Eyang Ti gue semakin membaik. Selanjutnya, kayaknya bakal menarik kalau bahas buku Goleman ini lebih dalam, ditandem dengan bukunya Dale Carnegie juga. Entah kapan tapi gue bisa bahas kedua buku itu lebih dalam. Semoga secepatnya.

Yah besok udah mau masuk hari senin lagi aja, weekend segera berakhir dan gue harus balik ke Jakarta.