Greenhorn

It’s been a while since I’ve posted in this blog. Ternyata menyisihkan waktu untuk sekedar nulis aja cukup sulit juga belakangan ini. Setiap malem, setiap balik kerja gue langsung terkapar di kasur dan tanpa sadar pagi udah datang begitu saja. Nyaris setiap hari begitu. Tapi di weekend gue tetap berusaha menyisihkan waktu buat balik ke rumah dan ketemu temen-temen gue. Ketemu temen-temen lama itu nostalgic banget  dan walau udah beberapa tahun nggak ketemu rasanya tetep sama aja.

Meet-up sama sahabat-sahabat itu bikin kita flashback ke masa lalu, kayak time machine gitu. Dan membuat kita sadar kalau waktu itu berjalan sangat cepat. Nggak terasa kita udah di titik ini, berkepala dua, mulai memikirkan soal karir, pendidikan yang lebih tinggi lagi dan juga tentang teman hidup. Di titik ini gue seringkali bertanya-tanya tentang jalan hidup ke depan seperti apa, tapi gue tau itu nggak akan ada habisnya. Jadi let it flow aja pokoknya. Yang jelas kita tetap harus bikin target-target ke depan, perkara jalannya akan seperti apa, itu bukan kuasa kita.

Kerja di site bener-bener time consuming. Pergi pagi-balik malem, atau bahkan ada juga yang balik pagi lagi. Aktivitas di site emang 24 jam banget. “Jam pulang kantor” yang abnormal ini membuat gue cukup susah buat ketemu temen-temen gue  walau kita sama-sama lagi di Jakarta. Tapi untung aja masih ada weekend, jadi gue berusaha membagi weekend gue itu untuk keluarga dan temen-temen gue.

Beberapa minggu lalu gue diklat di Puncak. Diklat itu berhasil membrainwash gue dengan baik kalau kata seorang senior di kampus gue. Yah sebelum diklat gue memang meniatkan untuk menerima apapun yang akan membuat gue bekerja dengan sepenuh hati. I try to love this job. Gue bersyukur karena lingkungan kerja gue ini sangat mendukung untuk dijadikan tempat belajar. Mereka yang udah senior disini mau membagi ilmunya dengan anak baru kayak gue ini. Gue rasa hanya harus beradaptasi dengan jam kerja dan juga tempo yang cepat dari seluruh pekerjaan yang ada.

Gue kadang senyum-senyum sendiri kalau liat gue sama kakak gue. Kakak gue, cowok, dia jadi banker sekarang. Menghabiskan sebagian besar waktunya di office dan tampil perlente. Lalu gue, adeknya, cewek, jadi engineer dan menghabiskan sebagian besar waktu gue di site. Lingkungan kita jelas berbeda. Dari kecil emang karakter kita udah cukup berbeda, tapi ini yang bikin hidup keluarga kita nggak monoton.

Beberapa waktu lalu temen kuliah gue sempet ada yang nanya ke gue “Bil, how’s life?“. Gue sempet berpikir lama untuk menjawabnya. Lalu gue membalasnya dengan  kalimat “Baik, masih tetap berjuang”. Well, gue memang masih berjuang dalam segala hal, berjuang untuk bisa senada dengan ritme kerja di site, berjuang untuk ngejar S2 ke Delft dan berjuang untuk bisa figure out apa yang sebenarnya gue cari. Tapi gue rasa kita yang berkepala dua masih cukup muda untuk mencoba berbagai hal.

Stasiun Bogor, Hujan. 18 February 2016.

Break the Routine!

Pada akhirnya gue nyerah juga jadi komuter yang sampai rumah jam 12 malem dan besoknya harus cabut lagi jam 5.15 pagi. Yep, akhirnya gue ngekos di daerah deket proyek. Awalnya pertimbangan gue buat tetep jadi komuter Bogor-Jakarta supaya bisa ketemu nyokap bokap tiap hari. Tapi balik semalem itu gue rasa malah bikin mereka khawatir tiap hari, lagipula tiap balik dari proyek gue juga cuma ngobrol sebentar dengan mereka karena gue harus cepet tidur.

Opsi buat ngekos ini gue ambil karena banyak pertimbangan. Jadi komuter dengan ritme yang kayak gini gue rasa udah nggak optimal lagi. Jarak proyek dengan rumah gue juga lebih jauh kalau dibandingin dengan dari kantor pusat ke rumah gue. Setiap hari kurang lebih hanya tidur 3 jam, well ditambah tidur di kereta pagi sekitar 30 menit, kira-kira totalnya hanya 3.5 jam. Perjalanan pulang juga menjadi hal yang sangat melelahkan karena sudah tengah malam. Sehari-hari seolah hanya bekerja di proyek, perjalanan pulang-pergi, dan tidur saja. I love my job actually, but I wanna do something else. I hate a routine. Jadi gue rasa dengan ngekos I could save my time to do something else, kayak baca buku, doodling, nulis dan lain-lain. Seenggaknya ada selingan lain di sela-sela rutinitas gue. Just break the routine!

Banyak yang bilang kalau bekerja di proyek adalah pekerjaan yang cukup berat. Mulai dari jam kerjanya dan juga beban kerjanya. Gue masih newbie disini, jadi gue belum bisa menilai, tapi memang jam kerjanya cukup tinggi. Banyak juga yang mempertanyakan alasan gue memilih kerja di kontraktor. Gue hanya menjawab dengan jawaban yang seringkali dianggap klise: “Saya ingin mengetahui teknis di lapangannya seperti apa Pak”. Gue memang berencana untuk belajar sebanyak-banyaknya disini, karena gue menyadari bahwa pada prakteknya apa yang telah gue pelajarin selama ini sebenernya adalah suatu hal yang sangat kompleks.

Well, selain harus paham teori-teori design, kita harus tau bagaimana metodenya, bagaimana manajemen pelaksanaannya, bagaimana cara kita menyampaikan pendapat kita agar diterima dengan baik, bagaimana kita mengatur setiap bagian agar target kita dapat tercapai dan lain sebagainya. Hey! Welcome to the real world! kita dituntut buat punya both hard and soft skills. Kalau gue pribadi, gue rasa gue harus banyak-banyak belajar kedua skill ini. Gue menganggap bahwa tempat gue bekerja adalah tempat gue belajar. Walau terkadang ada beberapa hal yang sulit untuk dipelajari, it’s okay, yang penting kita udah mencoba untuk belajar, toh manusia juga punya limitnya. Untuk hard skill ya kita bisa tanya-tanya pada orang yang kita anggap sebagai mentor, siapapun yang ada disana karena mereka lebih punya banyak pengalaman. Don’t be afraid to ask question. Kalau memang kita nggak tau ya kita harus tanya. Kalau gue, biasanya cari tau dulu sendiri, terus kalau masih nggak tau ya gue tanya, pun kalau udah dapet jawabannya gue konfirmasi lagi. Selain itu kita bisa belajar dari hal-hal yang sangat sederhana, kayak ngamatin orang per orang: bagaimana cara mereka berinteraksi, bagaimana cara mereka menyampaikan pendapatnya atau bagaimana cara mereka belajar.

Nyaris semua pekerjaan itu berjalan di dalam suatu sistem, dimana satu bagian dengan bagian yang lainnya saling terkait. Tentu butuh komunikasi yang baik antar bagiannya. Disinilah soft skill sangat diperlukan. Soft skill tentu nggak hanya soal komunikasi aja, tapi juga tentang etos kerja, integritas dan semangat untuk terus belajar. Dan gue rasa di sini lah wadah untuk belajar dan menempa diri gue. So, stop complaining! anggap aja ini wadah untuk belajar.

Walau begitu gue nggak mau jadi workaholic. Karena hidup nggak hanya soal kerja, kerja dan kerja. You have  family, friends, and hobbies. Gue pengen tetap produktif dalam melakukan kegiatan sampingan gue yang lain. And yet I’m still trying to pursue my dream study in Netherlands. Well, for me dream is something that make me feel more alive. Karena ada sesuatu yang harus dikejar.

Well, barusan gue lagi ngerapih-rapihin file laptop gue dan nemu gambar yang gue bikin sekitar 4.5 tahun lalu. Ini kayaknya gue bikin pas gue baru masuk kuliah. Thanks to the old me dengan mimpinya untuk cepet lulus. Harusnya gue nemu gambar ini lagi pas TA kemarin biar semangat ngerjain TAnya wkwk. Tapi nggak papa gambar ini mengingatkan gue dengan semangat gue pas masih muda remaja dulu.

Me ft Ganesha

Oke, sekian dulu karena ada pekerjaan yang harus gue selesaikan untuk besok. Yah pokoknya prinsip gue sih be a life long learner, love your job but break the routine. Semoga setelah ngekos ini gue juga bisa nulis lebih berkala lagi.

Salam Hangat

Dream It, Plan It, Do It!!

Dulu pas gue masih sekolah salah satu cita-cita gue adalah:

” Masuk kampus gajah, lulus, terus bikin pencakar langit tertinggi di Indonesia “

Yep, sesederhana itu.

Lalu beberapa tahun belakangan, gue menganggap cita-cita gue terlalu kenakak-kanakan dan gue nggak begitu mempedulikan lagi tentang cita-cita bikin pencakar langit itu.

Setelah gue lulus kuliah dan memutuskan untuk kerja, sekarang gue masuk di salah satu perusahaan kontraktor Indonesia. Ada on job training yang harus gue lalui dulu selama 5 bulan dan di 3 bulan terakhirnya gue di tempatkan di proyek. Well, kemarin ini hari keempat gue di proyek dan ternyata gedung di proyek gue ini direncanakan untuk jadi salah satu pencakar langit tertinggi di Indonesia. Pas baru tau kemarin, gue jadi inget sama cita-cita gue dulu. So, bisa terlibat dalam proyek ini walau hanya dalam masa training, membuat gue cukup senang. Doa gue dulu telah dijawab dengan indah oleh Allah. Gue juga semakin yakin Allah tak pernah salah memilihkan jalan.

Ngomong-ngomong soal proyek, ritme kehidupan proyek cukup berbeda dibandingkan di kantor pusat kemarin. Namun gue masih bertahan menjadi komuter Bogor-Jakarta sampai saat ini. Walau baru tiba di rumah nyaris jam 12 malam dan harus berangkat pagi-pagi lagi besoknya sekitar pukul 5.30. Commuter line masih saja ramai walau sudah larut malam. Ekspresi lelah bekerja menghiasi wajah-wajah para pengguna commuter line itu, termasuk gue tentunya. Beberapa terlelap tidur kelelahan, beberapa memandangi layar hp mereka dalam keheningan dan sebagian lainnya memandangi keluar jendela, entah apa yang dilihatnya, padahal malam sudah terlalu gelap.

Walau ritme hidup harus berubah lagi, banyak hal yang bisa digali disini buat gue yang freshgrad dan belum begitu ngerti implementasi dari ilmu yang telah gue pelajari dulu. Kedengarannya klise kalau kata salah seorang manager gue. Tapi ya memang begitu adanya. Kalau kata Larry King, “kebanyakan klise itu benar”. Intinya sih dimanapun tempat kita bekerja, kita harus bisa beradaptasi dan belajar sebanyak-banyaknya.

Sekarang juga udah masuk Tahun 2016. Resolusi-resolusi tahun ini (dan untuk beberapa tahun kedepan) harus sudah mulai direncanakan. Rutinitas tanpa tujuan yang jelas akan sangat membunuh. Rencana tanpa implemetasi juga tak akan merubah apa-apa.

Akhir tahun lalu gue mulai berpikir tentang lebih banyak hal. Karena hidup tak melulu soal karir, banyak hal yang sebenarnya lebih penting. Perlahan-lahan semoga segala sesuatunya dapat diselesaikan dengan baik. Semoga di tahun 2016 ini segala rencana-rencana dapat terealisasi dengan baik. Yah pokoknya dalam hidup, menurut gue, kita harus punya mimpi atau cita-cita atau tujuan atau apapun itu. Setelah itu rencanakan. Lalu yang terpenting adalah realisasikan. Dream it. Plan it. Do it.

Be An Amateur

Lulus dari bangku perkuliahan dan masuk ke dalam lingkungan kerja yang baru, sempat membuat gue terus bertanya-tanya akan alasan gue memilih jalan ini. Well, setelah sebelumnya di semester 7 lalu gue sempat gamang antara melanjutkan sekolah lagi atau langsung bekerja setelah kuliah selesai. Pilihan yang dihadapi pasca kehidupan kuliah memang lebih beragam dibandingkan ketika lulus SD, SMP atau SMA: antara kuliah lagi atau bekerja? bila kuliah lagi akan mengambil jurusan apa dan dimana? bila bekerja akan bekerja di tempat seperti apa? apakah sesuai dengan bidang yang ditekuni saat ini atau tidak?

Sebagian orang sudah memiliki keputusan yang mantap dengan jalan yang akan diambilnya. Saat itu gue masih bingung, tak benar-benar mengerti apa yang sebenarnya gue inginkan. Nyokap gue sendiri juga sering bilang kalau gue emang banyak maunya. Setelah selang beberapa saat, berpikir dan berdiskusi dengan Nyokap Bokap, akhirnya gue memutuskan untuk bekerja terlebih dahulu disini.

Di tempat gue sekarang, gue sedang menjalani masa training selama beberapa bulan. Selama training ini gue dirolling di divisi yang berbeda dan juga di proyek. Pada awal masa training gue, gue harus beradaptasi dengan kehidupan komuter Bogor-Jakarta setiap harinya, yang kini sudah benar-benar terbiasa. Lingkungan dan irama hidup yang baru ini juga sempat membuat gue mempertanyakan apakah keputusan gue untuk bekerja ini tepat atau tidak. Keinginan untuk melanjutkan S2 juga masih berseliweran di kepala gue. Rutinitas komuter setiap hari, pergi pagi dan pulang di malam hari bisa benar-benar membuat gue menjadi robot jika gue tak punya tujuan yang berarti.

Pada akhirnya gue bertanya pada diri gue sendiri, apa yang gue mau. Kenapa gue harus S2 ke luar misalnya? apakah gue udah punya alasan yang kuat untuk itu? Sayangnya gue belum menemukan alasan yang kuat untuk diri gue. Beruntunglah buat teman-teman yang sudah punya alasan yang kuat untuk melanjutkan studinya sekarang. Meski demikian melanjutkan S2 ke luar adalah salah satu target gue dan memang saat ini belum waktunya. Hanya saja saat ini gue sedang mencari alasan yang tepat untuk itu sampai waktunya datang.

Karena memutuskan untuk menunda S2, gue memilih untuk bekerja dahulu disini. Dengan bekerja seenggaknya gue bisa belajar untuk hidup lebih mandiri secara finansial dengan tidak bergantung pada orang tua sepenuhnya. Yah nggak cuma itu aja, dengan bekerja kita seolah terjun langsung ke lapangan. Kita dapat melihat implementasi dari apa-apa yang telah kita pelajari di bangku kuliah. Intinya banyak hal yang bisa dipelajari. Gue mendapati bahwa bidang yang gue tekuni ini ternyata cukup kompleks. Sub bidang gue saat ini juga berbeda dengan apa yang gue dalami selama kuliah dulu. Jadi gue belajar banyak hal baru dan hal-hal yang sempat terabaikan semasa kuliah dulu.

Nyatanya memang kita harus terus belajar. Kalau kata Austin Kleon sih kira-kira gini “Be an amateur. Amateurs might lack formal training, but they’re all lifelong learners, and the make a point of learning in the open, so that others can learn from their failures and successes”.

Yes, life is lifelong learning, gue setuju banget. Tapi di dunia kerja kita dituntut lebih untuk belajar dan paham dengan cepat. Setiap langkah yang kita ambil juga harus memiliki dasar yang jelas. Memang sangat kompleks, karena kita bergerak di dalam suatu sistem. Buat gue yang masih newbie ini gue rasa semangat untuk terus belajar dan nggak cepet puas itu penting banget. Intinya “Stay hungry, stay foolish” kayak yang sering Steve Jobs ucapkan. Yaah kurang lebih kita harus stay eager and be ready to try new things lah.

New Chapter: Kehidupan Seorang Komuter

Sejak dua minggu lalu gue jadi seorang komuter, well yeah I commute to East Jakarta every day. I found it very tiring in my first week and I almost give up. Yep, gue nyaris menyerah ketika gue menjadi komuter di minggu pertama. Commuter line yang penuh sesak setiap pagi dan sore hari, benar-benar membutuhkan perjuangan yang lebih. Irama hidup gue pun berubah drastis dibanding jaman kuliah dulu. Gue harus datang pagi-pagi kalau mau dapet kereta yang “agak” nggak penuh. Perbaikan jalan di daerah rumah gue juga nggak kunjung selesai, sehingga kemacetan yang sangat hebat selalu terjadi di jam-jam sibuk. Kalau ditotal gue bisa menghabiskan 4-5 jam untuk pulang-pergi ke kantor setiap harinya.

4 sampai 5 jam habis di jalan bukan waktu yang sebentar dan ini terjadi pada ratusan komuter setiap harinya. Pada minggu pertama gue jujur aja agak sedikit kaget. Waktu yang berharga itu terbuang begitu saja di jalanan. Dari pada sibuk mengeluh tentang kereta yang penuh sesak atau tentang perbaikan jalan yang tak kunjung selesai, lebih baik gue memanfaatkan setiap waktu tersebut dengan hal-hal yang bermanfaat.

Nah kalau lu seorang komuter dan lu nggak mau waktu lu kebuang sia-sia salah satu hal yang bisa dilakuin adalah ngedengerin audiobook. I remember, my senior once told me that she likes listening audiobook during her way to campus. Menurutnya lumayan untuk memanfaatkan waktu biar nggak terbuang sepanjang perjalanan. Well, setelah jadi komuter tadinya gue sempat berpikir buat bawa buku untuk dibaca selama perjalanan. Yah  kalau keretanya lowong sih baca buku gitu nyaman-nyaman aja. Tapi kalau lu harus berdiri nyaris setengah jam dan dalam keadaan kereta yang penuh sesak, kayaknya buka bukunya aja nyaris nggak sempat. Audiobook ini adalah alternative yang oke, dengan pilihan genre yang beragam seenggaknya kita bisa menambah wawasan kita dan mempelajari hal-hal baru.

Well, jam tidur seorang komuter juga biasanya nggak banyak. Karena lu harus berangkat pagi banget dan pulang malem. Waktu lu udah habis di jalan, di kantor dan belum lagi adanya pekerjaan-pekerjaan lain yang harus diselesaikan di rumah. Sampai akhirnya satu-satunya alokasi waktu yang bisa dipangkas adalah jam tidur lu. Nah, kalau gue sih prefer melakukan power nap selama di perjalanan ketika berangkat kerja. Lumayan lah, seenggaknya kita bisa merefresh diri kita sebentar sebelum mulai bekerja.

Terkadang menjadi komuter seolah menjalani hidup yang monoton. Sepanjang weekdays irama hidup nyaris sama setiap harinya. Karena gue kadang kurang suka sesuatu yang monoton, gue suka berhenti atau pulang dari stasiun yang berbeda. Karena di deket kantor gue ada dua stasiun yang cukup berdekatan. Setiap hari secara random gue memilih salah satu stasiun tersebut. Ini salah satu hal yang gue lakukan biar perjalanan gue nggak terasa monoton.

Untuk seorang komuter memang nggak bisa dipungkiri kalau waktu kita banyak yang terbuang di jalan, sekarang yang menjadi poin utamanya adalah bagaimana kita bisa memanfaatkan waktu kita tersebut.

Masa Rehat Lagi

Jadi jalan di deket rumah gue lagi dicor di beberapa segmen dan mengakibatkan kemacetan yang luar biasa di jam-jam sibuk, jadinya gue harus berangkat pagi-pagi banget ke stasiun. Akhirnya gue harus nunggu dulu karena kepagian, sambil minum kopi dan ditemani lantunan musik dari White Lion

Well, setelah wisuda kemarin gue kira gue bakalan lebih rajin nulis tapi ternyata nggak hahaha. Kegiatan gue pasca wisuda di seminggu pertama terbilang sangat tidak produktif. Tapi setelah itu gue mulai bisa menyesuaikan irama hidup baru gue yang lebih santai dari jaman kuliah dulu. Seenggaknya selama masa rehat ini gue bisa menjalin lagi silaturahmi sama keluarga dan temen-temen sekolah gue dulu. Nemenin nyokap gue kemana-kemana, belanja, ke pasar, ke acara keluarga sampe bantuin arisan di rumah. Ketemu temen-temen sekolah yang beragam banget bahasannya. Lalu beberapa kali lari pagi di Sempur. Lalu yang paling epik adalah ketika gue janjian lari pagi sama temen gue di Sempur, tapi ternyata lapangannya dipake Sholat Ied Muhammadiyah. Akhirnya kita ninggalin lapangan dan muterin kebun raya.

Awal-awal masa rehat kemarin gue cuma santai-santai aja. Kegiatan gue didominasi sama nonton dan main game. Belakangan gue mulai merasa kalau ada yang salah dengan produktivitas gue. Akhirnya gue pergi ke toko buku dan berburu beberapa buku yang gue anggap menarik. Selagi masa rehat ini gue sadar bahwa gue bisa baca buku sebanyak-banyaknya, sebelum gue nanti disibukkan dengan pekerjaan.

Well jadi setiap gue janjian sama temen gue buat main, gue selalu menyempatkan untuk kabur sejenak ke Gramed. Beberapa bulan lalu gue suka banget baca buku self improvement atau buku-buku yang mengasah kreativitas gitu. Tapi belakangan gue ngerasa agak jenuh dengan buku-buku kayak gitu hahaha. Akhirnya gue lari ke rak buku-buku politik, yang sebenernya sebagian besar isinya biografi sih. Dari jaman SD dulu gue udah suka biografi, dulu gue bacanya seri tokoh dunia yang penyajiannya mirip2 komik. Gue masih bisa ingat dengan baik beberapa penggalan ceritanya kayaknya Walt Disney yang suka naik kereta-keretaan pas udah tua atau Hans Christian Andersen yang suka tiduran diatap rumahnya sambil berimajinasi. Lalu ketika gue SMA gue mulai suka nyari-nyari biografi kayak Che Guevara, Hellen Keller sampai Charlie Chaplin di perpustakaan sekolah. Bokap sama Nyokap gue sejak gue SMA emang mulai suka nyuruh untuk banyak baca buku. Yah mungkin mereka miris karena bacaan gue dari SD sampe SMA kebanyakan komik sama novel fantasy. Ketika gue kuliah gue mulai suka bacaan yang lebih variatif dan emang gue sadar kalau emang banyak manfaatnya.

Balik lagi, jadi waktu gue ke Gramed, gue nemu beberapa beberapa buku yang emang gue cari beberapa waktu lalu, yaitu bukunya Sjahrir sama Hatta yang diterbitin Tempo. Tempo sebenernya nerbitin 4 tokoh di series itu: Soekarno, Hatta, Sjahrir dan Tan Malaka. Secara pribadi gue suka dengan Hatta dan Sjahrir karena berbagai alasan, jadi 2 buku itu yang gue pilih dulu. Lalu gue juga tertarik dengan kisah hidup Tan Malaka yang suka menyamar disana-sini dan sifatnya yang lebih keras dibanding ketiga tokoh lainnya. Dan terakhir gue akan membaca Soekarno dan beraharap mendapat gambaran beliau dari sudut pandang yang berbeda. Jadi nampaknya buku Tan Malaka dan Soekarno akan gue baca nanti. Seri yang diterbitin Tempo ini karena penyampaian dan pemilihan kata per katanya menarik, setiap buku itu gue habiskan dalam sehari. Setelah selesai membaca, gue semakin mengagumi dua tokoh itu, Hatta dan Sjahrir. Gue juga merasa semakin tertampar. Di usia yang belia mereka sudah melakukan banyak hal-hal yang berarti untuk pergerakan bangsa ini dan pandangan mereka saat itu benar-benar jauh kedepan. Tujuan mereka nggak hanya untuk memerdekaan bangsa ini dari pemerintahan kolonial, tapi yang mereka inginkan adalah kesejahteraan rakyat kita secara merata. Seriusan banyak hal yang menarik yang dapat digali dari buku ini. Mulai dari ideologi sosialisme yang mendorong perjuangan mereka sampai hubungan antara para tokoh di dalamnya yang terkadang rumit.

Selain dua buku itu, sebelumnya gue sempat membeli buku Noam Chomsky yang berjudul “How the World Works”. Buku ini belum sempat gue selesaikan karena diselingi buku Sjahrir dan Hatta. Buku Noam Chomsky ini merupakan gabungan dari 4 tulisannya terdahulu. Di chapter pertama diceritakan berbagai hal tentang dominasi Amerika terhadap dunia,  rencana Amerika untuk mencipatakan dunia pasca perang dunia, dan intervensi Amerika terhadap beberpa negara di Amerika Selatan dan Dunia Ketiga. Buku Noam Chomsky ini memang sangat kompleks karena melibatkan banyak pihak di dunia Dan buku ini berhasil membuat gue berniat untuk menyelesaikan membaca kembali Mein Kampft milik Hitler yang sampai sekarang belum selesai.

Setelah selesai dengan buku Hatta dan Sjahrir, gue menjadi semakin tertarik untuk membaca lagi banyak-banyak buku yang berhubungan dengan sejarah Indonesia. Dan akhirnya gue mempostpone lagi buku Noam Chomsky. Gue memutuskan untuk membeli buku lain dan kali ini gue tertarik dengan buku Raffles and the British Invation of Java yang ditulis Tim Hannigan. Alasan awal gue membeli buku ini karena gue tertarik dengan sejarah pendudukan Inggris yang singkat atas Indonesia di masa kolonialisme Belanda dulu dan alasan kedua gue adalah kisah pribadi Raffles sendiri. Dari gue kecil dulu, setiap ke Kebun Raya, Bokap gue suka banget ngebaca puisi yang ada di monumen Olivia Raffles di Kebun Raya. Yah gue jadi penasaran aja seperti apa pribadi Raffles itu. Well, jadi setelah gue baca intro yang disampaikan Tim Hannigan, yang seorang Inggris, gue benar-benar tersadarkan untuk lebih memperdalam ilmu sejarah bangsa ini. Tim Hannigan sendiri adalah salah satu dari banyak jurnalis asing yang melakukan riset tentang sejarah Indonesia, sebagai orang Indonesia tentunya kita juga harus tergerak untuk mempelajari sejarah kita sendiri. Menurut hemat gue banyak hal yang bisa didapatkan dari sejarah, pelajaran-pelajaran berharga dan kita juga harus memahmi bagaimana perjuangan pendahulu kita.
Sebagai penerus bangsa, kita memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan mereka. Harapan-harapan mulia Hatta, Sjahrir, dan tokoh-tokoh lainnya untuk mewujudkan bangsa mandiri dan sejahtera akan menjadi tanggung jawab kita bersama. Gue juga semakin sadar bahwa kita hidup di dunia ini bukan hanya untuk diri kita saja. Bahwa ego diri harus dikesampingkan dan harus memegang teguh prinsip yang kita miliki.

Woooh nampaknya gue akan mulai mengantri di Peron dan naik kereta berikutnya. Gue udah lebih dari satu jam duduk disini. Nggak berapa lama lagi insyaAllah gue akan mulai kerja, mungkin setelah menyelesaikan membaca buku Tim Hannigan dan Noam Chomsky gue akan kembali lagi membaca buku-buku teknik sipil yang sudah lama tersimpan di dalam lemari-lemari gue hahaha.