Jadi setelah beberapa interlude-interlude kemarin, gue ingin mencoba agak produktif hari ini. Gue pulang agak lebih cepet dari biasanya kemarin, karena selama empat hari sebelumnya, gue pulang kelewat malem terus gara-gara ada course after office hour gitu. Oke, jadi kali ini gue mau bahas in brief tentang tunneling method, sebetulnya artikel ini udah mau gue post dari kemarin-kemarin cuma draftnya nggak kunjung selesai. Well, sebagai gambaran gue sendiri memang belum pernah terlibat dalam proyek tunnel ataupun tunnel design.
Sekitar akhir tahun lalu, gue melakukan site visit ke salah satu proyek tunnel yang lagi berjalan bersama beberapa praktisi geotek. Jadi ceritanya waktu itu gue lagi ikut course geotek tahunan di Bandung dan di akhir course itu para participant diajak untuk site visit ke Terowongan Cisumdawu. Terowongan Cisumdawu ini menggunakan metode konstruksi NATM (New Austrian Tunneling Method). Di hari sebelumnya, kita, para participant, udah diminta untuk membuat pemodelan NATM ini dengan Plaxis. Jadi udah ada sedikit gambaran lah kira-kira metodenya ini seperti apa. Kebetulan juga salah satu pematerinya Prof. Helmut dari TU Graz, Austria. Nah sebelum gue ikut course kemarin, metode tunneling yang gue tau hanya TBM yang saat ini lagi digunakan untuk proyek MRT Jakarta dan D&B, jadi metode NATM ini baru banget buat gue. Well, di in brief post gue kali ini gue mau bahas kedua tunneling method ini: NATM dan TBM.
TBM (Tunneling Bor Machine) Method. Metode pertama yang mau gue bahas adalah TBM, gue rasa cukup banyak temen-temen yang udah tau TBM itu apa. Yes, metode ini sedang diterapkan pada Proyek MRT Jakarta. Proyek MRT yang saat ini sedang berjalan, menggunakan 4 mesin bor yang diberi nama Antareja I, Antareja II, Mustika Bumi I, dan Mustika Bumi II. (Ini agak random sih, tapi ada yang cukup menarik dengan nama Antareja ini, dalam pewayangan Jawa, Antareja merupakan anak dari Bima yang punya kemampuan buat berjalan di dalam bumi). TBM yang digunakan pada proyek MRT Jakarta menggunakan jenis Earth Pressure Balance (EPB) karena jenis tanahnya yang didominasi oleh silty clay.

Tunneling Bor Machine atau seringkali disebut Mole (credit to railsystem.net)
TBM ini berfungsi untuk proses tunneling sekaligus ring building. Pada proses Tunneling, cutter head pada TBM berfungsi untuk menggerus tanah. Lalu tanah hasil gerusan dari cutter head disimpan ke dalam mixing chamber. Selanjutnya tanah tersebut dibawa oleh screw conveyor dan diteruskan ke belt conveyor untuk selanjutnya dibuang ke luar area terowongan. Pada saat yang bersamaan juga proses ring buildig dilakukan. Pada proyek MRT Jakarta, ring building ini terdiri dari segmen-segmen beton. Nantinya setelah terbentuk satu ring beton utuh, mesin TBM akan bergerak maju.
NATM (New Austrian Tunneling Method). Lalu selanjutnya adalah metode NATM, NATM sendiri kepanjangan dari New Austrian Tunneling Method atau biasa juga disebut SEM (Sequential Excavation Method). Seperti yang udah dibahas sebelumnya, saat ini NATM sedang digunakan di proyek Terowongan Cisumdawu. Selain itu metode ini digunakan juga di Proyek Terowongan Notog, Purwokerto. Berbeda dengan metode sebelumnya, NATM nggak menggunakan boring machine. Excavation pada terowongan dilakukan secara manual dan bertahap.

Typical NATM excavation. (credit to Prof. Helmut F. Schweiger)
Tahapan pertama dalam metode ini adalah proses excavation pada area tunnel yang dapat dilakukan dengan menggunakan alat twin header. Pembuangan tanah kerukan dapat menggunakan loader tertentu disesuaikan dengan diameter tunnel. Setelah itu proses excavation dilanjutkan dengan pekerjaan temporary support menggunakan rock bolt, wire mesh dan steel rib. Lalu dilakukan proses proteksi pada area dinding dengan menggunakan shotcrete. Selanjutnya untuk ring building, dilakukan secara cast in situ, didahului dengan pembesian dinding struktur dan pengecoran. Pada tahapan akhir dilakukan back fill grout untuk memperbaiki retak-retak yang terjadi pada dinding tunnel.

Cisumdawu Tunnel Project
Well, selama gue kerja, sebetulnya gue sangat jarang banget terlibat dalam hal-hal yang bersinggungan dengan geoteknik. Kecuali pas gue lagi OJT, gue sempat terlibat dalam braced excavation design untuk salah satu proyek kita di Jakarta. Tapi selama tiga tahun ini gue diminta untuk ikut annual geotechnical course yang biasanya diadain akhir tahun. Nah, disinilah biasanya gue bertemu dengan praktisi-praktisi geotek dan ngerefresh bidang keilmuan gue selama kuliah dulu. Gue sendiri udah menyebrang cukup jauh selama 2 tahun ini dan sekarang gue malah lagi mencoba mempelajari BIM.
Pingback: Terowongan Notog Baru dengan Metode NATM. Prasarana Kereta Api keretapedia