Unknown's avatar

About Nabila Satwikawati

A full time civil engineer, a newbie writer, a book juggler and a lifelong learner.

Brief Review: Digital Minimalism

Ini adalah buku ketiga Cal Newport yang gue baca dan sebetulnya buku pertama Newport yang gue selesaikan. Gue nggak berhasil menyelesaikan dua buku lainnya (Deep Work dan So Good They Can’t Ignore You) karena gue beli yang versi hard cover jadi agak nggak fleksibel kalau dibawa-dibawa. Padahal bagus sih isinya, oke, kayaknya gue akan beresin dua buku itu tahun depan.

Sekilas dulu ya tentang Cal Newport ini, karena menurut gue secara personalnya emang agak unik dan menarik. Gue tau tentang penulis ini dari temen SMA gue sebetulnya, dulu ketika gue masih kuliah, dia pernah cerita tentang bukunya Cal Newport yang ngebahas kebiasaan para straight A students di kampus gitu. Terus beberapa tahun kemudian, gue nggak sengaja liat videonya Cal Newport di TED Talks dan akhirnya gue tau kalau dia udah nulis beberapa buku saat itu. Saat ini Cal Newport merupakan Associate Professor di Georgetown University, jurusan Computer Science. Nah menariknya Newport ini nggak pernah punya akun media sosial sama sekali, karena menurutnya media sosial nggak membawa banyak manfaat. Well, sebagai seorang full time professor, Newport juga terbilang cukup produktif dalam menulis buku.

Nah balik lagi ke Digital Minimalism, buku terakhirnya Newport. In his book, Newport define digital minimalism as a philosophy of technology use in which you focus on your online time on a small number of carefully selected and optimized activities that strongly support things you value, and then happily miss out everything else.

Pada pembukaannya, Newport menceritakan bahwa saat ini nggak bisa dipungkiri lagi kalau media sosial dan smartphones merubah bagaimana kita hidup di abad 21 ini. Tentang bagaimana engineer dan programmer di Silicon Valley nggak cuma memprogram aplikasi saja tapi juga memprogram manusia. They want we use their apps in particular ways and for long periods of time. Karena dengan cara itu lah mereka mendapatkan uang. Fenomena ini bisa dibilang mirip dengan para perusahaan tembakau yang sengaja membuat rokok mereka menjadi lebih adiktif. “While Philip Morris just wanted your lungs, the App Store wants your soul” said Tristan Harris, a former start-up founder

To achieve the effectiveness of digital minimalism, here Newport provides three core principle

Principle #1: Clutter is costly
Digital minimalist recognize that cluttering their time and attention with too many devices, apps and services creates an overall negative cost that can swamp the small benefits that each individual item provides in isolation

Principle #2: Optimization is important
Digital minimalist believe that deciding a particular technology supports something they value is only the first step. To truly extract its full potential benefit, it’s necessary to think carefully about how they’ll use the technology

Principle #3 : Intentionality is satisfying
Digital minimalist derive significant satisfaction from their general commitment to being more intentional about how they engage with new technologies.

Perkembangan smartphone dan media sosial yang sengaja dibuat untuk menjadi adiktif bagi usernya ini memang mempengaruhi pola hidup kita. Misalnya seperti sekarang dimana orang-orang menjadi nggak mudah bosan, kita dapat dengan mudah mengakses apapun dari smartphone kita. Berita, hiburan, media sosial dan lain sebagainya. Para programer sengaja memprogram social media menjadi lebih adiktif dengan memberikan slots machine effect. Efek yang dibuat serupa dengan slots machine, dimana kita perlu merelease news feed kita untuk merefresh informasinya. Nah biasanya akan ada slight delay ketika kita merefresh news feed kita ini dan ternyata ini memang dibuat sedemikian rupa. Selanjutnya otak akan bekerja merelease dopamine yang membuat kita excited ketika akhirnya news feed tersebut terupdate. Efek itulah yang akhirnya membuat kita terus menerus merefresh feed social media kita entah itu Instagram, Twitter ataupun Facebook.

Well, buku Cal Newport ini menurut gue cukup bagus dan relevan dengan kondisi kita sekarang. Gue sendiri pengguna media sosial dan menurut gue memang media sosial ini cukup adiktif, terkadang gue sendiri nggak sadar kalau waktu gue terbuang percuma disana. Untuk saat ini sih gue belum bisa seekstrim Cal Newport yang nggak menggunakan sosial media sama sekali tapi at least ngebatasin. Gue sengaja masang timer di instagram gue untuk ngereminder gue ketika gue udah melewati batas waktu yang gue tentukan perharinya misalnya.

Yang jelas kita harus aware sama waktu yang kita habiskan disana dan manfaat yang bener-bener bisa kita dapet. Dan menurut gue nggak semua berita dan informasi harus kita tau, di era digital yang terjadi banjir informasi ini menurut gue kita bener-bener harus selektif sama informasi yang kita cerna.

Oke, sekian dari gue yang baru aja menghabiskan secangkir kopi di sudut Kota Bandung.

Brief Review: The One Thing

“Life is too short to chase unicorns. It’s too precious to rely on a rabbit’s foot.”

Udah lama gue nggak melakukan review buku yang gue baca. Kali ini gue mau review bukunya Gary Keller & Jay Papasan, The One Thing. Sebelum memutuskan untuk beli dan baca, gue liat review yang cukup bagus di forum-forum.

Buku ini secara overall ngebahas tentang bagaimana kita bisa mencapai tujuan kita dengan fokus ke satu hal secara bertahap dan bahwa nggak semua hal itu setara. Karena melakukan banyak hal dalam waktu yang bersamaan bisa jadi malah membawa side effect terhadap hasil pekerjaan kita.

“Going small is ignoring all the things you could do and doing what you should do. It’s recognizing that not all things matter equally and finding the things that matter most”

Di sini si writer memperkenalkan domino effect, gimana sesuatu yang kecil tapi dengan progress yang linear bisa menghasilkan result yang besar. Jadi di tahun 1983, Lorne Whitehead menulis dalam American Journal of Physics bahwa sebuah domino nggak hanya bisa menjatuhkan domino lainnya, tapi juga bisa menjatuhkan domino yang ukurannya 50% lebih besar dari domino itu sendiri.

Jadi kira-kira kalau dimodelkan dengan linear progression, domino berukuran 2 inch akan bisa menjatuhkan domino pada urutan ke 18 dengan tinggi setara dengan Menara Miring Pisa, lalu di urutan 23 setara dengan Eiffel Tower dan Puncak Everest pada urutan ke 31. Sehingga menghasilkan impact yang cukup besar untuk ukuran domino yang terbilang kecil.

“So line up the priorities, find the lead domino and whack away at it until it falls. Success is built sequentially. It’s one thing at a time”

In this book they also told us that there are 6 lies that usually mislead us

  1. Everything matters equally
  2. Multitasking
  3. A discipline life
  4. Willpower is always on Will-Call
  5. A balancee life
  6. Big is bad

Beberapa poin-poin di atas membuat gue bepikir ulang tentang beberapa hal yang gue yakini selama ini kayak hidup yang disiplin dan seimbang. Kalau untuk multitasking sih, agaknya selama ini gue tergolomg orang yang single tasker. Gue cenderung menyelesaikan sesuatu dulu sampai selesai baru pindah ke hal yang lain.

Selanjutnya mereka ngebahas tentang bagaimana menghasilkan sesuatu yang extraordinary

  1. Live with purpose
  2. Live by priority
  3. Live for productivity

Kita diminta untuk punya definite purpose dalam hidup kita. Selanjutnya kita harus menentukan prioritas yang tepat, karena purpose without priority is powerless ceunah. Lalu yang terakhir kita harus melakukan time block untuk prioritas kita itu. Time block sendiri adalah salah satu cara buat memastikan apa yang harus dikerjakan betul-betul dikerjakan.

Terakhir, ada quote yang gue suka

“Productivity isn’t about being a workhorse, keeping busy or burning the midnight oil. It’s more about priorities, planning and fiercely protecting your time” -Margarita Tartakovsky-

Well, sekian dulu dari gue karena secangkir kopi di depan gue udah mau habis.

Adios Geotechnical Engineering

Menikmati senja di Seminyak adalah hal yang nggak bisa gue lewatkan ketika gue berkunjung ke Bali. Sejak beberapa tahun yang lalu, tempat ini jadi salah satu favorit spot gue buat hunting sunset.

Beberapa waktu yang lalu gue dan 2 orang temen gue baru aja menyelesaikan paper kita. Well, 2 orang temen gue ini, Fitri dan Latin sama-sama anak Geotek ketika kita kuliah dulu. Kebetulan beberapa waktu yang lalu ketika kita ngobrol bareng kita nemu informasi tentang konferensi geoteknik gitu. Akhirnya kita mutusin buat ngejajal konferensi ini dengan bikin paper. Buat gue ini paper perdana gue dan (kayaknya) bakal jadi paper terakhir gue di bidang geoteknik. Kita bertiga saat ini sama-sama kerja di kontraktor, walau di perusahaan yang berbeda. Well, beruntungnya Latin punya kenalan dosen ketika S2 dulu dan akhirnya paper kita dibimbing oleh beliau. Pak Hendra Jitno yang saat ini berdomisili di Brisbane. Jadi kita memyempatkan bertemu beliau sebulan sekali ketika beliau lagi di Jakarta. Alhamdulillah, akhirnya paper kita lolos screening dan diinvite untuk presentasi di Bali minggu lalu.

Di conference kemarin kita ketemu banyak expert geotek, baik dalam maupun luar negeri. Mereka ini sangat humble sekali untuk sekedar berdiskusi dengan remahan doritos kayak gue. Sebagian besar akademisi dan sisanya adalah praktisi-praktisi. Udah lama gue nggak merasakan vibes pergeoteknikan ini, karena saat ini sebenernya gue udah nggak fokus di spesialisasi ini lagi. Hanya karena dua orang temen gue itu (yg keduanya masih fokus di geoteknik) akhirnya gue diajak bikin paper bareng. Gue rasa sense of geotechnical engineering gue juga udah agak luntur dan nggak setajam dulu. Sepertinya setelah ini gue juga akan menyebrang spesialisasi, sebenernya nggak menyebrang sih, cuma pindah fokus spesialisasi aja.

Seperti tulisan gue dulu Between a Jack or a King, gue tetep mau jadi seorang specializing generalist. Alasan gue pindah fokus spesialisasi sebenernya karena saat kerja ini gue lebih banyak berkecimpung di construction management. Dan sekitar 2 tahun ini gue lebih fokus di BIM. BIM ini menurut gue juga menarik untuk didalami karena memiliki bahasan yang sangat luas. Implementasi BIM di Indonesia sendiri juga terbilang masih dirintis sehingga masih banyak hal yang bisa dipelajari dan dikembangkan.

Sebagai penutup, gue mau menyisipkan quote yang sering disampaikan oleh para geotechnical engineers dan structural engineers

“Earthquakes don’t kill people, buildings do”

Well, jadi sebenernya yang mendatangkan bahaya adalah inadequate designed and poorly constructed building. Both the designer and contractor have important role here. Gue rasa ini yang harus selalu diingat oleh kedua belah pihak.

Selamat Malam dari Jakarta Selatan

Run Billy Run

Beberapa waktu yang lalu temen kuliah gue secara random nyeletuk

“Nggak kerasa kita udah 4 tahun lulus ya”

“Iya, cepet banget yah”

Lalu di hari yang lain, ketika makan siang bareng, temen gue di kantor nanya gue

“Bil, lu nggak sayang ya lulusan ITB kerja disini?”

“Hmmm nggak juga sih, sejauh ini gue enjoy..”

Well, sudah 4 tahun gue lulus dan sudah hampir 4 tahun juga gue kerja di perusahaan gue sekarang. Bener juga kata temen gue dulu pas OJT, katanya di tahun pertama lu kerja waktu bakal berjalan sangat lambat tapi sisanya akan bergulir gitu aja. Emang sih di setahun pertama, gue kadang ngerasa agak dilema karena banyak orang yang bilang kalau gue nyasar di perusahaan gue sekarang ketika mereka tau almamater gue. Padahal menurut gue nggak ada yang salah, lagipula fokus bisnisnya juga masih sejalan sama subjek yang gue tekuni di bangku kuliah. Gue sendiri juga nggak begitu mengerti kenapa alumni2 di tempat gue nggak begitu banyak yang terjun di kontraktor BUMN. Sejauh ini, seperti yang gue bilang di tengah makan siang gue bersama temen2 kantor, gue masih enjoy disini. Karena gue cukup nyaman dengan lingkungannya dan masih banyak hal yang masih bisa gue pelajari disini.

Oh iya lagi pula menurut gue, almamater itu nggak bisa mendefine masa depan kita sepenuhnya. Walau sedikit banyak punya pengaruh ke pola pikir kita tentunya. Semuanya bakal balik ke diri kita lagi, gimana goal kita, persistensi dan determinasi. Kesuksesan juga bukan suatu hal yang absolut, tiap orang punya definisi dan parameter suksesnya masing-masing. Jadi gue nggak begitu ambil pusing ketika orang mempertanyakan keputusan gue.

Soal kehidupan pasca lulus dan dunia kerja, ada satu hal yang gue pikirin sejak dulu di tahun pertama gue kerja: gue nggak mau hidup yang monoton. Kayak cuma Tidur-Makan-Kerja-Makan-Repeat. Gue pribadi punya beberapa target personal yang menurut gue bikin hidup gue lebih passionate. Gue jadi ingat wejangan salah satu dosen ketika gue diskusi karena mau pindah sub bidang keilmuan yang gue tekuni sekarang

“Terserah kamu mau menekuni apapun itu Bil, yang penting itu adalah hal yang bikin kamu semangat ketika bangun tidur”

Beliau adalah salah seorang dosen geotek yang ngebimbing paper gue dan temen2. Malam itu gue cerita kalau gue mau menyebrang dari geotek ke sub bidang yang lain sekarang, karena beberapa hal. Lalu beliau ngasi wejangan intinya yang penting lu enjoy, tekun dan konsisten sama pilihan lu itu.

Anyway balik lagi ke working life gue, di weekdays, mostly gue habisin waktu 1/3 hari di kantor (seringkali lebih malah) dan kita punya 2/3 hari sisanya. Gue nggak pengen 2/3 hari gue sia-sia, jadi gue coba cari kegiatan yang bikin hari-hari gue nggak monoton. Sejak gue pindah dari site ke office ritme hidup gue lebih teratur dan beberapa kegiatan ini cukup bikin gue nggak bosen dan bisa ngerefresh pikiran.

1. Jalan pagi sebelum ngantor. Ini lumayan banget, selain buat ngejaga badan biar tetep fit, working out katanya bisa mempengaruhi kerja otak kita in positive ways. Gue biasanya keluar rumah sekitar setengah 6 jadi udaranya masih fresh, lalu jalan sekitar 1 jam. Biasanya gue pakai headset sambil dengerin musik dan nggak mau buka notifikasi apapun di hp gue selama 1 jam itu. Setelah itu gue balik, mandi dan siap2 ngantor.

2. Renang sepulang kantor. Kalau ini nggak setiap hari, karena gue renangnya malem gue prefer di kolam yang indoor walau tempatnya agak jauh dari kantor. Biasanya 1-2 kali lah seminggu. Nyebur ke kolam dan lap swim kurang lebih 1 jam, rasanya bisa ngerefresh pikiran banget yang sudah diperas di kantor seharian. Setelah renang juga biasanya tidur malam gue lebih berkualitas.

3. Belajar bahasa. Belajar bahasa ini sebetulnya salah satu persiapan gue buat ambil master nanti. Ini yang agak susah, karena nine to five job gue yang kadang menuntut overtime, gue agak sulit kalau harus ambil kelas. Jadi ya opsinya kalau nggak otodidak ya ambil online course. Untuk yang ini gue lagi cari ritme dan cara yang tepat sih.

4. Ngerjain project bareng temen. Well, ini menarik karena selain menyambung silaturahmi sama temen-temen, gue ngerasa lebih produktif aja karena ada sesuatu yang dihasilkan. Kalau project ini terkait sama bidang keilmuan kita, lumayan ngerefresh dan menambah wawasan juga sih. Dengan ngerjain project juga biasanya kita bisa menambah link

5. Menyambangi art space dan museum. Gue dari dulu selalu tertarik dengan seni, walau gue nggak nyeni. Gue cuma penikmat aja sih sebetulnya, walau dulu gue sering dikira anak seni rupa oleh beberapa teman di unit kemahasiswaan. Dateng ke exhibition2 buat gue rasanya bisa ngasi insight dan inspirasi. Di jakarta sendiri sekarang cukup banyak artspace dan museum yang ngadain exhibition secara berkala.

6. Spend a me time. Gue punya beberapa tempat pelarian ketika gue mau menghabiskan waktu sendiri. Kebanyakan sih coffee shop yang biasanya nggak gue kunjungi bersama temen2 gue. Karena di weekdays biasanya gue dan temen2 ngopi di deket kantor sambil chit chat. Well, gue termasuk orang yang butuh waktu untuk ngerecharge diri gue sendiri. Dengan me time gini biasanya gue bisa melakukan beberapa hal kayak baca buku atau ngeblog yang nggak bisa gue lakukan ketika kongkow-kongkow bareng temen.

7. Ikut event olahraga. Beruntung beberapa orang temen gue ngajakin untuk ikut event2 lari. Sampai akhirnya beberapa minggu yang lalu gue berhasil mendapatkan medal 5k pertama gue. Yah gue cukup happy juga akhirnya dapet medal 5k walau dengan pace yang memprihatinkan. Tapi ikut event lari bareng temen-temen gini lumayan memotivasi gue untuk lebih baik juga.

Well, es kopi susu di depan gue udah hampir habis. Sekian dari gue, yang sudah menghabiskan 3 jam gue di kedai kopi kecil ini.

Interlude #4

Whoooooah, it’s been a while. Post terakhir gue di Maret 2018, kira-kira setahun yang lalu. Udah lama juga ya. Setelah setahun hiatus, gue cuma mau nulis interlude yang lain hari ini. Sebetulnya gue selalu berharap gue rajin nulis disini, tapi belakangan gue lebih memilih bullet journal gue untuk menulis hal-hal yang kelewat personal.

Banyak hal yang terjadi setahun ini,

Alhamdulillah bisa ke Mekkah dan Madinah bareng nyokap bokap, salah satu point yang ada di bucket list gue tercentang. Baru selang beberapa bulan berlalu gue sudah merindukannya. Suasana menunggu waktu sholat tiba sambil mendengarkan suara adzan yang sangat syahdu. Bertemu dengan saudara2 muslim dari belahan bumi lain yang dengan ramah menawarkan menu berbuka puasa mereka kepada kami.

Salah satu kedai kopi favorit gue tutup beberapa bulan lalu. Sedih juga, padahal tempat ini selalu jadi tempat pelarian gue sejak tahun 2016. Tempatnya sepi dan comfy, bikin gue betah berlama-lama disana buat nulis atau baca. Setelah kedai kopi ini tutup gue mencari lagi kedai kopi yang serupa, namun sampai sekarang gue belum menemukannya.

Beberapa bulan ini gue mulai rutin olahraga, sejak sempat off sejak masuk kuliah dulu. Gue coba untuk rutin renang, jogging dan sepedaan. Sepertinya triathlon menarik juga. Tapi gue belum seserius itu sih, untuk saat ini gue olahraga cuma untuk jaga kesehatan tubuh gue dulu aja. Dan lagi untuk triathlon cukup banyak gear yang harus disiapkan wkwkwk.

Gue tinggal 3 hari 2 malam di atas boat, yep mengapung-apung di lautan ketika gue ngetrip ke Labuan Bajo beberapa minggu lalu. Pengalaman ini cukup menarik buat gue yang kurang adventurous ini. Kita island hopping dari satu pulau ke pulau lainnya, snorkeling, ngejar sunset dan lari dari hiu (gue aja sih, temen gue yang lain santai). Keren abis memang Indonesia ini.

Mulai mempersiapkan rencana gue untuk ambil S2, gue lagi mempersiapkan hal yang paling dasar sih: IELTS preparation. Setelah bekerja kurang lebih 3.5 tahun ini, gue mulai mendapatkan sedikit gambaran tentang fokus studi yang akan gue ambil. Gue belum berencana untuk ambil tahun ini sih karena gue belum persiapan sama sekali. Dan rencana gue sementara ini masih akan tetap jadi praktisi dulu pasca S2 nanti.

Kedepannya sepertinya gue akan mulai rutin menulis lagi. Sebulan sekali barangkali. Yang jelas gue masih akan merawat blog ini.

Sekilas tentang Metode NATM dan TBM

Jadi setelah beberapa interlude-interlude kemarin, gue ingin mencoba agak produktif hari ini. Gue pulang agak lebih cepet dari biasanya kemarin, karena selama empat hari sebelumnya, gue pulang kelewat malem terus gara-gara ada course after office hour gitu. Oke, jadi kali ini gue mau bahas in brief tentang tunneling method, sebetulnya artikel ini udah mau gue post dari kemarin-kemarin cuma draftnya nggak kunjung selesai. Well, sebagai gambaran gue sendiri memang belum pernah terlibat dalam proyek tunnel ataupun tunnel design.

Sekitar akhir tahun lalu, gue melakukan site visit ke salah satu proyek tunnel yang lagi berjalan bersama beberapa praktisi geotek. Jadi ceritanya waktu itu gue lagi ikut course geotek tahunan di Bandung dan di akhir course itu para participant diajak untuk site visit ke Terowongan Cisumdawu. Terowongan Cisumdawu ini menggunakan metode konstruksi NATM (New Austrian Tunneling Method). Di hari sebelumnya, kita, para participant, udah diminta untuk membuat pemodelan NATM ini dengan Plaxis. Jadi udah ada sedikit gambaran lah kira-kira metodenya ini seperti apa. Kebetulan juga salah satu pematerinya Prof. Helmut dari TU Graz, Austria. Nah sebelum gue ikut course kemarin, metode tunneling yang gue tau hanya TBM yang saat ini lagi digunakan untuk proyek MRT Jakarta dan D&B, jadi metode NATM ini baru banget buat gue. Well, di in brief post gue kali ini gue mau bahas kedua tunneling method ini: NATM dan TBM.

TBM (Tunneling Bor Machine) Method. Metode pertama yang mau gue bahas adalah TBM, gue rasa cukup banyak temen-temen yang udah tau TBM itu apa. Yes, metode ini sedang diterapkan pada Proyek MRT Jakarta. Proyek MRT yang saat ini sedang berjalan, menggunakan 4 mesin bor yang diberi nama Antareja I, Antareja II, Mustika Bumi I, dan Mustika Bumi II. (Ini agak random sih, tapi ada yang cukup menarik dengan nama Antareja ini, dalam pewayangan Jawa, Antareja merupakan anak dari Bima yang punya kemampuan buat berjalan di dalam bumi). TBM yang digunakan pada proyek MRT Jakarta menggunakan jenis Earth Pressure Balance (EPB) karena jenis tanahnya yang didominasi oleh silty clay.

TBM elements

Tunneling Bor Machine atau seringkali disebut Mole (credit to railsystem.net)

TBM ini berfungsi untuk proses tunneling sekaligus ring building. Pada proses Tunneling, cutter head pada TBM berfungsi untuk menggerus tanah. Lalu tanah hasil gerusan dari cutter head disimpan ke dalam mixing chamber. Selanjutnya tanah tersebut dibawa oleh screw conveyor dan diteruskan ke belt conveyor untuk selanjutnya dibuang ke luar area terowongan. Pada saat yang bersamaan juga proses ring buildig dilakukan. Pada proyek MRT Jakarta, ring building ini terdiri dari segmen-segmen beton. Nantinya setelah terbentuk satu ring beton utuh, mesin TBM akan bergerak maju.

NATM (New Austrian Tunneling Method). Lalu selanjutnya adalah metode NATM, NATM sendiri kepanjangan dari New Austrian Tunneling Method atau biasa juga disebut SEM (Sequential Excavation Method). Seperti yang udah dibahas sebelumnya, saat ini NATM sedang digunakan di proyek Terowongan Cisumdawu. Selain itu metode ini digunakan juga di Proyek Terowongan Notog, Purwokerto. Berbeda dengan metode sebelumnya, NATM nggak menggunakan boring machine. Excavation pada terowongan dilakukan secara manual dan bertahap.

Typical NATM

Typical NATM excavation. (credit to Prof. Helmut F. Schweiger)

Tahapan pertama dalam metode ini adalah proses excavation pada area tunnel yang dapat dilakukan dengan menggunakan alat twin header. Pembuangan tanah kerukan dapat menggunakan loader tertentu disesuaikan dengan diameter tunnel. Setelah itu proses excavation dilanjutkan dengan pekerjaan temporary support menggunakan rock bolt, wire mesh dan steel rib. Lalu dilakukan proses proteksi pada area dinding dengan menggunakan shotcrete. Selanjutnya untuk ring building, dilakukan secara cast in situ, didahului dengan pembesian dinding struktur dan pengecoran. Pada tahapan akhir dilakukan back fill grout untuk memperbaiki retak-retak yang terjadi pada dinding tunnel.

DSC_1502-01

Cisumdawu Tunnel Project

Well, selama gue kerja, sebetulnya gue sangat jarang banget terlibat dalam hal-hal yang bersinggungan dengan geoteknik. Kecuali pas gue lagi OJT, gue sempat terlibat dalam braced excavation design untuk salah satu proyek kita di Jakarta. Tapi selama tiga tahun ini gue diminta untuk ikut annual geotechnical course yang biasanya diadain akhir tahun. Nah, disinilah biasanya gue bertemu dengan praktisi-praktisi geotek dan ngerefresh bidang keilmuan gue selama kuliah dulu. Gue sendiri udah menyebrang cukup jauh selama 2 tahun ini dan sekarang gue malah lagi mencoba mempelajari BIM.

Interlude #3

Pada akhirnya hanya interlude yang lain. Malam ini, setelah sekian lama, akhirnya gue mengunjungi salah satu kedai kopi favorit gue. Sudah lama sejak gue nggak kesini, dan tempat ini rasanya makin ramai. Padahal salah satu alasan gue menjadikan kedai kopi ini jadi tempat favorit gue, karena tempat ini tadinya nggak begitu ramai. Kadang gue memang butuh me time untuk ngecharge diri gue wkwkwk. Ngomong-ngomong soal kopi, sebetulnya Januari lalu gue sudah berhasil menyetop caffeine intake gue. Tapi bulan ini, gue sudah tiga kali menyerah. Caffeine benar-benar bekerja dengan sangat baik di otak gue.

Belakangan waktu berjalan sangat cepat rasanya. Tahun 2017 berlalu dengan cepat, akhir tahun kemarin gue menghabiskan waktu dengan keluarga besar nyokap gue di Solo. Menghabiskan beberapa hari di dataran tinggi Sukuh. Lalu gue kembali ke Bogor sampai tahun baru. Menangkap beberapa ikan nila yang dibesarkan Bokap gue di kolamnya. Benar-benar melepas penat rasanya.

Di awal tahun 2017 lalu gue masih di Padang, dengan kondisi proyek yang begitu hectic. Lari ke kedai kopi lokal disana atau menyusuri taplau ketika jenuh. Sampai pada bulan Februarinya, gue mendapat surat untuk kembali ke pusat. Dan baru benar-benar kembali ke Jakarta di pertengahan Tahun. Padang adalah tempat perantauan kedua gue setelah Bandung. Rasanya jadi rindu juga, terpaan angin laut di taplau. Malam terakhir gue disana, gue berkeliling kota dengan singkat.

Gue nggak tau apa yang akan terjadi di tahun ini dan tahun-tahun berikutnya. Tapi gue akan berusaha menikmati setiap prosesnya. Belakangan, semakin banyak hal yang gue pikirkan dengan semakin bertambahnya umur gue. Belakangan juga gue merasa kalau gue mulai fleksibel dengan rencana-rencana gue. Apapun bisa terjadi. Well, Pohon Maple tampaknya jadi semenarik Silver Birch belakangan ini.

Yah sebetulnya ada beberapa topik yang mau gue bahas in brief. Kayak tunneling method dan teman-temannya. Tapi draftnya nggak berhasil tersentuh sama sekali beberapa bulan ini. Jadi, mungkin, setelah ini.

Gue tinggal menyeruput kafein terakhir gue, lalu gue akan kembali.

Interlude #2

Pagi, well sudah 2 minggu berlalu sejak post terakhir. I’ve already given up my caffeine intake now, so, good bye my sweet caffeine. Terakhir gue ngopi, pas di Pontianak, kopi susu nya Kopi Aming yang udah melegenda disana. Rekomended abis! pokoknya kalau lu ke Pontianak, harus coba. Kafeinnya super strong dan rasanya mantap. Oh iya alasan gue mengurangi kafein intake gue banget karena belakangan gue sering sakit kepala kalau habis ngopi, yah kayaknya gue aja sih yang over kafein wkwkwk. Selain itu kopi favorit gue juga semacam latte dan saudara-saudaranya, yang mengandung susu dan gula, jadi ya nggak baik juga kalau dikonsumsi terlalu sering. Karena itu juga akhirnya gue memilih untuk mengurangi caffeine intake gue secara drastis dan gue menyerah untuk JCM tahun ini hahaha. Untuk sementara ini gue mah mengkonsumsi minuman yg lebih sehat lah.

Terus minggu ini, selama beberapa hari kemarin, gue diminta kantor gue untuk ikut pelatihan di Bandung. Yah happy lah, karena seminggu full gue di bandung, sedikit nostalgia di kota kembang, walau nggak semua tempat bisa disambangi. Tapi, harus diakui juga walau tetep ngangenin, Bandung rasanya mulai berubah, karena orang yang gue kenal satu persatu udah merantau dari kota kembang ini. Disana gue ketemu beberapa temen juga, dari yang ngomongin hal receh, kerjaan sampai yang nyemangatin gue buat lanjut sekolah lagi (?). Yah, iya sih, gue kayaknya belakangan terlalu terdistrak sama kerjaan gue, sampai gue lupa akan hal-hal kayak gitu. Walau dulu sempat gamang apakah gue akan lanjut sekolah lagi atau langsung kerja ketika gue lulus, tapi menurut gue pilihan gue buat cari pengalaman dulu adalah pilihan yang terbaik. Well, tentu tiap orang punya tolok ukur dan rencana yang berbeda.

Gue balik dari Bandung kemarin siang, lalu langsung disambut hujan ketika sampai di Jaksel. Malamnya gue pergi ke rumah seorang teman yang akan melanjutkan studinya ke luar, bertemu beberapa teman seangkatan juga. Lalu mulai mengobrol-ngobrol lagi tentang rencana mengambil master. Salah satu hal yang membuat gue termotivasi lagi untuk ngejar master, ya kalau ketemu temen-temen gini. Nggak terasa ini udah tahun kedua sejak gue wisuda, dan sebagian temen-temen gue udah tersebar di berbagai benua.

Kalau sesuai dengan rencana awal, harusnya nggak lama lagi gue udah harus persiapan, yah mulai menentukan akan mengambil apa dan dimana. Kemarin gue sempat diledekin nyokap gue, ketika lagi pelatihan geotek di Bandung dan gue ngeluh kalau gue pusing liat rumus-rumusnya yang terlalu advance. Hahaha, gue sendiri belum tau sih apakah gue akan ngambil geotek lagi kayak S1 dulu atau malah ambil manajemen proyek yang lebih general.

Yah kalau untuk saat ini, gue malah lagi terjebak di BIM. Walaupun agak berbeda sama yang gue dalemin pas kuliah, gue lagi mencoba untuk menyesuaikan diri sih, belajar lagi. Belakangan ini gue juga jadi terinspirasi banget sama Elon Musk, dia adalah salah satu contoh sukses expert generalist, jack all trades and master of some. Dia membuktikan bahwa dia adalah seorang jack all trades yang berhasil.

Yah balik lagi, ke kafein yang manis. Sejak gue nyetop caffeine intake gue, gue rasanya jadi unproduktif abis. Entah ada kerelasinya atau nggak. Tapi belakangan gue males banget buka-buka buku untuk sekedar baca iseng aja. Masih ada dua buku yang belum gue sentuh sama sekali. Menurut gue menjadi unproductive adalah salah satu cara untuk jadi productive. Gue mencoba untuk menjalani hari-hari yang unproductive sampai titik dimana gue bosen jadi unproductive. Well, sebetulnya nggak unproductive juga sih, cuma gue lagi nggak melakukan apa yang biasanya gue lakukan aja kayak pergi ke kedai kopi dan baca buku. Tapi belakangan ini gue mulai rutin olahraga lagi, gue mulai sadar kalau hidup emang harus balance.

 

Yah sekian interlude pagi ini, gue masih berhutang untuk ngereview buku sebetulnya. Tapi gue lagi malas sekali untuk baca buku atau sekedar review buku sementara ini. Selamat berakhir pekan.

Hunt Down The Artspace: Matter’s Matter and Self Explanatory Exhibition

Wah nggak terasa November sudah mau berakhir, cepet banget, tiba-tiba udah mau di penghujung tahun aja. Cuma perasaan gue aja atau emang waktu kayaknya semakin cepet berlalu ya.

Beberapa minggu terakhir ini pekerjaan gue memang lagi sangat padat. Gue masih belum sempat juga mereview buku-buku yang udah selesai gue baca. Semoga setelah dari Pontianak besok gue bisa mulai ngereview buku lagi. Biasanya gue kalau lagi travelling selalu bawa buku, in case gue bosen ketika perjalanan. Tapi besok gue nggak akan bawa buku, family time lah dan ini pertama kalinya gue akan terbang ke Borneo.

Anyway, beberapa minggu lalu, akhirnya gue berhasil menyambangi exhibitionnya Radhinal Indra; Matter’s Matter, yang udah gue tunggu-tunggu sebelumnya. Matter’s Matter ini cukup menarik karena latar belakang sang artist yang sangat dekat dengan dunia science. Radhinal Indra mengkombinasikan antara celestial dan anatomy object di dalam artworknya ini. Di exhibition kali ini dia mencoba untuk menginterpretasikan koneksi antara cosmos yang besar dengan bagian terkecil dari manusia. Media yang digunakan juga cukup beragam, mulai dari painting, art installation hingga loop video. Sayangnnya gue nggak begitu lama menghabiskan waktu disini, karena jam buka Ruci Artspace yang hanya sampai pukul 7 malam. Kurator dari pameran ini, Roy Voyagen, juga menata exhibition ini dengan sangat baik.

Beberapa hari kemudian gue pergi ke Self Explanatory Exhibition yang diadain di Dia.Lo.Gue. Self Explanatory ini menampilkan artwork dari 3 artist: Ines Katamso, Natisa Jones dan Ykha Amelz. Well, disana gue juga menemukan karakter bernama Babbot dalam artwork yang diciptakan oleh satu artist di exhibition ini, Ykha Amelz. Apa yang dialami karakter bernama Babbot ini cukup merefleksikan apa-apa yang sebagian besar dari kita alami,seperti Deadline yang menghantui, Revisi-revisi, serta hari Senin yang tak diharapkan.

Well, buat gue, one of the perks living in Jakarta adalah tersebarnya artspace disini. Beberapa artspace juga cukup rutin ngadain exhibition. Selain bisa nikmatin karya seni yang dipamerkan, di artspace-artspace ini kita juga bisa menemukan local artist. Beberapa artspace juga dilengkapi coffee shop yang bisa kita jadikan tempat untuk melarikan diri, kongkow bareng teman, ketemu dengan klien atau coworkers.

Oh iya, akhir tahun ini gue ikut dalam jakarta coffee manual 2017 challenge. Ini jadi ajang yang menarik buat para penikmat kopi untuk berburu kedai kopi di Jakarta. Well dan tahun ini adalah kali pertamanya gue ikut, so wish me luck then.

Interlude #1

Kok rasanya dapetin mood untuk kerja malem ini agak susah ya, udah nyaris sejam ini gue masih mengotak-atik playlist Spotify gue nyari musik yang tepat buat dapetin mood. Yah, beberapa minggu ini gue skip banget nulis, kerjaan gue lagi agak hectic soalnya. Semoga pertengahan minggu ini bisa selesai sesuai target. Ada buku yang mau gue review lagi soalnya, yang ini rekomendasi dari temen gue.

Weekend ini gue menyempatkan short family outing sama nyokap bokap gue, nggak jauh-jauh kok, cuma ke Sukabumi, kota tetangga haha. Kita mau chillaxing aja sebentar, setelah weekend sebelumnya gue dan bokap gue mendadak diminta lembur di kantor. Sukabumi kemarin cukup dingin dan sore harinya kota sejuta mochi itu diguyur hujan.

IMG-20171029-WA0000

Sebetulnya ada beberapa hal yang mau gue tulis disini, tapi gue punya perasaan mengganjal kalau gue blogging dikala kerjaan gue belum kelar. Gue dapet beberapa inspirasi di tengah perjalanan gue ke Bandung dua minggu lalu. Oh iya kereta sekarang jadi moda favorit gue kalau ke Bandung, alasannya dua, yang pertama karena rute Jakarta-Bandung sekarang macetnya nggak ketulungan terutama di Bekasi, Cikarang sama Pasteur lalu yang kedua  karena pemandangan yang super stunning dari Jembatan Cisomang keliatan jelas banget kalau naik kereta.

Minggu ini semoga aja kerjaan gue segera kelar, dan bisa ke exhibitionnya Radhinal Indra. Ini salah satu exhibition yang udah gue tunggu dari bulan lalu. Dari beberapa review yang gue baca, seni yang dihasilkan Radhinal selama ini cukup dipengaruhi dari latar belakang keluarganya yang lekat dengan sains. Seru sih, gue liat sekilas mostly intallasinya berkaitan sama celestial objects, ini membuat gue teringat sama cita-cita ketika gue masih bocah yang pengen jadi astronom. Dan ini juga salah satu alasan yang membuat gue excited sama exhibition ini.

Anyway, next post gue akan mencoba membahas dengan singkat buku The Subtle Art of Not Giving a F*ck dari Mark Manson dan barangkali satu lagi posting singkat tentang Fa Mulan, salah satu tokoh Disney favorit gue hahaha, well, she’s a not a typical Disney princess.

Sekian Interlude malam ini. Selamat bertemu dengan hari Senin.