Unknown's avatar

About Nabila Satwikawati

A full time civil engineer, a newbie writer, a book juggler and a lifelong learner.

4 Years

..and It only took 4 years to make me falling love with this city..

Ya, itu adalah Bandung. Belum lama gue mengenalnya, kurang dari seperlima usia gue sekarang, tapi segala hal akan kota ini punya tempat yang lain di memori gue. Setiap gue ke Bandung, rasanya waktu yang gue punya itu nggak pernah cukup, entah mengapa. Mungkin terlalu banyak hal yang ingin dilakukan, atau terlalu banyak tempat yang ingin dikunjungi atau terlalu banyak yang ingin ditemui.

Well, gue menanyakan ke temen-temen gue yang pernah tinggal di Bandung mengenai impresi mereka akan Bandung. Kurang lebih semuanya setuju kalau Bandung emang super ngangenin. Kota ini benar-benar membekas di setiap hati orang-orang yang pernah tinggal di dalamnya.

Emang bener kata Pidi Baiq “Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi”

Sekarang, setiap gue jenuh akan segala rutinitas yang gue lakukan, rasanya gue punya dua tempat kembali. Yang pertama adalah Bogor, lalu kedua adalah Bandung. Ya, rasanya gue selalu ingin kembali.

Tapi emang nggak bisa dipungkiri bahwa nggak cuma geografis bandung aja yang gue rindukan, tapi juga orang-orang di dalamnya. Mereka-mereka yang mengisi hidup gue selama 4 tahun di sana, benar-benar luar biasa. Ketemu mereka rasanya benar-benar bisa ngerefresh dan ngelepas penat yang ada. Sekedar ngomongin memori-memori yang lalu, keisengan-keisengan kecil yang gue lakukan, rutinitas masing-masing kita sekarang atau ngomongin rencana-rencana kita kedepan.

Thank God for all these great memories. Buat mereka yang sudah mengisi hari-hari gue di Bandung, gue bener-bener berterimakasih. Tanpa mereka mungkin Bandung nggak akan jadi sengangenin ini. Untuk mereka korban-korban keisengan kecil gue, gue meminta maaf. Semuanya murni gue lakukan untuk mencairkan suasana. Lalu untuk Bandung, gue berterimakasih, karena sudah menjadi tempat gue dan mereka-mereka ini bertemu.

Nampaknya kota ini benar-benar memberikan impresi yang berarti buat gue. Gue selalu berharap bisa terus mengunjungi kota ini kedepannya.

Cawang, Juni 12 2016

The People Behind the Scene

Kita hidup dengan infrastruktur-infrastruktur mengagumkan di sekeliling kita, namun beberapa nggak menyadari peran civil engineer di dalamnnya. They are the people behind the scenes of today’s society infrastructure. Lalu karena berperan sebagai people behind the scene, apakah lantas civil engineer hanya perlu mengasah skill teknikal saja?

“Tell me and I forget, teach me and I may remember, involve me and I learn.”

-Benjamin Franklin-

Setelah melalui masa OJT lalu dan melewati assessment minggu kemarin dengan sedikit keberuntungan, gue yang masih newbie ini memutuskan untuk melanjutkan hidup gue di dunia konstruksi. Itu artinya selama beberapa tahun kedepan gue akan berkutat di bidang ini, sebagai seorang civil engineer. Dan kayak post gue sebelumnya, gue berusaha untuk love what I do and be good at it”. Well yeah, harusnya emang begitu.

Ngomong-ngomong soal civil engineer. Menurut data dari U.S. Bureau of Labor Statistic, kebutuhan tenaga kerja civil engineer diproyeksikan bakal naik sekitar 20% dari tahun 2012 sampe 2022, lebih pesat dibandingkan rata-rata bidang pekerjaan lainnya. Peningkatan akan kebutuhan civil engineer ini selain diperlukan untuk pembangunan-pembangunan infrastruktur baru dan juga diperlukan untuk melakukan perbaikan dan maintenance terhadap infrastruktur yang sudah semakin berumur. Di Indonesia sendiri menurut PU setidaknya kita membutuhkan 175,000 sarjana teknik setiap tahunnya sedangkan Indonesia hanya meluluskan sekitar 42,000 sarjana setiap tahunnya. Yang artinya kita masih memerlukan banyak sarjana teknik. Tentunya kita sebagai sarjana teknik dapat melihat hal ini sebagai peluang yang baik. Adanya AEC (Asean Economic Community) di tahun 2016 juga menjadi tantangan yang menarik bagi kita.

Dengan adanya peluang yang cukup baik dan juga tantangan soal AEC ini, tentu para insinyur-insinyur ini harus memiliki kompetensi yang kompetitif agar tidak kalah bersaing. Well, lalu kompetensi apa aja sih yang sebenernya diharapkan dari sarjana teknik sipil kayak kita gini?

Seorang civil engineer diharapkan kompeten baik secara teknikal maupun secara softskill. Menurut Anthony Fasano, penulis “Engineer Your Own Success”, dalam diskusi singkatnya dengan Roxann Henze ada beberapa core skill yang sebenernya dibutuhin seorang civil engineer dalam berkarir, diantaranya

1. Communication

2. Networking

3. Leadership

4. Presenting

Dengan memiliki skill-skill ini diharapkan seorang civil engineer nggak hanya mumpuni dalam menghitung dan mendesain di balik layar saja. Namun juga harus dapat menyampaikan maksudnya dengan baik kepada client. Empat skill yang disebutkan oleh Fasano tadi menurut gue saling berhubungan. Lalu communication skill diperlukan banget buat 3 skill lainnya. Yah gue sendiri juga masih newbie sih, jadi nggak bisa bicara banyak soal communication skill ini, kalau gue ya begini lah, mungkin gue termasuk orang yang kelewat santai kalau ngehadapin orang. Oh iya, soal buku Fasano yang berjudul “Engineer Your Own Success” itu juga kayaknya cukup recommended buat dibaca.

Well, minggu lalu gue ke Bandung dan ketemu dosen pembimbing gue, Pak Endra Susila bareng temen-temen seperjuangan TA. Diakhir pertemuan beliau ngasi kita wejangan yang intinya performance kita di 3 tahun awal bekerja lah yang akan menentukan bagaimana kita kedepannya. Yah entah kenapa 3 tahun ini pas banget sama kontrak gue di tempat gue sekarang. Jadi ya gue rencananya akan belajar dulu di tempat gue sekarang sebelum ngelanjutin sekolah lagi, dan akan terus mengingat wejangan dosbing gue itu.

Gue dapet SPT minggu lalu buat ke berangkat ke Padang. Setelah ada sedikit drama karena gue harus balik cepet-cepet dari Bandung ke Bogor dan mindahin barang gue dari Sudirman ke Bogor, ternyata gue bakalan masih stay dulu di Condet beberapa minggu ini. Indak apo-apo lah, seenggaknya gue bisa pamitan dulu sama keluarga dan temen-temen gue dulu dengan santai.

Ini bakal jadi rantauan terjauh gue sampai saat ini, karena kemarin gue cuma ngerantau ke kota sebelah pas kuliah. Yang bisa balik sewaktu-waktu kalau lagi bosen atau kangen sama nyokap. Seenggaknya sebulan ini gue masih di Condet dulu buat ngurusin dokumen-dokumen legalnya, jadi masih bisa lah buat balik ke rumah.

Yah pada akhirnya emang kita harus keluar dari comfort zone kita kan untuk bisa berkembang. Gue berusaha menenangkan diri gue sendiri sih sebenernya wkwkwk. Dan yang jelas kita bisa belajar dari mana saja. Gue juga mulai memikirkan lagi planning gue ke depan, mulai dari melanjutkan sekolah dan melanjutkan ‘hidup’. Yang jelas setiap langkah yang diambil emang harus jelas tujuan akhir yang mau dicapainya apa dan jangan setengah-setengah, cuz there’s no turning back.

Ketika gue nulis ini gue berada di tengah kegamangan apakah akan tinggal di mess malam ini atau balik ke rumah. Well, di proyek sebelumnya selama 3 bulan lalu gue masih agak sulit bagi waktu dan nggak sempat nulis sama sekali. Time management emang penting banget sih, karena hidup toh nggak cuma kerja aja. You have no life sih kalau kerja doang. Di rantau emang pasti bakalan beda, karena lu nggak bisa ketemu temen lu tiap weekend. Tapi insyaAllah bakal ada hal baru yang menarik lah disana.

Condet, 6 April 2016

Just Be Good

Passion adalah sesuatu yang abstrak yang belakangan ini gue seringkali mempertanyakan. Apakah yang gue kerjakan sejauh ini benar-benar passion gue? Tapi pada akhirnya pertanyaan itu seolah cuma jadi pertanyaan yang tak berujung.

Sampai gue kelas 2 SMA, cita-cita gue itu jadi Arsitek. Well, dulu banget pas gue masih SD, gue punya temen deket yang kebetulan hobi kita sama: Ngegambar. Suatu hari wali kelas gue nanyain cita-cita kita apa dan nyaris sebagian besar temen sekelas gue jawab ‘pengen jadi dokter’. Yah saat itu gue jawab pengen jadi astronom sih. Lalu sahabat gue itu jawab kalau dia pengen jadi arsitek. Setelah gue tau kerjaan arsitek itu ngapain aja dari penjelasan singkatnya dia. Yah intinya kata doi kita bakal banyak nggambar kalau kita jadi arsitek. Sejak saat itu gue memutuskan untuk punya cita-cita jadi arsitek juga. Yap, kita akhirnya punya cita-cita yang sama hingga kita SMA dan kita juga berencana buat masuk SAPPK.

Terus pas liburan semester, kayak biasanya, gue ke tempat Eyang gue di Solo. Disana gue ketemu Om gue, beliau seorang dosen teknik sipil. Awalnya kita ngobrol soal rencana kedepan gue, mau ambil kuliah jurusan apa dan lain sebagainya. Lalu secara perlahan Om gue mulai mengarahkan gue untuk ke teknik sipil, dengan segala macam diskusi dan beliau juga menjejali harddisk gue dengan berbagai film-film civil engineering. Lalu gue mulai tertarik dengan teknik sipil. Yah setidaknya bidang ini juga masih bersinggungan dengan arsitektur. Di kampus gue sendiri, awalnya SAPPK dan FTSL itu menyatu sebagai satu fakultas yakni FTSP. Pada akhirnya di akhir kelas 3 SMA gue memutuskan untuk masuk ke teknik sipil sedangkan sahabat gue itu masih tetap memegang cita-citanya untuk menjadi arsitek.

Lalu saat ini gue udah jadi seorang civil engineer setelah menyelesaikan berbagai huru-hara perkuliahan hingga tugas akhirnya.

Hingga gue mengenakan toga beberapa waktu lalu, gue meyakini bahwa apa yang yang gue jalani selama ini adalah passion gue. Namun setelah masuk dunia kerja dengan berbagai huru-haranya, pertanyaan mengenai passion dan semacamnya benar-benar mengusik gue. Pada akhirnya gue menganggap bahwa passion adalah hal yang benar-benar abstrak. Apakah yang gue lakukan ini adalah passion gue? apakah passion gue memang disini? Karena seolah pertanyaan itu menjadi nggak berujung, pada akhirnya gue mencoba untuk mencintai apa yang gue kerjakan saat ini. Just be good at it dan kayak kata Steve Martin “Be so good, they can’t ignore you”.

Well, quotes dari Steve Martin itu menginspirasi salah satu judul buku Cal Newport “So Good They Can’t Ignore You”. Menurut gue buku ini adalah buku yang pantas dibaca buat orang-orang seusia gue, early 20s lah. Ketika kita lepas dari kehidupan kampus dan menghadapi dunia kerja. Di buku ini Newport juga ngebahas commencement speech Steve Jobs di Stanford tahun 2005, yang merupakan salah satu speech favorit gue. Menurut gue orang yang denger speech Jobs ini bisa punya interpretasi yang beda-beda. Kalau untuk gue pribadi, setelah gue denger commencement speech ini biasanya gue seolah jadi diingetin untuk mengejar passion gue. Gue kayaknya udah beberapa kali ngutip speech beliau di beberapa post gue sebelumnya

“You’ve got to find what you love. And that is as true for your work as it is for your lovers. Your work is going to fill a large part of your life, and the only way to be truly satisfied is to do what you believe is great work. And the only way to do great work is to love what you do. If you haven’t found it yet, keep looking. Don’t settle. As with all matters of the heart, you’ll know when you find it. And, like any great relationship, it just gets better and better as the years roll on. So keep looking until you find it. Don’t settle”

Setelah gue sadari selama ini gue menginterpretasikan speech dari Jobs ini sekenannya banget dan nggak utuh. Interpretasi gue selama ini adalah “You should find what you love. If you haven’t found it yet, keep looking and don’t settle”. Speech Jobs yang luar biasa memotivasi dan interpretasi sekenanya dari gue terhadap speech beliau secara nggak langsung mempengaruhi gue. Setiap gue menghadapi apa-apa yang gue rasa nggak pas, gue mulai mempertanyakan apakah apa yang ada di hadapan gue ini emang sesuai dengan gue, atau apakah yang gue jalani ini memang benar passion gue. Sampai akhirnya gue terus mempertanyakan sebenarnya passion gue itu apa.

Pada suatu titik gue menyadari kalau sebaiknya “just love what we do, instead of find what we love”. Dan setelah baca tulisan Newport di bukunya itu, gue jadi nggak begitu ambil pusing lagi soal passion. Just be good at it, then you will love it. Skill adalah suatu hal yang bisa diasah dan secara rasional menurut gue kita biasanya cenderung akan mencintai apa yang kita kuasai. Jobs sendiri bilang kalau “the only way to do great work is to love what you do”. Well yeah untuk sebagian orang yang masih bingung passionnya dimana atau passion itu sebenernya apa, gue rasa kita harus mencintai terlebih dahulu apa yang saat ini kita kerjakan. Seenggaknya dengan begitu kita bisa jadi fokus dengan apa yang ada di depan kita, instead of stuck in confusion about these passion things.

Oh iya ada beberapa buku yang menurut gue recommended untuk dibaca, yah walaupun gue juga belum kelar baca.
1. So Good They Can’t Ignore You – Cal Newport
2. Tribal Leadership – Dave Logan
3. All The Light We Cannot see – Anthony Doerr

 

Bogor, 4 April 2016

Greenhorn

It’s been a while since I’ve posted in this blog. Ternyata menyisihkan waktu untuk sekedar nulis aja cukup sulit juga belakangan ini. Setiap malem, setiap balik kerja gue langsung terkapar di kasur dan tanpa sadar pagi udah datang begitu saja. Nyaris setiap hari begitu. Tapi di weekend gue tetap berusaha menyisihkan waktu buat balik ke rumah dan ketemu temen-temen gue. Ketemu temen-temen lama itu nostalgic banget  dan walau udah beberapa tahun nggak ketemu rasanya tetep sama aja.

Meet-up sama sahabat-sahabat itu bikin kita flashback ke masa lalu, kayak time machine gitu. Dan membuat kita sadar kalau waktu itu berjalan sangat cepat. Nggak terasa kita udah di titik ini, berkepala dua, mulai memikirkan soal karir, pendidikan yang lebih tinggi lagi dan juga tentang teman hidup. Di titik ini gue seringkali bertanya-tanya tentang jalan hidup ke depan seperti apa, tapi gue tau itu nggak akan ada habisnya. Jadi let it flow aja pokoknya. Yang jelas kita tetap harus bikin target-target ke depan, perkara jalannya akan seperti apa, itu bukan kuasa kita.

Kerja di site bener-bener time consuming. Pergi pagi-balik malem, atau bahkan ada juga yang balik pagi lagi. Aktivitas di site emang 24 jam banget. “Jam pulang kantor” yang abnormal ini membuat gue cukup susah buat ketemu temen-temen gue  walau kita sama-sama lagi di Jakarta. Tapi untung aja masih ada weekend, jadi gue berusaha membagi weekend gue itu untuk keluarga dan temen-temen gue.

Beberapa minggu lalu gue diklat di Puncak. Diklat itu berhasil membrainwash gue dengan baik kalau kata seorang senior di kampus gue. Yah sebelum diklat gue memang meniatkan untuk menerima apapun yang akan membuat gue bekerja dengan sepenuh hati. I try to love this job. Gue bersyukur karena lingkungan kerja gue ini sangat mendukung untuk dijadikan tempat belajar. Mereka yang udah senior disini mau membagi ilmunya dengan anak baru kayak gue ini. Gue rasa hanya harus beradaptasi dengan jam kerja dan juga tempo yang cepat dari seluruh pekerjaan yang ada.

Gue kadang senyum-senyum sendiri kalau liat gue sama kakak gue. Kakak gue, cowok, dia jadi banker sekarang. Menghabiskan sebagian besar waktunya di office dan tampil perlente. Lalu gue, adeknya, cewek, jadi engineer dan menghabiskan sebagian besar waktu gue di site. Lingkungan kita jelas berbeda. Dari kecil emang karakter kita udah cukup berbeda, tapi ini yang bikin hidup keluarga kita nggak monoton.

Beberapa waktu lalu temen kuliah gue sempet ada yang nanya ke gue “Bil, how’s life?“. Gue sempet berpikir lama untuk menjawabnya. Lalu gue membalasnya dengan  kalimat “Baik, masih tetap berjuang”. Well, gue memang masih berjuang dalam segala hal, berjuang untuk bisa senada dengan ritme kerja di site, berjuang untuk ngejar S2 ke Delft dan berjuang untuk bisa figure out apa yang sebenarnya gue cari. Tapi gue rasa kita yang berkepala dua masih cukup muda untuk mencoba berbagai hal.

Stasiun Bogor, Hujan. 18 February 2016.

Break the Routine!

Pada akhirnya gue nyerah juga jadi komuter yang sampai rumah jam 12 malem dan besoknya harus cabut lagi jam 5.15 pagi. Yep, akhirnya gue ngekos di daerah deket proyek. Awalnya pertimbangan gue buat tetep jadi komuter Bogor-Jakarta supaya bisa ketemu nyokap bokap tiap hari. Tapi balik semalem itu gue rasa malah bikin mereka khawatir tiap hari, lagipula tiap balik dari proyek gue juga cuma ngobrol sebentar dengan mereka karena gue harus cepet tidur.

Opsi buat ngekos ini gue ambil karena banyak pertimbangan. Jadi komuter dengan ritme yang kayak gini gue rasa udah nggak optimal lagi. Jarak proyek dengan rumah gue juga lebih jauh kalau dibandingin dengan dari kantor pusat ke rumah gue. Setiap hari kurang lebih hanya tidur 3 jam, well ditambah tidur di kereta pagi sekitar 30 menit, kira-kira totalnya hanya 3.5 jam. Perjalanan pulang juga menjadi hal yang sangat melelahkan karena sudah tengah malam. Sehari-hari seolah hanya bekerja di proyek, perjalanan pulang-pergi, dan tidur saja. I love my job actually, but I wanna do something else. I hate a routine. Jadi gue rasa dengan ngekos I could save my time to do something else, kayak baca buku, doodling, nulis dan lain-lain. Seenggaknya ada selingan lain di sela-sela rutinitas gue. Just break the routine!

Banyak yang bilang kalau bekerja di proyek adalah pekerjaan yang cukup berat. Mulai dari jam kerjanya dan juga beban kerjanya. Gue masih newbie disini, jadi gue belum bisa menilai, tapi memang jam kerjanya cukup tinggi. Banyak juga yang mempertanyakan alasan gue memilih kerja di kontraktor. Gue hanya menjawab dengan jawaban yang seringkali dianggap klise: “Saya ingin mengetahui teknis di lapangannya seperti apa Pak”. Gue memang berencana untuk belajar sebanyak-banyaknya disini, karena gue menyadari bahwa pada prakteknya apa yang telah gue pelajarin selama ini sebenernya adalah suatu hal yang sangat kompleks.

Well, selain harus paham teori-teori design, kita harus tau bagaimana metodenya, bagaimana manajemen pelaksanaannya, bagaimana cara kita menyampaikan pendapat kita agar diterima dengan baik, bagaimana kita mengatur setiap bagian agar target kita dapat tercapai dan lain sebagainya. Hey! Welcome to the real world! kita dituntut buat punya both hard and soft skills. Kalau gue pribadi, gue rasa gue harus banyak-banyak belajar kedua skill ini. Gue menganggap bahwa tempat gue bekerja adalah tempat gue belajar. Walau terkadang ada beberapa hal yang sulit untuk dipelajari, it’s okay, yang penting kita udah mencoba untuk belajar, toh manusia juga punya limitnya. Untuk hard skill ya kita bisa tanya-tanya pada orang yang kita anggap sebagai mentor, siapapun yang ada disana karena mereka lebih punya banyak pengalaman. Don’t be afraid to ask question. Kalau memang kita nggak tau ya kita harus tanya. Kalau gue, biasanya cari tau dulu sendiri, terus kalau masih nggak tau ya gue tanya, pun kalau udah dapet jawabannya gue konfirmasi lagi. Selain itu kita bisa belajar dari hal-hal yang sangat sederhana, kayak ngamatin orang per orang: bagaimana cara mereka berinteraksi, bagaimana cara mereka menyampaikan pendapatnya atau bagaimana cara mereka belajar.

Nyaris semua pekerjaan itu berjalan di dalam suatu sistem, dimana satu bagian dengan bagian yang lainnya saling terkait. Tentu butuh komunikasi yang baik antar bagiannya. Disinilah soft skill sangat diperlukan. Soft skill tentu nggak hanya soal komunikasi aja, tapi juga tentang etos kerja, integritas dan semangat untuk terus belajar. Dan gue rasa di sini lah wadah untuk belajar dan menempa diri gue. So, stop complaining! anggap aja ini wadah untuk belajar.

Walau begitu gue nggak mau jadi workaholic. Karena hidup nggak hanya soal kerja, kerja dan kerja. You have  family, friends, and hobbies. Gue pengen tetap produktif dalam melakukan kegiatan sampingan gue yang lain. And yet I’m still trying to pursue my dream study in Netherlands. Well, for me dream is something that make me feel more alive. Karena ada sesuatu yang harus dikejar.

Well, barusan gue lagi ngerapih-rapihin file laptop gue dan nemu gambar yang gue bikin sekitar 4.5 tahun lalu. Ini kayaknya gue bikin pas gue baru masuk kuliah. Thanks to the old me dengan mimpinya untuk cepet lulus. Harusnya gue nemu gambar ini lagi pas TA kemarin biar semangat ngerjain TAnya wkwk. Tapi nggak papa gambar ini mengingatkan gue dengan semangat gue pas masih muda remaja dulu.

Me ft Ganesha

Oke, sekian dulu karena ada pekerjaan yang harus gue selesaikan untuk besok. Yah pokoknya prinsip gue sih be a life long learner, love your job but break the routine. Semoga setelah ngekos ini gue juga bisa nulis lebih berkala lagi.

Salam Hangat

Dream It, Plan It, Do It!!

Dulu pas gue masih sekolah salah satu cita-cita gue adalah:

” Masuk kampus gajah, lulus, terus bikin pencakar langit tertinggi di Indonesia “

Yep, sesederhana itu.

Lalu beberapa tahun belakangan, gue menganggap cita-cita gue terlalu kenakak-kanakan dan gue nggak begitu mempedulikan lagi tentang cita-cita bikin pencakar langit itu.

Setelah gue lulus kuliah dan memutuskan untuk kerja, sekarang gue masuk di salah satu perusahaan kontraktor Indonesia. Ada on job training yang harus gue lalui dulu selama 5 bulan dan di 3 bulan terakhirnya gue di tempatkan di proyek. Well, kemarin ini hari keempat gue di proyek dan ternyata gedung di proyek gue ini direncanakan untuk jadi salah satu pencakar langit tertinggi di Indonesia. Pas baru tau kemarin, gue jadi inget sama cita-cita gue dulu. So, bisa terlibat dalam proyek ini walau hanya dalam masa training, membuat gue cukup senang. Doa gue dulu telah dijawab dengan indah oleh Allah. Gue juga semakin yakin Allah tak pernah salah memilihkan jalan.

Ngomong-ngomong soal proyek, ritme kehidupan proyek cukup berbeda dibandingkan di kantor pusat kemarin. Namun gue masih bertahan menjadi komuter Bogor-Jakarta sampai saat ini. Walau baru tiba di rumah nyaris jam 12 malam dan harus berangkat pagi-pagi lagi besoknya sekitar pukul 5.30. Commuter line masih saja ramai walau sudah larut malam. Ekspresi lelah bekerja menghiasi wajah-wajah para pengguna commuter line itu, termasuk gue tentunya. Beberapa terlelap tidur kelelahan, beberapa memandangi layar hp mereka dalam keheningan dan sebagian lainnya memandangi keluar jendela, entah apa yang dilihatnya, padahal malam sudah terlalu gelap.

Walau ritme hidup harus berubah lagi, banyak hal yang bisa digali disini buat gue yang freshgrad dan belum begitu ngerti implementasi dari ilmu yang telah gue pelajari dulu. Kedengarannya klise kalau kata salah seorang manager gue. Tapi ya memang begitu adanya. Kalau kata Larry King, “kebanyakan klise itu benar”. Intinya sih dimanapun tempat kita bekerja, kita harus bisa beradaptasi dan belajar sebanyak-banyaknya.

Sekarang juga udah masuk Tahun 2016. Resolusi-resolusi tahun ini (dan untuk beberapa tahun kedepan) harus sudah mulai direncanakan. Rutinitas tanpa tujuan yang jelas akan sangat membunuh. Rencana tanpa implemetasi juga tak akan merubah apa-apa.

Akhir tahun lalu gue mulai berpikir tentang lebih banyak hal. Karena hidup tak melulu soal karir, banyak hal yang sebenarnya lebih penting. Perlahan-lahan semoga segala sesuatunya dapat diselesaikan dengan baik. Semoga di tahun 2016 ini segala rencana-rencana dapat terealisasi dengan baik. Yah pokoknya dalam hidup, menurut gue, kita harus punya mimpi atau cita-cita atau tujuan atau apapun itu. Setelah itu rencanakan. Lalu yang terpenting adalah realisasikan. Dream it. Plan it. Do it.

Be An Amateur

Lulus dari bangku perkuliahan dan masuk ke dalam lingkungan kerja yang baru, sempat membuat gue terus bertanya-tanya akan alasan gue memilih jalan ini. Well, setelah sebelumnya di semester 7 lalu gue sempat gamang antara melanjutkan sekolah lagi atau langsung bekerja setelah kuliah selesai. Pilihan yang dihadapi pasca kehidupan kuliah memang lebih beragam dibandingkan ketika lulus SD, SMP atau SMA: antara kuliah lagi atau bekerja? bila kuliah lagi akan mengambil jurusan apa dan dimana? bila bekerja akan bekerja di tempat seperti apa? apakah sesuai dengan bidang yang ditekuni saat ini atau tidak?

Sebagian orang sudah memiliki keputusan yang mantap dengan jalan yang akan diambilnya. Saat itu gue masih bingung, tak benar-benar mengerti apa yang sebenarnya gue inginkan. Nyokap gue sendiri juga sering bilang kalau gue emang banyak maunya. Setelah selang beberapa saat, berpikir dan berdiskusi dengan Nyokap Bokap, akhirnya gue memutuskan untuk bekerja terlebih dahulu disini.

Di tempat gue sekarang, gue sedang menjalani masa training selama beberapa bulan. Selama training ini gue dirolling di divisi yang berbeda dan juga di proyek. Pada awal masa training gue, gue harus beradaptasi dengan kehidupan komuter Bogor-Jakarta setiap harinya, yang kini sudah benar-benar terbiasa. Lingkungan dan irama hidup yang baru ini juga sempat membuat gue mempertanyakan apakah keputusan gue untuk bekerja ini tepat atau tidak. Keinginan untuk melanjutkan S2 juga masih berseliweran di kepala gue. Rutinitas komuter setiap hari, pergi pagi dan pulang di malam hari bisa benar-benar membuat gue menjadi robot jika gue tak punya tujuan yang berarti.

Pada akhirnya gue bertanya pada diri gue sendiri, apa yang gue mau. Kenapa gue harus S2 ke luar misalnya? apakah gue udah punya alasan yang kuat untuk itu? Sayangnya gue belum menemukan alasan yang kuat untuk diri gue. Beruntunglah buat teman-teman yang sudah punya alasan yang kuat untuk melanjutkan studinya sekarang. Meski demikian melanjutkan S2 ke luar adalah salah satu target gue dan memang saat ini belum waktunya. Hanya saja saat ini gue sedang mencari alasan yang tepat untuk itu sampai waktunya datang.

Karena memutuskan untuk menunda S2, gue memilih untuk bekerja dahulu disini. Dengan bekerja seenggaknya gue bisa belajar untuk hidup lebih mandiri secara finansial dengan tidak bergantung pada orang tua sepenuhnya. Yah nggak cuma itu aja, dengan bekerja kita seolah terjun langsung ke lapangan. Kita dapat melihat implementasi dari apa-apa yang telah kita pelajari di bangku kuliah. Intinya banyak hal yang bisa dipelajari. Gue mendapati bahwa bidang yang gue tekuni ini ternyata cukup kompleks. Sub bidang gue saat ini juga berbeda dengan apa yang gue dalami selama kuliah dulu. Jadi gue belajar banyak hal baru dan hal-hal yang sempat terabaikan semasa kuliah dulu.

Nyatanya memang kita harus terus belajar. Kalau kata Austin Kleon sih kira-kira gini “Be an amateur. Amateurs might lack formal training, but they’re all lifelong learners, and the make a point of learning in the open, so that others can learn from their failures and successes”.

Yes, life is lifelong learning, gue setuju banget. Tapi di dunia kerja kita dituntut lebih untuk belajar dan paham dengan cepat. Setiap langkah yang kita ambil juga harus memiliki dasar yang jelas. Memang sangat kompleks, karena kita bergerak di dalam suatu sistem. Buat gue yang masih newbie ini gue rasa semangat untuk terus belajar dan nggak cepet puas itu penting banget. Intinya “Stay hungry, stay foolish” kayak yang sering Steve Jobs ucapkan. Yaah kurang lebih kita harus stay eager and be ready to try new things lah.

New Chapter: Kehidupan Seorang Komuter

Sejak dua minggu lalu gue jadi seorang komuter, well yeah I commute to East Jakarta every day. I found it very tiring in my first week and I almost give up. Yep, gue nyaris menyerah ketika gue menjadi komuter di minggu pertama. Commuter line yang penuh sesak setiap pagi dan sore hari, benar-benar membutuhkan perjuangan yang lebih. Irama hidup gue pun berubah drastis dibanding jaman kuliah dulu. Gue harus datang pagi-pagi kalau mau dapet kereta yang “agak” nggak penuh. Perbaikan jalan di daerah rumah gue juga nggak kunjung selesai, sehingga kemacetan yang sangat hebat selalu terjadi di jam-jam sibuk. Kalau ditotal gue bisa menghabiskan 4-5 jam untuk pulang-pergi ke kantor setiap harinya.

4 sampai 5 jam habis di jalan bukan waktu yang sebentar dan ini terjadi pada ratusan komuter setiap harinya. Pada minggu pertama gue jujur aja agak sedikit kaget. Waktu yang berharga itu terbuang begitu saja di jalanan. Dari pada sibuk mengeluh tentang kereta yang penuh sesak atau tentang perbaikan jalan yang tak kunjung selesai, lebih baik gue memanfaatkan setiap waktu tersebut dengan hal-hal yang bermanfaat.

Nah kalau lu seorang komuter dan lu nggak mau waktu lu kebuang sia-sia salah satu hal yang bisa dilakuin adalah ngedengerin audiobook. I remember, my senior once told me that she likes listening audiobook during her way to campus. Menurutnya lumayan untuk memanfaatkan waktu biar nggak terbuang sepanjang perjalanan. Well, setelah jadi komuter tadinya gue sempat berpikir buat bawa buku untuk dibaca selama perjalanan. Yah  kalau keretanya lowong sih baca buku gitu nyaman-nyaman aja. Tapi kalau lu harus berdiri nyaris setengah jam dan dalam keadaan kereta yang penuh sesak, kayaknya buka bukunya aja nyaris nggak sempat. Audiobook ini adalah alternative yang oke, dengan pilihan genre yang beragam seenggaknya kita bisa menambah wawasan kita dan mempelajari hal-hal baru.

Well, jam tidur seorang komuter juga biasanya nggak banyak. Karena lu harus berangkat pagi banget dan pulang malem. Waktu lu udah habis di jalan, di kantor dan belum lagi adanya pekerjaan-pekerjaan lain yang harus diselesaikan di rumah. Sampai akhirnya satu-satunya alokasi waktu yang bisa dipangkas adalah jam tidur lu. Nah, kalau gue sih prefer melakukan power nap selama di perjalanan ketika berangkat kerja. Lumayan lah, seenggaknya kita bisa merefresh diri kita sebentar sebelum mulai bekerja.

Terkadang menjadi komuter seolah menjalani hidup yang monoton. Sepanjang weekdays irama hidup nyaris sama setiap harinya. Karena gue kadang kurang suka sesuatu yang monoton, gue suka berhenti atau pulang dari stasiun yang berbeda. Karena di deket kantor gue ada dua stasiun yang cukup berdekatan. Setiap hari secara random gue memilih salah satu stasiun tersebut. Ini salah satu hal yang gue lakukan biar perjalanan gue nggak terasa monoton.

Untuk seorang komuter memang nggak bisa dipungkiri kalau waktu kita banyak yang terbuang di jalan, sekarang yang menjadi poin utamanya adalah bagaimana kita bisa memanfaatkan waktu kita tersebut.

Masa Rehat Lagi

Jadi jalan di deket rumah gue lagi dicor di beberapa segmen dan mengakibatkan kemacetan yang luar biasa di jam-jam sibuk, jadinya gue harus berangkat pagi-pagi banget ke stasiun. Akhirnya gue harus nunggu dulu karena kepagian, sambil minum kopi dan ditemani lantunan musik dari White Lion

Well, setelah wisuda kemarin gue kira gue bakalan lebih rajin nulis tapi ternyata nggak hahaha. Kegiatan gue pasca wisuda di seminggu pertama terbilang sangat tidak produktif. Tapi setelah itu gue mulai bisa menyesuaikan irama hidup baru gue yang lebih santai dari jaman kuliah dulu. Seenggaknya selama masa rehat ini gue bisa menjalin lagi silaturahmi sama keluarga dan temen-temen sekolah gue dulu. Nemenin nyokap gue kemana-kemana, belanja, ke pasar, ke acara keluarga sampe bantuin arisan di rumah. Ketemu temen-temen sekolah yang beragam banget bahasannya. Lalu beberapa kali lari pagi di Sempur. Lalu yang paling epik adalah ketika gue janjian lari pagi sama temen gue di Sempur, tapi ternyata lapangannya dipake Sholat Ied Muhammadiyah. Akhirnya kita ninggalin lapangan dan muterin kebun raya.

Awal-awal masa rehat kemarin gue cuma santai-santai aja. Kegiatan gue didominasi sama nonton dan main game. Belakangan gue mulai merasa kalau ada yang salah dengan produktivitas gue. Akhirnya gue pergi ke toko buku dan berburu beberapa buku yang gue anggap menarik. Selagi masa rehat ini gue sadar bahwa gue bisa baca buku sebanyak-banyaknya, sebelum gue nanti disibukkan dengan pekerjaan.

Well jadi setiap gue janjian sama temen gue buat main, gue selalu menyempatkan untuk kabur sejenak ke Gramed. Beberapa bulan lalu gue suka banget baca buku self improvement atau buku-buku yang mengasah kreativitas gitu. Tapi belakangan gue ngerasa agak jenuh dengan buku-buku kayak gitu hahaha. Akhirnya gue lari ke rak buku-buku politik, yang sebenernya sebagian besar isinya biografi sih. Dari jaman SD dulu gue udah suka biografi, dulu gue bacanya seri tokoh dunia yang penyajiannya mirip2 komik. Gue masih bisa ingat dengan baik beberapa penggalan ceritanya kayaknya Walt Disney yang suka naik kereta-keretaan pas udah tua atau Hans Christian Andersen yang suka tiduran diatap rumahnya sambil berimajinasi. Lalu ketika gue SMA gue mulai suka nyari-nyari biografi kayak Che Guevara, Hellen Keller sampai Charlie Chaplin di perpustakaan sekolah. Bokap sama Nyokap gue sejak gue SMA emang mulai suka nyuruh untuk banyak baca buku. Yah mungkin mereka miris karena bacaan gue dari SD sampe SMA kebanyakan komik sama novel fantasy. Ketika gue kuliah gue mulai suka bacaan yang lebih variatif dan emang gue sadar kalau emang banyak manfaatnya.

Balik lagi, jadi waktu gue ke Gramed, gue nemu beberapa beberapa buku yang emang gue cari beberapa waktu lalu, yaitu bukunya Sjahrir sama Hatta yang diterbitin Tempo. Tempo sebenernya nerbitin 4 tokoh di series itu: Soekarno, Hatta, Sjahrir dan Tan Malaka. Secara pribadi gue suka dengan Hatta dan Sjahrir karena berbagai alasan, jadi 2 buku itu yang gue pilih dulu. Lalu gue juga tertarik dengan kisah hidup Tan Malaka yang suka menyamar disana-sini dan sifatnya yang lebih keras dibanding ketiga tokoh lainnya. Dan terakhir gue akan membaca Soekarno dan beraharap mendapat gambaran beliau dari sudut pandang yang berbeda. Jadi nampaknya buku Tan Malaka dan Soekarno akan gue baca nanti. Seri yang diterbitin Tempo ini karena penyampaian dan pemilihan kata per katanya menarik, setiap buku itu gue habiskan dalam sehari. Setelah selesai membaca, gue semakin mengagumi dua tokoh itu, Hatta dan Sjahrir. Gue juga merasa semakin tertampar. Di usia yang belia mereka sudah melakukan banyak hal-hal yang berarti untuk pergerakan bangsa ini dan pandangan mereka saat itu benar-benar jauh kedepan. Tujuan mereka nggak hanya untuk memerdekaan bangsa ini dari pemerintahan kolonial, tapi yang mereka inginkan adalah kesejahteraan rakyat kita secara merata. Seriusan banyak hal yang menarik yang dapat digali dari buku ini. Mulai dari ideologi sosialisme yang mendorong perjuangan mereka sampai hubungan antara para tokoh di dalamnya yang terkadang rumit.

Selain dua buku itu, sebelumnya gue sempat membeli buku Noam Chomsky yang berjudul “How the World Works”. Buku ini belum sempat gue selesaikan karena diselingi buku Sjahrir dan Hatta. Buku Noam Chomsky ini merupakan gabungan dari 4 tulisannya terdahulu. Di chapter pertama diceritakan berbagai hal tentang dominasi Amerika terhadap dunia,  rencana Amerika untuk mencipatakan dunia pasca perang dunia, dan intervensi Amerika terhadap beberpa negara di Amerika Selatan dan Dunia Ketiga. Buku Noam Chomsky ini memang sangat kompleks karena melibatkan banyak pihak di dunia Dan buku ini berhasil membuat gue berniat untuk menyelesaikan membaca kembali Mein Kampft milik Hitler yang sampai sekarang belum selesai.

Setelah selesai dengan buku Hatta dan Sjahrir, gue menjadi semakin tertarik untuk membaca lagi banyak-banyak buku yang berhubungan dengan sejarah Indonesia. Dan akhirnya gue mempostpone lagi buku Noam Chomsky. Gue memutuskan untuk membeli buku lain dan kali ini gue tertarik dengan buku Raffles and the British Invation of Java yang ditulis Tim Hannigan. Alasan awal gue membeli buku ini karena gue tertarik dengan sejarah pendudukan Inggris yang singkat atas Indonesia di masa kolonialisme Belanda dulu dan alasan kedua gue adalah kisah pribadi Raffles sendiri. Dari gue kecil dulu, setiap ke Kebun Raya, Bokap gue suka banget ngebaca puisi yang ada di monumen Olivia Raffles di Kebun Raya. Yah gue jadi penasaran aja seperti apa pribadi Raffles itu. Well, jadi setelah gue baca intro yang disampaikan Tim Hannigan, yang seorang Inggris, gue benar-benar tersadarkan untuk lebih memperdalam ilmu sejarah bangsa ini. Tim Hannigan sendiri adalah salah satu dari banyak jurnalis asing yang melakukan riset tentang sejarah Indonesia, sebagai orang Indonesia tentunya kita juga harus tergerak untuk mempelajari sejarah kita sendiri. Menurut hemat gue banyak hal yang bisa didapatkan dari sejarah, pelajaran-pelajaran berharga dan kita juga harus memahmi bagaimana perjuangan pendahulu kita.
Sebagai penerus bangsa, kita memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan mereka. Harapan-harapan mulia Hatta, Sjahrir, dan tokoh-tokoh lainnya untuk mewujudkan bangsa mandiri dan sejahtera akan menjadi tanggung jawab kita bersama. Gue juga semakin sadar bahwa kita hidup di dunia ini bukan hanya untuk diri kita saja. Bahwa ego diri harus dikesampingkan dan harus memegang teguh prinsip yang kita miliki.

Woooh nampaknya gue akan mulai mengantri di Peron dan naik kereta berikutnya. Gue udah lebih dari satu jam duduk disini. Nggak berapa lama lagi insyaAllah gue akan mulai kerja, mungkin setelah menyelesaikan membaca buku Tim Hannigan dan Noam Chomsky gue akan kembali lagi membaca buku-buku teknik sipil yang sudah lama tersimpan di dalam lemari-lemari gue hahaha.

Building Leadership the West Point Way

Building Leadership The West Point Way“Mari kita menghadapinya – di medan perang, setiap orang merasa takut. Hidup ini membuat kita semua menjadi pengecut. Apa yang mendefinisikan kita adalah bagaimana kita merespon kehidupan ini dan berbagai tantangan yang ditempatkan di hadapan kita”

Selamat Pagi dari Surakarta,

Setelah agak lama tidak menulis, akibat disibukan oleh TA dan lain sebagainya, kali ini saya menyempatkan diri lagi untuk menulis. Kali ini saya akan membahas sebuah buku yang berjudul “Building Leadership the West Point Way“. Buku ini ditulis oleh Mayor Jendral Joseph P. Franklin, seorang lulusan West Point yang juga memegang dua gelar master dari MIT untuk bidang teknik sipil dan teknik nuklir. Di dalam buku ini Mayjen Joe membagi pelajaran-pelajaran berharga dan pemikirannya mengenai kepemimpinan yang dia peroleh selama di West Point. Kepemimpinan adalah bagaimana kita dapat mengatasi orang-orang yang bekerjasama dengan kita. Seorang pemimpin harus mengenal betul pekerjaan yang harus diselesaikan bawahannya. Tugas pemimpin bukanlah menyelesaikan pekerjaan tersebut, namun menciptakan atmosfir senyaman mungkin agar para bawahan dapat menyelesaikan pekerjaan mereka. Kepemimpinan adalah tentang mendelegasikan kewenangan, mendorong lahirnya inovasi, mendampingi dan mengambil tanggung jawab. Di dalam buku ini Mayjen Joe menyampaikan 10 hal prinsipil di dalam kepemimpinan yakni:

  1. Tugas
  2. Kehormatan
  3. Iman
  4. Keberanian
  5. Ketekunan
  6. Rasa percaya diri
  7. Kemampuan untuk dapat didekati
  8. Kemampuan untuk beradaptasi
  9. Kewelasasihan
  10. Visi

Salah satu bagian yang cukup saya ingat dengan baik dari buku beliau ini adalah kalimat ini “Tugas bukan berarti mengikuti dengan membuta. Tugas artinya mengerti apa yang harus dilakukan, dan melakukannya tanpa memandang perasaan yang mungkin dirasakan secara pribadi.” Tugas dan kedisiplinan memiliki hubungan fundamental yang tak terpisahkan. Seringkali kedisiplinan ini dibutuhkan ketika kita dihadapkan pada tugas yang sebenarnya tidak kita sukai. Seorang pemimpin adalah mereka yang berada di garda terdepan, entah itu di medan perang atau pun di ruang organisasi, dan mereka melakukan apa yang harus dilakukan (meskipun itu adalah sesuatu yang tidak mereka inginkan atau tak menyenangkan). Para pemimpin melakukan tugas-tugas itu dengan tegas dan tidak menggerutu. Saya rasa buku yang ditulis oleh Mayjen Joe ini disampaikan dengan sangat baik. Beliau menyampaikan melalui pengalaman-pengalaman yang dialaminya selama di West Point dan juga setelahnya. *** Well dari buku ini secara garis besar saya merangkum 10 poin prinsipil di dalam kepemimpinan sebagai berikut

1. Tugas adalah suatu pekerjaan yang harus diselesaikan, tidak dikerjakan dengan membuta, dimengerti dan dipahami KEBENARANNYA. Dilakukan tanpa melibatkan perasaan (entah itu sebenarnya tidak mengenakkan untuk pribadi dsb) dan tidak menggerutu. Oleh karena itu seringkali DIBUTUHKAN KEDISIPLINAN untuk diri sendiri.

2. Kehormatan adalah yang utama, apa-apa yang kita lakukan harus sesuai dengan kode-kode yang berlaku. Kita harus berani memilih kebenaran yang lebih berat sebagai ganti ketidakbenaran yang lebih ringan. Seringkali hubungan-hubungan antar pribadi terasa lebih dalam dibandingkan kode-kode yang berlaku di luar diri, namun bukan berarti kita membiar orang-orang disekeliling kita melanggar kode-kode itu begitu saja. Kita tidak bisa menutup mata, kita harus berani mengonfrontasi mereka dengan maksud MELURUSKAN.

3. Keimanan atau kepercayaan diperlukan di dalam suatu hirarki kepemimpinan. Seorang bawahan harus memiliki kepercayaan pada atasannya, bahwa ia dapat diandalkan dan memberi teladan. Sebaliknya seorang atasan harus memiliki kepercayaan bahwa bawahannya akan mengerjakan tugasnya dengan baik. Seorang pemimpin juga harus memiliki kepercayaan bahwa pekerjaan atau tugas yang mereka pikul bersama dapat terselesaikan. Mereka bersama-bersama juga harus memiliki keimanan yang besar mengenai tujuan mereka.

4. Banyak tindakan tak semestinya yang sering disalahartikan sebagai keberanian. Hanya terdapat perbedaan tipis antara tindakan ceroboh dan tindakan yang gagah berani. Seorang pemimpin yang baik HARUS BERANI menugaskan seseorang walaupun ia tak yakin orang tersebut mampu menyelesaikannya. Terkadang mengerjakan semuanya sendiri adalah cara termudah dalam menyelesaikan tugas. Oleh karena itu diperlukan suatu keberanian untuk menugaskan bawahan tersebut meskipumn terdapat resiko di dalamnya.

5. Ketekunan adalah suatu karakter yang mengagumkan dan sangat mudah terlihat. Kemampuan untuk menuntaskan sesuatu, merampungkan apa yang sudah dimulai, merupakan suatu tindakan kritikal untuk mencapai gol apa saja dan bukan saja karena setiap perjalanan adalah serangkaian langkah-langkah kecil. Tidak ada jalan pintas untuk keringat dan kerja keras. Tidak mungkin mendapatkan semuanya sekaligus, terkadang kita akan mendapati diri sendiri dalam situasi dimana kita tidak mungkin mencapai semua yang ada di piring kita dan ini adalah waktu untuk menetapkan prioritas.

6. Ada tiga tipe rasa percaya diri yang esensial di dalam kepemimpinan. Yang pertama adalah rasa percaya diri di dalam melontarkan saran atau perintah. Yang kedua adalah rasa percaya terhadap diri sendiri yang membuat kita nyaman untuk meminta nasihat. Lalu yang terakhir adalah rasa percaya diri untuk dapat bergantung pada bawahan, mendelegasikan otoritas dan melangkah mundur untuk membiarkan mereka melakukan tugasnya.

7. Seorang pemimpin yang baik adalah seseorang yang mau didekati. Dimana ia mau bercakap-cakap dengan bawahannya, dan sebaliknya bawahannya juga mau bercakap-cakap dengannya. Jika suatu organisasi ingin berjalan dengan baik maka para bawahan harus merasa bahwa mereka dapat meminta bimbingan dan pertolongan kepada para pemimpin mereka; mereka harus dapat mengaku jika mereka berbuat suatu kesalahan.

8. Keadaan selalu berubah dan manusia harus belajar beradaptasi atau jika tidak mereka akan mendapati diri mereka tertinggal. Tugas utama seorang pemimpim adalah membangun sebuah tim, yang merupakan suatu upaya kreatif yang membutuhkan kemampuan beradaptasi yang sangat tinggi.

9. Kewelasasihan merupakan suatu garis halus antara bersikap terlalu keras dan bersikap terlalu lembut. Jika tidak ada kewelasasihan pada akhirnya kita akan kehilangan respek dan juga etos kerja dari bawahan. Lalu di posisi mereka kita akan merasakan atmosfir ketakutan dan ketidakpercayaan.

10. Visi merupakan prinsip kepemimpinan yang paling penting. Ia menuntut seorang pemimpin untuk terus menerus menciptakan suatu lingkungan dimana para bawahan dapat berfungsi dalam tingkatan yang tinggi dan melaksanakan semua tugas yang disyaratkan.

Kira-kira itu adalah 10 poin penting yang dapat saya sarikan dari buku yang ditulis Mayjen Joe ini. Sebagai penutup saya akan memberikan salah satu kalimat menarik yang dikutip dari buku beliau:

“Beberapa orang adalah petarung, beberapa orang yang lain adalah penyair sedangkan beberapa orang yang lain lagi adalah keduanya”