Be An Amateur

Lulus dari bangku perkuliahan dan masuk ke dalam lingkungan kerja yang baru, sempat membuat gue terus bertanya-tanya akan alasan gue memilih jalan ini. Well, setelah sebelumnya di semester 7 lalu gue sempat gamang antara melanjutkan sekolah lagi atau langsung bekerja setelah kuliah selesai. Pilihan yang dihadapi pasca kehidupan kuliah memang lebih beragam dibandingkan ketika lulus SD, SMP atau SMA: antara kuliah lagi atau bekerja? bila kuliah lagi akan mengambil jurusan apa dan dimana? bila bekerja akan bekerja di tempat seperti apa? apakah sesuai dengan bidang yang ditekuni saat ini atau tidak?

Sebagian orang sudah memiliki keputusan yang mantap dengan jalan yang akan diambilnya. Saat itu gue masih bingung, tak benar-benar mengerti apa yang sebenarnya gue inginkan. Nyokap gue sendiri juga sering bilang kalau gue emang banyak maunya. Setelah selang beberapa saat, berpikir dan berdiskusi dengan Nyokap Bokap, akhirnya gue memutuskan untuk bekerja terlebih dahulu disini.

Di tempat gue sekarang, gue sedang menjalani masa training selama beberapa bulan. Selama training ini gue dirolling di divisi yang berbeda dan juga di proyek. Pada awal masa training gue, gue harus beradaptasi dengan kehidupan komuter Bogor-Jakarta setiap harinya, yang kini sudah benar-benar terbiasa. Lingkungan dan irama hidup yang baru ini juga sempat membuat gue mempertanyakan apakah keputusan gue untuk bekerja ini tepat atau tidak. Keinginan untuk melanjutkan S2 juga masih berseliweran di kepala gue. Rutinitas komuter setiap hari, pergi pagi dan pulang di malam hari bisa benar-benar membuat gue menjadi robot jika gue tak punya tujuan yang berarti.

Pada akhirnya gue bertanya pada diri gue sendiri, apa yang gue mau. Kenapa gue harus S2 ke luar misalnya? apakah gue udah punya alasan yang kuat untuk itu? Sayangnya gue belum menemukan alasan yang kuat untuk diri gue. Beruntunglah buat teman-teman yang sudah punya alasan yang kuat untuk melanjutkan studinya sekarang. Meski demikian melanjutkan S2 ke luar adalah salah satu target gue dan memang saat ini belum waktunya. Hanya saja saat ini gue sedang mencari alasan yang tepat untuk itu sampai waktunya datang.

Karena memutuskan untuk menunda S2, gue memilih untuk bekerja dahulu disini. Dengan bekerja seenggaknya gue bisa belajar untuk hidup lebih mandiri secara finansial dengan tidak bergantung pada orang tua sepenuhnya. Yah nggak cuma itu aja, dengan bekerja kita seolah terjun langsung ke lapangan. Kita dapat melihat implementasi dari apa-apa yang telah kita pelajari di bangku kuliah. Intinya banyak hal yang bisa dipelajari. Gue mendapati bahwa bidang yang gue tekuni ini ternyata cukup kompleks. Sub bidang gue saat ini juga berbeda dengan apa yang gue dalami selama kuliah dulu. Jadi gue belajar banyak hal baru dan hal-hal yang sempat terabaikan semasa kuliah dulu.

Nyatanya memang kita harus terus belajar. Kalau kata Austin Kleon sih kira-kira gini “Be an amateur. Amateurs might lack formal training, but they’re all lifelong learners, and the make a point of learning in the open, so that others can learn from their failures and successes”.

Yes, life is lifelong learning, gue setuju banget. Tapi di dunia kerja kita dituntut lebih untuk belajar dan paham dengan cepat. Setiap langkah yang kita ambil juga harus memiliki dasar yang jelas. Memang sangat kompleks, karena kita bergerak di dalam suatu sistem. Buat gue yang masih newbie ini gue rasa semangat untuk terus belajar dan nggak cepet puas itu penting banget. Intinya “Stay hungry, stay foolish” kayak yang sering Steve Jobs ucapkan. Yaah kurang lebih kita harus stay eager and be ready to try new things lah.

3/11/15

Agaknya gue nggak bisa tidur malam ini, nggak tau kenapa. Temen gue, Maryam, baru aja ulang tahun dan kamar gue jadi basecamp dadakan buat ngumpul anak-anak sekosan. Selamat ulang tahun yam, semoga makin jago main badminton dan cepet dapet kerja biar bisa traktir gue.

Minggu lalu Bokap gue nyuruh gue balik buat diskusi sesuatu, menyangkut masa depan gue, bukan yang aneh-aneh kok. Setelah terjadi sedikit perubahan rencana, akhirnya Bokap gue merestui jalan yang akan gue ambil kedepan. Thanks Pa. Nyokap gue udah merestui jauh-jauh hari. Bokap gue sempat khawatir awalnya dan beliau juga bilang kekhawatiran Nyokap gue pasti lima kali lipat lebih parah dari Bokap gue. Well, kata Nyokap Bokap gue emang gue banyak maunya. Tapi yah gimana lagi. Toh hidup cuma sekali hahaha.

Nah, sekarang kira-kira persiapan udah 80% kurang essay yang maha panjang dan sulit itu menurut gue. Semangat Bil! Entah kenapa kemampuan gue nulis essay itu super parah, rasa-rasanya ide dari kepala gue itu susah banget keluarnya. Writing gue selalu dikomentarin guru gue juga gara-gara terlalu pendek. Agaknya emang gue susah banget basa-basi kalau lagi nulis.

TA gue nunggu antrian dulu buat dikerjain karena ada yang lebih mendesak haha. Tapi beneran deh, ketika lu punya tujuan asik untuk dikejar lu bakal lebih semangat ngejalanin hidup. Terus yang penting lagi kita harus persisten sama tujuan kita dan kita juga harus mengeksekusi rencana-rencana kita. Karena kalau hanya rencana dan nggak eksekusi omong kosong namanya. Oke, karena harus ada yang diselesaikan, gue rasa sekian dulu.

Step Out!!

Beberapa minggu lalu atau sekitar sebulan yang lalu gue udah memantapkan hati buat memilih sesuatu. Saat itu gue sangat yakin akan keputusan yang gue ambil tapi nggak tau kenapa, hari ini gue sedikit ragu. Keragu-raguan muncul ketika gue udah jalan sekitar 70% dan batas waktu tinggal beberapa hari lagi. Nggak tau kenapa. Hal yang bisa gue lakukan sekarang memastikan bahwa diri gue sebenarnya akan baik-baik saja. Ini sebenarnya keputusan yang besar dalam hidup, bisa dibilang begitu, ketika kita keluar dari zona-sangat-nyaman kita. Saat ini gue memang bisa dikatakan berada dalam zona nyaman gue, gue sekolah nggak jauh dari rumah gue. Kira-kira sebulan bisa pulang dua kali sembari melepas rindu dengan keluarga, gue termasuk ke dalam mayoritas di lingkungan gue, dan gue dikelilingi teman-teman yang luar biasa. Gue bersyukur di lahirkan di Indonesia ini. Gue belum pernah berpisah begitu jauh dengan orang tua gue. Ketika gue KP satu bulan di Solo bahkan Nyokap Bokap gue menyempatkan untuk menengok gue. Mungkin memang sudah waktunya untuk gue keluar dari zona nyaman gue. Keluar ke dunia yang luas ini dan mengamati Indonesia dari kejauhan. Barangkali gue akan lebih mencintainya, karena terkadang kita membutuhkan jarak untuk dapat melihat dengan jelas. Lalu bukankah gue juga pernah mengatakan bahwa gue nggak mau jadi katak dalam tempurung? dan bahwa dunia ini terlalu luas untuk dilewatkan? Yep, gue sempat berpikir ulang barusan. Ketika nyokap gue menutup telpon, gue berpikir kalau gue berpisah berbulan-bulan dengan nyokap gue itu seperti apa rasanya? Jauh dari keluarga, jauh dari teman-teman yang sangat dikenal dengan baik selama berbulan-bulan seperti apa rasanya? Rindu? Sudah pasti.

“If it doesn’t challenge you. It doesn’t change you!”

Tapi mungkin di balik semua itu kita bisa menjadi pribadi yang lebih mandiri, kita bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Satu hal yang harus diingat adalah kita tak pernah benar-benar sendiri, karena Allah selalu bersama kita. Maka yang bisa gue lakukan malam ini adalah berdoa untuk memantapkan hati. Keputusan akhir tentu ada di tangan Allah. Kita sebagai manusia hanya mengusahakan dan Allah selalu mengatur rencana yang paling indah untuk hamba-Nya. Semoga gue mendapat hasil yang terbaik.

Palsu

Kita hidup di dunia yang sangat nyata kefanaannya ini untuk terus mencari kebenaran, bukannya begitu?

Entahlah, sibuk berpikir keras tentang para pemeran di panggung sana dan sang sutradara masih berkoar-koar memberi aba-aba. Disini hanya diam dan berpikir saja apa ada gunanya?

Apakah suatu saat nanti akan tiba masanya ketika kita lelah dengan kepalsuan dunia?

Terkadang aku takut jika akhirnya aku menjadi seorang apatis

Fokus

Waktu yang tersisa tinggal 2 minggu lagi. Banyak yang harus diselesaikan tapi waktu cepat sekali berlalu dan godaan-godaan datang silih berganti. Pada dasarnya yang gue perlukan cuma semangat dan kesadaran. Kepulangan salah seorang temen gue dari studi singkatnya di luar awal tahun kemarin nggak tau kenapa membuat gue semangat lagi.

Karena gue nggak mau jadi katak dalam tempurung dan bumi ini terlalu luas untuk dilewatkan begitu saja. Banyak yang belum gue datangi, sangat banyak.

Yah setidaknya malam ini gue akan fokus dahulu pada satu hal.

Sejenak Waktu Untuk Menjadi Kepompong

Malam, ini agak melankolis rasanya. Karena ada yang gersang

kita semua sama, terpenjara dalam kesendirian

hanya saja,

ada yang terkurung dalam ruang gelap tanpa cahaya

sementara yang lain menghuni kamar berjendela.

-Kalil Gibran

ya, kubaca lagi firmanNya, “sungguh tiap mukmin bersaudara”

aku makin tahu, persaudaraan tak perlu dirisaukan

karena saat ikatan melemah, saat keakraban kita merapuh

saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan serasa siksaan

saat pemberian bagai bara api, saat kebaikan justru melukai

aku tahu, yang rombeng bukanlah ukhuwah kita

hanya iman-iman kita yang sering sedang sakit, atau mengerdil

mungkin dua-duanya, mungkin kau saja

tentu terlebih sering, imankulah yang compang-camping

-Salim A . Fillah

Kedua untaian kata-kata indah itu gue dapet dari bukunya Ust. Salim A Fillah. Gue kembali lagi membaca bukunya beberapa hari yang lalu. Buku lama sebenernya, hanya saja gue rasa diri ini butuh ‘asupan’ itu lagi.

Ukhuwah adalah akibat dari keimanan manusia, itu yang gue coba pahami sekarang. Atau yang sebenarnya telah gue coba pahami bertahun-tahun lalu. Beberapa tahun yang lalu, kayaknya ketika gue masih SMA, gue pernah menerima pesan dari seorang sahabat gue, di akhir pesannya tertulis sebuah kalimat dengan Bahasa Arab. Saat itu gue nggak ngerti isinya apa, lalu gue bertanya

“err sorry itu artinya apa ya?”

“aku mencintaimu karena Allah”

Well, saat itu gue nggak paham juga maksudnya gimana. Gue bener-bener nggak bisa mencari korelasi di antara keduanya. Cinta seorang sahabat yang dikarenakan Allah. Gue mengerti secara harfiah tapi tak memahami seperti apa rasanya “mencintai karena Allah” itu. Akhirnya gue nggak memikirkannya lebih jauh.

Lalu akhir-akhir ini entah kenapa gue merasa ada yang rombeng dalam hubungan gue dan seorang sahabat yang lain. Entahlah, gue sendiri nggak mengerti. Lalu gue ingin memberi jeda, untuk memperbaiki diri, karena mungkin “…imankulah yang compang-camping..”. Awalnya gue nggak berpikir sejauh ini, bahwa ukhuwah adalah akibat dari iman.

Awalnya gue hanya berpikir, bahwa kita sudah terlalu jenuh pada diri masing-masing. Lalu kita menjadi bosan. Gue juga nggak mengerti, apakah sahabat gue ini berpikir hal yang sama dengan gue. Ini semua hanya asumsi yang gue simpan dalam kepala gue. Awalnya gue berpikir untuk agak menarik diri. Karena terkadang, layaknya mata, kita perlu memberikan jarak yang cukup untuk dapat melihat dengan jelas. Meninggalkan sahabat gue tentu bukan solusi yang tepat, karena tali persahabatan itu nggak boleh putus. Tapi tetap dalam keadaan begini juga adalah sesuatu hal yang nggak mengenakkan. Walau secara jelas nggak ada pertikaian yang terjadi diantara kita, tapi rasanya ada yang berbeda, tak lagi hangat gue kira.

Talk about your own mistakes before critisizing the other person

-Dale Carnegie-

Gue rasa memang, semuanya kembali lagi pada diri kita. Diri gue lebih tepatnya untuk kasus ini. Alih-alih meminta orang lain untuk berubah, gue rasa lebih baik diri gue lah yang introspeksi diri terlebih dahulu. Seringkali gue bertingkah seperti anak-anak dan mengedepankan ego gue. Padahal sudah jelas ego adalah sesuatu hal yang harus gue kesampingkan. Lalu setelah membaca buku Ust. Salim A. Fillah lagi, gue mencoba lagi memahami hubungan iman dan ukhuwah ini. Mungkin memang benar, akhir-akhir ini iman gue lah yang terlalu compang-camping sampai-sampai persahabatan ini terasa gersang. Gue sendiri cukup penasaran, bagaimanakah rasanya mencintai karena Allah itu. Mencintai seorang sahabat karena Allah, bukankah itu sesuatu hal yang indah?

Tapi sampai saat ini gue nggak memahaminya, seperti apa rasanya? Bagaimana kita tahu bahwa kita telah mencintai karena Allah? Belum cukupkah iman saya untuk dapat mengerti ini?

mungkin lebih baik kita berpisah sementara, sejenak saja

menjadi kepompong dan menyendiri

berdiri malam-malam, bersujud dalam-dalam

bertafakur bersama iman yang menerangi hati

hingga tiba waktunya menjadi kupu-kupu yang terbang menari

melantun kebaikan di antara bunga, menebar keindahan pada dunia

lalu dengan rindu kita kembali ke dalam dekapan ukhuwah

mengambil cinta dari langit dan menebarkannya di bumi

dengan persaudaraan suci; sebening prasangka, selembut nurani

sehangat semangat, senikmat berbagi dan sekokoh janji

-Salim A Fillah-

Gue nggak sepandai Ust. Salim A Fillah ataupun Kalil Gibran dalam memilih dan menyusun kata. Gue juga nggak sepandai Dale Carnegie dalam membaca perilaku seseorang. Oleh karena itu gue hanya mengutip dari tulisan-tulisan mereka dan menambah beberapa kalimat sederhana dalam tulisan ini. Tapi, malam ini gue menulis bukan untuk kepuasan pribadi seperti biasanya, tulisan ini gue persembahkan buat sahabat gue yang mungkin membacanya. Maafkanlah sahabat mu ini yang imannya sedang compang-camping, berikan waktu sejenak untuk saya memperbaiki diri, lalu kita kembali dalam dekapan ukhuwah.

Mahasiswa dan Integritas

IntegrityGue rasa hampir dari kita semua tahu bahwa salah satu peran mahasiswa adalah sebagai agent of change. Dimana kita sebagai mahasiswa ini diharapkan menjadi agen yang membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Kalau kita lihat sejarah kepemudaan di Indonesia, kita tidak dapat mengingkari bahwa kelompok pemuda memiliki peranan penting dalam perjuangan kemerdekaan dan juga pasca kemerdekaan di negara ini. Pemuda seolah menjadi motor-motor dalam setiap pergerakan yang terjadi.

Kita tak perlu menjadi Sjahrir atau Hatta untuk membawa perubahan. Kita sebagai mahasiswa dapat menjadi motor-motor pergerakan pada zamannya yang membawa negara ini ke arah yang lebih baik. Bukanlah tidak mungkin kita dapat membereskan mereka-mereka yang mengacau di Senayan.Tidak dapat dipungkiri juga bahwa suatu hari nanti akan tiba giliran generasi kita yang akan menggantikan mereka-mereka di sana.

Ketika tiba waktunya, sudah siapkah kita? Ketika tiba waktunya, apakah kita masih bertahan dengan idealisme yang kita agung-agungkan saat ini? Well, mungkin itu terlalu jauh. Mungkin sebaiknya saat ini kita merefleksi diri kita terlebih dahulu. Apakah kita saat ini masih berpikir ideal? apakah kita masih memegang teguh integritas? Atau keidealan sesungguhanya hanya berada di dunia utopia?

Integritas adalah suatu hal harus dipegang teguh oleh tiap-tiap individu. Mahasiswa tentu termasuk di dalamnya. Sebagai agent of change dan juga role model, integritas adalah harga mati yang harus dipegang oleh mahasiswa. Bagaimana kita mau membereskan mereka yang korup jika diri kita masih menggadaikan integritas? apa bedanya? Bagaimana kita mau menggantikan mereka yang di Senayan jika saat ini saja kita sudah membelot dari kata ideal? Seharusnya kita juga sadar bahwa kita tidak lagi memiliki legitimasi untuk mengkritik mereka-mereka yang korup ketika integritas kita telah digadaikan.

Menurut KBBI, Integritas diartikan sebagai suatu mutu, sifat atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran. Jadi integritas merupakan suatu sifat yang berkaitan erat dengan kejujuran. Sebagai manusia yang dewasa gue rasa kita memiliki pemahaman yang sama antara perbuatan mana yang jujur dan tidak. Kita tahu itu, namun mengapa masih saja ada diantara kita yang jelas-jelas mengetahui bahwa suatu tindakan, sorry sebut saja mencontek, merupakan tindakan yang tidak jujur namun masih saja melakukannya? Kita sama-sama tahu itu salah, namun beberapa dari kita tetap melakukannya. Tentu ada banyak alasan di balik itu, entahlah seberapa banyak, namun yang jelas kita telah membohongi diri kita sendiri. Lalu kemana larinya integritas kita? Apakah kita masih (benar-benar) dapat mengkritik para koruptor-koruptor dengan vokalnya?

Tidak ada manusia yang ideal di dunia ini, tidak ada yang sempurna. Dunia dimana semuanya berjalan dengan ideal hanyalah khayalan utopis belaka. Tapi setidaknya kita masih bisa mencoba bertahan dengan idealisme kita atau kita akan membiarkan diri kita terseret arus entah kemana. Kita tidak juga dapat menghakimi seseorang saat ini, karena waktu dapat merubah segalanya. Hitam dan putih sebenarnya sudah jelas, lalu kita dibiarkan memilih, kita sudah dewasa. Tapi yang jelas, kita sebagai mahasiswa seharusnya sadar betul akan peran kita sebagai agen perubahan. Pada gilirannya generasi kita lah yang akan melakukan perbaikan bagi negara ini, pada gilirannya generasi kita juga yang akan menggantikan para pemimpin negeri. Kita sudah lelah melihat koruptor hidup bermewah-mewahan, di lain sisi masih ada anak-anak yang tak sempat mengenyam pendidikan di luar sana. Indonesia butuh pemimpin-pemimpin yang menjunjung tinggi integritasnya, negara ini butuh pemimpin-pemimpin yang berani berkata tidak pada kebatilan. Oleh karena itu ini lah saatnya kita untuk merefleksi dan memantaskan diri. Mari kita perbaiki diri terlebih dahulu, lalu kita koreksi habis-habisan terhadap mereka yang mengacau di negara ini

Sistem Ekonomi Liberal, Siapkah Kita?

Sejak 1 Januari 2015 kemarin harga premium yang awalnya Rp. 8500 /liter diturunkan menjadi Rp. 7600 /liter. Setelah sebelumnya pada 18 November 2014 lalu harga premium telah dinaikan dari Rp. 6500 /liter menjadi Rp. 8500 /liter. Turunnya harga premium ini dikarenakan harga minyak dunia yang terus turun. Pemerintah juga menyatakan telah mencabut sepenuhnya subsidi untuk premium ini, sedangkan untuk solar dan minyak tanah masih mendapat subsidi sebesar Rp. 1000 /liter. Semua harga bahan bakar ini nantinya akan mengikuti mekanisme pasar dan harganya dapat berubah-ubah. Harga bahan bakar yang dilemparkan sesuai mekanisme pasar ini agaknya menjurus ke sistem ekonomi liberal dimana ekonomi diatur oleh kekuatan pasar. Jadi semuanya tergantung supply and demand. Sehingga harga dapat naik turun dari waktu ke waktu. Bukankah ini artinya pemerintah telah melakukan liberalisasi sektor migas yang menyangkut hajat hidup orang banyak?

Well, dengan dicabutnya subsidi ini tentu berimplikasi luas terhadap rakyat. Premium sendiri adalah salah satu barang yang paling dibutuhkan oleh masyarakat dan jika harganya ditentukan oleh mekanisme pasar yang begitu dinamis, maka fluktuasi harga yang terjadi dapat mempengaruhi ketidakstabilan harga komoditas yang lain. Menurut gue Pemerintah tidak dapat sepenuhnya melemparkannya pada pasar dan diperlukan intervensi pemerintah di sini. Kebijakan pemerintah ini emang menumbuhkan berbagai opini di publik, apakah pemerintah mulai mengarah pada sistem ekonomi liberal dan lain sebagainya

Satya Yudha, anggota Komisi VII DPR RI fraksi Golkar, berpendapat bahwa Pemerintah telah melanggar Pasal 33 UUD  1945 yang berbunyi “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung dalam bumi adalah pokok-pokok kemakmuran rakyat. Sebab itu harus dikuasai Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat“. Sedangkan Sudirman Said, Menteri ESDM, berpendapat bahwa mereka tidak melanggar konstitusi karena nantinya harga dasar BBM akan ditentukan dan diumumkan setiap awal bulan. Sehingga Pemerintah tidak sepenuhnya menyerahkan pada mekanisme pasar. Tapi menurut gue pribadi tetap saja pasar punya andil yang besar dalam penentuan harga nantinya.

Lalu jika memang menganut sistem liberal apakah negara kita siap? Sebenernya negara kita pernah menganut sistem ini pada masa pemerintahan Soekarno tahun 1950 sampai 1957. Sistem perekonomian saat itu mengikuti mekanisme pasar sesuai dengan teori ekonomi klasik yang menyatakan laissez faire laissez passer. Frasa yang berarti biarkan terjadi, biarkan lewat  ini memiliki maksud bahwa segala kegiatan ekonomi diserahkan ke pasar dan intervensi pemerintah sangat minim. Padahal kondisi perekonomian Indonesia saat itu masih sangat buruk ditambah oleh adanya inflasi yang tinggi serta blokade ekonomi yang dilakukan oleh Belanda. Ketika kebijakan ekonomi liberal ini ditetapkan, pengusaha-pengusaha pribumi juga masih sangat lemah dan tidak dapat bersaing dengan pengusaha nonpribumi. Pada akhirnya sistem ini hanya memperburuk keadaan. Setelah itu sistem perekonomian Indonesia berubah total ketika negara kita menganut demokrasi terpimpin menjadi cenderung menganut sistem etatisme.

Saat ini ketika Indonesia telah nyaris berusia 70 tahun, rasa-rasanya negara kita dihadapkan lagi oleh hal yang sama: kecenderungan ke arah sistem ekonomi liberal. Jika tidak dilakukan dengan hati-hati dan pemerintah tidak mengintervensi sama sekali, kebijakan pemerintah ini akan menimbulkan banyak dampak negatif diantaranya timbulnya monopoli, gejolak ekonomi serta adanya persaingan yang tidak sehat di masyarakat. Jika ini terjadi maka akan timbul berbagai masalah lainnya dan yang paling serius adalah semakin meningkatnya kesenjangan ekonomi antar masyarakat.

Tahun Baru: Apakah Perlu Resolusi Baru?

Ternyata emang bener gue sempet hiatus beberapa hari ini karena ada sepupu-sepupu gue. Mereka masih kecil-kecil, jadi masih suka nempel-nempel gitu sama gue. Jadinya gue nggak sempet nulis hahaha. Tapi nggak papa, terimakasih buat mereka yang udah liburan di rumah gue, jadinya rumah gue nggak sepi-sepi banget. Yaaah, nyaris tiap liburan sekolah rumah gue emang sering dijadiin tempat liburan sepupu-sepupu gue, mungkin karena Nyokap gue anak tertua atau karena mereka ngefans berat sama kakak sepupunya.

Liburan kali ini bakal berlangsung singkat. Rencana gue ke Solo agaknya diundur karena minggu depan gue harus balik ke Bandung buat penataran Mektan. Jadi gue menghabiskan liburan ini di Bogor dan sekitarnya, kumpul sama keluarga dan bertemu kawan-kawan lama. Lucu juga kalau ketemu temen-temen SMP atau SMA, pembicaraan kita nggak jauh dari masa depan. Mulai dari nanyain kapan lulus, habis lulus mau ngapain, mau nikah kapan, mau jadi wanita karir atau nggak dan lain sebagainya. Waktu emang berlangsung cepat, padahal rasa-rasanya baru kemarin kita ketemu mereka di kelas, pergi ke kantin bareng atau saling ngeledekin kalau ada yang lagi ngecengin orang.

***

Well, dan sekarang udah tahun 2015. Tahun baru biasanya ditandai dengan resolusi baru. Gue sendiri, termasuk orang yang suka bikin resolusi, biasanya sih gue bikin resolusi itu setiap pergantian tahun sama pergantian semester. Jadi ada dua: Resolusi Awal Tahun dan Resolusi Tengah Tahun. Well, walaupun nggak semua resolusi bisa tercapai, seenggaknya dengan bikin resolusi ini, kita jadi semangat buat ngejar tujuan kita dan ngepush diri kita buat bisa mencapai itu. Gue pribadi sih, rasanya kayak ngecharge semangat kita lagi gitu dan mengingatkan kita akan tujuan-tujuan yang tertunda. Asik hahahaha. Perkara mau bikin resolusi atau nggak di awal tahun itu ya tergantung masing-masing orang. Tapi kalau gue sih biar  gampang aja evaluasinya. Jadi di penghujung tahun gue bisa tahu, apa-apa yang tercapai dan nggak.

Gue sendiri lebih suka menjalani hidup gue ketika gue punya tujuan yang pasti, kejaran yang harus dikejar. Gue juga suka sama orang-orang yang punya mimpi dan persistent ngejar mimpinya. Terkadang ketika gue lagi nggak semangat, cukup dengan mengetahui bahwa mereka masih bertahan dengan mimpinya aja udah bikin gue semangat lagi. Thanks to them 😀

Jadi, resolusi lu tahun ini apa Bil? Yang jelas, tahun ini gue HARUS LULUS (aamiin). Semoga TA gue baik-biak saja. Terus gue juga pengen belajar nulis. Rajin olahraga dan menjalani pola hidup yang sehat (malahan gue sempet kepikiran buat join karate lagi). Ngambil IELTS dan menyelesaikan persiapan lainnya. Yang terakhir memantapkan diri gue buat milih antara kerja dan kuliah lagi.

Nah, resolusi ini lah yang harus gue kejar tahun ini. Semoga semuanya berjalan dengan lancar

Memantaskan Diri

Tersisa 1 dari 3 UAS lagi, yah walau masih ada presentasi tugas yang lain. Rektor terbaru telah terpilih beberapa hari lalu. Entahlah apakah akan memberikan pengaruh yang signifikan pada kehidupan kampus gue yang kira-kira tersisa 1 semester lagi atau nggak. Tapi yang jelas semoga membawa pengaruh yang baik buat ITB secara keseluruhan.

Kehidupan kampus gue udah mau berakhir. Sejauh ini gue memutuskan hanya menjadi pengamat untuk segala hiruk pikuk yang tejadi di kampus ini. Entah kenapa. Hanya mengambil sedikit bagian saja. Mungkin gue emang orang yang banyak pertimbangan. Kampus ini seolah-olah menawarkan 1 loyang kue, tapi gue hanya mengambil sebagian kecilnya saja. Karena potongan kue-kue ini nantinya harus dipertanggung jawabkan. Gue kira banyak yang mendorong para mahasiswa untuk bergerak, cari pengalaman lah, belajar, membela hak rakyat atau sekedar menunjukan eksistensi. dan gue harap nggak ada yang didorong alasan terakhir. Kampus ini emang tempat belajar, lu bisa jadi apa aja yang lu mau, lu bisa mengembangkan diri lu disini. Tapi lagi-lagi harus ada harga yang dibayar di atas setiap pilihan yang diambil,

Gue selama nyaris 3.5 tahun disini masih mencoba untuk mempertahankan prinsip yang gue yakini, bahwa integritas di atas segalanya. Gue bahkan dulu hanya memandang manusia hitam dan putih, kalau nggak ada integritas pada dirinya maka dia hitam dan sebaliknya putih. Namun, gue sadar kalau itu salah, karena dunia ini bukan dunia utopia dimana segalanya ideal. Masalah yang paling pelik buat gue sebenernya adalah integritas dari masing-masing diri kita, Integritas mahasiswa khususnya. Seorang mahasiswa yang membela rakyat dan mengutuk mereka yang di Senayan sudah seharusnya nggak mencontek ketika ujian atau titip absen ketika mereka nggak bisa masuk kelas. Bukankah seharusnya begitu?

Gue rasa, kebiasaan seperti ini harus dipupuk sejak dini. Kita harus berani menghadapi resiko apapun dari konsekuensi setiap perbuatan kita. Bagaimana pun hasilnya. Nilai-nilai yang dikejar dengan menggadaikan integritas tak seberharga itu kawan. Buat temen-temen mahasiswa dimanapun, realitas yang kita lihat sekarang adalah banyak koruptor berkeliaran di luar sana, banyak dari mereka yang duduk manis menjadi perwakilan kita dan hidup mewah. Integritas mereka gadaikan untuk kesenangan pribadi. Sementara masih banyak masyarakat di luar sana merintih kelaparan. Gue rasa suatu hari nanti sebagian dari kita yang akan membereskan generasi yang mengacau ini, menggantikan posisi mereka menjadi anggota dewan. Maka gue rasa integritas adalah sesuatu yang mutlak untuk dipertahankan dan dibiasakan sejak dini.

Sejauh ini juga gue belum berbuat apa-apa buat rakyat. Padahal sebagian biaya pendidikan di PT juga hasil pajak rakyat. Bukannya sudah sepantasnya kita mengembalikannya pada rakyat. Sebenernya gue jadi miris juga kalau inget itu pas lagi gue males-malesan belajar atau malah main-main. Kita yang di PTN menurut gue adalah investasi jangka panjang negara. Entah dengan cara apa suatu hari nanti diharapkan dapat membawa manfaat pada negara, membawa percepatan ekonomi atau kemajuan teknologi. Oleh karena itu sudah seharusnya kita sungguh-sungguh menuntut ilmu ketika kita kuliah.

Maka saat ini adalah masa-masa kita untuk memantaskan diri, entah akan jadi apa nantinya. Suatu hari nanti gue harap generasi ini benar-benar akan menghabiskan mereka-mereka yang mengacau di Senayan. Dan segala hal yang telah diperjuangkan bukan sekedar pembuktian eksistensi diri. Selamat Pagi.