Unknown's avatar

About Nabila Satwikawati

A full time civil engineer, a newbie writer, a book juggler and a lifelong learner.

Me, Almost Saturated.

Bye Weekend, and here comes Monday. Yah tapi weekend kemarin nggak ada bedanya sih kayak weekdays karena tumpukan pekerjaan gue wkwkwk.

corporate-culture-boredom

Thanks again to gapingvoid for their amazing art, I really love their art!!

Well it’s been almost a year since I joined my company. Selama nyaris setahun ini ada kalanya gue merasa bosan atau overwhelmed dengan kerjaan gue. Kalau kejenuhan udah memuncak biasanya yang gue lakukan adalah kabur dan nyari kedai kopi terdekat. But lately, gue ngerasa udah super duper jenuh dan kalau gue andaikan gue ini larutan, bentar lagi gue udah saturated alias mengendap karena saking jenuhnya. Kalau berada di kondisi kayak gini produktifitas gue jadi kacau, yah kerja jadi nggak efektif. Gue menyadari kalau gue demotivated yang akhirnya berujung ke kejenuhan. Pas gue ngobrol sama temen gue, katanya gue butuh liburan, iya emang butuh banget sih bro, cuma sayangnya gue habis cuti jadi belum bisa cuti lagi.

Weekend kemarin, kayak biasanya gue balik ke Bogor, nganterin Nyokap sama Eyang gue yang mau ke Solo. Terus pas di perjalanan balik Jakarta-Bogor gue ngobrol sama Bokap gue. Yah terus gue bilang kalau lagi demotivated, karena gue sendiri bingung mau gue apa sebenernya. What the? gue udah sampai di titik ini dan gue bingung mau gue apa? Nice work Bil! Abis mendengar statement anak bungsunya ini, Bokap gue segera mengarahkan gue kembali ke jalan yang benar perlahan-lahan. Intinya semua yang kita lakukan harus punya tujuan yang jelas, iya gue tau sih itu, kalau nggak punya tujuan dan dibiarkan mengalir aja yah lu nggak bakalan semangat ngapa-ngapain. Setidaknya bokap gue menyadarkan gue tentang hal itu lagi dengan menjabarkan berbagai manfaat yang bisa gue dapat dan berikan dengan bekerja. Lu bisa meningkatkan skill professional lu, dapet banyak ilmu baru, networking yang luas, bisa memenuhi kebutuhan hidup lu sendiri dan lu juga bisa bantu orang-orang di sekeliling lu.

millennials-in-order-to-find-yourself

Satu lagi hal yang penting adalah, di dunia ini semuanya udah digariskan kan? Maksud gue, kita nggak secara random ditempatkan di suatu tempat. Allah sudah memilihkan kita tempat yang terbaik. Jadi gue rasa setiap kali gue jenuh, harusnya gue inget akan hal itu dan bersyukur karena sudah dipilihkan jalan yang terbaik oleh Allah. Seharusnya gue juga nggak menyia-nyiakan hal ini dan bisa memanfaatkannya sebaik mungkin. Sebenernya emang banyak hal yang harusnya gue syukurin, dengan mensyukuri hal-hal itu seharusnya bisa membuat gue nggak demotivated lagi. Kepercayaan dan tanggung jawab yang udah diberikan oleh boss-boss kita juga seharusnya nggak disia-siakan. Apalagi mereka yang udah mau mengcoach kita.

Well, lagian saat ini gue berada di kondisi yang nyaman, walaupun gue terus dikejar deadline saat ini gue bisa bekerja dengan fleksibel. Karena berbagai hal project team gue terbagi dan gue diassign di Jakarta. Jadi kalau nggak ada meeting gue bisa kerja pakai baju tidur atau kalau bosen kabur ke kedai kopi cukup pakai kemeja, jeans, dan sneakers. Rasanya jadi nyaris kayak freelance dan ini adalah kondisi yang gue inginkan. So, harusnya gue nggak menyia-nyiakan waktu gue sekarang ini. Jadi ya gue rasa kalau gue ngerasa demotivated lagi, gue harus inget-inget lagi apa tujuan gue dan semua nikmat yang udah diberikan Allah nggak boleh disia-siakan.

Sekian dari gue dan selamat hari Senin semuanya,

Good Old Days

​” Yesterday, I had a dream… A dream I have had since long ago. In that dream, we had yet to turn 13. We were in a vast countryside, completely covered with snow. The lights of the houses extended far into the distance, a dazzling sight. We walked on the thick carpet of fresh snow, but didn’t leave any footprints.”

Tono Tamaki/Akari Shinohara


” Kita tak pernah menanamkan apa-apa. Kita tak kan pernah kehilangan apa-apa. “

Soe Hok Gie


Entah kapan terakhir kali gue baca buku… atau nonton anime. Kangen juga rasanya bisa baca buku sambil santai. Terakhir kali gue baca buku di perjalanan Jakarta-Padang, beberapa bulan lalu, larut malam, lalu isinya meluap entah kemana.

Pseudo-Work Trap

Pernah denger istilah pseudo-work?

Well, pseudo-work secara gampangnya dapat diartiin sebagai kondisi dimana seseorang kerja dengan waktu yang cukup lama tapi hasilnya nggak signifikan. It means ineffective work.

Pas gue masih sekolah dulu, bokap gue selalu bilang kalau belajar yang penting efektif. Kalau emang udah capek yaudah, so you don’t need to push yourself too hard. Well menurut gue emang sih, ketika kondisi kita udah lelah jangan dipaksa untuk terus kerja karena it will lead to pseudo-work dan yah kita nggak bakal dapet hasil yang maksimal. So, don’t be trapped by this pseudo-work thing. Putting in more hours doesn’t mean a better result.

Terkadang kita tanpa sadar melakukan pseudo-work karena ingin merasa produktif. Karena banyak orang yang berpikir kalau hasil itu dipengaruhi oleh banyaknya waktu yang kita spend. Padahal kalau berlebihan hasilnya malah nggak signifikan. Lalu ada Cal Newport yang menyimpulkan kalau sebenernya hasil yang kita dapet itu nggak cuma dipengaruhi oleh waktu yang kita gunakan aja tapi juga dari tingkat fokus kita. Nah kira-kira gini

Work accomplished = time spent x intensity of focus

Jadi, alih-alih spending more hours by pseudo-working lebih baik kita melakukan short burst. Dengan short burst ini biasanya tingkat fokus kita tinggi, sehingga hasilnya bisa maksimal. Don’t strain yourself! Ya, we need to take a break to make sure our focus get recharge. 

Well, yeah menurut gue emang dalam runia kerja sebaiknya kita nggak overtime terus setiap hari. Karena yah fokus manusia ada limitnya dan overtime berlebihan akan berujung ke pseudo-working. Tapi kalau kita emang berada di lingkungan yang nyaris overtime terus tiap hari, kayak kerja di proyek misalnya, daripada kita mencoba ngerubah sistem yang ada (karena belum kapasitas kita juga) lebih baik kita yang menyesuaikan diri kita. Gimana pun juga kita harus bisa mengsinkronkan diri. Ya gue sih kalau emang udah lelah, istirahat dulu dan ngelakuin aktivitas lainnya. Well we’re human, not a robot. Just don’t strain yourself too hard and don’t be trapped by pseudo-work thing.

Another Chapter

After Break

 

Well, jadi sekarang gue masih stay di Jakarta walaupun project gue di Padang. Yah kedepannya gue nampaknya cuma ke Padang kalau pertengahan bulan aja. Kata temen gue yang di project, project ini kayak project maya buat gue karena informasi yang gue dapet cuma dari foto, video, cctv ataupun telpon temen-temen di site. Alih-alih ke project sendiri, gue malah lebih sering ke kantor owner wkwkwk. Ya, gue nggak tau harus sedih atau seneng sih. Seneng sih soalnya deket rumah haha.

Sekarang gue cukup menikmati pekerjaan gue ini. Walaupun dihantui deadline karena schedule yang ketat, kerja di project emang agak lebih fleksibel dibanding di office. Ya walaupun tetep aja kalau ada meeting, pergi dan pulangnya pasti nggak lepas dari belenggu kemacetan ibu kota. Tapi walaupun begitu stay di Jakarta ada untungnya juga karena gue bisa pulang ke rumah ketika weekend tiba. Yah jadi anak bungsu dengan kakak yang tinggal di luar kota juga sering membuat gue kepikiran nyokap bokap.

Ngomong-ngomong soal dunia kerja banyak hal menarik yang bisa ditemui di sini. Selain ilmu-ilmu teknis, kita bisa tau macem-macem karakter orang. Gue bertemu cukup banyak karakter orang. Banyak diantara mereka yang ngasi gue wejangan-wejangan gimana caranya bisa survive dan berkembang di ranah pekerjaan ini. Kebanyakan dari mereka suka cerita tentang pengalamannya selama ini. Ada juga yang semangat banget ngasih wejangan ketika tau kalau gue fresh grad. Gue sih seneng kalau dengerin cerita-cerita mereka karena dari sana kita bakal dapet gambaran hal-hal apa aja yang mungkin akan kita temui kedepannya.

Well, selain dengerin cerita-cerita para suhu. Menurut gue ketika kita masuk ke dalam suatu lingkungan baru we should find our mentor. Yep, kita cari orang yang bisa dan mau ngajarin kita. Banyak-banyak bertanya aja, yah tapi tetep ada batasannya sih. Kalau kita bisa cari tau sendiri dulu ya cari tau dulu, kalau nggak nemu ya tanya. Mereka suka kok dengan orang-orang yang mau belajar. I’m still a newbie, but I’ll try my best Sir kalimat itu sering banget gue lontarkan. Gue sering banget emphasize kata newbie dan anak bawang wkwkwk.

Beberapa waktu yang lalu salah seorang senior gue pas kuliah nanya

“Persiapan S2 gimana Bil?”

“Errrrr… nihil Kak”

Bener juga, gue nyaris lupa sama rencana gue sendiri. Yah sebenernya nggak lupa sih, cuma gue lupa memberikan effort untuk rencana gue itu sampai detik ini. Project gue sekarang ini udah cukup menguras fokus gue dan gue menyadari untuk membagi fokus gue emang cukup sulit untuk saat ini. Lagipula gue masih baru disini, jadi gue rasa butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Jadi gue akan fokus pada project ini dulu sampai project kelar. Which is until May 2017.

Semakin kemari gue juga semakin menyadari bahwa tiap orang punya pilihan jalan masing-masing. Yep, sesuai passion mereka, atau tujuan mereka atau apapun itu. Nggak ada yang benar dan salah. Yang penting kita harus mengambil pilihan yang kita yakini dan nggak akan kita sesali seumur hidup kita nanti. Yah, barusan aja salah satu temen gue ada yang dilema banget ketika dia mendapat 2 kesempatan yang dateng bersamaan  dan dua-duanya emang dia inginkan. Tapi hidup emang penuh dengan pilihan. Akhirnya doi memilih menjadi pengajar sesuai dengan passionnya, berkontribusi buat bangsa. Mengesampingkan salah satu rencana pribadinya. Luar biasa memang kawan satu itu.

Yah sebagian teman-teman gue yang lain saat ini sedang melanjutkan masternya. Tersebar di mana-mana. Bahkan beberapa ada yang udah dapetin master tepat setahun setelah mereka wisuda S1. Beberapa yang lain memutuskan buat bekerja dulu, termasuk gue. Ya, masing-masing dari kita pada akhirnya akan memilih jalan yang kita yakini kan.

Kalau diinget-inget, ketika awal-awal gue kerja dulu gue sempet demotivasi. Saat itu gue lagi kerja di office, di kantor pusat tepatnya. Kemonotonan dan rutinitas sebagai seorang komuter Bogor-Jakarta benar-benar melelahkan. Gue berkali-kali mempertanyakan kenapa gue harus menjalani semua rutinitas itu. Masa-masa kuliah tiba-tiba aja menjadi terasa sangat indah dan ngangenin banget. Saat itu rasanya gue belum click banget dengan apa yang gue kerjakan. Untung itu nggak berlangsung lama dan sekarang gue udah menikmati apa yang gue kerjakan.

Di tim gue yang sekarang gue termasuk yang paling muda. Terkadang gue bahkan dipanggil si bungsu sama temen-temen gue. Tapi gue sih oke-oke aja, karena yah seenggaknya gue jadi nggak canggung kalau mau minta diajarin sama mereka. Kejaran gue dalam project kali ini nggak banyak, berusaha menyelesaikan tugas gue dengan baik dan belajar hal-hal baru yang gue temui. Belakangan gue juga mulai menggambar lagi, untuk menghilangkan kejenuhan gue.

Gue juga sadar satu hal, bahwa kita tidak dapat menyelesaikan semua rencana kita sekaligus. Satu-satu, selesaikan satu-satu. Yang jelas just live in the moment. Maksud gue kita nggak usah mengkhawatirkan apa yang bakal terjadi di depan atau terus terlarut dengan nostalgia masa lalu.

 

Be inspired. Inspire. Repeat.

image
I found this in my email inbox, about last year. Menarik dan gue setuju banget sama statement ini. Inspirasi adalah hal yang menular. Ketika seseorang dapet inspirasi, dia bakal menularkan inspirasi itu ke lingkarannya. Inspiration sendiri diartikan sebagai something that makes someone want to do something or that gives someone an idea about what to do or create. Menurut gue dalam hidup itu we need to be inspired. Kita butuh inspirasi dalam menghadapi rutinitas kita. Inspirasi bisa mempengaruhi cara kita menghadapi tantangan, menghadapi pilihan atau dalam memandang suatu masalah.

Oh iya gue dapet unique art di atas dari @gapingvoid by Hugh McLeod. Gue sendiri tau Gapingvoid dari bukunya Hugh “Ignore Everybody” di tahun 2014. Bukunya menarik banget, banyak kartun menarik dengan sisipan pesan yang inspirasional. Well, di bawah ini adalah kartun Hugh pertama yang gue lihat di buku itu. Gue merenungkan pesannya dan gue langsung suka banget sama artnya.

“The price of being a sheep is boredom. The price of being a wolf is loneliness. Choose one or the other with great care.”

image
Inspiring dan unik! Itu adalah kata yang paling pas buat ngediskripsiin artnya Hugh McLeod ini. Setelah rampung baca bukunya yang gue jamin lu nggak akan bosen bacanya, gue tau kalau Hugh punya semacam consultancy agency yang bergerak di bidang jasa kreatif: Gapingvoid. Gue langsung web surfing dan nemu webnya Gapingvoid. Di Gapingvoid ini ada layanan daily mail yang kalau lu subscribe lu bakal dapet kartun-kartun kece plus inspirational messages di dalemnya. Setiap pagi dan for free.

Gapingvoid sendiri berdiri di tahun 2008 dan saat ini banyak company-company besar yang udah jadi kliennya kayak, Zappos, VW, Goldman Sachs, Microsoft, Intel, ebay, Roche dan masih banyak lagi.

Well, balik lagi ke soal “be inspired”. Subscribe daily mailnya @gapingvoid adalah salah satu cara gue untuk tetep dapet inspirasi. Yah, inspirasi bisa didapet dimana aja sih. Yang jelas kita selalu butuh yang namanya inspirasi. Dan inspirasi itu kayak silkus, repetitif. Be inspired, inspire, be inspired, inspire- begitu seterusnya. So, kalau lu nggak mau hidup dalam kemonotonan dan rutinitas yang mematikan, you need to be inspired.

gapingvoid.jpg

Gue mulai merasakan rutinitas setelah gue lulus kuliah. Ketika kuliah dulu, kita cenderung punya jam yang agak lebih fleksibel. Tapi setelah lulus dan bekerja, gue merasakan bahwa waktu nggak sefleksibel dulu lagi. Weekly meeting dan meeting-meeting lainnya menanti setiap hari. Di sela-sela waktu kosong gue selalu mencoba untuk explore hal-hal yang menurut gue menarik. Tiap pagi gue juga selalu sempatin baca daily mail dari gapingvoid. Ketemu temen-temen dan sekedar ngobrol sama mereka juga bisa jadi inspirasi. Inspirasi emang sebenernya ada dimana-dimana, semuanya tergantung cara kita memandang dan mengartikannya. So, stay inspired!

4 Years

..and It only took 4 years to make me falling love with this city..

Ya, itu adalah Bandung. Belum lama gue mengenalnya, kurang dari seperlima usia gue sekarang, tapi segala hal akan kota ini punya tempat yang lain di memori gue. Setiap gue ke Bandung, rasanya waktu yang gue punya itu nggak pernah cukup, entah mengapa. Mungkin terlalu banyak hal yang ingin dilakukan, atau terlalu banyak tempat yang ingin dikunjungi atau terlalu banyak yang ingin ditemui.

Well, gue menanyakan ke temen-temen gue yang pernah tinggal di Bandung mengenai impresi mereka akan Bandung. Kurang lebih semuanya setuju kalau Bandung emang super ngangenin. Kota ini benar-benar membekas di setiap hati orang-orang yang pernah tinggal di dalamnya.

Emang bener kata Pidi Baiq “Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi”

Sekarang, setiap gue jenuh akan segala rutinitas yang gue lakukan, rasanya gue punya dua tempat kembali. Yang pertama adalah Bogor, lalu kedua adalah Bandung. Ya, rasanya gue selalu ingin kembali.

Tapi emang nggak bisa dipungkiri bahwa nggak cuma geografis bandung aja yang gue rindukan, tapi juga orang-orang di dalamnya. Mereka-mereka yang mengisi hidup gue selama 4 tahun di sana, benar-benar luar biasa. Ketemu mereka rasanya benar-benar bisa ngerefresh dan ngelepas penat yang ada. Sekedar ngomongin memori-memori yang lalu, keisengan-keisengan kecil yang gue lakukan, rutinitas masing-masing kita sekarang atau ngomongin rencana-rencana kita kedepan.

Thank God for all these great memories. Buat mereka yang sudah mengisi hari-hari gue di Bandung, gue bener-bener berterimakasih. Tanpa mereka mungkin Bandung nggak akan jadi sengangenin ini. Untuk mereka korban-korban keisengan kecil gue, gue meminta maaf. Semuanya murni gue lakukan untuk mencairkan suasana. Lalu untuk Bandung, gue berterimakasih, karena sudah menjadi tempat gue dan mereka-mereka ini bertemu.

Nampaknya kota ini benar-benar memberikan impresi yang berarti buat gue. Gue selalu berharap bisa terus mengunjungi kota ini kedepannya.

Cawang, Juni 12 2016

The People Behind the Scene

Kita hidup dengan infrastruktur-infrastruktur mengagumkan di sekeliling kita, namun beberapa nggak menyadari peran civil engineer di dalamnnya. They are the people behind the scenes of today’s society infrastructure. Lalu karena berperan sebagai people behind the scene, apakah lantas civil engineer hanya perlu mengasah skill teknikal saja?

“Tell me and I forget, teach me and I may remember, involve me and I learn.”

-Benjamin Franklin-

Setelah melalui masa OJT lalu dan melewati assessment minggu kemarin dengan sedikit keberuntungan, gue yang masih newbie ini memutuskan untuk melanjutkan hidup gue di dunia konstruksi. Itu artinya selama beberapa tahun kedepan gue akan berkutat di bidang ini, sebagai seorang civil engineer. Dan kayak post gue sebelumnya, gue berusaha untuk love what I do and be good at it”. Well yeah, harusnya emang begitu.

Ngomong-ngomong soal civil engineer. Menurut data dari U.S. Bureau of Labor Statistic, kebutuhan tenaga kerja civil engineer diproyeksikan bakal naik sekitar 20% dari tahun 2012 sampe 2022, lebih pesat dibandingkan rata-rata bidang pekerjaan lainnya. Peningkatan akan kebutuhan civil engineer ini selain diperlukan untuk pembangunan-pembangunan infrastruktur baru dan juga diperlukan untuk melakukan perbaikan dan maintenance terhadap infrastruktur yang sudah semakin berumur. Di Indonesia sendiri menurut PU setidaknya kita membutuhkan 175,000 sarjana teknik setiap tahunnya sedangkan Indonesia hanya meluluskan sekitar 42,000 sarjana setiap tahunnya. Yang artinya kita masih memerlukan banyak sarjana teknik. Tentunya kita sebagai sarjana teknik dapat melihat hal ini sebagai peluang yang baik. Adanya AEC (Asean Economic Community) di tahun 2016 juga menjadi tantangan yang menarik bagi kita.

Dengan adanya peluang yang cukup baik dan juga tantangan soal AEC ini, tentu para insinyur-insinyur ini harus memiliki kompetensi yang kompetitif agar tidak kalah bersaing. Well, lalu kompetensi apa aja sih yang sebenernya diharapkan dari sarjana teknik sipil kayak kita gini?

Seorang civil engineer diharapkan kompeten baik secara teknikal maupun secara softskill. Menurut Anthony Fasano, penulis “Engineer Your Own Success”, dalam diskusi singkatnya dengan Roxann Henze ada beberapa core skill yang sebenernya dibutuhin seorang civil engineer dalam berkarir, diantaranya

1. Communication

2. Networking

3. Leadership

4. Presenting

Dengan memiliki skill-skill ini diharapkan seorang civil engineer nggak hanya mumpuni dalam menghitung dan mendesain di balik layar saja. Namun juga harus dapat menyampaikan maksudnya dengan baik kepada client. Empat skill yang disebutkan oleh Fasano tadi menurut gue saling berhubungan. Lalu communication skill diperlukan banget buat 3 skill lainnya. Yah gue sendiri juga masih newbie sih, jadi nggak bisa bicara banyak soal communication skill ini, kalau gue ya begini lah, mungkin gue termasuk orang yang kelewat santai kalau ngehadapin orang. Oh iya, soal buku Fasano yang berjudul “Engineer Your Own Success” itu juga kayaknya cukup recommended buat dibaca.

Well, minggu lalu gue ke Bandung dan ketemu dosen pembimbing gue, Pak Endra Susila bareng temen-temen seperjuangan TA. Diakhir pertemuan beliau ngasi kita wejangan yang intinya performance kita di 3 tahun awal bekerja lah yang akan menentukan bagaimana kita kedepannya. Yah entah kenapa 3 tahun ini pas banget sama kontrak gue di tempat gue sekarang. Jadi ya gue rencananya akan belajar dulu di tempat gue sekarang sebelum ngelanjutin sekolah lagi, dan akan terus mengingat wejangan dosbing gue itu.

Gue dapet SPT minggu lalu buat ke berangkat ke Padang. Setelah ada sedikit drama karena gue harus balik cepet-cepet dari Bandung ke Bogor dan mindahin barang gue dari Sudirman ke Bogor, ternyata gue bakalan masih stay dulu di Condet beberapa minggu ini. Indak apo-apo lah, seenggaknya gue bisa pamitan dulu sama keluarga dan temen-temen gue dulu dengan santai.

Ini bakal jadi rantauan terjauh gue sampai saat ini, karena kemarin gue cuma ngerantau ke kota sebelah pas kuliah. Yang bisa balik sewaktu-waktu kalau lagi bosen atau kangen sama nyokap. Seenggaknya sebulan ini gue masih di Condet dulu buat ngurusin dokumen-dokumen legalnya, jadi masih bisa lah buat balik ke rumah.

Yah pada akhirnya emang kita harus keluar dari comfort zone kita kan untuk bisa berkembang. Gue berusaha menenangkan diri gue sendiri sih sebenernya wkwkwk. Dan yang jelas kita bisa belajar dari mana saja. Gue juga mulai memikirkan lagi planning gue ke depan, mulai dari melanjutkan sekolah dan melanjutkan ‘hidup’. Yang jelas setiap langkah yang diambil emang harus jelas tujuan akhir yang mau dicapainya apa dan jangan setengah-setengah, cuz there’s no turning back.

Ketika gue nulis ini gue berada di tengah kegamangan apakah akan tinggal di mess malam ini atau balik ke rumah. Well, di proyek sebelumnya selama 3 bulan lalu gue masih agak sulit bagi waktu dan nggak sempat nulis sama sekali. Time management emang penting banget sih, karena hidup toh nggak cuma kerja aja. You have no life sih kalau kerja doang. Di rantau emang pasti bakalan beda, karena lu nggak bisa ketemu temen lu tiap weekend. Tapi insyaAllah bakal ada hal baru yang menarik lah disana.

Condet, 6 April 2016

Just Be Good

Passion adalah sesuatu yang abstrak yang belakangan ini gue seringkali mempertanyakan. Apakah yang gue kerjakan sejauh ini benar-benar passion gue? Tapi pada akhirnya pertanyaan itu seolah cuma jadi pertanyaan yang tak berujung.

Sampai gue kelas 2 SMA, cita-cita gue itu jadi Arsitek. Well, dulu banget pas gue masih SD, gue punya temen deket yang kebetulan hobi kita sama: Ngegambar. Suatu hari wali kelas gue nanyain cita-cita kita apa dan nyaris sebagian besar temen sekelas gue jawab ‘pengen jadi dokter’. Yah saat itu gue jawab pengen jadi astronom sih. Lalu sahabat gue itu jawab kalau dia pengen jadi arsitek. Setelah gue tau kerjaan arsitek itu ngapain aja dari penjelasan singkatnya dia. Yah intinya kata doi kita bakal banyak nggambar kalau kita jadi arsitek. Sejak saat itu gue memutuskan untuk punya cita-cita jadi arsitek juga. Yap, kita akhirnya punya cita-cita yang sama hingga kita SMA dan kita juga berencana buat masuk SAPPK.

Terus pas liburan semester, kayak biasanya, gue ke tempat Eyang gue di Solo. Disana gue ketemu Om gue, beliau seorang dosen teknik sipil. Awalnya kita ngobrol soal rencana kedepan gue, mau ambil kuliah jurusan apa dan lain sebagainya. Lalu secara perlahan Om gue mulai mengarahkan gue untuk ke teknik sipil, dengan segala macam diskusi dan beliau juga menjejali harddisk gue dengan berbagai film-film civil engineering. Lalu gue mulai tertarik dengan teknik sipil. Yah setidaknya bidang ini juga masih bersinggungan dengan arsitektur. Di kampus gue sendiri, awalnya SAPPK dan FTSL itu menyatu sebagai satu fakultas yakni FTSP. Pada akhirnya di akhir kelas 3 SMA gue memutuskan untuk masuk ke teknik sipil sedangkan sahabat gue itu masih tetap memegang cita-citanya untuk menjadi arsitek.

Lalu saat ini gue udah jadi seorang civil engineer setelah menyelesaikan berbagai huru-hara perkuliahan hingga tugas akhirnya.

Hingga gue mengenakan toga beberapa waktu lalu, gue meyakini bahwa apa yang yang gue jalani selama ini adalah passion gue. Namun setelah masuk dunia kerja dengan berbagai huru-haranya, pertanyaan mengenai passion dan semacamnya benar-benar mengusik gue. Pada akhirnya gue menganggap bahwa passion adalah hal yang benar-benar abstrak. Apakah yang gue lakukan ini adalah passion gue? apakah passion gue memang disini? Karena seolah pertanyaan itu menjadi nggak berujung, pada akhirnya gue mencoba untuk mencintai apa yang gue kerjakan saat ini. Just be good at it dan kayak kata Steve Martin “Be so good, they can’t ignore you”.

Well, quotes dari Steve Martin itu menginspirasi salah satu judul buku Cal Newport “So Good They Can’t Ignore You”. Menurut gue buku ini adalah buku yang pantas dibaca buat orang-orang seusia gue, early 20s lah. Ketika kita lepas dari kehidupan kampus dan menghadapi dunia kerja. Di buku ini Newport juga ngebahas commencement speech Steve Jobs di Stanford tahun 2005, yang merupakan salah satu speech favorit gue. Menurut gue orang yang denger speech Jobs ini bisa punya interpretasi yang beda-beda. Kalau untuk gue pribadi, setelah gue denger commencement speech ini biasanya gue seolah jadi diingetin untuk mengejar passion gue. Gue kayaknya udah beberapa kali ngutip speech beliau di beberapa post gue sebelumnya

“You’ve got to find what you love. And that is as true for your work as it is for your lovers. Your work is going to fill a large part of your life, and the only way to be truly satisfied is to do what you believe is great work. And the only way to do great work is to love what you do. If you haven’t found it yet, keep looking. Don’t settle. As with all matters of the heart, you’ll know when you find it. And, like any great relationship, it just gets better and better as the years roll on. So keep looking until you find it. Don’t settle”

Setelah gue sadari selama ini gue menginterpretasikan speech dari Jobs ini sekenannya banget dan nggak utuh. Interpretasi gue selama ini adalah “You should find what you love. If you haven’t found it yet, keep looking and don’t settle”. Speech Jobs yang luar biasa memotivasi dan interpretasi sekenanya dari gue terhadap speech beliau secara nggak langsung mempengaruhi gue. Setiap gue menghadapi apa-apa yang gue rasa nggak pas, gue mulai mempertanyakan apakah apa yang ada di hadapan gue ini emang sesuai dengan gue, atau apakah yang gue jalani ini memang benar passion gue. Sampai akhirnya gue terus mempertanyakan sebenarnya passion gue itu apa.

Pada suatu titik gue menyadari kalau sebaiknya “just love what we do, instead of find what we love”. Dan setelah baca tulisan Newport di bukunya itu, gue jadi nggak begitu ambil pusing lagi soal passion. Just be good at it, then you will love it. Skill adalah suatu hal yang bisa diasah dan secara rasional menurut gue kita biasanya cenderung akan mencintai apa yang kita kuasai. Jobs sendiri bilang kalau “the only way to do great work is to love what you do”. Well yeah untuk sebagian orang yang masih bingung passionnya dimana atau passion itu sebenernya apa, gue rasa kita harus mencintai terlebih dahulu apa yang saat ini kita kerjakan. Seenggaknya dengan begitu kita bisa jadi fokus dengan apa yang ada di depan kita, instead of stuck in confusion about these passion things.

Oh iya ada beberapa buku yang menurut gue recommended untuk dibaca, yah walaupun gue juga belum kelar baca.
1. So Good They Can’t Ignore You – Cal Newport
2. Tribal Leadership – Dave Logan
3. All The Light We Cannot see – Anthony Doerr

 

Bogor, 4 April 2016

Greenhorn

It’s been a while since I’ve posted in this blog. Ternyata menyisihkan waktu untuk sekedar nulis aja cukup sulit juga belakangan ini. Setiap malem, setiap balik kerja gue langsung terkapar di kasur dan tanpa sadar pagi udah datang begitu saja. Nyaris setiap hari begitu. Tapi di weekend gue tetap berusaha menyisihkan waktu buat balik ke rumah dan ketemu temen-temen gue. Ketemu temen-temen lama itu nostalgic banget  dan walau udah beberapa tahun nggak ketemu rasanya tetep sama aja.

Meet-up sama sahabat-sahabat itu bikin kita flashback ke masa lalu, kayak time machine gitu. Dan membuat kita sadar kalau waktu itu berjalan sangat cepat. Nggak terasa kita udah di titik ini, berkepala dua, mulai memikirkan soal karir, pendidikan yang lebih tinggi lagi dan juga tentang teman hidup. Di titik ini gue seringkali bertanya-tanya tentang jalan hidup ke depan seperti apa, tapi gue tau itu nggak akan ada habisnya. Jadi let it flow aja pokoknya. Yang jelas kita tetap harus bikin target-target ke depan, perkara jalannya akan seperti apa, itu bukan kuasa kita.

Kerja di site bener-bener time consuming. Pergi pagi-balik malem, atau bahkan ada juga yang balik pagi lagi. Aktivitas di site emang 24 jam banget. “Jam pulang kantor” yang abnormal ini membuat gue cukup susah buat ketemu temen-temen gue  walau kita sama-sama lagi di Jakarta. Tapi untung aja masih ada weekend, jadi gue berusaha membagi weekend gue itu untuk keluarga dan temen-temen gue.

Beberapa minggu lalu gue diklat di Puncak. Diklat itu berhasil membrainwash gue dengan baik kalau kata seorang senior di kampus gue. Yah sebelum diklat gue memang meniatkan untuk menerima apapun yang akan membuat gue bekerja dengan sepenuh hati. I try to love this job. Gue bersyukur karena lingkungan kerja gue ini sangat mendukung untuk dijadikan tempat belajar. Mereka yang udah senior disini mau membagi ilmunya dengan anak baru kayak gue ini. Gue rasa hanya harus beradaptasi dengan jam kerja dan juga tempo yang cepat dari seluruh pekerjaan yang ada.

Gue kadang senyum-senyum sendiri kalau liat gue sama kakak gue. Kakak gue, cowok, dia jadi banker sekarang. Menghabiskan sebagian besar waktunya di office dan tampil perlente. Lalu gue, adeknya, cewek, jadi engineer dan menghabiskan sebagian besar waktu gue di site. Lingkungan kita jelas berbeda. Dari kecil emang karakter kita udah cukup berbeda, tapi ini yang bikin hidup keluarga kita nggak monoton.

Beberapa waktu lalu temen kuliah gue sempet ada yang nanya ke gue “Bil, how’s life?“. Gue sempet berpikir lama untuk menjawabnya. Lalu gue membalasnya dengan  kalimat “Baik, masih tetap berjuang”. Well, gue memang masih berjuang dalam segala hal, berjuang untuk bisa senada dengan ritme kerja di site, berjuang untuk ngejar S2 ke Delft dan berjuang untuk bisa figure out apa yang sebenarnya gue cari. Tapi gue rasa kita yang berkepala dua masih cukup muda untuk mencoba berbagai hal.

Stasiun Bogor, Hujan. 18 February 2016.