Unknown's avatar

About Nabila Satwikawati

A full time civil engineer, a newbie writer, a book juggler and a lifelong learner.

Tetap Produktif selama WFH

Hari ini sudah masuk minggu ke empat gue WFH kalau nggak salah. Yah di minggu pertama gue masih ke kantor sih karena memang load pekerjaan lagi tinggi dan butuh koordinasi langsung. Lalu minggu-minggu berikutnya gue hanya ke kantor sekali setiap minggunya. Dampak virus Covid-19 ini memang cukup besar. Virus mungil ini betul-betul mengakibatkan perubahan yang signifikan dan mendisrupsi berbagai lini yang ada. Gue berharap semoga wabah ini bisa segera berlalu, biar semuanya bisa kembali normal lagi. Gue bener-bener salut sama rekan-rekan tenaga medis, mereka adalah garda terdepan dalam perjuangan ini. Tetap semangat dan semoga mereka selalu diberikan kesehatan.

Well, menjalani WFH seperti sekarang ini gue rasa dibutuhkan kedisiplinan terhadap diri sendiri. Apalagi buat pekerja kantoran 8 to 5 yang biasanya teratur banget berangkat pagi pulang sore (err atau malem). Mungkin buat temen-temen yang udah biasa freelancing atau remote working gitu nggak begitu terpengaruh. Jujur aja sebagai pekerja kantoran 8 to 5 gue cukup excited dengan WFH ini pertama kali. Gue juga sudah beberapa kali baca tentang tips dari temen-temen yang biasa kerja di rumah, kayak gimana lu harus disiplin sama diri lu sendiri dan lain sebagainya. Nah berdasarkan pengalaman gue selama beberapa minggu ini, gue rasa beberapa hal berikut ini cukup penting buat disiapkan dan diperhatikan ketika lagi WFH

  1. Bangun pagi kayak rutinitas kita ketika mau berangkat kerja biasanya. Untuk temen-temen yang muslim harusnya ini otomatis ya, kan kita sholat shubuh dulu nih.
  2. Sarapan yang cukup, penting juga nih. Pastikan gizinya seimbang. Jangan lupa makan banyak buah-buahan dan sayur.
  3. Set tempat kerja. Menurut gue ini cukup krusial sih, sebisa mungkin cari tempat kerja di rumah yang minim distraksi. Kalau gue memilih kamar gue sebagai tempat kerja. Ketika gue kerja biasanya kamar gue selalu dalam keadaan tertutup. Tapi ingat pastikan sirkulasi udara dan pencahayaan juga baik yah.
  4. Pakai baju yang proper. Penting banget ini, seenggaknya pakai baju yang proper bisa men-set pikiran kita kalau kita itu lagi kerja. Kalau biasanya gue kerja pakai blazer, ketika WFH gue pakai kemeja aja sih. Ditambah kalau diajak concall dadakan, kita udah presentable.
  5. Stick to the schedule. Yes, ketika kita mau WFH kita harus ngabarin semua yang ada di rumah kalau kita WFH dari jam 8 sampai jam 5 misalnya. nah terus stick to the plan deh, biasanya gue masuk kamar jam 8 kurang terus jam 12 keluar buat ishoma habis itu lanjut lagi sampai sore. Pagi -pagi juga sebaiknya kita menentukan pekerjaan apa aja yang mau kita selesaikan.

Mungkin cara orang buat tetap produktif selama WFH macem-macem, tapi menurut pengalaman gue beberapa minggu ini, 5 hal tadi cukup penting buat diperhatikan. Ada beberapa hal lain yang menjadi kebiasaan gue selama WFH ini ngopi pagi misalnya, dengan ngopi gue bisa terbebas dari kantuk. Lalu kalau siang biasanya gue bikin infuse water biar tetap segar dan terhidrasi dengan baik, simple aja pakai lemon dan jahe. 

Buat teman-teman yang lagi WFH, semangat terus WFHnya dan tetap produktif. Mungkin kadang kita merasa bosan saat ini karena nggak bisa beraktivitas kayak dulu. Jujur aja gue juga kangen kok ngopi di kedai kopi, renang sore-sore pulang kantor atau makan siang bareng temen-temen kantor. Tapi bisa mendapatkan kesempatan WFH ini juga suatu hal yang perlu disyukuri. Di luar sana tenaga medis sedang berjuang di garda terdepan dan banyak teman-teman yang tak seberuntung kita. Mungkin kalau ada rezeki lebih bisa disisihkan untuk membantu mereka berjuang. Untuk teman-teman yang bisa (dan mendapat kesempatan) kerja di rumah, maka tetaplah di rumah dan sebisa mungkin kurangi aktivitas di luar, semoga wabah ini bisa segera berlalu.

Sekilas tentang Lean Construction

Well, sudah lama nggak nulis sesuatu yang berfaedah. Kali ini gue mau bahas sekilas tentang Lean Construction.

Lean construction sendiri bisa diartikan sebagai konstruksi ramping. Secara sederhananya tujuan dari lean construction ini adalah meningkatkan value suatu produk (dalam hal ini bangunan) dengan mengimplementasikan prinsip dasar lean construction. Prinsip lean construction sendiri sebetulnya mengadopsi sistem lean production yang sudah lama diterapkan pada pada industri manufaktur.

Penerapan lean ini dilakukan sejak masa perencanaan konstruksi. Terdapat 6 prinsip dasar di dalam Lean Construction. Yakni

  1. Identify value from the customer’s point of view. Memahami nilai-nilai yang diinginkan oleh customer.
  2. Define the value stream. Setelah keinginan customer terdefinisikan dengan baik. Selanjutkan didefinisikan tahapan proses yang dapat mencapai tujuan tersebut meliputi metode/aktivitas, pekerja, informasi, equipment dan material.
  3. Eliminate waste. Meminimalisir atau menghilangkan potensi terjadinya waste.
  4. Flow of work processes. Mendefinisikan alur kerja yang continuous dan tidak terganggu. Selanjutnya melaksanakan pekerjaan sesuai dengan proses yang telah didefinisikan.
  5. Pull planning and scheduling. Menentukan workflow serta sequence pekerjaan berdasarkan kebutuhan downstream (bottom up). Pihak yang terlibat diharapkan berkomunikasi dan berkolaborasi untuk menetukan urutan pekerjaan.
  6. Continuous improvement. Perbaikan wecara terus menerus terhadap proses konstruksi.

Nah, seperti bahasan di atas salah satu prinsip dasar Lean Construction adalah mengeliminasi waste. Di lean construction ini yang dimaksud dengan waste tidak hanya waste berupa material saja, seperti yang selama ini banyak kita kenal. Ada beberapa jenis waste yang dikenal di dalam Lean Construction, biasanya jenis waste tersebut disingkat DOWNTIME yang terdiri dari

  • Defect
  • Overproduction
  • Waiting
  • Non Utilized Talent
  • Transportation
  • Inventory
  • Motion
  • Extra Processing

Harapannya dengan pengimplementasian Lean Construction ini suatu proyek dapat meningkatkan nilai produksinya.

Gone with The Wind

It’s been years..

At the end I know that uncertainty is the most stressful feeling. I know I couldn’t rewind the time and I won’t dwell in the past anymore. In the future, I’ll be more honest with my feeling.

It’s time to let go Bil.

Jeda

Gue rasa kadang manusia butuh jeda. Hidup nggak selamanya terus berlari kan ya, nggak selamanya juga terus berjalan. Kadang kita butuh berhenti sebentar to figure out everything.

Tapi kadang kalau terlalu lama berhenti, gue jadi berpikir dalam-dalam tentang banyak hal. Semacam mengkhawatirkan masa depan. Katanya manusia emang punya kecenderungan buat mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi. Yang gue tau ini nggak baik.

Entahlah, sepertinya gue sekarang ada di zona nyaman gue. Gue nggak tau juga akan ada di zona ini berapa lama. Katanya berada di zona nyaman terlalu lama itu berbahaya. Entahlah. Tapi yang jelas kalau mau melangkah keluar dari zona itu harus hati-hati juga kan.

Belakangan gue sering bosan dengan playlist-playlist di Spo**fy gue. Ketika gue jenuh, gue lebih suka dengerin Podcast. Entah itu di kantor atau di perjalanan pergi dan pulang kantor. Selera musik gue juga mengalami pergeseran, belakangan gue entah kenapa gue jadi suka dengan musik jazz.

Seperti kebanyakan mereka yang berada di pertengahan usia 20, banyak hal yang gue pikirkan sekarang. Tapi gue percaya kalau semua akan terjadi sesuai takdirnya. Kita manusia toh hanya bisa merencanakan dan mengusahakan.

Gue juga percaya bahwa entah dimana pun dia sekarang. Gue yakin kalau kita bakal ketemu orang yang tepat di waktu yang tepat. Siapapun dia. Yang jelas saat ini gue perlu mempersiapkan diri. Karena kedepannya tanggung jawab pasti akan semakin berat. Jadi banyak yang harus dipersiapkan.

Well, belakangan gue suka banget liat senja. Indah banget komposisi warnanya dan apapun di sekitarnya jadi keliatan cantik. Entah kenapa kalau ngeliat matahari terbenam gue jadi ngerasa tenang dan damai. Senja menunjukan kalau waktu berganti dan apapun yang ada itu akan berubah. Gue, lu, dia dan mereka semua akan berubah. Tapi yang jelas senja menunjukan kalau siang akan berganti malam. Dan malam adalah waktu untuk beristirahat sejenak dari apa yang sudah kita upayakan di siang hari.

“And it is He who has made the night for you as clothing and sleep [a means for] rest and has made the day a resurrection.” Quran 25:47

Jakarta, beberapa menit setelah senja.

Brief Review: Digital Minimalism

Ini adalah buku ketiga Cal Newport yang gue baca dan sebetulnya buku pertama Newport yang gue selesaikan. Gue nggak berhasil menyelesaikan dua buku lainnya (Deep Work dan So Good They Can’t Ignore You) karena gue beli yang versi hard cover jadi agak nggak fleksibel kalau dibawa-dibawa. Padahal bagus sih isinya, oke, kayaknya gue akan beresin dua buku itu tahun depan.

Sekilas dulu ya tentang Cal Newport ini, karena menurut gue secara personalnya emang agak unik dan menarik. Gue tau tentang penulis ini dari temen SMA gue sebetulnya, dulu ketika gue masih kuliah, dia pernah cerita tentang bukunya Cal Newport yang ngebahas kebiasaan para straight A students di kampus gitu. Terus beberapa tahun kemudian, gue nggak sengaja liat videonya Cal Newport di TED Talks dan akhirnya gue tau kalau dia udah nulis beberapa buku saat itu. Saat ini Cal Newport merupakan Associate Professor di Georgetown University, jurusan Computer Science. Nah menariknya Newport ini nggak pernah punya akun media sosial sama sekali, karena menurutnya media sosial nggak membawa banyak manfaat. Well, sebagai seorang full time professor, Newport juga terbilang cukup produktif dalam menulis buku.

Nah balik lagi ke Digital Minimalism, buku terakhirnya Newport. In his book, Newport define digital minimalism as a philosophy of technology use in which you focus on your online time on a small number of carefully selected and optimized activities that strongly support things you value, and then happily miss out everything else.

Pada pembukaannya, Newport menceritakan bahwa saat ini nggak bisa dipungkiri lagi kalau media sosial dan smartphones merubah bagaimana kita hidup di abad 21 ini. Tentang bagaimana engineer dan programmer di Silicon Valley nggak cuma memprogram aplikasi saja tapi juga memprogram manusia. They want we use their apps in particular ways and for long periods of time. Karena dengan cara itu lah mereka mendapatkan uang. Fenomena ini bisa dibilang mirip dengan para perusahaan tembakau yang sengaja membuat rokok mereka menjadi lebih adiktif. “While Philip Morris just wanted your lungs, the App Store wants your soul” said Tristan Harris, a former start-up founder

To achieve the effectiveness of digital minimalism, here Newport provides three core principle

Principle #1: Clutter is costly
Digital minimalist recognize that cluttering their time and attention with too many devices, apps and services creates an overall negative cost that can swamp the small benefits that each individual item provides in isolation

Principle #2: Optimization is important
Digital minimalist believe that deciding a particular technology supports something they value is only the first step. To truly extract its full potential benefit, it’s necessary to think carefully about how they’ll use the technology

Principle #3 : Intentionality is satisfying
Digital minimalist derive significant satisfaction from their general commitment to being more intentional about how they engage with new technologies.

Perkembangan smartphone dan media sosial yang sengaja dibuat untuk menjadi adiktif bagi usernya ini memang mempengaruhi pola hidup kita. Misalnya seperti sekarang dimana orang-orang menjadi nggak mudah bosan, kita dapat dengan mudah mengakses apapun dari smartphone kita. Berita, hiburan, media sosial dan lain sebagainya. Para programer sengaja memprogram social media menjadi lebih adiktif dengan memberikan slots machine effect. Efek yang dibuat serupa dengan slots machine, dimana kita perlu merelease news feed kita untuk merefresh informasinya. Nah biasanya akan ada slight delay ketika kita merefresh news feed kita ini dan ternyata ini memang dibuat sedemikian rupa. Selanjutnya otak akan bekerja merelease dopamine yang membuat kita excited ketika akhirnya news feed tersebut terupdate. Efek itulah yang akhirnya membuat kita terus menerus merefresh feed social media kita entah itu Instagram, Twitter ataupun Facebook.

Well, buku Cal Newport ini menurut gue cukup bagus dan relevan dengan kondisi kita sekarang. Gue sendiri pengguna media sosial dan menurut gue memang media sosial ini cukup adiktif, terkadang gue sendiri nggak sadar kalau waktu gue terbuang percuma disana. Untuk saat ini sih gue belum bisa seekstrim Cal Newport yang nggak menggunakan sosial media sama sekali tapi at least ngebatasin. Gue sengaja masang timer di instagram gue untuk ngereminder gue ketika gue udah melewati batas waktu yang gue tentukan perharinya misalnya.

Yang jelas kita harus aware sama waktu yang kita habiskan disana dan manfaat yang bener-bener bisa kita dapet. Dan menurut gue nggak semua berita dan informasi harus kita tau, di era digital yang terjadi banjir informasi ini menurut gue kita bener-bener harus selektif sama informasi yang kita cerna.

Oke, sekian dari gue yang baru aja menghabiskan secangkir kopi di sudut Kota Bandung.

Brief Review: The One Thing

“Life is too short to chase unicorns. It’s too precious to rely on a rabbit’s foot.”

Udah lama gue nggak melakukan review buku yang gue baca. Kali ini gue mau review bukunya Gary Keller & Jay Papasan, The One Thing. Sebelum memutuskan untuk beli dan baca, gue liat review yang cukup bagus di forum-forum.

Buku ini secara overall ngebahas tentang bagaimana kita bisa mencapai tujuan kita dengan fokus ke satu hal secara bertahap dan bahwa nggak semua hal itu setara. Karena melakukan banyak hal dalam waktu yang bersamaan bisa jadi malah membawa side effect terhadap hasil pekerjaan kita.

“Going small is ignoring all the things you could do and doing what you should do. It’s recognizing that not all things matter equally and finding the things that matter most”

Di sini si writer memperkenalkan domino effect, gimana sesuatu yang kecil tapi dengan progress yang linear bisa menghasilkan result yang besar. Jadi di tahun 1983, Lorne Whitehead menulis dalam American Journal of Physics bahwa sebuah domino nggak hanya bisa menjatuhkan domino lainnya, tapi juga bisa menjatuhkan domino yang ukurannya 50% lebih besar dari domino itu sendiri.

Jadi kira-kira kalau dimodelkan dengan linear progression, domino berukuran 2 inch akan bisa menjatuhkan domino pada urutan ke 18 dengan tinggi setara dengan Menara Miring Pisa, lalu di urutan 23 setara dengan Eiffel Tower dan Puncak Everest pada urutan ke 31. Sehingga menghasilkan impact yang cukup besar untuk ukuran domino yang terbilang kecil.

“So line up the priorities, find the lead domino and whack away at it until it falls. Success is built sequentially. It’s one thing at a time”

In this book they also told us that there are 6 lies that usually mislead us

  1. Everything matters equally
  2. Multitasking
  3. A discipline life
  4. Willpower is always on Will-Call
  5. A balancee life
  6. Big is bad

Beberapa poin-poin di atas membuat gue bepikir ulang tentang beberapa hal yang gue yakini selama ini kayak hidup yang disiplin dan seimbang. Kalau untuk multitasking sih, agaknya selama ini gue tergolomg orang yang single tasker. Gue cenderung menyelesaikan sesuatu dulu sampai selesai baru pindah ke hal yang lain.

Selanjutnya mereka ngebahas tentang bagaimana menghasilkan sesuatu yang extraordinary

  1. Live with purpose
  2. Live by priority
  3. Live for productivity

Kita diminta untuk punya definite purpose dalam hidup kita. Selanjutnya kita harus menentukan prioritas yang tepat, karena purpose without priority is powerless ceunah. Lalu yang terakhir kita harus melakukan time block untuk prioritas kita itu. Time block sendiri adalah salah satu cara buat memastikan apa yang harus dikerjakan betul-betul dikerjakan.

Terakhir, ada quote yang gue suka

“Productivity isn’t about being a workhorse, keeping busy or burning the midnight oil. It’s more about priorities, planning and fiercely protecting your time” -Margarita Tartakovsky-

Well, sekian dulu dari gue karena secangkir kopi di depan gue udah mau habis.

Adios Geotechnical Engineering

Menikmati senja di Seminyak adalah hal yang nggak bisa gue lewatkan ketika gue berkunjung ke Bali. Sejak beberapa tahun yang lalu, tempat ini jadi salah satu favorit spot gue buat hunting sunset.

Beberapa waktu yang lalu gue dan 2 orang temen gue baru aja menyelesaikan paper kita. Well, 2 orang temen gue ini, Fitri dan Latin sama-sama anak Geotek ketika kita kuliah dulu. Kebetulan beberapa waktu yang lalu ketika kita ngobrol bareng kita nemu informasi tentang konferensi geoteknik gitu. Akhirnya kita mutusin buat ngejajal konferensi ini dengan bikin paper. Buat gue ini paper perdana gue dan (kayaknya) bakal jadi paper terakhir gue di bidang geoteknik. Kita bertiga saat ini sama-sama kerja di kontraktor, walau di perusahaan yang berbeda. Well, beruntungnya Latin punya kenalan dosen ketika S2 dulu dan akhirnya paper kita dibimbing oleh beliau. Pak Hendra Jitno yang saat ini berdomisili di Brisbane. Jadi kita memyempatkan bertemu beliau sebulan sekali ketika beliau lagi di Jakarta. Alhamdulillah, akhirnya paper kita lolos screening dan diinvite untuk presentasi di Bali minggu lalu.

Di conference kemarin kita ketemu banyak expert geotek, baik dalam maupun luar negeri. Mereka ini sangat humble sekali untuk sekedar berdiskusi dengan remahan doritos kayak gue. Sebagian besar akademisi dan sisanya adalah praktisi-praktisi. Udah lama gue nggak merasakan vibes pergeoteknikan ini, karena saat ini sebenernya gue udah nggak fokus di spesialisasi ini lagi. Hanya karena dua orang temen gue itu (yg keduanya masih fokus di geoteknik) akhirnya gue diajak bikin paper bareng. Gue rasa sense of geotechnical engineering gue juga udah agak luntur dan nggak setajam dulu. Sepertinya setelah ini gue juga akan menyebrang spesialisasi, sebenernya nggak menyebrang sih, cuma pindah fokus spesialisasi aja.

Seperti tulisan gue dulu Between a Jack or a King, gue tetep mau jadi seorang specializing generalist. Alasan gue pindah fokus spesialisasi sebenernya karena saat kerja ini gue lebih banyak berkecimpung di construction management. Dan sekitar 2 tahun ini gue lebih fokus di BIM. BIM ini menurut gue juga menarik untuk didalami karena memiliki bahasan yang sangat luas. Implementasi BIM di Indonesia sendiri juga terbilang masih dirintis sehingga masih banyak hal yang bisa dipelajari dan dikembangkan.

Sebagai penutup, gue mau menyisipkan quote yang sering disampaikan oleh para geotechnical engineers dan structural engineers

“Earthquakes don’t kill people, buildings do”

Well, jadi sebenernya yang mendatangkan bahaya adalah inadequate designed and poorly constructed building. Both the designer and contractor have important role here. Gue rasa ini yang harus selalu diingat oleh kedua belah pihak.

Selamat Malam dari Jakarta Selatan

Run Billy Run

Beberapa waktu yang lalu temen kuliah gue secara random nyeletuk

“Nggak kerasa kita udah 4 tahun lulus ya”

“Iya, cepet banget yah”

Lalu di hari yang lain, ketika makan siang bareng, temen gue di kantor nanya gue

“Bil, lu nggak sayang ya lulusan ITB kerja disini?”

“Hmmm nggak juga sih, sejauh ini gue enjoy..”

Well, sudah 4 tahun gue lulus dan sudah hampir 4 tahun juga gue kerja di perusahaan gue sekarang. Bener juga kata temen gue dulu pas OJT, katanya di tahun pertama lu kerja waktu bakal berjalan sangat lambat tapi sisanya akan bergulir gitu aja. Emang sih di setahun pertama, gue kadang ngerasa agak dilema karena banyak orang yang bilang kalau gue nyasar di perusahaan gue sekarang ketika mereka tau almamater gue. Padahal menurut gue nggak ada yang salah, lagipula fokus bisnisnya juga masih sejalan sama subjek yang gue tekuni di bangku kuliah. Gue sendiri juga nggak begitu mengerti kenapa alumni2 di tempat gue nggak begitu banyak yang terjun di kontraktor BUMN. Sejauh ini, seperti yang gue bilang di tengah makan siang gue bersama temen2 kantor, gue masih enjoy disini. Karena gue cukup nyaman dengan lingkungannya dan masih banyak hal yang masih bisa gue pelajari disini.

Oh iya lagi pula menurut gue, almamater itu nggak bisa mendefine masa depan kita sepenuhnya. Walau sedikit banyak punya pengaruh ke pola pikir kita tentunya. Semuanya bakal balik ke diri kita lagi, gimana goal kita, persistensi dan determinasi. Kesuksesan juga bukan suatu hal yang absolut, tiap orang punya definisi dan parameter suksesnya masing-masing. Jadi gue nggak begitu ambil pusing ketika orang mempertanyakan keputusan gue.

Soal kehidupan pasca lulus dan dunia kerja, ada satu hal yang gue pikirin sejak dulu di tahun pertama gue kerja: gue nggak mau hidup yang monoton. Kayak cuma Tidur-Makan-Kerja-Makan-Repeat. Gue pribadi punya beberapa target personal yang menurut gue bikin hidup gue lebih passionate. Gue jadi ingat wejangan salah satu dosen ketika gue diskusi karena mau pindah sub bidang keilmuan yang gue tekuni sekarang

“Terserah kamu mau menekuni apapun itu Bil, yang penting itu adalah hal yang bikin kamu semangat ketika bangun tidur”

Beliau adalah salah seorang dosen geotek yang ngebimbing paper gue dan temen2. Malam itu gue cerita kalau gue mau menyebrang dari geotek ke sub bidang yang lain sekarang, karena beberapa hal. Lalu beliau ngasi wejangan intinya yang penting lu enjoy, tekun dan konsisten sama pilihan lu itu.

Anyway balik lagi ke working life gue, di weekdays, mostly gue habisin waktu 1/3 hari di kantor (seringkali lebih malah) dan kita punya 2/3 hari sisanya. Gue nggak pengen 2/3 hari gue sia-sia, jadi gue coba cari kegiatan yang bikin hari-hari gue nggak monoton. Sejak gue pindah dari site ke office ritme hidup gue lebih teratur dan beberapa kegiatan ini cukup bikin gue nggak bosen dan bisa ngerefresh pikiran.

1. Jalan pagi sebelum ngantor. Ini lumayan banget, selain buat ngejaga badan biar tetep fit, working out katanya bisa mempengaruhi kerja otak kita in positive ways. Gue biasanya keluar rumah sekitar setengah 6 jadi udaranya masih fresh, lalu jalan sekitar 1 jam. Biasanya gue pakai headset sambil dengerin musik dan nggak mau buka notifikasi apapun di hp gue selama 1 jam itu. Setelah itu gue balik, mandi dan siap2 ngantor.

2. Renang sepulang kantor. Kalau ini nggak setiap hari, karena gue renangnya malem gue prefer di kolam yang indoor walau tempatnya agak jauh dari kantor. Biasanya 1-2 kali lah seminggu. Nyebur ke kolam dan lap swim kurang lebih 1 jam, rasanya bisa ngerefresh pikiran banget yang sudah diperas di kantor seharian. Setelah renang juga biasanya tidur malam gue lebih berkualitas.

3. Belajar bahasa. Belajar bahasa ini sebetulnya salah satu persiapan gue buat ambil master nanti. Ini yang agak susah, karena nine to five job gue yang kadang menuntut overtime, gue agak sulit kalau harus ambil kelas. Jadi ya opsinya kalau nggak otodidak ya ambil online course. Untuk yang ini gue lagi cari ritme dan cara yang tepat sih.

4. Ngerjain project bareng temen. Well, ini menarik karena selain menyambung silaturahmi sama temen-temen, gue ngerasa lebih produktif aja karena ada sesuatu yang dihasilkan. Kalau project ini terkait sama bidang keilmuan kita, lumayan ngerefresh dan menambah wawasan juga sih. Dengan ngerjain project juga biasanya kita bisa menambah link

5. Menyambangi art space dan museum. Gue dari dulu selalu tertarik dengan seni, walau gue nggak nyeni. Gue cuma penikmat aja sih sebetulnya, walau dulu gue sering dikira anak seni rupa oleh beberapa teman di unit kemahasiswaan. Dateng ke exhibition2 buat gue rasanya bisa ngasi insight dan inspirasi. Di jakarta sendiri sekarang cukup banyak artspace dan museum yang ngadain exhibition secara berkala.

6. Spend a me time. Gue punya beberapa tempat pelarian ketika gue mau menghabiskan waktu sendiri. Kebanyakan sih coffee shop yang biasanya nggak gue kunjungi bersama temen2 gue. Karena di weekdays biasanya gue dan temen2 ngopi di deket kantor sambil chit chat. Well, gue termasuk orang yang butuh waktu untuk ngerecharge diri gue sendiri. Dengan me time gini biasanya gue bisa melakukan beberapa hal kayak baca buku atau ngeblog yang nggak bisa gue lakukan ketika kongkow-kongkow bareng temen.

7. Ikut event olahraga. Beruntung beberapa orang temen gue ngajakin untuk ikut event2 lari. Sampai akhirnya beberapa minggu yang lalu gue berhasil mendapatkan medal 5k pertama gue. Yah gue cukup happy juga akhirnya dapet medal 5k walau dengan pace yang memprihatinkan. Tapi ikut event lari bareng temen-temen gini lumayan memotivasi gue untuk lebih baik juga.

Well, es kopi susu di depan gue udah hampir habis. Sekian dari gue, yang sudah menghabiskan 3 jam gue di kedai kopi kecil ini.

Interlude #4

Whoooooah, it’s been a while. Post terakhir gue di Maret 2018, kira-kira setahun yang lalu. Udah lama juga ya. Setelah setahun hiatus, gue cuma mau nulis interlude yang lain hari ini. Sebetulnya gue selalu berharap gue rajin nulis disini, tapi belakangan gue lebih memilih bullet journal gue untuk menulis hal-hal yang kelewat personal.

Banyak hal yang terjadi setahun ini,

Alhamdulillah bisa ke Mekkah dan Madinah bareng nyokap bokap, salah satu point yang ada di bucket list gue tercentang. Baru selang beberapa bulan berlalu gue sudah merindukannya. Suasana menunggu waktu sholat tiba sambil mendengarkan suara adzan yang sangat syahdu. Bertemu dengan saudara2 muslim dari belahan bumi lain yang dengan ramah menawarkan menu berbuka puasa mereka kepada kami.

Salah satu kedai kopi favorit gue tutup beberapa bulan lalu. Sedih juga, padahal tempat ini selalu jadi tempat pelarian gue sejak tahun 2016. Tempatnya sepi dan comfy, bikin gue betah berlama-lama disana buat nulis atau baca. Setelah kedai kopi ini tutup gue mencari lagi kedai kopi yang serupa, namun sampai sekarang gue belum menemukannya.

Beberapa bulan ini gue mulai rutin olahraga, sejak sempat off sejak masuk kuliah dulu. Gue coba untuk rutin renang, jogging dan sepedaan. Sepertinya triathlon menarik juga. Tapi gue belum seserius itu sih, untuk saat ini gue olahraga cuma untuk jaga kesehatan tubuh gue dulu aja. Dan lagi untuk triathlon cukup banyak gear yang harus disiapkan wkwkwk.

Gue tinggal 3 hari 2 malam di atas boat, yep mengapung-apung di lautan ketika gue ngetrip ke Labuan Bajo beberapa minggu lalu. Pengalaman ini cukup menarik buat gue yang kurang adventurous ini. Kita island hopping dari satu pulau ke pulau lainnya, snorkeling, ngejar sunset dan lari dari hiu (gue aja sih, temen gue yang lain santai). Keren abis memang Indonesia ini.

Mulai mempersiapkan rencana gue untuk ambil S2, gue lagi mempersiapkan hal yang paling dasar sih: IELTS preparation. Setelah bekerja kurang lebih 3.5 tahun ini, gue mulai mendapatkan sedikit gambaran tentang fokus studi yang akan gue ambil. Gue belum berencana untuk ambil tahun ini sih karena gue belum persiapan sama sekali. Dan rencana gue sementara ini masih akan tetap jadi praktisi dulu pasca S2 nanti.

Kedepannya sepertinya gue akan mulai rutin menulis lagi. Sebulan sekali barangkali. Yang jelas gue masih akan merawat blog ini.

Sekilas tentang Metode NATM dan TBM

Jadi setelah beberapa interlude-interlude kemarin, gue ingin mencoba agak produktif hari ini. Gue pulang agak lebih cepet dari biasanya kemarin, karena selama empat hari sebelumnya, gue pulang kelewat malem terus gara-gara ada course after office hour gitu. Oke, jadi kali ini gue mau bahas in brief tentang tunneling method, sebetulnya artikel ini udah mau gue post dari kemarin-kemarin cuma draftnya nggak kunjung selesai. Well, sebagai gambaran gue sendiri memang belum pernah terlibat dalam proyek tunnel ataupun tunnel design.

Sekitar akhir tahun lalu, gue melakukan site visit ke salah satu proyek tunnel yang lagi berjalan bersama beberapa praktisi geotek. Jadi ceritanya waktu itu gue lagi ikut course geotek tahunan di Bandung dan di akhir course itu para participant diajak untuk site visit ke Terowongan Cisumdawu. Terowongan Cisumdawu ini menggunakan metode konstruksi NATM (New Austrian Tunneling Method). Di hari sebelumnya, kita, para participant, udah diminta untuk membuat pemodelan NATM ini dengan Plaxis. Jadi udah ada sedikit gambaran lah kira-kira metodenya ini seperti apa. Kebetulan juga salah satu pematerinya Prof. Helmut dari TU Graz, Austria. Nah sebelum gue ikut course kemarin, metode tunneling yang gue tau hanya TBM yang saat ini lagi digunakan untuk proyek MRT Jakarta dan D&B, jadi metode NATM ini baru banget buat gue. Well, di in brief post gue kali ini gue mau bahas kedua tunneling method ini: NATM dan TBM.

TBM (Tunneling Bor Machine) Method. Metode pertama yang mau gue bahas adalah TBM, gue rasa cukup banyak temen-temen yang udah tau TBM itu apa. Yes, metode ini sedang diterapkan pada Proyek MRT Jakarta. Proyek MRT yang saat ini sedang berjalan, menggunakan 4 mesin bor yang diberi nama Antareja I, Antareja II, Mustika Bumi I, dan Mustika Bumi II. (Ini agak random sih, tapi ada yang cukup menarik dengan nama Antareja ini, dalam pewayangan Jawa, Antareja merupakan anak dari Bima yang punya kemampuan buat berjalan di dalam bumi). TBM yang digunakan pada proyek MRT Jakarta menggunakan jenis Earth Pressure Balance (EPB) karena jenis tanahnya yang didominasi oleh silty clay.

TBM elements

Tunneling Bor Machine atau seringkali disebut Mole (credit to railsystem.net)

TBM ini berfungsi untuk proses tunneling sekaligus ring building. Pada proses Tunneling, cutter head pada TBM berfungsi untuk menggerus tanah. Lalu tanah hasil gerusan dari cutter head disimpan ke dalam mixing chamber. Selanjutnya tanah tersebut dibawa oleh screw conveyor dan diteruskan ke belt conveyor untuk selanjutnya dibuang ke luar area terowongan. Pada saat yang bersamaan juga proses ring buildig dilakukan. Pada proyek MRT Jakarta, ring building ini terdiri dari segmen-segmen beton. Nantinya setelah terbentuk satu ring beton utuh, mesin TBM akan bergerak maju.

NATM (New Austrian Tunneling Method). Lalu selanjutnya adalah metode NATM, NATM sendiri kepanjangan dari New Austrian Tunneling Method atau biasa juga disebut SEM (Sequential Excavation Method). Seperti yang udah dibahas sebelumnya, saat ini NATM sedang digunakan di proyek Terowongan Cisumdawu. Selain itu metode ini digunakan juga di Proyek Terowongan Notog, Purwokerto. Berbeda dengan metode sebelumnya, NATM nggak menggunakan boring machine. Excavation pada terowongan dilakukan secara manual dan bertahap.

Typical NATM

Typical NATM excavation. (credit to Prof. Helmut F. Schweiger)

Tahapan pertama dalam metode ini adalah proses excavation pada area tunnel yang dapat dilakukan dengan menggunakan alat twin header. Pembuangan tanah kerukan dapat menggunakan loader tertentu disesuaikan dengan diameter tunnel. Setelah itu proses excavation dilanjutkan dengan pekerjaan temporary support menggunakan rock bolt, wire mesh dan steel rib. Lalu dilakukan proses proteksi pada area dinding dengan menggunakan shotcrete. Selanjutnya untuk ring building, dilakukan secara cast in situ, didahului dengan pembesian dinding struktur dan pengecoran. Pada tahapan akhir dilakukan back fill grout untuk memperbaiki retak-retak yang terjadi pada dinding tunnel.

DSC_1502-01

Cisumdawu Tunnel Project

Well, selama gue kerja, sebetulnya gue sangat jarang banget terlibat dalam hal-hal yang bersinggungan dengan geoteknik. Kecuali pas gue lagi OJT, gue sempat terlibat dalam braced excavation design untuk salah satu proyek kita di Jakarta. Tapi selama tiga tahun ini gue diminta untuk ikut annual geotechnical course yang biasanya diadain akhir tahun. Nah, disinilah biasanya gue bertemu dengan praktisi-praktisi geotek dan ngerefresh bidang keilmuan gue selama kuliah dulu. Gue sendiri udah menyebrang cukup jauh selama 2 tahun ini dan sekarang gue malah lagi mencoba mempelajari BIM.