November Wind and A Time for Contemplation

“A cold November wind can cut right through your soul
Even leaves all hide away from the wind November blows
And after all the warmth of the summer and the fall
Cold November wind cuts the deepest of them all
Perhaps everything was swept away by a cold November wind” – Willie Nelson-

Well, udah nyaris quarter pertama bulan Desember,  November telah berakhir, badai tender sudah berakhir juga, sedikit sih, tapi proyek gue lagi kejar target banget. Tapi karena masih ada beberapa urusan disini gue masih stand by di Jakarta, errr di Pejaten lebih tepatnya, daerah dimana kita bisa tinggal lompat ke Kemang. Heil Kemang!! Kemang yang tidak nggak pernah tidur.

Belakangan gue lihat-lihat blog gue cukup kurang terorganisir juga, well tapi kayaknya agak butuh waktu kalau mau ngerapihin blog yang udah gue mulai dari tahun 2014 ini. Mau ganti tema juga sih kayaknya. Anyway, beberapa minggu lalu gue dihubungin salah satu manager riset di kantor gue. Well, kalau gue dapet izin dari project, gue mau ikutan pelatihan keluar kota minggu depan, for a week, hurray, lumayan sekalian liburan. Liburan berkedok pelatihan. Sorry, Sir. Melarikan diri sejenak dari kenyataan.

Semakin dekat dengan akhir tahun dan gue rasa gue dapat banyak pembelajaran banget tahun ini hahaha. Mungkin setelah ini gue bisa menjadi lebih dewasa seutuhnya. Bahwa terkadang semuanya tak sesuai dengan ekspektasi but life must go on dude. Gue nampaknya bakal belajar dari salah satu sohib gue sih, he said that he has no expectation in his life. Nggak gitu juga sih, berekspektasi sih boleh, tapi kalau kenyataannya yang terjadi nggak sesuai dengan ekspektasi yaudah, jalanin aja.

Tahun ini konsumsi kafein gue juga semakin meningkat, fakta bahwa keluarga gue penikmat atau lebih tepatnya menganggap kopi sebagai candu adalah salah satu pendorongnya. Gue udah kenal kopi dari anak-anak. Well waktu itu dibatasin, minum kopi cuma kalau weekend aja. Tapi serius, kopi bisa  bikin tenang. Dan tempat kabur paling asik adalah kedai kopi.

Tahun ini email-email dari gapingvoid di pagi hari masih jadi asupan inspirasi gue selain segelas kopi. Well, thanks Hugh! Hahaha gue bahkan jadi koneksinya doi di Linked.in. Yah gue suka banget sama cara dia menyampaikan pemikirannya, simpel, beda, dan mengena.

Tahun ini kerjaan gue ya masih kayak gini aja, setelah 1 tahun join di perusahaan ini, gue masih belajar menjadi insinyur yang baik, err still learning to be a better employee yang jelas. Entah karena doa apa yang dipanjatkan Eyang dan Nyokap gue, walau project gue di Padang, gue masih sering stand by di Jakarta. Alhamdulillah.

Tahun ini emang gue niatin buat istirahat sih, setelah berjuang untuk segala huru-hara TA di tahun sebelumnya. Tapi nyatanya dunia kerja nggak setenang yang gue bayangkan, apalagi di kontraktor. Tapi secara keseluruhan asik sih. Ketemu banyak orang, mendengarkan cerita banyak orang, dan dateng ke tempat-tempat baru. Berusaha membaur di daerah yang sebelumnya belum pernah gue datengin. Yah walau temen kuliah gue juga ada dari mana-mana, tapi tetep aja beda rasanya. Dulu inget banget gue super roaming pas pertama kali join tim proyek gue ini, kalau mereka ngomong satu sama lain. Tapi sekarang gue udah mulai biasa. Gue sekarang udah bisa pesen makanan padang pake bahasa minang.

Tahun ini anggota keluarga gue juga bertambah. Setelah hidup selama 23 tahun akhirnya gue punya kakak cewek. Well yah dan pasca kakak gue nikah, muncul banyak pertanyaaan yang dilontarkan ke gue. Errr agak lelah juga kadang.

Well, intinya

Gue rasa ini akhir yang cukup baik buat tahun ini. Semoga.

Selamat Sore, dari hari yang mendung di Ibu Kota

December Sky

” Well at the end I just feel relieved. Now, I can pretty much be me. I just wanna send my regards to December sky. Thanks for everything.” – Me, told myself, on Saturday morning in December.

Finally, seriusan tapi pada akhirnya gue malah ngerasa lega dengan semuanya hahaha. Good luck there.

Kemarin lusa ketika akhirnya gue agak kosong, gue sama temen gue menyempatkan diri nonton filmnya tante J.K Rowling yang baru. Fantastic Beast and Where to Find Them, setting ceritanya jauh sebelum jamannya Harry cs. Main characternya Newt Scamander, ceritanya cukup bagus. Jadi di film ini memang menceritakan sepenggal perjalanan Newt di New York dan kalau yang suka sama Harry Potter gue rasa udah tau juga kalau Newt ini merupakan penulis buku Fantastic Beast and Where to Find Them. Btw, buku yang dipakai sama Harry cs ini juga dipublish kok sama J.K Rowling. Penulis genius memang. Selain buku Fantastic Beast-nya Scamander, J.K Rowling juga mempublish buku Quidditch Trough the Ages dan The Tales of Beedle the Bard. Well, gue belum nemu buku yang terakhir sih. Oh iya Newt diperankan oleh Eddie Redmayne yang juga berperan sebagai Stephen Hawking di film The Theory of Everything.

Harusnya rencana awalnya pagi ini gue udah berada di commuter line menuju Bogor, dateng ke nikahan Temen SD gue. Tapi semalem co-worker gue ngabarin buat site visit ke cengkareng, atas request dari owner. Jadi ya sekarang gue masih berada di atas kasur gue yang empuk. Menikmati Sabtu pagi gue sebelum site visit ke cengkareng. Terkadang gue berharap banget bisa Kage Bunshin no Jutsu atau membelah diri kayak amoeba errr. Biar multitasking. Anyway, kemarin sore seorang co-worker gue di proyek sebelumnya tiba-tiba nanyain rencana S2 gue. Kenapa belakangan banyak yang nanyain itu deh, padahal gue belum persiapan apa-apa. Masih mencoba menjadi pegawai yang baik sampai detik ini, mencoba mempelajari hal-hal baru yang tak didapat sebelumnya. Terkadang terlalu banyak objektif malah bikin gagal fokus.

Well, dan sekarang gue masih menunggu kabar dari site di Cengkareng. Setelah ini kalau nggak kunjung ada kabar juga, gue bakal kabur ke kedai kopi dan nyelesain beberapa pekerjaan gue disana sebelum balik ke Bogor.

Ngomong-ngomong belakangan gue merasa agak terlalu apatis, apatis sama yang terjadi di sekitar gue sekarang. Walau gue condong ke satu sisi, tapi gue nggak pernah declare itu ke khalayak. People around my circle tau sih gue condong kemana, tapi gue nggak pernah secara terang-terangan nulis di social media gue. Gue sangat mengapresiasi mereka yang berani menulis dengan tajam dan berdasar. Yang jelas gue berpegang teguh sama agama gue dan berusaha untuk stay on the right track. Yang jelas masing-masing dari kita punya keyakinan dan pedoman hidup. Harusnya itu yang kita yakini dan selalu dengarkan hati kecil kita.  Aksi 411 dan 212 sangat luar biasa memang, betapa jutaan saudara-saudara seiman berkumpul di silang Monas dari berbagai daerah. Semua tumpah ruah di Jakarta, sangat tertib, sangat indah. Kemarin gue di Jakarta, tapi masih harus mengurus beberapa pekerjaan, support yang  bisa gue lakukan hanyalah berdoa, semoga semuanya berjalan lancar.

Yah gue heran aja sama media-media sekarang, kita bener-bener harus bisa memilah yang mana yang benar dan yang mana yang hoax. Dan gue rasa kita semua tahu bagaimana bebasnya tiap-tiap individu berpendapat di sosial media. Banyak diantaranya yang melampaui batas atau beberapa yang menanggapi masalah serius dengan gurauan. Terkadang logika pun diputar balikkan. Kita benar-benar hidup di era sosial media memiliki andil yang cukup besar. Well intinya kita semua hidup dengan keyakinan masing-masing dan kita memang hidup berdampingan antar keyakinan di segala sisi. Beberapa sahabat gue juga memiliki latar belakang yang berbeda dan gue sangat menghormati apa yang mereka yakini. Kita tentunya harus menghormati perbedaan itu dan gue rasa kita udah dapet pelajaran toleransi ini dari jaman SD. Lalu dari sana kita harus tahu ada batasan-batasan yang tidak boleh dilangkahi.

Cuma dari sejak peristiwa 411 lalu, pertanyaan Jaka ke Soe Hok Gie bener-bener sering mengisi kepala gue “Lu tuh ‘kanan‘ atau ‘kiri sih Gie?” Waktu itu Gie cukup kaget karena seolah-olah perjuangan itu harus berpihak pada salah satu kelompok ‘kiri’ atau ‘kanan’.  Well, memang kalau untuk arah perjuangan kita bisa saja netral dari kelompok ‘kiri’ atau ‘kanan’. Tapi kalau untuk iman, tentu tak ada iman yang netral, iman berarti kecondongan akan suatu keyakinan.

Selamat siang dari Jakarta, dari manusia yang masih jauh dari kata berilmu.

 

 

 

Coffee and Books

“It’s okay Bill, just keep walking” – Me, 23 y.o, told myself this morning –

No, nothing happens to me. Yeah, just some words untold. I’m good actually. Just usual morning today, eh? No meeting today. So, happy Thursday! Yeah whatever

Hari ini gue kayak biasanya cabut ke kedai kopi and enjoying my day there. Well, since there’re no meetings today. Gue bisa kerja sebentar disana dan errr mencari ketenangan. Minggu lalu gue habis beli beberapa buku bagus dan rencananya gue mau baca buku disana aja. Yah, karena ini weekdays agak sulit juga cari temen buat hangout. Jadi yah, another me time buat gue.

Minggu lalu abis nongkrong sesiangan di kedai kopi, gue memutuskan buat jalan ke book store. Cari beberapa buku bagus, karena setelah gue kerja gue jadi jarang banget baca buku. Biasanya kalau gue ke Padang suka bawa buku buat dibaca di pesawat, tapi yah paling gue cuma baca beberapa menit terus tiba-tiba gue udah mendapati diri gue tertidur. Actually gue sebenernya lagi nyari hobi yang bermanfaat buat gue. Yah hiburan gue ketika kerja ini ya paling nonton series yang ringan-ringan aja, yang nggak mikir kayak modern family atau yang agak mikir kayak family guy atau the simpsons hahaha dan errr… kdrama. Oke, gue sendiri nggak nyangka kalau akhirnya gue terjerat oleh temptation dari kdrama. Sedangkan slot weekend gue sediakan buat ketemu temen-temen dan tentu aja buat balik ke Bogor.

Kalau weekdays dan lagi nggak ada meeting kayak hari ini, biasanya gue pergi ke kedai kopi. Kebetulan gue nemu coffee shop yang agak sepi dan cukup cozy. Walau sebenernya lebih sepi kalau weekend dibanding weekdays. Disini gue bisa ngerjain kerjaan yang bisa gue kerjain, sedikit browsing-browsing, baca buku atau yah blogging. Belakangan blog gue rasanya terlalu personal, tapi ya udah lah hahaha. Btw, gue habis beli 3 buku minggu kemarin. Bukunya Paul Arden, Daniel Goleman sama Harper Lee. Bukunya Paul Arden berhasil gue selesaikan lebih dulu, karena emang biasanya buku-bukunya Arden tipis dan nyaris setengahnya isinya gambar atau blank page wkwkwk. Buku-buku Paul Arden cukup mudah ditemui, bahkan ada juga yang udah ada versi Indonesianya. Gue pernah liat bukunya doi yang whatever you think, think the opposite di Gramedia. Lalu bukunya Goleman yang soal Emotional Intelligence masih gue baca. Serius deh ketika lu kerja, lu bakal ketemu macem-macem banget orang dan yah lu bakal menyadari kalau emotional intelligence ini sebenernya salah satu komponen yang paling penting. Dan yang satunya lagi masterpiecenya Harper Lee yang baru sempat gue beli, dan baru gue baca beberapa lembar.

Well, rencananya gue mau mulai baca buku lagi sih buat ngisi sebagian waktu luang gue. Gue jadi inget temen gue yang nyuruh gue untuk mulai nulis, karena dia tau gue juga suka baca buku. Yah sejauh ini gue cuma blogging aja sih, yang isinya kelewat personal. Tapi dengan nulis gini, gue cukup bisa melepaskan sebagian beban pikiran gue hahaha. Dan salah satu tempat paling asik adalah kedai kopi.

Ngomong-ngomong soal kedai kopi, salah satu cita-cita gue adalah buka kedai kopi. Bahkan dulu ketika gue pernah ikut tes MT salah satu BUMN, karena saking randomnya disuruh gambar pas psikotes, gue gambar barista yang lagi ngeracik kopi. Padahal kalau psikotes biasanya gue selalu gambar engineer pakai helm proyek dan bawa gulungan gambar. Yah cita-cita terdalam gue kayaknya emang jadi barista. Selain berada di keluarga yang penikmat kopi, kayaknya jadi barista asik juga karena lu bisa ketemu macem-macem orang. Dan mostly orang-orang yang lu temui di kedai kopi adalah orang-orang yang menikmati waktunya. Tapi ya tentu aja gue nggak berencana keluar dari kerjaan gue yang sekarang dengan frontal dan langsung kerja jadi barista. Gue udah cukup menikmati kerjaan gue yang sekarang, well I’m just trying to be a good engineer. Karena nyatanya emang engineering kompleks banget dan masalah yang ada nggak cuma masalah teknis aja. Dan gue masih bagaikan cuilan cosmic debris among the asteroid belt between Mars and Jupiter.

Tapi emang asik sih, kalau lu punya kedai kopi dan ada mini librarynya gitu disitu, apalagi kalau bisa sekalian dijadiin discussion space. Sembari jadi barista, bisa dapet banyak ide-ide menarik dan nambah wawasan. Engineer during weekdays, barista on weekends. Whoaaa, what a life man! Yep, coffee and book, both are always my remedy.

Real World Trouble

Because maybe the world would be a different place and things could be a lot better if we keep our inner child alive.  No hatred, no violence, no obsessing over money

As I grow up, I realize that life becomes more complicated. When I was a kid, my only concern is my video games on weekend, favorite cartoons on Sunday Morning, sketch book and oil pastels, comics on the rack, and ice cream bonus after I visit dentist. That simple. But today, I wake up and find myself in the piles of work. I need to run across the parking lot to catch a flight.

As I grow up I met the more number of people, with different background, different views, different intention, and different character. 

And as I grow up I had more number of problem, experiences, and dream.

growing-up-gaping-void

Yay credit to @gapingvoid

Karena terkadang kita orang dewasa justru membuat semuanya menjadi kompleks sendiri. Sometimes their society and other influence covered up their innocence, as they grow up. Then things getting more complicated. Ketika gue masih sekolah dulu, seorang temen gue pernah mengenalkan gue dengan istilah utopia. Well, secara gampangnya utopia dapat diartikan sebagai suatu fictional society yang penuh dengan keidealan atau nyaris sempurna. Lalu ada lagi Neverland, yang bisa kita temuin di kisahnya Peter Pan. Dunia fictional dimana usia kita nggak akan bertambah.

Dan semua itu fiktif. Karena faktanya kita hidup di dunia yang penuh ketidak idealan dan usia kita semakin bertambah. Faktanya bahwa kita bertambah dewasa dan semua menjadi semakin complicated adalah hal yang nggak bisa kita hindari. Sederhananya gini, kalau kita main game tentu ketika level kita makin tinggi, yang kita hadapin pun semakin berat. So just treat life like playing video games but there’s no turning back. Well, the most important thing is I try not to covered up my inner child innocence because of the society.

“That’s the real trouble with the world, too many people grow up.”-

– Walter E. Disney –

Salah satu tokoh yang gue kagumi sampai sekarang adalah Walt Disney, seorang entrepreneur sejati yang berhasil merealisasikan mimpinya. Menurut gue, dia adalah salah satu contoh dewasa yang kekanak-kanakan. Gue belakangan suka dengan istilah ini dan gue mengartikannya begini. Yang terpenting dalam hal dewasa adalah komitmen terhadap tanggung jawabnya dan bagaimana dia bisa menempatkan diri. Lalu menurut gue kekanak-kanakan cuma soal preferensi.

Me, Almost Saturated.

Bye Weekend, and here comes Monday. Yah tapi weekend kemarin nggak ada bedanya sih kayak weekdays karena tumpukan pekerjaan gue wkwkwk.

corporate-culture-boredom

Thanks again to gapingvoid for their amazing art, I really love their art!!

Well it’s been almost a year since I joined my company. Selama nyaris setahun ini ada kalanya gue merasa bosan atau overwhelmed dengan kerjaan gue. Kalau kejenuhan udah memuncak biasanya yang gue lakukan adalah kabur dan nyari kedai kopi terdekat. But lately, gue ngerasa udah super duper jenuh dan kalau gue andaikan gue ini larutan, bentar lagi gue udah saturated alias mengendap karena saking jenuhnya. Kalau berada di kondisi kayak gini produktifitas gue jadi kacau, yah kerja jadi nggak efektif. Gue menyadari kalau gue demotivated yang akhirnya berujung ke kejenuhan. Pas gue ngobrol sama temen gue, katanya gue butuh liburan, iya emang butuh banget sih bro, cuma sayangnya gue habis cuti jadi belum bisa cuti lagi.

Weekend kemarin, kayak biasanya gue balik ke Bogor, nganterin Nyokap sama Eyang gue yang mau ke Solo. Terus pas di perjalanan balik Jakarta-Bogor gue ngobrol sama Bokap gue. Yah terus gue bilang kalau lagi demotivated, karena gue sendiri bingung mau gue apa sebenernya. What the? gue udah sampai di titik ini dan gue bingung mau gue apa? Nice work Bil! Abis mendengar statement anak bungsunya ini, Bokap gue segera mengarahkan gue kembali ke jalan yang benar perlahan-lahan. Intinya semua yang kita lakukan harus punya tujuan yang jelas, iya gue tau sih itu, kalau nggak punya tujuan dan dibiarkan mengalir aja yah lu nggak bakalan semangat ngapa-ngapain. Setidaknya bokap gue menyadarkan gue tentang hal itu lagi dengan menjabarkan berbagai manfaat yang bisa gue dapat dan berikan dengan bekerja. Lu bisa meningkatkan skill professional lu, dapet banyak ilmu baru, networking yang luas, bisa memenuhi kebutuhan hidup lu sendiri dan lu juga bisa bantu orang-orang di sekeliling lu.

millennials-in-order-to-find-yourself

Satu lagi hal yang penting adalah, di dunia ini semuanya udah digariskan kan? Maksud gue, kita nggak secara random ditempatkan di suatu tempat. Allah sudah memilihkan kita tempat yang terbaik. Jadi gue rasa setiap kali gue jenuh, harusnya gue inget akan hal itu dan bersyukur karena sudah dipilihkan jalan yang terbaik oleh Allah. Seharusnya gue juga nggak menyia-nyiakan hal ini dan bisa memanfaatkannya sebaik mungkin. Sebenernya emang banyak hal yang harusnya gue syukurin, dengan mensyukuri hal-hal itu seharusnya bisa membuat gue nggak demotivated lagi. Kepercayaan dan tanggung jawab yang udah diberikan oleh boss-boss kita juga seharusnya nggak disia-siakan. Apalagi mereka yang udah mau mengcoach kita.

Well, lagian saat ini gue berada di kondisi yang nyaman, walaupun gue terus dikejar deadline saat ini gue bisa bekerja dengan fleksibel. Karena berbagai hal project team gue terbagi dan gue diassign di Jakarta. Jadi kalau nggak ada meeting gue bisa kerja pakai baju tidur atau kalau bosen kabur ke kedai kopi cukup pakai kemeja, jeans, dan sneakers. Rasanya jadi nyaris kayak freelance dan ini adalah kondisi yang gue inginkan. So, harusnya gue nggak menyia-nyiakan waktu gue sekarang ini. Jadi ya gue rasa kalau gue ngerasa demotivated lagi, gue harus inget-inget lagi apa tujuan gue dan semua nikmat yang udah diberikan Allah nggak boleh disia-siakan.

Sekian dari gue dan selamat hari Senin semuanya,

Pseudo-Work Trap

Pernah denger istilah pseudo-work?

Well, pseudo-work secara gampangnya dapat diartiin sebagai kondisi dimana seseorang kerja dengan waktu yang cukup lama tapi hasilnya nggak signifikan. It means ineffective work.

Pas gue masih sekolah dulu, bokap gue selalu bilang kalau belajar yang penting efektif. Kalau emang udah capek yaudah, so you don’t need to push yourself too hard. Well menurut gue emang sih, ketika kondisi kita udah lelah jangan dipaksa untuk terus kerja karena it will lead to pseudo-work dan yah kita nggak bakal dapet hasil yang maksimal. So, don’t be trapped by this pseudo-work thing. Putting in more hours doesn’t mean a better result.

Terkadang kita tanpa sadar melakukan pseudo-work karena ingin merasa produktif. Karena banyak orang yang berpikir kalau hasil itu dipengaruhi oleh banyaknya waktu yang kita spend. Padahal kalau berlebihan hasilnya malah nggak signifikan. Lalu ada Cal Newport yang menyimpulkan kalau sebenernya hasil yang kita dapet itu nggak cuma dipengaruhi oleh waktu yang kita gunakan aja tapi juga dari tingkat fokus kita. Nah kira-kira gini

Work accomplished = time spent x intensity of focus

Jadi, alih-alih spending more hours by pseudo-working lebih baik kita melakukan short burst. Dengan short burst ini biasanya tingkat fokus kita tinggi, sehingga hasilnya bisa maksimal. Don’t strain yourself! Ya, we need to take a break to make sure our focus get recharge. 

Well, yeah menurut gue emang dalam runia kerja sebaiknya kita nggak overtime terus setiap hari. Karena yah fokus manusia ada limitnya dan overtime berlebihan akan berujung ke pseudo-working. Tapi kalau kita emang berada di lingkungan yang nyaris overtime terus tiap hari, kayak kerja di proyek misalnya, daripada kita mencoba ngerubah sistem yang ada (karena belum kapasitas kita juga) lebih baik kita yang menyesuaikan diri kita. Gimana pun juga kita harus bisa mengsinkronkan diri. Ya gue sih kalau emang udah lelah, istirahat dulu dan ngelakuin aktivitas lainnya. Well we’re human, not a robot. Just don’t strain yourself too hard and don’t be trapped by pseudo-work thing.

Another Chapter

Be inspired. Inspire. Repeat.

image
I found this in my email inbox, about last year. Menarik dan gue setuju banget sama statement ini. Inspirasi adalah hal yang menular. Ketika seseorang dapet inspirasi, dia bakal menularkan inspirasi itu ke lingkarannya. Inspiration sendiri diartikan sebagai something that makes someone want to do something or that gives someone an idea about what to do or create. Menurut gue dalam hidup itu we need to be inspired. Kita butuh inspirasi dalam menghadapi rutinitas kita. Inspirasi bisa mempengaruhi cara kita menghadapi tantangan, menghadapi pilihan atau dalam memandang suatu masalah.

Oh iya gue dapet unique art di atas dari @gapingvoid by Hugh McLeod. Gue sendiri tau Gapingvoid dari bukunya Hugh “Ignore Everybody” di tahun 2014. Bukunya menarik banget, banyak kartun menarik dengan sisipan pesan yang inspirasional. Well, di bawah ini adalah kartun Hugh pertama yang gue lihat di buku itu. Gue merenungkan pesannya dan gue langsung suka banget sama artnya.

“The price of being a sheep is boredom. The price of being a wolf is loneliness. Choose one or the other with great care.”

image
Inspiring dan unik! Itu adalah kata yang paling pas buat ngediskripsiin artnya Hugh McLeod ini. Setelah rampung baca bukunya yang gue jamin lu nggak akan bosen bacanya, gue tau kalau Hugh punya semacam consultancy agency yang bergerak di bidang jasa kreatif: Gapingvoid. Gue langsung web surfing dan nemu webnya Gapingvoid. Di Gapingvoid ini ada layanan daily mail yang kalau lu subscribe lu bakal dapet kartun-kartun kece plus inspirational messages di dalemnya. Setiap pagi dan for free.

Gapingvoid sendiri berdiri di tahun 2008 dan saat ini banyak company-company besar yang udah jadi kliennya kayak, Zappos, VW, Goldman Sachs, Microsoft, Intel, ebay, Roche dan masih banyak lagi.

Well, balik lagi ke soal “be inspired”. Subscribe daily mailnya @gapingvoid adalah salah satu cara gue untuk tetep dapet inspirasi. Yah, inspirasi bisa didapet dimana aja sih. Yang jelas kita selalu butuh yang namanya inspirasi. Dan inspirasi itu kayak silkus, repetitif. Be inspired, inspire, be inspired, inspire- begitu seterusnya. So, kalau lu nggak mau hidup dalam kemonotonan dan rutinitas yang mematikan, you need to be inspired.

gapingvoid.jpg

Gue mulai merasakan rutinitas setelah gue lulus kuliah. Ketika kuliah dulu, kita cenderung punya jam yang agak lebih fleksibel. Tapi setelah lulus dan bekerja, gue merasakan bahwa waktu nggak sefleksibel dulu lagi. Weekly meeting dan meeting-meeting lainnya menanti setiap hari. Di sela-sela waktu kosong gue selalu mencoba untuk explore hal-hal yang menurut gue menarik. Tiap pagi gue juga selalu sempatin baca daily mail dari gapingvoid. Ketemu temen-temen dan sekedar ngobrol sama mereka juga bisa jadi inspirasi. Inspirasi emang sebenernya ada dimana-dimana, semuanya tergantung cara kita memandang dan mengartikannya. So, stay inspired!

The People Behind the Scene

Kita hidup dengan infrastruktur-infrastruktur mengagumkan di sekeliling kita, namun beberapa nggak menyadari peran civil engineer di dalamnnya. They are the people behind the scenes of today’s society infrastructure. Lalu karena berperan sebagai people behind the scene, apakah lantas civil engineer hanya perlu mengasah skill teknikal saja?

“Tell me and I forget, teach me and I may remember, involve me and I learn.”

-Benjamin Franklin-

Setelah melalui masa OJT lalu dan melewati assessment minggu kemarin dengan sedikit keberuntungan, gue yang masih newbie ini memutuskan untuk melanjutkan hidup gue di dunia konstruksi. Itu artinya selama beberapa tahun kedepan gue akan berkutat di bidang ini, sebagai seorang civil engineer. Dan kayak post gue sebelumnya, gue berusaha untuk love what I do and be good at it”. Well yeah, harusnya emang begitu.

Ngomong-ngomong soal civil engineer. Menurut data dari U.S. Bureau of Labor Statistic, kebutuhan tenaga kerja civil engineer diproyeksikan bakal naik sekitar 20% dari tahun 2012 sampe 2022, lebih pesat dibandingkan rata-rata bidang pekerjaan lainnya. Peningkatan akan kebutuhan civil engineer ini selain diperlukan untuk pembangunan-pembangunan infrastruktur baru dan juga diperlukan untuk melakukan perbaikan dan maintenance terhadap infrastruktur yang sudah semakin berumur. Di Indonesia sendiri menurut PU setidaknya kita membutuhkan 175,000 sarjana teknik setiap tahunnya sedangkan Indonesia hanya meluluskan sekitar 42,000 sarjana setiap tahunnya. Yang artinya kita masih memerlukan banyak sarjana teknik. Tentunya kita sebagai sarjana teknik dapat melihat hal ini sebagai peluang yang baik. Adanya AEC (Asean Economic Community) di tahun 2016 juga menjadi tantangan yang menarik bagi kita.

Dengan adanya peluang yang cukup baik dan juga tantangan soal AEC ini, tentu para insinyur-insinyur ini harus memiliki kompetensi yang kompetitif agar tidak kalah bersaing. Well, lalu kompetensi apa aja sih yang sebenernya diharapkan dari sarjana teknik sipil kayak kita gini?

Seorang civil engineer diharapkan kompeten baik secara teknikal maupun secara softskill. Menurut Anthony Fasano, penulis “Engineer Your Own Success”, dalam diskusi singkatnya dengan Roxann Henze ada beberapa core skill yang sebenernya dibutuhin seorang civil engineer dalam berkarir, diantaranya

1. Communication

2. Networking

3. Leadership

4. Presenting

Dengan memiliki skill-skill ini diharapkan seorang civil engineer nggak hanya mumpuni dalam menghitung dan mendesain di balik layar saja. Namun juga harus dapat menyampaikan maksudnya dengan baik kepada client. Empat skill yang disebutkan oleh Fasano tadi menurut gue saling berhubungan. Lalu communication skill diperlukan banget buat 3 skill lainnya. Yah gue sendiri juga masih newbie sih, jadi nggak bisa bicara banyak soal communication skill ini, kalau gue ya begini lah, mungkin gue termasuk orang yang kelewat santai kalau ngehadapin orang. Oh iya, soal buku Fasano yang berjudul “Engineer Your Own Success” itu juga kayaknya cukup recommended buat dibaca.

Well, minggu lalu gue ke Bandung dan ketemu dosen pembimbing gue, Pak Endra Susila bareng temen-temen seperjuangan TA. Diakhir pertemuan beliau ngasi kita wejangan yang intinya performance kita di 3 tahun awal bekerja lah yang akan menentukan bagaimana kita kedepannya. Yah entah kenapa 3 tahun ini pas banget sama kontrak gue di tempat gue sekarang. Jadi ya gue rencananya akan belajar dulu di tempat gue sekarang sebelum ngelanjutin sekolah lagi, dan akan terus mengingat wejangan dosbing gue itu.

Gue dapet SPT minggu lalu buat ke berangkat ke Padang. Setelah ada sedikit drama karena gue harus balik cepet-cepet dari Bandung ke Bogor dan mindahin barang gue dari Sudirman ke Bogor, ternyata gue bakalan masih stay dulu di Condet beberapa minggu ini. Indak apo-apo lah, seenggaknya gue bisa pamitan dulu sama keluarga dan temen-temen gue dulu dengan santai.

Ini bakal jadi rantauan terjauh gue sampai saat ini, karena kemarin gue cuma ngerantau ke kota sebelah pas kuliah. Yang bisa balik sewaktu-waktu kalau lagi bosen atau kangen sama nyokap. Seenggaknya sebulan ini gue masih di Condet dulu buat ngurusin dokumen-dokumen legalnya, jadi masih bisa lah buat balik ke rumah.

Yah pada akhirnya emang kita harus keluar dari comfort zone kita kan untuk bisa berkembang. Gue berusaha menenangkan diri gue sendiri sih sebenernya wkwkwk. Dan yang jelas kita bisa belajar dari mana saja. Gue juga mulai memikirkan lagi planning gue ke depan, mulai dari melanjutkan sekolah dan melanjutkan ‘hidup’. Yang jelas setiap langkah yang diambil emang harus jelas tujuan akhir yang mau dicapainya apa dan jangan setengah-setengah, cuz there’s no turning back.

Ketika gue nulis ini gue berada di tengah kegamangan apakah akan tinggal di mess malam ini atau balik ke rumah. Well, di proyek sebelumnya selama 3 bulan lalu gue masih agak sulit bagi waktu dan nggak sempat nulis sama sekali. Time management emang penting banget sih, karena hidup toh nggak cuma kerja aja. You have no life sih kalau kerja doang. Di rantau emang pasti bakalan beda, karena lu nggak bisa ketemu temen lu tiap weekend. Tapi insyaAllah bakal ada hal baru yang menarik lah disana.

Condet, 6 April 2016

Just Be Good

Passion adalah sesuatu yang abstrak yang belakangan ini gue seringkali mempertanyakan. Apakah yang gue kerjakan sejauh ini benar-benar passion gue? Tapi pada akhirnya pertanyaan itu seolah cuma jadi pertanyaan yang tak berujung.

Sampai gue kelas 2 SMA, cita-cita gue itu jadi Arsitek. Well, dulu banget pas gue masih SD, gue punya temen deket yang kebetulan hobi kita sama: Ngegambar. Suatu hari wali kelas gue nanyain cita-cita kita apa dan nyaris sebagian besar temen sekelas gue jawab ‘pengen jadi dokter’. Yah saat itu gue jawab pengen jadi astronom sih. Lalu sahabat gue itu jawab kalau dia pengen jadi arsitek. Setelah gue tau kerjaan arsitek itu ngapain aja dari penjelasan singkatnya dia. Yah intinya kata doi kita bakal banyak nggambar kalau kita jadi arsitek. Sejak saat itu gue memutuskan untuk punya cita-cita jadi arsitek juga. Yap, kita akhirnya punya cita-cita yang sama hingga kita SMA dan kita juga berencana buat masuk SAPPK.

Terus pas liburan semester, kayak biasanya, gue ke tempat Eyang gue di Solo. Disana gue ketemu Om gue, beliau seorang dosen teknik sipil. Awalnya kita ngobrol soal rencana kedepan gue, mau ambil kuliah jurusan apa dan lain sebagainya. Lalu secara perlahan Om gue mulai mengarahkan gue untuk ke teknik sipil, dengan segala macam diskusi dan beliau juga menjejali harddisk gue dengan berbagai film-film civil engineering. Lalu gue mulai tertarik dengan teknik sipil. Yah setidaknya bidang ini juga masih bersinggungan dengan arsitektur. Di kampus gue sendiri, awalnya SAPPK dan FTSL itu menyatu sebagai satu fakultas yakni FTSP. Pada akhirnya di akhir kelas 3 SMA gue memutuskan untuk masuk ke teknik sipil sedangkan sahabat gue itu masih tetap memegang cita-citanya untuk menjadi arsitek.

Lalu saat ini gue udah jadi seorang civil engineer setelah menyelesaikan berbagai huru-hara perkuliahan hingga tugas akhirnya.

Hingga gue mengenakan toga beberapa waktu lalu, gue meyakini bahwa apa yang yang gue jalani selama ini adalah passion gue. Namun setelah masuk dunia kerja dengan berbagai huru-haranya, pertanyaan mengenai passion dan semacamnya benar-benar mengusik gue. Pada akhirnya gue menganggap bahwa passion adalah hal yang benar-benar abstrak. Apakah yang gue lakukan ini adalah passion gue? apakah passion gue memang disini? Karena seolah pertanyaan itu menjadi nggak berujung, pada akhirnya gue mencoba untuk mencintai apa yang gue kerjakan saat ini. Just be good at it dan kayak kata Steve Martin “Be so good, they can’t ignore you”.

Well, quotes dari Steve Martin itu menginspirasi salah satu judul buku Cal Newport “So Good They Can’t Ignore You”. Menurut gue buku ini adalah buku yang pantas dibaca buat orang-orang seusia gue, early 20s lah. Ketika kita lepas dari kehidupan kampus dan menghadapi dunia kerja. Di buku ini Newport juga ngebahas commencement speech Steve Jobs di Stanford tahun 2005, yang merupakan salah satu speech favorit gue. Menurut gue orang yang denger speech Jobs ini bisa punya interpretasi yang beda-beda. Kalau untuk gue pribadi, setelah gue denger commencement speech ini biasanya gue seolah jadi diingetin untuk mengejar passion gue. Gue kayaknya udah beberapa kali ngutip speech beliau di beberapa post gue sebelumnya

“You’ve got to find what you love. And that is as true for your work as it is for your lovers. Your work is going to fill a large part of your life, and the only way to be truly satisfied is to do what you believe is great work. And the only way to do great work is to love what you do. If you haven’t found it yet, keep looking. Don’t settle. As with all matters of the heart, you’ll know when you find it. And, like any great relationship, it just gets better and better as the years roll on. So keep looking until you find it. Don’t settle”

Setelah gue sadari selama ini gue menginterpretasikan speech dari Jobs ini sekenannya banget dan nggak utuh. Interpretasi gue selama ini adalah “You should find what you love. If you haven’t found it yet, keep looking and don’t settle”. Speech Jobs yang luar biasa memotivasi dan interpretasi sekenanya dari gue terhadap speech beliau secara nggak langsung mempengaruhi gue. Setiap gue menghadapi apa-apa yang gue rasa nggak pas, gue mulai mempertanyakan apakah apa yang ada di hadapan gue ini emang sesuai dengan gue, atau apakah yang gue jalani ini memang benar passion gue. Sampai akhirnya gue terus mempertanyakan sebenarnya passion gue itu apa.

Pada suatu titik gue menyadari kalau sebaiknya “just love what we do, instead of find what we love”. Dan setelah baca tulisan Newport di bukunya itu, gue jadi nggak begitu ambil pusing lagi soal passion. Just be good at it, then you will love it. Skill adalah suatu hal yang bisa diasah dan secara rasional menurut gue kita biasanya cenderung akan mencintai apa yang kita kuasai. Jobs sendiri bilang kalau “the only way to do great work is to love what you do”. Well yeah untuk sebagian orang yang masih bingung passionnya dimana atau passion itu sebenernya apa, gue rasa kita harus mencintai terlebih dahulu apa yang saat ini kita kerjakan. Seenggaknya dengan begitu kita bisa jadi fokus dengan apa yang ada di depan kita, instead of stuck in confusion about these passion things.

Oh iya ada beberapa buku yang menurut gue recommended untuk dibaca, yah walaupun gue juga belum kelar baca.
1. So Good They Can’t Ignore You – Cal Newport
2. Tribal Leadership – Dave Logan
3. All The Light We Cannot see – Anthony Doerr

 

Bogor, 4 April 2016