Billion Asteroids

“There are billion asteroids scattered in our galaxy. If one of the asteroids enters the Earth, survive its fiery passage through the atmosphere and lands on lithosphere, it become meteorite. Then, if the asteroid enters the atmosphere and vaporizes, it becomes meteor or more commonly known as a shooting star”

I still remember that lesson, especially the last part …enters the atmosphere and vaporized.. yeah vaporized..I just don’t understand myself, I have mixed feeling lately, it’s not really me. Come on back to your sense Bil.

Belakangan gue merasa lebih melankolis dari biasanya. Entah kenapa perasaan gue agak nggak jelas juga belakangan.

2016 udah mau berakhir dan gue juga udah semakin tua errrr. Rencana untuk lanjutin studi di tahun 2019 juga semakin dekat. Tapi yah belakangan gue agak sangsi sendiri dengan diri gue. Kalau gue gini-gini aja dan kayaknya belakangan malah mengalami sedikit degradasi ilmu ketekniksipilan gue. Apa gue yakin tahun 2019 nanti gue siap lanjut S2. Gue rasa emang gue butuh ngerefresh otak gue lagi. Walau nggak tau gimana.

Ketika bekerja, memang agak sulit buat nyisihin waktu buat sekedar buka-buku buku lagi. Apalagi buku kuliah lu dulu. Walaupun gue masih bekerja di bidang yang sama, cuma gue di assign di salah satu bagian yang agak jauh dengan apa yang gue dalamin selama kuliah dulu. Yang gue handle sekarang sifatnya sangat general. Di tim proyek yang sebelumnya, well ketika gue OJT sih, gue masih sering dikasi kerjaan yang sesuai dengan apa yang gue dalamin. Tapi sekarang, beda banget, tapi apapun yang terjadi, yang namanya tanggung jawab itu ya harus diterima dan dilaksanakeun.

Tentang rencana S2 gue sendiri, nantinya gue juga masih belum begitu tahu pasti akan mendalami bidang apa. Tentu teknik sipil secara general, namun secara khususnya gue masih perlu mempertimbangkan banyak hal.

Well, sebenernya karena suatu kejadian, gue jadi inget lagi akan rencana gue ini. Suatu kejadian kecil doang sih, walau waktu rasanya terhenti beberapa saat tapi toh langit tetap pada tempatnya dan bumi masih berputar seperti biasa. Dan karena hal kecil itu juga gue jadi inget, bukannya masih banyak hal yang ingin gue lakukan. Lanjutin S2, kursus barista, punya perpustakaan, berkeluarga, mengejar cita-cita bersama dan masih banyak lagi. You only live once Bil.

Karena memang kita cuma hidup sekali jadi kita sebaiknya harus memahami betapa singkatnya hidup di dunia yang sebenarnya temporer ini. Gue rasa, banyak hal yang memang sebenernya pengen kita lakukan di dunia ini tapi kita harus ingat bahwa pada akhirnya dunia ini hanya sebagai tempat transit saja. Tempat transit buat kehidupan manusia yang lebih kekal dan kita harusnya paham betul tentang hakikat kita sebagai manusia. Belakangan gue juga jadi kangen dengan lingkaran kecil di Jumat siang. Lingkaran dimana gue dapat wejangan-wejangan kecil nan berarti, dimana gue diingatkan dan diluruskan kembali.

Kini gue akui cukup sulit buat menemukan lingkaran yang sama. Gue hanya bisa terus berdoa untuk stay on the right track dan selalu inget hakikat hidup gue sendiri. Beberapa waktu yang lalu gue juga sempet chatting singkat dengan mentor gue jaman kuliah dan mendapat sedikit wejangan. Pas gue pulang ke Bogor kemarin, gue ambil buku Salim A Fillah dari lemari buku gue. Beliau adalah salah satu penulis favorit gue. Bagaimana beliau merangkai kata-katanya membuat kisah yang beliau ceritakan menjadi sangat menarik. Terakhir kali gue dengar beliau mau menerbitkan buku lagi.

Nampaknya memang blog ini pada akhirnya menjadi jurnal yang terlalu personal. Seringkali gue menulis disini emang cuma untuk refleksi diri gue. Sudah sejauh mana atau apakah gue masih berada di jalur yang benar err. Well, mungkin ada baiknya blog ini sekali-sekali gue isi dengan tulisan yang agak bermanfaat. Semoga saja.

“When the meteor vaporizes to eternity, it means the end of its long journey. I just wonder how lonely its journey in the middle of our cold dark space”

Cross Road

“At the end, when we reach the cross road, I realize that now we should take different path. Don’t wanna make assumption” Me, 23 y.o, yesterday, on a foggy morning in Solo.

This weekend, I’m visiting my Granny. Jumat kemarin, after done with my works, I went to Solo. Well, I’m spending my weekend at the hospital. Gue sampai di Solo jumat malem, Nyokap dan Tante gue udah tiba siang harinya. Kita nemenin Eyang Ti di RS. Rencananya gue balik ke Jakarta sore ini. Get well soon Granny.

Gue bawa buku buat ngabisin waktu gue di perjalanan dan di RS. Bukunya Daniel Goleman yang belum rampung gue baca. Buku Daniel Goleman ini cukup recommended, tentang Emotional Intelligence yang sempat gue bilang beberapa waktu lalu. Secara garis besarnya Goleman menyampaikan bahwa di workplace dibandingkan dengan IQ, degree ataupun technical skill yang paling dibutuhkan adalah emotional intelligence.

Di buku ini Goleman menyampaikan kisah dari Stenberg mengenai 2 orang mahasiswa Yale: Penn dan Matt. Penn merupakan mahasiswa exceptional: kreatif dan brillian, sayangnya Penn menjadi arogan karena menyadari kelebihannya itu. Di satu sisi Matt yang juga merupakan mahasiswa Yale, tidak sebrillian Penn dalam hal akademis. Namun Matt punya interpersonal skill yang baik.

Ketika lulus Penn yang terlihat sangat spektakuler di dalam resumenya, Menjadi incaran banyak organisasi top untuk mengikuti interview mereka. Sayangnya kearoganannya sangat terlihat dan ia hanya berakhir dengan 1 tawaran di sebuah perusahaan second-tier. Lalu tentang Matt, dia disukai oleh semua orang yang pernah bekerja dengannya. Matt akhirnya dihadapkan dengan lebih banyak tawaran pekerjaan untuknya dan ia berakhir sukses dengan karirnya. Sedangkan Penn, ia justru keluar dari pekerjaannya di tahun kedua.

Well, ini menunjukkan betapa pentingnya softskill. Bagaimana emotional intelligence mempengaruhi karir seseorang. Gue rasa sebagian besar dari kita udah tau betapa pentingnya softskill di dalam karir. Dari jaman gue SMA senior-senior gue udah sering banget ngasi wejangan tentang betapa pentingnya softskill ini.

Menurut gue buku Goleman ini cukup recommended dibaca setelah buku Dale Carnegie “How to Win Friends and Influence People”. Well, kedua buku ini juga masih serumpun.

Ya walaupun soft skill dianggap memiliki pengaruh yang lebih besar dibanding technical skill. Tapi hard skill tentunya komponen yang penting. Apa yang kita pelajari selama 16 tahun ini, mostly merupakan hard skill. Sedangkan soft skill biasanya didapatkan dengan praktek langsung, ketika di organisasi atau dunia kerja. Ketika masuk ke dunia kerja, lu bakal melihat realitasnya, bahwa orang-orang di sekitar lu seringkali  lebih menghargai interpersonal skill alih-alih technical skill lu. Tapi bagaimanapun juga technical skill, merupakan salah satu modal awal untuk dapat memulai karir. Well, tentunya kita emang diharapkan memiliki kedua komponen ini, both soft skill and hard skill.

Well untuk interpersonal skill atau emotional intelligence, pada dasarnya nggak hanya dibutuhkan buat di dunia karir saja. Basically we need this skill to deal with people.

Karena tamu-tamu yang berdatangan ke RS silih berganti, gue kayaknya nggak bakal bisa nyelesain buku Goleman selama disini. Tapi alhamdulillah Eyang Ti gue semakin membaik. Selanjutnya, kayaknya bakal menarik kalau bahas buku Goleman ini lebih dalam, ditandem dengan bukunya Dale Carnegie juga. Entah kapan tapi gue bisa bahas kedua buku itu lebih dalam. Semoga secepatnya.

Yah besok udah mau masuk hari senin lagi aja, weekend segera berakhir dan gue harus balik ke Jakarta.

Rainy Friday

“Seriously, if only I just need to click it then I can do normal, but I can’t. So I just need more time” Me, 23 y.o, told myself on a rainy Friday

Jumat udah tiba dan weekend yang lain akan segera datang, waktu emang cepet banget berlalu. Nggak terasa udah mau penghujung tahun juga dan proyek gue juga udah semakin kejar target. Nyaris 2 minggu ini begadang adalah hal yang sangat normal, tidur jam 2 pagi rasanya nyaris jadi kebiasaan gue. Target-target pekerjaan dan meeting datang bertubi-tubi. I also need to go back and forth Jakarta-Padang. Kadang nggak nyampe 24 jam di Padang dan sepanjang perjalanan gue memilih untuk tidur, memanfaatkan waktu yang ada. I just told myself to stop complaining, karena Big Boss dan Manager gue pun melakukan hal yang sama.

Walau gue kadang agak cukup kewalahan dengan kerjaan yang ada karena dikejar waktu dan rasanya ingin membelah diri, tapi yah gue coba nikmatin aja. Manager dan tim gue yang di Jakarta juga sangat kooperatif. Nyaris 2/3 hari gue dihabiskan bareng mereka. Dari kerja, kerja, kerja sampai refreshing kalau weekdays. Kadang kalau kita nggak sempat nonton di bioskop kita nonton bareng pakai infocus. Setiap weekend biasanya gue memisahkan diri dari mereka, pulang ke rumah, meet up sama temen-temen sekolah atau kuliah. Pokoknya cari selingan biar nggak monoton.

Well, tapi 2 minggu ini memang cukup hectic, bahkan 2 hari yang lalu. Gue baru sampai di Jakarta jam 10.15 malem dan langsung dihadang manager gue untuk meeting lagi di bandara. Yep, meeting di Bandara, sampai tengah malem, sampai tempat kita nongkrong kita buat meeting tutup. Walau hidup serasa dikejar-kejar kerjaan, tapi banyak cerita selama 8 bulan keberjalanan proyek gue ini yang kalau kita ceritain lagi malah bikin kita ketawa-ketawa. Yah daripada kerja sambil tertekan mending dinikmatin aja, ya gimana lagi hahaha.Untuk ngisi waktu kosong gue di weekdays gini ya biasanya gue blogging atau baca buku aja. Susah juga sekarang kalau ngatur waktu ketemu temen-temen di weekdays.

Oh iya bentar lagi udah mau masuk 2017 dan gue nyaris nggak inget resolusi gue buat tahun ini apa. Atau emang gue nggak bikin? hahahaha. Rasanya gue mau buat resolusi buat tahun depan: nikah misalnya #whoops #bercanda #guebelumsiap dan belum keliahatan hilalnya juga kalau kata temen gue wkwkwk. Tapi Eyang Ti gue kayaknya pengen banget gue nyusul kakak gue, tapi yah gimana errr. Well, kayaknya gue mau persiapan buat misi gue di tahun 2019 nanti. 1 tahun ini nggak ada persiapan sama sekali. Gue mungkin bakal ambil preparation buat IELTS, tapi cukup sulit juga buat ikut kelas preparation dengan ritme kerja penuh ketidakpastian gini. Ex English teacher gue di Bogor dulu, ada yang buka online class juga, jadi kayaknya gue bakal ikut online classnya doi.

Gue lagi baca bukunya Homer lagi sekarang, terakhir gue baca pas masih kuliah dulu sih. Dan habis selesai baca nanti gue mau baca lagi buku wayang yang dikasi almarhum eyang kakung gue dulu. Sayangnya dulu gue masih sangat kecil untuk bisa mengeksplorasi perpustakaan eyang kakung gue. Padahal kata Nyokap gue banyak buku bagus disana. Gue inget banget dulu pas gue SD gue dikasi eyang kakung gue bukunya Toto Sudarto Bachtiar, karena gue suka baca puisi. Sedangkan kakak gue dikasi 1 jilid buku perwayangan yang ejaannya masih pake ejaan lama. Setelah gue agak besar gue mulai baca buku itu dan mulai tertarik sama cerita wayang. Sayangnya perpustakaan eyang kakung gue udah nggak ada sekarang, sebagian buku-bukunya masih disimpan. Tapi ruang perpustakaan eyang gue udah alih fungsi jadi gudang. Dulu pas relokasi perpustakaan di rumah eyang gue itu, gue masih SMP kayaknya, gue menyelamatkan beberapa buku, salah satunya buku Moby Dick. Karena bukunya pakai bahasa inggris dan gue jaman SMP masih agak sulit baca novel inggris akhirnya bukunya cuma gue simpen begitu aja. Sekarang kayaknya buku itu masih bersemayam di lemari buku bokap gue. Yah sayangnya gue dulu masih terlalu kecil buat bisa berdiskusi sama eyang kakung gue soal buku. Padahal tentunya sangat menarik kalau bisa berdiskusi dengan eyang kakung gue yang merupakan dosen sastra.

Well, sore ini gue mau nengok Eyang Ti gue di Solo. Terakhir kali gue ke Solo lebaran lalu, belum sempat kesana lagi. Eyang Ti gue suka bilang kalau beliau selalu kangen cucu-cucunya. Gue kayaknya bakal menghabiskan weekend gue di Solo bareng Eyang Ti. Nyokap gue juga berangkat ke Solo siang ini. Jadi kita bakal ketemu di Solo nanti.

Coffee and Books

“It’s okay Bill, just keep walking” – Me, 23 y.o, told myself this morning –

No, nothing happens to me. Yeah, just some words untold. I’m good actually. Just usual morning today, eh? No meeting today. So, happy Thursday! Yeah whatever

Hari ini gue kayak biasanya cabut ke kedai kopi and enjoying my day there. Well, since there’re no meetings today. Gue bisa kerja sebentar disana dan errr mencari ketenangan. Minggu lalu gue habis beli beberapa buku bagus dan rencananya gue mau baca buku disana aja. Yah, karena ini weekdays agak sulit juga cari temen buat hangout. Jadi yah, another me time buat gue.

Minggu lalu abis nongkrong sesiangan di kedai kopi, gue memutuskan buat jalan ke book store. Cari beberapa buku bagus, karena setelah gue kerja gue jadi jarang banget baca buku. Biasanya kalau gue ke Padang suka bawa buku buat dibaca di pesawat, tapi yah paling gue cuma baca beberapa menit terus tiba-tiba gue udah mendapati diri gue tertidur. Actually gue sebenernya lagi nyari hobi yang bermanfaat buat gue. Yah hiburan gue ketika kerja ini ya paling nonton series yang ringan-ringan aja, yang nggak mikir kayak modern family atau yang agak mikir kayak family guy atau the simpsons hahaha dan errr… kdrama. Oke, gue sendiri nggak nyangka kalau akhirnya gue terjerat oleh temptation dari kdrama. Sedangkan slot weekend gue sediakan buat ketemu temen-temen dan tentu aja buat balik ke Bogor.

Kalau weekdays dan lagi nggak ada meeting kayak hari ini, biasanya gue pergi ke kedai kopi. Kebetulan gue nemu coffee shop yang agak sepi dan cukup cozy. Walau sebenernya lebih sepi kalau weekend dibanding weekdays. Disini gue bisa ngerjain kerjaan yang bisa gue kerjain, sedikit browsing-browsing, baca buku atau yah blogging. Belakangan blog gue rasanya terlalu personal, tapi ya udah lah hahaha. Btw, gue habis beli 3 buku minggu kemarin. Bukunya Paul Arden, Daniel Goleman sama Harper Lee. Bukunya Paul Arden berhasil gue selesaikan lebih dulu, karena emang biasanya buku-bukunya Arden tipis dan nyaris setengahnya isinya gambar atau blank page wkwkwk. Buku-buku Paul Arden cukup mudah ditemui, bahkan ada juga yang udah ada versi Indonesianya. Gue pernah liat bukunya doi yang whatever you think, think the opposite di Gramedia. Lalu bukunya Goleman yang soal Emotional Intelligence masih gue baca. Serius deh ketika lu kerja, lu bakal ketemu macem-macem banget orang dan yah lu bakal menyadari kalau emotional intelligence ini sebenernya salah satu komponen yang paling penting. Dan yang satunya lagi masterpiecenya Harper Lee yang baru sempat gue beli, dan baru gue baca beberapa lembar.

Well, rencananya gue mau mulai baca buku lagi sih buat ngisi sebagian waktu luang gue. Gue jadi inget temen gue yang nyuruh gue untuk mulai nulis, karena dia tau gue juga suka baca buku. Yah sejauh ini gue cuma blogging aja sih, yang isinya kelewat personal. Tapi dengan nulis gini, gue cukup bisa melepaskan sebagian beban pikiran gue hahaha. Dan salah satu tempat paling asik adalah kedai kopi.

Ngomong-ngomong soal kedai kopi, salah satu cita-cita gue adalah buka kedai kopi. Bahkan dulu ketika gue pernah ikut tes MT salah satu BUMN, karena saking randomnya disuruh gambar pas psikotes, gue gambar barista yang lagi ngeracik kopi. Padahal kalau psikotes biasanya gue selalu gambar engineer pakai helm proyek dan bawa gulungan gambar. Yah cita-cita terdalam gue kayaknya emang jadi barista. Selain berada di keluarga yang penikmat kopi, kayaknya jadi barista asik juga karena lu bisa ketemu macem-macem orang. Dan mostly orang-orang yang lu temui di kedai kopi adalah orang-orang yang menikmati waktunya. Tapi ya tentu aja gue nggak berencana keluar dari kerjaan gue yang sekarang dengan frontal dan langsung kerja jadi barista. Gue udah cukup menikmati kerjaan gue yang sekarang, well I’m just trying to be a good engineer. Karena nyatanya emang engineering kompleks banget dan masalah yang ada nggak cuma masalah teknis aja. Dan gue masih bagaikan cuilan cosmic debris among the asteroid belt between Mars and Jupiter.

Tapi emang asik sih, kalau lu punya kedai kopi dan ada mini librarynya gitu disitu, apalagi kalau bisa sekalian dijadiin discussion space. Sembari jadi barista, bisa dapet banyak ide-ide menarik dan nambah wawasan. Engineer during weekdays, barista on weekends. Whoaaa, what a life man! Yep, coffee and book, both are always my remedy.

Hail Weekend!

Everything was goin’ well until my Boss said

“Bil, lu weekend ke project gimana?”

“errrr weekend ini Pak?”

Kejadiannya sangat singkat, Jumat siang, selesai meeting.

…You’ve been stayed up all night for three days straight. Hoping for the weekend come faster and planned a short getaway to Bandung. Then your Boss said you need to settle up some problem in site this very weekend… Bye Bandung.

Yah dan pada akhirnya gue berangkat juga ke Padang. Selamat tinggal pada bayangan-bayangan semu menghabiskan akhir pekan di kota kembang wkwkwk.

Sebenernya gue udah di Jakarta lagi sih sekarang. Plan A gue emang balik kemarin, pake pesawat siang terus ke Bandung. Tapi kerjaan gue baru kelar sore dan akhirnya harus ambil pesawat sore dan baru nyampe Jakarta malem. Udah nggak ada harapan lagi buat ke Bandung. Emang deh kalender kontraktor hitam semua.

Tapi kemarin siang kerinduan  gue akan Bandung terobati dengan datangnya Soerabi Enhai di meja gue. Kebetulan banget kemarin anak-anak di proyek pada pengen makan soerabi. Gue sendiri baru tau kalau di Padang ada Soerabi Enhai ini beberapa waktu yang lalu. Yah dulu jaman kuliah cukup sering juga makan soerabi di Setiabudhi di tengah dinginnya malam sambil minum bandrek. Well, selera gue kadang emang agak tua hahaha. Sebenernya gue biasa aja sih sama soerabi tapi aroma kayu bakar di tengah dinginnya malam daerah setiabudhi itu ngangenin banget. Tapi gue lebih kangen lagi makan seblak depan seni rupa, walau banyak MSGnya kata kakak gue dulu.

Serius gue jadi kangen banget Bandung. Apalagi kalau cuacanya lagi adem dan ketika kampus pagi-pagi diselimutin kabut. Rasanya kayak lu pengen balik lagi ke kosan dan tarik selimut wkwkwk.

Setelah seminggu kemarin yang super hectic dan gue harus ke site selama sehari, hari ini gue memutuskan buat kabur sejenak. Yah karena rencana awalnya gue emang mau ngabisin weekend di Bandung dan temen-temen gue yang pengen gue temuin di Bandung semua. Nyokap Bokap gue juga lagi liburan dan baru pulang nanti malem, jadi di rumah nggak ada siapa-siapa. Gue memutuskan untuk ngabisin waktu gue sendiri di Jakarta aja. Dan tadi ketika manager gue nanya gue dimana, gue bilang :

“Saya lagi melarikan diri Pak, jangan cari saya Pak”

Emang kalau dipikir, kadang-kadang gue agak cukup suka-suka juga. Walau di project kalendernya hitam semua, tetep aja please gue masih 23 tahun Pak. Jangan renggut masa muda saya wkwkwk. Akhirnya gue memutuskan buat kabur ke kedai kopi kayak biasa.

Ngomong-ngomong soal kedai kopi, salah satu rencana gue kalau udah gede nanti adalah pengen punya kedai kopi. Kebetulan keluarga gue adalah penikmat kopi. Setiap bokap gue pergi kemana-mana dan di daerah itu ada kopinya, pasti bokap gue beli kopi. Salah satu kopi lokal favorit keluarga gue adalah kopi Aroma dari Bandung dan kopi aming dari Pontianak. Selama ini ya cara kita menikmati kopinya manual brew gitu aja. Tapi yang jelas kopi adalah satu pelepas kejenuhan gue belakangan ini. Dan setiap gue jenuh, gue tau gue harus kabur kemana sekarang.

 

 

Real World Trouble

Because maybe the world would be a different place and things could be a lot better if we keep our inner child alive.  No hatred, no violence, no obsessing over money

As I grow up, I realize that life becomes more complicated. When I was a kid, my only concern is my video games on weekend, favorite cartoons on Sunday Morning, sketch book and oil pastels, comics on the rack, and ice cream bonus after I visit dentist. That simple. But today, I wake up and find myself in the piles of work. I need to run across the parking lot to catch a flight.

As I grow up I met the more number of people, with different background, different views, different intention, and different character. 

And as I grow up I had more number of problem, experiences, and dream.

growing-up-gaping-void

Yay credit to @gapingvoid

Karena terkadang kita orang dewasa justru membuat semuanya menjadi kompleks sendiri. Sometimes their society and other influence covered up their innocence, as they grow up. Then things getting more complicated. Ketika gue masih sekolah dulu, seorang temen gue pernah mengenalkan gue dengan istilah utopia. Well, secara gampangnya utopia dapat diartikan sebagai suatu fictional society yang penuh dengan keidealan atau nyaris sempurna. Lalu ada lagi Neverland, yang bisa kita temuin di kisahnya Peter Pan. Dunia fictional dimana usia kita nggak akan bertambah.

Dan semua itu fiktif. Karena faktanya kita hidup di dunia yang penuh ketidak idealan dan usia kita semakin bertambah. Faktanya bahwa kita bertambah dewasa dan semua menjadi semakin complicated adalah hal yang nggak bisa kita hindari. Sederhananya gini, kalau kita main game tentu ketika level kita makin tinggi, yang kita hadapin pun semakin berat. So just treat life like playing video games but there’s no turning back. Well, the most important thing is I try not to covered up my inner child innocence because of the society.

“That’s the real trouble with the world, too many people grow up.”-

– Walter E. Disney –

Salah satu tokoh yang gue kagumi sampai sekarang adalah Walt Disney, seorang entrepreneur sejati yang berhasil merealisasikan mimpinya. Menurut gue, dia adalah salah satu contoh dewasa yang kekanak-kanakan. Gue belakangan suka dengan istilah ini dan gue mengartikannya begini. Yang terpenting dalam hal dewasa adalah komitmen terhadap tanggung jawabnya dan bagaimana dia bisa menempatkan diri. Lalu menurut gue kekanak-kanakan cuma soal preferensi.

Me, Almost Saturated.

Bye Weekend, and here comes Monday. Yah tapi weekend kemarin nggak ada bedanya sih kayak weekdays karena tumpukan pekerjaan gue wkwkwk.

corporate-culture-boredom

Thanks again to gapingvoid for their amazing art, I really love their art!!

Well it’s been almost a year since I joined my company. Selama nyaris setahun ini ada kalanya gue merasa bosan atau overwhelmed dengan kerjaan gue. Kalau kejenuhan udah memuncak biasanya yang gue lakukan adalah kabur dan nyari kedai kopi terdekat. But lately, gue ngerasa udah super duper jenuh dan kalau gue andaikan gue ini larutan, bentar lagi gue udah saturated alias mengendap karena saking jenuhnya. Kalau berada di kondisi kayak gini produktifitas gue jadi kacau, yah kerja jadi nggak efektif. Gue menyadari kalau gue demotivated yang akhirnya berujung ke kejenuhan. Pas gue ngobrol sama temen gue, katanya gue butuh liburan, iya emang butuh banget sih bro, cuma sayangnya gue habis cuti jadi belum bisa cuti lagi.

Weekend kemarin, kayak biasanya gue balik ke Bogor, nganterin Nyokap sama Eyang gue yang mau ke Solo. Terus pas di perjalanan balik Jakarta-Bogor gue ngobrol sama Bokap gue. Yah terus gue bilang kalau lagi demotivated, karena gue sendiri bingung mau gue apa sebenernya. What the? gue udah sampai di titik ini dan gue bingung mau gue apa? Nice work Bil! Abis mendengar statement anak bungsunya ini, Bokap gue segera mengarahkan gue kembali ke jalan yang benar perlahan-lahan. Intinya semua yang kita lakukan harus punya tujuan yang jelas, iya gue tau sih itu, kalau nggak punya tujuan dan dibiarkan mengalir aja yah lu nggak bakalan semangat ngapa-ngapain. Setidaknya bokap gue menyadarkan gue tentang hal itu lagi dengan menjabarkan berbagai manfaat yang bisa gue dapat dan berikan dengan bekerja. Lu bisa meningkatkan skill professional lu, dapet banyak ilmu baru, networking yang luas, bisa memenuhi kebutuhan hidup lu sendiri dan lu juga bisa bantu orang-orang di sekeliling lu.

millennials-in-order-to-find-yourself

Satu lagi hal yang penting adalah, di dunia ini semuanya udah digariskan kan? Maksud gue, kita nggak secara random ditempatkan di suatu tempat. Allah sudah memilihkan kita tempat yang terbaik. Jadi gue rasa setiap kali gue jenuh, harusnya gue inget akan hal itu dan bersyukur karena sudah dipilihkan jalan yang terbaik oleh Allah. Seharusnya gue juga nggak menyia-nyiakan hal ini dan bisa memanfaatkannya sebaik mungkin. Sebenernya emang banyak hal yang harusnya gue syukurin, dengan mensyukuri hal-hal itu seharusnya bisa membuat gue nggak demotivated lagi. Kepercayaan dan tanggung jawab yang udah diberikan oleh boss-boss kita juga seharusnya nggak disia-siakan. Apalagi mereka yang udah mau mengcoach kita.

Well, lagian saat ini gue berada di kondisi yang nyaman, walaupun gue terus dikejar deadline saat ini gue bisa bekerja dengan fleksibel. Karena berbagai hal project team gue terbagi dan gue diassign di Jakarta. Jadi kalau nggak ada meeting gue bisa kerja pakai baju tidur atau kalau bosen kabur ke kedai kopi cukup pakai kemeja, jeans, dan sneakers. Rasanya jadi nyaris kayak freelance dan ini adalah kondisi yang gue inginkan. So, harusnya gue nggak menyia-nyiakan waktu gue sekarang ini. Jadi ya gue rasa kalau gue ngerasa demotivated lagi, gue harus inget-inget lagi apa tujuan gue dan semua nikmat yang udah diberikan Allah nggak boleh disia-siakan.

Sekian dari gue dan selamat hari Senin semuanya,

Good Old Days

​” Yesterday, I had a dream… A dream I have had since long ago. In that dream, we had yet to turn 13. We were in a vast countryside, completely covered with snow. The lights of the houses extended far into the distance, a dazzling sight. We walked on the thick carpet of fresh snow, but didn’t leave any footprints.”

Tono Tamaki/Akari Shinohara


” Kita tak pernah menanamkan apa-apa. Kita tak kan pernah kehilangan apa-apa. “

Soe Hok Gie


Entah kapan terakhir kali gue baca buku… atau nonton anime. Kangen juga rasanya bisa baca buku sambil santai. Terakhir kali gue baca buku di perjalanan Jakarta-Padang, beberapa bulan lalu, larut malam, lalu isinya meluap entah kemana.

Pseudo-Work Trap

Pernah denger istilah pseudo-work?

Well, pseudo-work secara gampangnya dapat diartiin sebagai kondisi dimana seseorang kerja dengan waktu yang cukup lama tapi hasilnya nggak signifikan. It means ineffective work.

Pas gue masih sekolah dulu, bokap gue selalu bilang kalau belajar yang penting efektif. Kalau emang udah capek yaudah, so you don’t need to push yourself too hard. Well menurut gue emang sih, ketika kondisi kita udah lelah jangan dipaksa untuk terus kerja karena it will lead to pseudo-work dan yah kita nggak bakal dapet hasil yang maksimal. So, don’t be trapped by this pseudo-work thing. Putting in more hours doesn’t mean a better result.

Terkadang kita tanpa sadar melakukan pseudo-work karena ingin merasa produktif. Karena banyak orang yang berpikir kalau hasil itu dipengaruhi oleh banyaknya waktu yang kita spend. Padahal kalau berlebihan hasilnya malah nggak signifikan. Lalu ada Cal Newport yang menyimpulkan kalau sebenernya hasil yang kita dapet itu nggak cuma dipengaruhi oleh waktu yang kita gunakan aja tapi juga dari tingkat fokus kita. Nah kira-kira gini

Work accomplished = time spent x intensity of focus

Jadi, alih-alih spending more hours by pseudo-working lebih baik kita melakukan short burst. Dengan short burst ini biasanya tingkat fokus kita tinggi, sehingga hasilnya bisa maksimal. Don’t strain yourself! Ya, we need to take a break to make sure our focus get recharge. 

Well, yeah menurut gue emang dalam runia kerja sebaiknya kita nggak overtime terus setiap hari. Karena yah fokus manusia ada limitnya dan overtime berlebihan akan berujung ke pseudo-working. Tapi kalau kita emang berada di lingkungan yang nyaris overtime terus tiap hari, kayak kerja di proyek misalnya, daripada kita mencoba ngerubah sistem yang ada (karena belum kapasitas kita juga) lebih baik kita yang menyesuaikan diri kita. Gimana pun juga kita harus bisa mengsinkronkan diri. Ya gue sih kalau emang udah lelah, istirahat dulu dan ngelakuin aktivitas lainnya. Well we’re human, not a robot. Just don’t strain yourself too hard and don’t be trapped by pseudo-work thing.

Another Chapter