Bukittinggi: A One Day Travel

Sore tadi gue disambut oleh rintik-rintik hujan ketika tiba di Halim. Ada yang beda dengan perjalanan Padang-Jakarta sore tadi karena gue ditemani Nyokap dan Bokap gue.

Seperti yang udah pernah gue bilang, gue belum sempat mengeksplorasi Padang semenjak gue dapet penempatan di kota ini April tahun lalu. Karena sampai akhir tahun lalu, gue lebih sering menghabiskan waktu gue di Jakarta karena meeting dengan owner dan beberapa urusan kontrak lainnya dilakukan di Jakarta. Gue baru mulai menetap di Padang awal Januari kemarin dan saat ini proyek gue sedang sangat hectic, sehingga gue belum sempat mengeksplorasi daerah-daerah di Padang dan sekitarnya. Lalu minggu kemarin Nyokap dan Bokap gue menyempatkan diri buat nengok gue, anak bungsunya, di Padang. Kebetulan Sabtu kemarin sedang Imlek juga dan gue meminta izin dari proyek. Well, dan akhirnya gue mengeksplorasi daerah di sekitar Padang bersama Nyokap Bokap gue.

Ketika gue dateng di Padang untuk pertama kalinya di tahun lalu, gue cukup kesulitan karena nggak menemukan Indomaret, Alfamart, 7 Eleven atau minimarket apapun yang biasa kita temui. Yang akhirnya gue tau kalau emang Indomaret atau minimarket chain yang umumnya ditemui itu nggak boleh masuk disini. Awalnya agak repot juga, karena kalau mau cari kebutuhan kecil-kecilan di tengah malam gue harus pergi ke minimarket yang cukup jauh dari proyek dan kos-kosan gue. Well, sampai sekarang cuma itu aja minimarket yang gue tau buka 24 jam. Tapi perjalanan gue sama Nyokap Bokap gue kemarin benar-benar membuka mata gue. Betapa Padang sangat menghargai usaha-usaha milik masyarakat lokalnya. Nyaris semua supermarket atau minimarket yang ada di Padang adalah milik lokal.

Kemarin kami memutuskan buat pergi ke Bukittinggi. Perjalanan kemarin menyenangkan juga karena kita dipandu oleh seorang lokal yang luar biasa, Pak Hendri. Si bapak bercerita mulai dari kisah adu kerbau antara Kerajaan Pagaruyung dan Kerajaan Majapahit yang akhirnya melahirkan nama Minangkabau dan juga minginspirasi arsitektur pada atap rumah gadang. Kita juga ngelewatin salah satu kecamatan dengan nama yang unik ‘2 x 11 Enam Lingkung’ dan Bokap gue meyakini bahwa nama itu pasti ada filosofinya. Sepanjang perjalanan si Bapak bercerita tentang hal-hal unik yang ada di Padang ini dan beberapa rekomendasi tempat untuk dikunjungi.

Destinasi pertama kita kemarin adalah Lembah Anai, disana lu bisa menemukan air terjun tepat disamping jalan Padang-Bukit Tinggi. Air terjun ini dikelilingi dengan hutan-hutan yang masih asri dan airnya jernih tentunya. Lalu di sepanjang Lembah Anai kita dikelilingi oleh kawasan cagar alam yang luar biasa dan disana kita bisa menemui rangkaian rel kereta yang dibangun dari masa Belanda. Namun rel kereta ini udah nggak digunakan lagi sekarang. Padahal menurut gue kalau rel kereta ini diaktifkan kembali, kita bakal disuguhi pemandangan yang luar biasa dari dalam kereta. Karena rel kereta ini menembus kawasan cagar alam. Sayang karena terlalu takjub sama kekerenan kawasan ini gue nggak sempet ngambil banyak foto disini.

Setelah Lembah Anai destinasi selanjutnya adalah Ngarai Sianok, kalau Ngarai Sianok ini letaknya di Bukittinggi. Yep Bukittinggi, kota kelahiran salah satu tokoh favorit gue: Bung Hatta. Ngarai Sianok ini semacam lembah dengan tebing-tebing yang sangat curam, luar biasa indah nyaris seperti pahatan. Di dekat Ngarai Sianok ini ada sebuah Lubang Jepang dan gue memutuskan untuk nggak turun ke dalamnya karena ratusan anak tangga yang harus ditempuh untuk sampai di bawah. Sebenernya nggak masalah untuk menuruni ratusan anak tangga, tapi masalahnya lu harus mendaki ratusan anak tangga juga kalau lu mau keluar dari sana. Well, di kawasan ini kita juga bisa menemui monyet-monyet yang udah jinak.

Destinasi terakhir kemarin adalah Jam Gadang dan yah sayangnya alun-alun Jam Gadang kemarin sangat ramai. Di luar ekspektasi gue yang membayangkan suasana alun-alun Jam Gadang yang sangat lengang. Di belakang Jam Gadang lu bisa menemui Pasar Atas dan tepat di seberangnya merupakan Istana Bung Hatta, bekas kediaman Bung Hatta dahulu.

 

 

Well, kalau soal kuliner di sana sih tenang aja. Di Bukittinggi lu bisa menemui Restoran Simpang Raya yang pertama dan juga Restoran Sederhana. Lalu di perjalanan Bukittinggi-Padang lu bisa menemui Sate Mak Syukur dan juga penjaja-penjaja bika yang dimasak pake kayu bakar.

Yah Padang emang berbeda dari Jakarta, mungkin agak susah untuk nemuin minimarket 24 jam dan nggak ada satupun Indomaret, Alfamart dkk karena disini mereka khawatir akan mematikan usaha-usaha para pedagang lokal. Di Padang juga nggak ada transportasi online tapi lu nggak nemuin kemacetan parah kayak di Jakarta di sini. Di Padang dan sekitarnya juga nggak banyak mall-mall bertebaran tapi Padang dianugerahi oleh kondisi geografis yang luar biasa. Yah gue rasa setiap daerah tentu punya kelebihannya masing-masing. Dan gue belum mengeksplor daerah ini seluruhnya, masih banyak tempat-tempat keren menanti. Well, nuhun Bukittinggi.

White Lily: A Final Adieu

“Hai Dek, gimana game lu udah tamat belum?” kalimat itu yang sering dilontarkan kalau kita berpapasan di koridor Sipil. Beliau adalah salah satu dosen favorit gue, dosen struktur, spesialisasinya di struktur kayu.

Gue bertemu pertama kali dengan beliau ketika TPB. Saat itu gue belum masuk Sipil, masih di FTSL, sekitar tahun 2012 awal kalau tidak salah. Gue ingat betul beliau hari itu menggantikan salah satu dosen Sipil yang nggak bisa hadir untuk mengajar. Begitu beliau masuk, gue langsung tertarik dengan cara mengajarnya yang menyenangkan. Sangat friendly sekali dengan mahasiswanya dengan gaya berbicaranya yang asik. Tapi tetap saja, gue selalu mudah terdistrak dan waktu itu gue agak berisik di kelas sepertinya, jadi beliau melemparkan pertanyaan ke gue secara mendadak. Karena gue nggak mempersiapkan apapun sebelumnya, gue menjawab sekenanya sambil sedikit bercanda. Itu pertama kalinya gue berinteraksi dengan beliau.

Lalu di semester berikutnya ternyata gue masuk Sipil dan kebetulan beliau mengajar salah satu mata kuliah yang gue ambil. Ternyata beliau masih ingat betul dengan gue yang sedikit nggak serius ini. Karena gaya mengajarnya yang santai dan asik namun sangat mengena, singkat aja beliau langsung menjadi dosen favorit gue, sangat favorit.

Beliau menjadi pengajar di beberapa mata kuliah yang gue ambil dan di akhir masa perkuliahan gue dulu, gue mengambil mata kuliah spesialisasi beliau: struktur kayu. Beliau juga lah yang dulu sempat membuat gue gamang ingin mengambil sub jurusan struktur atau geotek. Walau pada akhirnya gue memilih geotek.

Lalu sore tadi, sehabis meeting gue mendapat kabar mengejutkan di grup angkatan. Sejenak gue pengen kabur dari segala hiruk pikuk proyek, memori gue kembali berputar pada tahun-tahun gue kuliah kemarin, lorong-lorong Sipil yang hangat diterpa matahari di pagi dan sore hari. Berpapasan dengan beliau di koridor sembari bertegur sapa. Duduk di bangku kayu panjang memperhatikan beliau mengajar dengan gaya khasnya. Mendengar beliau bercerita dan bercanda tentang kondisi bangunan Prodi Sipil yang dipertahankan ke-heritage-annya.

Satu hal yang agak gue sesalkan adalah gue belum sempat menemui beliau lagi sejak gue pergi meninggalkan Bandung.

 

Selamat jalan Pak Dr. Ir. Saptahari Sugiri. Terimakasih atas segala ilmu-ilmu yang telah Bapak ajarkan pada kami semua. Semoga segala ilmu yang telah bapak ajarkan dapat menjadi amalan jariyah bagi Bapak. Aamiin.

ps. Just don’t ever forget that you’ll always be embossed in our memory Pak.

An Initial State

Udah nyaris sebulan nggak posting apapun disini. Sekarang gue udah stay di Padang. Finally, wkwkwk setelah proyek gue udah topping off, err persis kayak apa yang dibilang temen proyek gue 10 bulan yang lalu. Yah sebenernya baru seminggu sih gue disini. Baru sadar juga, ini postingan pertama gue di tahun 2017. Well, 2016 kemarin berlalu begitu saja. Tahun baru kemarin gue sekeluarga menghabiskan waktu di rumah, family time, tak ada agenda khusus di malam tahun baru. Rasanya pun nggak ada bedanya dengan malam-malam lainnya, kecuali letupan dan warna-warni kembang api yang terlihat jelas dari balkon rumah.

Satu hal kebiasaan gue yang kedengaran sangat klasik di malam tahun baru adalah bikin resolusi. Walau sangat klasik, buat gue tahun baru adalah suatu checkpoint. Resolusi gue nggak begitu banyak, nyaris masih sama dengan tahun-tahun kemarin.  Semoga tahun ini bisa stick to the plan, yah tahun 2016 kemarin gue anggap fase rehat lah setelah badai TA menghantam di tahun sebelumya wkwkwk.

Begitu tiba di Padang dan menyadari gue akan stay beberapa bulan disini, yang gue cari adalah kedai kopi yang bisa dijadikan tempat nongkrong berjam-jam kalau gue jenuh. Tapi sayangnya sampai seminggu disini gue belum nemu karena gue belum sempat ngeksplor kota ini, yah kecuali Excelso di The Axana err. Sebenernya gue udah dapet beberapa rekomendasi tempat ngopi dari Tripadvisor, tapi ya sekarang gue juga udah nggak sefleksibel di Jakarta kemarin. Habis meeting pagi, makan siang, terus kerja di kedai kopi sampai sore udah nggak memungkinkan banget untuk dilakukan disini. Karena proyek lagi hectic, gue baru bisa keluar dari proyek nyaris tengah malam. Sampai di kosan terkapar dan bahkan buku yang lagi gue coba selesaikan udah nggak sempet banget dibuka. Well, padahal salah satu resolusi gue tahun ini, memperbanyak asupan bacaan. Tahun lalu gue sempet beli beberapa buku yang sampai sekarang baru gue baca sebagian karena berbagai hal.

Karena nggak memungkinkan banget kabur dari proyek di weekdays, Minggu malam kemarin akhirnya gue mencoba kabur dari proyek dan mengeksplor sebagian kecil kota Padang. Thanks buat temen gue yang udah menetap duluan disini yang udah jadi tour guide yang baik. Yang menarik dari Padang adalah lu bisa liat deretan bukit sekaligus lautan. Di proyek gue sendiri, kalau lu naik ke Lantai tiganya, deretan bukit dan lautannya sangat jelas terlihat. Menghabiskan senja di lantai tiga juga kayaknya bakal meninggalkan rasa melankoli tersendiri. Dan ternyata naik motor malem-malem juga cukup asik disini apalagi kalau lewat Taplau alias Tapi Lauik (re : Tepi Laut) sambil diterpa angin laut gitu.

 

 

Nah salah satu tempat makan yang direkomendasikan temen gue di Padang adalah Karambia. Karambia sendiri artinya kelapa kalau dalam bahasa Minang. Tempatnya cukup besar dan yah lumayan juga lah interiornya. Salah satu menu yang unik disini adalah beberapa menu makanan yang disajikan pakai batok kelapa, kayak sup ikan, bakso dan beberapa makanan lainnya.

Sejauh ini gue belum sempat mengeksplor Padang karena kondisi proyek gue yang super duper hectic. Tapi gue cukup seneng sih lihat bangunan proyek gue yang udah keliatan bentuknya. Yah tinggal 5 bulan lagi, semoga semuanya berjalan lancar. Dan gue harap dua bulan lagi udah nggak sepadat ini jadwalnya. Tapi seenggaknya selama disini gue udah nemu beberapa tempat yang rekomended kalau mau menikmati kuliner. Kayak Lamun Ombak, Pauh Piaman, RM Rajawali dan beberapa tempat dengan nama yang ear catchy kayak Ganti Nan Lamo dan Iko Gantinyo.

Anyway, berada di rantau gini emang sering bikin kangen keluarga dan temen-temen lama. Beberapa waktu lalu geng KP gue juga habis meet-up-tanpa-gue karena satu orang temen gue baru aja pindah dari Bandung ke Jakarta. Dan yah gue harus mengikhlaskan mereka bersenang-senang. Yang gue kangenin kalau ngumpul dengan mereka adalah munculnya pikiran-pikiran radikal yang terkadang terjadi secara random.

 

 

 

After Reboot

When you said that you’re the ****est person ever, I just wanna say “Yes, you are”

Ah I just write that line randomly btw, don’t take it too serious.

Gue baru aja nyampe di Pejaten tadi pagi. Semalam gue balik dari Padang, tiba di Jakarta sekitar pukul 1 pagi. Ada beberapa pekerjaan yang harus dimonitoring di Jakarta. Lalu setelah ini gue akan kembali ke Padang, mungkin awal tahun depan.

Dan ini yang gue dapet hari ini, hasil “Jalan-jalan” ke workshop baja. Memastikan semua komponen terkirim dengan tepat ke site.

 

Proyek gue sedang hectic betul, beberapa hari kemarin ketika gue disana selalu pulang lewat pukul 12 malam. Pekerjaan struktur sudah nyaris selesai, hanya pekerjaan baja saja yang masih belum begitu signifikan. Padang masih dilanda musim hujan belakangan ini, tapi selain itu Padang dilanda musim durian juga. Ini yang paling gue tunggu-tunggu di Padang, yep datangnya musim durian. Sumatera terkenal akan duriannya yang mantap, beberapa waktu yang lalu gue sempat mencari durian di Bogor, sayangnya tak begitu bagus dan harganya masih cukup tinggi. Di Padang lu bisa menikmati durian sampai puas tanpa perlu merogoh kocek yang tinggi. Kalau lu mau menikmati durian di Padang, Desember-Januari adalah bulan yang tepat.

Gue belum bisa pulang ke Bogor malam ini, karena besok pagi masih harus memonitoring workshop di Cengkareng. Sayang sekali, padahal ingin cepat-cepat pulang, ketemu Nyokap yang dari kemarin udah nanyain terus. Semoga Nyokap gue nggak merasa kesepian di hari ibu kemarin, ketika dua orang anaknya terdampar di dua pulau yang berbeda. Happy mother’s day Mom! Please, don’t grow old.

Well, siang tadi selepas meeting di Lebak Bulus seorang sahabat gue, ngeWA gue soal Jembatan Cisomang di Cipularang. Setelah itu gue buka grup angkatan gue dan di grup itu udah ramai dibicarakan soal defleksi jembatan yang udah ngelebihin batas izinnya. Di grup OJT gue juga pembahasan om telolet om (errrr) kemarin sudah berubah jadi pembahasan Jembatan Cisomang. Tapi gue liat PU dan Jasamarga sudah langsung mengambil tindakan. Ah Jembatan Cisomang dan Cipularang padahal menjadi salah satu hal yang sangat gue rindukan. ketika lu melakukan perjalanan Jakarta-Bandung di pagi hari, lu bakal disuguhi pemandangan yang luar biasa disana. Super ngangenin. Well, kayaknya memang salah satu masalahnya adalah keadaan tanah disana yang sebagian didominasi oleh clay shale. Pak Masyhur pernah membahas beberapa kali tentang clay shale ini dalam kuliahnya dulu. Dan beberapa kali kejadian longsor di Tol Cipularang juga diakibatkan oleh tanah ini. Yah semoga bisa segera ditangani dengan baik.

Snap Back To Reality

Setelah bisa kabur sejenak dari proyek selama seminggu kemarin, akhirnya gue harus kembali ke realita.

Yah gue bakal merindukan menghabiskan senja hingga malam di Seminyak melupakan segala penat yang ada di Ibukota beberapa bulan ini

Btw, salah satu tempat yang cukup recommended di sana buat menikmati senja adalah La Plancha. Lu bisa menikmati senja sekaligus menikmati grilled seafood yang mereka sediakan apalagi ditambah saus chimicurrinya. Menjelang senja tempat ini super ramai banget. Kalau udah bosen diterpa angin laut, kita bisa pindah ke jantungnya seminyak di sekitar jalan Kayu Aya dan lu bisa nemuin apa aja disana. Dan kalau udah lelah jalan-jalan di sana, cukup mudah buat nemuin kedai-kedai yang menjajakan gelato.

Oke back to reality, jadi dari Senin kemarin gue diminta buat ke Site, di Padang. Cukup lelah juga karena pas balik ke Jakarta Jumat lalu, pesawat gue super delay. Sekitar jam 2 pagi gue baru tiba di Pejaten dan yah pagi-pagi sekitar pukul 8 gue berangkat lagi ke Bogor. Seorang sahabat gue nikah dan disana gue bertemu beberapa kawan lama gue. Minggu siang gue diminta Manager gue buat berangkat ke Padang hari Seninnya. Dan barusan Big Boss gue bilang supaya gue stay di Padang sampai selesai proyek. Errr tapi semoga masih bisa sering bolak balik Jakarta sih. Toh proyek gue juga tinggal sekitar 5 bulanan lagi.

Well, tapi selama keberjalan proyek ini gue juga belum sempat mengeksplorasi Padang sih, karena gue biasanya cuma stay paling lama 3 hari. Gue cuma tau beberapa tempat makan di Chinatownnya kayak Iko Gantinyo atau Ganti Nan Lamo. Namanya cukup catchy pas gue pertama kali denger dan lu bisa nemuin es durian disana. Yah semoga gue bisa survive dan menikmati Padang selama 5 bulan kedepan. Ada beberapa tempat-tempat yang pengen gue datengin juga kayak Pariaman ataupun Bukittinggi. Lalu beberapa bulan yang lalu XXI juga akhirnya udah masuk ke Padang, jadi nggak masalah lah wkwkwk. Yah walaupun beribu-ribu kilometer dari rumah gini sering bikin kangen Nyokap Bokap.

Ternyata 15 bulan itu rasanya cepet juga, nggak terasa proyek gue tinggal 5 bulan lagi. Nggak tau deh habis ini ditempatin dimana lagi, tapi 10 bulan ini memorable banget. Dapet project di luar Jakarta ternyata lebih complicated. Back and forth Padang Jakarta dan lain sebagainya.  Ini proyek pertama gue setelah OJT dan Big Boss gue sering banget ngasih wejangan. Well beliau super kebapakan, semoga sehat-sehat selalu Pak!

Awaken

Long weekend lalu semua berakhir dengan cepat, menembus kemacetan Jakarta di Jumat malam dan bertemu dengan teman-teman SMA di penghujung minggunya. Bernostalgia sejenak dan membicarakan rencana masing-masing. Satu di antara kami akan menikah Sabtu ini, satu sedang melanjutkan S2nya dan ingin menjadi guru, dan yang terakhir akan melanjutkan S2nya tahun depan. Terkadang gue merindukan masa-masa SMA tapi gue juga selalu penasaran dengan apa yang akan terjadi di depan.

Well, sementara saat ini gue sedang rehat sejenak dari Proyek, sudah nyaris seminggu ini sebenarnya. Beberapa waktu lalu seorang manager di divisi riset menghubungi gue, intinya meminta beberapa perwakilan untuk mengikuti training Plaxis. Mengetahui tempat pelatihan tersebut di Bali gue pun langsung mengiyakan dalam hitungan detik dan syukurnya proyek gue pun memberikan izin untuk gue selama seminggu.

Sejenak keluar dari hiruk pikuknya proyek. Dari perusahaan gue sendiri diberangkatkan 2 orang, gue dan kebetulan seorang senior gue 2009. Dan kebetulan lagi di tempat training gue bertemu dengan 2 orang HMS 2006 yang bekerja di IPC. Dan bersama tiga orang senior ini lah gue menghabiskan waktu selama di Bali.

Training Plaxis kali ini benar-benar merefresh ilmu geoteknik yang sudah gue biarkan hibernasi terlalu lama dan juga mengupdate informasi-informasi baru. Bahkan sudah lebih dari setengah tahun ini gue nggak pernah membuka Plaxis. Training ini sebenarnya adalah agenda tahunan yang digagas oleh PLAXIS, HATTI,  ITB, ITENAS dan TU Graz. Well pengajar-pengajar yang bersemangat dan materi-materi yang disampaikan di training ini cukup membuat gue termotivasi lagi untuk melanjutkan S2 gue di bidang geoteknik.

Karena padatnya jadwal pelatihan dari pagi hingga sore, kita cuma bisa mengeksplor Bali di malam hari. Yah walaupun kadang masih bisa mengejar sunset, karena pelatihan diadakan di Nusa Dua jadi agak memerlukan waktu juga kalau pengen pergi ke Kuta ataupun Seminyak. Di Seminyak sendiri ada beberapa beach bar sangat ramai menjelang sunset dan seafood yang disajikan juga cukup recommended. Well selain itu di sekitar Kuta ataupun Seminyak cukup mudah untuk menemukan kedai-kedai gelato kecil yang cukup menyegarkan di tengah panasnya Bali. Tapi pas kemarin disana sih Bali cukup sering diguyur hujan, walau nggak merata.

Lalu malam tadi gue kembali lagi ke Jakarta. Setelah satu minggu kemarin terlepas dari hiruk pikuk proyek, bertemu senior-senior sealmamater, mengupdate beberapa informasi geotek, dan mengeksplorasi Bali secara singkat. Menghabiskan malam di Seminyak sambil diterpa hembusan angin laut adalah salah satu hal yang akan gue rindukan. Well dan minggu depan gue akan mulai bekerja lagi.

Sekaranh sudah pukul 2 pagi dan gue masih dalam perjalanan ke Pejaten karena pesawat yang delay. Lalu besok pagi-pagi gue sudah harus pergi ke Bogor. Barusan saja gue melihat salah satu artikel yang dipost seorang teman gue, ada satu line yang menarik di pembuka artikel tersebut.

Most of us go through our days on autopilot, not really living, but merely existing”

Well, terkadang gue takut juga jika menjalankan hari-hari gue secara autopilot. Membiarkannya berjalan gitu aja atau membiarkannya terseret-seret angin. Dan pada satu titik gue mempertanyakan kenapa dan untuk apa gue disini. Tapi gue terlalu malas untuk berpikir malam ini. Gue sedang terlalu malas untuk berpikir dalam-dalam.

November Wind and A Time for Contemplation

“A cold November wind can cut right through your soul
Even leaves all hide away from the wind November blows
And after all the warmth of the summer and the fall
Cold November wind cuts the deepest of them all
Perhaps everything was swept away by a cold November wind” – Willie Nelson-

Well, udah nyaris quarter pertama bulan Desember,  November telah berakhir, badai tender sudah berakhir juga, sedikit sih, tapi proyek gue lagi kejar target banget. Tapi karena masih ada beberapa urusan disini gue masih stand by di Jakarta, errr di Pejaten lebih tepatnya, daerah dimana kita bisa tinggal lompat ke Kemang. Heil Kemang!! Kemang yang tidak nggak pernah tidur.

Belakangan gue lihat-lihat blog gue cukup kurang terorganisir juga, well tapi kayaknya agak butuh waktu kalau mau ngerapihin blog yang udah gue mulai dari tahun 2014 ini. Mau ganti tema juga sih kayaknya. Anyway, beberapa minggu lalu gue dihubungin salah satu manager riset di kantor gue. Well, kalau gue dapet izin dari project, gue mau ikutan pelatihan keluar kota minggu depan, for a week, hurray, lumayan sekalian liburan. Liburan berkedok pelatihan. Sorry, Sir. Melarikan diri sejenak dari kenyataan.

Semakin dekat dengan akhir tahun dan gue rasa gue dapat banyak pembelajaran banget tahun ini hahaha. Mungkin setelah ini gue bisa menjadi lebih dewasa seutuhnya. Bahwa terkadang semuanya tak sesuai dengan ekspektasi but life must go on dude. Gue nampaknya bakal belajar dari salah satu sohib gue sih, he said that he has no expectation in his life. Nggak gitu juga sih, berekspektasi sih boleh, tapi kalau kenyataannya yang terjadi nggak sesuai dengan ekspektasi yaudah, jalanin aja.

Tahun ini konsumsi kafein gue juga semakin meningkat, fakta bahwa keluarga gue penikmat atau lebih tepatnya menganggap kopi sebagai candu adalah salah satu pendorongnya. Gue udah kenal kopi dari anak-anak. Well waktu itu dibatasin, minum kopi cuma kalau weekend aja. Tapi serius, kopi bisa  bikin tenang. Dan tempat kabur paling asik adalah kedai kopi.

Tahun ini email-email dari gapingvoid di pagi hari masih jadi asupan inspirasi gue selain segelas kopi. Well, thanks Hugh! Hahaha gue bahkan jadi koneksinya doi di Linked.in. Yah gue suka banget sama cara dia menyampaikan pemikirannya, simpel, beda, dan mengena.

Tahun ini kerjaan gue ya masih kayak gini aja, setelah 1 tahun join di perusahaan ini, gue masih belajar menjadi insinyur yang baik, err still learning to be a better employee yang jelas. Entah karena doa apa yang dipanjatkan Eyang dan Nyokap gue, walau project gue di Padang, gue masih sering stand by di Jakarta. Alhamdulillah.

Tahun ini emang gue niatin buat istirahat sih, setelah berjuang untuk segala huru-hara TA di tahun sebelumnya. Tapi nyatanya dunia kerja nggak setenang yang gue bayangkan, apalagi di kontraktor. Tapi secara keseluruhan asik sih. Ketemu banyak orang, mendengarkan cerita banyak orang, dan dateng ke tempat-tempat baru. Berusaha membaur di daerah yang sebelumnya belum pernah gue datengin. Yah walau temen kuliah gue juga ada dari mana-mana, tapi tetep aja beda rasanya. Dulu inget banget gue super roaming pas pertama kali join tim proyek gue ini, kalau mereka ngomong satu sama lain. Tapi sekarang gue udah mulai biasa. Gue sekarang udah bisa pesen makanan padang pake bahasa minang.

Tahun ini anggota keluarga gue juga bertambah. Setelah hidup selama 23 tahun akhirnya gue punya kakak cewek. Well yah dan pasca kakak gue nikah, muncul banyak pertanyaaan yang dilontarkan ke gue. Errr agak lelah juga kadang.

Well, intinya

Gue rasa ini akhir yang cukup baik buat tahun ini. Semoga.

Selamat Sore, dari hari yang mendung di Ibu Kota

December Sky

” Well at the end I just feel relieved. Now, I can pretty much be me. I just wanna send my regards to December sky. Thanks for everything.” – Me, told myself, on Saturday morning in December.

Finally, seriusan tapi pada akhirnya gue malah ngerasa lega dengan semuanya hahaha. Good luck there.

Kemarin lusa ketika akhirnya gue agak kosong, gue sama temen gue menyempatkan diri nonton filmnya tante J.K Rowling yang baru. Fantastic Beast and Where to Find Them, setting ceritanya jauh sebelum jamannya Harry cs. Main characternya Newt Scamander, ceritanya cukup bagus. Jadi di film ini memang menceritakan sepenggal perjalanan Newt di New York dan kalau yang suka sama Harry Potter gue rasa udah tau juga kalau Newt ini merupakan penulis buku Fantastic Beast and Where to Find Them. Btw, buku yang dipakai sama Harry cs ini juga dipublish kok sama J.K Rowling. Penulis genius memang. Selain buku Fantastic Beast-nya Scamander, J.K Rowling juga mempublish buku Quidditch Trough the Ages dan The Tales of Beedle the Bard. Well, gue belum nemu buku yang terakhir sih. Oh iya Newt diperankan oleh Eddie Redmayne yang juga berperan sebagai Stephen Hawking di film The Theory of Everything.

Harusnya rencana awalnya pagi ini gue udah berada di commuter line menuju Bogor, dateng ke nikahan Temen SD gue. Tapi semalem co-worker gue ngabarin buat site visit ke cengkareng, atas request dari owner. Jadi ya sekarang gue masih berada di atas kasur gue yang empuk. Menikmati Sabtu pagi gue sebelum site visit ke cengkareng. Terkadang gue berharap banget bisa Kage Bunshin no Jutsu atau membelah diri kayak amoeba errr. Biar multitasking. Anyway, kemarin sore seorang co-worker gue di proyek sebelumnya tiba-tiba nanyain rencana S2 gue. Kenapa belakangan banyak yang nanyain itu deh, padahal gue belum persiapan apa-apa. Masih mencoba menjadi pegawai yang baik sampai detik ini, mencoba mempelajari hal-hal baru yang tak didapat sebelumnya. Terkadang terlalu banyak objektif malah bikin gagal fokus.

Well, dan sekarang gue masih menunggu kabar dari site di Cengkareng. Setelah ini kalau nggak kunjung ada kabar juga, gue bakal kabur ke kedai kopi dan nyelesain beberapa pekerjaan gue disana sebelum balik ke Bogor.

Ngomong-ngomong belakangan gue merasa agak terlalu apatis, apatis sama yang terjadi di sekitar gue sekarang. Walau gue condong ke satu sisi, tapi gue nggak pernah declare itu ke khalayak. People around my circle tau sih gue condong kemana, tapi gue nggak pernah secara terang-terangan nulis di social media gue. Gue sangat mengapresiasi mereka yang berani menulis dengan tajam dan berdasar. Yang jelas gue berpegang teguh sama agama gue dan berusaha untuk stay on the right track. Yang jelas masing-masing dari kita punya keyakinan dan pedoman hidup. Harusnya itu yang kita yakini dan selalu dengarkan hati kecil kita.  Aksi 411 dan 212 sangat luar biasa memang, betapa jutaan saudara-saudara seiman berkumpul di silang Monas dari berbagai daerah. Semua tumpah ruah di Jakarta, sangat tertib, sangat indah. Kemarin gue di Jakarta, tapi masih harus mengurus beberapa pekerjaan, support yang  bisa gue lakukan hanyalah berdoa, semoga semuanya berjalan lancar.

Yah gue heran aja sama media-media sekarang, kita bener-bener harus bisa memilah yang mana yang benar dan yang mana yang hoax. Dan gue rasa kita semua tahu bagaimana bebasnya tiap-tiap individu berpendapat di sosial media. Banyak diantaranya yang melampaui batas atau beberapa yang menanggapi masalah serius dengan gurauan. Terkadang logika pun diputar balikkan. Kita benar-benar hidup di era sosial media memiliki andil yang cukup besar. Well intinya kita semua hidup dengan keyakinan masing-masing dan kita memang hidup berdampingan antar keyakinan di segala sisi. Beberapa sahabat gue juga memiliki latar belakang yang berbeda dan gue sangat menghormati apa yang mereka yakini. Kita tentunya harus menghormati perbedaan itu dan gue rasa kita udah dapet pelajaran toleransi ini dari jaman SD. Lalu dari sana kita harus tahu ada batasan-batasan yang tidak boleh dilangkahi.

Cuma dari sejak peristiwa 411 lalu, pertanyaan Jaka ke Soe Hok Gie bener-bener sering mengisi kepala gue “Lu tuh ‘kanan‘ atau ‘kiri sih Gie?” Waktu itu Gie cukup kaget karena seolah-olah perjuangan itu harus berpihak pada salah satu kelompok ‘kiri’ atau ‘kanan’.  Well, memang kalau untuk arah perjuangan kita bisa saja netral dari kelompok ‘kiri’ atau ‘kanan’. Tapi kalau untuk iman, tentu tak ada iman yang netral, iman berarti kecondongan akan suatu keyakinan.

Selamat siang dari Jakarta, dari manusia yang masih jauh dari kata berilmu.

 

 

 

Coral Reefs

“So, let me dive in to the ocean, beyond the coral reefs. Please, I still need more time, to do normal” Me, 23 y.o, told myself on another rainy day.

Finally, setelah 2 hari berturut-turut di awal minggu ini lembur sampai pagi akhirnya badai tender dan negosiasi berakhir. Cheers to us. Dan dua hari yang lalu gue berhasil kabur ke kedai kopi sejenak sembari menunggu teman gue datang. Short getaway sebelum site visit ke pabrik baja keesokan harinya di Bekasi. Well, yeah Bekasi. Gue udah nyaris 3 jam menghabiskan waktu disana. Di kedai kopi, dua hari yang lalu. Di hari hujan.

Dua hari yang lalu juga salah seorang temen gue ada yang pergi ke Natuna, nope, bukan buat liburan, tapi ikut Indonesia Mengajar. Beberapa bulan yang lalu dia sempat nyaris jadi calon temen satu perusahaan gue, tapi dia memilih buat mengabdikan dulu dirinya selama setahun jadi pengajar muda dan terpaksa menolak tawarannya. Luar biasa memang doi. Sayangnya kita nggak sempat farewell kemarin, yah sebenernya sebulan yang lalu udah sih. Well hebat memang doi, salah satu teman gue yang selalu menginspirasi. Kalau masalah pengabdian kepada masyarakt, doi memang luar biasa banget jiwa sosialnya. Baik-baik di kepulauan Natuna sana Tin. Sehat-sehat ya.

Well, sedangkan gue saat ini masih di Jakarta, sering menghabiskan waktunya di kedai kopi. Tempat dimana wanginya kopi berterbangan di udara begitu lu masuk ke dalamnya, terkadang terasa sangat melankolis. Gue sering menyelesaikan beberapa pekerjaan gue disana. Sesekali gue mengamati suasana kedai kopi ini, kemarin seorang ibu muda meminta ijin buat duduk di depan gue, karena nyaris semua bangku sudah penuh. Sekedar mengobrol ringan, dia terlihat senang ketika menceritakan puteranya yang berusia 9 bulan kelahiran Indonesia. Entah mereka orang mana, tapi pasangan muda tersebut sangat ramah.

Dua hari yang lalu gue baru dapet kabar bahwa salah satu buku yang gue pesan baru aja dikirimkan dari publishernya, jadi baru akan tiba setidaknya 2 minggu lagi. Cukup lama juga, kali ini gue memesan buku tentang kopi, bukan tentang penyajian kopi, tapi lebih tentang bagaimana kopi bisa mempengaruhi berbagai aspek di dunia. Menarik sepertinya.

Di belahan Indonesia yang lain, saat ini salah seorang teman gue sedang mengabdikan dirinya buat pendidikan bangsanya. Lalu di belahan dunia yang lainnya teman-teman gue sedang melanjutkan studinya. Dan hari ini jutaan umat muslim berkumpul di silang Monas, memperjuangkan apa yang diyakininya. Memperjuangkan apa yang juga gue yakini. Semua bergerak sesuai apa yang diyakininya.

Selamat Sore, di hari hujan yang lain dari Jakarta, semoga kita tetap pada jalur yang benar,
 

Starry Night

“That day when the stars came falling. It’s almost as if a scene from a dream. Nothing more, nothing less than a beautiful view” Taki-Mitsuha, Kimi No Na Wa.

Gue baru aja kelar nonton Kimi No Na Wa kemarin malem, well, another great anime dari Makoto Shinkai. Artworknya Makoto Shinkai benar-benar nggak pernah mengecewakan. Story line anime tentang body swap romance ini juga cukup bagus, complicated dengan plot maju mundurnya. Endingnya kayak kebanyakan animenya Makoto Shinkai, menggantung. Tapi setidaknya tidak semenggantung 5 cm per second yang sering bikin jadi nelangsa kalau habis nonton itu. Anime ini recommended buat ditonton, visualnya sangat memanjakan mata.

Well, tadinya post ini mau gue buat two days in a row gitu sama post sebelumnya, tapi karena berbagai hal nggak jadi deh. Oke ini cuma short escape gue doang sih sebelum Monday meeting  pagi tadi sebenernya. Tapi baru sempat ngepost sekarang di tengah macetnya jalanan ibu kota. Weekend kemarin gue masih juga lembur sampai jam 1 malam. Yah bahkan kemarin lusa sebelum keluar makan malem sama Nyokap Bokap kemarin owner gue udah nanyain kerjaan aja. Emang sih there’s no weekend banget kalau lagi kerja di proyek gini, tapi at least ya gue nyisihin waktu buat Nyokap Bokap dulu lah. Tapi biasanya hari Minggu lebih tenang sih dibanding Sabtu.

Weekend kemarin ini gue balik ke Bogor, menghabiskan weekend bersama Nyokap Bokap. Sebenernya minggu kemarin tadinya gue mau kumpul sama sohib-sohib SMA, sayangnya schedulenya nggak pas dan nggak nemu hari yang cocok. Akhirnya hanya menguap jadi wacana begitu saja. 2 Minggu lagi salah seorang sahabat gue mau nikah, temen SMA gue yang beberapa menit setelah kenal gue pas MOS dulu langsung bilang gue jahil. Dulu pas SMA errr sampai kuliah gue emang terkenal iseng. Entah, kayaknya karena emang gue kurang kerjaan. Time goes too fast dude, really fast.

Nggak kerasa juga udah 1 tahun lebih sejak gue lulus dan meninggalkan Bandung. Pertanyaan lu udah ngapain aja dan kedepannya lu mau gimana masih aja seringkali hinggap di pikiran gue. Well, nggak seintens dulu sih. Tapi yah sejauh ini gue nggak pernah menyesali pilihan yang gue ambil ini. Menyelesaikan apa yang udah dimulai dan menikmati hidup. Semakin kesini gue makin sadar kalau semakin kita bertambah tua, maka pemikiran kita pun akan semakin rasional. Tapi tetep aja rasional dan pesimis itu seringkali beda tipis. Rasional menurut gue sih cara melihat dengan kaca mata yang lebih luas.

Well, tinggal 6 bulan lagi sebelum project gue yang di Padang selesai. Dulu 15 bulan seakan-akan terasa sangat lama, tapi waktu berlalu dengan sangat cepat. Entah setelah ini gue ditempatkan dimana. Sayangnya gue biasanya hanya di Padang beberapa hari saja, jadi gue belum bisa terlalu mengeksplorasi Padang. Kecuali errr makanannya. Beruntung sebagian besar tim project gue orang sana, jadi mereka tau tempat-tempat yang recommended. Kapan-kapan gue mau mencoba menghabiskan weekend gue di Padang.

Terkadang secara random sebelum tidur gue suka melakukan midnite contemplation. Banyak hal yang terjadi beberapa tahun terakhir ini, gue hanya mencoba berada pada jalur gue. Terkadang kejadian-kejadian yang datang secara mendadak itu justru mengingatkan kita untuk kembali pada jalur dan berpegang pada apa yang kita yakini.

“Do the people think that they will be left to say ‘We Believe’ and they will not be tried?” [Al-Ankabut (29:2)]