Rehat Sejenak

Agaknya untuk sementara ini gue bakal hiatus dulu. Cukup banyak yang harus diselesaikan. Mungkin gue akan nulis lagi setelah kelar ambil TOEFL nanti. Well, dan mungkin akan lebih sering nulis lagi ketika TA kelar. Akhir-akhir ini gue jadi semangat lagi untuk mengejar sesuatu. Yah semoga aja berhasil, toh yang penting berusaha dulu. Hasilnya diserahkan saja kepada Allah.

Sampai jumpa.

Sejenak Waktu Untuk Menjadi Kepompong

Malam, ini agak melankolis rasanya. Karena ada yang gersang

kita semua sama, terpenjara dalam kesendirian

hanya saja,

ada yang terkurung dalam ruang gelap tanpa cahaya

sementara yang lain menghuni kamar berjendela.

-Kalil Gibran

ya, kubaca lagi firmanNya, “sungguh tiap mukmin bersaudara”

aku makin tahu, persaudaraan tak perlu dirisaukan

karena saat ikatan melemah, saat keakraban kita merapuh

saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan serasa siksaan

saat pemberian bagai bara api, saat kebaikan justru melukai

aku tahu, yang rombeng bukanlah ukhuwah kita

hanya iman-iman kita yang sering sedang sakit, atau mengerdil

mungkin dua-duanya, mungkin kau saja

tentu terlebih sering, imankulah yang compang-camping

-Salim A . Fillah

Kedua untaian kata-kata indah itu gue dapet dari bukunya Ust. Salim A Fillah. Gue kembali lagi membaca bukunya beberapa hari yang lalu. Buku lama sebenernya, hanya saja gue rasa diri ini butuh ‘asupan’ itu lagi.

Ukhuwah adalah akibat dari keimanan manusia, itu yang gue coba pahami sekarang. Atau yang sebenarnya telah gue coba pahami bertahun-tahun lalu. Beberapa tahun yang lalu, kayaknya ketika gue masih SMA, gue pernah menerima pesan dari seorang sahabat gue, di akhir pesannya tertulis sebuah kalimat dengan Bahasa Arab. Saat itu gue nggak ngerti isinya apa, lalu gue bertanya

“err sorry itu artinya apa ya?”

“aku mencintaimu karena Allah”

Well, saat itu gue nggak paham juga maksudnya gimana. Gue bener-bener nggak bisa mencari korelasi di antara keduanya. Cinta seorang sahabat yang dikarenakan Allah. Gue mengerti secara harfiah tapi tak memahami seperti apa rasanya “mencintai karena Allah” itu. Akhirnya gue nggak memikirkannya lebih jauh.

Lalu akhir-akhir ini entah kenapa gue merasa ada yang rombeng dalam hubungan gue dan seorang sahabat yang lain. Entahlah, gue sendiri nggak mengerti. Lalu gue ingin memberi jeda, untuk memperbaiki diri, karena mungkin “…imankulah yang compang-camping..”. Awalnya gue nggak berpikir sejauh ini, bahwa ukhuwah adalah akibat dari iman.

Awalnya gue hanya berpikir, bahwa kita sudah terlalu jenuh pada diri masing-masing. Lalu kita menjadi bosan. Gue juga nggak mengerti, apakah sahabat gue ini berpikir hal yang sama dengan gue. Ini semua hanya asumsi yang gue simpan dalam kepala gue. Awalnya gue berpikir untuk agak menarik diri. Karena terkadang, layaknya mata, kita perlu memberikan jarak yang cukup untuk dapat melihat dengan jelas. Meninggalkan sahabat gue tentu bukan solusi yang tepat, karena tali persahabatan itu nggak boleh putus. Tapi tetap dalam keadaan begini juga adalah sesuatu hal yang nggak mengenakkan. Walau secara jelas nggak ada pertikaian yang terjadi diantara kita, tapi rasanya ada yang berbeda, tak lagi hangat gue kira.

Talk about your own mistakes before critisizing the other person

-Dale Carnegie-

Gue rasa memang, semuanya kembali lagi pada diri kita. Diri gue lebih tepatnya untuk kasus ini. Alih-alih meminta orang lain untuk berubah, gue rasa lebih baik diri gue lah yang introspeksi diri terlebih dahulu. Seringkali gue bertingkah seperti anak-anak dan mengedepankan ego gue. Padahal sudah jelas ego adalah sesuatu hal yang harus gue kesampingkan. Lalu setelah membaca buku Ust. Salim A. Fillah lagi, gue mencoba lagi memahami hubungan iman dan ukhuwah ini. Mungkin memang benar, akhir-akhir ini iman gue lah yang terlalu compang-camping sampai-sampai persahabatan ini terasa gersang. Gue sendiri cukup penasaran, bagaimanakah rasanya mencintai karena Allah itu. Mencintai seorang sahabat karena Allah, bukankah itu sesuatu hal yang indah?

Tapi sampai saat ini gue nggak memahaminya, seperti apa rasanya? Bagaimana kita tahu bahwa kita telah mencintai karena Allah? Belum cukupkah iman saya untuk dapat mengerti ini?

mungkin lebih baik kita berpisah sementara, sejenak saja

menjadi kepompong dan menyendiri

berdiri malam-malam, bersujud dalam-dalam

bertafakur bersama iman yang menerangi hati

hingga tiba waktunya menjadi kupu-kupu yang terbang menari

melantun kebaikan di antara bunga, menebar keindahan pada dunia

lalu dengan rindu kita kembali ke dalam dekapan ukhuwah

mengambil cinta dari langit dan menebarkannya di bumi

dengan persaudaraan suci; sebening prasangka, selembut nurani

sehangat semangat, senikmat berbagi dan sekokoh janji

-Salim A Fillah-

Gue nggak sepandai Ust. Salim A Fillah ataupun Kalil Gibran dalam memilih dan menyusun kata. Gue juga nggak sepandai Dale Carnegie dalam membaca perilaku seseorang. Oleh karena itu gue hanya mengutip dari tulisan-tulisan mereka dan menambah beberapa kalimat sederhana dalam tulisan ini. Tapi, malam ini gue menulis bukan untuk kepuasan pribadi seperti biasanya, tulisan ini gue persembahkan buat sahabat gue yang mungkin membacanya. Maafkanlah sahabat mu ini yang imannya sedang compang-camping, berikan waktu sejenak untuk saya memperbaiki diri, lalu kita kembali dalam dekapan ukhuwah.

Lingkaran Kecil di Jumat Siang

Hari ini hari Jumat, sejak satu semester yang lalu gue ikut mentoring lagi di kampus, setelah diajak oleh Leni, temen satu jurusan gue. Kelompok mentoring ini terdiri dari beberapa temen gue di Sipil dan Kelautan. Kakak mentor gue anak Lingkungan 2009, Teh Ami namanya.

Tadi siang, entah kenapa gue agak berat dateng ke mentoring. Gue sengaja berlama-lama di lab mektan, membuka dan menutup browser untuk mencari hal-hal yang sebenarnya tidak begitu mendesak untuk dicari. Berat rasanya untuk berjalan ke tempat kita melingkar seperti biasanya. Akhir-akhir ini rasanya gue emang agak payah dan setan agaknya berhasil memperdayai gue. Tapi pada akhirnya gue berangkat juga, setelah diajak oleh temen-temen dan Latin cerita tentang kisah iblis yang selalu berusaha menggoda manusia.

Lalu gue berangkat dan melingkar bersama yang lain. Awalnya nggak ada perubahan yang berarti pada mood gue tadi siang. Seperti biasa, kami tilawah bergilir. Lalu Leni punya kisah tentang seorang ibu yang sangat memikirkan kepentingan orang lain di kala keadaan yang sulit. Setelah itu Yaya menceritakan kisah seorang muslim di zaman Sultan Murad yang meninggal secara khusnul khotimah walau tanpa sepengetahuan siapa pun. Mentoring mengalir saja seperti biasanya, perlahan-lahan mood gue kembali membaik. Tersenyum lalu tertawa. Rasanya ada beban yang mendadak hilang. Melihat Kakak Mentor gue yang senyumannya sangat teduh, terkadang membuat gue berpikir “Kapan gue bisa jadi seperti beliau”.

Lalu di tengah-tengah mentoring tadi Rina menunjukkan suatu hadist

Rasulullah SAW bersabda:

Barang siapa yang bangun dipagi hari dan hanya dunia yang dipikirkan, sehingga seolah-olah ia tidak melihat hak Allah dalam dirinya (tidak berdzikir) maka Allah akan menanamkan 4 penyakit :

1. kebingungan yang tidak putus-putusnya

2. kesibukan yang tiada ujungnya

3. kebutuhan yang tidak terpenuhi

4. khayalan yang tidak berujung

(HR Muslim)

Pas baca ini gue jadi tersadarkan banget. Setiap pagi, kalau gue bangun yang gue pikirin biasanya duniawi banget: hari ini kegiatannya ngapain aja, apa yang lupa dikerjain kemarin, nanti mau nyuci atau laundry aja, ada tugas apa aja, kuliah apa dan lain sebagainya.

Mentoring tadi menyadarkan gue lagi akan suatu hal yang krusial

“Hey Bil, tujuan hidup lu itu bukan di dunia yang fana ini tapi di akhirat yang kekal”

Terkadang, atau bahkan seringkali gue lupa akan hal ini, mengejar dunia yang nggak ada habisnya. Setelah selesai satu kesibukan, lalu muncul kesibukan yang lain. Atau sebenarnya kita tidak terlalu sibuk tapi seolah-olah amat sangat merasa tersibukan oleh dunia.

Allah selalu punya cara untuk mengingatkan hambaNya dan gue bersyukur karena bersama teman gue yang mengingatkan untuk mentoring tadi siang. Satu hal yang gue syukurin adalah adanya lingkaran kecil ini, yang berkumpul setiap hari Jumat. Walau gue bukan apa-apa dibanding yang lain. Gue selalu bersyukur karena adanya lingkaran ini selalu mengingatkan gue untuk lebih dekat dengan Allah.

Gue mungkin tergolong newbie dan terkadang agak bingung harus memulai dari mana. Sering kali khilaf. Gue juga kadang berpikir kapan gue bisa jadi seperti mereka yang berwajah teduh dan gue benar-benar takut kalau-kalau gue terjangkiti 4 penyakit yang telah disebutkan diatas. Semoga Allah selalu menjaga lingkaran kami ini agar bisa saling mengingatkan.

Lalu ketika kita lelah dan nggak tau kemana lagi harus mengadu. Allah selalu ada untuk kita. Selain masalah TA gue juga kepikiran sama kondisi negara kita yang menurut gue lagi bergejolak sih. Mulai dari pilpres yang rame, liberalisasi sektor migas, calon Kapolri yang ditetapkan tersangka oleh KPK, dan barusan banget wakil ketua KPK yang mendadak ditangkap dengan tuduhan memberikan kesaksian palsu. Gue tadi siang juga berpikir: ini negara kita mau dibawa kemana sebenarnya oleh mereka-mereka ini. Yah, pada akhirnya kita memang cuma bisa berharap sama Allah. Gue sangat yakin bahwa Allah akan menunjukkan yang benar itu benar dan yang salah itu salah pada akhirnya. Sekali lagi, dunia ini cuma fana dan sementara, akhiratlah yang kekal. Allah selalu bersama mereka yang berjuang di jalanNya dan semoga mereka yang berjuang di jalanNya mendapatkan kekuatan untuk terus istiqomah.

Solo: Kota Asik buat Hunting Makanan Enak

Sabtu kemarin gue ke Solo buat nengokin eyang gue tercinta. Gue berangkat dari Jakarta bareng Nyokap gue, seharusnya waktu tempuh Jakarta-Solo cuma sekitar 1 jam. Cuma gara-gara Nyokap gue orangnya super ontime dan kita udah paranoid sama macetnya Jakarta yang nggak bisa ditebak. Gue berangkat dari rumah habis Subuh, sekitar jam 5 dari Bogor. Padahal jadwal berangkatnya jam 9.30. Kita nyampe Solo sekitar jam 11 lewat, gara-gara ngantri agak lama di runway. Soekarno Hatta emang udah padet banget men. Jadi kalau ditotalin dari Bogor nyampe Solo, termasuk waktu tunggunya, kira-kira ada sekitar 7 jam. Hampir sama kayak gue pas balik dari Solo-Bandung naik kereta yang waktu tempuhnya sekitar 9 jam.

Di Solo kemarin gue nggak sempet jalan-jalan buat wisata kuliner karena emang cuman bentar banget disana. Tapi yang jelas gue nggak melewatkan nasi liwet favorit Bokap gue dan wedangan di Pak Harno yang lagi-lagi favorit Bokap gue. Nasi liwet yang jadi favorit Bokap gue ini letaknya di samping Solo Square. Kalau rumah eyang gue ada di sebelah barat Solo Square, Nasi Liwet ini ada di sebelah timurnya. Jualnya pagi-pagi dan super duper ngantri apalagi kalau lagi musim-musim mudik. Gue nggak tau nasi liwet apa namanya, soalnya si Ibunya cuma bawa dagangannya di bakul gitu (atau apasih? pokoknya mirip-mirip yang dibawa tukang jamu gendong). Nah nasi liwet itu mirip-mirip sama nasi uduk lah, cuma lebih basah gitu, nggak sekering nasi uduk teksturnya. Yang jelas nasi liwet Solo sama Sunda itu beda. Nasi liwet Sunda lebih kaya bumbu. Nasi liwet Solo ini disajikan pake sayur pepaya muda, telur, ayam kukus dan areh santan. Gurih lah pokoknya dan lu kalau ke Solo harus banget nyobain nasi liwet ini.

Nah, kalau wedangan itu mirip-mirip angkringan kalau di Jogja. Di Bandung lu juga bisa nemuin angkringan biasanya cukup banyak di deket kampus-kampus gitu. Di sekitar kampus gue aja ada sekitar 4 angkringan. Nah kalau di Solo gue punya langganan wedangan. Namanya, Wedangan Pak Harno. Kata Bokap gue disana Teh nya enak, kalau kata orang jawa teh yang enak itu ginastel (legi panas kentel) yang bisa diartiin manis, panas dan kental. Karena gue nggak begitu bisa membedakan rasa teh tubruk satu sama lain, jadi gue nggak begitu paham. Kalau favorit gue di wedangan sih wedang jahenya. Gue nggak ngerti kenapa selera gue kayak orang tua gitu. Menurut gue wedang jahenya cukup mantep sih, jahenya terasa banget gitu. Di wedangan ini nggak kita nggak cuma minum aja, Pak Harno punya banyak pilihan makanan buat nemenin kita minum. Dari aneka sate-satean, gorengan, nasi kucing, sampe burung puyuh goreng. Biasanya gue ke wedangan ini bareng Om, Bokap atau Kakak gue. Nggak ada salahnya kalau nyari wedangan ke Solo mampir ke sini, wedangan ini ada di Jalan Adi Sucipto.

Kalau ngomongin kuliner di Solo emang macem-macem banget, sayang kemarin gue nggak sempet kemana-mana karena keterbatasan waktu. Ada beberapa tempat makan yang recommended lain kalau melancong ke Solo nih.

1. Bebek Haji Slamet

Mungkin sebagian dari kita udah sering banget liat ini, di Bogor, Bandung, Jakarta, BSD dan kota lain juga udah banyak juga cabangnya. Tapi di sini lah pusatnya men, letaknya di Kartasura, Solo agak kepinggir dikit. Menurut gue di sini lah yang paling enak. Walau rasanya pasti ada standarnya, lu bakal bisa merasakan bedanya kalau makan disini. Favorit gue nomer wahid kalau ke Solo. Lu harus dateng pagi-pagi kalau nggak mau kehabisan ceker gorengnya. Makan bebek sambil ditemenin es beras kencur juga gue rekomendasikan.

2. Timlo Sastro

Nah, ini favorit gue yang lain, Timlo Sastro ini terletak di Pasar Gede. Dari pertama kali gue ketemu timlo ini gue langsung jatuh cinta. Timlo ini semacam Soto gitu, bumbu kuahnya minimalis, didalamnya lu bisa nemuin irisan sosis solo, ati ampela, dan telur pindang Seger deh pokoknya.

3. Soto Gading

Kalau Nyokap gue sukanya Soto Gading ini. Tempatnya di Jl. Brigjen Sudiarto. Tempatnya cozy, kayak di rumah tua gitu dan pake meja-meja kayu besar. Rame banget dan paling cocok dipake sarapan. Selain soto ayamnya yang nyus banget banget. Di sini juga banyak lauk tambahan yang disajiin di meja-meja. Mulai dari aneka sate-satean, tempe tahu goreng, sosis solo, empal, perkedel dan kawan-kawan.

4. Soto Triwindu

Berbeda dengan Soto Gading yang menyajikan soto ayam, Soto Triwindu ini menawarkan semangkung soto daging yang melegenda. Soto Triwindu ini nggak kalah ramenya sama Soto Gading. Disini juga menyajikan banyak lauk tambahan di setiap mejanya. Lu harus dateng pagi-pagi banget kalau nggak mau kehabisan paru gorengnya.

5. Tahu Kupat Masjid Solihin

Sesuai namanya Tahu Kuppat ini letaknya di deket Masjid Solihin, Nah kalau ini mungkin agak sulit ditemuin di kota-kota lain. Tahu kupat Solo ini mirip sama kupat tahunya Magelang. Bedanya kalau di Solo di bumbunya ditaburin kacang goreng, kalau di Magelang kacangnya diulek sama bumbunya. Tapi yang jelas beda banget sama kupat tahu di Bogor atau Bandung. Tahu kupat ini isinya tahu, ketupat, bakwan, mie kuning, kol dan telur dadar. Terus bumbunya kayak bumbu yang pake kecap manis gitu. Sebenernya di depan rumah eyang gue juga sering ada yang keliling gitu, tapi akhir-akhir ini gue juga nggak pernah liat lagi Bapaknya kemana.

6. Susu Segar Shi Jack

Sampe sekarang gue nggak ngerti Shi di depan namanya Jack itu maksudnya apa. Ini adalah tempat susu segar yang wajib banget didatengin gue dan sepupu kalau pas lagi mudik. Minimal kita sekali kesana tiap lagi mudik. Dan orderan gue dari masih SD sampe sekarang nggak berubah: Es Susu Coklat. Susunya enak dan kayak di wedangan, Shi Jack punya banyak cemilan asik buat nemenin kita minum susu segar. Aneka sate-satean, gorengan, baceman, sosis solo, roti dan pisang bakar dan juga telur setengah mateng. Shi Jack juga punya banyak banget menu minuman, yang jelas pake susu semua. Recommended buat anak-anak wkwkwk.

Sebenernya masih banyak sih kuliner asik di Solo, kayak Selat Solo, Serabi Notosuman, Dawet Selasih di Pasar Gede, Sate Ayam Pak Banjir, Bakso Pak Pawiroredjo dan lain-lain. Yah gue pribadi nggak pernah sih pas liburan atau mudik bisa kena semuanya. Karena keterbatasan waktu buat hunting makanan. Tapi pokoknya yang diatas itu yang gue rekomendasikan pribadi buat dicari kalau lagi nyasar di Solo.

Oke, Sekian

Pra Semester Delapan

Ini hari kedelapan gue di Bandung, pasca liburan. Persiapan praktikum mektan udah jalan enam hari, gue nggak ngerti sama anak-anak di angkatan gue yang bikin ngakak terus. Selama penataran ini kayaknya gue nggak berhenti ketawa, ada-ada aja yang dilakuin, dan gue semakin yakin kalau kita-kita emang butuh penataran dulu sebelum praktikum. Kenapa? Yaah mungkin kalau nggak ada penataran ini, di hari pertama praktikum kita bisa nggak sengaja ngeledakin lab.

Setelah keluar nilai Perpol kemarin, akhirnya semester 7 resmi berakhir. Rencana studi gue yang super sepi dibandingin semester-semester sebelumnya juga udah disetujuin sama dosen wali gue. Dan minggu depan, semester 8 udah dimulai. Jadi mahasiswa tingkat akhir gini emang sensainya beda. Setiap ketemu orang udah mulai ditanyain pertanyaan yang agak butuh mikir dikit buat jawabnya. Kayak

“Lulus kapan?”

“Masih di Bandung?”

“Udah mulai TA?”

atau kalau di rumah, ditanyain Bokap Nyokap kayak gini

“jadi udah dapet judulnya dek?”

“gimana TAnya? udah mulai cari-cari bahan?”

“udah konsultasi lagi sama Pak Endra?”

Pokoknya dua huruf itu selalu mengusik pikiran gue, si TA itu, setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik, tapi yaaah gitu deh tetep aja. Senin lalu, gue udah ketemu lagi sama Pak Endra dan nentuin judul. Dan di hari berikutnya gue udah dikasih bahan seabrek sama Kak Yulisa, anak S2 yang tesisnya hampir sama kayak rencana TA gue. Progress gue rasanya masih agak lamban sih, kayak keong, rasa-rasanya gue harus mempercepat diri gue. Yang suka bikin nggak tenang adalah ketika lu udah mulai liat foto temen-temen seangkatan lu yang terpampang di timeline udah make selempang yang ada nama dan gelarnya…atau liat  temen lu yang nyetatus tentang seminar proposalnya. Sedangkan gue baru dapet judul beberapa hari yang lalu, errrrr.

Yaudahlah dinikmatin aja sih, kayaknya si TA ini emang menuntut kita untuk bener-bener mandiri. Semua-muanya harus atas kesadaran sendiri. Kalau kita males-malesan ya dadah banget deh sama TA. Yaaah pokoknya mulai saat ini gue harus semangat, karena di luar sana temen-temen gue satu persatu udah meraih gelarnya.

Tapi segala pertanyaan yang dilontarkan orang-orang tentang TA itu nggak ada apa-apanya sih dibanding pertanyaan pamungkas yang satu ini

“Mbak Bella udah punya pacar?”

“errrrr……”

Kalau dulu gue jawab pertanyaan ini dengan santainya pake jawaban

“Wah aku masih anak-anak Tante”

Gue rasa gue udah nggak bisa pake jawaban itu lagi. Gue udah 21 nyaris 22 malah, yakali masih anak-anak. Walau kenyataan agak berat, kayaknya harus gue akuin kalau gue udah dewasa. Kayaknya di umur-umur segini emang banyak pilihan-pilihan hidup yang akan kita ambil. Kayak lu mau kemana habis lulus, lu mau jadi apa, atau apa yang lu cari. Pilihan-pilihan ini menurut gue bakal punya pengaruh yang cukup besar buat kehidupan kita nantinya. Mulai sekarang gue juga nggak mau lagi jawab pertanyaan-pertanyaan orang dengan jawaban

“sorry gue masih anak-anak”

Childish banget lah itu! Wkwkwkwk. Udah nggak main deh gue sama itu jawaban. Pada akhirnya semua orang tumbuh dewasa. Kenyataannya adalah

  1. Peter Pan itu nggak ada
  2. Neverland itu sama fiktifnya kayak Peter Pan
  3. Peter Pan dan Neverland cuma karangan Kakek J.M Barrie

Jadi yaudah, sebagai manusia dewasa kita harus mengambil pilihan dan bertanggung jawab atas pilihan kita. Asiiiik hahaha. Kita nggak bisa lagi mengelak dari tanggung jawab. Dan salah satu tanggung jawab yang diberikan oleh Nyokap Bokap gue adalah lulus dari kampus ini dengan baik-baik. Jadi ya Bismillah deh, dengan TA gue ini. Semoga semuanya baik-baik aja 😀

****

Wait..

But the holiday isn’t over yet!!! Yipppii. Karena Sabtu ini gue mau ke Solo. Ke tempat Eyang sembari ngeliat proyek KP gue tercinta. Udah sampe mana, syukur-syukur kalau udah dibuka. Oke, selamat sore

Achievement Unlocked: Gasibu

Gue udah di Bandung nyaris 4 tahun, dan tadi pagi adalah pertama kalinya gue ke Gasibu di hari Minggu. Kalau lewat doang mah udah sering. Kayaknya hampir semua orang juga tau di Gasibu itu ada semacam pasar kagetnya gitu setiap hari Minggu. Dulu pas pertama kali gue menginjakkan kaki di Bandung, kakak gue pernah bilang kalau di Gasibu itu banyak pencopet, jadinya gue nggak berani kesana. Kurang lebih percakapannya kayak gini

“Mas Gasibu itu isinya apa aja mas?”

“Yaah gitu aja dek, banyak pencopetnya lagi, udah nggak usah kesana”

“Hmmmm gitu”

Tapi ya keles 4 tahun kuliah di sini nggak pernah ke Gasibu sama sekali. Tetep aja gue penasaran, makin dilarang, makin penasaran wkwkwk. Jadi akhirnya gue minta ditemenin temen-temen gue kesana tadi pagi. Terimakasih Fitri dan Latin 😀

Achievement unlocke

Ternyata emang penuh banget men, kayak pas Pasar Seni gitu, lu jalan sambil nyenggol orang di kanan kiri lu. Tapi sekarang pasar kagetnya udah nggak di Gasibu nya banget. Sekarang semuanya terpusat dari depan Telkom sampe Monumen Perjuangan. Kata temen gue, dulunya di tengah-tengah Gasibu nya juga ada yang jualan, bahkan di depan Gedung Sate. Nah kalau sekarang semuanya dikumpulin di depan Telkom sampe Monumen itu. Di Gasibu nya sendiri sekarang bersih dari penjual dan bisa dipake olahraga.

Di Gasibu itu kita bisa nemuin macem-macem banget. Kayaknya lu nyari apa aja ada. Dari perabotan, peralatan rumah, baju sampe sayuran, Harganya juga terjangkau banget buat mahasiswa. Bayangin aja men, masa lu bisa beli kaos kaki 3 pasang cuma 5 ribu rupiah. Kalau gue dikasih uang 5 ribu dan disuruh bikin kaos kaki, kayaknya jadi sebelah aja nggak. Terus tadi ada yang kocak banget, sayang gue nggak bawa kamera. Jadi ada tukang jualan jaket gitu dan untuk nunjukin kalau kainnya bener-bener waterproof dia naruh air yang ada ikannya di atas jaketnya itu. Hahaha ada ikannya loh. Errr biasa aja ya? lu harus liat langsung sih sebenernya.

Tapi bagus juga sih ide buat mengumpulkan si penjual-penjual ini di tempat yang baru sekarang. Di akses masuknya si pasar kaget itu, di depan Telkom, ada tulisannya “Pasar Minggu Monju”. Monju ini maksudnya Monumen Perjuangan men. Menurut info yang baru aja gue dapet, ternyata Pasar Minggu Monju ini baru diresmiin sama Ridwan Kamil pertengahan November tahun lalu. Karena penjual-penjualnya dipindahin ke tempat yang baru, Gasibu jadi bebas dari penjual dan begitu juga Gedung Sate. Jadinya bersih gitu deh, apalagi trotoar di depan gedung sate juga makin oke karena taman-tamannya diperbaiki.

Sejak rezimnya Kang Emil ini banyak taman-taman yang diperbaiki atau bahkan bikin taman-taman baru. Taman Lansia yang di deket Cisangkuy juga sekarang ada kolam retensinya. Wah ketce lah, tapi kenapa ya namanya Taman Lansia? gue juga nggak tau sih itu. Kapan-kapan deh kalau kesana lagi gue tanyain ke Bapak-bapak yang jaganya.Okeee, sekian. Selamat hari Minggu.

Let’s Build a Town!!

Beberapa bulan lalu, sekitar 6 bulan yang lalu kayaknya, gue penasaran pengen nyari alat berat errr lebih tepatnya miniatur alat berat. Sebagai mahasiswa yang belum bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tentu gue nyari yang harganya terjangkau. Tadinya gue sempet buka-buka ebay buat nyari die castnya Cat (Caterpillar) dan pas liat harganya, ternyata kurang asik. Sekitar 700 ribuan sampe 1.5 jutaan. Tadinya gue udah agak males gitu deh. Sampe suatu ketika gue lagi window shopping dan ketemu sama yang namanya Tomica. Tomica ini keluarannya Takara Tomy dan harganya cukup affordable buat kantong mahasiswa.

Tomica ini punya banyak series, beberapa diantaranya Tomica Reguler, Tomica Limited, Tomica Long dan juga  Dream Tomica. Tomica Reguler bisa dibilang common seriesnya Tomica. Seri ini yang paling banyak dijumpai di toko-toko mainan dan harganya juga yang paling bersahabat. Di Tomica Reguler ini kita bisa nemuin macem-macem banget dari SUV, Bus, Truck sampai Heavy Equipment. Kalau Tomica Limited bisa dibilang versi yang lebih detail dari Tomica Reguler (tapi nggak semua Tomica Reguler ada di Tomica Limited dan begitu juga sebaliknya). Perbedaan yang mencolok biasanya di bagian velg sama rodanya. Sedangkan Tomica Long sederhananya adalah Tomica Reguler buat kendaraan yang punya dimensi lebih panjang kayak trailer ataupun lokomotif. Terakhir, Dream Tomica adalah series yang bentuknya mengadopsi dari karakter-karakter tertentu kayak Transformers, Batmobile, Thomas bahkan sampai Pokemon.

Well, awalnya niat gue cuma ngumpulin heavy equipmentnya Tomica. Sampe suatu ketika gue web surfing dan buka webnya Tomica lalu nemuin yang namanya Tomica Town men. Nah, Tomica Town ini isinya macem-macem banget, ada road set, pom bensin, minimarket, kantor polisi sampai site konstruksi. Intinya lu bisa ngebangun kota gitu. Keren banget lah pokoknya.

Dari Kecil, mimpi gue salah satunya itu punya diorama sendiri dan akhirnya gue menemukan Tomica Town ini. Awalnya cuma berburu alat berat doang, lama-lama merambah yang lainnya. Meja belajar gue akhirnya beralih fungsi jadi tempat nyimpen kota liliput ini. Yaah tapi gue masih newbie, jadi kota gue masih sepi.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

TOMICA TOWN

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

TOMICA TOWN

(Dokumentasi Pribadi)

Nggak tau kenapa gue suka aja ngumpulin ini. Terus karena nyari  Plakids agak susah, sebagai penggantinya gue pake Mighty Beanz dari koleksi gue. Kayaknya kalau ditambahin Plarail bakal makin asik. So, lets build the Town!!

Mahasiswa dan Integritas

IntegrityGue rasa hampir dari kita semua tahu bahwa salah satu peran mahasiswa adalah sebagai agent of change. Dimana kita sebagai mahasiswa ini diharapkan menjadi agen yang membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Kalau kita lihat sejarah kepemudaan di Indonesia, kita tidak dapat mengingkari bahwa kelompok pemuda memiliki peranan penting dalam perjuangan kemerdekaan dan juga pasca kemerdekaan di negara ini. Pemuda seolah menjadi motor-motor dalam setiap pergerakan yang terjadi.

Kita tak perlu menjadi Sjahrir atau Hatta untuk membawa perubahan. Kita sebagai mahasiswa dapat menjadi motor-motor pergerakan pada zamannya yang membawa negara ini ke arah yang lebih baik. Bukanlah tidak mungkin kita dapat membereskan mereka-mereka yang mengacau di Senayan.Tidak dapat dipungkiri juga bahwa suatu hari nanti akan tiba giliran generasi kita yang akan menggantikan mereka-mereka di sana.

Ketika tiba waktunya, sudah siapkah kita? Ketika tiba waktunya, apakah kita masih bertahan dengan idealisme yang kita agung-agungkan saat ini? Well, mungkin itu terlalu jauh. Mungkin sebaiknya saat ini kita merefleksi diri kita terlebih dahulu. Apakah kita saat ini masih berpikir ideal? apakah kita masih memegang teguh integritas? Atau keidealan sesungguhanya hanya berada di dunia utopia?

Integritas adalah suatu hal harus dipegang teguh oleh tiap-tiap individu. Mahasiswa tentu termasuk di dalamnya. Sebagai agent of change dan juga role model, integritas adalah harga mati yang harus dipegang oleh mahasiswa. Bagaimana kita mau membereskan mereka yang korup jika diri kita masih menggadaikan integritas? apa bedanya? Bagaimana kita mau menggantikan mereka yang di Senayan jika saat ini saja kita sudah membelot dari kata ideal? Seharusnya kita juga sadar bahwa kita tidak lagi memiliki legitimasi untuk mengkritik mereka-mereka yang korup ketika integritas kita telah digadaikan.

Menurut KBBI, Integritas diartikan sebagai suatu mutu, sifat atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran. Jadi integritas merupakan suatu sifat yang berkaitan erat dengan kejujuran. Sebagai manusia yang dewasa gue rasa kita memiliki pemahaman yang sama antara perbuatan mana yang jujur dan tidak. Kita tahu itu, namun mengapa masih saja ada diantara kita yang jelas-jelas mengetahui bahwa suatu tindakan, sorry sebut saja mencontek, merupakan tindakan yang tidak jujur namun masih saja melakukannya? Kita sama-sama tahu itu salah, namun beberapa dari kita tetap melakukannya. Tentu ada banyak alasan di balik itu, entahlah seberapa banyak, namun yang jelas kita telah membohongi diri kita sendiri. Lalu kemana larinya integritas kita? Apakah kita masih (benar-benar) dapat mengkritik para koruptor-koruptor dengan vokalnya?

Tidak ada manusia yang ideal di dunia ini, tidak ada yang sempurna. Dunia dimana semuanya berjalan dengan ideal hanyalah khayalan utopis belaka. Tapi setidaknya kita masih bisa mencoba bertahan dengan idealisme kita atau kita akan membiarkan diri kita terseret arus entah kemana. Kita tidak juga dapat menghakimi seseorang saat ini, karena waktu dapat merubah segalanya. Hitam dan putih sebenarnya sudah jelas, lalu kita dibiarkan memilih, kita sudah dewasa. Tapi yang jelas, kita sebagai mahasiswa seharusnya sadar betul akan peran kita sebagai agen perubahan. Pada gilirannya generasi kita lah yang akan melakukan perbaikan bagi negara ini, pada gilirannya generasi kita juga yang akan menggantikan para pemimpin negeri. Kita sudah lelah melihat koruptor hidup bermewah-mewahan, di lain sisi masih ada anak-anak yang tak sempat mengenyam pendidikan di luar sana. Indonesia butuh pemimpin-pemimpin yang menjunjung tinggi integritasnya, negara ini butuh pemimpin-pemimpin yang berani berkata tidak pada kebatilan. Oleh karena itu ini lah saatnya kita untuk merefleksi dan memantaskan diri. Mari kita perbaiki diri terlebih dahulu, lalu kita koreksi habis-habisan terhadap mereka yang mengacau di negara ini

Sistem Ekonomi Liberal, Siapkah Kita?

Sejak 1 Januari 2015 kemarin harga premium yang awalnya Rp. 8500 /liter diturunkan menjadi Rp. 7600 /liter. Setelah sebelumnya pada 18 November 2014 lalu harga premium telah dinaikan dari Rp. 6500 /liter menjadi Rp. 8500 /liter. Turunnya harga premium ini dikarenakan harga minyak dunia yang terus turun. Pemerintah juga menyatakan telah mencabut sepenuhnya subsidi untuk premium ini, sedangkan untuk solar dan minyak tanah masih mendapat subsidi sebesar Rp. 1000 /liter. Semua harga bahan bakar ini nantinya akan mengikuti mekanisme pasar dan harganya dapat berubah-ubah. Harga bahan bakar yang dilemparkan sesuai mekanisme pasar ini agaknya menjurus ke sistem ekonomi liberal dimana ekonomi diatur oleh kekuatan pasar. Jadi semuanya tergantung supply and demand. Sehingga harga dapat naik turun dari waktu ke waktu. Bukankah ini artinya pemerintah telah melakukan liberalisasi sektor migas yang menyangkut hajat hidup orang banyak?

Well, dengan dicabutnya subsidi ini tentu berimplikasi luas terhadap rakyat. Premium sendiri adalah salah satu barang yang paling dibutuhkan oleh masyarakat dan jika harganya ditentukan oleh mekanisme pasar yang begitu dinamis, maka fluktuasi harga yang terjadi dapat mempengaruhi ketidakstabilan harga komoditas yang lain. Menurut gue Pemerintah tidak dapat sepenuhnya melemparkannya pada pasar dan diperlukan intervensi pemerintah di sini. Kebijakan pemerintah ini emang menumbuhkan berbagai opini di publik, apakah pemerintah mulai mengarah pada sistem ekonomi liberal dan lain sebagainya

Satya Yudha, anggota Komisi VII DPR RI fraksi Golkar, berpendapat bahwa Pemerintah telah melanggar Pasal 33 UUD  1945 yang berbunyi “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung dalam bumi adalah pokok-pokok kemakmuran rakyat. Sebab itu harus dikuasai Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat“. Sedangkan Sudirman Said, Menteri ESDM, berpendapat bahwa mereka tidak melanggar konstitusi karena nantinya harga dasar BBM akan ditentukan dan diumumkan setiap awal bulan. Sehingga Pemerintah tidak sepenuhnya menyerahkan pada mekanisme pasar. Tapi menurut gue pribadi tetap saja pasar punya andil yang besar dalam penentuan harga nantinya.

Lalu jika memang menganut sistem liberal apakah negara kita siap? Sebenernya negara kita pernah menganut sistem ini pada masa pemerintahan Soekarno tahun 1950 sampai 1957. Sistem perekonomian saat itu mengikuti mekanisme pasar sesuai dengan teori ekonomi klasik yang menyatakan laissez faire laissez passer. Frasa yang berarti biarkan terjadi, biarkan lewat  ini memiliki maksud bahwa segala kegiatan ekonomi diserahkan ke pasar dan intervensi pemerintah sangat minim. Padahal kondisi perekonomian Indonesia saat itu masih sangat buruk ditambah oleh adanya inflasi yang tinggi serta blokade ekonomi yang dilakukan oleh Belanda. Ketika kebijakan ekonomi liberal ini ditetapkan, pengusaha-pengusaha pribumi juga masih sangat lemah dan tidak dapat bersaing dengan pengusaha nonpribumi. Pada akhirnya sistem ini hanya memperburuk keadaan. Setelah itu sistem perekonomian Indonesia berubah total ketika negara kita menganut demokrasi terpimpin menjadi cenderung menganut sistem etatisme.

Saat ini ketika Indonesia telah nyaris berusia 70 tahun, rasa-rasanya negara kita dihadapkan lagi oleh hal yang sama: kecenderungan ke arah sistem ekonomi liberal. Jika tidak dilakukan dengan hati-hati dan pemerintah tidak mengintervensi sama sekali, kebijakan pemerintah ini akan menimbulkan banyak dampak negatif diantaranya timbulnya monopoli, gejolak ekonomi serta adanya persaingan yang tidak sehat di masyarakat. Jika ini terjadi maka akan timbul berbagai masalah lainnya dan yang paling serius adalah semakin meningkatnya kesenjangan ekonomi antar masyarakat.

Tahun Baru: Apakah Perlu Resolusi Baru?

Ternyata emang bener gue sempet hiatus beberapa hari ini karena ada sepupu-sepupu gue. Mereka masih kecil-kecil, jadi masih suka nempel-nempel gitu sama gue. Jadinya gue nggak sempet nulis hahaha. Tapi nggak papa, terimakasih buat mereka yang udah liburan di rumah gue, jadinya rumah gue nggak sepi-sepi banget. Yaaah, nyaris tiap liburan sekolah rumah gue emang sering dijadiin tempat liburan sepupu-sepupu gue, mungkin karena Nyokap gue anak tertua atau karena mereka ngefans berat sama kakak sepupunya.

Liburan kali ini bakal berlangsung singkat. Rencana gue ke Solo agaknya diundur karena minggu depan gue harus balik ke Bandung buat penataran Mektan. Jadi gue menghabiskan liburan ini di Bogor dan sekitarnya, kumpul sama keluarga dan bertemu kawan-kawan lama. Lucu juga kalau ketemu temen-temen SMP atau SMA, pembicaraan kita nggak jauh dari masa depan. Mulai dari nanyain kapan lulus, habis lulus mau ngapain, mau nikah kapan, mau jadi wanita karir atau nggak dan lain sebagainya. Waktu emang berlangsung cepat, padahal rasa-rasanya baru kemarin kita ketemu mereka di kelas, pergi ke kantin bareng atau saling ngeledekin kalau ada yang lagi ngecengin orang.

***

Well, dan sekarang udah tahun 2015. Tahun baru biasanya ditandai dengan resolusi baru. Gue sendiri, termasuk orang yang suka bikin resolusi, biasanya sih gue bikin resolusi itu setiap pergantian tahun sama pergantian semester. Jadi ada dua: Resolusi Awal Tahun dan Resolusi Tengah Tahun. Well, walaupun nggak semua resolusi bisa tercapai, seenggaknya dengan bikin resolusi ini, kita jadi semangat buat ngejar tujuan kita dan ngepush diri kita buat bisa mencapai itu. Gue pribadi sih, rasanya kayak ngecharge semangat kita lagi gitu dan mengingatkan kita akan tujuan-tujuan yang tertunda. Asik hahahaha. Perkara mau bikin resolusi atau nggak di awal tahun itu ya tergantung masing-masing orang. Tapi kalau gue sih biar  gampang aja evaluasinya. Jadi di penghujung tahun gue bisa tahu, apa-apa yang tercapai dan nggak.

Gue sendiri lebih suka menjalani hidup gue ketika gue punya tujuan yang pasti, kejaran yang harus dikejar. Gue juga suka sama orang-orang yang punya mimpi dan persistent ngejar mimpinya. Terkadang ketika gue lagi nggak semangat, cukup dengan mengetahui bahwa mereka masih bertahan dengan mimpinya aja udah bikin gue semangat lagi. Thanks to them 😀

Jadi, resolusi lu tahun ini apa Bil? Yang jelas, tahun ini gue HARUS LULUS (aamiin). Semoga TA gue baik-biak saja. Terus gue juga pengen belajar nulis. Rajin olahraga dan menjalani pola hidup yang sehat (malahan gue sempet kepikiran buat join karate lagi). Ngambil IELTS dan menyelesaikan persiapan lainnya. Yang terakhir memantapkan diri gue buat milih antara kerja dan kuliah lagi.

Nah, resolusi ini lah yang harus gue kejar tahun ini. Semoga semuanya berjalan dengan lancar