Adios Geotechnical Engineering

Menikmati senja di Seminyak adalah hal yang nggak bisa gue lewatkan ketika gue berkunjung ke Bali. Sejak beberapa tahun yang lalu, tempat ini jadi salah satu favorit spot gue buat hunting sunset.

Beberapa waktu yang lalu gue dan 2 orang temen gue baru aja menyelesaikan paper kita. Well, 2 orang temen gue ini, Fitri dan Latin sama-sama anak Geotek ketika kita kuliah dulu. Kebetulan beberapa waktu yang lalu ketika kita ngobrol bareng kita nemu informasi tentang konferensi geoteknik gitu. Akhirnya kita mutusin buat ngejajal konferensi ini dengan bikin paper. Buat gue ini paper perdana gue dan (kayaknya) bakal jadi paper terakhir gue di bidang geoteknik. Kita bertiga saat ini sama-sama kerja di kontraktor, walau di perusahaan yang berbeda. Well, beruntungnya Latin punya kenalan dosen ketika S2 dulu dan akhirnya paper kita dibimbing oleh beliau. Pak Hendra Jitno yang saat ini berdomisili di Brisbane. Jadi kita memyempatkan bertemu beliau sebulan sekali ketika beliau lagi di Jakarta. Alhamdulillah, akhirnya paper kita lolos screening dan diinvite untuk presentasi di Bali minggu lalu.

Di conference kemarin kita ketemu banyak expert geotek, baik dalam maupun luar negeri. Mereka ini sangat humble sekali untuk sekedar berdiskusi dengan remahan doritos kayak gue. Sebagian besar akademisi dan sisanya adalah praktisi-praktisi. Udah lama gue nggak merasakan vibes pergeoteknikan ini, karena saat ini sebenernya gue udah nggak fokus di spesialisasi ini lagi. Hanya karena dua orang temen gue itu (yg keduanya masih fokus di geoteknik) akhirnya gue diajak bikin paper bareng. Gue rasa sense of geotechnical engineering gue juga udah agak luntur dan nggak setajam dulu. Sepertinya setelah ini gue juga akan menyebrang spesialisasi, sebenernya nggak menyebrang sih, cuma pindah fokus spesialisasi aja.

Seperti tulisan gue dulu Between a Jack or a King, gue tetep mau jadi seorang specializing generalist. Alasan gue pindah fokus spesialisasi sebenernya karena saat kerja ini gue lebih banyak berkecimpung di construction management. Dan sekitar 2 tahun ini gue lebih fokus di BIM. BIM ini menurut gue juga menarik untuk didalami karena memiliki bahasan yang sangat luas. Implementasi BIM di Indonesia sendiri juga terbilang masih dirintis sehingga masih banyak hal yang bisa dipelajari dan dikembangkan.

Sebagai penutup, gue mau menyisipkan quote yang sering disampaikan oleh para geotechnical engineers dan structural engineers

“Earthquakes don’t kill people, buildings do”

Well, jadi sebenernya yang mendatangkan bahaya adalah inadequate designed and poorly constructed building. Both the designer and contractor have important role here. Gue rasa ini yang harus selalu diingat oleh kedua belah pihak.

Selamat Malam dari Jakarta Selatan

Run Billy Run

Beberapa waktu yang lalu temen kuliah gue secara random nyeletuk

“Nggak kerasa kita udah 4 tahun lulus ya”

“Iya, cepet banget yah”

Lalu di hari yang lain, ketika makan siang bareng, temen gue di kantor nanya gue

“Bil, lu nggak sayang ya lulusan ITB kerja disini?”

“Hmmm nggak juga sih, sejauh ini gue enjoy..”

Well, sudah 4 tahun gue lulus dan sudah hampir 4 tahun juga gue kerja di perusahaan gue sekarang. Bener juga kata temen gue dulu pas OJT, katanya di tahun pertama lu kerja waktu bakal berjalan sangat lambat tapi sisanya akan bergulir gitu aja. Emang sih di setahun pertama, gue kadang ngerasa agak dilema karena banyak orang yang bilang kalau gue nyasar di perusahaan gue sekarang ketika mereka tau almamater gue. Padahal menurut gue nggak ada yang salah, lagipula fokus bisnisnya juga masih sejalan sama subjek yang gue tekuni di bangku kuliah. Gue sendiri juga nggak begitu mengerti kenapa alumni2 di tempat gue nggak begitu banyak yang terjun di kontraktor BUMN. Sejauh ini, seperti yang gue bilang di tengah makan siang gue bersama temen2 kantor, gue masih enjoy disini. Karena gue cukup nyaman dengan lingkungannya dan masih banyak hal yang masih bisa gue pelajari disini.

Oh iya lagi pula menurut gue, almamater itu nggak bisa mendefine masa depan kita sepenuhnya. Walau sedikit banyak punya pengaruh ke pola pikir kita tentunya. Semuanya bakal balik ke diri kita lagi, gimana goal kita, persistensi dan determinasi. Kesuksesan juga bukan suatu hal yang absolut, tiap orang punya definisi dan parameter suksesnya masing-masing. Jadi gue nggak begitu ambil pusing ketika orang mempertanyakan keputusan gue.

Soal kehidupan pasca lulus dan dunia kerja, ada satu hal yang gue pikirin sejak dulu di tahun pertama gue kerja: gue nggak mau hidup yang monoton. Kayak cuma Tidur-Makan-Kerja-Makan-Repeat. Gue pribadi punya beberapa target personal yang menurut gue bikin hidup gue lebih passionate. Gue jadi ingat wejangan salah satu dosen ketika gue diskusi karena mau pindah sub bidang keilmuan yang gue tekuni sekarang

“Terserah kamu mau menekuni apapun itu Bil, yang penting itu adalah hal yang bikin kamu semangat ketika bangun tidur”

Beliau adalah salah seorang dosen geotek yang ngebimbing paper gue dan temen2. Malam itu gue cerita kalau gue mau menyebrang dari geotek ke sub bidang yang lain sekarang, karena beberapa hal. Lalu beliau ngasi wejangan intinya yang penting lu enjoy, tekun dan konsisten sama pilihan lu itu.

Anyway balik lagi ke working life gue, di weekdays, mostly gue habisin waktu 1/3 hari di kantor (seringkali lebih malah) dan kita punya 2/3 hari sisanya. Gue nggak pengen 2/3 hari gue sia-sia, jadi gue coba cari kegiatan yang bikin hari-hari gue nggak monoton. Sejak gue pindah dari site ke office ritme hidup gue lebih teratur dan beberapa kegiatan ini cukup bikin gue nggak bosen dan bisa ngerefresh pikiran.

1. Jalan pagi sebelum ngantor. Ini lumayan banget, selain buat ngejaga badan biar tetep fit, working out katanya bisa mempengaruhi kerja otak kita in positive ways. Gue biasanya keluar rumah sekitar setengah 6 jadi udaranya masih fresh, lalu jalan sekitar 1 jam. Biasanya gue pakai headset sambil dengerin musik dan nggak mau buka notifikasi apapun di hp gue selama 1 jam itu. Setelah itu gue balik, mandi dan siap2 ngantor.

2. Renang sepulang kantor. Kalau ini nggak setiap hari, karena gue renangnya malem gue prefer di kolam yang indoor walau tempatnya agak jauh dari kantor. Biasanya 1-2 kali lah seminggu. Nyebur ke kolam dan lap swim kurang lebih 1 jam, rasanya bisa ngerefresh pikiran banget yang sudah diperas di kantor seharian. Setelah renang juga biasanya tidur malam gue lebih berkualitas.

3. Belajar bahasa. Belajar bahasa ini sebetulnya salah satu persiapan gue buat ambil master nanti. Ini yang agak susah, karena nine to five job gue yang kadang menuntut overtime, gue agak sulit kalau harus ambil kelas. Jadi ya opsinya kalau nggak otodidak ya ambil online course. Untuk yang ini gue lagi cari ritme dan cara yang tepat sih.

4. Ngerjain project bareng temen. Well, ini menarik karena selain menyambung silaturahmi sama temen-temen, gue ngerasa lebih produktif aja karena ada sesuatu yang dihasilkan. Kalau project ini terkait sama bidang keilmuan kita, lumayan ngerefresh dan menambah wawasan juga sih. Dengan ngerjain project juga biasanya kita bisa menambah link

5. Menyambangi art space dan museum. Gue dari dulu selalu tertarik dengan seni, walau gue nggak nyeni. Gue cuma penikmat aja sih sebetulnya, walau dulu gue sering dikira anak seni rupa oleh beberapa teman di unit kemahasiswaan. Dateng ke exhibition2 buat gue rasanya bisa ngasi insight dan inspirasi. Di jakarta sendiri sekarang cukup banyak artspace dan museum yang ngadain exhibition secara berkala.

6. Spend a me time. Gue punya beberapa tempat pelarian ketika gue mau menghabiskan waktu sendiri. Kebanyakan sih coffee shop yang biasanya nggak gue kunjungi bersama temen2 gue. Karena di weekdays biasanya gue dan temen2 ngopi di deket kantor sambil chit chat. Well, gue termasuk orang yang butuh waktu untuk ngerecharge diri gue sendiri. Dengan me time gini biasanya gue bisa melakukan beberapa hal kayak baca buku atau ngeblog yang nggak bisa gue lakukan ketika kongkow-kongkow bareng temen.

7. Ikut event olahraga. Beruntung beberapa orang temen gue ngajakin untuk ikut event2 lari. Sampai akhirnya beberapa minggu yang lalu gue berhasil mendapatkan medal 5k pertama gue. Yah gue cukup happy juga akhirnya dapet medal 5k walau dengan pace yang memprihatinkan. Tapi ikut event lari bareng temen-temen gini lumayan memotivasi gue untuk lebih baik juga.

Well, es kopi susu di depan gue udah hampir habis. Sekian dari gue, yang sudah menghabiskan 3 jam gue di kedai kopi kecil ini.

Interlude #4

Whoooooah, it’s been a while. Post terakhir gue di Maret 2018, kira-kira setahun yang lalu. Udah lama juga ya. Setelah setahun hiatus, gue cuma mau nulis interlude yang lain hari ini. Sebetulnya gue selalu berharap gue rajin nulis disini, tapi belakangan gue lebih memilih bullet journal gue untuk menulis hal-hal yang kelewat personal.

Banyak hal yang terjadi setahun ini,

Alhamdulillah bisa ke Mekkah dan Madinah bareng nyokap bokap, salah satu point yang ada di bucket list gue tercentang. Baru selang beberapa bulan berlalu gue sudah merindukannya. Suasana menunggu waktu sholat tiba sambil mendengarkan suara adzan yang sangat syahdu. Bertemu dengan saudara2 muslim dari belahan bumi lain yang dengan ramah menawarkan menu berbuka puasa mereka kepada kami.

Salah satu kedai kopi favorit gue tutup beberapa bulan lalu. Sedih juga, padahal tempat ini selalu jadi tempat pelarian gue sejak tahun 2016. Tempatnya sepi dan comfy, bikin gue betah berlama-lama disana buat nulis atau baca. Setelah kedai kopi ini tutup gue mencari lagi kedai kopi yang serupa, namun sampai sekarang gue belum menemukannya.

Beberapa bulan ini gue mulai rutin olahraga, sejak sempat off sejak masuk kuliah dulu. Gue coba untuk rutin renang, jogging dan sepedaan. Sepertinya triathlon menarik juga. Tapi gue belum seserius itu sih, untuk saat ini gue olahraga cuma untuk jaga kesehatan tubuh gue dulu aja. Dan lagi untuk triathlon cukup banyak gear yang harus disiapkan wkwkwk.

Gue tinggal 3 hari 2 malam di atas boat, yep mengapung-apung di lautan ketika gue ngetrip ke Labuan Bajo beberapa minggu lalu. Pengalaman ini cukup menarik buat gue yang kurang adventurous ini. Kita island hopping dari satu pulau ke pulau lainnya, snorkeling, ngejar sunset dan lari dari hiu (gue aja sih, temen gue yang lain santai). Keren abis memang Indonesia ini.

Mulai mempersiapkan rencana gue untuk ambil S2, gue lagi mempersiapkan hal yang paling dasar sih: IELTS preparation. Setelah bekerja kurang lebih 3.5 tahun ini, gue mulai mendapatkan sedikit gambaran tentang fokus studi yang akan gue ambil. Gue belum berencana untuk ambil tahun ini sih karena gue belum persiapan sama sekali. Dan rencana gue sementara ini masih akan tetap jadi praktisi dulu pasca S2 nanti.

Kedepannya sepertinya gue akan mulai rutin menulis lagi. Sebulan sekali barangkali. Yang jelas gue masih akan merawat blog ini.

Sekilas tentang Metode NATM dan TBM

Jadi setelah beberapa interlude-interlude kemarin, gue ingin mencoba agak produktif hari ini. Gue pulang agak lebih cepet dari biasanya kemarin, karena selama empat hari sebelumnya, gue pulang kelewat malem terus gara-gara ada course after office hour gitu. Oke, jadi kali ini gue mau bahas in brief tentang tunneling method, sebetulnya artikel ini udah mau gue post dari kemarin-kemarin cuma draftnya nggak kunjung selesai. Well, sebagai gambaran gue sendiri memang belum pernah terlibat dalam proyek tunnel ataupun tunnel design.

Sekitar akhir tahun lalu, gue melakukan site visit ke salah satu proyek tunnel yang lagi berjalan bersama beberapa praktisi geotek. Jadi ceritanya waktu itu gue lagi ikut course geotek tahunan di Bandung dan di akhir course itu para participant diajak untuk site visit ke Terowongan Cisumdawu. Terowongan Cisumdawu ini menggunakan metode konstruksi NATM (New Austrian Tunneling Method). Di hari sebelumnya, kita, para participant, udah diminta untuk membuat pemodelan NATM ini dengan Plaxis. Jadi udah ada sedikit gambaran lah kira-kira metodenya ini seperti apa. Kebetulan juga salah satu pematerinya Prof. Helmut dari TU Graz, Austria. Nah sebelum gue ikut course kemarin, metode tunneling yang gue tau hanya TBM yang saat ini lagi digunakan untuk proyek MRT Jakarta dan D&B, jadi metode NATM ini baru banget buat gue. Well, di in brief post gue kali ini gue mau bahas kedua tunneling method ini: NATM dan TBM.

TBM (Tunneling Bor Machine) Method. Metode pertama yang mau gue bahas adalah TBM, gue rasa cukup banyak temen-temen yang udah tau TBM itu apa. Yes, metode ini sedang diterapkan pada Proyek MRT Jakarta. Proyek MRT yang saat ini sedang berjalan, menggunakan 4 mesin bor yang diberi nama Antareja I, Antareja II, Mustika Bumi I, dan Mustika Bumi II. (Ini agak random sih, tapi ada yang cukup menarik dengan nama Antareja ini, dalam pewayangan Jawa, Antareja merupakan anak dari Bima yang punya kemampuan buat berjalan di dalam bumi). TBM yang digunakan pada proyek MRT Jakarta menggunakan jenis Earth Pressure Balance (EPB) karena jenis tanahnya yang didominasi oleh silty clay.

TBM elements

Tunneling Bor Machine atau seringkali disebut Mole (credit to railsystem.net)

TBM ini berfungsi untuk proses tunneling sekaligus ring building. Pada proses Tunneling, cutter head pada TBM berfungsi untuk menggerus tanah. Lalu tanah hasil gerusan dari cutter head disimpan ke dalam mixing chamber. Selanjutnya tanah tersebut dibawa oleh screw conveyor dan diteruskan ke belt conveyor untuk selanjutnya dibuang ke luar area terowongan. Pada saat yang bersamaan juga proses ring buildig dilakukan. Pada proyek MRT Jakarta, ring building ini terdiri dari segmen-segmen beton. Nantinya setelah terbentuk satu ring beton utuh, mesin TBM akan bergerak maju.

NATM (New Austrian Tunneling Method). Lalu selanjutnya adalah metode NATM, NATM sendiri kepanjangan dari New Austrian Tunneling Method atau biasa juga disebut SEM (Sequential Excavation Method). Seperti yang udah dibahas sebelumnya, saat ini NATM sedang digunakan di proyek Terowongan Cisumdawu. Selain itu metode ini digunakan juga di Proyek Terowongan Notog, Purwokerto. Berbeda dengan metode sebelumnya, NATM nggak menggunakan boring machine. Excavation pada terowongan dilakukan secara manual dan bertahap.

Typical NATM

Typical NATM excavation. (credit to Prof. Helmut F. Schweiger)

Tahapan pertama dalam metode ini adalah proses excavation pada area tunnel yang dapat dilakukan dengan menggunakan alat twin header. Pembuangan tanah kerukan dapat menggunakan loader tertentu disesuaikan dengan diameter tunnel. Setelah itu proses excavation dilanjutkan dengan pekerjaan temporary support menggunakan rock bolt, wire mesh dan steel rib. Lalu dilakukan proses proteksi pada area dinding dengan menggunakan shotcrete. Selanjutnya untuk ring building, dilakukan secara cast in situ, didahului dengan pembesian dinding struktur dan pengecoran. Pada tahapan akhir dilakukan back fill grout untuk memperbaiki retak-retak yang terjadi pada dinding tunnel.

DSC_1502-01

Cisumdawu Tunnel Project

Well, selama gue kerja, sebetulnya gue sangat jarang banget terlibat dalam hal-hal yang bersinggungan dengan geoteknik. Kecuali pas gue lagi OJT, gue sempat terlibat dalam braced excavation design untuk salah satu proyek kita di Jakarta. Tapi selama tiga tahun ini gue diminta untuk ikut annual geotechnical course yang biasanya diadain akhir tahun. Nah, disinilah biasanya gue bertemu dengan praktisi-praktisi geotek dan ngerefresh bidang keilmuan gue selama kuliah dulu. Gue sendiri udah menyebrang cukup jauh selama 2 tahun ini dan sekarang gue malah lagi mencoba mempelajari BIM.

Interlude #3

Pada akhirnya hanya interlude yang lain. Malam ini, setelah sekian lama, akhirnya gue mengunjungi salah satu kedai kopi favorit gue. Sudah lama sejak gue nggak kesini, dan tempat ini rasanya makin ramai. Padahal salah satu alasan gue menjadikan kedai kopi ini jadi tempat favorit gue, karena tempat ini tadinya nggak begitu ramai. Kadang gue memang butuh me time untuk ngecharge diri gue wkwkwk. Ngomong-ngomong soal kopi, sebetulnya Januari lalu gue sudah berhasil menyetop caffeine intake gue. Tapi bulan ini, gue sudah tiga kali menyerah. Caffeine benar-benar bekerja dengan sangat baik di otak gue.

Belakangan waktu berjalan sangat cepat rasanya. Tahun 2017 berlalu dengan cepat, akhir tahun kemarin gue menghabiskan waktu dengan keluarga besar nyokap gue di Solo. Menghabiskan beberapa hari di dataran tinggi Sukuh. Lalu gue kembali ke Bogor sampai tahun baru. Menangkap beberapa ikan nila yang dibesarkan Bokap gue di kolamnya. Benar-benar melepas penat rasanya.

Di awal tahun 2017 lalu gue masih di Padang, dengan kondisi proyek yang begitu hectic. Lari ke kedai kopi lokal disana atau menyusuri taplau ketika jenuh. Sampai pada bulan Februarinya, gue mendapat surat untuk kembali ke pusat. Dan baru benar-benar kembali ke Jakarta di pertengahan Tahun. Padang adalah tempat perantauan kedua gue setelah Bandung. Rasanya jadi rindu juga, terpaan angin laut di taplau. Malam terakhir gue disana, gue berkeliling kota dengan singkat.

Gue nggak tau apa yang akan terjadi di tahun ini dan tahun-tahun berikutnya. Tapi gue akan berusaha menikmati setiap prosesnya. Belakangan, semakin banyak hal yang gue pikirkan dengan semakin bertambahnya umur gue. Belakangan juga gue merasa kalau gue mulai fleksibel dengan rencana-rencana gue. Apapun bisa terjadi. Well, Pohon Maple tampaknya jadi semenarik Silver Birch belakangan ini.

Yah sebetulnya ada beberapa topik yang mau gue bahas in brief. Kayak tunneling method dan teman-temannya. Tapi draftnya nggak berhasil tersentuh sama sekali beberapa bulan ini. Jadi, mungkin, setelah ini.

Gue tinggal menyeruput kafein terakhir gue, lalu gue akan kembali.

Interlude #2

Pagi, well sudah 2 minggu berlalu sejak post terakhir. I’ve already given up my caffeine intake now, so, good bye my sweet caffeine. Terakhir gue ngopi, pas di Pontianak, kopi susu nya Kopi Aming yang udah melegenda disana. Rekomended abis! pokoknya kalau lu ke Pontianak, harus coba. Kafeinnya super strong dan rasanya mantap. Oh iya alasan gue mengurangi kafein intake gue banget karena belakangan gue sering sakit kepala kalau habis ngopi, yah kayaknya gue aja sih yang over kafein wkwkwk. Selain itu kopi favorit gue juga semacam latte dan saudara-saudaranya, yang mengandung susu dan gula, jadi ya nggak baik juga kalau dikonsumsi terlalu sering. Karena itu juga akhirnya gue memilih untuk mengurangi caffeine intake gue secara drastis dan gue menyerah untuk JCM tahun ini hahaha. Untuk sementara ini gue mah mengkonsumsi minuman yg lebih sehat lah.

Terus minggu ini, selama beberapa hari kemarin, gue diminta kantor gue untuk ikut pelatihan di Bandung. Yah happy lah, karena seminggu full gue di bandung, sedikit nostalgia di kota kembang, walau nggak semua tempat bisa disambangi. Tapi, harus diakui juga walau tetep ngangenin, Bandung rasanya mulai berubah, karena orang yang gue kenal satu persatu udah merantau dari kota kembang ini. Disana gue ketemu beberapa temen juga, dari yang ngomongin hal receh, kerjaan sampai yang nyemangatin gue buat lanjut sekolah lagi (?). Yah, iya sih, gue kayaknya belakangan terlalu terdistrak sama kerjaan gue, sampai gue lupa akan hal-hal kayak gitu. Walau dulu sempat gamang apakah gue akan lanjut sekolah lagi atau langsung kerja ketika gue lulus, tapi menurut gue pilihan gue buat cari pengalaman dulu adalah pilihan yang terbaik. Well, tentu tiap orang punya tolok ukur dan rencana yang berbeda.

Gue balik dari Bandung kemarin siang, lalu langsung disambut hujan ketika sampai di Jaksel. Malamnya gue pergi ke rumah seorang teman yang akan melanjutkan studinya ke luar, bertemu beberapa teman seangkatan juga. Lalu mulai mengobrol-ngobrol lagi tentang rencana mengambil master. Salah satu hal yang membuat gue termotivasi lagi untuk ngejar master, ya kalau ketemu temen-temen gini. Nggak terasa ini udah tahun kedua sejak gue wisuda, dan sebagian temen-temen gue udah tersebar di berbagai benua.

Kalau sesuai dengan rencana awal, harusnya nggak lama lagi gue udah harus persiapan, yah mulai menentukan akan mengambil apa dan dimana. Kemarin gue sempat diledekin nyokap gue, ketika lagi pelatihan geotek di Bandung dan gue ngeluh kalau gue pusing liat rumus-rumusnya yang terlalu advance. Hahaha, gue sendiri belum tau sih apakah gue akan ngambil geotek lagi kayak S1 dulu atau malah ambil manajemen proyek yang lebih general.

Yah kalau untuk saat ini, gue malah lagi terjebak di BIM. Walaupun agak berbeda sama yang gue dalemin pas kuliah, gue lagi mencoba untuk menyesuaikan diri sih, belajar lagi. Belakangan ini gue juga jadi terinspirasi banget sama Elon Musk, dia adalah salah satu contoh sukses expert generalist, jack all trades and master of some. Dia membuktikan bahwa dia adalah seorang jack all trades yang berhasil.

Yah balik lagi, ke kafein yang manis. Sejak gue nyetop caffeine intake gue, gue rasanya jadi unproduktif abis. Entah ada kerelasinya atau nggak. Tapi belakangan gue males banget buka-buka buku untuk sekedar baca iseng aja. Masih ada dua buku yang belum gue sentuh sama sekali. Menurut gue menjadi unproductive adalah salah satu cara untuk jadi productive. Gue mencoba untuk menjalani hari-hari yang unproductive sampai titik dimana gue bosen jadi unproductive. Well, sebetulnya nggak unproductive juga sih, cuma gue lagi nggak melakukan apa yang biasanya gue lakukan aja kayak pergi ke kedai kopi dan baca buku. Tapi belakangan ini gue mulai rutin olahraga lagi, gue mulai sadar kalau hidup emang harus balance.

 

Yah sekian interlude pagi ini, gue masih berhutang untuk ngereview buku sebetulnya. Tapi gue lagi malas sekali untuk baca buku atau sekedar review buku sementara ini. Selamat berakhir pekan.

Hunt Down The Artspace: Matter’s Matter and Self Explanatory Exhibition

Wah nggak terasa November sudah mau berakhir, cepet banget, tiba-tiba udah mau di penghujung tahun aja. Cuma perasaan gue aja atau emang waktu kayaknya semakin cepet berlalu ya.

Beberapa minggu terakhir ini pekerjaan gue memang lagi sangat padat. Gue masih belum sempat juga mereview buku-buku yang udah selesai gue baca. Semoga setelah dari Pontianak besok gue bisa mulai ngereview buku lagi. Biasanya gue kalau lagi travelling selalu bawa buku, in case gue bosen ketika perjalanan. Tapi besok gue nggak akan bawa buku, family time lah dan ini pertama kalinya gue akan terbang ke Borneo.

Anyway, beberapa minggu lalu, akhirnya gue berhasil menyambangi exhibitionnya Radhinal Indra; Matter’s Matter, yang udah gue tunggu-tunggu sebelumnya. Matter’s Matter ini cukup menarik karena latar belakang sang artist yang sangat dekat dengan dunia science. Radhinal Indra mengkombinasikan antara celestial dan anatomy object di dalam artworknya ini. Di exhibition kali ini dia mencoba untuk menginterpretasikan koneksi antara cosmos yang besar dengan bagian terkecil dari manusia. Media yang digunakan juga cukup beragam, mulai dari painting, art installation hingga loop video. Sayangnnya gue nggak begitu lama menghabiskan waktu disini, karena jam buka Ruci Artspace yang hanya sampai pukul 7 malam. Kurator dari pameran ini, Roy Voyagen, juga menata exhibition ini dengan sangat baik.

Beberapa hari kemudian gue pergi ke Self Explanatory Exhibition yang diadain di Dia.Lo.Gue. Self Explanatory ini menampilkan artwork dari 3 artist: Ines Katamso, Natisa Jones dan Ykha Amelz. Well, disana gue juga menemukan karakter bernama Babbot dalam artwork yang diciptakan oleh satu artist di exhibition ini, Ykha Amelz. Apa yang dialami karakter bernama Babbot ini cukup merefleksikan apa-apa yang sebagian besar dari kita alami,seperti Deadline yang menghantui, Revisi-revisi, serta hari Senin yang tak diharapkan.

Well, buat gue, one of the perks living in Jakarta adalah tersebarnya artspace disini. Beberapa artspace juga cukup rutin ngadain exhibition. Selain bisa nikmatin karya seni yang dipamerkan, di artspace-artspace ini kita juga bisa menemukan local artist. Beberapa artspace juga dilengkapi coffee shop yang bisa kita jadikan tempat untuk melarikan diri, kongkow bareng teman, ketemu dengan klien atau coworkers.

Oh iya, akhir tahun ini gue ikut dalam jakarta coffee manual 2017 challenge. Ini jadi ajang yang menarik buat para penikmat kopi untuk berburu kedai kopi di Jakarta. Well dan tahun ini adalah kali pertamanya gue ikut, so wish me luck then.

Interlude #1

Kok rasanya dapetin mood untuk kerja malem ini agak susah ya, udah nyaris sejam ini gue masih mengotak-atik playlist Spotify gue nyari musik yang tepat buat dapetin mood. Yah, beberapa minggu ini gue skip banget nulis, kerjaan gue lagi agak hectic soalnya. Semoga pertengahan minggu ini bisa selesai sesuai target. Ada buku yang mau gue review lagi soalnya, yang ini rekomendasi dari temen gue.

Weekend ini gue menyempatkan short family outing sama nyokap bokap gue, nggak jauh-jauh kok, cuma ke Sukabumi, kota tetangga haha. Kita mau chillaxing aja sebentar, setelah weekend sebelumnya gue dan bokap gue mendadak diminta lembur di kantor. Sukabumi kemarin cukup dingin dan sore harinya kota sejuta mochi itu diguyur hujan.

IMG-20171029-WA0000

Sebetulnya ada beberapa hal yang mau gue tulis disini, tapi gue punya perasaan mengganjal kalau gue blogging dikala kerjaan gue belum kelar. Gue dapet beberapa inspirasi di tengah perjalanan gue ke Bandung dua minggu lalu. Oh iya kereta sekarang jadi moda favorit gue kalau ke Bandung, alasannya dua, yang pertama karena rute Jakarta-Bandung sekarang macetnya nggak ketulungan terutama di Bekasi, Cikarang sama Pasteur lalu yang kedua  karena pemandangan yang super stunning dari Jembatan Cisomang keliatan jelas banget kalau naik kereta.

Minggu ini semoga aja kerjaan gue segera kelar, dan bisa ke exhibitionnya Radhinal Indra. Ini salah satu exhibition yang udah gue tunggu dari bulan lalu. Dari beberapa review yang gue baca, seni yang dihasilkan Radhinal selama ini cukup dipengaruhi dari latar belakang keluarganya yang lekat dengan sains. Seru sih, gue liat sekilas mostly intallasinya berkaitan sama celestial objects, ini membuat gue teringat sama cita-cita ketika gue masih bocah yang pengen jadi astronom. Dan ini juga salah satu alasan yang membuat gue excited sama exhibition ini.

Anyway, next post gue akan mencoba membahas dengan singkat buku The Subtle Art of Not Giving a F*ck dari Mark Manson dan barangkali satu lagi posting singkat tentang Fa Mulan, salah satu tokoh Disney favorit gue hahaha, well, she’s a not a typical Disney princess.

Sekian Interlude malam ini. Selamat bertemu dengan hari Senin.

 

Dunia Konstruksi di Era Disrupsi dan Sekilas tentang BIM

Nah seperti yang telah gue sampaikan di post sebelumnya, kali ini gue mau membahas tentang disruption era yang terjadi saat ini. Disini gue mau membahas sedikit tentang dunia konstruksi di tengah era disrupsi dan sekilas tentang BIM. Gue sendiri masih masih sangat newbie sekali di bidang konstruksi, baru beberapa tahun sejak gue lulus dan bergabung di bidang ini. Belum lama sejak gue bergabung, gue menyadari bahwa bidang yang gue tekuni saat ini juga turut terdisrupsi.

Disruption era memang datang bagai ombak, true disruption can hit an industry like tsunami, washing over incumbents and forcing industry to change or risk getting drowned out. Hugh MacLeod mengilustrasikan disruption ini dengan sangat apik. Thanks Hugh! I always love your cartoon, it’s so on point!

Disruption is a wave by Hugh

Disruption is a Wave by Hugh MacLeod

Istilah disrupsi sebetulnya sudah diperkenalkan sejak tahun 1995, namun belakangan istilah ini menjadi marak kembali. Di dunia disrupsi sudah menyerang banyak lini industri, ada yang survive karena mampu beradaptasi, ada pula yang harus tergilas dengan disruption wave ini. Salah satu perusahaan raksasa yang harus tergilas oleh disruption wave ini adalah Kodak, perusahaan yang sudah bergerak di bidang kamera dari tahun 1888. Kejatuhan Kodak bukan disebabkan karena teknologi,  prototype kamera digital bahkan ditemukan oleh seorang engineer di kodak. Kodak menemukan teknologinya, tapi nggak menginvestasikan untuk teknologi tersebut. Sebagai referensi barangkali bisa dibuka bahasan HBR yang cukup komprehensif disini

Di Indonesia sendiri kita bisa melihatnya langsung bagaimana model bisnis berubah, betapa banyak start up yang bermunculan. Gojek misalnya yang diklaim sebagai unicorn pertama Indonesia, merubah model industri transportasi umum kita. Pergeseran model bisnis bisa kita lihat juga dengan banyaknya start up jual beli yang bermunculan, Bukalapak, Tokopedia, you name it lah. Beberapa yang menyadari adanya disrupsi di industri mereka buru-buru beradaptasi dengan menyediakan platform online, seperti Matahari atau Periplus misalnya. Yep, here comes the disruption era.

Lalu apa kabar dengan dunia konstruksi? Apakah disruption wave yang ramai dikabarkan menghantam berbagai lini industri juga menghantam industri konstruksi ini? Yes, gue rasa cepat atau lambat industri ini juga akan terdisrupt. Perkembangan IOT (Internet of Things) dan teknologi ini benar-benar mengahantam semua lini. Dalam suatu paparan yang gue dapatkan minggu lalu, industri konstruksi dan pertanian memang termasuk industri yang agak lamban mengalami perubahan dibandingkan industri lainnya beberapa tahun belakangan ini, tapi ini nggak berarti industri ini tidak akan berubah. Ketika disruption wave nantinya datang dan mengacaukan semuanya, kita harus aware apakah safety zone kita berubah. 

Dalam suatu konferensi yang sama di minggu lalu, gue melihat beberapa perkembangan teknologi konstruksi asing yang sangat maju. Hanhwa misalnya, kontraktor asal Korea Selatan ini saat ini sedang mengembangkan Bismayah New City di Baghdad, dengan total 100.000 unit residential di lahan seluas 1.800 hektar dalam waktu 6 tahun. Mereka membangun kota baru ini dengan teknologi BIM untuk memastikan semuanya terintegrasi dengan baik. Yah BIM barangkali yang akan menjadi salah satu pendisrupsi bagi industri konstruksi. Gaung BIM sendiri sudah mulai terdengar di dalam negeri. Beberapa pioneer BIM sudah mulai bergerak dan mencoba mengedukasi mengenai sistem ini, sistem yang sudah masuk ke dalam regulasi beberapa negara.


Sekilas tentang BIM

BIM sendiri merupakan abreviasi dari Building Information Modeling. Sederhananya BIM ini merupakan suatu sistem, bukan software yang berdiri sendiri. BIM ini bekerja dengan mengintegrasikan dan mengcompile hasil beberapa pemodelan menjadi satu, sehingga nantinya semakin banyak informasi yang bisa digenerate dari dalam model tersebut. 

Autodesk mendefinisikan BIM sebagai intelligent 3D model-based process that gives architecture, engineering, and construction (AEC) professionals the insight and tools to more efficiently plan, design, construct and manage buildings and infrastructure.

Well, kalau biasanya kita mengenal sampai dengan model 3D di bidang konstruksi ini. Di dalam BIM ini kita akan mengenal sampai dengan model 7D. Semakin meningkat level dimensinya, maka akan semakin banyak informasi yang bisa digenerate. Karena BIM ini merupakan suatu sistem, tentunya BIM ini berkaitan dengan banyak software. Beberapa pengembang software besar diantaranya AutoDesk, Bentley, Trimble dan CSI. Hasil pemodelan setiap software ini nantinya dapat terintegrasi satu sama lain.

Dengan BIM ini harapannya proses pelaksanaan konstruksi dapat menjadi lebih efektif dan efisien, karena model telah dikembangkan sebelum masa konstruksi dimulai. Disini, nantinya juga dapat dilakukan mitigasi resiko dan proses pengontrolan sumber daya yang lebih terarah. Tidak hanya sampai di masa konstruksi saja, melainkan sampai dengan masa maintenance, diharapkan model BIM ini nantinya juga akan mempermudah proses controlling oleh facility engineer.

Satu hal yang harus menjadi perhatian disini adalah  untuk mengembangkan model BIM ini diperlukan data yang sangat lengkap. Trash in = Trash Out. BIM hanyalah sistem yang bisa mengintegrasikan beberapa pemodelan menjadi satu. Dan setiap pemodelan tersebut tentunya memerlukan informasi yang lengkap bila ingin dimodelkan secara baik. Keakuratan informasi yang bisa digenerate dari model tersebut tentu dipengaruhi oleh kelengkapan informasi yang dijadikan sebagai input.

Yah welcome to the disruption era, where technology also transforming the way that buildings and infrastructure designed, constructed and operated.

Sekian untuk post pagi ini, gue masih menunggu di sudut kedai kopi sambil menunggu kereta yang akan berangkat setengah sebelas nanti. Mendapat sedikit alasan untuk pelarian kecil ke Bandung minggu ini. Selamat berakhir pekan.

Brief Review: Icarus Deception

Gue membenarkan headset di telinga gue, mengeraskan volumenya sedikit sambil menghirup nafas dalam-dalam. Gue membiarkan jendela kamar gue terbuka, membiarkan angin semilir masuk ke dalam kamar gue. Sisa-sisa hujan semalam masih tampak. Ya, sudah masuk musim hujan sepertinya.

Setelah buku Daron Acemoglu dan James A Robinson minggu lalu, gue melanjutkannya dengan Icarus Deception yang ditulis oleh Seth Godin. Gue tertarik dengan buku ini karena Icarus. Ketika SMA gue pernah baca tentang kisah Icarus dengan sayapnya, suatu hari Icarus terbang terlalu dekat dengan matahari dan pada akhirnya ia jatuh. Entah kenapa cerita tentang Icarus ini meninggalkan impresi yang mendalam buat gue.

Well, Icarus ini merupakan salah satu mitologi Yunani. Jadi Icarus ini adalah anak dari Daedalus seorang seniman yang ditahan di Crete. Suatu hari Daedalus membuatkan sayap dengan wax untuk dirinya dan Icarus, agar mereka dapat melarikan diri dari Crete. Tapi Icarus mengabaikan nasihat Ayahnya untuk terbang nggak terlalu dekat dengan matahari, ia terlalu bahagia dan terbang begitu begitu tinggi hingga pada akhirnya sayapnya meleleh. Lalu ia terjatuh ke laut. Laut tempatnya terjatuh kini dinamai Icarian Sea, yang berada di barat daya Pulau Samos.

Dari kisah Icarus ini yang seringkali diambil pelajaran adalah don’t fly too close  to the sun and keep your head down. It looks the society create a conclusion that told us about the dangers of standing up and standing out. Mereka lupa atau melewatkan bagian dimana Daedalus juga menasihati Icarus untuk nggak terbang terlalu rendah, terlalu dekat dengan dengan laut, karena air juga bisa menghambat daya angkat sayapnya. Dan justru ini lah yang lebih berbahaya, because it feels safe to fly low. Ide ini lah yang dibawa Seth Godin di dalam bukunya, The Icarus Deception: How High Will You Fly?

DSC_1106.JPG

The Icarus Deception: How High Will You Fly?

Sebagai pembuka kita mendapati Godin membicarakan mengenai comfort zone vs safety zone. Selama ini, sejak waktu yang lama kita memahami keduanya merupakan hal yang sama, kita terus berasumsi kalau apa yang membuat kita nyaman, pasti membuat kita aman juga. Then Godin told us that now the safety zone has changed but our comfort zone has not. Safety zone yang baru ini adalah tempat dimana art, innovations, destruction and rebirth happen. Menyadari kalau safety zone kita sudah berubah, bisa menjadi pertimbangan untuk mengevaluasi lagi comfort zone kita. Gue rasa ini ada kaitannya dengan disrupsi, yang menarik untuk jadi pembahasan di post berikutnya.

Well, what we need now is creating ideas and connecting the disconnect, those are the two pillars of our new society. Both of them require the posture of an artist and that’s where the new safety zone lies. Here, Godin explain that art isn’t a specific talent. Art is an attitude, culturally driven, and available to anyone who chooses to adopt. It’s the unique work of human being, work that touches another.

Lalu ada bahasan tentang bagaimana kapitalisme awalnya membuat para pekerja menciptakan value, sampai akhirnya industrialisasi datang melengkapi model kapitalisme yang ada. Menghancurkam kultur yang sudah terbentuk dan menggantikannya dengan sesuatu yang begitu berbeda. Industrial age is the age of stardardization. Para industrialis beranggapan bahwa keamanan adalah kunci produktifitas dan keuntungan. Mereka memegang prinsip Keep it moving. Keep it efficient. Keep it reliable.
But now, the industrial world is disappearing. The standardized things and guaranteed job won’t be there for much longer. Setiap orang dituntut untuk menjadi kreatif untuk bisa survive di masa depan. Godin ask us to be an artist, whether you’re an engineer, middle manager, doctor or teacher. In this book, he ask us that we need to fly higher than ever.

Menurut gue buku ini cukup asik buat menjadi bacaan di pagi hari atau di sela-sela waktu kosong lu. Gue cukup suka dengan gaya penulisan Seth Godin. Kebetulan juga ia salah satu sahabat penulis dan cartoonist favorit gue, Hugh MacLeod. Jadi gue rasa keduanya mempunyai gaya penulisan yang agak mirip, walau MacLeod menyisipkan lebih banyak ilustrasi dalam bukunya.

Well, gue rasa sekian dulu untuk post di pagi ini. Selanjutnya pembahasan tentang era disrupsi kayaknya cukup menarik juga untuk dibahas disini. Selamat berakhir pekan.