Sekilas tentang Kayu Glulam

Seperti yang udah gue bilang di beberapa post sebelumnya, gue pengen bahas tentang kayu glulam.

“Jadi apa sih kayu glulam itu?”

Glulam itu kepanjangan dari Glued Laminated. Intinya kayu glulam adalah material komposit antara kayu dan zat adhesive (lem). Kira-kira gambaran sederhananya kayak gini

Kayu Glulam

(Sumber : Slide Kuliah Dr. Ir. Saptahari M. Soegiri P.)

Well, kayu sebagai material konstruksi memiliki banyak kelebihan. Diantaranya kayu merupakan renewable material, ramah lingkungan, ringan, punya nilai estetika yang tinggi dan lagi energi yang dipake buat memproduksi kayu nggak sebesar material-material lain (baja dan beton). Gue pribadi sih suka banget sama material kayu, karena nilai estetikanya. Salah satu dosen favorit gue di Sipil, Pak Saptahari, kebetulan ngajar Struktur Kayu, beliau satu-satunya dosen yang ngajar kuliah itu saat ini. Beliau bilang kalau kayu itu menimbulkan kesan “hangat” dan gue setuju banget sama pendapatnya. Penggunaan material kayu untuk bangunan itu emang bikin lebih homie gitu men. Selain itu kayu juga ringan jadi cocok banget kalau dijadiin struktur tahan gempa.

Nah oke, jadi cukup banyak kan kelebihan dari material kayu. Tapi kayu ini punya keterbatasan sebagai material konstruksi. Dimensi kayu ini nggak sefleksibel beton atau baja. Kayu punya keterbatasan di dimensinya. Buat dapetin ukuran kayu solid yang bentangnya besar itu nggak mudah. Selain jarang banget, harganya juga semakin nggak ekonomis. Oleh karena itu munculah kayu glulam. Kayu glulam ini seolah menjadi jawaban atas segala tanya tentang dimensi-dimensi ini.

Dengan kayu glulam, kita bisa mengatur sebera pun dimensi yang mau kita gunakan tanpa perlu khawatir ketersediaannya. Karena kayu glulam ini juga kita nggak perlu nunggu waktu tebang pohon yang ratusan tahun untuk mendapatkan dimensi yang besar. Oh iya, kayu glulam juga digunakan di Aula Barat dan Aula Timur ITB lhooo. Ini ada beberapa fotonya, ini foto Aula Barat

Aula Barat ITB CAM02067

Aula Barat ITB

(Dokumentasi Pribadi)

Nah, elemen-elemen yang melengkung itu menggunakan kayu glulam. Seriusan deh, kalau lu lagi di dalem Aula Barat, lu nggak akan bosen liat strukturnya yang sangat indah. Aula Barat ini merupakan bangunan tertua di ITB (dibangun sekitar tahun 1920) dan udah memanfaatkan penggunaan kayu glulam untuk strukturnya.

Penggunaan kayu glulam sebenernya emang udah banyak di negara-negara lain khususnya Amerika dan Eropa. Kayu glulam sendiri udah dikenal sejak tahun 1850an di Inggris. Hanya saja penggunaan kayu glulam di Indonesia masih kurang terdengar. Padahal gue rasa, industri kayu glulam sebenernya cukup prospektif dan lagi Indonesia juga salah satu penghasil kayu dengan kualitas yang sangat baik. Dengan adanya kayu glulam ini kita juga bisa memanfaatkan hutan-hutan kayu industri yang umur tebangnya relatif singkat.

Secara kekuatan, kayu glulam juga nggak kalah dengan kayu solid. Bahkan kayu glulam cenderung lebih kuat dibandingkan dengan kayu solid untuk parameter-parameter tertentu (kuat lentur, tarik serta tekan sejajar serat). Hal ini dikarenakan penggunaan kayu glulam dapat memperkecil/menghilangkan adanya cacat kayu pada kayu yang akan digunakan. Berbeda dengan penggunaan kayu solid yang tidak dapat atau agak sulit untuk menghindari adanya cacat pada kayu.

Well, gue rasa segitu dulu tentang kayu glulam. Mungkin untuk perhitungan dan perbandingannya secara mendetail dengan kayu solid akan disampaikan lain kali. See yaa.

Lewat Jenuh

Kalau dari yang gue pelajarin pas SMA, larutan yang kelewat jenuh lama-kelamaan bakal mengendap. Lalu apakah otak yang jenuh juga akan mengendap?

Akhir semester emang parah. Tugas dateng, silih berganti, mengalir tanpa ampun dari yang berwajib. Bayangin aja, kemarin lusa baru kelar sidang KP dan pagi tadi kita udah harus presentasi tugas besar kayu. Semalem gue jenuuuuuh buanget. Akhirnya selesai les gue memutuskan “kabur” bentar dari kenyataan dan pergi ke kedai teh buat minum green tea latte favorit gue

Tadi malem bahkan gue nggak bisa tidur tapi kalau bangun nggak bisa mikir. Rumah kayu yang sebenernya udah kita rencanakan dengan cukup sederhana masih aja nemuin banyak kesulitan-kesulitan di bagian sambungan. Semalem gue jenuuuuuh buanget. Akhirnya selesai les gue memutuskan “kabur” bentar dari kenyataan dan pergi ke kedai teh buat minum green tea latte favorit gue.

Sekitar pukul 3 gue bangun dan nyelesain gambar sambungan sampe jam 7. Dalam waktu singkat gue seolah dipaksa untuk belajar AutoCAD 3D. Sambungan yang kita rencanakan emang agak nyentrik, entah gimana jumlah baut yang dibutuhkan banyak banget. Jadi sambungan kuda-kuda yang kita rencanakan kombinasi antara sambungan gigi dengan pelat buhul. Saking bingungnya dan pengetahuan gue mengenai sambungan juga masih cupu banget, bahkan ada satu sambungan yang gue kira bentuknya kayak bajunya pharaoh gitu haha. Oke, ini beberapa sambungan yang berhasil gue gambar.

Sambungan 1 Sambungan 2 Sambungan

(Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Dan yang paling miris adalah.. ketika presentasi Pak Saptahari (Dosen Kayu gue) ngeskip bagian ini.

***

Kadang ketika lagi jenuh di suatu titik gue meyakinkan diri gue bahwa ini hanya sebagain kecil dari kehidupan. Lalu masih banyak kejaran yang harus dilakukan. Maksud gue, hidup seharusnya nggak hanya dibiarkan mengalir gitu aja. Nggak tau juga sih, tapi gue rasa orang yang punya mimpi itu keren.

“If you can dream it, you can do it.”

-Walt Disney-