It’s been a while since I’ve posted in this blog. Ternyata menyisihkan waktu untuk sekedar nulis aja cukup sulit juga belakangan ini. Setiap malem, setiap balik kerja gue langsung terkapar di kasur dan tanpa sadar pagi udah datang begitu saja. Nyaris setiap hari begitu. Tapi di weekend gue tetap berusaha menyisihkan waktu buat balik ke rumah dan ketemu temen-temen gue. Ketemu temen-temen lama itu nostalgic banget dan walau udah beberapa tahun nggak ketemu rasanya tetep sama aja.
Meet-up sama sahabat-sahabat itu bikin kita flashback ke masa lalu, kayak time machine gitu. Dan membuat kita sadar kalau waktu itu berjalan sangat cepat. Nggak terasa kita udah di titik ini, berkepala dua, mulai memikirkan soal karir, pendidikan yang lebih tinggi lagi dan juga tentang teman hidup. Di titik ini gue seringkali bertanya-tanya tentang jalan hidup ke depan seperti apa, tapi gue tau itu nggak akan ada habisnya. Jadi let it flow aja pokoknya. Yang jelas kita tetap harus bikin target-target ke depan, perkara jalannya akan seperti apa, itu bukan kuasa kita.
Kerja di site bener-bener time consuming. Pergi pagi-balik malem, atau bahkan ada juga yang balik pagi lagi. Aktivitas di site emang 24 jam banget. “Jam pulang kantor” yang abnormal ini membuat gue cukup susah buat ketemu temen-temen gue walau kita sama-sama lagi di Jakarta. Tapi untung aja masih ada weekend, jadi gue berusaha membagi weekend gue itu untuk keluarga dan temen-temen gue.
Beberapa minggu lalu gue diklat di Puncak. Diklat itu berhasil membrainwash gue dengan baik kalau kata seorang senior di kampus gue. Yah sebelum diklat gue memang meniatkan untuk menerima apapun yang akan membuat gue bekerja dengan sepenuh hati. I try to love this job. Gue bersyukur karena lingkungan kerja gue ini sangat mendukung untuk dijadikan tempat belajar. Mereka yang udah senior disini mau membagi ilmunya dengan anak baru kayak gue ini. Gue rasa hanya harus beradaptasi dengan jam kerja dan juga tempo yang cepat dari seluruh pekerjaan yang ada.
Gue kadang senyum-senyum sendiri kalau liat gue sama kakak gue. Kakak gue, cowok, dia jadi banker sekarang. Menghabiskan sebagian besar waktunya di office dan tampil perlente. Lalu gue, adeknya, cewek, jadi engineer dan menghabiskan sebagian besar waktu gue di site. Lingkungan kita jelas berbeda. Dari kecil emang karakter kita udah cukup berbeda, tapi ini yang bikin hidup keluarga kita nggak monoton.
Beberapa waktu lalu temen kuliah gue sempet ada yang nanya ke gue “Bil, how’s life?“. Gue sempet berpikir lama untuk menjawabnya. Lalu gue membalasnya dengan kalimat “Baik, masih tetap berjuang”. Well, gue memang masih berjuang dalam segala hal, berjuang untuk bisa senada dengan ritme kerja di site, berjuang untuk ngejar S2 ke Delft dan berjuang untuk bisa figure out apa yang sebenarnya gue cari. Tapi gue rasa kita yang berkepala dua masih cukup muda untuk mencoba berbagai hal.
Stasiun Bogor, Hujan. 18 February 2016.
