Tetap Produktif selama WFH

Hari ini sudah masuk minggu ke empat gue WFH kalau nggak salah. Yah di minggu pertama gue masih ke kantor sih karena memang load pekerjaan lagi tinggi dan butuh koordinasi langsung. Lalu minggu-minggu berikutnya gue hanya ke kantor sekali setiap minggunya. Dampak virus Covid-19 ini memang cukup besar. Virus mungil ini betul-betul mengakibatkan perubahan yang signifikan dan mendisrupsi berbagai lini yang ada. Gue berharap semoga wabah ini bisa segera berlalu, biar semuanya bisa kembali normal lagi. Gue bener-bener salut sama rekan-rekan tenaga medis, mereka adalah garda terdepan dalam perjuangan ini. Tetap semangat dan semoga mereka selalu diberikan kesehatan.

Well, menjalani WFH seperti sekarang ini gue rasa dibutuhkan kedisiplinan terhadap diri sendiri. Apalagi buat pekerja kantoran 8 to 5 yang biasanya teratur banget berangkat pagi pulang sore (err atau malem). Mungkin buat temen-temen yang udah biasa freelancing atau remote working gitu nggak begitu terpengaruh. Jujur aja sebagai pekerja kantoran 8 to 5 gue cukup excited dengan WFH ini pertama kali. Gue juga sudah beberapa kali baca tentang tips dari temen-temen yang biasa kerja di rumah, kayak gimana lu harus disiplin sama diri lu sendiri dan lain sebagainya. Nah berdasarkan pengalaman gue selama beberapa minggu ini, gue rasa beberapa hal berikut ini cukup penting buat disiapkan dan diperhatikan ketika lagi WFH

  1. Bangun pagi kayak rutinitas kita ketika mau berangkat kerja biasanya. Untuk temen-temen yang muslim harusnya ini otomatis ya, kan kita sholat shubuh dulu nih.
  2. Sarapan yang cukup, penting juga nih. Pastikan gizinya seimbang. Jangan lupa makan banyak buah-buahan dan sayur.
  3. Set tempat kerja. Menurut gue ini cukup krusial sih, sebisa mungkin cari tempat kerja di rumah yang minim distraksi. Kalau gue memilih kamar gue sebagai tempat kerja. Ketika gue kerja biasanya kamar gue selalu dalam keadaan tertutup. Tapi ingat pastikan sirkulasi udara dan pencahayaan juga baik yah.
  4. Pakai baju yang proper. Penting banget ini, seenggaknya pakai baju yang proper bisa men-set pikiran kita kalau kita itu lagi kerja. Kalau biasanya gue kerja pakai blazer, ketika WFH gue pakai kemeja aja sih. Ditambah kalau diajak concall dadakan, kita udah presentable.
  5. Stick to the schedule. Yes, ketika kita mau WFH kita harus ngabarin semua yang ada di rumah kalau kita WFH dari jam 8 sampai jam 5 misalnya. nah terus stick to the plan deh, biasanya gue masuk kamar jam 8 kurang terus jam 12 keluar buat ishoma habis itu lanjut lagi sampai sore. Pagi -pagi juga sebaiknya kita menentukan pekerjaan apa aja yang mau kita selesaikan.

Mungkin cara orang buat tetap produktif selama WFH macem-macem, tapi menurut pengalaman gue beberapa minggu ini, 5 hal tadi cukup penting buat diperhatikan. Ada beberapa hal lain yang menjadi kebiasaan gue selama WFH ini ngopi pagi misalnya, dengan ngopi gue bisa terbebas dari kantuk. Lalu kalau siang biasanya gue bikin infuse water biar tetap segar dan terhidrasi dengan baik, simple aja pakai lemon dan jahe. 

Buat teman-teman yang lagi WFH, semangat terus WFHnya dan tetap produktif. Mungkin kadang kita merasa bosan saat ini karena nggak bisa beraktivitas kayak dulu. Jujur aja gue juga kangen kok ngopi di kedai kopi, renang sore-sore pulang kantor atau makan siang bareng temen-temen kantor. Tapi bisa mendapatkan kesempatan WFH ini juga suatu hal yang perlu disyukuri. Di luar sana tenaga medis sedang berjuang di garda terdepan dan banyak teman-teman yang tak seberuntung kita. Mungkin kalau ada rezeki lebih bisa disisihkan untuk membantu mereka berjuang. Untuk teman-teman yang bisa (dan mendapat kesempatan) kerja di rumah, maka tetaplah di rumah dan sebisa mungkin kurangi aktivitas di luar, semoga wabah ini bisa segera berlalu.

Gone with The Wind

It’s been years..

At the end I know that uncertainty is the most stressful feeling. I know I couldn’t rewind the time and I won’t dwell in the past anymore. In the future, I’ll be more honest with my feeling.

It’s time to let go Bil.

Jeda

Gue rasa kadang manusia butuh jeda. Hidup nggak selamanya terus berlari kan ya, nggak selamanya juga terus berjalan. Kadang kita butuh berhenti sebentar to figure out everything.

Tapi kadang kalau terlalu lama berhenti, gue jadi berpikir dalam-dalam tentang banyak hal. Semacam mengkhawatirkan masa depan. Katanya manusia emang punya kecenderungan buat mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi. Yang gue tau ini nggak baik.

Entahlah, sepertinya gue sekarang ada di zona nyaman gue. Gue nggak tau juga akan ada di zona ini berapa lama. Katanya berada di zona nyaman terlalu lama itu berbahaya. Entahlah. Tapi yang jelas kalau mau melangkah keluar dari zona itu harus hati-hati juga kan.

Belakangan gue sering bosan dengan playlist-playlist di Spo**fy gue. Ketika gue jenuh, gue lebih suka dengerin Podcast. Entah itu di kantor atau di perjalanan pergi dan pulang kantor. Selera musik gue juga mengalami pergeseran, belakangan gue entah kenapa gue jadi suka dengan musik jazz.

Seperti kebanyakan mereka yang berada di pertengahan usia 20, banyak hal yang gue pikirkan sekarang. Tapi gue percaya kalau semua akan terjadi sesuai takdirnya. Kita manusia toh hanya bisa merencanakan dan mengusahakan.

Gue juga percaya bahwa entah dimana pun dia sekarang. Gue yakin kalau kita bakal ketemu orang yang tepat di waktu yang tepat. Siapapun dia. Yang jelas saat ini gue perlu mempersiapkan diri. Karena kedepannya tanggung jawab pasti akan semakin berat. Jadi banyak yang harus dipersiapkan.

Well, belakangan gue suka banget liat senja. Indah banget komposisi warnanya dan apapun di sekitarnya jadi keliatan cantik. Entah kenapa kalau ngeliat matahari terbenam gue jadi ngerasa tenang dan damai. Senja menunjukan kalau waktu berganti dan apapun yang ada itu akan berubah. Gue, lu, dia dan mereka semua akan berubah. Tapi yang jelas senja menunjukan kalau siang akan berganti malam. Dan malam adalah waktu untuk beristirahat sejenak dari apa yang sudah kita upayakan di siang hari.

“And it is He who has made the night for you as clothing and sleep [a means for] rest and has made the day a resurrection.” Quran 25:47

Jakarta, beberapa menit setelah senja.

Run Billy Run

Beberapa waktu yang lalu temen kuliah gue secara random nyeletuk

“Nggak kerasa kita udah 4 tahun lulus ya”

“Iya, cepet banget yah”

Lalu di hari yang lain, ketika makan siang bareng, temen gue di kantor nanya gue

“Bil, lu nggak sayang ya lulusan ITB kerja disini?”

“Hmmm nggak juga sih, sejauh ini gue enjoy..”

Well, sudah 4 tahun gue lulus dan sudah hampir 4 tahun juga gue kerja di perusahaan gue sekarang. Bener juga kata temen gue dulu pas OJT, katanya di tahun pertama lu kerja waktu bakal berjalan sangat lambat tapi sisanya akan bergulir gitu aja. Emang sih di setahun pertama, gue kadang ngerasa agak dilema karena banyak orang yang bilang kalau gue nyasar di perusahaan gue sekarang ketika mereka tau almamater gue. Padahal menurut gue nggak ada yang salah, lagipula fokus bisnisnya juga masih sejalan sama subjek yang gue tekuni di bangku kuliah. Gue sendiri juga nggak begitu mengerti kenapa alumni2 di tempat gue nggak begitu banyak yang terjun di kontraktor BUMN. Sejauh ini, seperti yang gue bilang di tengah makan siang gue bersama temen2 kantor, gue masih enjoy disini. Karena gue cukup nyaman dengan lingkungannya dan masih banyak hal yang masih bisa gue pelajari disini.

Oh iya lagi pula menurut gue, almamater itu nggak bisa mendefine masa depan kita sepenuhnya. Walau sedikit banyak punya pengaruh ke pola pikir kita tentunya. Semuanya bakal balik ke diri kita lagi, gimana goal kita, persistensi dan determinasi. Kesuksesan juga bukan suatu hal yang absolut, tiap orang punya definisi dan parameter suksesnya masing-masing. Jadi gue nggak begitu ambil pusing ketika orang mempertanyakan keputusan gue.

Soal kehidupan pasca lulus dan dunia kerja, ada satu hal yang gue pikirin sejak dulu di tahun pertama gue kerja: gue nggak mau hidup yang monoton. Kayak cuma Tidur-Makan-Kerja-Makan-Repeat. Gue pribadi punya beberapa target personal yang menurut gue bikin hidup gue lebih passionate. Gue jadi ingat wejangan salah satu dosen ketika gue diskusi karena mau pindah sub bidang keilmuan yang gue tekuni sekarang

“Terserah kamu mau menekuni apapun itu Bil, yang penting itu adalah hal yang bikin kamu semangat ketika bangun tidur”

Beliau adalah salah seorang dosen geotek yang ngebimbing paper gue dan temen2. Malam itu gue cerita kalau gue mau menyebrang dari geotek ke sub bidang yang lain sekarang, karena beberapa hal. Lalu beliau ngasi wejangan intinya yang penting lu enjoy, tekun dan konsisten sama pilihan lu itu.

Anyway balik lagi ke working life gue, di weekdays, mostly gue habisin waktu 1/3 hari di kantor (seringkali lebih malah) dan kita punya 2/3 hari sisanya. Gue nggak pengen 2/3 hari gue sia-sia, jadi gue coba cari kegiatan yang bikin hari-hari gue nggak monoton. Sejak gue pindah dari site ke office ritme hidup gue lebih teratur dan beberapa kegiatan ini cukup bikin gue nggak bosen dan bisa ngerefresh pikiran.

1. Jalan pagi sebelum ngantor. Ini lumayan banget, selain buat ngejaga badan biar tetep fit, working out katanya bisa mempengaruhi kerja otak kita in positive ways. Gue biasanya keluar rumah sekitar setengah 6 jadi udaranya masih fresh, lalu jalan sekitar 1 jam. Biasanya gue pakai headset sambil dengerin musik dan nggak mau buka notifikasi apapun di hp gue selama 1 jam itu. Setelah itu gue balik, mandi dan siap2 ngantor.

2. Renang sepulang kantor. Kalau ini nggak setiap hari, karena gue renangnya malem gue prefer di kolam yang indoor walau tempatnya agak jauh dari kantor. Biasanya 1-2 kali lah seminggu. Nyebur ke kolam dan lap swim kurang lebih 1 jam, rasanya bisa ngerefresh pikiran banget yang sudah diperas di kantor seharian. Setelah renang juga biasanya tidur malam gue lebih berkualitas.

3. Belajar bahasa. Belajar bahasa ini sebetulnya salah satu persiapan gue buat ambil master nanti. Ini yang agak susah, karena nine to five job gue yang kadang menuntut overtime, gue agak sulit kalau harus ambil kelas. Jadi ya opsinya kalau nggak otodidak ya ambil online course. Untuk yang ini gue lagi cari ritme dan cara yang tepat sih.

4. Ngerjain project bareng temen. Well, ini menarik karena selain menyambung silaturahmi sama temen-temen, gue ngerasa lebih produktif aja karena ada sesuatu yang dihasilkan. Kalau project ini terkait sama bidang keilmuan kita, lumayan ngerefresh dan menambah wawasan juga sih. Dengan ngerjain project juga biasanya kita bisa menambah link

5. Menyambangi art space dan museum. Gue dari dulu selalu tertarik dengan seni, walau gue nggak nyeni. Gue cuma penikmat aja sih sebetulnya, walau dulu gue sering dikira anak seni rupa oleh beberapa teman di unit kemahasiswaan. Dateng ke exhibition2 buat gue rasanya bisa ngasi insight dan inspirasi. Di jakarta sendiri sekarang cukup banyak artspace dan museum yang ngadain exhibition secara berkala.

6. Spend a me time. Gue punya beberapa tempat pelarian ketika gue mau menghabiskan waktu sendiri. Kebanyakan sih coffee shop yang biasanya nggak gue kunjungi bersama temen2 gue. Karena di weekdays biasanya gue dan temen2 ngopi di deket kantor sambil chit chat. Well, gue termasuk orang yang butuh waktu untuk ngerecharge diri gue sendiri. Dengan me time gini biasanya gue bisa melakukan beberapa hal kayak baca buku atau ngeblog yang nggak bisa gue lakukan ketika kongkow-kongkow bareng temen.

7. Ikut event olahraga. Beruntung beberapa orang temen gue ngajakin untuk ikut event2 lari. Sampai akhirnya beberapa minggu yang lalu gue berhasil mendapatkan medal 5k pertama gue. Yah gue cukup happy juga akhirnya dapet medal 5k walau dengan pace yang memprihatinkan. Tapi ikut event lari bareng temen-temen gini lumayan memotivasi gue untuk lebih baik juga.

Well, es kopi susu di depan gue udah hampir habis. Sekian dari gue, yang sudah menghabiskan 3 jam gue di kedai kopi kecil ini.

Interlude #4

Whoooooah, it’s been a while. Post terakhir gue di Maret 2018, kira-kira setahun yang lalu. Udah lama juga ya. Setelah setahun hiatus, gue cuma mau nulis interlude yang lain hari ini. Sebetulnya gue selalu berharap gue rajin nulis disini, tapi belakangan gue lebih memilih bullet journal gue untuk menulis hal-hal yang kelewat personal.

Banyak hal yang terjadi setahun ini,

Alhamdulillah bisa ke Mekkah dan Madinah bareng nyokap bokap, salah satu point yang ada di bucket list gue tercentang. Baru selang beberapa bulan berlalu gue sudah merindukannya. Suasana menunggu waktu sholat tiba sambil mendengarkan suara adzan yang sangat syahdu. Bertemu dengan saudara2 muslim dari belahan bumi lain yang dengan ramah menawarkan menu berbuka puasa mereka kepada kami.

Salah satu kedai kopi favorit gue tutup beberapa bulan lalu. Sedih juga, padahal tempat ini selalu jadi tempat pelarian gue sejak tahun 2016. Tempatnya sepi dan comfy, bikin gue betah berlama-lama disana buat nulis atau baca. Setelah kedai kopi ini tutup gue mencari lagi kedai kopi yang serupa, namun sampai sekarang gue belum menemukannya.

Beberapa bulan ini gue mulai rutin olahraga, sejak sempat off sejak masuk kuliah dulu. Gue coba untuk rutin renang, jogging dan sepedaan. Sepertinya triathlon menarik juga. Tapi gue belum seserius itu sih, untuk saat ini gue olahraga cuma untuk jaga kesehatan tubuh gue dulu aja. Dan lagi untuk triathlon cukup banyak gear yang harus disiapkan wkwkwk.

Gue tinggal 3 hari 2 malam di atas boat, yep mengapung-apung di lautan ketika gue ngetrip ke Labuan Bajo beberapa minggu lalu. Pengalaman ini cukup menarik buat gue yang kurang adventurous ini. Kita island hopping dari satu pulau ke pulau lainnya, snorkeling, ngejar sunset dan lari dari hiu (gue aja sih, temen gue yang lain santai). Keren abis memang Indonesia ini.

Mulai mempersiapkan rencana gue untuk ambil S2, gue lagi mempersiapkan hal yang paling dasar sih: IELTS preparation. Setelah bekerja kurang lebih 3.5 tahun ini, gue mulai mendapatkan sedikit gambaran tentang fokus studi yang akan gue ambil. Gue belum berencana untuk ambil tahun ini sih karena gue belum persiapan sama sekali. Dan rencana gue sementara ini masih akan tetap jadi praktisi dulu pasca S2 nanti.

Kedepannya sepertinya gue akan mulai rutin menulis lagi. Sebulan sekali barangkali. Yang jelas gue masih akan merawat blog ini.

Interlude #3

Pada akhirnya hanya interlude yang lain. Malam ini, setelah sekian lama, akhirnya gue mengunjungi salah satu kedai kopi favorit gue. Sudah lama sejak gue nggak kesini, dan tempat ini rasanya makin ramai. Padahal salah satu alasan gue menjadikan kedai kopi ini jadi tempat favorit gue, karena tempat ini tadinya nggak begitu ramai. Kadang gue memang butuh me time untuk ngecharge diri gue wkwkwk. Ngomong-ngomong soal kopi, sebetulnya Januari lalu gue sudah berhasil menyetop caffeine intake gue. Tapi bulan ini, gue sudah tiga kali menyerah. Caffeine benar-benar bekerja dengan sangat baik di otak gue.

Belakangan waktu berjalan sangat cepat rasanya. Tahun 2017 berlalu dengan cepat, akhir tahun kemarin gue menghabiskan waktu dengan keluarga besar nyokap gue di Solo. Menghabiskan beberapa hari di dataran tinggi Sukuh. Lalu gue kembali ke Bogor sampai tahun baru. Menangkap beberapa ikan nila yang dibesarkan Bokap gue di kolamnya. Benar-benar melepas penat rasanya.

Di awal tahun 2017 lalu gue masih di Padang, dengan kondisi proyek yang begitu hectic. Lari ke kedai kopi lokal disana atau menyusuri taplau ketika jenuh. Sampai pada bulan Februarinya, gue mendapat surat untuk kembali ke pusat. Dan baru benar-benar kembali ke Jakarta di pertengahan Tahun. Padang adalah tempat perantauan kedua gue setelah Bandung. Rasanya jadi rindu juga, terpaan angin laut di taplau. Malam terakhir gue disana, gue berkeliling kota dengan singkat.

Gue nggak tau apa yang akan terjadi di tahun ini dan tahun-tahun berikutnya. Tapi gue akan berusaha menikmati setiap prosesnya. Belakangan, semakin banyak hal yang gue pikirkan dengan semakin bertambahnya umur gue. Belakangan juga gue merasa kalau gue mulai fleksibel dengan rencana-rencana gue. Apapun bisa terjadi. Well, Pohon Maple tampaknya jadi semenarik Silver Birch belakangan ini.

Yah sebetulnya ada beberapa topik yang mau gue bahas in brief. Kayak tunneling method dan teman-temannya. Tapi draftnya nggak berhasil tersentuh sama sekali beberapa bulan ini. Jadi, mungkin, setelah ini.

Gue tinggal menyeruput kafein terakhir gue, lalu gue akan kembali.

Interlude #2

Pagi, well sudah 2 minggu berlalu sejak post terakhir. I’ve already given up my caffeine intake now, so, good bye my sweet caffeine. Terakhir gue ngopi, pas di Pontianak, kopi susu nya Kopi Aming yang udah melegenda disana. Rekomended abis! pokoknya kalau lu ke Pontianak, harus coba. Kafeinnya super strong dan rasanya mantap. Oh iya alasan gue mengurangi kafein intake gue banget karena belakangan gue sering sakit kepala kalau habis ngopi, yah kayaknya gue aja sih yang over kafein wkwkwk. Selain itu kopi favorit gue juga semacam latte dan saudara-saudaranya, yang mengandung susu dan gula, jadi ya nggak baik juga kalau dikonsumsi terlalu sering. Karena itu juga akhirnya gue memilih untuk mengurangi caffeine intake gue secara drastis dan gue menyerah untuk JCM tahun ini hahaha. Untuk sementara ini gue mah mengkonsumsi minuman yg lebih sehat lah.

Terus minggu ini, selama beberapa hari kemarin, gue diminta kantor gue untuk ikut pelatihan di Bandung. Yah happy lah, karena seminggu full gue di bandung, sedikit nostalgia di kota kembang, walau nggak semua tempat bisa disambangi. Tapi, harus diakui juga walau tetep ngangenin, Bandung rasanya mulai berubah, karena orang yang gue kenal satu persatu udah merantau dari kota kembang ini. Disana gue ketemu beberapa temen juga, dari yang ngomongin hal receh, kerjaan sampai yang nyemangatin gue buat lanjut sekolah lagi (?). Yah, iya sih, gue kayaknya belakangan terlalu terdistrak sama kerjaan gue, sampai gue lupa akan hal-hal kayak gitu. Walau dulu sempat gamang apakah gue akan lanjut sekolah lagi atau langsung kerja ketika gue lulus, tapi menurut gue pilihan gue buat cari pengalaman dulu adalah pilihan yang terbaik. Well, tentu tiap orang punya tolok ukur dan rencana yang berbeda.

Gue balik dari Bandung kemarin siang, lalu langsung disambut hujan ketika sampai di Jaksel. Malamnya gue pergi ke rumah seorang teman yang akan melanjutkan studinya ke luar, bertemu beberapa teman seangkatan juga. Lalu mulai mengobrol-ngobrol lagi tentang rencana mengambil master. Salah satu hal yang membuat gue termotivasi lagi untuk ngejar master, ya kalau ketemu temen-temen gini. Nggak terasa ini udah tahun kedua sejak gue wisuda, dan sebagian temen-temen gue udah tersebar di berbagai benua.

Kalau sesuai dengan rencana awal, harusnya nggak lama lagi gue udah harus persiapan, yah mulai menentukan akan mengambil apa dan dimana. Kemarin gue sempat diledekin nyokap gue, ketika lagi pelatihan geotek di Bandung dan gue ngeluh kalau gue pusing liat rumus-rumusnya yang terlalu advance. Hahaha, gue sendiri belum tau sih apakah gue akan ngambil geotek lagi kayak S1 dulu atau malah ambil manajemen proyek yang lebih general.

Yah kalau untuk saat ini, gue malah lagi terjebak di BIM. Walaupun agak berbeda sama yang gue dalemin pas kuliah, gue lagi mencoba untuk menyesuaikan diri sih, belajar lagi. Belakangan ini gue juga jadi terinspirasi banget sama Elon Musk, dia adalah salah satu contoh sukses expert generalist, jack all trades and master of some. Dia membuktikan bahwa dia adalah seorang jack all trades yang berhasil.

Yah balik lagi, ke kafein yang manis. Sejak gue nyetop caffeine intake gue, gue rasanya jadi unproduktif abis. Entah ada kerelasinya atau nggak. Tapi belakangan gue males banget buka-buka buku untuk sekedar baca iseng aja. Masih ada dua buku yang belum gue sentuh sama sekali. Menurut gue menjadi unproductive adalah salah satu cara untuk jadi productive. Gue mencoba untuk menjalani hari-hari yang unproductive sampai titik dimana gue bosen jadi unproductive. Well, sebetulnya nggak unproductive juga sih, cuma gue lagi nggak melakukan apa yang biasanya gue lakukan aja kayak pergi ke kedai kopi dan baca buku. Tapi belakangan ini gue mulai rutin olahraga lagi, gue mulai sadar kalau hidup emang harus balance.

 

Yah sekian interlude pagi ini, gue masih berhutang untuk ngereview buku sebetulnya. Tapi gue lagi malas sekali untuk baca buku atau sekedar review buku sementara ini. Selamat berakhir pekan.

Interlude #1

Kok rasanya dapetin mood untuk kerja malem ini agak susah ya, udah nyaris sejam ini gue masih mengotak-atik playlist Spotify gue nyari musik yang tepat buat dapetin mood. Yah, beberapa minggu ini gue skip banget nulis, kerjaan gue lagi agak hectic soalnya. Semoga pertengahan minggu ini bisa selesai sesuai target. Ada buku yang mau gue review lagi soalnya, yang ini rekomendasi dari temen gue.

Weekend ini gue menyempatkan short family outing sama nyokap bokap gue, nggak jauh-jauh kok, cuma ke Sukabumi, kota tetangga haha. Kita mau chillaxing aja sebentar, setelah weekend sebelumnya gue dan bokap gue mendadak diminta lembur di kantor. Sukabumi kemarin cukup dingin dan sore harinya kota sejuta mochi itu diguyur hujan.

IMG-20171029-WA0000

Sebetulnya ada beberapa hal yang mau gue tulis disini, tapi gue punya perasaan mengganjal kalau gue blogging dikala kerjaan gue belum kelar. Gue dapet beberapa inspirasi di tengah perjalanan gue ke Bandung dua minggu lalu. Oh iya kereta sekarang jadi moda favorit gue kalau ke Bandung, alasannya dua, yang pertama karena rute Jakarta-Bandung sekarang macetnya nggak ketulungan terutama di Bekasi, Cikarang sama Pasteur lalu yang kedua  karena pemandangan yang super stunning dari Jembatan Cisomang keliatan jelas banget kalau naik kereta.

Minggu ini semoga aja kerjaan gue segera kelar, dan bisa ke exhibitionnya Radhinal Indra. Ini salah satu exhibition yang udah gue tunggu dari bulan lalu. Dari beberapa review yang gue baca, seni yang dihasilkan Radhinal selama ini cukup dipengaruhi dari latar belakang keluarganya yang lekat dengan sains. Seru sih, gue liat sekilas mostly intallasinya berkaitan sama celestial objects, ini membuat gue teringat sama cita-cita ketika gue masih bocah yang pengen jadi astronom. Dan ini juga salah satu alasan yang membuat gue excited sama exhibition ini.

Anyway, next post gue akan mencoba membahas dengan singkat buku The Subtle Art of Not Giving a F*ck dari Mark Manson dan barangkali satu lagi posting singkat tentang Fa Mulan, salah satu tokoh Disney favorit gue hahaha, well, she’s a not a typical Disney princess.

Sekian Interlude malam ini. Selamat bertemu dengan hari Senin.

 

Playing Cards: Between A Jack or A King, Which One is Better?

You’ve probably heard this question “Which one is better to be a jack of all trades or a master of one?”. Well you’ll find tons of this discussion on Quora. But you won’t find the exact answer.

Jack of all trades merupakan julukan yang ditujukan bagi para generalis dan master of one adalah julukan bagi para spesialis. Pertanyaan mengenai mana yang lebih baik antara spesialis dan generalis adalah sebuah pertanyaan yang super klasik. Sebenernya kalau kita sadari life is not full of binary decisions, opsi kita nggak cuma 1 atau 0, positif atau negatif. Well binary decisions are for computers not hoomans like us wkwk. Ketika kita bertanya mana yang lebih baik diantara keduanya, yah gue rasa sebenernya jawabannya we can be both. Also lately lot of people realize that “Jack of all trades, master of none” a common phrase that we usually heard is just a myth. Because being a jack of all trades doesn’t mean that you’re a master of none.

Ketika kita kuliah dulu, tentu kita mendalami bidang-bidang tertentu. Teknik sipil misalnya. Di dalamnya masih ada subjurusan-subjurusan lagi. Biasanya mahasiswa di tingkat akhir diarahkan mengambil spesialisasi tertentu untuk tugas akhirnya. Lalu ketika lulus “poof!” kita bisa ada dimana aja, bekerja atau berkarir dimana aja. Beberapa masih sesuai dengan bidangnya dan beberapa yang lain menyebrang dari bidangnya. Gue sendiri masih dalam di bidang yang gue tekuni selama kuliah, tapi apakah yang gue kerjakan saat ini masih sesuai dengan spesialisasi gue dulu? Nope.

Well, gue suka banget ngobrol sama orang-orang yang kerja bareng gue, apalagi mereka yang udah berkecimpung lama di bidangnya. Mereka juga cukup seneng dan excited sharing pengalamannya ke anak-anak muda. Salah satu wejangan yang gue dapet dari rekanan kerja yang udah cukup senior adalah kalau kerja di kontraktor sebaiknya lu nggak mempelajarinya secara terkotak-terkotak. Bisa diartikan lebih baik jadi seorang generalis alih-alih spesialis.

Tapi di suatu kesempatan yang lain gue menyadari juga bahwa seorang spesialis adalah suatu desirable commodity. Umumnya seorang expertise sangat dicari untuk menangani masalah-masalah tertentu yang spesifik. Yah everyone wants to hire the best and also those specialist can name their price.
Beberapa waktu yang lalu gue baca suatu artikel yang muncul di homepage linked.in dengan judul “Specialists vs Generalists: Who Owns the Future?” yang ditulis oleh Lev Kaye. Setelah menjelaskan definisi serta advantages dan disadvantages dari spesialis dan generalis. Kaye answered his own question that two types of people who owns the future are Generalizing-Specialists and Specializing-Generalists. Err semacam hybrid dari kedua tipe yang ada. Instead of questioning and comparing between generalist and specialist, which lead to a neverending discussion, why don’t we try to be both? Generalizing-Specialist, adalah mereka yang mulanya seorang specialis then he’s try to handling broader range of skill or duties and also eager to grow. While the second type, the Specializing-Generalist adalah mereka yang bermula sebagai seorang generalis lalu seiring berjalannya waktu dia memfokuskan diri untuk meningkatkan skill di suatu bidang yang lebih spesifik. Keduanya tentu merupakan aset yang menarik bagi organisasi mereka.

Kedua hybrid tersebut bermuara pada tujuan yang sama, be a jack of all trades and a master of one, perbedannya hanya di prosesnya saja. Tipe mana yang sesuai dengan kita tentu sesuai dengan bidang yang sedang kita tekuni dan basic skill yang udah kita punya sebelumnya. Whether we starting out as a broad or a deep, in the future we need to both broaden and deepen our skills. Though doing so is a bit harder.

Oh ya I got this nice quote last night

” Every morning in Africa, a gazelle wakes up, it knows it must outrun the fastest lion or it will be killed. Every morning in Africa, a lion wakes up. It knows it must run faster than the slowest gazelle, or it will starve. It doesn’t matter whether you’re a lion or a gazelle when the sun comes up, you’d better be running. “

Well, selamat pagi dari Kota Minangkabau. Have a nice day!

Awaken

Long weekend lalu semua berakhir dengan cepat, menembus kemacetan Jakarta di Jumat malam dan bertemu dengan teman-teman SMA di penghujung minggunya. Bernostalgia sejenak dan membicarakan rencana masing-masing. Satu di antara kami akan menikah Sabtu ini, satu sedang melanjutkan S2nya dan ingin menjadi guru, dan yang terakhir akan melanjutkan S2nya tahun depan. Terkadang gue merindukan masa-masa SMA tapi gue juga selalu penasaran dengan apa yang akan terjadi di depan.

Well, sementara saat ini gue sedang rehat sejenak dari Proyek, sudah nyaris seminggu ini sebenarnya. Beberapa waktu lalu seorang manager di divisi riset menghubungi gue, intinya meminta beberapa perwakilan untuk mengikuti training Plaxis. Mengetahui tempat pelatihan tersebut di Bali gue pun langsung mengiyakan dalam hitungan detik dan syukurnya proyek gue pun memberikan izin untuk gue selama seminggu.

Sejenak keluar dari hiruk pikuknya proyek. Dari perusahaan gue sendiri diberangkatkan 2 orang, gue dan kebetulan seorang senior gue 2009. Dan kebetulan lagi di tempat training gue bertemu dengan 2 orang HMS 2006 yang bekerja di IPC. Dan bersama tiga orang senior ini lah gue menghabiskan waktu selama di Bali.

Training Plaxis kali ini benar-benar merefresh ilmu geoteknik yang sudah gue biarkan hibernasi terlalu lama dan juga mengupdate informasi-informasi baru. Bahkan sudah lebih dari setengah tahun ini gue nggak pernah membuka Plaxis. Training ini sebenarnya adalah agenda tahunan yang digagas oleh PLAXIS, HATTI,  ITB, ITENAS dan TU Graz. Well pengajar-pengajar yang bersemangat dan materi-materi yang disampaikan di training ini cukup membuat gue termotivasi lagi untuk melanjutkan S2 gue di bidang geoteknik.

Karena padatnya jadwal pelatihan dari pagi hingga sore, kita cuma bisa mengeksplor Bali di malam hari. Yah walaupun kadang masih bisa mengejar sunset, karena pelatihan diadakan di Nusa Dua jadi agak memerlukan waktu juga kalau pengen pergi ke Kuta ataupun Seminyak. Di Seminyak sendiri ada beberapa beach bar sangat ramai menjelang sunset dan seafood yang disajikan juga cukup recommended. Well selain itu di sekitar Kuta ataupun Seminyak cukup mudah untuk menemukan kedai-kedai gelato kecil yang cukup menyegarkan di tengah panasnya Bali. Tapi pas kemarin disana sih Bali cukup sering diguyur hujan, walau nggak merata.

Lalu malam tadi gue kembali lagi ke Jakarta. Setelah satu minggu kemarin terlepas dari hiruk pikuk proyek, bertemu senior-senior sealmamater, mengupdate beberapa informasi geotek, dan mengeksplorasi Bali secara singkat. Menghabiskan malam di Seminyak sambil diterpa hembusan angin laut adalah salah satu hal yang akan gue rindukan. Well dan minggu depan gue akan mulai bekerja lagi.

Sekaranh sudah pukul 2 pagi dan gue masih dalam perjalanan ke Pejaten karena pesawat yang delay. Lalu besok pagi-pagi gue sudah harus pergi ke Bogor. Barusan saja gue melihat salah satu artikel yang dipost seorang teman gue, ada satu line yang menarik di pembuka artikel tersebut.

Most of us go through our days on autopilot, not really living, but merely existing”

Well, terkadang gue takut juga jika menjalankan hari-hari gue secara autopilot. Membiarkannya berjalan gitu aja atau membiarkannya terseret-seret angin. Dan pada satu titik gue mempertanyakan kenapa dan untuk apa gue disini. Tapi gue terlalu malas untuk berpikir malam ini. Gue sedang terlalu malas untuk berpikir dalam-dalam.