Unknown's avatar

About Nabila Satwikawati

A full time civil engineer, a newbie writer, a book juggler and a lifelong learner.

Koto Padang: A One Day Coffee Trip

A few months ago, ketika gue tiba di kota Padang dan mulai stay di kota ini, gue penasaran dengan local coffee shopnya yang sekiranya bisa gue jadikan tempat kabur kalau gue lagi jenuh wkwkwk. Sorry Pak Boss! Gue sempat beberapa kali hunting tempat pelarian juga sama temen gue, tapi gue belum berhasil menemukan kedai kopi lokal kemarin-kemarin.

Nah kemarin, gue mencoba melakukan solo trip buat hunting kedai kopi lokal disini. Gue mulai sekitar pukul 2 siang dan Padang rasanya panas betul. Kedai kopi yang pertama gue kunjungi kemarin adalah kedai kopi lokal yang nggak berhasil gue temukan beberapa waktu lalu.

Rimbun Espresso and Brew Bar. Nah ini destinasi pertama gue kemarin. Letaknya di jalan Kis Mangunsarkoro. Berada di deretan ruko-ruko gitu, mesti cukup jeli juga nyarinya soalnya beberapa waktu yang lalu gue nggak berhasil menemukannya. Begitu masuk ke kedai kopinya kita bakal disambut oleh aroma kopi yang kuat. Tepat di dekat pintu masuknya ada coffee roaster.

Their eye-catchy coffee roaster next to the front door

Suasana kedai kopi yang berada di tengah kota Padang ini ramai betul siang kemarin. Nah untuk mengawali one day coffee shop trip gue, gue memilih Vietnam Drip, biji yang digunakan adalah biji Robusta. It quite bitter and strong, but it blended really well with the condensed milk after we stir it. Trust me it’s really good until the last sip.

Ketika ngobrol dengan baristanya sebetulnya ada beberapa speciality yang mereka punya kayak single origin Solok Surian dan Malabar Red Honey tapi sayangnya mereka baru akan panen lagi minggu depan. Hopefully I can visit this coffee shop again soon

Their Vietnam Drip which is so good until the last sip

Kesan ketika kita masuk adalah suasana kedai kopi ini cukup cozy. Interiornya yang didominasi oleh kayu juga menimbulkan kesan hangat dan teduh.

The barista seems busy making the coffee

Selain di Padang, Rimbun juga punya cabang di Bukit Tinggi. Gue pastikan gue akan balik lagi untuk coba single origin andalan mereka.

Coffee Theory. Setelah ngopi di salah satu pusat kota Padang, gue beranjak ke arah barat kota ini. Tepatnya di jalan Tepi Pasang. Well, kedai ini berada di Chinatown-nya Padang, dekat dengan daerah Pondok. Karena hawa di daerah ini yang cenderung lebih panas, gue memilih cold brew yang mereka tawarkan.

A cold brew to refresh your sunny day

Cold brew ini menjadi penyelamat di tengah teriknya kota Padang kemarin. Tingkat keasamannya rendah and less bitter. Tapi kayak cold brew pada umumnya, it has high caffeine level. Jadi buat mereka yang toleransi terhadap caffeinenya rendah, sebaiknya diperhatikan juga caffeine intakenya.

Once you enter this coffee shop you can feel their modern industrial ambience

Coffee Theory ini termasuk kedai yang memiliki space yang cukup besar. Nuansa industrial modern sangat terasa di kedai ini. Jendela-jendela kaca besar di bagian depan memberikan pencahayaan yang sangat cukup ke dalam.

Nggak hanya kopi dan teh, kedai ini juga memiliki menu main course yang cukup beragam.

Lalito Coffee Bar. Coffee shop ini jadi penutup coffee shop trip gue kemarin. Letaknya di Jalan Wolter Monginsidi. Kali ini gue memesan espresso based setelah menikmati manual brew dan cold brew di kedai-kedai sebelumnya. Pilihan gue jatuh pada segelas Marocchino. Well, marocchino is a perfect blend of coffee, milk and cacao. I think they also put a small dollop of cacao at the bottom.

A perfect blend of marocchino

Lalito ini punya suasana kedai yang hangat menurut gue. Kesan industrial juga terasa sangat kuat di kedai ini. Sebenarnya gue ingin berlama-lama dulu disini, tapi ada yang harus diselesaikan, jadi gue harus balik dulu. Menurut gue tempat ini cukup asik buat nongki lama-lama kalau lagi jenuh.

Their coffee bar and its industrial ambience

Seusai dari Lalito, gue memutuskan untuk balik. Gue harus memperhatikan caffeine intake gue hari itu, karena paginya gue juga udah menghabiskan 1 gelas americano. Dari trip kali ini, gue rasa usaha kopi di Kota Padang udah cukup menggeliat. Gue juga berhasil nemu 3 destinasi baru untuk pelarian gue wkwkwk.

Well, gue rasa sekian dulu. Selamat Pagi dan selamat Hari Senin dari Kota Minangkabau.

Coffee: A Sip from Colonialism

Kopi adalah salah satu bagian yang tak terpisahkan dari kultur Indonesia. Dari bagian barat hingga timur Indonesia masyarakat kita sudah sangat akrab dengan minuman hitam ini. Indonesia juga salah satu produsen kopi terbesar di dunia, setelah Brazil, Vietnam dan Kolombia. Tapi sebenarnya kopi ini bukan tanaman native Indonesia.

Well, kopi sendiri masuk di Indonesia pada zaman pendudukan Belanda. Saat itu VOC, yang merupakan serikat dagang milik Belanda, mendatangkan biji biji kopi arabika ke Indonesia. Belanda bermaksud untuk menghentikan monopoli perdagangan kopi yang dikuasai oleh Arab pada saat itu. Pada mulanya tanaman kopi dikembangkan di daerah sekitar Jakarta, seperti Sukabumi dan Bogor. Lalu selanjutnya tanaman kopi semakin banyak berkembang di daerah Jawa, sebagian Sumatera dan Sulawesi.

Pada saat yang nyaris bersamaan, di daerah timur Indonesia yang saat itu masih dibawah pendudukan Portugal, di datangkan pula biji-biji kopi arabika. Namun kabarnya sumber biji yang mereka datangkan berbeda dengan yang dibawa oleh VOC. Sehingga pada awal abad 19 ketika sebagian besar tanaman kopi di Asia Tenggara terkena wabah coffee rust, termasuk di wilayah barat Indonesia yang saat itu memusnahkan nyaris seluruh tanaman kopi mereka, di wilayah timur Indonesia tidak mengalami kerusakan yang signifikan.

Nah setelah terjadi wabah coffee rust yang menyebar dengan sangat cepat, nyaris seluruh perkebunan kopi di wilayah barat Indonesia hancur. Banyak petani yang akhir beralih ke komoditas lain. Saat itu pihak VOC sempat mendatangkan biji kopi Liberica, yang ternyata juga tidak resistent terhadap wabah dan tidak bertahan lama. Akhirnya didatangkan biji kopi robusta yang memiliki tingkat ketahanan lebih tinggi. Walau biji kopi robusta memiliki resistensi yang lebih baik dibandingkan dengan arabica, biji kopi robusta cenderung memiliki kualitas yang lebih rendah. Namun sampai saat ini robusta masih merupakan biji kopi terbanyak yang diproduksi di Indonesia. Well kira-kira sekitar 90% dari produksi biji kopi kita merupaka tipe robusta, sedangkan arabica hanya sekitar 10%. Tapi di dalam 10% ini termasuk diantaranya biji-biji kopi yang termasuk kualitas terbaik di dunia.

Well, pasca pendudukan Belanda dan kemerdekaan, mayoritas perkebunan kopi di Indonesia yang awalnya dikuasai kolonial belanda dikelola oleh pemerintah yang baru ataupun dibiarkan mangkrak begitu saja. Para pemilik perkebunan yang mulanya kaum kolonial, meninggalkan kebun-kebunnya begitu saja agar terhindar dari penangkapan. Hingga hari ini perkebunan kopi terus berkembang di Indonesia, ada yang dikelola oleh petani-petani lokal ataupun korporasi-korporasi besar. Tiga pulau penghasil kopi terbesar di Indonesia yakni Jawa, Sumatera dan Sulawesi. Tiap-tiap daerah memiliki keunikannya sendiri. Sumatera terkenal akan Sumatera Mandheling dan Sumatera Lintongnya. Sedangkan Jawa terkenal dengan Java Arabica dan Mocha Java. Untuk Sulawesi, siapa yang kenal dengan Sulawesi Toraja?

Beruntung juga berada di Indonesia, salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia ini. Nggak cukup sulit buat menemukan dan menikmati kopi disini. Kita bisa menemukan kopi tubruk nyaris diseluruh Indonesia, kopi tarik di kedai-kedai khas Aceh atau kopi joss di angkringan-angkringan Jogja. Nggak hanya kopi dengan manual brew aja, sekarang semakin mudah juga untuk menikmati kopi-kopi dengan espresso based. Nampaknya bisnis kopi di negara ini mulai menggeliat lagi.

-cup of macchiato eh?

Apalagi yang lebih nikmat dari kabur sejenak dari hiruk pikuk proyek dan menyeruput secangkir kopi, menikmati efek dari kafeinnya pelan-pelan. Sore dan kopi adalah dua hal favorit gue selama di proyek. Ketika sore datang lu bisa melihat semburat-semburat oranye di langit, tiga perempat hari telah berlalu, saat yang tepat untuk rehat sejenak. Ditemani oleh secangkir kopi, yang perlahan menstimulasi terproduksinya dopamine dalam otak gue dan merasakan efek dari kafeinnya yang membuat gue bertahan sampai tengah malam nanti. Sore dan kopi adalah hal yang tak terpisahkan belakangan ini.

Tapi walau bagaimanapun juga belakangan gue mencoba mengontrol konsumsi kopi gue. Segala yang berlebihan toh nggak baik juga. Kopi gue jadikan sebagai suatu reward dan juga remedy buat diri gue.

Bekerja di proyek konstruksi dengan durasi singkat kayak sekarang gini mau nggak mau memaksa gue untuk memastikan kalau cafein intake gue terpenuhi setiap hari. Gimana nggak, dengan banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan dan durasi yang super singkat, seringkali membuat kita harus terjaga sampai tengah malam. Nah dan itu terjadi nyaris setiap hari.

Well sekian dulu dan selamat Pagi dari Kota Minangkabau. Selamat berakhir pekan. Hari ini salah seorang kawan gue menikah. Sayang sekali karena ada beberapa hal yang harus diselesaikan disini, gue tidak bisa pergi ke Kota Kembang. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah Fier. Semoga bisa segera mengunjungi Bandung kembali .

Sekilas tentang Project Cost Management

Nah kali ini gue mau membahas sekilas tentang project cost management. Malam ini gue lagi stuck di site project karena besok pagi ada serah terima parsial project gue ke owner. Mostly temen-temen gue sekarang lagi pada lembur, buat mastiin besok pagi semuanya udah siap untuk diserah terimakan. Gue memilih untuk stay di site office karena suasana di lapangan terlalu hectic. Anyway, gue satu-satunya cewek yang tersisa malam ini di site. 

Proyek di Kala Senja

Well, balik lagi ke bahasan sebelumnya, Project Cost Management bisa diartikan sebagai serangkaian proses yang diperlukan untuk memastikan kalau project kita bakal selesai sesuai dengan budget yang telah disepakati. Project Cost Management sendiri kira-kira bisa dibagi ke dalam empat tahap: 1) Resource Planning 2) Cost Estimating 3) Cost Budgeting dan 4) Cost Control. Nah setiap tahapan ini saling berkaitan satu sama lain. Seenggaknya tiap tahapan ini umumnya muncul paling tidak sekali dalam setiap fase proyek.

1) Resource Planning

Tahapan yang paling pertama adalah Resource Planning, di tahapan ini kita melakukan penentuan atau pemilihan resources yang akan digunakan (seperti tenaga kerja, peralatan serta material) dan juga quantitynya.

Pada tahapan Resource Planning ini dibutuhkan work breakdown structure (WBS ) untuk dapat mengidentifikasi pekerjaan seperti apa saja yang akan dilakukan sehingga nantinya kita dapat menentukan resource yang akan digunakan. Diperlukan pula historical information dari proyek-proyek serupa yang telah berlangsung. Selain itu kita juga perlu mengetahui objektif dari proyek serta durasi yang telah ditetapkan. Dan terakhir yang nggak kalah penting adalah kita perlu juga mengetahui policy organisasi kita mengenai resources planning ini seperti apa, kayak rentaling atau purchasing material and equipment. 

Dalam melakukan resource planning ini biasanya diperlukan expert judgement. Selain itu kita dapat juga menggunakan software-software yang terkait dengan project management untuk membantu mengorganisir resources-resources yang kita gunakan.

Output dari akhir tahapan ini nantinya akan menghasilkan kebutuhan resources (Recources Requirement)

2) Cost Estimating

Setelah melakukan resource planning, kita beranjak ke cost estimating. Pada tahapan ini kita diminta untuk melakukan estimasi/valuasi terhadap resources requirement yang telah ditentukan. Nah untuk menentukan cost estimating ini diperlukan rate dari tiap resources yang kita gunakan. Kita juga harus memperhatikan adanya variabel resiko dalam proses cost estimating kita. 

Ada beberapa teknik yang dapat dilakukan dalam cost estimating

  • Analogous Estimating atau biasa juga disebut Top Down Estimating. Dilakukan dengan menggunakan basis real cost dari project serupa yang sudah dilakukan sebelumnya. Umumnya dilakukan untuk mengestimasi total project cost ketika data-data yang tersedia tidak begitu mnedetail. Merupakan salah satu bentuk expert judgement. Tidak membutuhkan banyak biaya, namun juga memiliki tingkat keakuratan yang rendah.
  • Parametric Modeling melibatkan parameter-parameter project tertentu dan menerjemahkannya dalam model matematis untuk memprediksi project cost. Dapat berupa model sederhana atau model yang rumit. Tingkat keakurasiannya juga bervariasi tergantung model yang digunakan. Historical information dan kelengkapan data lainnya mempengaruhi akurasi teknik estimasi ini
  • Bottom Up Estimating teknik ini dilakukan dengan mengestimasi nilai satuan-satuan pekerjaan atau grup pekerjaan. Lalu nantinya disummarykan sehingga didapatkan total project cost. Keakuratan teknik ini ditentukan dari seberapa  kecil kita membreakdown pekerjaan kita dengan mengestimasi nilainya.

Output dari tahapan ini adalah cost estimate yang umumnya ditampilkan dalam currency. Di dalam cost estimate ini harus sudah terkandung pula contigency plan sebagai pertimbangan adanya variable resiko. Selain mendapatkan cost estimate, pada tahapan ini kita dapatkan pula supporting detail seperti estimasi scope of work yang mengacu kepada WBS, basis data yang digunakan untuk estimasi serta asumsi-asumsi yang digunakan.

3) Cost Budgeting

Tahap selanjutnya adalah cost budgeting, bagaimana kita mengalokasikan cost estimate yang sudah ada ke dalam satuan pekerjaan atau grup pekerjaan. Input yang dibutuhkan dalam cost budgeting ini adalah cost estimate, WBS, project schedule dan juga risk management plan.

Teknik yang digunakan dalam cost budgeting serupa dengan teknik yang digunakan pada cost estimate. Nantinya output yang dihasilkan pada tahapan ini adalah cost baseline yang merupakan time-phased budget, biasanya digambarkan dalam bentuk kurva S.

4) Cost Control

Nah yang terakhir adalah cost control. Setelah menentukan resource yang akan digunakan, mengestimte cost project dan melakukan budgetingnya selanjutnya yang perlu kita lakukan adalah melakukan cost control. 

Dalam melakukan cost control ini kita harus melakukan monitoring cost performance untuk bisa mendeteksi dan memahami variasi yang terjadi terhadap rencana kita.  Kita juga harus memastikan kalau variasi-variasi tersebut terecord dengan akurat. Stakeholder-stakeholder juga dipastikan harus terinfokan mengenai variasi-variasi yang terjadi.

Output yang dihasilkan pada tahapan ini adalah 

  • Revised Cost Estimate, yang merupakan modifikasi cost estimate yang ada setelah dilakukan adjustment terhadap aspek-aspek proyek atau variasi
  • Budget Updates yang merupakan perubahan terhadap cost baseline yang telah disepakati
  • Estimaste at Completion atau EAC merupakan perkiraan dari total project cost berdasarkan performance proyek.
  • Lesson learned seperti penyebab variansi yang terjadi dan lainnya sebaiknya didokumentasikan dengan baik, untuk dijadikan sebagai database yang dapat dimanfaatkan untuk project terkait ataupun project-project lainnya

Yah gue rasa itu sekilas tentang Project Cost Management. Untuk tahapan yang paling terakhir, terkait cost control kayaknya bisa dibahas lebih dalam lagi. Kalau mau referensi yang lebih mendalam mungkin bisa pakai PMBOK (Project Management Body of Knowledge) yang diterbitkan oleh PMI

Dancing Goat: The Coffee Origin

Well, it’s been awhile since my last post wkwkwk. Sekarang udah tinggal 1.5 bulan lagi sampai proyek gue selesai. Sabtu kemarin gue balik ke Padang, setelah beberapa waktu di Jakarta.

Terus tadi pagi rencananya gue mau jalan ke salah satu kota tuanya Padang dan juga pecinannnya, Pondok. Tapi tiba-tiba Manager gue ngajak ke site. Jadi akhirnya gue pergi ke site, yang emang lagi super hectic. Karena agak jenuh juga weekend gini di site, akhirnya sore ini gue mencari tempat pelarian sekaligus tempat ngecharge kebutuhan kafein gue.

Awalnya gue mau pergi ke salah satu kedai lokal yang cukup rekomended based on google review dan juga menurut temen gue disini. Tapi sayangnya gue nggak berhasil menemukan si kedai kopi itu dengan bantun Gmaps. Next time gue kayaknya emang harus ngajak temen gue itu, nggak kabur sendiri kayak gini wkwkwk. Yaah kadang I need a me time lah. Akhirnya gue kabur ke salah satu kedai kopi yang ada di jantungnya Kota Padang. Menikmati secangkir kopi Sumatera Mandheling dan melupakan segala kepelikan proyek. Tapi kopi ini emang salah satu remedy paling baik sih buat melupakan segala kejenuhan, sejenak.

Ngomong-ngomong soal kopi, jadi diperkirakan awalnya kopi ini berasal dari daerah Abyssinia yang sekarang disebut Ethiopia. Nah salah satu legenda yang menarik mengenai asal mula kopi ini involves dancing goats and their goatherd.

Well, jadi ada seorang gembala yang bernama Kaldi, which is also a poet by nature, nah biasanya dia suka ngikutin pathway yang dibuat oleh kambing-kambingnya kalau mereka lagi menyusuri lereng-lereng gunung buat cari makan. Ketika lagi ngembalain kambing-kambingnya ini dia suka mainin sulingnya dan membuat lagu-lagu. Ketika udah menjelang senja, dia bakal mainin special notes gitu buat manggil kambing-kambingnya pulang.

Nah one afternoon, however, his goats didn’t come. Kaldi blew his pipe again, fiercely, but still no goats. Akhirnya ia mendaki ke daerah yang lebih tinggi buat mencari kambing-kambingnya itu. Finally, he heard something in the distance. Ia pun berlari ke arah suara itu dan akhirnya dia menemukan kambing-kambingnya lagi semacam menari-menari gitu di bawah kanopi kanopi hutan tropis yang lebat. At first he thought that they must be bewitched.

Tapi akhirnya dia ngeliat kalau salah seekor kambingnya ada yang lagi mengunyah semacam glossy green leaves and red berries gitu dari sebuat pohon. Dia akhirnya berasumsi kalau pohon itu yang bikin gila kambing-kambingnya dan dia udah panik kalau-kalau kambingnya bakal keracunan. Kambingnya juga menolak buat diajak pulang.

Akhirnya beberapa waktu kemudian kambingnya bisa diajak pulang and they didn’t die. In the following day, they ran directky back to that place and repeat the performance. Kali ini Kaldi ngerasa kalau cukup safe buat bergabung dengan kambing-kambingnya. First he chewed on a few leaves, the berries and finally the seeds. The leaves tasted bitter while berries was mildly sweet.

Mark Pendergrast – Uncommon Grounds


Well, according to the legend, soon Kaldi was frisking with his goats. Song and poetry spilled out of him. Dia juga merasa nggak akan lelah lagi. Then, Kaldi told his father about this magical trees, akhirnya ceritanya menyebar, dan akhirnya kopi jadi salah satu bagian kultur di Ethiopia.

Nah itu sih salah satu legend asal muasalnya kopi yang banyak menyebar. Kayaknya waktu pelarian gue udah berakhir dan gue harus balik ke site lagi. Happy weekend all!

Playing Cards: Between A Jack or A King, Which One is Better?

You’ve probably heard this question “Which one is better to be a jack of all trades or a master of one?”. Well you’ll find tons of this discussion on Quora. But you won’t find the exact answer.

Jack of all trades merupakan julukan yang ditujukan bagi para generalis dan master of one adalah julukan bagi para spesialis. Pertanyaan mengenai mana yang lebih baik antara spesialis dan generalis adalah sebuah pertanyaan yang super klasik. Sebenernya kalau kita sadari life is not full of binary decisions, opsi kita nggak cuma 1 atau 0, positif atau negatif. Well binary decisions are for computers not hoomans like us wkwk. Ketika kita bertanya mana yang lebih baik diantara keduanya, yah gue rasa sebenernya jawabannya we can be both. Also lately lot of people realize that “Jack of all trades, master of none” a common phrase that we usually heard is just a myth. Because being a jack of all trades doesn’t mean that you’re a master of none.

Ketika kita kuliah dulu, tentu kita mendalami bidang-bidang tertentu. Teknik sipil misalnya. Di dalamnya masih ada subjurusan-subjurusan lagi. Biasanya mahasiswa di tingkat akhir diarahkan mengambil spesialisasi tertentu untuk tugas akhirnya. Lalu ketika lulus “poof!” kita bisa ada dimana aja, bekerja atau berkarir dimana aja. Beberapa masih sesuai dengan bidangnya dan beberapa yang lain menyebrang dari bidangnya. Gue sendiri masih dalam di bidang yang gue tekuni selama kuliah, tapi apakah yang gue kerjakan saat ini masih sesuai dengan spesialisasi gue dulu? Nope.

Well, gue suka banget ngobrol sama orang-orang yang kerja bareng gue, apalagi mereka yang udah berkecimpung lama di bidangnya. Mereka juga cukup seneng dan excited sharing pengalamannya ke anak-anak muda. Salah satu wejangan yang gue dapet dari rekanan kerja yang udah cukup senior adalah kalau kerja di kontraktor sebaiknya lu nggak mempelajarinya secara terkotak-terkotak. Bisa diartikan lebih baik jadi seorang generalis alih-alih spesialis.

Tapi di suatu kesempatan yang lain gue menyadari juga bahwa seorang spesialis adalah suatu desirable commodity. Umumnya seorang expertise sangat dicari untuk menangani masalah-masalah tertentu yang spesifik. Yah everyone wants to hire the best and also those specialist can name their price.
Beberapa waktu yang lalu gue baca suatu artikel yang muncul di homepage linked.in dengan judul “Specialists vs Generalists: Who Owns the Future?” yang ditulis oleh Lev Kaye. Setelah menjelaskan definisi serta advantages dan disadvantages dari spesialis dan generalis. Kaye answered his own question that two types of people who owns the future are Generalizing-Specialists and Specializing-Generalists. Err semacam hybrid dari kedua tipe yang ada. Instead of questioning and comparing between generalist and specialist, which lead to a neverending discussion, why don’t we try to be both? Generalizing-Specialist, adalah mereka yang mulanya seorang specialis then he’s try to handling broader range of skill or duties and also eager to grow. While the second type, the Specializing-Generalist adalah mereka yang bermula sebagai seorang generalis lalu seiring berjalannya waktu dia memfokuskan diri untuk meningkatkan skill di suatu bidang yang lebih spesifik. Keduanya tentu merupakan aset yang menarik bagi organisasi mereka.

Kedua hybrid tersebut bermuara pada tujuan yang sama, be a jack of all trades and a master of one, perbedannya hanya di prosesnya saja. Tipe mana yang sesuai dengan kita tentu sesuai dengan bidang yang sedang kita tekuni dan basic skill yang udah kita punya sebelumnya. Whether we starting out as a broad or a deep, in the future we need to both broaden and deepen our skills. Though doing so is a bit harder.

Oh ya I got this nice quote last night

” Every morning in Africa, a gazelle wakes up, it knows it must outrun the fastest lion or it will be killed. Every morning in Africa, a lion wakes up. It knows it must run faster than the slowest gazelle, or it will starve. It doesn’t matter whether you’re a lion or a gazelle when the sun comes up, you’d better be running. “

Well, selamat pagi dari Kota Minangkabau. Have a nice day!

Bukittinggi: A One Day Travel

Sore tadi gue disambut oleh rintik-rintik hujan ketika tiba di Halim. Ada yang beda dengan perjalanan Padang-Jakarta sore tadi karena gue ditemani Nyokap dan Bokap gue.

Seperti yang udah pernah gue bilang, gue belum sempat mengeksplorasi Padang semenjak gue dapet penempatan di kota ini April tahun lalu. Karena sampai akhir tahun lalu, gue lebih sering menghabiskan waktu gue di Jakarta karena meeting dengan owner dan beberapa urusan kontrak lainnya dilakukan di Jakarta. Gue baru mulai menetap di Padang awal Januari kemarin dan saat ini proyek gue sedang sangat hectic, sehingga gue belum sempat mengeksplorasi daerah-daerah di Padang dan sekitarnya. Lalu minggu kemarin Nyokap dan Bokap gue menyempatkan diri buat nengok gue, anak bungsunya, di Padang. Kebetulan Sabtu kemarin sedang Imlek juga dan gue meminta izin dari proyek. Well, dan akhirnya gue mengeksplorasi daerah di sekitar Padang bersama Nyokap Bokap gue.

Ketika gue dateng di Padang untuk pertama kalinya di tahun lalu, gue cukup kesulitan karena nggak menemukan Indomaret, Alfamart, 7 Eleven atau minimarket apapun yang biasa kita temui. Yang akhirnya gue tau kalau emang Indomaret atau minimarket chain yang umumnya ditemui itu nggak boleh masuk disini. Awalnya agak repot juga, karena kalau mau cari kebutuhan kecil-kecilan di tengah malam gue harus pergi ke minimarket yang cukup jauh dari proyek dan kos-kosan gue. Well, sampai sekarang cuma itu aja minimarket yang gue tau buka 24 jam. Tapi perjalanan gue sama Nyokap Bokap gue kemarin benar-benar membuka mata gue. Betapa Padang sangat menghargai usaha-usaha milik masyarakat lokalnya. Nyaris semua supermarket atau minimarket yang ada di Padang adalah milik lokal.

Kemarin kami memutuskan buat pergi ke Bukittinggi. Perjalanan kemarin menyenangkan juga karena kita dipandu oleh seorang lokal yang luar biasa, Pak Hendri. Si bapak bercerita mulai dari kisah adu kerbau antara Kerajaan Pagaruyung dan Kerajaan Majapahit yang akhirnya melahirkan nama Minangkabau dan juga minginspirasi arsitektur pada atap rumah gadang. Kita juga ngelewatin salah satu kecamatan dengan nama yang unik ‘2 x 11 Enam Lingkung’ dan Bokap gue meyakini bahwa nama itu pasti ada filosofinya. Sepanjang perjalanan si Bapak bercerita tentang hal-hal unik yang ada di Padang ini dan beberapa rekomendasi tempat untuk dikunjungi.

Destinasi pertama kita kemarin adalah Lembah Anai, disana lu bisa menemukan air terjun tepat disamping jalan Padang-Bukit Tinggi. Air terjun ini dikelilingi dengan hutan-hutan yang masih asri dan airnya jernih tentunya. Lalu di sepanjang Lembah Anai kita dikelilingi oleh kawasan cagar alam yang luar biasa dan disana kita bisa menemui rangkaian rel kereta yang dibangun dari masa Belanda. Namun rel kereta ini udah nggak digunakan lagi sekarang. Padahal menurut gue kalau rel kereta ini diaktifkan kembali, kita bakal disuguhi pemandangan yang luar biasa dari dalam kereta. Karena rel kereta ini menembus kawasan cagar alam. Sayang karena terlalu takjub sama kekerenan kawasan ini gue nggak sempet ngambil banyak foto disini.

Setelah Lembah Anai destinasi selanjutnya adalah Ngarai Sianok, kalau Ngarai Sianok ini letaknya di Bukittinggi. Yep Bukittinggi, kota kelahiran salah satu tokoh favorit gue: Bung Hatta. Ngarai Sianok ini semacam lembah dengan tebing-tebing yang sangat curam, luar biasa indah nyaris seperti pahatan. Di dekat Ngarai Sianok ini ada sebuah Lubang Jepang dan gue memutuskan untuk nggak turun ke dalamnya karena ratusan anak tangga yang harus ditempuh untuk sampai di bawah. Sebenernya nggak masalah untuk menuruni ratusan anak tangga, tapi masalahnya lu harus mendaki ratusan anak tangga juga kalau lu mau keluar dari sana. Well, di kawasan ini kita juga bisa menemui monyet-monyet yang udah jinak.

Destinasi terakhir kemarin adalah Jam Gadang dan yah sayangnya alun-alun Jam Gadang kemarin sangat ramai. Di luar ekspektasi gue yang membayangkan suasana alun-alun Jam Gadang yang sangat lengang. Di belakang Jam Gadang lu bisa menemui Pasar Atas dan tepat di seberangnya merupakan Istana Bung Hatta, bekas kediaman Bung Hatta dahulu.

 

 

Well, kalau soal kuliner di sana sih tenang aja. Di Bukittinggi lu bisa menemui Restoran Simpang Raya yang pertama dan juga Restoran Sederhana. Lalu di perjalanan Bukittinggi-Padang lu bisa menemui Sate Mak Syukur dan juga penjaja-penjaja bika yang dimasak pake kayu bakar.

Yah Padang emang berbeda dari Jakarta, mungkin agak susah untuk nemuin minimarket 24 jam dan nggak ada satupun Indomaret, Alfamart dkk karena disini mereka khawatir akan mematikan usaha-usaha para pedagang lokal. Di Padang juga nggak ada transportasi online tapi lu nggak nemuin kemacetan parah kayak di Jakarta di sini. Di Padang dan sekitarnya juga nggak banyak mall-mall bertebaran tapi Padang dianugerahi oleh kondisi geografis yang luar biasa. Yah gue rasa setiap daerah tentu punya kelebihannya masing-masing. Dan gue belum mengeksplor daerah ini seluruhnya, masih banyak tempat-tempat keren menanti. Well, nuhun Bukittinggi.

White Lily: A Final Adieu

“Hai Dek, gimana game lu udah tamat belum?” kalimat itu yang sering dilontarkan kalau kita berpapasan di koridor Sipil. Beliau adalah salah satu dosen favorit gue, dosen struktur, spesialisasinya di struktur kayu.

Gue bertemu pertama kali dengan beliau ketika TPB. Saat itu gue belum masuk Sipil, masih di FTSL, sekitar tahun 2012 awal kalau tidak salah. Gue ingat betul beliau hari itu menggantikan salah satu dosen Sipil yang nggak bisa hadir untuk mengajar. Begitu beliau masuk, gue langsung tertarik dengan cara mengajarnya yang menyenangkan. Sangat friendly sekali dengan mahasiswanya dengan gaya berbicaranya yang asik. Tapi tetap saja, gue selalu mudah terdistrak dan waktu itu gue agak berisik di kelas sepertinya, jadi beliau melemparkan pertanyaan ke gue secara mendadak. Karena gue nggak mempersiapkan apapun sebelumnya, gue menjawab sekenanya sambil sedikit bercanda. Itu pertama kalinya gue berinteraksi dengan beliau.

Lalu di semester berikutnya ternyata gue masuk Sipil dan kebetulan beliau mengajar salah satu mata kuliah yang gue ambil. Ternyata beliau masih ingat betul dengan gue yang sedikit nggak serius ini. Karena gaya mengajarnya yang santai dan asik namun sangat mengena, singkat aja beliau langsung menjadi dosen favorit gue, sangat favorit.

Beliau menjadi pengajar di beberapa mata kuliah yang gue ambil dan di akhir masa perkuliahan gue dulu, gue mengambil mata kuliah spesialisasi beliau: struktur kayu. Beliau juga lah yang dulu sempat membuat gue gamang ingin mengambil sub jurusan struktur atau geotek. Walau pada akhirnya gue memilih geotek.

Lalu sore tadi, sehabis meeting gue mendapat kabar mengejutkan di grup angkatan. Sejenak gue pengen kabur dari segala hiruk pikuk proyek, memori gue kembali berputar pada tahun-tahun gue kuliah kemarin, lorong-lorong Sipil yang hangat diterpa matahari di pagi dan sore hari. Berpapasan dengan beliau di koridor sembari bertegur sapa. Duduk di bangku kayu panjang memperhatikan beliau mengajar dengan gaya khasnya. Mendengar beliau bercerita dan bercanda tentang kondisi bangunan Prodi Sipil yang dipertahankan ke-heritage-annya.

Satu hal yang agak gue sesalkan adalah gue belum sempat menemui beliau lagi sejak gue pergi meninggalkan Bandung.

 

Selamat jalan Pak Dr. Ir. Saptahari Sugiri. Terimakasih atas segala ilmu-ilmu yang telah Bapak ajarkan pada kami semua. Semoga segala ilmu yang telah bapak ajarkan dapat menjadi amalan jariyah bagi Bapak. Aamiin.

ps. Just don’t ever forget that you’ll always be embossed in our memory Pak.

An Initial State

Udah nyaris sebulan nggak posting apapun disini. Sekarang gue udah stay di Padang. Finally, wkwkwk setelah proyek gue udah topping off, err persis kayak apa yang dibilang temen proyek gue 10 bulan yang lalu. Yah sebenernya baru seminggu sih gue disini. Baru sadar juga, ini postingan pertama gue di tahun 2017. Well, 2016 kemarin berlalu begitu saja. Tahun baru kemarin gue sekeluarga menghabiskan waktu di rumah, family time, tak ada agenda khusus di malam tahun baru. Rasanya pun nggak ada bedanya dengan malam-malam lainnya, kecuali letupan dan warna-warni kembang api yang terlihat jelas dari balkon rumah.

Satu hal kebiasaan gue yang kedengaran sangat klasik di malam tahun baru adalah bikin resolusi. Walau sangat klasik, buat gue tahun baru adalah suatu checkpoint. Resolusi gue nggak begitu banyak, nyaris masih sama dengan tahun-tahun kemarin.  Semoga tahun ini bisa stick to the plan, yah tahun 2016 kemarin gue anggap fase rehat lah setelah badai TA menghantam di tahun sebelumya wkwkwk.

Begitu tiba di Padang dan menyadari gue akan stay beberapa bulan disini, yang gue cari adalah kedai kopi yang bisa dijadikan tempat nongkrong berjam-jam kalau gue jenuh. Tapi sayangnya sampai seminggu disini gue belum nemu karena gue belum sempat ngeksplor kota ini, yah kecuali Excelso di The Axana err. Sebenernya gue udah dapet beberapa rekomendasi tempat ngopi dari Tripadvisor, tapi ya sekarang gue juga udah nggak sefleksibel di Jakarta kemarin. Habis meeting pagi, makan siang, terus kerja di kedai kopi sampai sore udah nggak memungkinkan banget untuk dilakukan disini. Karena proyek lagi hectic, gue baru bisa keluar dari proyek nyaris tengah malam. Sampai di kosan terkapar dan bahkan buku yang lagi gue coba selesaikan udah nggak sempet banget dibuka. Well, padahal salah satu resolusi gue tahun ini, memperbanyak asupan bacaan. Tahun lalu gue sempet beli beberapa buku yang sampai sekarang baru gue baca sebagian karena berbagai hal.

Karena nggak memungkinkan banget kabur dari proyek di weekdays, Minggu malam kemarin akhirnya gue mencoba kabur dari proyek dan mengeksplor sebagian kecil kota Padang. Thanks buat temen gue yang udah menetap duluan disini yang udah jadi tour guide yang baik. Yang menarik dari Padang adalah lu bisa liat deretan bukit sekaligus lautan. Di proyek gue sendiri, kalau lu naik ke Lantai tiganya, deretan bukit dan lautannya sangat jelas terlihat. Menghabiskan senja di lantai tiga juga kayaknya bakal meninggalkan rasa melankoli tersendiri. Dan ternyata naik motor malem-malem juga cukup asik disini apalagi kalau lewat Taplau alias Tapi Lauik (re : Tepi Laut) sambil diterpa angin laut gitu.

 

 

Nah salah satu tempat makan yang direkomendasikan temen gue di Padang adalah Karambia. Karambia sendiri artinya kelapa kalau dalam bahasa Minang. Tempatnya cukup besar dan yah lumayan juga lah interiornya. Salah satu menu yang unik disini adalah beberapa menu makanan yang disajikan pakai batok kelapa, kayak sup ikan, bakso dan beberapa makanan lainnya.

Sejauh ini gue belum sempat mengeksplor Padang karena kondisi proyek gue yang super duper hectic. Tapi gue cukup seneng sih lihat bangunan proyek gue yang udah keliatan bentuknya. Yah tinggal 5 bulan lagi, semoga semuanya berjalan lancar. Dan gue harap dua bulan lagi udah nggak sepadat ini jadwalnya. Tapi seenggaknya selama disini gue udah nemu beberapa tempat yang rekomended kalau mau menikmati kuliner. Kayak Lamun Ombak, Pauh Piaman, RM Rajawali dan beberapa tempat dengan nama yang ear catchy kayak Ganti Nan Lamo dan Iko Gantinyo.

Anyway, berada di rantau gini emang sering bikin kangen keluarga dan temen-temen lama. Beberapa waktu lalu geng KP gue juga habis meet-up-tanpa-gue karena satu orang temen gue baru aja pindah dari Bandung ke Jakarta. Dan yah gue harus mengikhlaskan mereka bersenang-senang. Yang gue kangenin kalau ngumpul dengan mereka adalah munculnya pikiran-pikiran radikal yang terkadang terjadi secara random.

 

 

 

After Reboot

When you said that you’re the ****est person ever, I just wanna say “Yes, you are”

Ah I just write that line randomly btw, don’t take it too serious.

Gue baru aja nyampe di Pejaten tadi pagi. Semalam gue balik dari Padang, tiba di Jakarta sekitar pukul 1 pagi. Ada beberapa pekerjaan yang harus dimonitoring di Jakarta. Lalu setelah ini gue akan kembali ke Padang, mungkin awal tahun depan.

Dan ini yang gue dapet hari ini, hasil “Jalan-jalan” ke workshop baja. Memastikan semua komponen terkirim dengan tepat ke site.

 

Proyek gue sedang hectic betul, beberapa hari kemarin ketika gue disana selalu pulang lewat pukul 12 malam. Pekerjaan struktur sudah nyaris selesai, hanya pekerjaan baja saja yang masih belum begitu signifikan. Padang masih dilanda musim hujan belakangan ini, tapi selain itu Padang dilanda musim durian juga. Ini yang paling gue tunggu-tunggu di Padang, yep datangnya musim durian. Sumatera terkenal akan duriannya yang mantap, beberapa waktu yang lalu gue sempat mencari durian di Bogor, sayangnya tak begitu bagus dan harganya masih cukup tinggi. Di Padang lu bisa menikmati durian sampai puas tanpa perlu merogoh kocek yang tinggi. Kalau lu mau menikmati durian di Padang, Desember-Januari adalah bulan yang tepat.

Gue belum bisa pulang ke Bogor malam ini, karena besok pagi masih harus memonitoring workshop di Cengkareng. Sayang sekali, padahal ingin cepat-cepat pulang, ketemu Nyokap yang dari kemarin udah nanyain terus. Semoga Nyokap gue nggak merasa kesepian di hari ibu kemarin, ketika dua orang anaknya terdampar di dua pulau yang berbeda. Happy mother’s day Mom! Please, don’t grow old.

Well, siang tadi selepas meeting di Lebak Bulus seorang sahabat gue, ngeWA gue soal Jembatan Cisomang di Cipularang. Setelah itu gue buka grup angkatan gue dan di grup itu udah ramai dibicarakan soal defleksi jembatan yang udah ngelebihin batas izinnya. Di grup OJT gue juga pembahasan om telolet om (errrr) kemarin sudah berubah jadi pembahasan Jembatan Cisomang. Tapi gue liat PU dan Jasamarga sudah langsung mengambil tindakan. Ah Jembatan Cisomang dan Cipularang padahal menjadi salah satu hal yang sangat gue rindukan. ketika lu melakukan perjalanan Jakarta-Bandung di pagi hari, lu bakal disuguhi pemandangan yang luar biasa disana. Super ngangenin. Well, kayaknya memang salah satu masalahnya adalah keadaan tanah disana yang sebagian didominasi oleh clay shale. Pak Masyhur pernah membahas beberapa kali tentang clay shale ini dalam kuliahnya dulu. Dan beberapa kali kejadian longsor di Tol Cipularang juga diakibatkan oleh tanah ini. Yah semoga bisa segera ditangani dengan baik.

Snap Back To Reality

Setelah bisa kabur sejenak dari proyek selama seminggu kemarin, akhirnya gue harus kembali ke realita.

Yah gue bakal merindukan menghabiskan senja hingga malam di Seminyak melupakan segala penat yang ada di Ibukota beberapa bulan ini

Btw, salah satu tempat yang cukup recommended di sana buat menikmati senja adalah La Plancha. Lu bisa menikmati senja sekaligus menikmati grilled seafood yang mereka sediakan apalagi ditambah saus chimicurrinya. Menjelang senja tempat ini super ramai banget. Kalau udah bosen diterpa angin laut, kita bisa pindah ke jantungnya seminyak di sekitar jalan Kayu Aya dan lu bisa nemuin apa aja disana. Dan kalau udah lelah jalan-jalan di sana, cukup mudah buat nemuin kedai-kedai yang menjajakan gelato.

Oke back to reality, jadi dari Senin kemarin gue diminta buat ke Site, di Padang. Cukup lelah juga karena pas balik ke Jakarta Jumat lalu, pesawat gue super delay. Sekitar jam 2 pagi gue baru tiba di Pejaten dan yah pagi-pagi sekitar pukul 8 gue berangkat lagi ke Bogor. Seorang sahabat gue nikah dan disana gue bertemu beberapa kawan lama gue. Minggu siang gue diminta Manager gue buat berangkat ke Padang hari Seninnya. Dan barusan Big Boss gue bilang supaya gue stay di Padang sampai selesai proyek. Errr tapi semoga masih bisa sering bolak balik Jakarta sih. Toh proyek gue juga tinggal sekitar 5 bulanan lagi.

Well, tapi selama keberjalan proyek ini gue juga belum sempat mengeksplorasi Padang sih, karena gue biasanya cuma stay paling lama 3 hari. Gue cuma tau beberapa tempat makan di Chinatownnya kayak Iko Gantinyo atau Ganti Nan Lamo. Namanya cukup catchy pas gue pertama kali denger dan lu bisa nemuin es durian disana. Yah semoga gue bisa survive dan menikmati Padang selama 5 bulan kedepan. Ada beberapa tempat-tempat yang pengen gue datengin juga kayak Pariaman ataupun Bukittinggi. Lalu beberapa bulan yang lalu XXI juga akhirnya udah masuk ke Padang, jadi nggak masalah lah wkwkwk. Yah walaupun beribu-ribu kilometer dari rumah gini sering bikin kangen Nyokap Bokap.

Ternyata 15 bulan itu rasanya cepet juga, nggak terasa proyek gue tinggal 5 bulan lagi. Nggak tau deh habis ini ditempatin dimana lagi, tapi 10 bulan ini memorable banget. Dapet project di luar Jakarta ternyata lebih complicated. Back and forth Padang Jakarta dan lain sebagainya.  Ini proyek pertama gue setelah OJT dan Big Boss gue sering banget ngasih wejangan. Well beliau super kebapakan, semoga sehat-sehat selalu Pak!