Gue rasa hampir dari kita semua tahu bahwa salah satu peran mahasiswa adalah sebagai agent of change. Dimana kita sebagai mahasiswa ini diharapkan menjadi agen yang membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Kalau kita lihat sejarah kepemudaan di Indonesia, kita tidak dapat mengingkari bahwa kelompok pemuda memiliki peranan penting dalam perjuangan kemerdekaan dan juga pasca kemerdekaan di negara ini. Pemuda seolah menjadi motor-motor dalam setiap pergerakan yang terjadi.
Kita tak perlu menjadi Sjahrir atau Hatta untuk membawa perubahan. Kita sebagai mahasiswa dapat menjadi motor-motor pergerakan pada zamannya yang membawa negara ini ke arah yang lebih baik. Bukanlah tidak mungkin kita dapat membereskan mereka-mereka yang mengacau di Senayan.Tidak dapat dipungkiri juga bahwa suatu hari nanti akan tiba giliran generasi kita yang akan menggantikan mereka-mereka di sana.
Ketika tiba waktunya, sudah siapkah kita? Ketika tiba waktunya, apakah kita masih bertahan dengan idealisme yang kita agung-agungkan saat ini? Well, mungkin itu terlalu jauh. Mungkin sebaiknya saat ini kita merefleksi diri kita terlebih dahulu. Apakah kita saat ini masih berpikir ideal? apakah kita masih memegang teguh integritas? Atau keidealan sesungguhanya hanya berada di dunia utopia?
Integritas adalah suatu hal harus dipegang teguh oleh tiap-tiap individu. Mahasiswa tentu termasuk di dalamnya. Sebagai agent of change dan juga role model, integritas adalah harga mati yang harus dipegang oleh mahasiswa. Bagaimana kita mau membereskan mereka yang korup jika diri kita masih menggadaikan integritas? apa bedanya? Bagaimana kita mau menggantikan mereka yang di Senayan jika saat ini saja kita sudah membelot dari kata ideal? Seharusnya kita juga sadar bahwa kita tidak lagi memiliki legitimasi untuk mengkritik mereka-mereka yang korup ketika integritas kita telah digadaikan.
Menurut KBBI, Integritas diartikan sebagai suatu mutu, sifat atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran. Jadi integritas merupakan suatu sifat yang berkaitan erat dengan kejujuran. Sebagai manusia yang dewasa gue rasa kita memiliki pemahaman yang sama antara perbuatan mana yang jujur dan tidak. Kita tahu itu, namun mengapa masih saja ada diantara kita yang jelas-jelas mengetahui bahwa suatu tindakan, sorry sebut saja mencontek, merupakan tindakan yang tidak jujur namun masih saja melakukannya? Kita sama-sama tahu itu salah, namun beberapa dari kita tetap melakukannya. Tentu ada banyak alasan di balik itu, entahlah seberapa banyak, namun yang jelas kita telah membohongi diri kita sendiri. Lalu kemana larinya integritas kita? Apakah kita masih (benar-benar) dapat mengkritik para koruptor-koruptor dengan vokalnya?
Tidak ada manusia yang ideal di dunia ini, tidak ada yang sempurna. Dunia dimana semuanya berjalan dengan ideal hanyalah khayalan utopis belaka. Tapi setidaknya kita masih bisa mencoba bertahan dengan idealisme kita atau kita akan membiarkan diri kita terseret arus entah kemana. Kita tidak juga dapat menghakimi seseorang saat ini, karena waktu dapat merubah segalanya. Hitam dan putih sebenarnya sudah jelas, lalu kita dibiarkan memilih, kita sudah dewasa. Tapi yang jelas, kita sebagai mahasiswa seharusnya sadar betul akan peran kita sebagai agen perubahan. Pada gilirannya generasi kita lah yang akan melakukan perbaikan bagi negara ini, pada gilirannya generasi kita juga yang akan menggantikan para pemimpin negeri. Kita sudah lelah melihat koruptor hidup bermewah-mewahan, di lain sisi masih ada anak-anak yang tak sempat mengenyam pendidikan di luar sana. Indonesia butuh pemimpin-pemimpin yang menjunjung tinggi integritasnya, negara ini butuh pemimpin-pemimpin yang berani berkata tidak pada kebatilan. Oleh karena itu ini lah saatnya kita untuk merefleksi dan memantaskan diri. Mari kita perbaiki diri terlebih dahulu, lalu kita koreksi habis-habisan terhadap mereka yang mengacau di negara ini