Break the Routine!

Pada akhirnya gue nyerah juga jadi komuter yang sampai rumah jam 12 malem dan besoknya harus cabut lagi jam 5.15 pagi. Yep, akhirnya gue ngekos di daerah deket proyek. Awalnya pertimbangan gue buat tetep jadi komuter Bogor-Jakarta supaya bisa ketemu nyokap bokap tiap hari. Tapi balik semalem itu gue rasa malah bikin mereka khawatir tiap hari, lagipula tiap balik dari proyek gue juga cuma ngobrol sebentar dengan mereka karena gue harus cepet tidur.

Opsi buat ngekos ini gue ambil karena banyak pertimbangan. Jadi komuter dengan ritme yang kayak gini gue rasa udah nggak optimal lagi. Jarak proyek dengan rumah gue juga lebih jauh kalau dibandingin dengan dari kantor pusat ke rumah gue. Setiap hari kurang lebih hanya tidur 3 jam, well ditambah tidur di kereta pagi sekitar 30 menit, kira-kira totalnya hanya 3.5 jam. Perjalanan pulang juga menjadi hal yang sangat melelahkan karena sudah tengah malam. Sehari-hari seolah hanya bekerja di proyek, perjalanan pulang-pergi, dan tidur saja. I love my job actually, but I wanna do something else. I hate a routine. Jadi gue rasa dengan ngekos I could save my time to do something else, kayak baca buku, doodling, nulis dan lain-lain. Seenggaknya ada selingan lain di sela-sela rutinitas gue. Just break the routine!

Banyak yang bilang kalau bekerja di proyek adalah pekerjaan yang cukup berat. Mulai dari jam kerjanya dan juga beban kerjanya. Gue masih newbie disini, jadi gue belum bisa menilai, tapi memang jam kerjanya cukup tinggi. Banyak juga yang mempertanyakan alasan gue memilih kerja di kontraktor. Gue hanya menjawab dengan jawaban yang seringkali dianggap klise: “Saya ingin mengetahui teknis di lapangannya seperti apa Pak”. Gue memang berencana untuk belajar sebanyak-banyaknya disini, karena gue menyadari bahwa pada prakteknya apa yang telah gue pelajarin selama ini sebenernya adalah suatu hal yang sangat kompleks.

Well, selain harus paham teori-teori design, kita harus tau bagaimana metodenya, bagaimana manajemen pelaksanaannya, bagaimana cara kita menyampaikan pendapat kita agar diterima dengan baik, bagaimana kita mengatur setiap bagian agar target kita dapat tercapai dan lain sebagainya. Hey! Welcome to the real world! kita dituntut buat punya both hard and soft skills. Kalau gue pribadi, gue rasa gue harus banyak-banyak belajar kedua skill ini. Gue menganggap bahwa tempat gue bekerja adalah tempat gue belajar. Walau terkadang ada beberapa hal yang sulit untuk dipelajari, it’s okay, yang penting kita udah mencoba untuk belajar, toh manusia juga punya limitnya. Untuk hard skill ya kita bisa tanya-tanya pada orang yang kita anggap sebagai mentor, siapapun yang ada disana karena mereka lebih punya banyak pengalaman. Don’t be afraid to ask question. Kalau memang kita nggak tau ya kita harus tanya. Kalau gue, biasanya cari tau dulu sendiri, terus kalau masih nggak tau ya gue tanya, pun kalau udah dapet jawabannya gue konfirmasi lagi. Selain itu kita bisa belajar dari hal-hal yang sangat sederhana, kayak ngamatin orang per orang: bagaimana cara mereka berinteraksi, bagaimana cara mereka menyampaikan pendapatnya atau bagaimana cara mereka belajar.

Nyaris semua pekerjaan itu berjalan di dalam suatu sistem, dimana satu bagian dengan bagian yang lainnya saling terkait. Tentu butuh komunikasi yang baik antar bagiannya. Disinilah soft skill sangat diperlukan. Soft skill tentu nggak hanya soal komunikasi aja, tapi juga tentang etos kerja, integritas dan semangat untuk terus belajar. Dan gue rasa di sini lah wadah untuk belajar dan menempa diri gue. So, stop complaining! anggap aja ini wadah untuk belajar.

Walau begitu gue nggak mau jadi workaholic. Karena hidup nggak hanya soal kerja, kerja dan kerja. You have  family, friends, and hobbies. Gue pengen tetap produktif dalam melakukan kegiatan sampingan gue yang lain. And yet I’m still trying to pursue my dream study in Netherlands. Well, for me dream is something that make me feel more alive. Karena ada sesuatu yang harus dikejar.

Well, barusan gue lagi ngerapih-rapihin file laptop gue dan nemu gambar yang gue bikin sekitar 4.5 tahun lalu. Ini kayaknya gue bikin pas gue baru masuk kuliah. Thanks to the old me dengan mimpinya untuk cepet lulus. Harusnya gue nemu gambar ini lagi pas TA kemarin biar semangat ngerjain TAnya wkwk. Tapi nggak papa gambar ini mengingatkan gue dengan semangat gue pas masih muda remaja dulu.

Me ft Ganesha

Oke, sekian dulu karena ada pekerjaan yang harus gue selesaikan untuk besok. Yah pokoknya prinsip gue sih be a life long learner, love your job but break the routine. Semoga setelah ngekos ini gue juga bisa nulis lebih berkala lagi.

Salam Hangat

Dream It, Plan It, Do It!!

Dulu pas gue masih sekolah salah satu cita-cita gue adalah:

” Masuk kampus gajah, lulus, terus bikin pencakar langit tertinggi di Indonesia “

Yep, sesederhana itu.

Lalu beberapa tahun belakangan, gue menganggap cita-cita gue terlalu kenakak-kanakan dan gue nggak begitu mempedulikan lagi tentang cita-cita bikin pencakar langit itu.

Setelah gue lulus kuliah dan memutuskan untuk kerja, sekarang gue masuk di salah satu perusahaan kontraktor Indonesia. Ada on job training yang harus gue lalui dulu selama 5 bulan dan di 3 bulan terakhirnya gue di tempatkan di proyek. Well, kemarin ini hari keempat gue di proyek dan ternyata gedung di proyek gue ini direncanakan untuk jadi salah satu pencakar langit tertinggi di Indonesia. Pas baru tau kemarin, gue jadi inget sama cita-cita gue dulu. So, bisa terlibat dalam proyek ini walau hanya dalam masa training, membuat gue cukup senang. Doa gue dulu telah dijawab dengan indah oleh Allah. Gue juga semakin yakin Allah tak pernah salah memilihkan jalan.

Ngomong-ngomong soal proyek, ritme kehidupan proyek cukup berbeda dibandingkan di kantor pusat kemarin. Namun gue masih bertahan menjadi komuter Bogor-Jakarta sampai saat ini. Walau baru tiba di rumah nyaris jam 12 malam dan harus berangkat pagi-pagi lagi besoknya sekitar pukul 5.30. Commuter line masih saja ramai walau sudah larut malam. Ekspresi lelah bekerja menghiasi wajah-wajah para pengguna commuter line itu, termasuk gue tentunya. Beberapa terlelap tidur kelelahan, beberapa memandangi layar hp mereka dalam keheningan dan sebagian lainnya memandangi keluar jendela, entah apa yang dilihatnya, padahal malam sudah terlalu gelap.

Walau ritme hidup harus berubah lagi, banyak hal yang bisa digali disini buat gue yang freshgrad dan belum begitu ngerti implementasi dari ilmu yang telah gue pelajari dulu. Kedengarannya klise kalau kata salah seorang manager gue. Tapi ya memang begitu adanya. Kalau kata Larry King, “kebanyakan klise itu benar”. Intinya sih dimanapun tempat kita bekerja, kita harus bisa beradaptasi dan belajar sebanyak-banyaknya.

Sekarang juga udah masuk Tahun 2016. Resolusi-resolusi tahun ini (dan untuk beberapa tahun kedepan) harus sudah mulai direncanakan. Rutinitas tanpa tujuan yang jelas akan sangat membunuh. Rencana tanpa implemetasi juga tak akan merubah apa-apa.

Akhir tahun lalu gue mulai berpikir tentang lebih banyak hal. Karena hidup tak melulu soal karir, banyak hal yang sebenarnya lebih penting. Perlahan-lahan semoga segala sesuatunya dapat diselesaikan dengan baik. Semoga di tahun 2016 ini segala rencana-rencana dapat terealisasi dengan baik. Yah pokoknya dalam hidup, menurut gue, kita harus punya mimpi atau cita-cita atau tujuan atau apapun itu. Setelah itu rencanakan. Lalu yang terpenting adalah realisasikan. Dream it. Plan it. Do it.

Be An Amateur

Lulus dari bangku perkuliahan dan masuk ke dalam lingkungan kerja yang baru, sempat membuat gue terus bertanya-tanya akan alasan gue memilih jalan ini. Well, setelah sebelumnya di semester 7 lalu gue sempat gamang antara melanjutkan sekolah lagi atau langsung bekerja setelah kuliah selesai. Pilihan yang dihadapi pasca kehidupan kuliah memang lebih beragam dibandingkan ketika lulus SD, SMP atau SMA: antara kuliah lagi atau bekerja? bila kuliah lagi akan mengambil jurusan apa dan dimana? bila bekerja akan bekerja di tempat seperti apa? apakah sesuai dengan bidang yang ditekuni saat ini atau tidak?

Sebagian orang sudah memiliki keputusan yang mantap dengan jalan yang akan diambilnya. Saat itu gue masih bingung, tak benar-benar mengerti apa yang sebenarnya gue inginkan. Nyokap gue sendiri juga sering bilang kalau gue emang banyak maunya. Setelah selang beberapa saat, berpikir dan berdiskusi dengan Nyokap Bokap, akhirnya gue memutuskan untuk bekerja terlebih dahulu disini.

Di tempat gue sekarang, gue sedang menjalani masa training selama beberapa bulan. Selama training ini gue dirolling di divisi yang berbeda dan juga di proyek. Pada awal masa training gue, gue harus beradaptasi dengan kehidupan komuter Bogor-Jakarta setiap harinya, yang kini sudah benar-benar terbiasa. Lingkungan dan irama hidup yang baru ini juga sempat membuat gue mempertanyakan apakah keputusan gue untuk bekerja ini tepat atau tidak. Keinginan untuk melanjutkan S2 juga masih berseliweran di kepala gue. Rutinitas komuter setiap hari, pergi pagi dan pulang di malam hari bisa benar-benar membuat gue menjadi robot jika gue tak punya tujuan yang berarti.

Pada akhirnya gue bertanya pada diri gue sendiri, apa yang gue mau. Kenapa gue harus S2 ke luar misalnya? apakah gue udah punya alasan yang kuat untuk itu? Sayangnya gue belum menemukan alasan yang kuat untuk diri gue. Beruntunglah buat teman-teman yang sudah punya alasan yang kuat untuk melanjutkan studinya sekarang. Meski demikian melanjutkan S2 ke luar adalah salah satu target gue dan memang saat ini belum waktunya. Hanya saja saat ini gue sedang mencari alasan yang tepat untuk itu sampai waktunya datang.

Karena memutuskan untuk menunda S2, gue memilih untuk bekerja dahulu disini. Dengan bekerja seenggaknya gue bisa belajar untuk hidup lebih mandiri secara finansial dengan tidak bergantung pada orang tua sepenuhnya. Yah nggak cuma itu aja, dengan bekerja kita seolah terjun langsung ke lapangan. Kita dapat melihat implementasi dari apa-apa yang telah kita pelajari di bangku kuliah. Intinya banyak hal yang bisa dipelajari. Gue mendapati bahwa bidang yang gue tekuni ini ternyata cukup kompleks. Sub bidang gue saat ini juga berbeda dengan apa yang gue dalami selama kuliah dulu. Jadi gue belajar banyak hal baru dan hal-hal yang sempat terabaikan semasa kuliah dulu.

Nyatanya memang kita harus terus belajar. Kalau kata Austin Kleon sih kira-kira gini “Be an amateur. Amateurs might lack formal training, but they’re all lifelong learners, and the make a point of learning in the open, so that others can learn from their failures and successes”.

Yes, life is lifelong learning, gue setuju banget. Tapi di dunia kerja kita dituntut lebih untuk belajar dan paham dengan cepat. Setiap langkah yang kita ambil juga harus memiliki dasar yang jelas. Memang sangat kompleks, karena kita bergerak di dalam suatu sistem. Buat gue yang masih newbie ini gue rasa semangat untuk terus belajar dan nggak cepet puas itu penting banget. Intinya “Stay hungry, stay foolish” kayak yang sering Steve Jobs ucapkan. Yaah kurang lebih kita harus stay eager and be ready to try new things lah.

New Chapter: Kehidupan Seorang Komuter

Sejak dua minggu lalu gue jadi seorang komuter, well yeah I commute to East Jakarta every day. I found it very tiring in my first week and I almost give up. Yep, gue nyaris menyerah ketika gue menjadi komuter di minggu pertama. Commuter line yang penuh sesak setiap pagi dan sore hari, benar-benar membutuhkan perjuangan yang lebih. Irama hidup gue pun berubah drastis dibanding jaman kuliah dulu. Gue harus datang pagi-pagi kalau mau dapet kereta yang “agak” nggak penuh. Perbaikan jalan di daerah rumah gue juga nggak kunjung selesai, sehingga kemacetan yang sangat hebat selalu terjadi di jam-jam sibuk. Kalau ditotal gue bisa menghabiskan 4-5 jam untuk pulang-pergi ke kantor setiap harinya.

4 sampai 5 jam habis di jalan bukan waktu yang sebentar dan ini terjadi pada ratusan komuter setiap harinya. Pada minggu pertama gue jujur aja agak sedikit kaget. Waktu yang berharga itu terbuang begitu saja di jalanan. Dari pada sibuk mengeluh tentang kereta yang penuh sesak atau tentang perbaikan jalan yang tak kunjung selesai, lebih baik gue memanfaatkan setiap waktu tersebut dengan hal-hal yang bermanfaat.

Nah kalau lu seorang komuter dan lu nggak mau waktu lu kebuang sia-sia salah satu hal yang bisa dilakuin adalah ngedengerin audiobook. I remember, my senior once told me that she likes listening audiobook during her way to campus. Menurutnya lumayan untuk memanfaatkan waktu biar nggak terbuang sepanjang perjalanan. Well, setelah jadi komuter tadinya gue sempat berpikir buat bawa buku untuk dibaca selama perjalanan. Yah  kalau keretanya lowong sih baca buku gitu nyaman-nyaman aja. Tapi kalau lu harus berdiri nyaris setengah jam dan dalam keadaan kereta yang penuh sesak, kayaknya buka bukunya aja nyaris nggak sempat. Audiobook ini adalah alternative yang oke, dengan pilihan genre yang beragam seenggaknya kita bisa menambah wawasan kita dan mempelajari hal-hal baru.

Well, jam tidur seorang komuter juga biasanya nggak banyak. Karena lu harus berangkat pagi banget dan pulang malem. Waktu lu udah habis di jalan, di kantor dan belum lagi adanya pekerjaan-pekerjaan lain yang harus diselesaikan di rumah. Sampai akhirnya satu-satunya alokasi waktu yang bisa dipangkas adalah jam tidur lu. Nah, kalau gue sih prefer melakukan power nap selama di perjalanan ketika berangkat kerja. Lumayan lah, seenggaknya kita bisa merefresh diri kita sebentar sebelum mulai bekerja.

Terkadang menjadi komuter seolah menjalani hidup yang monoton. Sepanjang weekdays irama hidup nyaris sama setiap harinya. Karena gue kadang kurang suka sesuatu yang monoton, gue suka berhenti atau pulang dari stasiun yang berbeda. Karena di deket kantor gue ada dua stasiun yang cukup berdekatan. Setiap hari secara random gue memilih salah satu stasiun tersebut. Ini salah satu hal yang gue lakukan biar perjalanan gue nggak terasa monoton.

Untuk seorang komuter memang nggak bisa dipungkiri kalau waktu kita banyak yang terbuang di jalan, sekarang yang menjadi poin utamanya adalah bagaimana kita bisa memanfaatkan waktu kita tersebut.

Masa Rehat Lagi

Jadi jalan di deket rumah gue lagi dicor di beberapa segmen dan mengakibatkan kemacetan yang luar biasa di jam-jam sibuk, jadinya gue harus berangkat pagi-pagi banget ke stasiun. Akhirnya gue harus nunggu dulu karena kepagian, sambil minum kopi dan ditemani lantunan musik dari White Lion

Well, setelah wisuda kemarin gue kira gue bakalan lebih rajin nulis tapi ternyata nggak hahaha. Kegiatan gue pasca wisuda di seminggu pertama terbilang sangat tidak produktif. Tapi setelah itu gue mulai bisa menyesuaikan irama hidup baru gue yang lebih santai dari jaman kuliah dulu. Seenggaknya selama masa rehat ini gue bisa menjalin lagi silaturahmi sama keluarga dan temen-temen sekolah gue dulu. Nemenin nyokap gue kemana-kemana, belanja, ke pasar, ke acara keluarga sampe bantuin arisan di rumah. Ketemu temen-temen sekolah yang beragam banget bahasannya. Lalu beberapa kali lari pagi di Sempur. Lalu yang paling epik adalah ketika gue janjian lari pagi sama temen gue di Sempur, tapi ternyata lapangannya dipake Sholat Ied Muhammadiyah. Akhirnya kita ninggalin lapangan dan muterin kebun raya.

Awal-awal masa rehat kemarin gue cuma santai-santai aja. Kegiatan gue didominasi sama nonton dan main game. Belakangan gue mulai merasa kalau ada yang salah dengan produktivitas gue. Akhirnya gue pergi ke toko buku dan berburu beberapa buku yang gue anggap menarik. Selagi masa rehat ini gue sadar bahwa gue bisa baca buku sebanyak-banyaknya, sebelum gue nanti disibukkan dengan pekerjaan.

Well jadi setiap gue janjian sama temen gue buat main, gue selalu menyempatkan untuk kabur sejenak ke Gramed. Beberapa bulan lalu gue suka banget baca buku self improvement atau buku-buku yang mengasah kreativitas gitu. Tapi belakangan gue ngerasa agak jenuh dengan buku-buku kayak gitu hahaha. Akhirnya gue lari ke rak buku-buku politik, yang sebenernya sebagian besar isinya biografi sih. Dari jaman SD dulu gue udah suka biografi, dulu gue bacanya seri tokoh dunia yang penyajiannya mirip2 komik. Gue masih bisa ingat dengan baik beberapa penggalan ceritanya kayaknya Walt Disney yang suka naik kereta-keretaan pas udah tua atau Hans Christian Andersen yang suka tiduran diatap rumahnya sambil berimajinasi. Lalu ketika gue SMA gue mulai suka nyari-nyari biografi kayak Che Guevara, Hellen Keller sampai Charlie Chaplin di perpustakaan sekolah. Bokap sama Nyokap gue sejak gue SMA emang mulai suka nyuruh untuk banyak baca buku. Yah mungkin mereka miris karena bacaan gue dari SD sampe SMA kebanyakan komik sama novel fantasy. Ketika gue kuliah gue mulai suka bacaan yang lebih variatif dan emang gue sadar kalau emang banyak manfaatnya.

Balik lagi, jadi waktu gue ke Gramed, gue nemu beberapa beberapa buku yang emang gue cari beberapa waktu lalu, yaitu bukunya Sjahrir sama Hatta yang diterbitin Tempo. Tempo sebenernya nerbitin 4 tokoh di series itu: Soekarno, Hatta, Sjahrir dan Tan Malaka. Secara pribadi gue suka dengan Hatta dan Sjahrir karena berbagai alasan, jadi 2 buku itu yang gue pilih dulu. Lalu gue juga tertarik dengan kisah hidup Tan Malaka yang suka menyamar disana-sini dan sifatnya yang lebih keras dibanding ketiga tokoh lainnya. Dan terakhir gue akan membaca Soekarno dan beraharap mendapat gambaran beliau dari sudut pandang yang berbeda. Jadi nampaknya buku Tan Malaka dan Soekarno akan gue baca nanti. Seri yang diterbitin Tempo ini karena penyampaian dan pemilihan kata per katanya menarik, setiap buku itu gue habiskan dalam sehari. Setelah selesai membaca, gue semakin mengagumi dua tokoh itu, Hatta dan Sjahrir. Gue juga merasa semakin tertampar. Di usia yang belia mereka sudah melakukan banyak hal-hal yang berarti untuk pergerakan bangsa ini dan pandangan mereka saat itu benar-benar jauh kedepan. Tujuan mereka nggak hanya untuk memerdekaan bangsa ini dari pemerintahan kolonial, tapi yang mereka inginkan adalah kesejahteraan rakyat kita secara merata. Seriusan banyak hal yang menarik yang dapat digali dari buku ini. Mulai dari ideologi sosialisme yang mendorong perjuangan mereka sampai hubungan antara para tokoh di dalamnya yang terkadang rumit.

Selain dua buku itu, sebelumnya gue sempat membeli buku Noam Chomsky yang berjudul “How the World Works”. Buku ini belum sempat gue selesaikan karena diselingi buku Sjahrir dan Hatta. Buku Noam Chomsky ini merupakan gabungan dari 4 tulisannya terdahulu. Di chapter pertama diceritakan berbagai hal tentang dominasi Amerika terhadap dunia,  rencana Amerika untuk mencipatakan dunia pasca perang dunia, dan intervensi Amerika terhadap beberpa negara di Amerika Selatan dan Dunia Ketiga. Buku Noam Chomsky ini memang sangat kompleks karena melibatkan banyak pihak di dunia Dan buku ini berhasil membuat gue berniat untuk menyelesaikan membaca kembali Mein Kampft milik Hitler yang sampai sekarang belum selesai.

Setelah selesai dengan buku Hatta dan Sjahrir, gue menjadi semakin tertarik untuk membaca lagi banyak-banyak buku yang berhubungan dengan sejarah Indonesia. Dan akhirnya gue mempostpone lagi buku Noam Chomsky. Gue memutuskan untuk membeli buku lain dan kali ini gue tertarik dengan buku Raffles and the British Invation of Java yang ditulis Tim Hannigan. Alasan awal gue membeli buku ini karena gue tertarik dengan sejarah pendudukan Inggris yang singkat atas Indonesia di masa kolonialisme Belanda dulu dan alasan kedua gue adalah kisah pribadi Raffles sendiri. Dari gue kecil dulu, setiap ke Kebun Raya, Bokap gue suka banget ngebaca puisi yang ada di monumen Olivia Raffles di Kebun Raya. Yah gue jadi penasaran aja seperti apa pribadi Raffles itu. Well, jadi setelah gue baca intro yang disampaikan Tim Hannigan, yang seorang Inggris, gue benar-benar tersadarkan untuk lebih memperdalam ilmu sejarah bangsa ini. Tim Hannigan sendiri adalah salah satu dari banyak jurnalis asing yang melakukan riset tentang sejarah Indonesia, sebagai orang Indonesia tentunya kita juga harus tergerak untuk mempelajari sejarah kita sendiri. Menurut hemat gue banyak hal yang bisa didapatkan dari sejarah, pelajaran-pelajaran berharga dan kita juga harus memahmi bagaimana perjuangan pendahulu kita.
Sebagai penerus bangsa, kita memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan mereka. Harapan-harapan mulia Hatta, Sjahrir, dan tokoh-tokoh lainnya untuk mewujudkan bangsa mandiri dan sejahtera akan menjadi tanggung jawab kita bersama. Gue juga semakin sadar bahwa kita hidup di dunia ini bukan hanya untuk diri kita saja. Bahwa ego diri harus dikesampingkan dan harus memegang teguh prinsip yang kita miliki.

Woooh nampaknya gue akan mulai mengantri di Peron dan naik kereta berikutnya. Gue udah lebih dari satu jam duduk disini. Nggak berapa lama lagi insyaAllah gue akan mulai kerja, mungkin setelah menyelesaikan membaca buku Tim Hannigan dan Noam Chomsky gue akan kembali lagi membaca buku-buku teknik sipil yang sudah lama tersimpan di dalam lemari-lemari gue hahaha.

Building Leadership the West Point Way

Building Leadership The West Point Way“Mari kita menghadapinya – di medan perang, setiap orang merasa takut. Hidup ini membuat kita semua menjadi pengecut. Apa yang mendefinisikan kita adalah bagaimana kita merespon kehidupan ini dan berbagai tantangan yang ditempatkan di hadapan kita”

Selamat Pagi dari Surakarta,

Setelah agak lama tidak menulis, akibat disibukan oleh TA dan lain sebagainya, kali ini saya menyempatkan diri lagi untuk menulis. Kali ini saya akan membahas sebuah buku yang berjudul “Building Leadership the West Point Way“. Buku ini ditulis oleh Mayor Jendral Joseph P. Franklin, seorang lulusan West Point yang juga memegang dua gelar master dari MIT untuk bidang teknik sipil dan teknik nuklir. Di dalam buku ini Mayjen Joe membagi pelajaran-pelajaran berharga dan pemikirannya mengenai kepemimpinan yang dia peroleh selama di West Point. Kepemimpinan adalah bagaimana kita dapat mengatasi orang-orang yang bekerjasama dengan kita. Seorang pemimpin harus mengenal betul pekerjaan yang harus diselesaikan bawahannya. Tugas pemimpin bukanlah menyelesaikan pekerjaan tersebut, namun menciptakan atmosfir senyaman mungkin agar para bawahan dapat menyelesaikan pekerjaan mereka. Kepemimpinan adalah tentang mendelegasikan kewenangan, mendorong lahirnya inovasi, mendampingi dan mengambil tanggung jawab. Di dalam buku ini Mayjen Joe menyampaikan 10 hal prinsipil di dalam kepemimpinan yakni:

  1. Tugas
  2. Kehormatan
  3. Iman
  4. Keberanian
  5. Ketekunan
  6. Rasa percaya diri
  7. Kemampuan untuk dapat didekati
  8. Kemampuan untuk beradaptasi
  9. Kewelasasihan
  10. Visi

Salah satu bagian yang cukup saya ingat dengan baik dari buku beliau ini adalah kalimat ini “Tugas bukan berarti mengikuti dengan membuta. Tugas artinya mengerti apa yang harus dilakukan, dan melakukannya tanpa memandang perasaan yang mungkin dirasakan secara pribadi.” Tugas dan kedisiplinan memiliki hubungan fundamental yang tak terpisahkan. Seringkali kedisiplinan ini dibutuhkan ketika kita dihadapkan pada tugas yang sebenarnya tidak kita sukai. Seorang pemimpin adalah mereka yang berada di garda terdepan, entah itu di medan perang atau pun di ruang organisasi, dan mereka melakukan apa yang harus dilakukan (meskipun itu adalah sesuatu yang tidak mereka inginkan atau tak menyenangkan). Para pemimpin melakukan tugas-tugas itu dengan tegas dan tidak menggerutu. Saya rasa buku yang ditulis oleh Mayjen Joe ini disampaikan dengan sangat baik. Beliau menyampaikan melalui pengalaman-pengalaman yang dialaminya selama di West Point dan juga setelahnya. *** Well dari buku ini secara garis besar saya merangkum 10 poin prinsipil di dalam kepemimpinan sebagai berikut

1. Tugas adalah suatu pekerjaan yang harus diselesaikan, tidak dikerjakan dengan membuta, dimengerti dan dipahami KEBENARANNYA. Dilakukan tanpa melibatkan perasaan (entah itu sebenarnya tidak mengenakkan untuk pribadi dsb) dan tidak menggerutu. Oleh karena itu seringkali DIBUTUHKAN KEDISIPLINAN untuk diri sendiri.

2. Kehormatan adalah yang utama, apa-apa yang kita lakukan harus sesuai dengan kode-kode yang berlaku. Kita harus berani memilih kebenaran yang lebih berat sebagai ganti ketidakbenaran yang lebih ringan. Seringkali hubungan-hubungan antar pribadi terasa lebih dalam dibandingkan kode-kode yang berlaku di luar diri, namun bukan berarti kita membiar orang-orang disekeliling kita melanggar kode-kode itu begitu saja. Kita tidak bisa menutup mata, kita harus berani mengonfrontasi mereka dengan maksud MELURUSKAN.

3. Keimanan atau kepercayaan diperlukan di dalam suatu hirarki kepemimpinan. Seorang bawahan harus memiliki kepercayaan pada atasannya, bahwa ia dapat diandalkan dan memberi teladan. Sebaliknya seorang atasan harus memiliki kepercayaan bahwa bawahannya akan mengerjakan tugasnya dengan baik. Seorang pemimpin juga harus memiliki kepercayaan bahwa pekerjaan atau tugas yang mereka pikul bersama dapat terselesaikan. Mereka bersama-bersama juga harus memiliki keimanan yang besar mengenai tujuan mereka.

4. Banyak tindakan tak semestinya yang sering disalahartikan sebagai keberanian. Hanya terdapat perbedaan tipis antara tindakan ceroboh dan tindakan yang gagah berani. Seorang pemimpin yang baik HARUS BERANI menugaskan seseorang walaupun ia tak yakin orang tersebut mampu menyelesaikannya. Terkadang mengerjakan semuanya sendiri adalah cara termudah dalam menyelesaikan tugas. Oleh karena itu diperlukan suatu keberanian untuk menugaskan bawahan tersebut meskipumn terdapat resiko di dalamnya.

5. Ketekunan adalah suatu karakter yang mengagumkan dan sangat mudah terlihat. Kemampuan untuk menuntaskan sesuatu, merampungkan apa yang sudah dimulai, merupakan suatu tindakan kritikal untuk mencapai gol apa saja dan bukan saja karena setiap perjalanan adalah serangkaian langkah-langkah kecil. Tidak ada jalan pintas untuk keringat dan kerja keras. Tidak mungkin mendapatkan semuanya sekaligus, terkadang kita akan mendapati diri sendiri dalam situasi dimana kita tidak mungkin mencapai semua yang ada di piring kita dan ini adalah waktu untuk menetapkan prioritas.

6. Ada tiga tipe rasa percaya diri yang esensial di dalam kepemimpinan. Yang pertama adalah rasa percaya diri di dalam melontarkan saran atau perintah. Yang kedua adalah rasa percaya terhadap diri sendiri yang membuat kita nyaman untuk meminta nasihat. Lalu yang terakhir adalah rasa percaya diri untuk dapat bergantung pada bawahan, mendelegasikan otoritas dan melangkah mundur untuk membiarkan mereka melakukan tugasnya.

7. Seorang pemimpin yang baik adalah seseorang yang mau didekati. Dimana ia mau bercakap-cakap dengan bawahannya, dan sebaliknya bawahannya juga mau bercakap-cakap dengannya. Jika suatu organisasi ingin berjalan dengan baik maka para bawahan harus merasa bahwa mereka dapat meminta bimbingan dan pertolongan kepada para pemimpin mereka; mereka harus dapat mengaku jika mereka berbuat suatu kesalahan.

8. Keadaan selalu berubah dan manusia harus belajar beradaptasi atau jika tidak mereka akan mendapati diri mereka tertinggal. Tugas utama seorang pemimpim adalah membangun sebuah tim, yang merupakan suatu upaya kreatif yang membutuhkan kemampuan beradaptasi yang sangat tinggi.

9. Kewelasasihan merupakan suatu garis halus antara bersikap terlalu keras dan bersikap terlalu lembut. Jika tidak ada kewelasasihan pada akhirnya kita akan kehilangan respek dan juga etos kerja dari bawahan. Lalu di posisi mereka kita akan merasakan atmosfir ketakutan dan ketidakpercayaan.

10. Visi merupakan prinsip kepemimpinan yang paling penting. Ia menuntut seorang pemimpin untuk terus menerus menciptakan suatu lingkungan dimana para bawahan dapat berfungsi dalam tingkatan yang tinggi dan melaksanakan semua tugas yang disyaratkan.

Kira-kira itu adalah 10 poin penting yang dapat saya sarikan dari buku yang ditulis Mayjen Joe ini. Sebagai penutup saya akan memberikan salah satu kalimat menarik yang dikutip dari buku beliau:

“Beberapa orang adalah petarung, beberapa orang yang lain adalah penyair sedangkan beberapa orang yang lain lagi adalah keduanya”

Be A Smart Job Seeker

Beberapa hari lalu, tepatnya tanggal 30 April – 2 Mei kampus gue ngadain ITB Integrated Career Days. Acara ini diadain 2 kali setahun, biasanya di bulan Mei dan Oktober. Ini kali kedua gue ikut kepanitiaan di Career Days. Kepanitiaan kemarin gue jadi LOnya Bank Mandiri Group. Selain orang-orang mandiri yang friendly banget kita juga dapet banyak pembelajaran. Awalnya gue cukup bimbang untuk ikut atau nggak di kepanitiaan kali ini karena gue udah mahasiswa tingkat akhir. Cukup banyak temen-temen seangkatan gue yang dateng ke acara ini sebagai job seeker. Well, jadi LO emang capek, tapi banyak pembelajaran yang bisa kita ambil. Selama 3 hari ikut job fair kemarin gue mulai mengamati bagaimana seharusnya jadi job seeker yang baik di job fair.

1. Tau Perusahaan Peserta Job Fair. Menurut gue ini penting, jadi kita nggak buta-buta banget pas dateng ke job fair. Dengan tau ada perusahaan apa aja, kita mulai bisa menentukan kira-kira perusahaan apa aja yang sesuai dengan bidang kita. Dengan begitu pas dateng ke job fair kita udah punya tujuan, mau kemana aja dan waktu kita nggak terbuang sia-sia. Nah yang nggak kalah pentingnya, kalau misalnya kita berminat ke salah satu perusahaan, kita sebisa mungkin tau gambaran umum perusahaan itu seperti apa.

2. Persiapkan Kelengkapan Administrasi. Kelengkapan administrasi semacam CV, transkrip, pas foto dan lain sebagainya harus dipersiapkan dengan baik. Metode rekruitmen di job fair juga macem-macem banget, tergantung dari perusahaannya. Ada yang memerlukan perlengkapan fisiknya, soft filenya atau kita cukup menginput data kita aja. Oleh karena itu kita harus persiapkan semuanya, untuk kelengkapan fisik sebisa mungkin kita sediakan beberapa eksemplar. Nah, salah satu keuntungan udah tau tujuan perusahaan yang kita minati apa aja adalah kita bisa memperkirakan berapa banyak dokumen yang harus kita siapkan. Untuk soft file tentu kita harus nyiapin flash disk buat nyimpen dokumen-dokumen yang kita butuhkan.

3. Cari Tau Perusahaan yang Kita Minati Buka Lowongan di Posisi Apa Saja.Umumnya perusahaan-perusahaan peserta job fair selalu nampilin lowongan apa aja yang lagi dibuka, mengenai posisinya serta requirement apa aja yang dibutuhkan. Bisa di brosur, banner atau papan pengumuman di booth mereka. Jadi sebaiknya kita baca dulu, pahami seperti apa dan cocokan requirement yang mereka minta dengan diri kita. Setelah itu kita bisa tanya-tanya lebih jauh sama orang-orang dari perusahaannya langsung. Well, tapi gue rasa seringkali kita males baca dan lebih milih untuk nanya langsung. As long as perusahaannya nggak rame-rame banget sih oke-oke aja, tapi seringkali jumlah job seeker nggak sebanding sama sdm dari perusahaannya. Dan beberapa perusahaan juga menginginkan para job seeker membaca terlebih dahulu sebelumnya. Yah gue rasa itu aja sih secara umum yang gue dapet kemarin. Kalau kalian masih mahasiswa tingkat 2 atau tingkat 3 menurut gue ikut kepanitiaan ini menarik juga, karena kita bisa tau proses rekruitmen perusahaan itu kayak apa. Kita juga bisa ngobrol-ngobrol langsung sama orang-orang dari perusahaannya dan dapet banyak pembelajaran dari sana.

Oke, sekian.

4/17/2015

Gue nampaknya bakal hiatus dulu sampe gue kelar sidang. Setelah sidang nanti gue berencana bakal bikin video tutorial software-software yang gue pake, karena seriusan ada satu software yang dicarinya susah banget tutorialnya. Semoga TA dan sidang gue serta teman-teman gue berjalan lancar.  Bentar lagi gue juga bakal meninggalkan Bandung nampaknya.

Gue akan kembali setelah sidang selesai, bye.

Neverending TA

Wah udah lama nggak nulis disini, saat ini gue masih berkutat dengan TA yang never ending, yah tapi semoga segera berakhir dengan mulus. Long weekend ini gue nggak jadi balik karena kecerobohan gue membaca hasil running struktur yang gue desain. Karena kemarin lagi ribet beresin buku-buku yang udah nggak kepake dan disambi ngerunning plaxis, dengan ajaibnya gue baca deformasi yang harusnya 60 cm jadi 6 m. Tiba-tiba gue jadi panik dan memutuskan buat nggak jadi balik. Yah bayangin aja tanah deformasi 6 meter bahkan sebelum dibebanin apa nggak bikin panik duluan, udah bisa jadi basement itu 6 meter. Terus pas besoknya gue bawa hasil desain gue ke Dosbing gue, dengan polosnya gue menjelaskan duduk perkaranya

“Pak jadi saya udah desain di Plaxisnya nih Pak, tapi deformasinya besar sekali di arah vertikalnya Pak, sampai 6 meter errr”

“Lho yang mananya 6 meter Bil? Itu 60 cm kan”

He?”

Gue merasa konyol banget saat itu tapi di sisi lain seneng juga karena tanah gue nggak jadi jeblos 6 meter hahaha. Tapi terus gue agak nyesel karena gara-gara itu nggak jadi balik ikut bareng Bokap gue. Tapi yaudahlah, macet banget juga long weekend gini. Yah semoga dengan nggak pulangnya gue di long weekend ini bisa membuat gue lebih produktif mengerjakan TA gue. Tapi nyatanya seharian ini gue belum menemukan mood yang bagus buat sekedar nulis doang. Seharian tadi gue malah mainin lagi NFS Most Wanted gue, gara-gara habis nonton Fast and Furious 7. Racer wannabe gitu ceritanya, padahal sampe sekarang gue belum berani bawa mobil di jalan. Semoga kelar TA gue dimudahkan buat bawa mobil di jalan. Fast and Furious 7 ini emang bagus banget sih apalagi ini terakhir kalinya Om Paul Walker main disana.

Oh iya beberapa waktu lalu gue dipinjemin buku sama temen gue judulnya “ Le Petit Prince” bagus tuh. Ringan tapi maknanya dalam. Menurut gue penulisnya oke banget, karena dia bisa menyampaikan pesan yang sangat mendalam lewat cerita sederhana dengan bahasa yang juga ringan.  Bisa jadi bacaan anak-anak dan juga orang dewasa sih, tapi menurut gue orang dewasa akan lebih paham maknanya. Terus setelah itu gue jadi penasaran nyari ebooknya, tapi belum nyari sih, nanti aja, kelar TA.

Selain itu ada lagi buku bagus yang gue nggak beres-beres bacanya dari dulu, karena dia nggak continue gitu. Jadi kontennya emang dari satu chapter ke chapter lain nggak berhubungan, terus gue bacanya ngacak gitu, tergantung chapter apa yang gue buka, nggak tau kenapa yang random-random emang lebih asik. Oh iya ini bukunya Rolf Dobelli, The Art of Thinking Clearly, isinya tentang hal-hal bias dan asumsi-asumsi yang ngebentuk pola pemikiran orang kebanyakan gitu. Karena per chapternya juga nggak begitu banyak, biasanya gue iseng-iseng baca kalau lagi kosong atau bosen.

DSC_0532

Terussatu lagi buku yang lagi gue baca bukunya Mohammad Hatta yang judulnya Demokrasi Kita, isinya kumpulan pemikiran-pemikiran beliau tentang demokrasi dan kedaulatan gitu. Di bagian akhirnya ada beberapa surat-surat yang beliau sampaikan ke Soekarno ketika Soekarno masih menjabat sebagai Presiden RI. Beliau menyampaikan pandangannya dan memberikan masukan-masukan pada Soekarno mengenai berbagai masalah yang terjadi saat itu. Menurut gue ini nunjukin kepedulian beliau yang besar akan keadaan Indonesia saat itu. Yang ini memang bahasannya lebih serius dibanding dua buku sebelumnya.

DSC_0533

Dapetin mood buat TA emang seringkali susah sih, nggak tau kenapa, padahal tinggal dikerjain aja. Tapi emang ujian datang silih berganti, nemu buku bagus misalnya, kadang pas lagi di tengah-tengah baca buku itu gue mikir

“Bil, kenapa buku ini yang lu buka? Sana buka buku geoteknik yang sudah lu biarkan hibernasi berhari-hari”.

Yaaah tapi yang jelas ngerjain TA gini harus dibikin enjoy aja sih wkwkwk. Di tingkat akhir gini juga waktunya buat menikmati berbagai hiburan yang disediakan unit-unit di kampus. Karena kaum veteran yang sedang berjuang dengan TAnya kayak gue gini emang sangat butuh hiburan buat menaikkan mood sehingga jadi kembali produktif hahaha.

3/11/15

Agaknya gue nggak bisa tidur malam ini, nggak tau kenapa. Temen gue, Maryam, baru aja ulang tahun dan kamar gue jadi basecamp dadakan buat ngumpul anak-anak sekosan. Selamat ulang tahun yam, semoga makin jago main badminton dan cepet dapet kerja biar bisa traktir gue.

Minggu lalu Bokap gue nyuruh gue balik buat diskusi sesuatu, menyangkut masa depan gue, bukan yang aneh-aneh kok. Setelah terjadi sedikit perubahan rencana, akhirnya Bokap gue merestui jalan yang akan gue ambil kedepan. Thanks Pa. Nyokap gue udah merestui jauh-jauh hari. Bokap gue sempat khawatir awalnya dan beliau juga bilang kekhawatiran Nyokap gue pasti lima kali lipat lebih parah dari Bokap gue. Well, kata Nyokap Bokap gue emang gue banyak maunya. Tapi yah gimana lagi. Toh hidup cuma sekali hahaha.

Nah, sekarang kira-kira persiapan udah 80% kurang essay yang maha panjang dan sulit itu menurut gue. Semangat Bil! Entah kenapa kemampuan gue nulis essay itu super parah, rasa-rasanya ide dari kepala gue itu susah banget keluarnya. Writing gue selalu dikomentarin guru gue juga gara-gara terlalu pendek. Agaknya emang gue susah banget basa-basi kalau lagi nulis.

TA gue nunggu antrian dulu buat dikerjain karena ada yang lebih mendesak haha. Tapi beneran deh, ketika lu punya tujuan asik untuk dikejar lu bakal lebih semangat ngejalanin hidup. Terus yang penting lagi kita harus persisten sama tujuan kita dan kita juga harus mengeksekusi rencana-rencana kita. Karena kalau hanya rencana dan nggak eksekusi omong kosong namanya. Oke, karena harus ada yang diselesaikan, gue rasa sekian dulu.