The People Behind the Scene

Kita hidup dengan infrastruktur-infrastruktur mengagumkan di sekeliling kita, namun beberapa nggak menyadari peran civil engineer di dalamnnya. They are the people behind the scenes of today’s society infrastructure. Lalu karena berperan sebagai people behind the scene, apakah lantas civil engineer hanya perlu mengasah skill teknikal saja?

“Tell me and I forget, teach me and I may remember, involve me and I learn.”

-Benjamin Franklin-

Setelah melalui masa OJT lalu dan melewati assessment minggu kemarin dengan sedikit keberuntungan, gue yang masih newbie ini memutuskan untuk melanjutkan hidup gue di dunia konstruksi. Itu artinya selama beberapa tahun kedepan gue akan berkutat di bidang ini, sebagai seorang civil engineer. Dan kayak post gue sebelumnya, gue berusaha untuk love what I do and be good at it”. Well yeah, harusnya emang begitu.

Ngomong-ngomong soal civil engineer. Menurut data dari U.S. Bureau of Labor Statistic, kebutuhan tenaga kerja civil engineer diproyeksikan bakal naik sekitar 20% dari tahun 2012 sampe 2022, lebih pesat dibandingkan rata-rata bidang pekerjaan lainnya. Peningkatan akan kebutuhan civil engineer ini selain diperlukan untuk pembangunan-pembangunan infrastruktur baru dan juga diperlukan untuk melakukan perbaikan dan maintenance terhadap infrastruktur yang sudah semakin berumur. Di Indonesia sendiri menurut PU setidaknya kita membutuhkan 175,000 sarjana teknik setiap tahunnya sedangkan Indonesia hanya meluluskan sekitar 42,000 sarjana setiap tahunnya. Yang artinya kita masih memerlukan banyak sarjana teknik. Tentunya kita sebagai sarjana teknik dapat melihat hal ini sebagai peluang yang baik. Adanya AEC (Asean Economic Community) di tahun 2016 juga menjadi tantangan yang menarik bagi kita.

Dengan adanya peluang yang cukup baik dan juga tantangan soal AEC ini, tentu para insinyur-insinyur ini harus memiliki kompetensi yang kompetitif agar tidak kalah bersaing. Well, lalu kompetensi apa aja sih yang sebenernya diharapkan dari sarjana teknik sipil kayak kita gini?

Seorang civil engineer diharapkan kompeten baik secara teknikal maupun secara softskill. Menurut Anthony Fasano, penulis “Engineer Your Own Success”, dalam diskusi singkatnya dengan Roxann Henze ada beberapa core skill yang sebenernya dibutuhin seorang civil engineer dalam berkarir, diantaranya

1. Communication

2. Networking

3. Leadership

4. Presenting

Dengan memiliki skill-skill ini diharapkan seorang civil engineer nggak hanya mumpuni dalam menghitung dan mendesain di balik layar saja. Namun juga harus dapat menyampaikan maksudnya dengan baik kepada client. Empat skill yang disebutkan oleh Fasano tadi menurut gue saling berhubungan. Lalu communication skill diperlukan banget buat 3 skill lainnya. Yah gue sendiri juga masih newbie sih, jadi nggak bisa bicara banyak soal communication skill ini, kalau gue ya begini lah, mungkin gue termasuk orang yang kelewat santai kalau ngehadapin orang. Oh iya, soal buku Fasano yang berjudul “Engineer Your Own Success” itu juga kayaknya cukup recommended buat dibaca.

Well, minggu lalu gue ke Bandung dan ketemu dosen pembimbing gue, Pak Endra Susila bareng temen-temen seperjuangan TA. Diakhir pertemuan beliau ngasi kita wejangan yang intinya performance kita di 3 tahun awal bekerja lah yang akan menentukan bagaimana kita kedepannya. Yah entah kenapa 3 tahun ini pas banget sama kontrak gue di tempat gue sekarang. Jadi ya gue rencananya akan belajar dulu di tempat gue sekarang sebelum ngelanjutin sekolah lagi, dan akan terus mengingat wejangan dosbing gue itu.

Gue dapet SPT minggu lalu buat ke berangkat ke Padang. Setelah ada sedikit drama karena gue harus balik cepet-cepet dari Bandung ke Bogor dan mindahin barang gue dari Sudirman ke Bogor, ternyata gue bakalan masih stay dulu di Condet beberapa minggu ini. Indak apo-apo lah, seenggaknya gue bisa pamitan dulu sama keluarga dan temen-temen gue dulu dengan santai.

Ini bakal jadi rantauan terjauh gue sampai saat ini, karena kemarin gue cuma ngerantau ke kota sebelah pas kuliah. Yang bisa balik sewaktu-waktu kalau lagi bosen atau kangen sama nyokap. Seenggaknya sebulan ini gue masih di Condet dulu buat ngurusin dokumen-dokumen legalnya, jadi masih bisa lah buat balik ke rumah.

Yah pada akhirnya emang kita harus keluar dari comfort zone kita kan untuk bisa berkembang. Gue berusaha menenangkan diri gue sendiri sih sebenernya wkwkwk. Dan yang jelas kita bisa belajar dari mana saja. Gue juga mulai memikirkan lagi planning gue ke depan, mulai dari melanjutkan sekolah dan melanjutkan ‘hidup’. Yang jelas setiap langkah yang diambil emang harus jelas tujuan akhir yang mau dicapainya apa dan jangan setengah-setengah, cuz there’s no turning back.

Ketika gue nulis ini gue berada di tengah kegamangan apakah akan tinggal di mess malam ini atau balik ke rumah. Well, di proyek sebelumnya selama 3 bulan lalu gue masih agak sulit bagi waktu dan nggak sempat nulis sama sekali. Time management emang penting banget sih, karena hidup toh nggak cuma kerja aja. You have no life sih kalau kerja doang. Di rantau emang pasti bakalan beda, karena lu nggak bisa ketemu temen lu tiap weekend. Tapi insyaAllah bakal ada hal baru yang menarik lah disana.

Condet, 6 April 2016

Just Be Good

Passion adalah sesuatu yang abstrak yang belakangan ini gue seringkali mempertanyakan. Apakah yang gue kerjakan sejauh ini benar-benar passion gue? Tapi pada akhirnya pertanyaan itu seolah cuma jadi pertanyaan yang tak berujung.

Sampai gue kelas 2 SMA, cita-cita gue itu jadi Arsitek. Well, dulu banget pas gue masih SD, gue punya temen deket yang kebetulan hobi kita sama: Ngegambar. Suatu hari wali kelas gue nanyain cita-cita kita apa dan nyaris sebagian besar temen sekelas gue jawab ‘pengen jadi dokter’. Yah saat itu gue jawab pengen jadi astronom sih. Lalu sahabat gue itu jawab kalau dia pengen jadi arsitek. Setelah gue tau kerjaan arsitek itu ngapain aja dari penjelasan singkatnya dia. Yah intinya kata doi kita bakal banyak nggambar kalau kita jadi arsitek. Sejak saat itu gue memutuskan untuk punya cita-cita jadi arsitek juga. Yap, kita akhirnya punya cita-cita yang sama hingga kita SMA dan kita juga berencana buat masuk SAPPK.

Terus pas liburan semester, kayak biasanya, gue ke tempat Eyang gue di Solo. Disana gue ketemu Om gue, beliau seorang dosen teknik sipil. Awalnya kita ngobrol soal rencana kedepan gue, mau ambil kuliah jurusan apa dan lain sebagainya. Lalu secara perlahan Om gue mulai mengarahkan gue untuk ke teknik sipil, dengan segala macam diskusi dan beliau juga menjejali harddisk gue dengan berbagai film-film civil engineering. Lalu gue mulai tertarik dengan teknik sipil. Yah setidaknya bidang ini juga masih bersinggungan dengan arsitektur. Di kampus gue sendiri, awalnya SAPPK dan FTSL itu menyatu sebagai satu fakultas yakni FTSP. Pada akhirnya di akhir kelas 3 SMA gue memutuskan untuk masuk ke teknik sipil sedangkan sahabat gue itu masih tetap memegang cita-citanya untuk menjadi arsitek.

Lalu saat ini gue udah jadi seorang civil engineer setelah menyelesaikan berbagai huru-hara perkuliahan hingga tugas akhirnya.

Hingga gue mengenakan toga beberapa waktu lalu, gue meyakini bahwa apa yang yang gue jalani selama ini adalah passion gue. Namun setelah masuk dunia kerja dengan berbagai huru-haranya, pertanyaan mengenai passion dan semacamnya benar-benar mengusik gue. Pada akhirnya gue menganggap bahwa passion adalah hal yang benar-benar abstrak. Apakah yang gue lakukan ini adalah passion gue? apakah passion gue memang disini? Karena seolah pertanyaan itu menjadi nggak berujung, pada akhirnya gue mencoba untuk mencintai apa yang gue kerjakan saat ini. Just be good at it dan kayak kata Steve Martin “Be so good, they can’t ignore you”.

Well, quotes dari Steve Martin itu menginspirasi salah satu judul buku Cal Newport “So Good They Can’t Ignore You”. Menurut gue buku ini adalah buku yang pantas dibaca buat orang-orang seusia gue, early 20s lah. Ketika kita lepas dari kehidupan kampus dan menghadapi dunia kerja. Di buku ini Newport juga ngebahas commencement speech Steve Jobs di Stanford tahun 2005, yang merupakan salah satu speech favorit gue. Menurut gue orang yang denger speech Jobs ini bisa punya interpretasi yang beda-beda. Kalau untuk gue pribadi, setelah gue denger commencement speech ini biasanya gue seolah jadi diingetin untuk mengejar passion gue. Gue kayaknya udah beberapa kali ngutip speech beliau di beberapa post gue sebelumnya

“You’ve got to find what you love. And that is as true for your work as it is for your lovers. Your work is going to fill a large part of your life, and the only way to be truly satisfied is to do what you believe is great work. And the only way to do great work is to love what you do. If you haven’t found it yet, keep looking. Don’t settle. As with all matters of the heart, you’ll know when you find it. And, like any great relationship, it just gets better and better as the years roll on. So keep looking until you find it. Don’t settle”

Setelah gue sadari selama ini gue menginterpretasikan speech dari Jobs ini sekenannya banget dan nggak utuh. Interpretasi gue selama ini adalah “You should find what you love. If you haven’t found it yet, keep looking and don’t settle”. Speech Jobs yang luar biasa memotivasi dan interpretasi sekenanya dari gue terhadap speech beliau secara nggak langsung mempengaruhi gue. Setiap gue menghadapi apa-apa yang gue rasa nggak pas, gue mulai mempertanyakan apakah apa yang ada di hadapan gue ini emang sesuai dengan gue, atau apakah yang gue jalani ini memang benar passion gue. Sampai akhirnya gue terus mempertanyakan sebenarnya passion gue itu apa.

Pada suatu titik gue menyadari kalau sebaiknya “just love what we do, instead of find what we love”. Dan setelah baca tulisan Newport di bukunya itu, gue jadi nggak begitu ambil pusing lagi soal passion. Just be good at it, then you will love it. Skill adalah suatu hal yang bisa diasah dan secara rasional menurut gue kita biasanya cenderung akan mencintai apa yang kita kuasai. Jobs sendiri bilang kalau “the only way to do great work is to love what you do”. Well yeah untuk sebagian orang yang masih bingung passionnya dimana atau passion itu sebenernya apa, gue rasa kita harus mencintai terlebih dahulu apa yang saat ini kita kerjakan. Seenggaknya dengan begitu kita bisa jadi fokus dengan apa yang ada di depan kita, instead of stuck in confusion about these passion things.

Oh iya ada beberapa buku yang menurut gue recommended untuk dibaca, yah walaupun gue juga belum kelar baca.
1. So Good They Can’t Ignore You – Cal Newport
2. Tribal Leadership – Dave Logan
3. All The Light We Cannot see – Anthony Doerr

 

Bogor, 4 April 2016

Be An Amateur

Lulus dari bangku perkuliahan dan masuk ke dalam lingkungan kerja yang baru, sempat membuat gue terus bertanya-tanya akan alasan gue memilih jalan ini. Well, setelah sebelumnya di semester 7 lalu gue sempat gamang antara melanjutkan sekolah lagi atau langsung bekerja setelah kuliah selesai. Pilihan yang dihadapi pasca kehidupan kuliah memang lebih beragam dibandingkan ketika lulus SD, SMP atau SMA: antara kuliah lagi atau bekerja? bila kuliah lagi akan mengambil jurusan apa dan dimana? bila bekerja akan bekerja di tempat seperti apa? apakah sesuai dengan bidang yang ditekuni saat ini atau tidak?

Sebagian orang sudah memiliki keputusan yang mantap dengan jalan yang akan diambilnya. Saat itu gue masih bingung, tak benar-benar mengerti apa yang sebenarnya gue inginkan. Nyokap gue sendiri juga sering bilang kalau gue emang banyak maunya. Setelah selang beberapa saat, berpikir dan berdiskusi dengan Nyokap Bokap, akhirnya gue memutuskan untuk bekerja terlebih dahulu disini.

Di tempat gue sekarang, gue sedang menjalani masa training selama beberapa bulan. Selama training ini gue dirolling di divisi yang berbeda dan juga di proyek. Pada awal masa training gue, gue harus beradaptasi dengan kehidupan komuter Bogor-Jakarta setiap harinya, yang kini sudah benar-benar terbiasa. Lingkungan dan irama hidup yang baru ini juga sempat membuat gue mempertanyakan apakah keputusan gue untuk bekerja ini tepat atau tidak. Keinginan untuk melanjutkan S2 juga masih berseliweran di kepala gue. Rutinitas komuter setiap hari, pergi pagi dan pulang di malam hari bisa benar-benar membuat gue menjadi robot jika gue tak punya tujuan yang berarti.

Pada akhirnya gue bertanya pada diri gue sendiri, apa yang gue mau. Kenapa gue harus S2 ke luar misalnya? apakah gue udah punya alasan yang kuat untuk itu? Sayangnya gue belum menemukan alasan yang kuat untuk diri gue. Beruntunglah buat teman-teman yang sudah punya alasan yang kuat untuk melanjutkan studinya sekarang. Meski demikian melanjutkan S2 ke luar adalah salah satu target gue dan memang saat ini belum waktunya. Hanya saja saat ini gue sedang mencari alasan yang tepat untuk itu sampai waktunya datang.

Karena memutuskan untuk menunda S2, gue memilih untuk bekerja dahulu disini. Dengan bekerja seenggaknya gue bisa belajar untuk hidup lebih mandiri secara finansial dengan tidak bergantung pada orang tua sepenuhnya. Yah nggak cuma itu aja, dengan bekerja kita seolah terjun langsung ke lapangan. Kita dapat melihat implementasi dari apa-apa yang telah kita pelajari di bangku kuliah. Intinya banyak hal yang bisa dipelajari. Gue mendapati bahwa bidang yang gue tekuni ini ternyata cukup kompleks. Sub bidang gue saat ini juga berbeda dengan apa yang gue dalami selama kuliah dulu. Jadi gue belajar banyak hal baru dan hal-hal yang sempat terabaikan semasa kuliah dulu.

Nyatanya memang kita harus terus belajar. Kalau kata Austin Kleon sih kira-kira gini “Be an amateur. Amateurs might lack formal training, but they’re all lifelong learners, and the make a point of learning in the open, so that others can learn from their failures and successes”.

Yes, life is lifelong learning, gue setuju banget. Tapi di dunia kerja kita dituntut lebih untuk belajar dan paham dengan cepat. Setiap langkah yang kita ambil juga harus memiliki dasar yang jelas. Memang sangat kompleks, karena kita bergerak di dalam suatu sistem. Buat gue yang masih newbie ini gue rasa semangat untuk terus belajar dan nggak cepet puas itu penting banget. Intinya “Stay hungry, stay foolish” kayak yang sering Steve Jobs ucapkan. Yaah kurang lebih kita harus stay eager and be ready to try new things lah.

3/11/15

Agaknya gue nggak bisa tidur malam ini, nggak tau kenapa. Temen gue, Maryam, baru aja ulang tahun dan kamar gue jadi basecamp dadakan buat ngumpul anak-anak sekosan. Selamat ulang tahun yam, semoga makin jago main badminton dan cepet dapet kerja biar bisa traktir gue.

Minggu lalu Bokap gue nyuruh gue balik buat diskusi sesuatu, menyangkut masa depan gue, bukan yang aneh-aneh kok. Setelah terjadi sedikit perubahan rencana, akhirnya Bokap gue merestui jalan yang akan gue ambil kedepan. Thanks Pa. Nyokap gue udah merestui jauh-jauh hari. Bokap gue sempat khawatir awalnya dan beliau juga bilang kekhawatiran Nyokap gue pasti lima kali lipat lebih parah dari Bokap gue. Well, kata Nyokap Bokap gue emang gue banyak maunya. Tapi yah gimana lagi. Toh hidup cuma sekali hahaha.

Nah, sekarang kira-kira persiapan udah 80% kurang essay yang maha panjang dan sulit itu menurut gue. Semangat Bil! Entah kenapa kemampuan gue nulis essay itu super parah, rasa-rasanya ide dari kepala gue itu susah banget keluarnya. Writing gue selalu dikomentarin guru gue juga gara-gara terlalu pendek. Agaknya emang gue susah banget basa-basi kalau lagi nulis.

TA gue nunggu antrian dulu buat dikerjain karena ada yang lebih mendesak haha. Tapi beneran deh, ketika lu punya tujuan asik untuk dikejar lu bakal lebih semangat ngejalanin hidup. Terus yang penting lagi kita harus persisten sama tujuan kita dan kita juga harus mengeksekusi rencana-rencana kita. Karena kalau hanya rencana dan nggak eksekusi omong kosong namanya. Oke, karena harus ada yang diselesaikan, gue rasa sekian dulu.

Step Out!!

Beberapa minggu lalu atau sekitar sebulan yang lalu gue udah memantapkan hati buat memilih sesuatu. Saat itu gue sangat yakin akan keputusan yang gue ambil tapi nggak tau kenapa, hari ini gue sedikit ragu. Keragu-raguan muncul ketika gue udah jalan sekitar 70% dan batas waktu tinggal beberapa hari lagi. Nggak tau kenapa. Hal yang bisa gue lakukan sekarang memastikan bahwa diri gue sebenarnya akan baik-baik saja. Ini sebenarnya keputusan yang besar dalam hidup, bisa dibilang begitu, ketika kita keluar dari zona-sangat-nyaman kita. Saat ini gue memang bisa dikatakan berada dalam zona nyaman gue, gue sekolah nggak jauh dari rumah gue. Kira-kira sebulan bisa pulang dua kali sembari melepas rindu dengan keluarga, gue termasuk ke dalam mayoritas di lingkungan gue, dan gue dikelilingi teman-teman yang luar biasa. Gue bersyukur di lahirkan di Indonesia ini. Gue belum pernah berpisah begitu jauh dengan orang tua gue. Ketika gue KP satu bulan di Solo bahkan Nyokap Bokap gue menyempatkan untuk menengok gue. Mungkin memang sudah waktunya untuk gue keluar dari zona nyaman gue. Keluar ke dunia yang luas ini dan mengamati Indonesia dari kejauhan. Barangkali gue akan lebih mencintainya, karena terkadang kita membutuhkan jarak untuk dapat melihat dengan jelas. Lalu bukankah gue juga pernah mengatakan bahwa gue nggak mau jadi katak dalam tempurung? dan bahwa dunia ini terlalu luas untuk dilewatkan? Yep, gue sempat berpikir ulang barusan. Ketika nyokap gue menutup telpon, gue berpikir kalau gue berpisah berbulan-bulan dengan nyokap gue itu seperti apa rasanya? Jauh dari keluarga, jauh dari teman-teman yang sangat dikenal dengan baik selama berbulan-bulan seperti apa rasanya? Rindu? Sudah pasti.

“If it doesn’t challenge you. It doesn’t change you!”

Tapi mungkin di balik semua itu kita bisa menjadi pribadi yang lebih mandiri, kita bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Satu hal yang harus diingat adalah kita tak pernah benar-benar sendiri, karena Allah selalu bersama kita. Maka yang bisa gue lakukan malam ini adalah berdoa untuk memantapkan hati. Keputusan akhir tentu ada di tangan Allah. Kita sebagai manusia hanya mengusahakan dan Allah selalu mengatur rencana yang paling indah untuk hamba-Nya. Semoga gue mendapat hasil yang terbaik.

Palsu

Kita hidup di dunia yang sangat nyata kefanaannya ini untuk terus mencari kebenaran, bukannya begitu?

Entahlah, sibuk berpikir keras tentang para pemeran di panggung sana dan sang sutradara masih berkoar-koar memberi aba-aba. Disini hanya diam dan berpikir saja apa ada gunanya?

Apakah suatu saat nanti akan tiba masanya ketika kita lelah dengan kepalsuan dunia?

Terkadang aku takut jika akhirnya aku menjadi seorang apatis

Fokus

Waktu yang tersisa tinggal 2 minggu lagi. Banyak yang harus diselesaikan tapi waktu cepat sekali berlalu dan godaan-godaan datang silih berganti. Pada dasarnya yang gue perlukan cuma semangat dan kesadaran. Kepulangan salah seorang temen gue dari studi singkatnya di luar awal tahun kemarin nggak tau kenapa membuat gue semangat lagi.

Karena gue nggak mau jadi katak dalam tempurung dan bumi ini terlalu luas untuk dilewatkan begitu saja. Banyak yang belum gue datangi, sangat banyak.

Yah setidaknya malam ini gue akan fokus dahulu pada satu hal.

Sejenak Waktu Untuk Menjadi Kepompong

Malam, ini agak melankolis rasanya. Karena ada yang gersang

kita semua sama, terpenjara dalam kesendirian

hanya saja,

ada yang terkurung dalam ruang gelap tanpa cahaya

sementara yang lain menghuni kamar berjendela.

-Kalil Gibran

ya, kubaca lagi firmanNya, “sungguh tiap mukmin bersaudara”

aku makin tahu, persaudaraan tak perlu dirisaukan

karena saat ikatan melemah, saat keakraban kita merapuh

saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan serasa siksaan

saat pemberian bagai bara api, saat kebaikan justru melukai

aku tahu, yang rombeng bukanlah ukhuwah kita

hanya iman-iman kita yang sering sedang sakit, atau mengerdil

mungkin dua-duanya, mungkin kau saja

tentu terlebih sering, imankulah yang compang-camping

-Salim A . Fillah

Kedua untaian kata-kata indah itu gue dapet dari bukunya Ust. Salim A Fillah. Gue kembali lagi membaca bukunya beberapa hari yang lalu. Buku lama sebenernya, hanya saja gue rasa diri ini butuh ‘asupan’ itu lagi.

Ukhuwah adalah akibat dari keimanan manusia, itu yang gue coba pahami sekarang. Atau yang sebenarnya telah gue coba pahami bertahun-tahun lalu. Beberapa tahun yang lalu, kayaknya ketika gue masih SMA, gue pernah menerima pesan dari seorang sahabat gue, di akhir pesannya tertulis sebuah kalimat dengan Bahasa Arab. Saat itu gue nggak ngerti isinya apa, lalu gue bertanya

“err sorry itu artinya apa ya?”

“aku mencintaimu karena Allah”

Well, saat itu gue nggak paham juga maksudnya gimana. Gue bener-bener nggak bisa mencari korelasi di antara keduanya. Cinta seorang sahabat yang dikarenakan Allah. Gue mengerti secara harfiah tapi tak memahami seperti apa rasanya “mencintai karena Allah” itu. Akhirnya gue nggak memikirkannya lebih jauh.

Lalu akhir-akhir ini entah kenapa gue merasa ada yang rombeng dalam hubungan gue dan seorang sahabat yang lain. Entahlah, gue sendiri nggak mengerti. Lalu gue ingin memberi jeda, untuk memperbaiki diri, karena mungkin “…imankulah yang compang-camping..”. Awalnya gue nggak berpikir sejauh ini, bahwa ukhuwah adalah akibat dari iman.

Awalnya gue hanya berpikir, bahwa kita sudah terlalu jenuh pada diri masing-masing. Lalu kita menjadi bosan. Gue juga nggak mengerti, apakah sahabat gue ini berpikir hal yang sama dengan gue. Ini semua hanya asumsi yang gue simpan dalam kepala gue. Awalnya gue berpikir untuk agak menarik diri. Karena terkadang, layaknya mata, kita perlu memberikan jarak yang cukup untuk dapat melihat dengan jelas. Meninggalkan sahabat gue tentu bukan solusi yang tepat, karena tali persahabatan itu nggak boleh putus. Tapi tetap dalam keadaan begini juga adalah sesuatu hal yang nggak mengenakkan. Walau secara jelas nggak ada pertikaian yang terjadi diantara kita, tapi rasanya ada yang berbeda, tak lagi hangat gue kira.

Talk about your own mistakes before critisizing the other person

-Dale Carnegie-

Gue rasa memang, semuanya kembali lagi pada diri kita. Diri gue lebih tepatnya untuk kasus ini. Alih-alih meminta orang lain untuk berubah, gue rasa lebih baik diri gue lah yang introspeksi diri terlebih dahulu. Seringkali gue bertingkah seperti anak-anak dan mengedepankan ego gue. Padahal sudah jelas ego adalah sesuatu hal yang harus gue kesampingkan. Lalu setelah membaca buku Ust. Salim A. Fillah lagi, gue mencoba lagi memahami hubungan iman dan ukhuwah ini. Mungkin memang benar, akhir-akhir ini iman gue lah yang terlalu compang-camping sampai-sampai persahabatan ini terasa gersang. Gue sendiri cukup penasaran, bagaimanakah rasanya mencintai karena Allah itu. Mencintai seorang sahabat karena Allah, bukankah itu sesuatu hal yang indah?

Tapi sampai saat ini gue nggak memahaminya, seperti apa rasanya? Bagaimana kita tahu bahwa kita telah mencintai karena Allah? Belum cukupkah iman saya untuk dapat mengerti ini?

mungkin lebih baik kita berpisah sementara, sejenak saja

menjadi kepompong dan menyendiri

berdiri malam-malam, bersujud dalam-dalam

bertafakur bersama iman yang menerangi hati

hingga tiba waktunya menjadi kupu-kupu yang terbang menari

melantun kebaikan di antara bunga, menebar keindahan pada dunia

lalu dengan rindu kita kembali ke dalam dekapan ukhuwah

mengambil cinta dari langit dan menebarkannya di bumi

dengan persaudaraan suci; sebening prasangka, selembut nurani

sehangat semangat, senikmat berbagi dan sekokoh janji

-Salim A Fillah-

Gue nggak sepandai Ust. Salim A Fillah ataupun Kalil Gibran dalam memilih dan menyusun kata. Gue juga nggak sepandai Dale Carnegie dalam membaca perilaku seseorang. Oleh karena itu gue hanya mengutip dari tulisan-tulisan mereka dan menambah beberapa kalimat sederhana dalam tulisan ini. Tapi, malam ini gue menulis bukan untuk kepuasan pribadi seperti biasanya, tulisan ini gue persembahkan buat sahabat gue yang mungkin membacanya. Maafkanlah sahabat mu ini yang imannya sedang compang-camping, berikan waktu sejenak untuk saya memperbaiki diri, lalu kita kembali dalam dekapan ukhuwah.

Mahasiswa dan Integritas

IntegrityGue rasa hampir dari kita semua tahu bahwa salah satu peran mahasiswa adalah sebagai agent of change. Dimana kita sebagai mahasiswa ini diharapkan menjadi agen yang membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Kalau kita lihat sejarah kepemudaan di Indonesia, kita tidak dapat mengingkari bahwa kelompok pemuda memiliki peranan penting dalam perjuangan kemerdekaan dan juga pasca kemerdekaan di negara ini. Pemuda seolah menjadi motor-motor dalam setiap pergerakan yang terjadi.

Kita tak perlu menjadi Sjahrir atau Hatta untuk membawa perubahan. Kita sebagai mahasiswa dapat menjadi motor-motor pergerakan pada zamannya yang membawa negara ini ke arah yang lebih baik. Bukanlah tidak mungkin kita dapat membereskan mereka-mereka yang mengacau di Senayan.Tidak dapat dipungkiri juga bahwa suatu hari nanti akan tiba giliran generasi kita yang akan menggantikan mereka-mereka di sana.

Ketika tiba waktunya, sudah siapkah kita? Ketika tiba waktunya, apakah kita masih bertahan dengan idealisme yang kita agung-agungkan saat ini? Well, mungkin itu terlalu jauh. Mungkin sebaiknya saat ini kita merefleksi diri kita terlebih dahulu. Apakah kita saat ini masih berpikir ideal? apakah kita masih memegang teguh integritas? Atau keidealan sesungguhanya hanya berada di dunia utopia?

Integritas adalah suatu hal harus dipegang teguh oleh tiap-tiap individu. Mahasiswa tentu termasuk di dalamnya. Sebagai agent of change dan juga role model, integritas adalah harga mati yang harus dipegang oleh mahasiswa. Bagaimana kita mau membereskan mereka yang korup jika diri kita masih menggadaikan integritas? apa bedanya? Bagaimana kita mau menggantikan mereka yang di Senayan jika saat ini saja kita sudah membelot dari kata ideal? Seharusnya kita juga sadar bahwa kita tidak lagi memiliki legitimasi untuk mengkritik mereka-mereka yang korup ketika integritas kita telah digadaikan.

Menurut KBBI, Integritas diartikan sebagai suatu mutu, sifat atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran. Jadi integritas merupakan suatu sifat yang berkaitan erat dengan kejujuran. Sebagai manusia yang dewasa gue rasa kita memiliki pemahaman yang sama antara perbuatan mana yang jujur dan tidak. Kita tahu itu, namun mengapa masih saja ada diantara kita yang jelas-jelas mengetahui bahwa suatu tindakan, sorry sebut saja mencontek, merupakan tindakan yang tidak jujur namun masih saja melakukannya? Kita sama-sama tahu itu salah, namun beberapa dari kita tetap melakukannya. Tentu ada banyak alasan di balik itu, entahlah seberapa banyak, namun yang jelas kita telah membohongi diri kita sendiri. Lalu kemana larinya integritas kita? Apakah kita masih (benar-benar) dapat mengkritik para koruptor-koruptor dengan vokalnya?

Tidak ada manusia yang ideal di dunia ini, tidak ada yang sempurna. Dunia dimana semuanya berjalan dengan ideal hanyalah khayalan utopis belaka. Tapi setidaknya kita masih bisa mencoba bertahan dengan idealisme kita atau kita akan membiarkan diri kita terseret arus entah kemana. Kita tidak juga dapat menghakimi seseorang saat ini, karena waktu dapat merubah segalanya. Hitam dan putih sebenarnya sudah jelas, lalu kita dibiarkan memilih, kita sudah dewasa. Tapi yang jelas, kita sebagai mahasiswa seharusnya sadar betul akan peran kita sebagai agen perubahan. Pada gilirannya generasi kita lah yang akan melakukan perbaikan bagi negara ini, pada gilirannya generasi kita juga yang akan menggantikan para pemimpin negeri. Kita sudah lelah melihat koruptor hidup bermewah-mewahan, di lain sisi masih ada anak-anak yang tak sempat mengenyam pendidikan di luar sana. Indonesia butuh pemimpin-pemimpin yang menjunjung tinggi integritasnya, negara ini butuh pemimpin-pemimpin yang berani berkata tidak pada kebatilan. Oleh karena itu ini lah saatnya kita untuk merefleksi dan memantaskan diri. Mari kita perbaiki diri terlebih dahulu, lalu kita koreksi habis-habisan terhadap mereka yang mengacau di negara ini

Sistem Ekonomi Liberal, Siapkah Kita?

Sejak 1 Januari 2015 kemarin harga premium yang awalnya Rp. 8500 /liter diturunkan menjadi Rp. 7600 /liter. Setelah sebelumnya pada 18 November 2014 lalu harga premium telah dinaikan dari Rp. 6500 /liter menjadi Rp. 8500 /liter. Turunnya harga premium ini dikarenakan harga minyak dunia yang terus turun. Pemerintah juga menyatakan telah mencabut sepenuhnya subsidi untuk premium ini, sedangkan untuk solar dan minyak tanah masih mendapat subsidi sebesar Rp. 1000 /liter. Semua harga bahan bakar ini nantinya akan mengikuti mekanisme pasar dan harganya dapat berubah-ubah. Harga bahan bakar yang dilemparkan sesuai mekanisme pasar ini agaknya menjurus ke sistem ekonomi liberal dimana ekonomi diatur oleh kekuatan pasar. Jadi semuanya tergantung supply and demand. Sehingga harga dapat naik turun dari waktu ke waktu. Bukankah ini artinya pemerintah telah melakukan liberalisasi sektor migas yang menyangkut hajat hidup orang banyak?

Well, dengan dicabutnya subsidi ini tentu berimplikasi luas terhadap rakyat. Premium sendiri adalah salah satu barang yang paling dibutuhkan oleh masyarakat dan jika harganya ditentukan oleh mekanisme pasar yang begitu dinamis, maka fluktuasi harga yang terjadi dapat mempengaruhi ketidakstabilan harga komoditas yang lain. Menurut gue Pemerintah tidak dapat sepenuhnya melemparkannya pada pasar dan diperlukan intervensi pemerintah di sini. Kebijakan pemerintah ini emang menumbuhkan berbagai opini di publik, apakah pemerintah mulai mengarah pada sistem ekonomi liberal dan lain sebagainya

Satya Yudha, anggota Komisi VII DPR RI fraksi Golkar, berpendapat bahwa Pemerintah telah melanggar Pasal 33 UUD  1945 yang berbunyi “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung dalam bumi adalah pokok-pokok kemakmuran rakyat. Sebab itu harus dikuasai Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat“. Sedangkan Sudirman Said, Menteri ESDM, berpendapat bahwa mereka tidak melanggar konstitusi karena nantinya harga dasar BBM akan ditentukan dan diumumkan setiap awal bulan. Sehingga Pemerintah tidak sepenuhnya menyerahkan pada mekanisme pasar. Tapi menurut gue pribadi tetap saja pasar punya andil yang besar dalam penentuan harga nantinya.

Lalu jika memang menganut sistem liberal apakah negara kita siap? Sebenernya negara kita pernah menganut sistem ini pada masa pemerintahan Soekarno tahun 1950 sampai 1957. Sistem perekonomian saat itu mengikuti mekanisme pasar sesuai dengan teori ekonomi klasik yang menyatakan laissez faire laissez passer. Frasa yang berarti biarkan terjadi, biarkan lewat  ini memiliki maksud bahwa segala kegiatan ekonomi diserahkan ke pasar dan intervensi pemerintah sangat minim. Padahal kondisi perekonomian Indonesia saat itu masih sangat buruk ditambah oleh adanya inflasi yang tinggi serta blokade ekonomi yang dilakukan oleh Belanda. Ketika kebijakan ekonomi liberal ini ditetapkan, pengusaha-pengusaha pribumi juga masih sangat lemah dan tidak dapat bersaing dengan pengusaha nonpribumi. Pada akhirnya sistem ini hanya memperburuk keadaan. Setelah itu sistem perekonomian Indonesia berubah total ketika negara kita menganut demokrasi terpimpin menjadi cenderung menganut sistem etatisme.

Saat ini ketika Indonesia telah nyaris berusia 70 tahun, rasa-rasanya negara kita dihadapkan lagi oleh hal yang sama: kecenderungan ke arah sistem ekonomi liberal. Jika tidak dilakukan dengan hati-hati dan pemerintah tidak mengintervensi sama sekali, kebijakan pemerintah ini akan menimbulkan banyak dampak negatif diantaranya timbulnya monopoli, gejolak ekonomi serta adanya persaingan yang tidak sehat di masyarakat. Jika ini terjadi maka akan timbul berbagai masalah lainnya dan yang paling serius adalah semakin meningkatnya kesenjangan ekonomi antar masyarakat.