Sekilas tentang Mass Concrete

Well jadi sekarang gue pengen mengulik secara singkat mengenai mass concrete atau errr beton massa ya kalau diterjemahin? tapi gue rasa enaknya kita sebut mass concrete aja karena udah familiar juga.

Oke jadi mass concrete ini sendiri gue tau ketika gue terjun ke dunia konstruksi. Kebetulan waktu itu dosen gue, Pak Iswandi, ngisi suatu seminar di perusahaan gue dan salah satu topik yang dibahasnya adalah mass con ini. Gue sempat nemuin mass concrete ini di proyek gue yang sebelumnya. Mass concrete ini cukup menarik karena dibutuhkan penanganan khusus, baik ketika proses pengecorannya sampai pasca pengecoran (re: pas masa perawatan beton atau curing).

Well, jadi mass concrete itu apa sih? mass concrete secara generalnya dapat diartikan sebagai beton dengan massa yang cukup besar. Salah satu code yang bisa dipakai untuk guidance mass concrete ini adalah ACI 207.1R-05. Kalau menurut ACI mass concrete merupakan volume beton yang berdimensi cukup besar, sehingga diperlukan adanya penanganan tertentu yang mengatasi tergenerate-nya panas hidrasi yang besar dan perubahan volume untuk meminimalisir keretakan. Nah dari beberapa sumber yang gue dengar suatu beton digolongkan sebagai mass concrete ketika memiliki letebalan lebih dari 1.3 m (well sumber yang lain ada juga yang menyebutkan diatas 1.5 m sih). Sampai sekarang gue masih mencari referensinya sih, karena di ACI sendiri nggak disebutkan ketebalan tertentu. Di proyek gue sebelumnya di bilangan Sudirman dulu ketebalan raft foundationnya bahkan ada yang mencapai 4.1 m, sehingga digolongkan ke dalam mass concrete. Untuk proyek gue yang sekarang, ketebalan raft foundationnya hanya 0.9 m, sehingga belum tergolong mass concrete.

Kayak yang udah disampaikan di atas, salah satu karakteristik yang membedakan mass concrete dengan beton lainnya adalah thermal behaviornya. Karena massa betonnya yang cukup besar, peningkatan panas hidrasinya pun tinggi. Namun panas tidak bisa terdisipasi secara seragam karena massa yang besar tadi. Nah untuk menghindari adanya keretakan akibat disipasi panas yang tidak merata, diperlukan penanganan khusus. Well, ada beberapa cara yang yang dapat dilakukan untuk temperature control

  1. Cementitious material content control, dilakukan dengan melakukan pemilihan tipe atau jumlah material semen untuk miminimalisir potensi generasi panas pada beton
  2. Pre-cooling, dilakukan dengan ‘mendinginkan’ material untuk mendapatkan temperatur beton yang cenderung rendah ketika dilakukan pengecoran. Ini dapat dilakukan dengan menyiram agregat, penggunaan air es maupun penambahan es dan juga penambahan nitrogen cair.
  3. Post-cooling, dilakukan dengan mengontrol disipasi panas dari concrete structure, well tahapan ini berada dalam fase perawatan beton (concrete curing). Post cooling dapat dilakukan dengan menggunakan aliran air dalam pipa.
  4. Construction Management, dimana dilakukan usaha untuk melindungi struktur dari perbedaan termperatur yang besar. Pada mass concrete disipasi panas di surface area lebih cepat dibandingkan core, sehingga adanya thermal expansion pada area core dapat menyebabkan keretakan. Oleh karena itu disipasi panas harus dikontrol. Pengontrolan temperatur dapat dilakukan dengan surface insulation.

Well, 4 point di atas adalah beberapa hal yang dapat diterapkan untuk melakukan temperature control. Pengontrolan suhu maupun slump sebelum penuangan juga harus dilakukan untuk memastikan kualitas beton. Selain itu dapat digunakan instrumen tambahan seperti thermocouple dalam monitoring suhu pasca pengecoran. Selain kontrol terhadap temperatur, hal-hal yang berkaitan dengan management konstruksi, seperti zonasi serta volume cor, sirkulasi truck mixer, sistem drainase serta perlindungan jika terjadi hujan, distribusi tenaga kerja dan penempatan concrete pump juga harus diperhatikan.

Nah gue rasa sekian dulu untuk postingan mengenai mass concrete ini.