Brief Review: Digital Minimalism

Ini adalah buku ketiga Cal Newport yang gue baca dan sebetulnya buku pertama Newport yang gue selesaikan. Gue nggak berhasil menyelesaikan dua buku lainnya (Deep Work dan So Good They Can’t Ignore You) karena gue beli yang versi hard cover jadi agak nggak fleksibel kalau dibawa-dibawa. Padahal bagus sih isinya, oke, kayaknya gue akan beresin dua buku itu tahun depan.

Sekilas dulu ya tentang Cal Newport ini, karena menurut gue secara personalnya emang agak unik dan menarik. Gue tau tentang penulis ini dari temen SMA gue sebetulnya, dulu ketika gue masih kuliah, dia pernah cerita tentang bukunya Cal Newport yang ngebahas kebiasaan para straight A students di kampus gitu. Terus beberapa tahun kemudian, gue nggak sengaja liat videonya Cal Newport di TED Talks dan akhirnya gue tau kalau dia udah nulis beberapa buku saat itu. Saat ini Cal Newport merupakan Associate Professor di Georgetown University, jurusan Computer Science. Nah menariknya Newport ini nggak pernah punya akun media sosial sama sekali, karena menurutnya media sosial nggak membawa banyak manfaat. Well, sebagai seorang full time professor, Newport juga terbilang cukup produktif dalam menulis buku.

Nah balik lagi ke Digital Minimalism, buku terakhirnya Newport. In his book, Newport define digital minimalism as a philosophy of technology use in which you focus on your online time on a small number of carefully selected and optimized activities that strongly support things you value, and then happily miss out everything else.

Pada pembukaannya, Newport menceritakan bahwa saat ini nggak bisa dipungkiri lagi kalau media sosial dan smartphones merubah bagaimana kita hidup di abad 21 ini. Tentang bagaimana engineer dan programmer di Silicon Valley nggak cuma memprogram aplikasi saja tapi juga memprogram manusia. They want we use their apps in particular ways and for long periods of time. Karena dengan cara itu lah mereka mendapatkan uang. Fenomena ini bisa dibilang mirip dengan para perusahaan tembakau yang sengaja membuat rokok mereka menjadi lebih adiktif. “While Philip Morris just wanted your lungs, the App Store wants your soul” said Tristan Harris, a former start-up founder

To achieve the effectiveness of digital minimalism, here Newport provides three core principle

Principle #1: Clutter is costly
Digital minimalist recognize that cluttering their time and attention with too many devices, apps and services creates an overall negative cost that can swamp the small benefits that each individual item provides in isolation

Principle #2: Optimization is important
Digital minimalist believe that deciding a particular technology supports something they value is only the first step. To truly extract its full potential benefit, it’s necessary to think carefully about how they’ll use the technology

Principle #3 : Intentionality is satisfying
Digital minimalist derive significant satisfaction from their general commitment to being more intentional about how they engage with new technologies.

Perkembangan smartphone dan media sosial yang sengaja dibuat untuk menjadi adiktif bagi usernya ini memang mempengaruhi pola hidup kita. Misalnya seperti sekarang dimana orang-orang menjadi nggak mudah bosan, kita dapat dengan mudah mengakses apapun dari smartphone kita. Berita, hiburan, media sosial dan lain sebagainya. Para programer sengaja memprogram social media menjadi lebih adiktif dengan memberikan slots machine effect. Efek yang dibuat serupa dengan slots machine, dimana kita perlu merelease news feed kita untuk merefresh informasinya. Nah biasanya akan ada slight delay ketika kita merefresh news feed kita ini dan ternyata ini memang dibuat sedemikian rupa. Selanjutnya otak akan bekerja merelease dopamine yang membuat kita excited ketika akhirnya news feed tersebut terupdate. Efek itulah yang akhirnya membuat kita terus menerus merefresh feed social media kita entah itu Instagram, Twitter ataupun Facebook.

Well, buku Cal Newport ini menurut gue cukup bagus dan relevan dengan kondisi kita sekarang. Gue sendiri pengguna media sosial dan menurut gue memang media sosial ini cukup adiktif, terkadang gue sendiri nggak sadar kalau waktu gue terbuang percuma disana. Untuk saat ini sih gue belum bisa seekstrim Cal Newport yang nggak menggunakan sosial media sama sekali tapi at least ngebatasin. Gue sengaja masang timer di instagram gue untuk ngereminder gue ketika gue udah melewati batas waktu yang gue tentukan perharinya misalnya.

Yang jelas kita harus aware sama waktu yang kita habiskan disana dan manfaat yang bener-bener bisa kita dapet. Dan menurut gue nggak semua berita dan informasi harus kita tau, di era digital yang terjadi banjir informasi ini menurut gue kita bener-bener harus selektif sama informasi yang kita cerna.

Oke, sekian dari gue yang baru aja menghabiskan secangkir kopi di sudut Kota Bandung.

Brief Review: The One Thing

“Life is too short to chase unicorns. It’s too precious to rely on a rabbit’s foot.”

Udah lama gue nggak melakukan review buku yang gue baca. Kali ini gue mau review bukunya Gary Keller & Jay Papasan, The One Thing. Sebelum memutuskan untuk beli dan baca, gue liat review yang cukup bagus di forum-forum.

Buku ini secara overall ngebahas tentang bagaimana kita bisa mencapai tujuan kita dengan fokus ke satu hal secara bertahap dan bahwa nggak semua hal itu setara. Karena melakukan banyak hal dalam waktu yang bersamaan bisa jadi malah membawa side effect terhadap hasil pekerjaan kita.

“Going small is ignoring all the things you could do and doing what you should do. It’s recognizing that not all things matter equally and finding the things that matter most”

Di sini si writer memperkenalkan domino effect, gimana sesuatu yang kecil tapi dengan progress yang linear bisa menghasilkan result yang besar. Jadi di tahun 1983, Lorne Whitehead menulis dalam American Journal of Physics bahwa sebuah domino nggak hanya bisa menjatuhkan domino lainnya, tapi juga bisa menjatuhkan domino yang ukurannya 50% lebih besar dari domino itu sendiri.

Jadi kira-kira kalau dimodelkan dengan linear progression, domino berukuran 2 inch akan bisa menjatuhkan domino pada urutan ke 18 dengan tinggi setara dengan Menara Miring Pisa, lalu di urutan 23 setara dengan Eiffel Tower dan Puncak Everest pada urutan ke 31. Sehingga menghasilkan impact yang cukup besar untuk ukuran domino yang terbilang kecil.

“So line up the priorities, find the lead domino and whack away at it until it falls. Success is built sequentially. It’s one thing at a time”

In this book they also told us that there are 6 lies that usually mislead us

  1. Everything matters equally
  2. Multitasking
  3. A discipline life
  4. Willpower is always on Will-Call
  5. A balancee life
  6. Big is bad

Beberapa poin-poin di atas membuat gue bepikir ulang tentang beberapa hal yang gue yakini selama ini kayak hidup yang disiplin dan seimbang. Kalau untuk multitasking sih, agaknya selama ini gue tergolomg orang yang single tasker. Gue cenderung menyelesaikan sesuatu dulu sampai selesai baru pindah ke hal yang lain.

Selanjutnya mereka ngebahas tentang bagaimana menghasilkan sesuatu yang extraordinary

  1. Live with purpose
  2. Live by priority
  3. Live for productivity

Kita diminta untuk punya definite purpose dalam hidup kita. Selanjutnya kita harus menentukan prioritas yang tepat, karena purpose without priority is powerless ceunah. Lalu yang terakhir kita harus melakukan time block untuk prioritas kita itu. Time block sendiri adalah salah satu cara buat memastikan apa yang harus dikerjakan betul-betul dikerjakan.

Terakhir, ada quote yang gue suka

“Productivity isn’t about being a workhorse, keeping busy or burning the midnight oil. It’s more about priorities, planning and fiercely protecting your time” -Margarita Tartakovsky-

Well, sekian dulu dari gue karena secangkir kopi di depan gue udah mau habis.

Brief Review: Icarus Deception

Gue membenarkan headset di telinga gue, mengeraskan volumenya sedikit sambil menghirup nafas dalam-dalam. Gue membiarkan jendela kamar gue terbuka, membiarkan angin semilir masuk ke dalam kamar gue. Sisa-sisa hujan semalam masih tampak. Ya, sudah masuk musim hujan sepertinya.

Setelah buku Daron Acemoglu dan James A Robinson minggu lalu, gue melanjutkannya dengan Icarus Deception yang ditulis oleh Seth Godin. Gue tertarik dengan buku ini karena Icarus. Ketika SMA gue pernah baca tentang kisah Icarus dengan sayapnya, suatu hari Icarus terbang terlalu dekat dengan matahari dan pada akhirnya ia jatuh. Entah kenapa cerita tentang Icarus ini meninggalkan impresi yang mendalam buat gue.

Well, Icarus ini merupakan salah satu mitologi Yunani. Jadi Icarus ini adalah anak dari Daedalus seorang seniman yang ditahan di Crete. Suatu hari Daedalus membuatkan sayap dengan wax untuk dirinya dan Icarus, agar mereka dapat melarikan diri dari Crete. Tapi Icarus mengabaikan nasihat Ayahnya untuk terbang nggak terlalu dekat dengan matahari, ia terlalu bahagia dan terbang begitu begitu tinggi hingga pada akhirnya sayapnya meleleh. Lalu ia terjatuh ke laut. Laut tempatnya terjatuh kini dinamai Icarian Sea, yang berada di barat daya Pulau Samos.

Dari kisah Icarus ini yang seringkali diambil pelajaran adalah don’t fly too close  to the sun and keep your head down. It looks the society create a conclusion that told us about the dangers of standing up and standing out. Mereka lupa atau melewatkan bagian dimana Daedalus juga menasihati Icarus untuk nggak terbang terlalu rendah, terlalu dekat dengan dengan laut, karena air juga bisa menghambat daya angkat sayapnya. Dan justru ini lah yang lebih berbahaya, because it feels safe to fly low. Ide ini lah yang dibawa Seth Godin di dalam bukunya, The Icarus Deception: How High Will You Fly?

DSC_1106.JPG

The Icarus Deception: How High Will You Fly?

Sebagai pembuka kita mendapati Godin membicarakan mengenai comfort zone vs safety zone. Selama ini, sejak waktu yang lama kita memahami keduanya merupakan hal yang sama, kita terus berasumsi kalau apa yang membuat kita nyaman, pasti membuat kita aman juga. Then Godin told us that now the safety zone has changed but our comfort zone has not. Safety zone yang baru ini adalah tempat dimana art, innovations, destruction and rebirth happen. Menyadari kalau safety zone kita sudah berubah, bisa menjadi pertimbangan untuk mengevaluasi lagi comfort zone kita. Gue rasa ini ada kaitannya dengan disrupsi, yang menarik untuk jadi pembahasan di post berikutnya.

Well, what we need now is creating ideas and connecting the disconnect, those are the two pillars of our new society. Both of them require the posture of an artist and that’s where the new safety zone lies. Here, Godin explain that art isn’t a specific talent. Art is an attitude, culturally driven, and available to anyone who chooses to adopt. It’s the unique work of human being, work that touches another.

Lalu ada bahasan tentang bagaimana kapitalisme awalnya membuat para pekerja menciptakan value, sampai akhirnya industrialisasi datang melengkapi model kapitalisme yang ada. Menghancurkam kultur yang sudah terbentuk dan menggantikannya dengan sesuatu yang begitu berbeda. Industrial age is the age of stardardization. Para industrialis beranggapan bahwa keamanan adalah kunci produktifitas dan keuntungan. Mereka memegang prinsip Keep it moving. Keep it efficient. Keep it reliable.
But now, the industrial world is disappearing. The standardized things and guaranteed job won’t be there for much longer. Setiap orang dituntut untuk menjadi kreatif untuk bisa survive di masa depan. Godin ask us to be an artist, whether you’re an engineer, middle manager, doctor or teacher. In this book, he ask us that we need to fly higher than ever.

Menurut gue buku ini cukup asik buat menjadi bacaan di pagi hari atau di sela-sela waktu kosong lu. Gue cukup suka dengan gaya penulisan Seth Godin. Kebetulan juga ia salah satu sahabat penulis dan cartoonist favorit gue, Hugh MacLeod. Jadi gue rasa keduanya mempunyai gaya penulisan yang agak mirip, walau MacLeod menyisipkan lebih banyak ilustrasi dalam bukunya.

Well, gue rasa sekian dulu untuk post di pagi ini. Selanjutnya pembahasan tentang era disrupsi kayaknya cukup menarik juga untuk dibahas disini. Selamat berakhir pekan.

Brief Review: Why Nations Fail

Gue sedang menghabiskan sisa kopi gue tadi siang, 15 menit lagi gue akan pulang Sebentar lagi sudah akhir pekan, cepat sekali rasanya. Sudah lama juga tidak menulis, semoga setelah ini bisa agak lebih konsisten lagi menulis disini. Rencananya kedepannya gue akan mencoba meresume buku-buku yang gue baca, sebagai reminder gue secara personal aja, karena biasanya setelah baca buku kalau tidak ditulis, sebagian besar isinya seolah ‘poff’ menguap begitu saja. ( Jakarta, Sep 28th 2017 – 6.44 pm)

 

Well, minggu lalu gue (nyaris) berhasil menghabiskan buku yang ditulis oleh Daron Acemoglu dan James A Robinson. Gue menemukan buku ini ketika lagi web surfing di Gates Notes, judulnya menarik, Why Nations Fail. Belakangan gue memang tertarik dengan topik ini, bagaimana suatu negara bertransformasi hingga nantinya ada yang menjadi negara kaya ataupun negara miskin.

 

Why Nations Fail

Why Nations Fail : The Origins of Power, Prosperity and Poverty

 

Buku ini ditulis oleh duo professor dari MIT dan University of Chicago, mereka menyampaikan idenya dengan apik dan runut. Banyak sekali cerita sejarah disini, mulai dari kemajuan Mayans, Incas, sejarah kemahsyuran Venesia, revolusi industri di Inggris, lalu tentang dua negara di semenanjung Korea, Uni Soviet, Amerika termasuk Indonesia pada masa kolonial. Disini terlihat betul bahwa kedua professor ini melakukan studi yang cukup mendalam buat menulis buku ini. Mereka juga coba mencounter hipotesis-hipotesis terdahulu yang berkaitan dengan world inequality. Nantinya semuanya berujung pada suatu konklusi yang bahwa yang mnejadi penyebab world inequality berkenaan dengan sistem institusi yang dianut oleh masing-masing negara.

 

Mereka mengawali buku ini dengan kisah suatu kota yang terbagi, Kota Nogales. Kota ini dipisahkan oleh suatu pagar, menjadi sisi utara dan sisi selatan.  Sisi utara kota ini masuk ke wilayah Arizona, Amerika dan sisi selatannya masuk ke wilayah Sonora, Meksiko, yep mereka berada tepat di perbatasan. Kota yang hanya dipisahkan oleh pagar pembatas ini memilki perekonomian yang sangat berbeda. Dalam bukunya, Acemoglu mendeskripsikan ketimpangan ekonomi tersebut terjadi di banyak sisi dari segi pendapatan, pendidikan dan juga kesehatan. So close, yet so different.. mereka begitu dekat, tapi sangat jauh berbeda.

 

Selanjutnya dari studinya ini Daron dan James mencoba untuk mencounter beberapa hipotesis populer yang berkaitan dengan world inequality.

 

The Geography Hypothesis. Teori pertama yang coba mereka counter adalah The Geography Hypothesis, salah satu teori yang paling banyak diterima. Teori ini mengklaim bahwa perbedaan antara negara miskin dan kaya diakibatkan oleh adanya perbedaan geografis. Salah satu idenya adalah letak geografis berpengaruh langsung pada iklim dan iklim ini nantinya mempunyai direct effect terhadap work effort masyarakatnya. Salah satu konklusi dari teori ini areas with temperate climate have a relative advantage over tropical and semitropical areas. Teori ini coba dicounter dengan case kota Sonora yang jelas-jelas memiliki letak geografis sama. Contoh lain yang diambil buat mencounter teori ini adalah Korea Utara dan Korea Selatan.

 

The Culture Hypothesis. Teori populer kedua setelah geography hypothesis. Menurut kebanyakan orang, definisi culture saat ini punya artian yang luas, not only religions, but also beliefs, values, and ethics. Penulis lagi-lagi mencoba mencounter kalau teori ini nggak bisa membantu menjelaskan kenapa ketimpangan ekonomi di beberapa negara terjadi. Seperti yang terjadi pada Korea Utara dan Korea Selatan. Standar hidup rakyat Korea Utara kira-kira hanya sepersepuluh satandar hidup saudara-saudaranya di Korea Selatan. Padahal jauh sebelum perang Korea terjadi, keudanya memiliki kesamaan kultur dan sejarah yang sangat panjang.

 

The Ignorance Hypothesis. Ini merupakan teori populer terakhir yang mencoba untuk menjelaskan terjadinya world inequality. Teori ini menganggap kalau penyebab ketimpangan ekonomi adalah sikap ignorance dari penguasanya. Para penguasa ini seolah tidak mengerti bagaimana mentransformasi suatu negara yang miskin menjadi kaya. Teori ini seolah muncul dengan solusi pemecahan masalah: bila ignorance lah yang mengakibatkan kemiskinan terjadi, maka berikan masukan dan pencerdasan kepada para pemangku dan pembuat keputusan negara. Sehingga nantinya mereka bisa membuat masyarakat terbebas dari kemiskinan. Namun menurut penulis, masalahnya tidak sesederhana itu, pemangku-pemangku kekuasaan bisa jadi memiliki tujuan-tujuan tertentu alih-alih memang bersikap ignorance.

 

Beberapa hipotesis ini lah yang coba dicounter oleh Acemoglu dan Robinson. Selanjutnya kedua professor ini memberikan banyak historical evidence all around the world untuk mendukung teorinya, bahwa sistem institusi negara lah yang mempengaruhi bagaimana suatu negara itu berkembang, apakah sistem ekstraktif atau inklusif kah yang mereka anut. Berikut ini ada beberapa historical evidence yang menurut gue personal cukup menarik.

 

The Black Death and Start of Major Divergence in Europe
Secara singkatnya ini membahas tentang Black Death, yakni suatu pandemi besar yang menyerang Eropa dan memakan banyak korban. Black Death ini nantinya menjadi titik mula perubahan-perubahan di Eropa. Disini gue mau ambil case tentang Inggris. Di Inggris, Black Death terjadi sekitar tahun 1348 dan menewaskan nyaris separuh populasi Inggris saat itu, korban terbanyak saat itu adalah para buruh tani. Saat itu Inggris masih menganut sistem feudal, dengan hirarki tertinggi berada pada Raja diikuti Lord (tuan) dan yang paling bawah adalah buruh tani. Tuan disini tidak hanya tuan tanah, tetapi juga jaksa, hakim, dan polisi. Para buruh tani harus melakukan unpaid labor, semacam kerja paksa untuk tuannya dan juga tunduk pada berbagai macam pajak.
Secara singkatnya saat itu berlaku sistem yang sangat ekstraktif, kekayaan diperas dari bawah ke atas. Bisa dikatakan serupa dengan konfigurasi piramida, dimana pada bagian bawah terdapat banyak buruh tani, lalu mengerucut ke atas dengan beberapa gelintir tuan. Peristiwa Black Death yang banyak memakan korban buruh tani ini seolah mengguncang pondasi sistem piramida tersebut. Hal ini lah yang dimanfaatkan para buruh tani untuk menuntut perubahan.

 

Demonstrasi terjadi secara besar-besaran menuntut agar mereka dibebaskan dari sistem unpaid labor dan banyaknya pajak yang dikenakan pada mereka. Pemerintah berusaha menghentikannya dan pada 1351 dikeluarkan dekrit mengenai peningkatan upah bagi para buruh. Namun usaha pemerintah ini tidak berjalan mulus, pada tahun 1381 meletus demonstrasi yang lebih besar lagi. Sebagian besar kota London dikuasai oleh demonstran. Pada akhirnya pemberontakan berhasil diatasi dan pemimpin pemberontakan ditangkap. Namun setelah peristiwa itu tuntutan para buruh tani dikabulkan, sistem feudal dihapuskan. Sistem ekstraktif dihapuskan dan perlahan-lahan bangkit sistem inklusif. Upah-upah pekerja pun naik.

 

Black Death menyerang nyaris seluruh Eropa, setelah pandemi ini terjadi, di Inggris yang pada akhirnya menganut sistem inklusif logika yang bermain adalah semakin sedikit pekerja, maka semakin tinggi upah. Tapi hal ini nggak berlaku untuk sebagian besar negara-negara di Eropa Timur, Black Death justru dimanfaatkan para tuan tanah untuk mengekspansi kekuasaan mereka. Kota-kota semakin lemah dan semakin sedikit penduduknya. Setelah tahun 1500an hal ini semakin jelas terlihat, ketika negara-negara Eropa Barat meningkatkan permintaan pasokan hasil-hasil pertanian dari negara-negara Eropa Timur meningkat, para tuan tanah di negara-negara tersebut semakin menekan buruh tani mereka. Di Polandia misalnya sebelumnya semua pekerjaan yang dilakukan oleh buruh dibayar namun pada tahun 1600 nyaris setengah hasil pekerjaan mereka tidak dibayar. Black Death ini seolah sebagai penyebab second serfdom bagi negara-negara di Eropa Timur

 

Selanjutnya di Inggris di antara abad ke 16 dan ke 17 terjadi 2 peristiwa besar, Civil war di 1642-1652 dan Glorious Revolution di 1688. Hal ini berimplikasi pada pembatasan kekuasaan oleh raja dan eksekutif, serta penyerahan kekuasaan ekonomi pada parlemen. Sebagai konsekuensinya sistem ekonomi turut berubah menjadi lebih inklusif. Hal ini mendorong investasi, perdagangan serta munculnya inovasi-inovasi. Ini yang mendorong terjadinya peningkatan kesejahteraan dan menjadi jalan menuju Revolusi Industri. Karena selanjutnya inventor-inventor seperti James Watt, Richard Trevithick dan Arkwright bermunculan.

 

Soviet Union, Generating Rapid Growth Under Extractive Institution
Well, sebelumnya gue coba untuk ambil soal perbedaan antara Eropa Barat, lebih tepatnya Inggris yang menerapkan ekonomi inklusif dan Eropa Timur yang menerapakan sistem ekstraktif sampai abad 17. Selanjutnya gue mau lompat ke bahasan Acemoglu dan Robinson soal Soviet Union yang menganut institusi ekstraktif.

 

Sebelum tahun 1928 most Russians tinggal di daerah pinggiran. Saat itu teknologi yang digunakan para petani cenderung masih primitif dan tradisional. Untuk menggerakan potensi ekonomi negaranya Stalin memindahkan para petani ini sebagai  pekerja industri, dengan harapan mereka bisa lebih produktif. Benar saja, walau saat itu industri sendiri belum diorgnisir dengan baik,  pertumbuhan ekonomi Rusia menjadi yang tertinggi di dalam sejarah, dari 1928 sampai 1960, pertumbuhannya mencapai sekitar 6% per tahunnya. Sayangnya pertumbuhan ini tidak dibarengi oleh perubahan teknologi, yang terjadi hanyalah pemindahan sumber daya manusia dan pembuatan pabrik-pabrik baru. Dengan menganut sistem institusi ekstraktif, pertumbuhan Rusia saat itu tergolong sangat cepat dibawah kebijakan Stalin dan para elit. Meskipun demikian negara ini belum bisa mepertahankan keberlangsungan ekonomi tersebut.

 

Tidak adanya insentif ekonomi dan resistensi para elit terhadap inovasi, mengakibatkan pertumbuhan ekonomi Rusia pada 1970 mandek dan mengalami stagnansi. Dua hal yang bisa menjadi pelajaran bahwa sistem ekonomi ekstraktif tidak bisa mengenerate perubahan teknologi karena 1) tidak adanya insentif ekonomi 2) resistensi terhadap inovasi oleh kaum elit. Dua hal ini lah yang dapat menyebabkan stagnansi pada perkembangan Rusia. Beberapa area yang terus didalami oleh Rusia saat itu hanya lah militer dan aerospace technology.

 

The Contrast of South and North Korea
Kedua negara yang terletak di semenanjung Korea ini memiliki kesamaan sejarah yang panjang dan kesamaan geografis. Kontras yang terjadi hari ini bermula ketika berakhirnya Perang Dunia Kedua, di musim panas 1945, ketika koloni Jepang di semenanjung Korea runtuh, Korea terbagi menjadi dua wilayah kekuasaan. Di bagian selatan dipegang oleh Amerika dan di wilayah utara dikuasai oleh Rusia. Perang dingin antara kedua wilayah tersebut dimulai ketika tentara Korea Utara menginvasi Korea Selatan pada 1950.

 

Hari ini kedua negara tersebut tampak kontras berbeda, dalam suatu data plotting terhadap intensitas cahaya dengan sattelite, Korea Utara terlihat nyaris gelap gulita sedangkan Korea Selatan tampak terang benderang. Living standards keduanya juga sangat berbeda, living standards Korea Utara kira-kira hanya sepersepuluh living standards Korea Selatan. Kedua negara ini, masing-masing berkembang dengan mengadopsi isistem ekonomi  dan politik yang berbeda.

 

Sistem ekonomi di Korea Selatan mendorong untuk berkembangnya investasi dan perdagangan. Mereka juga melakukan investasi yang tinggi untuk pendidikan, hingga mencapai angka literasi dan pendidikan yang tinggi. Perusahaan-perusahaannya pun dengan cepat memanfaatkan sumber daya manusia terdidik mereka untuk mengembangakan industri dan investasinya. Korea Selatan dengan cepat bertransformasi menjadi salah satu keajaiban ekonomi Asia dan menjadi salah satu negara dengan perkembangan tercepat di dunia. Sedangkan di Korea utara, pemerintahan komunis yang represif sangat anti terhadap inovasi dan pengadopsian teknologi-teknologi baru.

 

Hanya dalam setengah abad, pertumbuhan Korea Selatan dan stagnansi Korea Utara menimbulkan gap yang besar pada negara yang mulanya pernah bersatu ini. Menurut Acemoglu, bencana ekonomi yang terjadi di Korea Utara dan suksesnya perekonomian Korea Selatan, sangat kontras sekali, hal ini tidak bisa dijelaskan dengan geography, culture ataupun ignorance hypothesis. Kita harus melihat pada sistem institusi yang membentuknya.

 

Well, gue rasa beberapa case ini cukup menggambarkan evidence yang disampaikan Daron Acemoglu dan James Robinson di dalam bukunya. Sebetulnya masih banyak lagi kisah menarik yang diceritakan di dalamnya, bagaimana bangsa Maya yang besar pada akhirnya collapse, atau tentang penduduk Venesia yang saat ini mengagumi kejayaan masa lalunya. Oh iya perdagangan Indonesia pada masa kolonial juga diceritakan in brief di buku ini.

 

Ide yang gue tangkap dalam buku ini adalah inequality yang terjadi di dunia ini disebabkan sistem institusi yang dianut oleh suatu negara, baik institusi politik maupun ekonominya. Apakah yang dianut sistem inklusif atau ekstraktif. Mostly negara-negara yang bisa sejahtera dan sustain adalah negara yang menganut paham inklusif. Karena negara yang menganut sistem inklusif mendorong para penduduknya untuk berkembang juga, they provide incentives for economic and protect property rights. Hal ini tentu mendorong penduduknya untuk mau maju, improving their skills, generating inovation, inventing etc yang akhirnya akan membawa kemajuan juga buat negaranya. Di sisi lain,negara yang menganut institusi ekstraktif juga nggak berarti nggak bisa berkembang sama sekali, Rusia misalnya. Tapi ketidak terbukaan mereka dalam menerima inovasi dan teknologi serta nggak adanya insentif ekonomi pada akhirnya bisa menyebabkan stagnansi. Intinya perkebangan ekonominya akhirnya nggak sustain.

 

Gue rasa sekian dulu review malam ini, awalnya gue mau review in brief tapi agak sulit juga. Karena banyaknya historical evidence yang disampaikan penulis, jadi agak sayang juga kalau dilewatkan. Selamat Malam,

Building Leadership the West Point Way

Building Leadership The West Point Way“Mari kita menghadapinya – di medan perang, setiap orang merasa takut. Hidup ini membuat kita semua menjadi pengecut. Apa yang mendefinisikan kita adalah bagaimana kita merespon kehidupan ini dan berbagai tantangan yang ditempatkan di hadapan kita”

Selamat Pagi dari Surakarta,

Setelah agak lama tidak menulis, akibat disibukan oleh TA dan lain sebagainya, kali ini saya menyempatkan diri lagi untuk menulis. Kali ini saya akan membahas sebuah buku yang berjudul “Building Leadership the West Point Way“. Buku ini ditulis oleh Mayor Jendral Joseph P. Franklin, seorang lulusan West Point yang juga memegang dua gelar master dari MIT untuk bidang teknik sipil dan teknik nuklir. Di dalam buku ini Mayjen Joe membagi pelajaran-pelajaran berharga dan pemikirannya mengenai kepemimpinan yang dia peroleh selama di West Point. Kepemimpinan adalah bagaimana kita dapat mengatasi orang-orang yang bekerjasama dengan kita. Seorang pemimpin harus mengenal betul pekerjaan yang harus diselesaikan bawahannya. Tugas pemimpin bukanlah menyelesaikan pekerjaan tersebut, namun menciptakan atmosfir senyaman mungkin agar para bawahan dapat menyelesaikan pekerjaan mereka. Kepemimpinan adalah tentang mendelegasikan kewenangan, mendorong lahirnya inovasi, mendampingi dan mengambil tanggung jawab. Di dalam buku ini Mayjen Joe menyampaikan 10 hal prinsipil di dalam kepemimpinan yakni:

  1. Tugas
  2. Kehormatan
  3. Iman
  4. Keberanian
  5. Ketekunan
  6. Rasa percaya diri
  7. Kemampuan untuk dapat didekati
  8. Kemampuan untuk beradaptasi
  9. Kewelasasihan
  10. Visi

Salah satu bagian yang cukup saya ingat dengan baik dari buku beliau ini adalah kalimat ini “Tugas bukan berarti mengikuti dengan membuta. Tugas artinya mengerti apa yang harus dilakukan, dan melakukannya tanpa memandang perasaan yang mungkin dirasakan secara pribadi.” Tugas dan kedisiplinan memiliki hubungan fundamental yang tak terpisahkan. Seringkali kedisiplinan ini dibutuhkan ketika kita dihadapkan pada tugas yang sebenarnya tidak kita sukai. Seorang pemimpin adalah mereka yang berada di garda terdepan, entah itu di medan perang atau pun di ruang organisasi, dan mereka melakukan apa yang harus dilakukan (meskipun itu adalah sesuatu yang tidak mereka inginkan atau tak menyenangkan). Para pemimpin melakukan tugas-tugas itu dengan tegas dan tidak menggerutu. Saya rasa buku yang ditulis oleh Mayjen Joe ini disampaikan dengan sangat baik. Beliau menyampaikan melalui pengalaman-pengalaman yang dialaminya selama di West Point dan juga setelahnya. *** Well dari buku ini secara garis besar saya merangkum 10 poin prinsipil di dalam kepemimpinan sebagai berikut

1. Tugas adalah suatu pekerjaan yang harus diselesaikan, tidak dikerjakan dengan membuta, dimengerti dan dipahami KEBENARANNYA. Dilakukan tanpa melibatkan perasaan (entah itu sebenarnya tidak mengenakkan untuk pribadi dsb) dan tidak menggerutu. Oleh karena itu seringkali DIBUTUHKAN KEDISIPLINAN untuk diri sendiri.

2. Kehormatan adalah yang utama, apa-apa yang kita lakukan harus sesuai dengan kode-kode yang berlaku. Kita harus berani memilih kebenaran yang lebih berat sebagai ganti ketidakbenaran yang lebih ringan. Seringkali hubungan-hubungan antar pribadi terasa lebih dalam dibandingkan kode-kode yang berlaku di luar diri, namun bukan berarti kita membiar orang-orang disekeliling kita melanggar kode-kode itu begitu saja. Kita tidak bisa menutup mata, kita harus berani mengonfrontasi mereka dengan maksud MELURUSKAN.

3. Keimanan atau kepercayaan diperlukan di dalam suatu hirarki kepemimpinan. Seorang bawahan harus memiliki kepercayaan pada atasannya, bahwa ia dapat diandalkan dan memberi teladan. Sebaliknya seorang atasan harus memiliki kepercayaan bahwa bawahannya akan mengerjakan tugasnya dengan baik. Seorang pemimpin juga harus memiliki kepercayaan bahwa pekerjaan atau tugas yang mereka pikul bersama dapat terselesaikan. Mereka bersama-bersama juga harus memiliki keimanan yang besar mengenai tujuan mereka.

4. Banyak tindakan tak semestinya yang sering disalahartikan sebagai keberanian. Hanya terdapat perbedaan tipis antara tindakan ceroboh dan tindakan yang gagah berani. Seorang pemimpin yang baik HARUS BERANI menugaskan seseorang walaupun ia tak yakin orang tersebut mampu menyelesaikannya. Terkadang mengerjakan semuanya sendiri adalah cara termudah dalam menyelesaikan tugas. Oleh karena itu diperlukan suatu keberanian untuk menugaskan bawahan tersebut meskipumn terdapat resiko di dalamnya.

5. Ketekunan adalah suatu karakter yang mengagumkan dan sangat mudah terlihat. Kemampuan untuk menuntaskan sesuatu, merampungkan apa yang sudah dimulai, merupakan suatu tindakan kritikal untuk mencapai gol apa saja dan bukan saja karena setiap perjalanan adalah serangkaian langkah-langkah kecil. Tidak ada jalan pintas untuk keringat dan kerja keras. Tidak mungkin mendapatkan semuanya sekaligus, terkadang kita akan mendapati diri sendiri dalam situasi dimana kita tidak mungkin mencapai semua yang ada di piring kita dan ini adalah waktu untuk menetapkan prioritas.

6. Ada tiga tipe rasa percaya diri yang esensial di dalam kepemimpinan. Yang pertama adalah rasa percaya diri di dalam melontarkan saran atau perintah. Yang kedua adalah rasa percaya terhadap diri sendiri yang membuat kita nyaman untuk meminta nasihat. Lalu yang terakhir adalah rasa percaya diri untuk dapat bergantung pada bawahan, mendelegasikan otoritas dan melangkah mundur untuk membiarkan mereka melakukan tugasnya.

7. Seorang pemimpin yang baik adalah seseorang yang mau didekati. Dimana ia mau bercakap-cakap dengan bawahannya, dan sebaliknya bawahannya juga mau bercakap-cakap dengannya. Jika suatu organisasi ingin berjalan dengan baik maka para bawahan harus merasa bahwa mereka dapat meminta bimbingan dan pertolongan kepada para pemimpin mereka; mereka harus dapat mengaku jika mereka berbuat suatu kesalahan.

8. Keadaan selalu berubah dan manusia harus belajar beradaptasi atau jika tidak mereka akan mendapati diri mereka tertinggal. Tugas utama seorang pemimpim adalah membangun sebuah tim, yang merupakan suatu upaya kreatif yang membutuhkan kemampuan beradaptasi yang sangat tinggi.

9. Kewelasasihan merupakan suatu garis halus antara bersikap terlalu keras dan bersikap terlalu lembut. Jika tidak ada kewelasasihan pada akhirnya kita akan kehilangan respek dan juga etos kerja dari bawahan. Lalu di posisi mereka kita akan merasakan atmosfir ketakutan dan ketidakpercayaan.

10. Visi merupakan prinsip kepemimpinan yang paling penting. Ia menuntut seorang pemimpin untuk terus menerus menciptakan suatu lingkungan dimana para bawahan dapat berfungsi dalam tingkatan yang tinggi dan melaksanakan semua tugas yang disyaratkan.

Kira-kira itu adalah 10 poin penting yang dapat saya sarikan dari buku yang ditulis Mayjen Joe ini. Sebagai penutup saya akan memberikan salah satu kalimat menarik yang dikutip dari buku beliau:

“Beberapa orang adalah petarung, beberapa orang yang lain adalah penyair sedangkan beberapa orang yang lain lagi adalah keduanya”

Jadi Diri Sendiri Biar Lebih Asik

Men, banyak buku menarik bertebaran di muka bumi yang bisa lu manfaatkan. Salah satunya buku-buku mengenai self improvement atau apapun itu. Yang kalau lu baca, lu jadi lebih menghargai hidup lu dan senang jadi diri lu sendiri. Dari sekiaan banyak buku soal self improvement, ada buku-buku yang cukup mudah dicerna dan enteng buat dibaca. Diantaranya ada bukunya Yoris Sebastian, “101 Creative Notes” yang isinya cara asik ngejalanin hidup versi doi.

101 Creative Notes

101 Creative Notes – Yoris Sebastian

(Sumber : gramediapustakautama.com)

Isinya terbilang personal tapi banyak tips-tips yang berguna sih kalau mau menjalani hidup lebih kreatif dan nggak monoton. Intinya kreativitas itu harus terus diasah. Selain gaya penulisannya yang ringan buku ini juga nggak berisi tulisan doang, banyak coretan-coretan gambar nyaris di semua halamannya. Kalau lu lagi males baca buku yang berat-berat kayak punya Dale Carnegie, buku ini bisa jadi solusi tepat.

Selanjutnya, di tengah kegamangan gue menunggu temen gue kemarin malem. Gue akhirnya memutuskan buku yang sebenernya udah lama gue lirik. Judulnya “How To Be Interesting” karangannya Jessica Hagy, salah seorang kartunis di New York Times. Isinya cenderung mirip-mirip dengan bukunya Yoris Sebastian. Menggunakan sedikit tulisan dan banyak chart di sana-sini. Buku Tante Jessica ini isinya lebih ngedorong kita untuk jadi menarik dengan jadi diri sendiri. Ini juga asik banget dibaca kalau lagi iseng-iseng karena tulisannya dikit dan nggak membosankan. Tapi gue sarankan buat beli versi Inggrisnya, karena beberapa kata yang diterjemahkan ada yang gue rasa kurang pas entah gimana. Well, ini cover versi Indonesianya

How To Be Interesting

How To Be Interesting – Jessica Hagy

(Sumber : gramediapustakautama.com)

Gue rasa kita semua juga tahu sih, kita itu nggak perlu jadi orang lain untuk jadi menarik. Atau kita nggak perlu mencoba untuk menjalankan jalan hidup yang sama dengan orang lain. Memiliki mimpi yang sama dengan orang lain atau apapun itu. Maksud gue, semua orang itu unik, punya kesenangannya masing-masing, punya tujuannya masing-masing dan punya apa yang mereka yakini.

Bayangin aja kalau di dunia ini cuma ada satu tipe manusia, betapa monoton dan membosankannya. Tapi bukan berarti diri kita yang sekarang ini udah sempurna. Banyak hal yang mesti diperbaiki. Tapi secara sederhananya gue nggak mau ngejalanin hidup yang monoton dan membosankan. Banyak hal yang bisa dieksplor di dunia ini. mulai dari yang sederhana. Kecepatan daun jatuh barang kali, melalui rute jalan yang berbeda setiap harinya, menghirup bau rumput baru dipotong yang entah kenapa selalu sama, menghitung jumlah semak-semak yang gue nggak tau namanya di lapangan sipil, memikirkan kapan langit-langit di 3201 dibersihkan, atau sekedar melihat struktur Aula Barat yang dibuat dari kayu glulam.

*Eh kayu glulam! tulisan gue berikutnya kayaknya mau ngebahas tentang kayu glulam deh.

Soe Hok Gie, Pemuda Brilian yang Mati Muda

Well, UAS udah berakhir, tumpukan tugas besar juga akhirnya menghilang satu persatu dan sekarang liburan udah dimulai. Yah walaupun KP alias Kerja Praktek juga semakin dekat. Gue memutuskan balik ke Bogor dulu sebelum KP. Menghabiskan beberapa buku-buku yang asik sebelum pergi KP ke Solo nanti.

Buku yang akhirnya selesai gue baca adalah catatan hariannya Soe Hok Gie (Catatan Seorang Demonstran, terbitan LP3ES). Dari SMP gue udah kagum sama sosok Hok Gie ini. Pertama kali gue tau Soe Hok Gie ini dari filmnya Riri Riza yang merupakan hasil adaptasi dari buku yang gue baca sekarang. Soe Hok Gie di film itu diperankan oleh Nicholas Saputra dan menurut gue doi dapet banget feelnya. Nah,sayang karena berbagai hal akhirnya gue baru sempet baca bukunya bertahun-tahun kemudian, tepatnya pas gue kuliah. Singkatnya gue nemu orang yang jual buku itu secara nggak sengaja (karena gue nggak pernah liat buku ini di Gramedia) dan akhirnya gue beli deh. Gue nemu buku ini sekitar akhir semester kemarin dan karena kuliah juga lagi super padet akhirnya nggak beres-beres deh gue bacanya.

Image

Menurut gue Soe Hok Gie adalah sosok yang menarik. Dia pemuda yang idealis, brilian, berani dan memiliki nasionalisme tinggi. Wawasan Gie juga terbilang sangat luas untuk usianya yang terbilang muda waktu itu. Dia pernah berdebat dengan guru di sekolahnya tentang karya Andre Gide yang diterjemahkan oleh Chairil Anwar. Di masa kuliahnya di aktif mengkritik pemerintahan Soekarno baik melalui tulisannya maupun turun ke jalan untuk berdemonstrasi bersama kawan-kawannya di FS-UI. Sayangnya, pemuda brilian ini harus meninggal dalam usia muda, di Gunung Semeru, karena terkena gas beracun. Intinya banyak hal-hal menarik dalam buku ini. Percayalah buku ini sangat layak untuk dibaca dan menginspirasi kita yang muda.

Yang menarik lagi ternyata salah satu capres kita sekarang ini merupakan salah satu teman dekat Soe Hok Gie, ini. Beliau adalah Prabowo Subiyanto. Di dalam bukunya (sekitar tahun 1969) Hok Gie menyebutkan nama Prabowo ini beberapa kali. Selain dekat dengan Prabowo, Soe Hok Gie juga memiliki hubungan yang dekat dengan ayah Prabowo yakni Prof. Soemitro Djojohadikusumo (Alm) yang sempat menjabat sebagai Menteri Keuangan di jaman Soekarno dan sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan di jaman Soekarno serta Soeharto.

Terlepas dari semua itu harapan gue sisa liburan di Bogor yang bisa dihitung dengan jari ini semoga bisa lebih produktif. Rasa-sanya gue mau banyak membaca. Buku yang gue baca sekarang ini buku terbitan Kompas Gramedia yang judulnya Membangun Indonesia Kecil. Gue baru baca sebagian, di bagian awal diceritakan kisah hidupnya P.K Ojong dan Jakob Oetama yang inspiratif. Nah selanjutnya gue belum beres baca jadi belum tau intinya. Sebelum balik ke Bandung rencananya gue mau ngelarin buku ini. Di Bandung rencananya gue mau nyari bukunya Homer yang Iliad dan Odyssey, buat bekal KP yang enteng-enteng lah hahaha.