Gue membenarkan headset di telinga gue, mengeraskan volumenya sedikit sambil menghirup nafas dalam-dalam. Gue membiarkan jendela kamar gue terbuka, membiarkan angin semilir masuk ke dalam kamar gue. Sisa-sisa hujan semalam masih tampak. Ya, sudah masuk musim hujan sepertinya.
Setelah buku Daron Acemoglu dan James A Robinson minggu lalu, gue melanjutkannya dengan Icarus Deception yang ditulis oleh Seth Godin. Gue tertarik dengan buku ini karena Icarus. Ketika SMA gue pernah baca tentang kisah Icarus dengan sayapnya, suatu hari Icarus terbang terlalu dekat dengan matahari dan pada akhirnya ia jatuh. Entah kenapa cerita tentang Icarus ini meninggalkan impresi yang mendalam buat gue.
Well, Icarus ini merupakan salah satu mitologi Yunani. Jadi Icarus ini adalah anak dari Daedalus seorang seniman yang ditahan di Crete. Suatu hari Daedalus membuatkan sayap dengan wax untuk dirinya dan Icarus, agar mereka dapat melarikan diri dari Crete. Tapi Icarus mengabaikan nasihat Ayahnya untuk terbang nggak terlalu dekat dengan matahari, ia terlalu bahagia dan terbang begitu begitu tinggi hingga pada akhirnya sayapnya meleleh. Lalu ia terjatuh ke laut. Laut tempatnya terjatuh kini dinamai Icarian Sea, yang berada di barat daya Pulau Samos.
Dari kisah Icarus ini yang seringkali diambil pelajaran adalah don’t fly too close to the sun and keep your head down. It looks the society create a conclusion that told us about the dangers of standing up and standing out. Mereka lupa atau melewatkan bagian dimana Daedalus juga menasihati Icarus untuk nggak terbang terlalu rendah, terlalu dekat dengan dengan laut, karena air juga bisa menghambat daya angkat sayapnya. Dan justru ini lah yang lebih berbahaya, because it feels safe to fly low. Ide ini lah yang dibawa Seth Godin di dalam bukunya, The Icarus Deception: How High Will You Fly?

The Icarus Deception: How High Will You Fly?
Sebagai pembuka kita mendapati Godin membicarakan mengenai comfort zone vs safety zone. Selama ini, sejak waktu yang lama kita memahami keduanya merupakan hal yang sama, kita terus berasumsi kalau apa yang membuat kita nyaman, pasti membuat kita aman juga. Then Godin told us that now the safety zone has changed but our comfort zone has not. Safety zone yang baru ini adalah tempat dimana art, innovations, destruction and rebirth happen. Menyadari kalau safety zone kita sudah berubah, bisa menjadi pertimbangan untuk mengevaluasi lagi comfort zone kita. Gue rasa ini ada kaitannya dengan disrupsi, yang menarik untuk jadi pembahasan di post berikutnya.
Well, what we need now is creating ideas and connecting the disconnect, those are the two pillars of our new society. Both of them require the posture of an artist and that’s where the new safety zone lies. Here, Godin explain that art isn’t a specific talent. Art is an attitude, culturally driven, and available to anyone who chooses to adopt. It’s the unique work of human being, work that touches another.
Lalu ada bahasan tentang bagaimana kapitalisme awalnya membuat para pekerja menciptakan value, sampai akhirnya industrialisasi datang melengkapi model kapitalisme yang ada. Menghancurkam kultur yang sudah terbentuk dan menggantikannya dengan sesuatu yang begitu berbeda. Industrial age is the age of stardardization. Para industrialis beranggapan bahwa keamanan adalah kunci produktifitas dan keuntungan. Mereka memegang prinsip Keep it moving. Keep it efficient. Keep it reliable.
But now, the industrial world is disappearing. The standardized things and guaranteed job won’t be there for much longer. Setiap orang dituntut untuk menjadi kreatif untuk bisa survive di masa depan. Godin ask us to be an artist, whether you’re an engineer, middle manager, doctor or teacher. In this book, he ask us that we need to fly higher than ever.
Menurut gue buku ini cukup asik buat menjadi bacaan di pagi hari atau di sela-sela waktu kosong lu. Gue cukup suka dengan gaya penulisan Seth Godin. Kebetulan juga ia salah satu sahabat penulis dan cartoonist favorit gue, Hugh MacLeod. Jadi gue rasa keduanya mempunyai gaya penulisan yang agak mirip, walau MacLeod menyisipkan lebih banyak ilustrasi dalam bukunya.
Well, gue rasa sekian dulu untuk post di pagi ini. Selanjutnya pembahasan tentang era disrupsi kayaknya cukup menarik juga untuk dibahas disini. Selamat berakhir pekan.