Tahun Baru: Apakah Perlu Resolusi Baru?

Ternyata emang bener gue sempet hiatus beberapa hari ini karena ada sepupu-sepupu gue. Mereka masih kecil-kecil, jadi masih suka nempel-nempel gitu sama gue. Jadinya gue nggak sempet nulis hahaha. Tapi nggak papa, terimakasih buat mereka yang udah liburan di rumah gue, jadinya rumah gue nggak sepi-sepi banget. Yaaah, nyaris tiap liburan sekolah rumah gue emang sering dijadiin tempat liburan sepupu-sepupu gue, mungkin karena Nyokap gue anak tertua atau karena mereka ngefans berat sama kakak sepupunya.

Liburan kali ini bakal berlangsung singkat. Rencana gue ke Solo agaknya diundur karena minggu depan gue harus balik ke Bandung buat penataran Mektan. Jadi gue menghabiskan liburan ini di Bogor dan sekitarnya, kumpul sama keluarga dan bertemu kawan-kawan lama. Lucu juga kalau ketemu temen-temen SMP atau SMA, pembicaraan kita nggak jauh dari masa depan. Mulai dari nanyain kapan lulus, habis lulus mau ngapain, mau nikah kapan, mau jadi wanita karir atau nggak dan lain sebagainya. Waktu emang berlangsung cepat, padahal rasa-rasanya baru kemarin kita ketemu mereka di kelas, pergi ke kantin bareng atau saling ngeledekin kalau ada yang lagi ngecengin orang.

***

Well, dan sekarang udah tahun 2015. Tahun baru biasanya ditandai dengan resolusi baru. Gue sendiri, termasuk orang yang suka bikin resolusi, biasanya sih gue bikin resolusi itu setiap pergantian tahun sama pergantian semester. Jadi ada dua: Resolusi Awal Tahun dan Resolusi Tengah Tahun. Well, walaupun nggak semua resolusi bisa tercapai, seenggaknya dengan bikin resolusi ini, kita jadi semangat buat ngejar tujuan kita dan ngepush diri kita buat bisa mencapai itu. Gue pribadi sih, rasanya kayak ngecharge semangat kita lagi gitu dan mengingatkan kita akan tujuan-tujuan yang tertunda. Asik hahahaha. Perkara mau bikin resolusi atau nggak di awal tahun itu ya tergantung masing-masing orang. Tapi kalau gue sih biar  gampang aja evaluasinya. Jadi di penghujung tahun gue bisa tahu, apa-apa yang tercapai dan nggak.

Gue sendiri lebih suka menjalani hidup gue ketika gue punya tujuan yang pasti, kejaran yang harus dikejar. Gue juga suka sama orang-orang yang punya mimpi dan persistent ngejar mimpinya. Terkadang ketika gue lagi nggak semangat, cukup dengan mengetahui bahwa mereka masih bertahan dengan mimpinya aja udah bikin gue semangat lagi. Thanks to them 😀

Jadi, resolusi lu tahun ini apa Bil? Yang jelas, tahun ini gue HARUS LULUS (aamiin). Semoga TA gue baik-biak saja. Terus gue juga pengen belajar nulis. Rajin olahraga dan menjalani pola hidup yang sehat (malahan gue sempet kepikiran buat join karate lagi). Ngambil IELTS dan menyelesaikan persiapan lainnya. Yang terakhir memantapkan diri gue buat milih antara kerja dan kuliah lagi.

Nah, resolusi ini lah yang harus gue kejar tahun ini. Semoga semuanya berjalan dengan lancar

Memantaskan Diri

Tersisa 1 dari 3 UAS lagi, yah walau masih ada presentasi tugas yang lain. Rektor terbaru telah terpilih beberapa hari lalu. Entahlah apakah akan memberikan pengaruh yang signifikan pada kehidupan kampus gue yang kira-kira tersisa 1 semester lagi atau nggak. Tapi yang jelas semoga membawa pengaruh yang baik buat ITB secara keseluruhan.

Kehidupan kampus gue udah mau berakhir. Sejauh ini gue memutuskan hanya menjadi pengamat untuk segala hiruk pikuk yang tejadi di kampus ini. Entah kenapa. Hanya mengambil sedikit bagian saja. Mungkin gue emang orang yang banyak pertimbangan. Kampus ini seolah-olah menawarkan 1 loyang kue, tapi gue hanya mengambil sebagian kecilnya saja. Karena potongan kue-kue ini nantinya harus dipertanggung jawabkan. Gue kira banyak yang mendorong para mahasiswa untuk bergerak, cari pengalaman lah, belajar, membela hak rakyat atau sekedar menunjukan eksistensi. dan gue harap nggak ada yang didorong alasan terakhir. Kampus ini emang tempat belajar, lu bisa jadi apa aja yang lu mau, lu bisa mengembangkan diri lu disini. Tapi lagi-lagi harus ada harga yang dibayar di atas setiap pilihan yang diambil,

Gue selama nyaris 3.5 tahun disini masih mencoba untuk mempertahankan prinsip yang gue yakini, bahwa integritas di atas segalanya. Gue bahkan dulu hanya memandang manusia hitam dan putih, kalau nggak ada integritas pada dirinya maka dia hitam dan sebaliknya putih. Namun, gue sadar kalau itu salah, karena dunia ini bukan dunia utopia dimana segalanya ideal. Masalah yang paling pelik buat gue sebenernya adalah integritas dari masing-masing diri kita, Integritas mahasiswa khususnya. Seorang mahasiswa yang membela rakyat dan mengutuk mereka yang di Senayan sudah seharusnya nggak mencontek ketika ujian atau titip absen ketika mereka nggak bisa masuk kelas. Bukankah seharusnya begitu?

Gue rasa, kebiasaan seperti ini harus dipupuk sejak dini. Kita harus berani menghadapi resiko apapun dari konsekuensi setiap perbuatan kita. Bagaimana pun hasilnya. Nilai-nilai yang dikejar dengan menggadaikan integritas tak seberharga itu kawan. Buat temen-temen mahasiswa dimanapun, realitas yang kita lihat sekarang adalah banyak koruptor berkeliaran di luar sana, banyak dari mereka yang duduk manis menjadi perwakilan kita dan hidup mewah. Integritas mereka gadaikan untuk kesenangan pribadi. Sementara masih banyak masyarakat di luar sana merintih kelaparan. Gue rasa suatu hari nanti sebagian dari kita yang akan membereskan generasi yang mengacau ini, menggantikan posisi mereka menjadi anggota dewan. Maka gue rasa integritas adalah sesuatu yang mutlak untuk dipertahankan dan dibiasakan sejak dini.

Sejauh ini juga gue belum berbuat apa-apa buat rakyat. Padahal sebagian biaya pendidikan di PT juga hasil pajak rakyat. Bukannya sudah sepantasnya kita mengembalikannya pada rakyat. Sebenernya gue jadi miris juga kalau inget itu pas lagi gue males-malesan belajar atau malah main-main. Kita yang di PTN menurut gue adalah investasi jangka panjang negara. Entah dengan cara apa suatu hari nanti diharapkan dapat membawa manfaat pada negara, membawa percepatan ekonomi atau kemajuan teknologi. Oleh karena itu sudah seharusnya kita sungguh-sungguh menuntut ilmu ketika kita kuliah.

Maka saat ini adalah masa-masa kita untuk memantaskan diri, entah akan jadi apa nantinya. Suatu hari nanti gue harap generasi ini benar-benar akan menghabiskan mereka-mereka yang mengacau di Senayan. Dan segala hal yang telah diperjuangkan bukan sekedar pembuktian eksistensi diri. Selamat Pagi.

Waktunya Berlari

Gue rasa ini waktunya berlari

Yep, teman-teman di sekeliling gue sudah berlari sekencang-kencangnya

Mengejar apa yang mereka percayai

Lalu, kenapa gue masih berdiri di sini dan sangsi

Sangsi akan apa yang akan terjadi di depan

Pernah di suatu kelas, entah di semester berapa, gue bertanya dalam hati:

“Apa yang gue lakukan disini?”

Memandangi papan tulis penuh dengan coretan dosen yang setengahnya gue tak mengerti

“Matematika Rekayasa”

Yang gue tahu : Gue harus bertahan disini

Memastikan bahwa semuanya baik-baik saja untuk dipersembahkan buat nyokap bokap gue nanti ketika lulus

Bukannya ini yang gue mau? Bukannya dulu pas gue SMA gue dengan yakinnya pengen bikin gedung pencakar langit tertinggi di Asia?

 Lalu apa yang membuat gue ragu?

Di tengah kegamangan bodoh gue beberapa semester lalu,

teman-teman gue terus berlari

Berlari mengejar apa yang mereka yakini

Saat ini gue seolah tersadarkan dari lamunan di siang hari

Ketika gue melihat sekeliling

Gue melihat senyuman teman-teman gue menggenggam apa-apa yang mereka yakini

Senyuman itu seolah berkata:

“Lu juga harus lari, mengejar apa yang lu mau”

dan gue rasa ini waktunya untuk berlari

mengejar apa yang gue mau

mengejar mimpi yang tertangguhkan

“Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life. Don’t be trapped by dogma – which is living with the results of other people’s thinking. Don’t let the noise of other’s opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition. They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary.”

– Steve Jobs –

Konstan

Oke, gue rasa gue udah menyerah untuk satu hal itu.

Maksud gue, ini terlalu lama dan gue sendiri nggak mengerti apa sebenernya yang terjadi.

Pada akhirnya, di atas semua ketidakpastian ini, gue pikir ini hal yang sia-sia untuk diharapkan.

Terlalu sayang kalau energi gue terkuras disini.

Melelahkan.

Harusnya banyak yang bisa gue kerjakan.

Gue percaya ‘takdir’

Hanya gue nggak mau berspekulasi lebih jauh.