Tetap pada Jalur

Minggu kemarin gue rasa adalah minggu terhectic di bulan ini. Dari presentasi KP sampai presentasi tugas besar kayu. Irama hidup gue benar-benar kacau semingu kemarin.

Beberapa minggu ini emang gue ngerasa tersibukkan banget. Bahkan gue cabut mentoring selama 2 minggu. Alasannya? ada tugas yang harus dikerjakan. Gue memutuskan untuk ikut mentoring karena gue harus menjaga diri gue tetap pada jalurnya. Gue hanya mau belajar. Nggak tau kenapa gue seneng aja ngeliat anak-anak di Salman yang ngumpul di selasar, mendiskusikan sesuatu yang entah apa. Berbahagia lah mereka yang sudah jelas mau dibawa kemana hidupnya. Gue terbiasa dengan lingkungan yang heterogen, dari yang sudah sangat amat yakin dengan apa yang dianutnya sampai yang masih bertanya-tanya hingga hari ini. Sedangkan gue, gue masih belajar.

Intinya tadi gue telat dateng mentoring karena gue cukup bodoh untuk memilih makan seblak dulu sebelum mentoring. Akhirnya karena antrean seblak yang begitu panjang gue telat mentoring nyaris satu jam. Dan gue menyesal. Mentoring kali ini ngebahas tentang maksiat. Bahwa maksiat dapat membawa dampak buruk nggak cuma ke orang-orang di sekitar pelaku tapi juga terhadap dirinya sendiri. Cukup banyak dan cukup menampar gue. Bahwa gue harus memperbaiki diri secepatnya. Mentoring itu mungkin bisa diibaratkan sebagai pelepas dahaga di keramaian. Setelah seminggu penuh disibukkan oleh urusan duniawi, mentoring itu seolah mengingatkan gue “kalau ada urusan yang lebih besar lagi”. Gue rasa gue harus nyempatin untuk baca buku-buku bagus lagi. Hal duniawi terkadang membuat kita tersibukkan dan justru lupa tujuan utama hidup ini apa. Dunia memang mengerikan.

” Dunia ini ibarat bayangan, kejar dia dan engkau tak akan pernah bisa menangkapnya. Balikkan badanmu darinya dan dia tak punya pilihan lain kecuali mengikutimu. “

– Ibnu al-Qayyim –

Oh iya suatu hari di tengah liburan gue menemukan buku ini dan kebetulan salah seorang temen gue menjual buku ini. Waktu itu seorang kakak kelas gue juga ngepost kalau buku ini bagus.

lapis lapis keberkahan

Akhirnya gue memutuskan untuk beli karena penasaran isinya kayak gimana. Hari itu juga, temen gue maketin buku ini ke rumah gue. Dan gue sangat suka gaya penulisannya Ust, Salim A. Fillah. Kata perkata yang dipilihnya. Nggak membuat bosan dan terus penasaan apa isinya secara keseluruhannya. Banyak pelajaran soal kehidupan yang dapat dipetik dari buku ini. Percayalah bahwa buku ini sangat rekomended. Pada bagian awal buku ini terdapat kata-kata yang membangkitkan semangat

 ” Memburu berkah amatlah berat, tapi justru dalamnyalah ada banyak rasa nikmat “

Ya, selamat memburu berkah di bumi Allah yang luas ini. Semoga kita bisa terus belajar dan mengambil makna.