
Why Nations Fail : The Origins of Power, Prosperity and Poverty

Why Nations Fail : The Origins of Power, Prosperity and Poverty
Gue menyeruput asupan kafein kedua gue hari ini, kali ini dengan rasa lebih sedikit lebih pekat dibandingkan yang tadi siang gue dapatkan di ruang HCM. Setelah bertemu dengan beberapa fresh grad tadi siang, selain sedikit refreshing dengan mereka, gue jadi merasa lebih muda beberapa hari. Walau setelah itu kembali tersadar dengan pekerjaan yang agak menumpuk di meja gue. Gue pulang lewat senja, lalu kabur ke salah satu kedai kopi favorit gue, yang tak begitu ramai.
Belakangan gue mendapatkan banyak kabar bahagia, dua sahabat gue menikah bulan ini. Yang satu menikah minggu lalu di Garut, setelahnya gue mampir ke Bandung. Sedikit bernostalgia bersama beberapa teman kosan, makan di kaki lima tempat gue biasa makan bila pulang larut malam dari kampus. Tepat di dekat pertigaan menuju kampus, dengan udara malam bandung yang dingin sembari mengamati lampu-lampu kendaraan. Memang benar, bahagia itu sederhana. Keesokan paginya gue pergi lagi ke salah satu kedai makan di Sekeloa, yang nyaris semua teman sejurusan gue tau. Gue pergi dengan mantan teman-teman kosan gue, bersenda gurau mengenai hal-hal yang sangat receh. Rasanya gue nggak ingin hari berganti.
Minggu depan seorang sahabat gue yang lain akan menikah. Di Solo, tempat kita kerja praktik dulu. Gue dan dua orang teman gue akan pergi dengan kereta kesana. Salah satu sahabat diskusi paling mantap, yang banyak membaca dan menulis.
Lalu dua orang sahabat gue yang lain akan pergi ke Jerman beberapa bulan lagi. Gue merencanakan untuk bertemu mereka dalam waktu dekat. Keduanya orang hebat, satunya adalah kawan SMA sekaligus teman sekampus dan satunya teman sejurusan gue. Senang rasanya mendengar kabar akhirnya mereka bisa mendapatkan apa yang direncanakan selama ini.
Lalu tadi siang, gue pergi makan bersama kawan-kawan dari HCM yang secara random mereka menanyakan rencana gue kedepan. Yang jelas gue masih menunggu 2 tahun lagi dan saat ini gue masih mau menekuni apa yang gue kerjakan. Yah beberapa bulan ini gue sudah kembali menjadi pekerja kantoran, berangkat pagi dan pulang lewat senja. Tapi setidaknya saat ini gue bisa mengikuti kelas olahraga, lalu mencoba membaca-baca buku yang sempat terabaikan dan menyempatkan bertemu kawan-kawan yang sedang di Jakarta untuk mendapatkan kehidupan yang lebih seimbang.
Gue lagi menikmati libur di rumah siang ini. Oh iya gue sudah kembali ke ibukota sekarang. Jumat 19 Mei kemarin merupakan grand opening proyek gue. Setelah grand opening proyek, sesuai dengan kesepakatan yang udah ada, gue akan kembali bekerja di head office. So, it’s time to say good bye to Padang.
Beberapa minggu terakhir di kota yang terletak di pantai barat Sumatera ini rasanya jadi sedikit melankolis juga. Ketika terakhir kali tiba di Padang beberapa minggu lalu, gue diajak keliling kota sama co workers gue. Kita keluar memang udah agak maleman sih, sekitar jam 9an kita baru keluar. Habis makan malem di Safari Garden yang cukup cozy di daerah Nipah (Anyway you should try their Rendang Pizza) kita memutuskan buat keliling-keliling kota Padang.
Kita menyusuri chinatown-nya Padang di daerah Pondok, dengan banyak klenteng-klenteng dan bangunan-bangunan yang didominasi warna merah. Daerah ini termasuk salah satu hot spotnya Padang juga lho. Lu bisa nemuin banyak coffee shop dan cafe di sini, selain itu ada dua tempat legendary yang menjajakan es durian.
Setelah selesai menyusuri chinatown kita bergerak ke arah pantai barat. Begitu kita keluar dari daerah Pondok menuju ke arah pantainya, kita langsung disambut sama gemerlap lampu-lampu kapal yang lagi bersandar di Muara Batang Arau. Sangat melankolis, perpaduan antara bangunan-bangunan tua di sekitarnya, tepi laut dan gemerlap lampu-lampu kapal. Daerah ini juga merupakan salah satu tempat favorit untuk berkumpul. Selain ada taman kecil yang berbatasan langsung dengan tepi laut, pedestriannya juga lebar dan tertata cukup rapi. Biasanya kita bisa mendapati remaja-remaja bermain roller blade disana.
Lalu kita melintasi jembatan Siti Nurbaya, jembatan legendaris yang cukup ramai dengan penjaja makanan di sepanjang sisi kanan kirinya. Kursi-kursi yang ditata berjajar menghadap arah laut juga mereka sediakan bagi para pembeli. Jembatan ini menghubungkan Kota Padang dengan Gunung Padang yang menjadi latar belakang novel yang ditulis oleh Marah Rusli. Sampai diujung jembatan tadi, kita memutuskan untuk berputar balik dan kembali menyusuri pantai barat Padang.
“Gue membuka jendela mobil dengan agak rendah, membiarkan angin laut menerpa muka gue. Kapan lagi, keluar jam 11 malam dan diterpa langsung oleh angin laut”
Kita terus menyusuri pantai barat hingga mencapai Taplau. Taplau malam itu terbilang cukup ramai. Gue mendapati beberapa pemuda yang menggunakan pakaian Persib. Rupanya baru saja ada pertandingan antara Persib dan Semen Padang. Well, Taplau ini selalu ramai di akhir pekan. Baik dari warga lokal maupun pelancong dari kota tetangga. Oh iya kalau kita kesini pagi-pagi kita bisa mendapati kapal-kapal penangkap ikan yang baru berlabuh.
In brief, malam itu gue cukup senang bisa mengelilingi kota Padang lagi sebelum balik ke Jakarta.
Grand Opening proyek gue juga berjalan lancar. Feels like our effort had been paid off lah. 14 bulan yang lalu kita baru mulai land clearing. Lalu masuk ke tahap pemancangan dan bored pile yang penuh tantangan karena kondisi tanah yang didominasi pasir lepas. Lalu overlaping dengan pekerjaan galian yang sangat dipengaruhi oleh keadaan muka air tanah. Ketika masuk ke tahap pengerjaan struktur atas, kita mulai dihadapkan pada pasokan material dan cuaca. Pada fase pengerjaan atap kita dihadapkan pada keterbatasan lahan yang ada dan lagi-lagi cuaca. Hingga akhirnya masuk ke tahapan finishing.
Berada di proyek yang tergolong crash program seperti ini memang cukup menantang. Dan gue sangat berterimakasih kepada para manager dan co-workers yang sudah membimbing dan bekerja sama selama ini. Banyak pembelajaran yang gue dapatkan disini.
Well, ini muka-muka bahagia pasca grand opening kemarin.
Terus kemarin juga accidently ketemu Pak Ishadi, dirut Trans Media pas gue lagi strolling around di GF. Sempat ngobrol sekilas dengan beliau, dia beliau tertarik mendengarkan bagaimana kita menyelesaikannya kurang dari 15 bulan. Walau udah senior beliau sangat antusias mendengar cerita kita-kita yang masih muda ini. Lalu, ketemu Pak M. Nuh juga, dulu gue inget banget beliau pas jadi menteri pernah sidak ke SMA gue di tahun 2011 ketika lagi UN. Time flies banget, kayak baru kemarin SMA wkwkwk.
Setelah grand opening kemarin beberapa hari kemudian gue meninggalkan Padang untuk kembali ke ibukota. Well, semoga bisa berkunjung ke Padang lagi.
“Gue menyeruput asupan kafein ketiga gue hari ini sambil menunggu hujan. Nggak tau pukul berapa nantinya hujan akan reda. Pekatnya piccolo menemani malam gue di Jakarta. ya gue menghabiskan malam di Jakarta hari ini. Lalu besok, setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan, gue akan kembali ke Bogor. Akhir pekan lalu gue habiskan di Bogor, melepas penat sekaligus mendapat kunjungan seorang sahabat. Entah akhir pekan ini akan dihabiskan di Bogor atau di Padang. Baterai laptop gue sudah nyaris mencapai limitnya dan hujan di luar nggak kunjung reda.”
Kemang, 27 April 2017, malam hujan
“Cuaca sangat cerah hari ini, gugusan pulau-pulau terlihat dengan sangat jelas dari ketinggian 3000 meter. Menjadi penghibur gue yang tetap harus bekerja di akhir pekan. Lagipula, nampaknya nggak akan lama lagi gue bisa menikmati gugusan pulau di pantai barat Sumatera yang indah ini dari ketinggian. Proyek gue nggak lama lagi akan selesai dan beberapa bulan yang lalu sebetulnya gue juga udah diminta balik ke Jakarta. Padang pastinya akan menyisakan memori tersendiri buat gue. Sambil menyeruput kopi dingin gue terus menatap ke luar jendela, di sebelah gue ada seorang nenek dan cucunya. Si cucu bercerita asik tentang rencana liburannya. Mengingatkan gue akan eyang gue di Solo.”
Di atas Pantai Barat Sumatera, 29 April 2017, menjelang senja.
“Tak ada cafein intake hari ini, tapi gue masih juga terjaga. Tinggal beberapa menit lagi hari akan berganti. Besok sore gue akan kembali ke Jakarta lagi.”
Padang Utara, 30 April 2017, nyaris berganti hari.
***
Waktu berlalu dengan sangat cepat, tinggal menghitung hari sampai proyek ini berakhir. Sudah satu tahun lebih kami berjuang untuk proyek ini. Sudah satu tahun juga gue bolak-balik Padang-Jakarta. Ya, Padang. Kota yang awalnya asing buat gue, kecuali rasa sate padangnya yang merupakan salah satu makanan favorit gue. Sebagai pendatang yang ngehe mulanya gue masih membanding-bandingkan kota ini dengan Jakarta atau Bandung atau Bogor. Padahal kota ini cukup asik lho
1. Although there’s no common minimarket chains like ind**maret, alf**art, sev** ***ven Padang punya minimarket-minimarket lokalnya sendiri. Nah salah satu masalah gue ketika dateng ke Padang adalah gue nggak menemukan minimarket kayak alfamart ataupun indomaret di kota ini. Well ternyata pemerintah kota setempat emang ngelindungin banget usaha warganya dari gempuran minimarket chain. Tapi tenang aja di Padang cukup banyak tersebar kok minimarket-minimarket lokal dan beberapa di antaranya ada yang buka 24 jam. Yah walaupun masih sedikit sih yang buka 24 jam.
2. Padang salah satu surganya kuliner. Beberapa pesan temen-temen gue ketika tau gue penempatan di Padang adalah: “makannya dijaga ya Bil” atau “Jangan makan santen-santenan terus ya Bil”. Well, masakan padang adalah salah satu masakan yang gue kira bisa diterima secara universal buat lidah orang indonesia. Sate Padang, Rendang dan aneka gulai-gulaian, ikan bakar padang, lontong pical, soto padang adalah beberapa favorit gue. Jadi kalau soal makanan di Padang sih bukan masalah, tapi tetep harus diperhatiin juga sih kolesterol kita. Gue sih berusaha banget membatasi asupan santen-santenan disini.
3. Padang udah punya XXI pertamanya, dan rencananya tahun ini akan dibuka XXI yang kedua. Ketika gue akan menginjakkan kaki di Koto Padang ini seorang temen kuliah gue pernah bilang ‘Semangat ya Bil! Nggak ada Bioskop disana’. Dan emang bener, ketika gue tiba di Padang April tahun lalu, Padang belum punya bioskop. Seorang rekan gue di proyek lain, yang hobi nonton, bahkan sampe pulang ke Jakarta setiap ada film bagus. Tapi tenang aja, akhir tahun lalu Padang udah ngebuka XXI pertamanya dan rencananya tahun ini akan di buka XXI yang kedua.
4. Public Transportation yang memadai dan era transportasi online sudah dimulai. Padang punya Trans Padang, yang rutenya disepanjang jalan protokolnya. Taksi-taksi kayak blue bird, express, kosti dkk juga banyak berseliweran di jalan-jalan. Ada juga angkot-angkot yang gue kira drivernya terilhami sama fast and furious atau suka main need for speed karena super ngebut. Dan yang paling membahagiakan gue yang seorang pendatang ini adalah: Gojek udah ada di Padang men! Seenggaknya gue jadi nggak tergantung sama orang lain kalau mau kemana-mana. Atau kalau gue lagi buru-buru. Atau kalau gue mau melarikan diri sejenak errr
5. Tempat ngopi-ngopi dan tempat melarikan diri? Ada dong! Tenang, kalau lagi jenuh dan butuh tempat melarikan diri Padang punya kok kedai-kedai kopi lokal yang bisa dijadikan tempat nongki berlama-lama atau kalau mau kerja tapi dengan suasana yang berbeda. Disini ada coffee shop chain local kayak excelso dan coffee toffee, dan beberapa local coffee shop yang recommended. Mereka adalah tempat pelarian gue kalau wifi di proyek lagi mati, karena berbagai hal gue harus terus online #alasan
6. Food Delivery Available. Kalau lagi di kosan mager kemana-mana, nggak ada yang ngajakin makan err atau tengah malem tiba-tiba butuh asupan nutrisi for our cute belly? Fast food chain juga ada kok disini dan bisa delivery 24 jam. Berita bahagianya lagi, GoFood juga udah ada di Padang berbarengan sama masuknya GoJek di sini. Jadi kalau mau delivery nggak melulu fast food, kita bisa menikmati local food padang cukup dengan sentuhan jari kita wkwk.
7. Stunning scenery. Sumatera barat terkenal dengan kondisi alamnya yang stunning abis. Kalau kita liat dari atas pesawat kita bisa ngeliat betapa luar biasanya bukit barisan yang membentang dari selatan sampai utara Sumatera. Well kalau mau menikmati keindahan alam Sumbar kita perlu agak melipir keluar kota Padang, jalan ke arah Bukit Tinggi misalnya. Kita bisa ngelewatin Lembah Anai dengan hutan tropisnya yang kece atau kelok 44 yang super keren. Kalau pengen muter-muter di Padang? Padang punya Taplau dan daerah Muara Batang Arau yang rame banget kalau weekend. Pantai Padang deket banget dengan pusat kota, tiap weekend Pantai Padang ini selalu dipenuhi oleh wisatawan. Terus kalau kita jalan terus ke arah selatan kita bakal ketemu sama Muara Batang Arau. Disini kita bisa melihat banyak kapal-kapal yang lagi bersandar. Di dekatnya juga membentang Jembatan Siti Nurbaya yang ramai kalau malem.
Ketika menulis ini gue sedang menunggu di salah satu kedai kopi di Kota Padang sambil menyeruput secangkir espresso con panna. Tinggal beberapa menit lagi sampai gue diantar ke bandara.
A few months ago, ketika gue tiba di kota Padang dan mulai stay di kota ini, gue penasaran dengan local coffee shopnya yang sekiranya bisa gue jadikan tempat kabur kalau gue lagi jenuh wkwkwk. Sorry Pak Boss! Gue sempat beberapa kali hunting tempat pelarian juga sama temen gue, tapi gue belum berhasil menemukan kedai kopi lokal kemarin-kemarin.
Nah kemarin, gue mencoba melakukan solo trip buat hunting kedai kopi lokal disini. Gue mulai sekitar pukul 2 siang dan Padang rasanya panas betul. Kedai kopi yang pertama gue kunjungi kemarin adalah kedai kopi lokal yang nggak berhasil gue temukan beberapa waktu lalu.
Rimbun Espresso and Brew Bar. Nah ini destinasi pertama gue kemarin. Letaknya di jalan Kis Mangunsarkoro. Berada di deretan ruko-ruko gitu, mesti cukup jeli juga nyarinya soalnya beberapa waktu yang lalu gue nggak berhasil menemukannya. Begitu masuk ke kedai kopinya kita bakal disambut oleh aroma kopi yang kuat. Tepat di dekat pintu masuknya ada coffee roaster.
Suasana kedai kopi yang berada di tengah kota Padang ini ramai betul siang kemarin. Nah untuk mengawali one day coffee shop trip gue, gue memilih Vietnam Drip, biji yang digunakan adalah biji Robusta. It quite bitter and strong, but it blended really well with the condensed milk after we stir it. Trust me it’s really good until the last sip.
Ketika ngobrol dengan baristanya sebetulnya ada beberapa speciality yang mereka punya kayak single origin Solok Surian dan Malabar Red Honey tapi sayangnya mereka baru akan panen lagi minggu depan. Hopefully I can visit this coffee shop again soon
Kesan ketika kita masuk adalah suasana kedai kopi ini cukup cozy. Interiornya yang didominasi oleh kayu juga menimbulkan kesan hangat dan teduh.
Selain di Padang, Rimbun juga punya cabang di Bukit Tinggi. Gue pastikan gue akan balik lagi untuk coba single origin andalan mereka.
Coffee Theory. Setelah ngopi di salah satu pusat kota Padang, gue beranjak ke arah barat kota ini. Tepatnya di jalan Tepi Pasang. Well, kedai ini berada di Chinatown-nya Padang, dekat dengan daerah Pondok. Karena hawa di daerah ini yang cenderung lebih panas, gue memilih cold brew yang mereka tawarkan.
Cold brew ini menjadi penyelamat di tengah teriknya kota Padang kemarin. Tingkat keasamannya rendah and less bitter. Tapi kayak cold brew pada umumnya, it has high caffeine level. Jadi buat mereka yang toleransi terhadap caffeinenya rendah, sebaiknya diperhatikan juga caffeine intakenya.
Coffee Theory ini termasuk kedai yang memiliki space yang cukup besar. Nuansa industrial modern sangat terasa di kedai ini. Jendela-jendela kaca besar di bagian depan memberikan pencahayaan yang sangat cukup ke dalam.
Nggak hanya kopi dan teh, kedai ini juga memiliki menu main course yang cukup beragam.
Lalito Coffee Bar. Coffee shop ini jadi penutup coffee shop trip gue kemarin. Letaknya di Jalan Wolter Monginsidi. Kali ini gue memesan espresso based setelah menikmati manual brew dan cold brew di kedai-kedai sebelumnya. Pilihan gue jatuh pada segelas Marocchino. Well, marocchino is a perfect blend of coffee, milk and cacao. I think they also put a small dollop of cacao at the bottom.
Lalito ini punya suasana kedai yang hangat menurut gue. Kesan industrial juga terasa sangat kuat di kedai ini. Sebenarnya gue ingin berlama-lama dulu disini, tapi ada yang harus diselesaikan, jadi gue harus balik dulu. Menurut gue tempat ini cukup asik buat nongki lama-lama kalau lagi jenuh.
Seusai dari Lalito, gue memutuskan untuk balik. Gue harus memperhatikan caffeine intake gue hari itu, karena paginya gue juga udah menghabiskan 1 gelas americano. Dari trip kali ini, gue rasa usaha kopi di Kota Padang udah cukup menggeliat. Gue juga berhasil nemu 3 destinasi baru untuk pelarian gue wkwkwk.
Well, gue rasa sekian dulu. Selamat Pagi dan selamat Hari Senin dari Kota Minangkabau.
Kopi adalah salah satu bagian yang tak terpisahkan dari kultur Indonesia. Dari bagian barat hingga timur Indonesia masyarakat kita sudah sangat akrab dengan minuman hitam ini. Indonesia juga salah satu produsen kopi terbesar di dunia, setelah Brazil, Vietnam dan Kolombia. Tapi sebenarnya kopi ini bukan tanaman native Indonesia.
Well, kopi sendiri masuk di Indonesia pada zaman pendudukan Belanda. Saat itu VOC, yang merupakan serikat dagang milik Belanda, mendatangkan biji biji kopi arabika ke Indonesia. Belanda bermaksud untuk menghentikan monopoli perdagangan kopi yang dikuasai oleh Arab pada saat itu. Pada mulanya tanaman kopi dikembangkan di daerah sekitar Jakarta, seperti Sukabumi dan Bogor. Lalu selanjutnya tanaman kopi semakin banyak berkembang di daerah Jawa, sebagian Sumatera dan Sulawesi.
Pada saat yang nyaris bersamaan, di daerah timur Indonesia yang saat itu masih dibawah pendudukan Portugal, di datangkan pula biji-biji kopi arabika. Namun kabarnya sumber biji yang mereka datangkan berbeda dengan yang dibawa oleh VOC. Sehingga pada awal abad 19 ketika sebagian besar tanaman kopi di Asia Tenggara terkena wabah coffee rust, termasuk di wilayah barat Indonesia yang saat itu memusnahkan nyaris seluruh tanaman kopi mereka, di wilayah timur Indonesia tidak mengalami kerusakan yang signifikan.
Nah setelah terjadi wabah coffee rust yang menyebar dengan sangat cepat, nyaris seluruh perkebunan kopi di wilayah barat Indonesia hancur. Banyak petani yang akhir beralih ke komoditas lain. Saat itu pihak VOC sempat mendatangkan biji kopi Liberica, yang ternyata juga tidak resistent terhadap wabah dan tidak bertahan lama. Akhirnya didatangkan biji kopi robusta yang memiliki tingkat ketahanan lebih tinggi. Walau biji kopi robusta memiliki resistensi yang lebih baik dibandingkan dengan arabica, biji kopi robusta cenderung memiliki kualitas yang lebih rendah. Namun sampai saat ini robusta masih merupakan biji kopi terbanyak yang diproduksi di Indonesia. Well kira-kira sekitar 90% dari produksi biji kopi kita merupaka tipe robusta, sedangkan arabica hanya sekitar 10%. Tapi di dalam 10% ini termasuk diantaranya biji-biji kopi yang termasuk kualitas terbaik di dunia.
Well, pasca pendudukan Belanda dan kemerdekaan, mayoritas perkebunan kopi di Indonesia yang awalnya dikuasai kolonial belanda dikelola oleh pemerintah yang baru ataupun dibiarkan mangkrak begitu saja. Para pemilik perkebunan yang mulanya kaum kolonial, meninggalkan kebun-kebunnya begitu saja agar terhindar dari penangkapan. Hingga hari ini perkebunan kopi terus berkembang di Indonesia, ada yang dikelola oleh petani-petani lokal ataupun korporasi-korporasi besar. Tiga pulau penghasil kopi terbesar di Indonesia yakni Jawa, Sumatera dan Sulawesi. Tiap-tiap daerah memiliki keunikannya sendiri. Sumatera terkenal akan Sumatera Mandheling dan Sumatera Lintongnya. Sedangkan Jawa terkenal dengan Java Arabica dan Mocha Java. Untuk Sulawesi, siapa yang kenal dengan Sulawesi Toraja?
Beruntung juga berada di Indonesia, salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia ini. Nggak cukup sulit buat menemukan dan menikmati kopi disini. Kita bisa menemukan kopi tubruk nyaris diseluruh Indonesia, kopi tarik di kedai-kedai khas Aceh atau kopi joss di angkringan-angkringan Jogja. Nggak hanya kopi dengan manual brew aja, sekarang semakin mudah juga untuk menikmati kopi-kopi dengan espresso based. Nampaknya bisnis kopi di negara ini mulai menggeliat lagi.
Apalagi yang lebih nikmat dari kabur sejenak dari hiruk pikuk proyek dan menyeruput secangkir kopi, menikmati efek dari kafeinnya pelan-pelan. Sore dan kopi adalah dua hal favorit gue selama di proyek. Ketika sore datang lu bisa melihat semburat-semburat oranye di langit, tiga perempat hari telah berlalu, saat yang tepat untuk rehat sejenak. Ditemani oleh secangkir kopi, yang perlahan menstimulasi terproduksinya dopamine dalam otak gue dan merasakan efek dari kafeinnya yang membuat gue bertahan sampai tengah malam nanti. Sore dan kopi adalah hal yang tak terpisahkan belakangan ini.
Tapi walau bagaimanapun juga belakangan gue mencoba mengontrol konsumsi kopi gue. Segala yang berlebihan toh nggak baik juga. Kopi gue jadikan sebagai suatu reward dan juga remedy buat diri gue.
Bekerja di proyek konstruksi dengan durasi singkat kayak sekarang gini mau nggak mau memaksa gue untuk memastikan kalau cafein intake gue terpenuhi setiap hari. Gimana nggak, dengan banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan dan durasi yang super singkat, seringkali membuat kita harus terjaga sampai tengah malam. Nah dan itu terjadi nyaris setiap hari.
Well sekian dulu dan selamat Pagi dari Kota Minangkabau. Selamat berakhir pekan. Hari ini salah seorang kawan gue menikah. Sayang sekali karena ada beberapa hal yang harus diselesaikan disini, gue tidak bisa pergi ke Kota Kembang. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah Fier. Semoga bisa segera mengunjungi Bandung kembali .
Nah kali ini gue mau membahas sekilas tentang project cost management. Malam ini gue lagi stuck di site project karena besok pagi ada serah terima parsial project gue ke owner. Mostly temen-temen gue sekarang lagi pada lembur, buat mastiin besok pagi semuanya udah siap untuk diserah terimakan. Gue memilih untuk stay di site office karena suasana di lapangan terlalu hectic. Anyway, gue satu-satunya cewek yang tersisa malam ini di site.
Well, balik lagi ke bahasan sebelumnya, Project Cost Management bisa diartikan sebagai serangkaian proses yang diperlukan untuk memastikan kalau project kita bakal selesai sesuai dengan budget yang telah disepakati. Project Cost Management sendiri kira-kira bisa dibagi ke dalam empat tahap: 1) Resource Planning 2) Cost Estimating 3) Cost Budgeting dan 4) Cost Control. Nah setiap tahapan ini saling berkaitan satu sama lain. Seenggaknya tiap tahapan ini umumnya muncul paling tidak sekali dalam setiap fase proyek.
1) Resource Planning
Tahapan yang paling pertama adalah Resource Planning, di tahapan ini kita melakukan penentuan atau pemilihan resources yang akan digunakan (seperti tenaga kerja, peralatan serta material) dan juga quantitynya.
Pada tahapan Resource Planning ini dibutuhkan work breakdown structure (WBS ) untuk dapat mengidentifikasi pekerjaan seperti apa saja yang akan dilakukan sehingga nantinya kita dapat menentukan resource yang akan digunakan. Diperlukan pula historical information dari proyek-proyek serupa yang telah berlangsung. Selain itu kita juga perlu mengetahui objektif dari proyek serta durasi yang telah ditetapkan. Dan terakhir yang nggak kalah penting adalah kita perlu juga mengetahui policy organisasi kita mengenai resources planning ini seperti apa, kayak rentaling atau purchasing material and equipment.
Dalam melakukan resource planning ini biasanya diperlukan expert judgement. Selain itu kita dapat juga menggunakan software-software yang terkait dengan project management untuk membantu mengorganisir resources-resources yang kita gunakan.
Output dari akhir tahapan ini nantinya akan menghasilkan kebutuhan resources (Recources Requirement)
2) Cost Estimating
Setelah melakukan resource planning, kita beranjak ke cost estimating. Pada tahapan ini kita diminta untuk melakukan estimasi/valuasi terhadap resources requirement yang telah ditentukan. Nah untuk menentukan cost estimating ini diperlukan rate dari tiap resources yang kita gunakan. Kita juga harus memperhatikan adanya variabel resiko dalam proses cost estimating kita.
Ada beberapa teknik yang dapat dilakukan dalam cost estimating
Output dari tahapan ini adalah cost estimate yang umumnya ditampilkan dalam currency. Di dalam cost estimate ini harus sudah terkandung pula contigency plan sebagai pertimbangan adanya variable resiko. Selain mendapatkan cost estimate, pada tahapan ini kita dapatkan pula supporting detail seperti estimasi scope of work yang mengacu kepada WBS, basis data yang digunakan untuk estimasi serta asumsi-asumsi yang digunakan.
3) Cost Budgeting
Tahap selanjutnya adalah cost budgeting, bagaimana kita mengalokasikan cost estimate yang sudah ada ke dalam satuan pekerjaan atau grup pekerjaan. Input yang dibutuhkan dalam cost budgeting ini adalah cost estimate, WBS, project schedule dan juga risk management plan.
Teknik yang digunakan dalam cost budgeting serupa dengan teknik yang digunakan pada cost estimate. Nantinya output yang dihasilkan pada tahapan ini adalah cost baseline yang merupakan time-phased budget, biasanya digambarkan dalam bentuk kurva S.
4) Cost Control
Nah yang terakhir adalah cost control. Setelah menentukan resource yang akan digunakan, mengestimte cost project dan melakukan budgetingnya selanjutnya yang perlu kita lakukan adalah melakukan cost control.
Dalam melakukan cost control ini kita harus melakukan monitoring cost performance untuk bisa mendeteksi dan memahami variasi yang terjadi terhadap rencana kita. Kita juga harus memastikan kalau variasi-variasi tersebut terecord dengan akurat. Stakeholder-stakeholder juga dipastikan harus terinfokan mengenai variasi-variasi yang terjadi.
Output yang dihasilkan pada tahapan ini adalah
Yah gue rasa itu sekilas tentang Project Cost Management. Untuk tahapan yang paling terakhir, terkait cost control kayaknya bisa dibahas lebih dalam lagi. Kalau mau referensi yang lebih mendalam mungkin bisa pakai PMBOK (Project Management Body of Knowledge) yang diterbitkan oleh PMI
Well, it’s been awhile since my last post wkwkwk. Sekarang udah tinggal 1.5 bulan lagi sampai proyek gue selesai. Sabtu kemarin gue balik ke Padang, setelah beberapa waktu di Jakarta.
Terus tadi pagi rencananya gue mau jalan ke salah satu kota tuanya Padang dan juga pecinannnya, Pondok. Tapi tiba-tiba Manager gue ngajak ke site. Jadi akhirnya gue pergi ke site, yang emang lagi super hectic. Karena agak jenuh juga weekend gini di site, akhirnya sore ini gue mencari tempat pelarian sekaligus tempat ngecharge kebutuhan kafein gue.
Awalnya gue mau pergi ke salah satu kedai lokal yang cukup rekomended based on google review dan juga menurut temen gue disini. Tapi sayangnya gue nggak berhasil menemukan si kedai kopi itu dengan bantun Gmaps. Next time gue kayaknya emang harus ngajak temen gue itu, nggak kabur sendiri kayak gini wkwkwk. Yaah kadang I need a me time lah. Akhirnya gue kabur ke salah satu kedai kopi yang ada di jantungnya Kota Padang. Menikmati secangkir kopi Sumatera Mandheling dan melupakan segala kepelikan proyek. Tapi kopi ini emang salah satu remedy paling baik sih buat melupakan segala kejenuhan, sejenak.
Ngomong-ngomong soal kopi, jadi diperkirakan awalnya kopi ini berasal dari daerah Abyssinia yang sekarang disebut Ethiopia. Nah salah satu legenda yang menarik mengenai asal mula kopi ini involves dancing goats and their goatherd.
Well, jadi ada seorang gembala yang bernama Kaldi, which is also a poet by nature, nah biasanya dia suka ngikutin pathway yang dibuat oleh kambing-kambingnya kalau mereka lagi menyusuri lereng-lereng gunung buat cari makan. Ketika lagi ngembalain kambing-kambingnya ini dia suka mainin sulingnya dan membuat lagu-lagu. Ketika udah menjelang senja, dia bakal mainin special notes gitu buat manggil kambing-kambingnya pulang.
Nah one afternoon, however, his goats didn’t come. Kaldi blew his pipe again, fiercely, but still no goats. Akhirnya ia mendaki ke daerah yang lebih tinggi buat mencari kambing-kambingnya itu. Finally, he heard something in the distance. Ia pun berlari ke arah suara itu dan akhirnya dia menemukan kambing-kambingnya lagi semacam menari-menari gitu di bawah kanopi kanopi hutan tropis yang lebat. At first he thought that they must be bewitched.
Tapi akhirnya dia ngeliat kalau salah seekor kambingnya ada yang lagi mengunyah semacam glossy green leaves and red berries gitu dari sebuat pohon. Dia akhirnya berasumsi kalau pohon itu yang bikin gila kambing-kambingnya dan dia udah panik kalau-kalau kambingnya bakal keracunan. Kambingnya juga menolak buat diajak pulang.
Akhirnya beberapa waktu kemudian kambingnya bisa diajak pulang and they didn’t die. In the following day, they ran directky back to that place and repeat the performance. Kali ini Kaldi ngerasa kalau cukup safe buat bergabung dengan kambing-kambingnya. First he chewed on a few leaves, the berries and finally the seeds. The leaves tasted bitter while berries was mildly sweet.
Well, according to the legend, soon Kaldi was frisking with his goats. Song and poetry spilled out of him. Dia juga merasa nggak akan lelah lagi. Then, Kaldi told his father about this magical trees, akhirnya ceritanya menyebar, dan akhirnya kopi jadi salah satu bagian kultur di Ethiopia.
Nah itu sih salah satu legend asal muasalnya kopi yang banyak menyebar. Kayaknya waktu pelarian gue udah berakhir dan gue harus balik ke site lagi. Happy weekend all!
You’ve probably heard this question “Which one is better to be a jack of all trades or a master of one?”. Well you’ll find tons of this discussion on Quora. But you won’t find the exact answer.
Jack of all trades merupakan julukan yang ditujukan bagi para generalis dan master of one adalah julukan bagi para spesialis. Pertanyaan mengenai mana yang lebih baik antara spesialis dan generalis adalah sebuah pertanyaan yang super klasik. Sebenernya kalau kita sadari life is not full of binary decisions, opsi kita nggak cuma 1 atau 0, positif atau negatif. Well binary decisions are for computers not hoomans like us wkwk. Ketika kita bertanya mana yang lebih baik diantara keduanya, yah gue rasa sebenernya jawabannya we can be both. Also lately lot of people realize that “Jack of all trades, master of none” a common phrase that we usually heard is just a myth. Because being a jack of all trades doesn’t mean that you’re a master of none.
Ketika kita kuliah dulu, tentu kita mendalami bidang-bidang tertentu. Teknik sipil misalnya. Di dalamnya masih ada subjurusan-subjurusan lagi. Biasanya mahasiswa di tingkat akhir diarahkan mengambil spesialisasi tertentu untuk tugas akhirnya. Lalu ketika lulus “poof!” kita bisa ada dimana aja, bekerja atau berkarir dimana aja. Beberapa masih sesuai dengan bidangnya dan beberapa yang lain menyebrang dari bidangnya. Gue sendiri masih dalam di bidang yang gue tekuni selama kuliah, tapi apakah yang gue kerjakan saat ini masih sesuai dengan spesialisasi gue dulu? Nope.
Well, gue suka banget ngobrol sama orang-orang yang kerja bareng gue, apalagi mereka yang udah berkecimpung lama di bidangnya. Mereka juga cukup seneng dan excited sharing pengalamannya ke anak-anak muda. Salah satu wejangan yang gue dapet dari rekanan kerja yang udah cukup senior adalah kalau kerja di kontraktor sebaiknya lu nggak mempelajarinya secara terkotak-terkotak. Bisa diartikan lebih baik jadi seorang generalis alih-alih spesialis.
Tapi di suatu kesempatan yang lain gue menyadari juga bahwa seorang spesialis adalah suatu desirable commodity. Umumnya seorang expertise sangat dicari untuk menangani masalah-masalah tertentu yang spesifik. Yah everyone wants to hire the best and also those specialist can name their price.
Beberapa waktu yang lalu gue baca suatu artikel yang muncul di homepage linked.in dengan judul “Specialists vs Generalists: Who Owns the Future?” yang ditulis oleh Lev Kaye. Setelah menjelaskan definisi serta advantages dan disadvantages dari spesialis dan generalis. Kaye answered his own question that two types of people who owns the future are Generalizing-Specialists and Specializing-Generalists. Err semacam hybrid dari kedua tipe yang ada. Instead of questioning and comparing between generalist and specialist, which lead to a neverending discussion, why don’t we try to be both? Generalizing-Specialist, adalah mereka yang mulanya seorang specialis then he’s try to handling broader range of skill or duties and also eager to grow. While the second type, the Specializing-Generalist adalah mereka yang bermula sebagai seorang generalis lalu seiring berjalannya waktu dia memfokuskan diri untuk meningkatkan skill di suatu bidang yang lebih spesifik. Keduanya tentu merupakan aset yang menarik bagi organisasi mereka.
Kedua hybrid tersebut bermuara pada tujuan yang sama, be a jack of all trades and a master of one, perbedannya hanya di prosesnya saja. Tipe mana yang sesuai dengan kita tentu sesuai dengan bidang yang sedang kita tekuni dan basic skill yang udah kita punya sebelumnya. Whether we starting out as a broad or a deep, in the future we need to both broaden and deepen our skills. Though doing so is a bit harder.
Oh ya I got this nice quote last night
” Every morning in Africa, a gazelle wakes up, it knows it must outrun the fastest lion or it will be killed. Every morning in Africa, a lion wakes up. It knows it must run faster than the slowest gazelle, or it will starve. It doesn’t matter whether you’re a lion or a gazelle when the sun comes up, you’d better be running. “
Well, selamat pagi dari Kota Minangkabau. Have a nice day!
Sore tadi gue disambut oleh rintik-rintik hujan ketika tiba di Halim. Ada yang beda dengan perjalanan Padang-Jakarta sore tadi karena gue ditemani Nyokap dan Bokap gue.
Seperti yang udah pernah gue bilang, gue belum sempat mengeksplorasi Padang semenjak gue dapet penempatan di kota ini April tahun lalu. Karena sampai akhir tahun lalu, gue lebih sering menghabiskan waktu gue di Jakarta karena meeting dengan owner dan beberapa urusan kontrak lainnya dilakukan di Jakarta. Gue baru mulai menetap di Padang awal Januari kemarin dan saat ini proyek gue sedang sangat hectic, sehingga gue belum sempat mengeksplorasi daerah-daerah di Padang dan sekitarnya. Lalu minggu kemarin Nyokap dan Bokap gue menyempatkan diri buat nengok gue, anak bungsunya, di Padang. Kebetulan Sabtu kemarin sedang Imlek juga dan gue meminta izin dari proyek. Well, dan akhirnya gue mengeksplorasi daerah di sekitar Padang bersama Nyokap Bokap gue.
Ketika gue dateng di Padang untuk pertama kalinya di tahun lalu, gue cukup kesulitan karena nggak menemukan Indomaret, Alfamart, 7 Eleven atau minimarket apapun yang biasa kita temui. Yang akhirnya gue tau kalau emang Indomaret atau minimarket chain yang umumnya ditemui itu nggak boleh masuk disini. Awalnya agak repot juga, karena kalau mau cari kebutuhan kecil-kecilan di tengah malam gue harus pergi ke minimarket yang cukup jauh dari proyek dan kos-kosan gue. Well, sampai sekarang cuma itu aja minimarket yang gue tau buka 24 jam. Tapi perjalanan gue sama Nyokap Bokap gue kemarin benar-benar membuka mata gue. Betapa Padang sangat menghargai usaha-usaha milik masyarakat lokalnya. Nyaris semua supermarket atau minimarket yang ada di Padang adalah milik lokal.
Kemarin kami memutuskan buat pergi ke Bukittinggi. Perjalanan kemarin menyenangkan juga karena kita dipandu oleh seorang lokal yang luar biasa, Pak Hendri. Si bapak bercerita mulai dari kisah adu kerbau antara Kerajaan Pagaruyung dan Kerajaan Majapahit yang akhirnya melahirkan nama Minangkabau dan juga minginspirasi arsitektur pada atap rumah gadang. Kita juga ngelewatin salah satu kecamatan dengan nama yang unik ‘2 x 11 Enam Lingkung’ dan Bokap gue meyakini bahwa nama itu pasti ada filosofinya. Sepanjang perjalanan si Bapak bercerita tentang hal-hal unik yang ada di Padang ini dan beberapa rekomendasi tempat untuk dikunjungi.
Destinasi pertama kita kemarin adalah Lembah Anai, disana lu bisa menemukan air terjun tepat disamping jalan Padang-Bukit Tinggi. Air terjun ini dikelilingi dengan hutan-hutan yang masih asri dan airnya jernih tentunya. Lalu di sepanjang Lembah Anai kita dikelilingi oleh kawasan cagar alam yang luar biasa dan disana kita bisa menemui rangkaian rel kereta yang dibangun dari masa Belanda. Namun rel kereta ini udah nggak digunakan lagi sekarang. Padahal menurut gue kalau rel kereta ini diaktifkan kembali, kita bakal disuguhi pemandangan yang luar biasa dari dalam kereta. Karena rel kereta ini menembus kawasan cagar alam. Sayang karena terlalu takjub sama kekerenan kawasan ini gue nggak sempet ngambil banyak foto disini.
Setelah Lembah Anai destinasi selanjutnya adalah Ngarai Sianok, kalau Ngarai Sianok ini letaknya di Bukittinggi. Yep Bukittinggi, kota kelahiran salah satu tokoh favorit gue: Bung Hatta. Ngarai Sianok ini semacam lembah dengan tebing-tebing yang sangat curam, luar biasa indah nyaris seperti pahatan. Di dekat Ngarai Sianok ini ada sebuah Lubang Jepang dan gue memutuskan untuk nggak turun ke dalamnya karena ratusan anak tangga yang harus ditempuh untuk sampai di bawah. Sebenernya nggak masalah untuk menuruni ratusan anak tangga, tapi masalahnya lu harus mendaki ratusan anak tangga juga kalau lu mau keluar dari sana. Well, di kawasan ini kita juga bisa menemui monyet-monyet yang udah jinak.
Destinasi terakhir kemarin adalah Jam Gadang dan yah sayangnya alun-alun Jam Gadang kemarin sangat ramai. Di luar ekspektasi gue yang membayangkan suasana alun-alun Jam Gadang yang sangat lengang. Di belakang Jam Gadang lu bisa menemui Pasar Atas dan tepat di seberangnya merupakan Istana Bung Hatta, bekas kediaman Bung Hatta dahulu.
Well, kalau soal kuliner di sana sih tenang aja. Di Bukittinggi lu bisa menemui Restoran Simpang Raya yang pertama dan juga Restoran Sederhana. Lalu di perjalanan Bukittinggi-Padang lu bisa menemui Sate Mak Syukur dan juga penjaja-penjaja bika yang dimasak pake kayu bakar.
Yah Padang emang berbeda dari Jakarta, mungkin agak susah untuk nemuin minimarket 24 jam dan nggak ada satupun Indomaret, Alfamart dkk karena disini mereka khawatir akan mematikan usaha-usaha para pedagang lokal. Di Padang juga nggak ada transportasi online tapi lu nggak nemuin kemacetan parah kayak di Jakarta di sini. Di Padang dan sekitarnya juga nggak banyak mall-mall bertebaran tapi Padang dianugerahi oleh kondisi geografis yang luar biasa. Yah gue rasa setiap daerah tentu punya kelebihannya masing-masing. Dan gue belum mengeksplor daerah ini seluruhnya, masih banyak tempat-tempat keren menanti. Well, nuhun Bukittinggi.