Rethinking BIM Adoption: Why BIM is Not One-Size-Fits-All

For the past decade, I have worked across various roles in an Indonesian contractor. From site and project management to BIM management and digital leadership. During this journey, I have seen BIM praised as a silver bullet and mandated as a requirement. However, one thing that I learned is:

BIM is not a one-size-fits-all. Its value depends on how well it is tailored to each project objectives and requirements.

Without this tailoring, BIM implementation can become layer of complexity which adding processes without necessarily improving outcomes. Only when it is aligned with clear purposes, BIM becomes a strategic enabler not just a deliverable.

BIM Dimension (parametric-architecture.com)

In theory, full BIM implementation at the highest maturity level on every project sounds ideal. in practice, especially within the Indonesian construction industry, it is neither optimal nor realistic. Because projects vary significantly in scale, complexity, delivery method, client maturity, digital capability and expectation. Applying the same BIM scope to a small building project and a large, complex data center, for example, rarely makes sense. The effort and cost may outweigh the benefits.

Over the years, my own question has shifted from “Can we use BIM?” to “How we can reap the maximum Benefits of BIM?”. BIM delivers its greatest impact when it is treated as an enabler, not merely a contractual deliverable. In successful projects, BIM is aligned with clear, practical objectives, such as:

  • Supporting method statements and construction sequencing
  • Improving coordination between structure, architecture, and MEP
  • Reducing rework through clash detection
  • Improving safety planning and hazard identification

A more effective approach is to right-size BIM implementation, so we need to understand its purposes. For example at tender stage, BIM may focus on construction sequencing, and quantity take offs to support pricing and budgeting. For low complexity project progress monitoring and quantity support may be sufficient. While for high risk project (line data center with complex MEP) needs deeper BIM integration for advance coordination and staging. The key is to be selective, ensuring that the effort invested is proportional to the value created.

Contractors operate under tight margins. Hence, every additional scope of BIM must therefore be justified. A mature BIM strategy should considers

  • Cost of modeling and coordination
  • BIM competency within the project team
  • Time required to develop and update the models
  • Expected reduction in rework, or claims

When BIM is tailored correctly, the benefit-cost ratio becomes positive. On the other hand, when BIM is over engineered, the ratio might flip.

In Indonesia, currently BIM adoption is growing, but maturity levels still vary widely across clients, consultants, and contractors. However the competency gap has narrowed over the past few years. A successful BIM implementation requires understanding of the project and clear purposes of its BIM adoption. The goal is not to do everything digitally but to build smarter digitally and physically. After 10 years working within an Indonesian contractor, my conviction about BIM is simple:

BIM should adapt to the project, not force the project to adapt BIM

When BIM is tailored and aligned with project objectives, delivery strategy, and cost realities, it becomes a powerful enabler. The future of BIM in Indonesia lies not in the highest level implementation, but in smart, purpose-based, and value-driven adoption. Just as every construction project is unique, BIM implementation should be too.

Dunia Konstruksi di Era Disrupsi dan Sekilas tentang BIM

Nah seperti yang telah gue sampaikan di post sebelumnya, kali ini gue mau membahas tentang disruption era yang terjadi saat ini. Disini gue mau membahas sedikit tentang dunia konstruksi di tengah era disrupsi dan sekilas tentang BIM. Gue sendiri masih masih sangat newbie sekali di bidang konstruksi, baru beberapa tahun sejak gue lulus dan bergabung di bidang ini. Belum lama sejak gue bergabung, gue menyadari bahwa bidang yang gue tekuni saat ini juga turut terdisrupsi.

Disruption era memang datang bagai ombak, true disruption can hit an industry like tsunami, washing over incumbents and forcing industry to change or risk getting drowned out. Hugh MacLeod mengilustrasikan disruption ini dengan sangat apik. Thanks Hugh! I always love your cartoon, it’s so on point!

Disruption is a wave by Hugh

Disruption is a Wave by Hugh MacLeod

Istilah disrupsi sebetulnya sudah diperkenalkan sejak tahun 1995, namun belakangan istilah ini menjadi marak kembali. Di dunia disrupsi sudah menyerang banyak lini industri, ada yang survive karena mampu beradaptasi, ada pula yang harus tergilas dengan disruption wave ini. Salah satu perusahaan raksasa yang harus tergilas oleh disruption wave ini adalah Kodak, perusahaan yang sudah bergerak di bidang kamera dari tahun 1888. Kejatuhan Kodak bukan disebabkan karena teknologi,  prototype kamera digital bahkan ditemukan oleh seorang engineer di kodak. Kodak menemukan teknologinya, tapi nggak menginvestasikan untuk teknologi tersebut. Sebagai referensi barangkali bisa dibuka bahasan HBR yang cukup komprehensif disini

Di Indonesia sendiri kita bisa melihatnya langsung bagaimana model bisnis berubah, betapa banyak start up yang bermunculan. Gojek misalnya yang diklaim sebagai unicorn pertama Indonesia, merubah model industri transportasi umum kita. Pergeseran model bisnis bisa kita lihat juga dengan banyaknya start up jual beli yang bermunculan, Bukalapak, Tokopedia, you name it lah. Beberapa yang menyadari adanya disrupsi di industri mereka buru-buru beradaptasi dengan menyediakan platform online, seperti Matahari atau Periplus misalnya. Yep, here comes the disruption era.

Lalu apa kabar dengan dunia konstruksi? Apakah disruption wave yang ramai dikabarkan menghantam berbagai lini industri juga menghantam industri konstruksi ini? Yes, gue rasa cepat atau lambat industri ini juga akan terdisrupt. Perkembangan IOT (Internet of Things) dan teknologi ini benar-benar mengahantam semua lini. Dalam suatu paparan yang gue dapatkan minggu lalu, industri konstruksi dan pertanian memang termasuk industri yang agak lamban mengalami perubahan dibandingkan industri lainnya beberapa tahun belakangan ini, tapi ini nggak berarti industri ini tidak akan berubah. Ketika disruption wave nantinya datang dan mengacaukan semuanya, kita harus aware apakah safety zone kita berubah. 

Dalam suatu konferensi yang sama di minggu lalu, gue melihat beberapa perkembangan teknologi konstruksi asing yang sangat maju. Hanhwa misalnya, kontraktor asal Korea Selatan ini saat ini sedang mengembangkan Bismayah New City di Baghdad, dengan total 100.000 unit residential di lahan seluas 1.800 hektar dalam waktu 6 tahun. Mereka membangun kota baru ini dengan teknologi BIM untuk memastikan semuanya terintegrasi dengan baik. Yah BIM barangkali yang akan menjadi salah satu pendisrupsi bagi industri konstruksi. Gaung BIM sendiri sudah mulai terdengar di dalam negeri. Beberapa pioneer BIM sudah mulai bergerak dan mencoba mengedukasi mengenai sistem ini, sistem yang sudah masuk ke dalam regulasi beberapa negara.


Sekilas tentang BIM

BIM sendiri merupakan abreviasi dari Building Information Modeling. Sederhananya BIM ini merupakan suatu sistem, bukan software yang berdiri sendiri. BIM ini bekerja dengan mengintegrasikan dan mengcompile hasil beberapa pemodelan menjadi satu, sehingga nantinya semakin banyak informasi yang bisa digenerate dari dalam model tersebut. 

Autodesk mendefinisikan BIM sebagai intelligent 3D model-based process that gives architecture, engineering, and construction (AEC) professionals the insight and tools to more efficiently plan, design, construct and manage buildings and infrastructure.

Well, kalau biasanya kita mengenal sampai dengan model 3D di bidang konstruksi ini. Di dalam BIM ini kita akan mengenal sampai dengan model 7D. Semakin meningkat level dimensinya, maka akan semakin banyak informasi yang bisa digenerate. Karena BIM ini merupakan suatu sistem, tentunya BIM ini berkaitan dengan banyak software. Beberapa pengembang software besar diantaranya AutoDesk, Bentley, Trimble dan CSI. Hasil pemodelan setiap software ini nantinya dapat terintegrasi satu sama lain.

Dengan BIM ini harapannya proses pelaksanaan konstruksi dapat menjadi lebih efektif dan efisien, karena model telah dikembangkan sebelum masa konstruksi dimulai. Disini, nantinya juga dapat dilakukan mitigasi resiko dan proses pengontrolan sumber daya yang lebih terarah. Tidak hanya sampai di masa konstruksi saja, melainkan sampai dengan masa maintenance, diharapkan model BIM ini nantinya juga akan mempermudah proses controlling oleh facility engineer.

Satu hal yang harus menjadi perhatian disini adalah  untuk mengembangkan model BIM ini diperlukan data yang sangat lengkap. Trash in = Trash Out. BIM hanyalah sistem yang bisa mengintegrasikan beberapa pemodelan menjadi satu. Dan setiap pemodelan tersebut tentunya memerlukan informasi yang lengkap bila ingin dimodelkan secara baik. Keakuratan informasi yang bisa digenerate dari model tersebut tentu dipengaruhi oleh kelengkapan informasi yang dijadikan sebagai input.

Yah welcome to the disruption era, where technology also transforming the way that buildings and infrastructure designed, constructed and operated.

Sekian untuk post pagi ini, gue masih menunggu di sudut kedai kopi sambil menunggu kereta yang akan berangkat setengah sebelas nanti. Mendapat sedikit alasan untuk pelarian kecil ke Bandung minggu ini. Selamat berakhir pekan.